Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya. Itulah aturan hidup yang dia pegang teguh sejak lama: jangan pernah jatuh cinta, karena cinta hanya akan membuatmu lemah dan terluka.
Malam itu, Grey berdiri di dekat meja bar, bersandar santai sambil memegang gelas berisi minuman berwarna merah tua. Matanya menelusuri ruangan yang penuh dengan orang-orang berpakaian mewah, menari, tertawa, dan saling melempar pandang penuh nafsu. Beberapa pria sudah mencoba mendekat, mengajak mengobrol atau sekadar menawarkan minuman, namun Grey hanya menjawab dengan senyum tipis dan jawaban singkat yang membuat mereka sadar bahwa dia bukan sasaran yang mudah. Dia suka perhatian, tapi dia juga suka menjaga kendali sepenuhnya atas dirinya sendiri.
“Sendirian saja, Nona Cantik?”
Sebuah suara berat, dalam, dan sangat berwibawa terdengar tepat di samping telinganya. Suara itu bukan suara biasa; ada getaran kekuasaan dan ancaman halus yang terselip di dalamnya, cukup untuk membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan getaran dingin menjalar di tulang belakang. Namun, Grey bukan siapa-siapa. Dia terbiasa menghadapi berbagai jenis pria, dari yang pemalu hingga yang berani, jadi dia hanya memutar kepalanya perlahan, siap memberikan jawaban sinis atau senyum meremehkan.
Namun, saat pandangan mereka bertemu, napas Grey seolah tertahan sejenak.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang jauh berbeda dari siapa pun yang pernah dia temui sebelumnya. Tinggi besar, bahu lebar, mengenakan jas hitam yang terlihat sangat mahal dan dipotong sempurna menutupi tubuh tegapnya. Wajahnya tampan namun keras, terukir dengan garis-garis tegas yang menunjukkan ketangguhan dan kekuasaan. Kulitnya sedikit kecokelatan, dan rahangnya yang kokoh tampak seperti batu yang tak bisa digoyahkan. Namun, yang paling membuat Grey tertegun adalah matanya. Mata berwarna hitam pekat, dalam seperti jurang yang tak berdasar, dan memancarkan aura dingin yang menusuk. Di balik kedinginan itu, ada kilatan bahaya yang jelas terlihat—bahaya yang mengintimidasi, namun entah kenapa, juga sangat memikat.
Pria itu menatapnya lekat-lekat, seolah sedang menelanjangi setiap lapisan jiwa dan raga Grey hanya dengan satu pandangan. Tidak ada senyum ramah di wajahnya, tidak ada nada menggoda seperti pria-pria lain. Dia hanya menatap, diam, dan begitu mendominasi suasana hingga Grey merasa seolah seluruh udara di ruangan itu berubah berat.
Grey segera menarik kembali kendali dirinya. Dia mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyum khasnya yang penuh pesona dan tantangan. Dia tidak akan membiarkan siapa pun, seberapa tampan atau berkuasa pun, membuatnya merasa kecil atau takut.
“Dan kalau iya? Apakah Tuan berniat menemani saya?” jawab Grey dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan manja, namun matanya berkilat penuh tantangan. Dia memutar sedikit gelas di tangannya, memperlihatkan kuku-kukunya yang terhias cat berwarna merah darah.
Pria itu tidak menjawab langsung. Dia mengulurkan tangan besarnya, mengambil gelas dari tangan Grey dengan gerakan lambat namun tegas, lalu meletakkannya di atas meja bar tanpa meminta izin. Tindakan itu begitu tiba-tiba dan penuh kepemilikan, hingga Grey sempat terkejut, namun dia berusaha menyembunyikannya dengan baik.
“Minuman itu berbahaya untuk diminum sembarangan oleh wanita sepertimu,” ujar pria itu pelan, namun kata-katanya terdengar seperti perintah mutlak. “Dan mulai detik ini, kamu tidak akan lagi minum atau bicara dengan pria lain selain aku.”
Grey tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun penuh ketidakpercayaan. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, menatap lurus ke dalam mata hitamnya yang gelap itu.
“Kau siapa, Tuan yang sombong? Kau pikir kau punya hak untuk mengatur hidupku? Aku melakukan apa saja yang aku mau, dengan siapa saja yang aku mau. Tidak ada yang bisa melarangku,” ucap Grey tegas, matanya menyala penuh semangat bertarung. Dia suka tantangan, dan pria di hadapannya ini jelas adalah tantangan terbesar yang pernah dia temui.
Pria itu justru tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya, malah terlihat lebih mengerikan dan mengintimidasi. Dia mengangkat satu tangannya, jari-jarinya yang besar dan kasar menyentuh lembut pipi Grey, mengusap kulit halus itu dengan gerakan yang anehnya penuh kelembutan, namun tekanan jarinya menunjukkan kepemilikan yang mutlak.
“Aku adalah orang yang bisa memberimu segalanya, atau menghancurkan segalanya dalam sekejap mata. Dan nama aku adalah Davian,” jawabnya rendah. “Dan kamu, Grey Cha Lavian… kamu baru saja menarik perhatianku. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku akan memilikinya. Tidak peduli apa pun yang terjadi.”
Jantung Grey berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sensasi aneh yang menjalar dari tempat jari pria itu menyentuh kulitnya. Bagaimana dia tahu namanya? Pertanyaan itu sempat terlintas, namun rasa penasaran dan rasa suka akan tantangan jauh lebih besar. Dia tidak tahu bahwa di depan matanya saat ini berdiri Davian Argantha, nama yang paling ditakuti di dunia bawah tanah kota itu. Seorang pemimpin mafia yang kejam, berkuasa, dan dikenal sangat posesif terhadap apa pun atau siapa pun yang sudah dia anggap miliknya. Tidak ada yang berani menentangnya, dan tidak ada yang bisa lari darinya. Namun Grey, dengan sifat bebas dan keras kepalanya, belum menyadari bahwa dia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan.
“Kau pikir kau bisa memilikiku begitu saja? Aku bukan barang yang bisa kau ambil sesuka hati, Davian,” tantang Grey, menarik wajahnya sedikit menjauh meski tubuhnya rasanya enggan bergerak.
Davian tertawa pelan, suara beratnya bergema di telinga Grey. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat, hingga tubuh tegapnya menutupi tubuh mungil Grey, menciptakan bayangan besar yang melindungi sekaligus mengurungnya. Dia menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Grey, berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
“Kita akan lihat, Sayang. Mulai malam ini, setiap langkahmu akan aku awasi. Setiap orang yang berani mendekatimu akan menanggung akibatnya. Kamu mungkin suka bermain-main, tapi bersiaplah… karena permainan yang akan kita mainkan jauh lebih berbahaya, dan aku tidak pernah membiarkan apa yang menjadi milikku lepas begitu saja.”
Sebelum Grey sempat membalas atau bertanya apa pun, Davian sudah menarik tubuhnya lebih dekat, melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Grey dengan pegangan yang kuat dan tak terlepaskan. Dia menatap tajam ke arah sekeliling mereka, ke arah orang-orang yang sedari tadi melirik ke arah Grey. Sekilas saja tatapan dingin itu dilemparkan, dan seketika itu juga semua pandangan lain menjauh, seolah merasakan bahaya maut yang mengancam.
Grey merasa campur aduk. Bagian dalam dirinya yang bebas ingin memberontak, ingin melepaskan diri dan pergi menjauh dari pria aneh dan mengintimidasi ini. Namun, ada bagian lain dalam dirinya—bagian yang tersembunyi dan jarang muncul—yang merasa tertarik, merasa tertantang, dan anehnya merasa aman di dalam pelukan kuat itu. Dia tidak tahu bahwa malam itu adalah awal dari akhir kebebasannya, sekaligus awal dari ikatan yang paling kuat, paling berbahaya, dan paling mendalam yang akan pernah dia rasakan seumur hidupnya.
“Lepaskan aku, Davian. Aku belum selesai bersenang-senang,” protes Grey, meski nada suaranya tidak lagi setajam sebelumnya.
Davian menggeleng pelan, lalu mengangkat wajah Grey dengan ujung jarinya hingga mereka saling bertatapan mata lagi. Tatapan pria itu begitu dalam, seolah ingin menghafal setiap detail wajah gadis itu dan mengukirnya di dalam ingatannya selamanya.
“Malammu selesai, Grey. Dan mulai sekarang, waktumu, hidupmu, dan hatimu… semuanya sudah menjadi milikku. Kau tidak akan bisa lari, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi.”
Davian tidak menunggu jawaban lagi. Dia langsung membalikkan tubuh Grey dan mulai berjalan membawanya keluar dari kerumunan, melewati pasukan pengawalnya yang berdiri tegap di setiap sudut ruangan. Orang-orang menyingkir seolah takut tersentuh, memberi jalan bagi pemimpin mereka dan wanita yang kini jelas-jelas sudah dia klaim sebagai miliknya.
Grey berusaha memberontak sedikit, namun kekuatan lengan Davian jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Dia menyadari bahwa dia benar-benar terperangkap—terperangkap bukan hanya dalam genggaman tangan pria itu, tapi juga dalam tatapan matanya yang penuh kepemilikan, dan dalam ketertarikan yang tiba-tiba tumbuh subur di dalam hatinya sendiri.
Saat mereka melangkah keluar menuju mobil mewah berwarna hitam pekat yang sudah menunggu di depan klub, di bawah langit malam yang kembali mulai meneteskan air hujan, Grey menyadari satu hal penting. Permainan biasa yang dia jalani selama ini sudah berakhir. Dia baru saja terjerat dalam cinta seorang mafia, dan pria itu ternyata jauh lebih posesif, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih mendominasi daripada apa pun yang pernah dia bayangkan.
Dan yang paling mengerikan sekaligus paling menakjubkan dari semuanya… Grey mulai menyadari bahwa dia mungkin tidak ingin melepaskan diri.
Hujan di luar turun semakin deras, memukul kaca jendela mobil mewah berwarna hitam itu dengan irama yang kacau, seolah menggambarkan isi hati Grey Cha Lavian saat ini. Dia duduk di sisi penumpang, tubuhnya sedikit menjauh ke pinggir, namun jarak di antara mereka terasa sangat sempit dan menyesakkan. Di sebelahnya, Davian Argantha duduk tenang, satu tangannya santai bertumpu di pinggir jendela, sementara tangan lainnya menggenggam kemudi dengan pegangan yang kokoh dan terkontrol. Tidak ada percakapan yang terucap sejak mereka masuk ke dalam mobil, namun keheningan di dalam kabin itu terasa begitu berat dan penuh tekanan, seolah udara di sana sudah dipenuhi oleh aura dominan milik pria itu.
Grey melirik sekilas ke arah Davian. Di bawah cahaya lampu jalan yang sesekali menerobos masuk, wajah pria itu tampak dingin dan tak terbaca. Tidak ada ekspresi lembut, tidak ada penyesalan, seolah apa yang dia lakukan—mengambil paksa seorang wanita dari klub malam dan membawanya pergi—adalah hal yang paling wajar dan berhak dia lakukan di dunia ini. Rasa marah mulai kembali menguasai diri Grey, menutupi rasa penasaran dan getaran aneh yang dia rasakan sebelumnya. Selama ini, dialah yang selalu memegang kendali. Dialah yang memutuskan kapan mendekat dan kapan pergi. Tidak ada satu pun pria yang berani mengatur atau memaksanya melakukan sesuatu. Namun malam ini, dalam hitungan menit saja, seluruh aturan mainnya seolah dihapus begitu saja oleh pria berwajah keras di sampingnya ini.
“Ke mana kau membawaku?” tanya Grey akhirnya, memecah keheningan dengan nada suara yang berusaha dia buat setenang mungkin, meski sedikit ada getaran amarah di sana. Dia menegakkan punggungnya, menatap tajam ke arah profil samping Davian. “Kau pikir kau siapa? Mengambilku begitu saja tanpa bertanya, seolah aku ini barang milikmu.”
Davian tidak langsung menjawab. Dia tetap memandang lurus ke jalan raya yang basah dan sepi, namun sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan atau mungkin justru senyum yang merasa puas. Baru beberapa detik kemudian, dia memutar kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah mata abu-abu Grey yang sedang memancarkan api kemarahan. Tatapan pria itu begitu dalam dan tajam, seolah mampu menembus masuk ke dalam setiap sudut pikiran dan perasaan gadis itu.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?” suaranya terdengar rendah, berat, dan tenang, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti keputusan mutlak yang tak bisa dibantah. “Kamu adalah milikku, Grey. Dan apa yang menjadi milikku, tidak boleh ada di tempat kotor seperti klub itu, dikelilingi oleh mata-mata laki-laki sampah yang berani menatapmu dengan pandangan tidak pantas.”
Grey tertegun sejenak, lalu tertawa sinis. Dia memutar bola matanya, merasa tidak percaya dengan ucapan pria di hadapannya itu. “Dasar tidak tahu malu! Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi milikmu. Aku Grey Cha Lavian, aku hidup bebas, aku pergi ke mana saja aku mau, dan aku bergaul dengan siapa saja yang aku suka. Kau tidak punya hak sedikit pun untuk melarang atau mengaturku. Kau pikir dengan kekayaan dan ototmu itu, kau bisa mengubah segalanya sesuka hatimu?”
Grey berbicara dengan cepat dan tajam, meluapkan segala rasa kesal yang menumpuk di dadanya. Dia berharap kata-katanya bisa membuat pria itu sadar diri atau setidaknya sedikit terpengaruh. Namun, reaksi Davian justru jauh dari yang dia duga. Pria itu tidak terlihat marah, tidak juga merasa tersinggung. Justru, kilatan di matanya semakin terang, ada sesuatu yang tampak semakin terhibur dan semakin tertantang.
Davian menggeser tubuhnya sedikit ke samping, mendekat ke arah Grey hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Bau wangi tubuhnya yang khas—campuran antara aroma tembakau mahal dan wangi kayu yang maskulin—langsung memenuhi rongga hidung Grey, membuat napasnya seolah tertahan sejenak. Jantungnya kembali berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena kedekatan yang begitu intim dan mendadak ini.
“Kau sangat cantik saat sedang marah, kau tahu itu?” bisik Davian pelan, ujung jarinya terangkat perlahan menyentuh dagu Grey, mengangkatnya sedikit agar gadis itu terpaksa menatap lurus ke arahnya. Tekanan sentuhannya lembut, namun tegas dan tak terelakkan. “Kau berbicara soal kebebasan? Sayang, mulai detik ini, kebebasan itulah yang akan menjadi hal termahal dan tersulit untuk kau dapatkan kembali. Aku tidak main-main, Grey. Saat aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya. Dan saat aku mengklaim seseorang sebagai milikku, maka seluruh hidupnya, waktunya, perhatiannya, bahkan napasnya sekalipun, semuanya harus tertuju padaku.”
Suasana di dalam mobil itu mendadak menjadi sangat panas dan tegang. Grey ingin menepis tangan itu, ingin berteriak, ingin melepaskan diri, tapi entah kenapa tubuhnya seolah membeku. Ada kekuatan magnet yang kuat dari diri pria ini yang membuatnya sulit untuk berpaling. Di mata hitam Davian, dia bisa melihat ketegasan yang tak tergoyahkan, tapi juga ada kepemilikan yang begitu dalam, seolah pria itu sudah mencintainya atau menginginkannya sejak lama, padahal mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu.
“Kau gila…” gumam Grey pelan, suaranya hampir hilang di tengah suara hujan yang semakin deras. “Kau tidak bisa mengurungku selamanya. Aku akan lari saat kau lengah. Aku akan melakukan apa saja yang aku mau, dan kau tidak akan pernah bisa menghentikanku.”
Davian tertawa rendah, suara beratnya bergema di dada Grey. Dia mengusap lembut kulit halus di dagu gadis itu dengan ibu jarinya, menatap bibir merah muda yang terkatup rapat karena kekesalan itu dengan pandangan yang semakin gelap dan berbahaya.
“Silakan saja coba, Sayang,” jawab Davian dengan nada yang penuh percaya diri dan ancaman halus. “Cobalah untuk lari, cobalah untuk mendekati laki-laki lain, atau cobalah untuk menentang perkataanku sedikit saja… dan kau akan melihat betapa buruknya akibatnya. Aku bukan laki-laki biasa yang bisa kau tinggalkan begitu saja setelah kau bosan. Aku Davian Argantha, dan namaku sendiri sudah cukup untuk membuat semua orang gemetar ketakutan. Termasuk kau, pada akhirnya nanti.”
Dia menarik kembali tangannya perlahan, lalu kembali duduk tegap dan kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya, seolah percakapan sengit tadi hanyalah hal sepele baginya. Namun, aura mengancam yang mengelilinginya tidak pernah hilang sedikit pun.
Grey bersandar kembali ke sandaran kursi, memeluk lengannya sendiri di dada. Dia merasa bingung, marah, tapi juga ada rasa penasaran yang terus menggerogoti hatinya. Dia tahu siapa Davian Argantha itu. Nama itu sering dia dengar dibisikkan orang-orang, sebagai sosok pemimpin organisasi raksasa yang menguasai banyak wilayah, seorang mafia kejam yang tidak pernah ragu menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Banyak orang takut padanya, banyak yang memujanya, tapi tidak ada yang berani menentangnya. Dan sekarang, Grey—gadis yang selalu hidup bebas dan bermain dengan siapa saja—ternyata menjadi sasaran utama dari obsesi berbahaya pria itu.
“Di mana kau membawaku?” ulang Grey sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah dan hati-hati. Dia sadar dia harus tahu di mana dia berada dan ke mana tujuannya, jika nanti dia berencana mencari jalan keluar.
“Ke tempat di mana kau akan tinggal mulai sekarang,” jawab Davian singkat, matanya menatap lurus ke depan. “Rumahku. Istana pribadiku. Di sana kau akan aman dari orang-orang jahat di luar sana, dan lebih penting lagi… di sana aku bisa memastikan kau tidak pergi ke mana-mana dan tidak berbuat hal bodoh.”
“Rumahmu? Kau serius? Kau mau mengurungku di sana seperti burung dalam sangkar?” seru Grey tidak percaya. “Aku punya rumah sendiri, aku punya hidupku sendiri! Kau tidak bisa memaksaku tinggal bersamamu.”
Davian menghela napas panjang, lalu melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya dengan tatapan yang seolah sedang menatap anak kecil yang sedang merajuk.
“Dengar, Grey. Kau bisa berteriak, kau bisa marah, kau bisa menolak… tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Keputusanku sudah bulat. Mulai malam ini, kau tinggal bersamaku. Kau akan hidup di bawah aturanku, di bawah perlindunganku, dan di bawah pengawasanku. Kau mungkin terbiasa menjadi gadis bebas yang bisa bermain dengan hati siapa saja, tapi bersiaplah… mulai sekarang, tidak ada lagi permainan. Kau hanya punya aku, dan aku hanya akan membiarkanmu melihatku, mendengarku, dan memikirkan aku saja.”
Mobil mewah itu akhirnya melaju masuk ke sebuah gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, menembus ke dalam kawasan perumahan elit yang sangat tertutup dan dijaga ketat. Di ujung jalan masuk yang panjang itu, berdiri sebuah bangunan besar bergaya klasik modern yang tampak megah, kokoh, dan mewah, diterangi oleh lampu-lampu taman yang indah namun terasa dingin dan angker. Itulah kediaman pribadi Davian Argantha, tempat di mana tidak sembarang orang boleh melangkah masuk.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama yang besar dan berornamen indah. Davian mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Grey lagi. Kali ini, sorot matanya sedikit berubah, ada ketegasan namun juga ada sesuatu yang dalam dan penuh hasrat yang tersembunyi di baliknya. Dia menjulurkan tangannya, membuka sabuk pengaman Grey perlahan dengan tangannya sendiri, gerakannya pelan namun penuh kepemilikan.
“Kita sudah sampai,” ucapnya pelan, suaranya bergetar rendah di udara yang sempit itu. Dia mendekatkan wajahnya lagi, hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Grey. “Selamat datang di duniamu yang baru, Grey Cha Lavian. Di sini, aku adalah hukum, aku adalah aturan, dan aku adalah segalanya bagimu. Kau mungkin benci aku sekarang, kau mungkin ingin membunuhku… tapi percayalah, lama-kelamaan, kau akan menyadari bahwa tidak ada tempat lain yang lebih aman, dan tidak ada laki-laki lain yang akan mencintaimu dan memilikimu sekuat aku.”
Davian menarik diri sebentar, lalu membuka pintu mobil dan turun. Sesaat kemudian, pintu sisi Grey terbuka dari luar. Davian berdiri tegap di sana, di bawah atap pelindung dari hujan, mengulurkan tangannya ke arah gadis itu dengan tatapan menunggu yang tak membiarkan penolakan.
Grey menatap tangan besar dan kokoh itu, lalu menatap wajah pria yang menjadi sumber seluruh kekacauan hidupnya malam ini. Dia tahu, saat dia meletakkan tangannya ke atas telapak tangan itu, dia secara tidak langsung menyetujai untuk masuk lebih dalam ke dalam jaring-jaring kehidupan berbahaya milik Davian. Dia tahu, kebebasan yang selama ini dia banggakan perlahan mulai lepas dari genggamannya.
Namun, di balik rasa takut dan marah itu, ada rasa penasaran yang menggebu-gebu. Ada rasa ingin tahu, bagaimana rasanya dicintai dan dimiliki dengan begitu hebat dan posesif oleh seorang pria sekuat dan seberbahaya Davian Argantha.
Dengan napas panjang dan berat, akhirnya Grey mengangkat tangannya, meletakkannya ke atas telapak tangan Davian yang hangat dan kasar. Seketika itu juga, jari-jari besar itu menutup erat, menggenggam tangannya dengan kuat, seolah takut gadis itu akan hilang jika dia sedikit saja melonggarkan pegangannya.
Davian tersenyum puas, menarik tangan itu hingga Grey keluar dari mobil dan berdiri tepat di hadapannya. Tanpa kata-kata, dia langsung menarik tubuh gadis itu mendekat ke dadanya, melingkarkan satu lengannya erat di pinggang ramping Grey, memastikan tidak ada jarak sedikit pun di antara mereka.
“Bagus,” bisik Davian di depan wajah Grey, matanya berkilat penuh kemenangan dan kepemilikan mutlak. “Sekarang, mari kita masuk, Sayang. Malam ini baru saja dimulai, dan masih banyak hal yang harus kau pelajari tentangku… dan tentang betapa dalamnya ikatan yang baru saja kita mulai ini.”
Davian membalikkan badan, membawa Grey masuk melewati pintu besar itu, menelusuri lorong-lorong mewah yang dingin dan sunyi, menuju ruangan yang akan menjadi kamar tidur mereka. Grey berjalan di sampingnya, genggaman tangan mereka saling terkunci erat, menyadari sepenuhnya bahwa dia sudah benar-benar terperangkap. Terperangkap dalam kemewahan, terperangkap dalam kekuasaan, dan terperangkap dalam cinta seorang mafia yang posesif dan tak tergoyahkan.
Dan entah mengapa, di tengah semua kekacauan itu, Grey mulai menyadari satu hal yang mengerikan namun juga menakjubkan: dia mulai tidak lagi ingin melepaskan genggaman tangan itu.
(Lanjut ke Bab 3)
Pintu besar di belakang mereka tertutup rapat, menimbulkan bunyi berat yang bergema di sepanjang lorong luas itu. Suara itu terdengar seperti penanda—bahwa dunia luar yang bebas, tempat Grey biasa berlari dan bermain, kini sudah tertutup sepenuhnya baginya. Di hadapannya sekarang hanya ada kemewahan yang dingin, keheningan yang mendalam, dan sosok pria raksasa di sampingnya yang seolah menjadi pusat dari segala aturan dan kekuasaan di tempat ini.
Lantai marmer yang berkilau memantulkan bayangan tubuh mereka. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal dan ukiran indah yang bernilai jutaan rupiah, namun bagi Grey, semuanya terasa seperti hiasan di dalam sebuah istana yang sekaligus berfungsi sebagai penjara. Dia masih tergenggam erat oleh tangan Davian, jari-jari besar itu mengunci pergelangan tangannya dengan kekuatan yang cukup untuk memastikan dia tidak bisa lari, namun cukup lembut agar tidak melukai kulit halusnya.
Grey melirik ke sekeliling. Tidak ada pelayan yang terlihat, tidak ada suara percakapan, bahkan tidak ada langkah kaki orang lain. Hanya ada mereka berdua dan keheningan yang begitu tebal hingga terdengar menyesakkan.
"Di mana semua orang? Rumah ini… rasanya seperti kosong melompong," gumam Grey, berusaha memecah keheningan yang membuatnya merasa semakin kecil dan terkurung.
Davian terus berjalan sambil menariknya perlahan menuju tangga besar yang melengkung indah di ujung lorong. Dia tidak menoleh, namun jawabannya terdengar jelas dan tenang.
"Di rumah ini, hanya ada aku, kamu, dan orang-orang yang aku izinkan ada di sini. Aku tidak suka keramaian yang tidak perlu, aku tidak suka suara-suara yang mengganggu, dan aku paling tidak suka ada mata asing yang mengawasi apa yang menjadi milikku. Para pelayan hanya akan datang saat dipanggil, dan mereka tahu batasan mereka. Mereka tidak akan berani menatapmu terlalu lama, tidak akan berani berbicara padamu kecuali diperintah, dan yang paling penting… mereka tahu bahwa menyentuhmu atau mendekatimu adalah dosa terbesar yang bisa mereka lakukan."
Grey menelan ludah. Nada bicara Davian begitu biasa, seolah dia sedang berbicara tentang aturan sepele seperti soal jam makan atau jam tidur, tapi maknanya begitu berat dan menakutkan. Pria ini benar-benar menganggapnya sebagai barang yang harus dijaga ketat, dikunci, dan dijauhkan dari jangkauan siapa pun. Sifat posesifnya bukan sekadar rasa cemburu biasa, melainkan sebuah kepemilikan mutlak yang berakar dari kekuasaan tak terbatas yang dia miliki.
"Kau benar-benar gila, Davian," ucap Grey pelan, namun kali ini suaranya tidak lagi setajam sebelumnya. Rasa lelah mulai merayapi tubuhnya, bercampur dengan rasa bingung yang semakin dalam. "Kau pikir kau bisa mengurungku di sini selamanya? Menganggapku sebagai barang berharga yang harus dikunci di dalam kotak kaca? Aku manusia, aku punya keinginan, aku punya kebebasan."
Davian berhenti berjalan tepat di depan pintu kayu besar di lantai atas. Dia berbalik, menghadap Grey sepenuhnya. Di bawah cahaya lampu gantung yang bergantung tinggi di langit-langit, wajah pria itu tampak lebih keras dan lebih mendominasi dari sebelumnya. Dia mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipi Grey, mengusapnya perlahan dengan pandangan yang begitu tajam seolah ingin menghafal setiap inci wajah itu.
"Selamanya adalah waktu yang sangat lama, Sayang. Dan aku berharap sekali kita bisa menghabiskannya bersama-sama di sini," jawab Davian rendah, nadanya berubah menjadi lebih berat dan penuh penekanan. "Dan dengarkan baik-baik, Grey Cha Lavian. Kau bukan sekadar barang berharga bagiku. Kau adalah satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah kumiliki. Dan karena kau sangat berharga, maka kau harus dijaga. Kau harus dijaga dari laki-laki sampah yang hanya menginginkan tubuhmu, dijaga dari bahaya di luar sana yang bisa menyakitimu, dan dijaga dari dirimu sendiri yang terlalu suka bermain api tanpa memikirkan akibatnya."
Dia menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir Grey, membuat gadis itu terpaksa menengadah untuk menatapnya. Napas hangat Davian menyentuh kulit wajahnya, membuat jantungnya kembali berdebar kencang—perasaan campur aduk antara ingin mendorongnya menjauh dan ingin merasakan kedekatan itu lebih lama.
"Di tempat ini, ada aturan yang harus kau taati. Tidak ada negosiasi, tidak ada pengecualian. Jika kau mau hidup nyaman, aman, dan dicintai olehku dengan segala yang aku punya… maka kau harus patuh. Mengerti?"
Grey mengerutkan keningnya, matanya menyala kembali dengan api perlawanan yang belum sepenuhnya padam. Dia mendorong dada bidang itu sedikit, meski rasanya seperti mendorong tembok batu yang tak bergeming.
"Aku bukan anak kecil yang perlu diatur dengan peraturan kaku! Dan aku tidak pernah patuh pada siapa pun, ingat itu!" serunya berapi-api.
Davian justru tersenyum tipis, senyum yang terlihat mengerikan namun juga memikat. Dia tidak marah. Justru kemarahan dan sifat keras kepala Grey seolah menjadi bahan bakar yang semakin membuat rasa ingin memilikinya tumbuh besar di dada pria itu.
"Kita akan latih itu pelan-pelan. Kau akan belajar untuk patuh padaku, Grey. Percayalah, pada akhirnya, mulutmu mungkin masih banyak bicara, tapi hatimu dan tubuhmu akan tahu persis siapa tuannya," ucap Davian dengan penuh keyakinan. Dia lalu memutar gagang pintu di sampingnya dan mendorongnya hingga terbuka lebar.
"Masuk."
Grey melangkah masuk dengan enggan, dan matanya langsung terbelalak melihat isi ruangan itu. Itu adalah kamar tidur yang sangat luas, hampir sebesar rumah biasa. Perabotannya serba mewah, didominasi warna hitam, emas, dan krem yang memberikan kesan megah namun dingin. Di tengah ruangan ada tempat tidur besar dengan penutup kain beludru tebal yang tampak sangat empuk. Di sisi lain ada ruang ganti yang terbuka, penuh dengan pakaian-pakaian berlabel mahal yang entah kapan dan bagaimana Davian bisa mengumpulkannya di sana—semuanya berukuran pas untuk tubuh Grey.
Grey berbalik menatap Davian dengan tatapan tak percaya. "Kau… kau sudah menyiapkan semuanya ini? Kau sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelum kita bertemu malam ini?"
Davian menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Bunyi klik halus itu terdengar sangat jelas di telinga Grey. Pria itu berjalan santai ke arahnya, melewati lemari-lemari besar dan meja rias yang indah, hingga dia berdiri tepat di hadapan gadis itu lagi.
"Aku tidak merencanakan pertemuan kita, Grey. Pertemuan itu takdir yang mengatur. Tapi begitu aku melihatmu, begitu aku tahu siapa kamu… aku tahu, kau adalah milikku. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku akan menyiapkan segalanya agar sesuatu itu nyaman dan sempurna saat sudah ada di tanganku. Pakaian-pakaian itu, sepatu-sepatu itu, perhiasan-perhiasan itu… semuanya milikmu sekarang. Kau boleh memakai apa saja, sesuka hatimu. Itu satu-satunya kebebasan yang akan aku berikan padamu di sini: kebebasan untuk berpakaian indah agar hanya aku yang bisa melihat keindahanmu."
Grey menggeleng pelan, merasa kewalahan. Semua kemewahan ini, semua perhatian ini… seharusnya membuat wanita mana pun tersanjung, tapi bagi Grey yang mencintai kebebasan, semua ini terasa seperti rantai yang terbuat dari emas berlian—indah, tapi tetap saja mengikat.
"Aku tidak butuh semua ini, Davian. Aku hanya butuh kebebasanku. Aku hanya ingin bisa pergi ke mana saja aku mau, bertemu siapa saja yang aku suka, dan hidup seperti dulu," ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar.
Wajah Davian kembali berubah menjadi serius. Dia menarik Grey mendekat, membiarkan tubuh mungil itu bersandar sepenuhnya pada dadanya yang kokoh. Dia memegang kedua bahu gadis itu dengan kedua tangannya, menatap lurus ke dalam mata abu-abu yang mulai tampak berkaca-kaca itu.
"Dengar aku baik-baik. Hidupmu yang dulu sudah selesai. Hidup di mana kau bisa bermain-main dengan perasaan laki-laki, hidup di mana kau membiarkan mata asing menelanjangimu dengan pandangan kotor… itu sudah berakhir. Mulai hari ini, kau hidup untukku, dan hanya untukku. Aturan-aturanmu sederhana, dan kau harus menghafalnya sekarang juga."
Dia berhenti sejenak, memastikan tatapan Grey terkunci padanya.
"Pertama: Kau tidak boleh pergi keluar rumah ini tanpa ditemani olehku atau orang yang aku percayai. Dan itu pun hanya akan terjadi jika aku mengizinkan. Kedua: Kau tidak boleh menerima telepon, pesan, atau bertemu dengan laki-laki mana pun—baik itu teman lama, mantan kekasih, atau siapa pun. Semua hubungan laki-lakimu sudah putus sejak detik ini. Ketiga: Kau harus selalu memberitahuku ke mana kau pergi di dalam rumah ini, apa yang kau lakukan, dan dengan siapa kau berbicara. Aku ingin tahu setiap detik hidupmu. Dan keempat… yang paling penting: Kau tidak boleh menyembunyikan apa pun dariku, dan kau tidak boleh memiliki rahasia. Hidupmu, tubuhmu, pikiranmu, dan hatimu… semuanya harus terbuka sepenuhnya untukku."
Grey merasa napasnya sesak mendengar aturan-aturan itu. Itu bukan sekadar aturan, itu adalah perampasan total atas seluruh dirinya.
"Itu… itu tidak masuk akal! Kau ingin menguasai seluruh jiwa dan ragaku? Kau ingin membuatku menjadi boneka yang hanya bergerak sesuai keinginanmu?" seru Grey, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman bahu itu, namun sia-sia.
"Ya," jawab Davian singkat dan tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Aku memang ingin begitu. Dan percayalah, Grey… aku bukan hanya akan menguasaimu. Aku akan memanjakanmu, aku akan melindungimu, aku akan memberimu segalanya yang tidak pernah bisa diberikan oleh laki-laki lain. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjadi milikku sepenuhnya. Tanpa sisa."
Dia menundukkan kepalanya, mencium kening Grey dengan ciuman yang berat dan panjang, seolah menandai wilayah kekuasaannya.
"Kau mungkin benci aku sekarang karena aku terlalu mengikatmu. Tapi nanti, kau akan mengerti. Kau akan mengerti bahwa rasa posesifku ini adalah bentuk cinta yang paling murni dan paling besar yang pernah ada. Aku tidak membagi, Grey. Aku tidak berbagi apa pun, dan terutama… aku tidak akan pernah berbagi kamu dengan siapa pun di dunia ini."
Davian melepaskan bahu Grey, lalu berbalik berjalan menuju sisi tempat tidur besar itu, mulai membuka kancing jasnya satu per satu dengan gerakan santai namun penuh wibawa.
"Cukup untuk pembicaraan malam ini. Kau pasti lelah. Mandilah, ganti pakaianmu. Di kamar mandi sudah tersedia semua yang kau butuhkan. Dan ingat satu hal lagi…"
Dia berhenti bergerak, menoleh kembali ke arah Grey dengan pandangan yang gelap dan berbahaya, namun juga penuh kepemilikan yang mendalam.
"Kamar ini adalah kamarku, dan sekarang menjadi kamarmu juga. Tempat tidur ini adalah tempat tidurku, dan sekarang menjadi tempat tidurmu juga. Kau tidur di sini, di sampingku, setiap malam. Jangan pernah berpikir untuk mencari kamar lain atau mengunci pintu apa pun dariku. Karena pintu apa pun di rumah ini tidak akan pernah bisa tertutup rapat untukku, dan tidak ada tempat persembunyian bagimu di sini. Kau selalu dalam jangkauanku, selalu dalam pandanganku."
Grey berdiri terpaku di tengah ruangan, merasakan betapa lengkapnya dia sudah terperangkap. Dia melihat sekeliling, melihat kemewahan yang mengelilinginya, dan melihat pria yang kini sedang menatapnya seolah dia adalah satu-satunya cahaya di dalam hidupnya yang gelap.
Dia marah, dia kesal, dia merasa dikhianati oleh nasib. Tapi di dasar hatinya yang paling dalam, ada rasa dingin yang menyenangkan yang menjalar, rasa aneh karena begitu sangat diinginkan, begitu sangat dicari, dan begitu sangat dimiliki oleh seseorang yang berkuasa seperti Davian.
Malam itu, Grey menyadari bahwa perang baru saja dimulai. Perang antara kebebasan yang dia cintai melawan ikatan cinta yang berbahaya namun tak terbantahkan dari seorang mafia yang sangat posesif ini. Dan dia tidak tahu, apakah dia akan memenangkan perang ini, atau dia justru akan menyerah sepenuhnya, melemparkan seluruh dirinya ke dalam pelukan pria itu selamanya.
(Lanjut ke Bab 4)
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!