“Farin, Fathan kecelakaan… semalam waktu pulang dari kampus. Sekarang dia koma, dirawat di RS Medika,” kata Aisha dengan suara bergetar, menahan tangis.
“Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh…” ucap Farin refleks, syok mendengar kabar itu.
Tiba-tiba Aisha memeluknya erat. Tangisnya pecah begitu saja, membuat Farin semakin bingung. Ada kesedihan yang terasa begitu dalam… terlalu dalam untuk sekadar rasa prihatin seorang teman biasa.
Fathan adalah kakak kelas mereka semasa SMA. Lulusan S1 Harvard yang kini melanjutkan studi S2 di Al Azhar, Kairo. Selain itu, ia juga menjadi dosen di salah satu kampus ternama. Karena sebagian mahasiswanya mengambil kelas malam, Fathan sering pulang larut.
Namun malam itu, takdir berkata lain, dalam perjalanan pulang, moge yang dikendarainya ditabrak dari belakang oleh motor yang melaju kencang. Pengendaranya adalah sekelompok remaja yang sedang balap liar.
Benturan keras di bagian kepala menyebabkan pendarahan hebat. Tulang paha kaki kanannya pun patah. Kini, Fathan tengah berjuang di antara hidup dan mati.
Farin masih terpaku. Ia belum benar-benar memahami arah emosi kesedihan Aisha. Bukankah Aisha adalah istri Zafran, dan Zafran sahabat Fathan? Tapi air mata itu… terasa terlalu pilu. Tatapan kosong itu… seolah menyimpan sesuatu.
“Yuk ke rumah sakit. Kita jenguk Fathan. Mas Zafran mana?” tanya Rachel pelan.
“Udah di sana dari tadi malam,” jawab Aisha cepat. “Ayo, kita nyusul.”
*****
Sesampainya di rumah sakit, mereka hanya bisa menemui keluarga Fathan. Fathan sendiri masih berada di ruang ICU dan belum boleh dijenguk sembarang orang.
Di antara keluarga yang berkumpul, Farin melihat seorang perempuan berhijab dengan wajah anggun dan pembawaan tenang. Senyumnya ramah meski matanya sembab karena menangis.
Farin dan Aisha menghampiri Ibu Fathan, mencoba menguatkan beliau. Mereka berbincang ringan tentang Fathan, tentang prestasinya, semangat hidupnya, dan semua hal membanggakan yang pernah ia capai.
Di tengah obrolan itu, Ibu Fathan tiba-tiba berbisik lirih.
“Sebenarnya… kami sedang menyiapkan kejutan buat Fathan. Rencananya bulan depan, pas dia pulang…”
Beliau menoleh ke arah gadis di sampingnya.“ Ini Alea, anak sahabat ibu. Dia juga kuliah di Kairo. Mereka sempat dekat… dan ibu berencana menjodohkan mereka.”
Suara beliau mulai bergetar, lalu terpotong oleh tangis yang tak lagi mampu ditahan. Alea segera menggenggam tangan Ibu Fathan lembut.
“Bu… yang penting sekarang kita doakan Mas Fathan dulu. Semoga beliau segera sadar dan sehat kembali,” ucapnya menenangkan.
Farin mengangguk pelan. Namun dari sudut matanya, ia menangkap kegelisahan Aisha. Sahabatnya itu tampak tidak tenang. Sesekali mencuri pandang ke arah dirinya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak mampu diucapkan.
Ruang tunggu rumah sakit terasa sesak oleh kesedihan. Tangis tertahan, doa-doa lirih, dan harapan yang menggantung memenuhi udara.
Tak lama kemudian, Aisha menggamit tangan Farin. “Rin, yuk… kita pamit dulu,” bisiknya pelan.
Mereka pun berpamitan dan berjalan menuju lobi rumah sakit. Namun langkah keduanya terhenti saat berpapasan dengan Zafran.
“Mas Zafran, aku pulang dulu. Mas ikut nggak?” tanya Aisha lembut.
“Nggak, Dek. Mas masih di sini dulu. Kamu anter Farin, ya. Jaga diri baik-baik.”
Lalu Zafran menatap Farin dalam-dalam. “Farin… yang sabar, ya. Kita nggak pernah tahu seperti apa takdir esok hari. Tapi percaya… semua yang Allah tetapkan pasti punya maksud baik.”
Farin mengerutkan keningnya bingung mendengar kata-kata suami sahabatnya itu, ia hendak menjawab, tetapi sebelum sempat membuka suara, Aisha sudah menarik tangannya menjauh.
“Assalamu’alaikum, Mas. Kita jalan dulu,” ucap Aisha setelah mencium tangan suaminya kemudian berlalu.
“Aisha…” Farin menghentikan langkahnya di taman rumah sakit. “Aisha, kenapa sih kamu narik aku? Aku kan masih mau ngomong sama suami kamu. Tadi maksud Mas Zafran ngomong begitu apa coba?”
Nada bingung jelas terdengar dari suara Farin, sejak tadi, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Aisha berhenti melangkah. Angin sore mengibaskan ujung hijabnya yang mulai basah oleh air mata. “Kamu… benar-benar nggak ngerti, Rin?” tanyanya lirih.
Farin menggeleng pelan. “Nggak. Aku bingung sama sikap kalian.”
Senyum pahit terukir di wajah Aisha. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. “Dia… Fathan.”
Suara Aisha nyaris seperti bisikan. “Fathan adalah laki-laki yang sedang ta’aruf denganmu sekarang, Farin.”
Deg.
Seolah dunia berhenti berputar, Farin membeku. Napasnya tercekat. Beberapa bulir air mata jatuh begitu saja tanpa mampu ia tahan.
Pikirannya mendadak dipenuhi potongan-potongan kenangan yang selama ini tak pernah ia sadari. Tentang sosok lelaki yang diam-diam mulai ia selipkan dalam doa-doanya.
*****
Kala itu, di suatu sore…
“Rin, sahabat suamiku ada yang mau ta’aruf sama kamu,” kata Aisha sambil tersenyum jahil. “Dia nggak mau namanya disebut dulu. Tapi tenang aja, kita bakal buka semua tentang dia. Sifatnya, kelakuannya, kelebihannya, apalagi kekurangannya… kita bongkar semuanya biar kamu nggak nyesel nanti!”
Farin tertawa bersama Aisha dan Zafran.
“Oke, sekarang dengerin aku baik-baik,” lanjut Aisha.
“Dia… laki-laki yang diam-diam mengagumimu. Tapi dia nggak pernah memujamu berlebihan, karena cinta terbesarnya tetap untuk Rabb-nya.”
Farin mulai diam mendengarkan.
“Dia berharap kamu bersedia menjadi pendamping hidupnya. Tapi dia juga nggak pernah menjanjikan hal-hal muluk, karena dia sadar… dirinya cuma seorang hamba yang singgah sementara di dunia.”
Aisha menatap Farin lembut.
“Dia cuma ingin menawarkan kesederhanaan. Kalau kamu bersedia berjalan bersamanya dalam segala keterbatasan yang dia punya.”
“Bukan untuk dimanjakan seperti ratu… tapi untuk berdiri di sampingnya. Menjadi istri, sahabat, sekaligus teman hidup dalam suka maupun duka.”
Hati Farin terasa penuh mendengar semua itu.
“Beri aku waktu… untuk berpikir dan meminta petunjuk kepada Allah,” ucap Farin pelan.
“Tiga hari,” tawar Aisha cepat.
“Satu minggu,” balas Farin sambil tersenyum kecil. “InsyaAllah, setelah satu minggu aku kasih jawabannya.”
“Ya, satu minggu cukup,” ujar Zafran akhirnya ikut bicara. “Pertimbangkan baik-baik. Karena pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup.”
*****
Sejak malam itu, Farin menghabiskan hari-harinya di atas sajadah.
Dengan air mata yang tak jarang jatuh tanpa suara, ia menyerahkan segala kebimbangannya kepada Allah.
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu dan aku meminta sebagian dari karunia-Mu yang agung.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan aku lemah. Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib.
Ya Allah, apabila pernikahan ini baik untuk agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka mudahkanlah, dekatkanlah, lalu berkahilah.
Namun jika pernikahan ini buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan di mana pun berada, lalu jadikan aku ridha menerimanya.
Rabbi habli min ladunka zaujan thayyiban wayakūnu ṣāḥiban lī fid-dīni wad-dunyā wal-ākhirah.
Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku seorang suami terbaik dari sisi-Mu. Suami yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.”
Malam demi malam berlalu, tetapi kegelisahan itu belum juga hilang.
Hingga pada malam kelima, Farin tertidur di atas sajadahnya karena tak mampu lagi menahan kantuk.
Dalam tidurnya, ia melihat dirinya berada di sebuah pantai yang sangat luas.
Angin laut berembus lembut, memainkan debur ombak yang saling berkejaran di bawah semburat jingga senja. Tak ada siapa-siapa di sana selain dirinya sendiri.
Namun anehnya, di tempat itu Rachel merasa damai. Semua keresahan yang selama ini memenuhi dadanya seolah lenyap begitu saja.
Ombak kecil menyentuh kakinya perlahan, mengajaknya menikmati tenangnya lautan.
Tiba-tiba air laut surut perlahan, meninggalkan hamparan pasir basah yang berkilau seperti ukiran indah.
Di antara gulungan ombak yang kembali mendekat, Farin melihat sesuatu terombang-ambing ke arahnya.
Sebuah gulungan kertas kecil yang diikat anyaman daun menyerupai pita.
Karena penasaran, Farin memungutnya. Perlahan ia membuka gulungan itu.
Kosong.
Tak ada tulisan apa pun di sana.
Namun seketika, aroma harum menyeruak memenuhi indera penciumannya. Wangi lembut yang menenangkan, tetapi begitu segar dan semerbak.
Farin menoleh ke sekeliling, mencari seseorang. Namun sejauh mata memandang, pantai itu tetap kosong.
Hanya dirinya seorang.
Lalu samar-samar ia mendengar suara adzan.
Semakin lama suara itu semakin jelas… hingga perlahan membawanya kembali ke alam nyata.
Rachel tersentak bangun.
Ia masih bersimpuh di atas sajadahnya.
Namun yang membuatnya terpaku bukanlah mimpi itu.
Melainkan aroma harum tadi…
Wangi yang sebelumnya hanya ia rasakan dalam mimpi, kini masih tercium nyata di sekelilingnya.
Harum parfum semerbak memenuhi kamar pribadi Farin, wangi itu terasa begitu nyata, memenuhi setiap sudut ruangan hingga meresap ke dalam setiap tarikan napasnya.
Sebelumnya, Farin tak pernah mencium aroma seharum ini. Lembut, menenangkan, namun entah mengapa terasa begitu dekat… seolah pemilik harum itu sedang berada bersamanya. “Ya Allah… harum ini. Sesungguhnya hamba memohon kebaikan darinya dan kebaikan yang dibawanya. Dan hamba berlindung kepada-Mu dari keburukannya serta keburukan yang datang bersamanya.”
Air matanya kembali jatuh perlahan. “Rabbi… jika ini adalah sesuatu yang Engkau tunjukkan untuk hamba, jangan biarkan hamba berjalan tertatih sendiri dalam menjalani garis takdir-Mu. Bimbinglah hamba… tuntunlah hamba dengan rahmat dan kasih sayang-Mu.”
Namun kadang, sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang manusia harapkan. Karena Allah telah menyiapkan rencana yang jauh lebih indah. Di balik kesedihan dan keresahan, selalu ada ribuan hikmah yang disembunyikan-Nya.
Dari masalah, manusia belajar menjadi dewasa, dari kesulitan, manusia belajar bersabar, dari musibah, manusia belajar ketabahan, dan dari kesedihan, manusia ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat.
Pagi itu Farin memulai harinya dengan prasangka baik kepada Allah. Ia berharap apa yang dialaminya semalam adalah pertanda baik bagi dirinya dan pilihan hatinya.
Hari itu juga, meski belum genap satu minggu dari waktu yang disepakati, Farin menyampaikan keputusannya kepada Aisha.
Aisha pun segera memberi kabar bahagia itu kepada suaminya, Zafran, yang kemudian menyampaikan berita tersebut kepada Fathan.
Namun persetujuan Farin tidak serta-merta membuat Fathan merasa tenang. Ia ingin seorang istri yang siap hidup sederhana bersamanya. Seorang perempuan yang mampu menerima segala kekurangan yang ia miliki.
Bukan berarti Fathan tak mampu memberikan kehidupan layak. Dengan pekerjaannya, ia bisa saja memanjakan keluarganya kelak. Namun ia terbiasa hidup sederhana, sebagian besar rezekinya selalu ia sisihkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Tiga hari sebelum kecelakaan itu terjadi, Fathan sempat menitipkan sebuah buku kepada Zafran untuk diberikan kepada Farin.
Buku itu berisi tulisan tangan dan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan rumah tangga. Fathan sengaja menyembunyikan identitasnya sebelum ada kecocokan di antara mereka. Ia tak ingin nama, status, ataupun latar belakang memengaruhi pandangan mereka satu sama lain.
“Assalamu’alaikum.
Teruntuk ukhty fillah…
Sebelumnya mohon maaf, saya belum bisa membuka jati diri saya sebelum ada kecocokan di antara kita. Saya tidak ingin nama ataupun latar belakang memengaruhi cara kita memandang satu sama lain dalam urusan pernikahan dan rumah tangga.
Karena bagi saya, pernikahan bukan hanya tentang hari ini. Tapi tentang esok, lusa, hingga kehidupan setelahnya.
Saya hanyalah seorang lelaki yang masih belajar memperbaiki diri. Tidak berharta hingga mampu memanjakan keluarga, juga bukan seseorang dengan status yang bisa dibanggakan.
Hidup saya berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Jika ukhty bersedia menikah dengan saya, mungkin tempat tinggal kita hanyalah rumah sederhana di lingkungan para penuntut ilmu. Mereka akan menjadi keluarga kita.
Saya tidak bisa menjanjikan kemewahan. Namun insyaAllah saya akan berusaha agar kita tidak melewati hari tanpa makanan.
Dan mungkin akan ada malam-malam di mana saya tidak pulang karena urusan dakwah. Jika ukhty ridha, maka insyaAllah saya bukan lelaki yang mengkhianati amanah istri dan Rabb-nya.
Al-faqīr ilā maghfirati rabbih.”
(Hamba yang membutuhkan ampunan Rabb-nya.)
Begitulah tulisan yang dibaca Farin. Dari cerita Aisha dan Zafran, Farin mengetahui bahwa lelaki itu adalah seorang pendakwah. Sebagian besar waktunya dihabiskan di lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal seperti pesantren.
Pembawaannya tenang, mudah bergaul, sopan, dan ramah kepada siapa saja.
Namun ada hal yang membuat Farin sempat meragu.
Lelaki itu terlalu sibuk. Mungkin akan jarang berada di rumah. Dan sebagai pendakwah yang cukup dikenal banyak orang, godaannya tentu tak sedikit.
Wanita, itu adalah satu kata horor, bukankah tak sedikit pendakwah yang akhirnya berpoligami? Bukan pilihan yang mudah bagi Farin. Lelaki itu tidak bergelimang harta, bukan orang terpandang, namun cukup dikenal banyak orang.
Meski begitu, Farin percaya kepada sahabatnya. Aisha tak mungkin menjodohkannya dengan lelaki sembarangan.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
InsyaAllah saya bersedia menerima apa yang telah disampaikan. Namun saya juga memiliki beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan.
Saya memiliki keinginan untuk tetap bermanfaat bagi orang lain selain keluarga saya sendiri. Apakah Anda keberatan jika saya tetap mengabdikan sebagian waktu saya untuk masyarakat?
Dan satu lagi… Saat ini kampanye tentang poligami begitu marak. Seolah selama lelaki mampu dan berharta, maka itu adalah sesuatu yang harus dilakukan. Bagaimana pandangan Anda tentang hal tersebut?”
“Bismillah.
Islam memberikan pilihan bagi muslimah untuk bekerja selama sesuai dengan fitrahnya. Saya pribadi tidak keberatan jika istri saya bekerja, terlebih bila pekerjaannya bermanfaat bagi banyak orang. Bahkan saya akan mendukungnya selama tidak melalaikan rumah tangga.
Adapun tentang poligami…
Saya tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Karena saya sedang mencari seorang istri, bukan mencari istri pertama.
InsyaAllah, satu pernikahan… untuk selamanya.
Boleh saya tahu, apa yang membuat ukhty memilih untuk siap menikah dengan saya?”
Al-faqīr ilā maghfirati rabbih.
(Hamba yang sangat membutuhkan ampunan Rabb-nya.)
Sejak saat itu mereka mulai saling bertukar pandangan tentang kehidupan rumah tangga.
Semua percakapan mereka tertulis rapi dalam sebuah buku yang menjadi perantara di antara keduanya. Aisha dan Zafran lah yang menyampaikan setiap pesan.
“Bismillah…
Saya ingin memiliki imam yang membantu saya menjadi lebih baik. Seseorang yang menemani perjalanan hidup ini, membimbing, menjaga, mendengarkan keluh kesah saya, menghapus air mata saya, dan memperbaiki keimanan saya.”
Semakin lama, hati keduanya semakin mantap. Meski belum mengetahui siapa sosok di balik tulisan-tulisan itu, Fathan dan Farin merasa memiliki pandangan hidup yang sejalan.
Akhirnya mereka sepakat untuk melangkah ke tahap nazhor. Mereka juga berjanji, siapa pun sosok yang akan mereka temui nanti, keduanya akan menerima dengan ikhlas.
Karena baik Farin maupun Fathan sama-sama mempercayakan pilihan jodoh mereka kepada Aisha dan Zafran.
Dan mereka yakin, pilihan sahabat mereka bukanlah pilihan sembarangan.
Perlahan, kupu-kupu kebahagiaan mulai beterbangan di dalam hati keduanya. Ada getaran syahdu yang diam-diam tumbuh bersama harapan.
Hari pertemuan pun akhirnya ditentukan.
Hari ini, hari yang seharusnya menjadi awal perjalanan panjang mereka menuju ikatan suci. Namun manusia hanya mampu merencanakan, sedangkan Allah adalah sebaik-baik penulis takdir.
Tak pernah sedikit pun Farin membayangkan bahwa ia akan kehilangan kebahagiaan bahkan sebelum sempat menggenggamnya.
Bukan hanya musibah yang menimpa Fathan, Farin juga harus menerima kenyataan tentang hadirnya perempuan lain yang menjadi pilihan keluarga Fathan.
Dan rasa sakit itu terasa semakin nyata saat ia mengetahui bahwa lelaki yang selama ini bertukar tulisan dengannya adalah Fathan.
Lelaki yang bahkan belum sempat ia temui.
Pantas saja identitas mereka disembunyikan sejak awal. Karena jika ternyata mereka tidak cocok, setidaknya tidak ada hati yang terlalu dalam berharap.
Tangis Farin pecah tanpa mampu dibendung lagi. Ia membiarkan dirinya rapuh malam itu. Membiarkan air matanya jatuh hingga habis.
Agar kelak, saat air matanya mengering, tak ada lagi kepedihan yang tersisa. Ia harus belajar lagi tentang ikhlas.
Tentang iman kepada takdir, tentang percaya bahwa setiap ketetapan Allah selalu menyimpan rahasia dan hikmah terbaik, meski hatinya gundah dan jiwanya terluka, Farin tetap menjaga lisannya agar tak mengucap sesuatu yang dapat mengotori keimanannya.
“Allāhumma’jurnī fī muṣībatī wakhluf lī khairan minhā.
Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya.”
Air matanya kembali jatuh. “Ya Rabbi… Engkau Maha Mengetahui segala yang akan terjadi. Engkaulah Pemilik pena yang menuliskan takdir. Dan atas kehendak-Mu lah segala sesuatu berjalan sesuai catatan di Lauhul Mahfudz.”
Farin memilih mengikhlaskan.
Baginya, melepaskan jauh lebih baik daripada terus berharap lalu tenggelam dalam kekecewaan yang lebih dalam.
Lagipula, hubungan yang mereka jalani baru sebatas ta’aruf. Belum ada ikatan serius yang melibatkan keluarga besar.
“Aku rasa… aku akan mundur dari proses ta’aruf ini. Aku nggak akan sanggup kalau harus terluka lebih dalam nanti,” ucap Farin lirih pada Aisha.
Aisha menatap sahabatnya penuh iba. “Farin… nanti kita bicarakan lagi setelah Fathan sadar dan kondisinya membaik. Sekarang tenangkan diri kamu dulu.”
Farin tersenyum tipis, getir. “Mungkin memang kita bukan jodoh. Tapi aku mundur bukan karena musibah yang menimpa dia, bukan karena aku nggak bisa menerima keadaannya sekarang.”
Air matanya kembali jatuh. “Demi Allah, Aisha… kalau saja aku nggak melihat ada perempuan baik yang sudah dipilih ibunya untuk Fathan, aku ikhlas lahir batin menerima dia sebagai imamku. Dalam kondisi apa pun.”
Suara Farin bergetar menahan sesak. “Kita ini perempuan, Aisha… nggak semua wanita sanggup dihadapkan pada perasaan yang terbagi. Kecuali mereka yang benar-benar diberi hati seluas lautan.”
Hari-hari berikutnya, Farin mulai mencoba menata kembali hatinya, meski terkadang masih ada kilasan kenangan tentang sosok lelaki yang diam-diam sempat mengetuk pintu hatinya.
Minggu demi minggu berlalu, keadaan Fathan perlahan membaik. Setelah satu bulan menjalani perawatan intensif, ia akhirnya diizinkan pulang.
Kaki kanannya dipasangi pen untuk menyambungkan tulang yang patah. Untuk berjalan, Fathan masih membutuhkan alat bantu penyangga tubuhnya.
Meski belum sepenuhnya pulih, kesadarannya telah kembali. Ia sudah bisa berbicara dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Tak jarang Zafran dan Aisha datang menjenguknya di rumah, hingga suatu hari, saat mereka hanya bertiga di kamar Fathan, Zafran kembali membuka pembicaraan yang sempat tertunda.
“Oh iya… gimana kelanjutan rencana kalian dulu?” tanyanya hati-hati. “Kayaknya memang harus ada keputusan. Mau lanjut, ditunda, atau bagaimana. Jangan sampai menggantung begini.”
Fathan terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Jujur… aku bingung harus ambil keputusan apa.”
Ia menunduk menatap kakinya yang masih dibalut penyangga. “Tolong tanyakan pada temanmu, Aisha… apakah dia sudah tahu kondisiku sekarang? Kalau hubungan ini diteruskan, aku justru merasa bersalah.”
Fathan tersenyum pahit. “Kebahagiaannya nggak akan sempurna sebagai seorang istri. Aku belum bisa memberi nafkah lahir & batin secara sempurna. Hari-harinya pasti berat, apalagi di awal pernikahan. Aku nggak mau zalim sama dia. Jadi… biarkan dia memilih jalannya sendiri.”
Aisha dan Zafran saling berpandangan. “Apa orang tuamu sudah tahu kalau kamu sedang menjalani ta’aruf?” tanya Aisha pelan.
Fathan menggeleng. “Belum. Aku belum bicara apa-apa pada Ayah dan Ibu.”
Aisha menggigit bibir bawahnya ragu. “Kalau begitu… sebaiknya kamu bicara dulu sama mereka.”
Fathan mengernyit bingung. “Memangnya kenapa?”
“Waktu di rumah sakit… aku lihat ibumu bersama seorang perempuan. Beliau bilang perempuan itu anak sahabatnya dan ingin dijodohkan denganmu.”
Fathan terlihat terkejut. “Ibu? Menjodohkan ku? Tapi Ibu nggak pernah bicara apa-apa sama aku…” Ia mengusap wajahnya pelan. “Oke. Nanti aku tanyakan. Kalau soal ta’arufku… sampaikan saja pesan tadi. Aku akan menerima apa pun keputusannya.”
Namun sebelum obrolan mereka berlanjut, suara ketukan pintu terdengar. "Fathan, teman-teman SMA kamu datang. Mereka nunggu di ruang tamu,” ujar Ibu Fathan setelah masuk ke kamar.
“Iya, Bu. Fathan ke depan.”
“Yaudah, sekalian aja. Kita juga mau pulang,” sahut Zafran sambil berdiri.
“Lho, kok buru-buru? Gabung dulu di depan, ngeteh bareng,” tahan Ibu Fathan ramah.
Aisha tersenyum lembut. “Terima kasih, Bu. Tapi kami masih ada urusan lain.”
Ia lalu menyalami tangan wanita itu. “Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya, Nak Zafran, Aisha. Fii amanillah.”
Mereka berjalan bersama menuju ruang depan sebelum akhirnya berpisah di halaman rumah.
Fathan melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu. “Assalamu’alaikum,” sapanya hangat.
“Wa’alaikumussalam!” jawab para tamu serempak.
Mereka adalah teman-teman SMA Fathan, termasuk Farin yang duduk di antara mereka.
“Kak Fathan, syafakallah… syifā’an ‘ājilan, syifā’an lā yughadiru saqaman.”
(Semoga Allah memberimu kesembuhan yang cepat dan sempurna tanpa meninggalkan rasa sakit.)
“Āmīn… Allahumma āmīn,” jawab Fathan tersenyum.
“Maaf ya, Kak. Baru sempat jenguk. Nyari waktu kosong susah banget,” ujar salah satu dari mereka.
“Khoir, insyaAllah. Nggak apa-apa. Doa kalian saja sudah lebih dari cukup. Jazakumullahu khairan.”
Obrolan mereka pun mengalir hangat. Tentang kesibukan, pekerjaan, hingga kehidupan masing-masing.
Sampai akhirnya pembicaraan mengarah pada pernikahan.
Sebagian dari mereka bahkan sudah memiliki anak.
“Kak Fathan semangat sembuh dong… biar bisa OTW pelaminan. Calonnya udah setia nunggu tuh!” goda salah satu teman mereka.
Fathan terkekeh pelan. “Hah? Kabar dari mana itu? Kasihan nanti istriku… bukannya jadi pengantin baru malah jadi babysitter.”
Tawa pun pecah memenuhi ruangan.
“Lha kemarin ibunya ngenalin Alea, katanya mau dijodohin sama Kak Fathan.”
Nama itu kembali muncul, Alea.
Perempuan anggun berhijab yang menemani Ibu Fathan di rumah sakit.
Fathan spontan menoleh ke arah ibunya dengan tatapan penuh tanya, Ibu Fathan hanya tersenyum santai.b“Itu kan cuma keinginan Ibu. Cocok atau nggaknya tetap Fathan yang menentukan.”
Tak ada yang sadar… Di antara tawa dan candaan mereka, ada hati yang perlahan retak menahan luka.
“Ya cocok lah, Bu! Gaskeun aja, Kak!”
“Udah buru-buru diresmikan aja!”
“Kalau ada bidadari di dekatnya mah nggak perlu obat dokter lagi!”
“Wah, itu mah obat paling mujarrab!”
Candaan demi candaan terus terlontar.
“Hush… jangan bercanda begitu,” tegur Fathan malu.
Di sudut ruangan, Farin hanya mampu tersenyum kecil, padahal di dalam dadanya, rasa sakit perlahan menyesakkan.
Diam-diam ia memanjatkan doa, “Ya Allah… jagalah hatiku agar tidak mencintai siapa pun, kecuali dia yang benar-benar Engkau takdirkan untukku.”
Untuk pertama kalinya Farin merasakan cinta tumbuh begitu dalam. Namun bersamaan dengan itu, ia juga belajar bagaimana rasanya mengikhlaskan.
Semakin ia mencoba menghindar dari rasa itu, semakin kuat bayang Fathan memenuhi pikirannya.
Meski begitu, cintanya masih bersih, belum ternodai ego untuk memiliki, ia masih mampu tersenyum tulus meski lelaki yang ia kagumi sedang dijodoh-jodohkan dengan perempuan lain di depan matanya sendiri.
Sore itu hujan turun deras, setelah makan siang bersama di restoran, teman-teman Farin beranjak pulang masing-masing. Tinggallah kini ia sendiri di teras restoran, menunggu hujan reda.
Matanya menatap jalanan basah sambil membiarkan hatinya berbicara sendiri, air mata Farin jatuh perlahan.
“Rabbi… mungkin ini ujian untuk melihat seberapa besar cintaku kepada-Mu.”
“Karena dari rasa sakit ini… aku justru semakin yakin bahwa kasih sayang-Mu jauh lebih besar daripada cinta siapa pun di dunia.”
Farin sadar, setelah menikah pun seorang lelaki tetaplah milik ibunya.
Ia tidak ingin kehadirannya justru menjadi sumber ketidaknyamanan dalam keluarga Fathan.
Karena itu, tekadnya semakin bulat, ia akan mundur dari proses ta’aruf ini, walaupun hatinya harus terluka sendirian.
Di rumahnya sendiri, Fathan tengah meminta penjelasan kepada sang ibu. “Ibu… kenapa Ibu nggak bicara dulu sama Fathan? Kenapa orang lain justru lebih dulu tahu?”
Nada kecewa terdengar jelas dari suaranya. “Yang menjalani pernikahan ini Fathan, Bu…”
Ibu Fathan terlihat serba salah. “Ibu cuma mau kasih kejutan buat kamu. Tadinya nunggu kamu pulang kampung. Tapi Qadarullah malah terjadi musibah, jadi keburu tersebar.”
Fathan mengusap wajahnya kasar. “Ibu berhasil kasih kejutan yang bikin Fathan malu…”
“Ibu juga sudah bicara sama Alea. Dia mau kok sama kamu,” ujar sang ibu pelan.
“Allahu Akbar, Bu…” Fathan mengacak rambutnya frustrasi. “Tapi Fathan sudah punya pilihan lain.”
Seketika wajah ibunya berubah. “Apa?”
“Fathan sedang ta’aruf dengan perempuan lain.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Terus Alea mau kamu apakan? Ibu sudah bicara sama keluarganya.”
“Itu keputusan Ibu tanpa bicara dulu sama Fathan.”
“Ibu malu kalau dibatalkan…”
Fathan tersenyum pahit.
“Fathan juga malu, Bu.”
“Kalau begitu batalkan saja perempuan pilihanmu itu. Toh keluarga kita belum ada yang tahu.”
“Tapi perasaan orang bukan buat dipermainkan, Bu.”
Suasana kembali hening.
Fathan memutar kursi rodanya perlahan. “Fathan mau istirahat dulu.”
“Ayo, Ibu antar.”
Namun sepanjang perjalanan menuju kamar, tak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya tenggelam dalam kebingungan masing-masing.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!