Malam di kota ini tidak pernah benar-benar sepi, terutama di lantai teratas gedung pencakar langit berkedok perusahaan investasi milik Sterling Group. Di balik dinding kaca tebal yang menyajikan pemandangan kelap-kelip lampu kota dari ketinggian tiga puluh lantai, atmosfernya terasa begitu mencekam. Suara rintik hujan yang menghantam kaca luar terdengar lamat-lamat, kalah telak oleh suara napas terengah-engah dari seorang pria yang terikat di atas kursi besi di tengah ruangan.
Di sudut ruangan yang minim pencahayaan, Asher duduk dengan tenang di balik meja kerja kayu mahogani besarnya. Wajahnya yang rupawan terpahat sempurna, dengan rahang tegas yang tercukur rapi dan sepasang mata kelabu yang sedingin es. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada emosi. Pria berusia awal tiga puluhan itu mengenakan setelan jas hitam tiga potong yang pas di tubuh tegapnya, tanpa satu pun kerutan. Jari-jemarinya yang panjang dan kokoh memegang sebatang cerutu yang ujungnya membara merah, mengesankan aura kekuasaan yang mutlak dan tak tergoyahkan.
Setiap embusan asap abu-abu dari bibir Asher seolah menambah berat udara di dalam ruangan itu. Di dunia bawah tanah, nama Asher adalah sinonim dari malaikat maut. Dia tidak mengenal kata ampun, tidak peduli pada air mata, dan tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang berani mengusik jalurnya. Baginya, manusia hanyalah bidak catur yang bisa dibuang kapan saja jika sudah tidak berguna atau berani berkhianat.
"Asher... demi Tuhan, Asher... aku bersumpah bukan aku yang membocorkan jalur pengiriman di pelabuhan utara," ratap pria di kursi itu. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya sudah babak belur, penuh memar keunguan dan darah yang mengalir dari pelipisnya. Dia adalah salah satu manajer logistik yang telah bekerja untuk organisasi Asher selama tiga tahun. Namun, di dunia Asher, kesetiaan masa lalu tidak memiliki nilai tebusan jika hari ini kau membuat kesalahan.
Asher tidak menjawab. Dia bahkan tidak melirik ke arah pria yang memohon ampun itu. Pandangannya tetap lurus menatap asap cerutu yang membubung ke langit-langit. Sikap diamnya justru menjadi teror yang paling menyiksa bagi siapa pun yang berada di ruangan itu.
Di samping kursi pria yang terikat, berdiri Kenzo.
Sebagai tangan kanan sekaligus orang kepercayaan nomor satu Asher, Kenzo adalah bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun sang bos pergi. Penampilannya selalu rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar dan beberapa bekas luka tembak. Wajah Kenzo datar, tanpa ekspresi, seperti robot yang hanya bergerak berdasarkan perintah. Di pinggangnya, terselip sebuah belati taktis dan sepucuk pistol berperedam suara yang siap menyalak kapan saja.
Kenzo melangkah satu pukulan maju, memecah keheningan dengan suara sepatunya yang berdecit di atas lantai marmer. "Dia berbohong, Bos," ucap Kenzo dengan nada suara yang sangat tenang, namun sarat akan ancaman. "Kami menemukan mutasi rekening luar negeri atas namanya sebesar dua ratus ribu dolar dari pihak lawan, tepat dua hari sebelum penggerebekan di pelabuhan. Semua bukti digital sudah saya amankan."
Mendengar laporan Kenzo, pria yang terikat itu langsung memucat. Matanya terbelalak penuh ketakutan. "Tidak! Itu fitnah! Kenzo, kau menjebakku!" teriaknya histeris.
Kenzo tidak membalas teriakan itu dengan kemarahan. Dia hanya menatap pria itu dengan pandangan dingin yang kosong. Bagi Kenzo, tugasnya adalah menjadi perpanjangan tangan Asher. Jika Asher adalah otak yang merencanakan kematian, maka Kenzo adalah badai yang mengeksekusinya tanpa banyak bicara. Hubungan antara Asher dan Kenzo telah terjalin bertahun-tahun di atas fondasi profesionalisme yang brutal; Kenzo tahu persis apa yang diinginkan bosnya bahkan sebelum Asher mengucapkannya.
Asher perlahan mengetukkan jemarinya ke meja, menjatuhkan abu cerutunya ke asbak kristal. Suara ketukan itu terdengar seperti detak jam kematian.
"Kau tahu apa yang paling aku benci di dunia ini, menyedihkan?" Asher akhirnya bersuara. Suaranya berat, bariton, dan bergema di ruangan yang sunyi itu. Nada bicaranya tidak tinggi, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, namun justru keheningan yang dingin itulah yang membuat bulu kuduk merinding.
Pria yang terikat itu menelan ludah dengan susah payah, air matanya menetes bercampur darah. "A-Asher..."
"Kebohongan," lanjut Asher, sambil berdiri dari kursi kebesarannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang seolah menelan pria di depannya. Asher berjalan perlahan, memutari meja kerja, lalu melangkah mendekati pria tersebut. Setiap langkah kakinya yang lambat terasa seperti siksaan psikologis yang berat.
"Aku bisa memaafkan kegagalan jika kau bodoh. Tapi aku tidak pernah memaafkan pengkhianatan dari orang yang kubayar untuk setia," kata Asher lagi. Dia kini berdiri tepat di depan pria itu, menatapnya dari atas dengan pandangan merendahkan, seolah makhluk di bawahnya tidak lebih dari seekor serangga yang siap diinjak.
Asher mengulurkan tangannya ke samping tanpa menoleh. "Kenzo."
Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Kenzo dengan sigap mengeluarkan sebilah pisau bedah yang sangat tajam dari saku bagian dalam jasnya dan meletakkannya di telapak tangan Asher. Gerakan Kenzo begitu presisi dan cepat, menunjukkan betapa seringnya mereka melakukan ritual eksekusi seperti ini bersama-sama.
Asher menerima pisau itu, memainkannya di antara jari-jarinya yang efisien. Kilatan cahaya lampu ruangan memantul di mata pisau yang berkilau perak.
"Tolong, Asher! Aku punya anak dan istri! Demi Tuhan, kasihani mereka!" jerit pria itu, mencoba meronta hingga kursi besinya bergetar dan berisik di atas lantai marmer.
Mendengar kata 'kasihan', seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibir Asher. Kata itu sudah lama hilang dari kamus hidupnya. Baginya, belas kasihan adalah kelemahan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang siap mati konyol di jalanan. Di dunia bawah tanah yang dikuasainya, hanya ada dua pilihan: menjadi serigala yang memangsa, atau menjadi domba yang dikuliti. Dan Asher adalah puncak dari rantai makanan itu.
"Kenzo, tahan dia," perintah Asher pendek.
Kenzo maju dengan cepat. Dengan satu gerakan tangan yang kuat, dia mencengkeram rambut pria itu dari belakang, menariknya dengan kasar hingga kepala pria itu mendongak paksa, mengunci pergerakannya sepenuhnya. Tangan Kenzo yang lain menekan bahu pria itu agar tidak bisa bergeser satu milimeter pun. Kekuatan fisik Kenzo yang masif membuat korbannya sama sekali tidak berkutik.
Asher melangkah maju satu tapak lagi. Dia mendekatkan mata pisau yang dingin itu ke pipi pria yang terus menangis tersebut. "Jika kau memikirkan anak dan istrimu sebelum menerima uang dari musuhku, mungkin malam ini kau masih bisa memeluk mereka," bisik Asher tepat di telinga pria itu.
Srett.
Tanpa ragu dan dengan gerakan yang sangat tenang, Asher menggoreskan pisau itu jauh ke dalam kulit pipi sang pengkhianat. Jeritan kesakitan yang memilukan langsung pecah, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Darah segar berwarna merah pekat langsung menyembur, mengalir membasahi kemeja pria itu dan menetes ke lantai marmer putih yang bersih.
Asher melakukan itu semua tanpa mengedipkan mata. Wajahnya tetap sedingin es, seolah dia hanya sedang memotong selembar kertas, bukan daging manusia. Kenzo yang memegangi kepala pria itu tetap bergeming, menahan setiap hentakan tubuh korban dengan cengkeraman besi tanpa menunjukkan rasa jijik atau belas kasihan sedikit pun. Bagi Kenzo, darah adalah makanan sehari-hari.
Setelah selesai memberikan "peringatan" pertama, Asher mundur satu langkah. Dia menyerahkan kembali pisau yang kini berlumuran darah itu kepada Kenzo. Kenzo menerimanya, lalu dengan sapu tangan hitam, dia membersihkan bilah pisau tersebut dengan gerakan yang teratur dan tenang sebelum menyimpannya kembali.
Asher kembali ke mejanya, mengambil sapu tangan sutra putih untuk menyeka beberapa percikan darah yang mengenai ujung lengan kemejanya. "Bereskan dia, Kenzo. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi besok pagi. Dan pastikan seluruh asetnya disita untuk mengganti kerugian di pelabuhan."
"Baik, Bos. Akan saya selesaikan di ruang bawah tanah," jawab Kenzo tegas. Dia langsung memberi isyarat kepada dua orang pengawal bertubuh besar yang berjaga di luar pintu untuk masuk. Kedua pengawal itu dengan cepat melepaskan ikatan kursi dan menyeret pria yang sudah setengah tidak sadarkan diri itu keluar dari ruangan, meninggalkan jejak seretan darah di atas lantai marmer.
Kenzo tidak langsung pergi. Dia mengambil kain pembersih yang selalu tersedia di sudut ruangan, lalu berlutut di lantai untuk membersihkan sendiri sisa-sisa darah yang berceceran. Sebagai tangan kanan, Kenzo sangat perfeksionis. Dia tahu Asher menyukai kerapian dan kebersihan di ruang kerjanya. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara gesekan kain pembersih Kenzo di atas lantai dan rintik hujan di luar sana.
Setelah lantai kembali bersih tanpa noda, Kenzo berdiri dan merapikan pakaiannya. Dia berjalan mendekati meja Asher yang sedang kembali menikmati cerutunya.
"Ada satu masalah lagi, Bos," kata Kenzo, memecah kesunyian dengan nada formal.
Asher mengembuskan asap cerutunya, tatapannya beralih pada Kenzo. "Katakan."
"Ini tentang salah satu anak buah kita di level bawah. Seorang pria tua pengumpul setoran di wilayah barat. Dia sudah menunggak utang dalam jumlah yang sangat besar kepada organisasi, dan malam ini adalah batas akhir pembayarannya. Kolektor kita di lapangan melaporkan bahwa pria itu kembali gagal membayar dan mencoba melarikan diri," lapor Kenzo dengan mendalam.
Asher menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya, mengetuk-ngetukan jarinya ke lengan kursi. Matanya menyipit, memancarkan aura berbahaya yang baru saja meredam namun kini tersulut kembali. Di bawah kepemimpinannya, tidak ada satu sen pun uang organisasi yang boleh hilang atau dibawa lari. Siapa pun yang berutang pada Sterling Group harus membayar, entah dengan uang, atau dengan nyawa mereka.
"Berapa banyak?" tanya Asher pendek.
Kenzo menyebutkan angka yang cukup fantastis untuk ukuran anak buah level bawah, angka yang jelas tidak akan sanggup dibayar oleh seorang bapak-bapak biasa yang terjebak dalam lingkaran perjudian atau taruhan gelap dunia bawah tanah.
"Dia tahu konsekuensinya sejak awal saat meminjam uang dari kita," ucap Asher dengan suara yang datar namun mematikan. "Kenzo, bawa pria tua itu ke hadapanku sekarang juga. Jika dia tidak bisa membayar dengan uangnya malam ini, maka kau tahu apa yang harus kau lakukan pada tubuhnya untuk menutupi kerugian kita."
"Dimengerti, Bos. Saya sendiri yang akan menjemputnya," jawab Kenzo dengan bungkukan hormat yang dalam.
Kenzo berbalik dan melangkah tegap keluar dari ruangan luas itu. Pintu ganda kayu ek yang tebal tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan Asher sendirian di dalam keheningan ruangannya yang megah namun terasa seperti makam yang dingin.
Asher menatap ke luar jendela besar, ke arah deretan gedung pencakar langit kota yang diguyur hujan lebat. Di matanya, kota ini hanyalah sebuah hutan belantara yang kejam, dan dia adalah rajanya. Tidak ada ruang untuk kelemahan, tidak ada tempat untuk pengampunan. Hidupnya diisi oleh kegelapan, bisnis berdarah, dan kesetiaan mutlak yang dipaksakan lewat rasa takut. Dan bagi siapa saja yang berani bermain-main dengan aturannya, malam ini hanyalah awal dari mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.
Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela ruang kerja Asher dengan suara berisik yang monoton. Di dalam ruangan, keheningan yang mencekam kembali berkuasa setelah Kenzo pergi. Asher masih setia di posisinya, bersandar pada kursi kulit besarnya sembari sesekali menyesap cerutu yang kini tinggal separuh. Sepasang mata kelabunya menatap lurus ke arah pintu ganda ruangan, menunggu mangsa berikutnya yang dibawa oleh sang tangan kanan.
Bagi Asher, waktu malam ini berjalan terlalu lambat, dan dia benci membuang waktu untuk urusan remeh-temeh seperti menagih utang seorang anak buah level bawah. Namun, bisnis tetaplah bisnis. Di dalam organisasinya, membiarkan satu orang lolos dari tanggung jawab finansial sama saja dengan membuka celah bagi pembangkangan yang lebih besar di masa depan. Rasa takut harus tetap ditanamkan, bahkan ke akar rumput sekalipun.
Tepat tiga puluh menit kemudian, pintu ganda kayu ek itu terbuka.
Kenzo melangkah masuk terlebih dahulu dengan ekspresi datar yang biasa. Di belakangnya, dua orang pengawal bertubuh kekar menyeret paksa seorang pria paruh baya yang tampak sangat mengenaskan. Pria itu bertubuh agak kurus, mengenakan kemeja lusuh yang basah kuyup oleh air hujan, dan rambut berubannya tampak berantakan. Wajahnya pucat pasi, matanya merah karena tangis dan ketakutan yang teramat sangat. Kedua lututnya lemas, menyapu lantai marmer karena dia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.
Bugh!
Kedua pengawal itu mencampakkan sang bapak ke atas lantai marmer tepat di depan meja kerja Asher. Pria tua itu tersungkur, napasnya memburu, dan tubuhnya gemetar hebat layaknya selembar daun yang ditiup angin badai. Saat dia mendongak dan tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata kelabu milik Asher yang sedingin es, pria tua itu langsung bersujud, menempelkan dahinya ke lantai yang dingin.
"Bos Asher... ampuni saya, Bos... saya mohon ampun..." suara pria tua itu serak, bergetar menahan tangis yang pecah seketika.
Asher tidak menjawab. Dia bahkan tidak mengubah posisi duduknya. Perlahan, dia mengembuskan asap cerutunya ke udara, membiarkan kabut abu-abu tipis itu melayang di antara mereka, menambah kesan misterius dan mengintimidasi yang begitu pekat. Asher menatap pria di bawahnya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah angka kerugian dalam buku kas organisasinya.
Kenzo melangkah maju satu tapak, memegang sebuah map dokumen kecil. "Namanya haris, Bos. Dia bekerja sebagai kolektor setoran kecil di wilayah barat. Total utang pokok beserta bunga yang dia bawa lari dari kas wilayah mencapai ratusan ribu dolar. Uang itu habis digunakan untuk berjudi di kasino ilegal pelabuhan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir," lapor Kenzo dengan suara baritonnya yang tegas tanpa emosi.
Mendengar rincian kesalahannya dibacakan oleh Kenzo, Haris semakin histeris. Dia memajukan tubuhnya yang berlutut, mencoba meraih ujung sepatu kulit mengilat milik Asher, namun dengan sigap Kenzo menghentikannya. Kenzo menginjak pergelangan tangan Haris dengan tekanan yang cukup kuat, membuat pria tua itu meringis kesakitan tanpa bisa menyentuh sang bos besar.
"Jangan berani menyentuh sepatu Bos jika kau masih sayang dengan jemarimu, Haris," bisik Kenzo dingin, namun penuh ancaman nyata. Kenzo lalu mengangkat kakinya, membiarkan Haris menarik kembali tangannya yang gemetar.
"Saya khilaf, Bos Asher! Saya dijebak di tempat judi itu! Mereka mencurangi saya!" ratap Haris, air matanya kini mengalir deras membasahi lantai marmer. "Saya berjanji akan mengembalikannya. Beri saya waktu satu bulan... tidak, dua minggu! Saya mohon, dua minggu lagi saya akan melunasi semuanya!"
Asher masih bergeming. Dia meletakkan cerutunya di atas asbak kristal, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan setiap jengkal keputusasaan yang dipamerkan oleh Haris. Sifat dingin Asher yang tak tergoyahkan membuat suasana di dalam ruangan itu terasa semakin mencekam. Bagi Asher, ratapan seperti ini adalah lagu lama yang membosankan. Semua orang yang akan mati di tangannya selalu mengucapkan kalimat yang sama: janji, waktu, dan penyesalan. Tapi di dunia bawah tanah, penyesalan tidak bisa digunakan untuk membayar senjata, upeti, atau gaji para pengawal.
"Dua minggu?" Kenzo menyahut, mewakili kebungkamannya Asher. Seringai tipis yang dingin muncul di wajah tangan kanan itu. "Haris, jangankan dua minggu, dalam dua tahun pun dengan upahmu yang sekarang, kau tidak akan pernah bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Kau pikir kami menjalankan lembaga sosial?"
"Tolong, Kenzo... tolong bicara pada Bos Asher..." Haris beralih memohon pada Kenzo, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Aku sudah setia pada organisasi ini selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah berkhianat pada musuh!"
"Kau tidak berkhianat pada musuh, tapi kau mencuri dari dompet organisasi. Bagi Bos Asher, tingkat kesalahannya sama saja," balas Kenzo datar. Dia kemudian melirik ke arah Asher, menunggu instruksi final dari sang bos.
Asher perlahan menurunkan tangannya dari dagu. Dia memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak, menumpukan kedua lengannya di atas meja kerja kayu mahogani tersebut. Gerakan sederhana itu langsung membuat Haris menahan napas, tahu bahwa vonis mati atas dirinya mungkin akan segera dijatuhkan.
"Haris," Asher akhirnya memecah keheningannya. Suaranya yang rendah dan berat bergaung di ruangan itu, membawa aura dingin yang langsung menusuk tulang. "Aku tidak peduli kau berjudi, kau ditipu, atau kau menggunakan uang itu untuk memberi makan keluargamu. Yang aku peduli hanyalah satu hal: uangku harus kembali utuh malam ini."
"Bos... u-uang itu sudah habis..." bisik Haris dengan bibir yang gemetar membiru.
"Jika uangnya habis, maka kau harus membayarnya dengan hal lain yang senilai," lanjut Asher, tatapannya menajam layaknya pisau yang siap menyayat. "Kenzo sudah menghitung nilai organ tubuhmu di pasar gelap. Jantung, ginjal, kornea mata, dan beberapa bagian lainnya. Sayangnya, karena usiamu yang sudah tua dan gaya hidupmu yang buruk, total harganya bahkan tidak mencapai setengah dari utangmu."
Mendengar kata 'organ tubuh' dan 'pasar gelap', Haris merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Wajahnya yang semula pucat kini benar-benar kehilangan warna, tampak seperti mayat hidup. Dia tahu Asher tidak sedang menggertak. Di bawah kendali Asher, Sterling Group menguasai segala lini bisnis haram di kota ini, termasuk jalur perdagangan organ bagi para miliarder yang membutuhkan donor instan.
"T-Tidak... jangan, Bos Asher! Saya mohon jangan bunuh saya!" Haris merangkak mundur sedikit, namun kedua pengawal di belakangnya langsung mencengkeram kedua bahunya, menahannya agar tetap berlutut menghadap Asher. Pria tua itu menangis sejadi-jadinya, dadanya sesak oleh rasa takut yang luar biasa akan kematian yang sudah berada tepat di depan matanya.
Asher menatap pemandangan menyedihkan itu dengan pandangan muak. Dia melirik arloji mewah di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia sudah tidak memiliki kesabaran lagi untuk drama murahan ini.
"Kenzo, bawa dia ke ruang bawah tanah. Selesaikan malam ini juga," perintah Asher dengan nada suara yang begitu santai, seolah dia baru saja memerintahkan bawahannya untuk membuang sebungkus sampah.
"Baik, Bos," jawab Kenzo patuh. Dia langsung memberi isyarat mata kepada kedua pengawal untuk menyeret Haris keluar dari ruangan.
"Tidak! Lepaskan! Bos Asher, tunggu! Tunggu sebentar!" Haris berteriak histeris saat kedua pengawal mulai menarik tubuhnya dengan kasar. Dia meronta-ronta dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, menendang-nendangkan kakinya di atas lantai. Teror kematian yang nyata membuat otaknya bekerja dua kali lebih cepat untuk mencari cara apa saja—apa saja yang bisa menyelamatkan nyawanya malam ini.
"Saya punya sesuatu yang lain! Sesuatu yang jauh lebih berharga dari organ tubuh saya!" teriak Haris dengan suara melengking di tengah keputusasaannya, tepat sebelum tubuhnya melewati ambang pintu.
Mendengar kalimat itu, Asher mengangkat sebelah tangannya sedikit. Gerakan kecil itu langsung membuat kedua pengawal menghentikan tarikan mereka. Ruangan kembali senyap, hanya menyisakan suara deru napas Haris yang tersengal-sengal dan detak jarum jam dinding yang besar.
Asher menyipitkan matanya, menatap Haris dengan pandangan penuh selidik dan sedikit rasa sinis. "Sesuatu yang berharga? Apa yang dimiliki oleh seorang tikus jalanan seperti dirimu yang bisa menarik perhatianku, Haris?" tanya Asher dengan nada meremehkan.
Haris menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya adalah sebuah dosa besar sebagai seorang ayah, sebuah tindakan terkutuk yang akan mengubah hidup putrinya selamanya. Namun, egoisme dan rasa takut mati yang teramat sangat telah membutakan mata hatinya. Baginya, keselamatan nyawanya sendiri adalah yang utama saat ini.
Dengan tubuh yang masih gemetar di bawah cengkeraman para pengawal, Haris mendongak, menatap langsung ke arah sepasang mata kelabu Asher.
"Anak gadis saya, Bos..." ucap Haris dengan suara bergetar, setengah berbisik namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. "Saya memiliki seorang anak gadis. Dia... dia masih sangat muda, sangat cantik, dan murni. Dia belum pernah disentuh oleh pria mana pun di dunia ini."
Kenzo yang berdiri di samping meja Asher sedikit menaikkan alisnya, merasa terkejut dengan kelancangan dan keegoisan pria tua di depan mereka. Namun, Kenzo tetap diam, menunggu bagaimana reaksi dari bosnya.
Haris menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan Asher dengan sisa-sisa keberaniannya. "Ambil dia, Bos Asher. Jadikan dia milik Anda. Nikahi dia, jadikan dia pelayan Anda, atau lakukan apa saja yang Anda inginkan padanya. Saya memberikan hak penuh atas hidupnya kepada Anda, asalkan... asalkan Anda menghapus semua utang saya dan membiarkan saya tetap hidup malam ini. Saya mohon... ambillah putri saya sebagai tebusannya."
Suasana di dalam ruangan langsung membeku. Tawaran liar yang keluar dari mulut seorang bapak yang tega menjual darah dagingnya sendiri demi seonggok nyawa yang tak berguna, menggantung di udara malam yang dingin. Asher terdiam, tatapannya lurus mengunci wajah Haris yang penuh harap dan ketakutan, menimbang-nimbang nilai dari sebuah penawaran yang tak terduga ini.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan kerja Asher, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih berat dan menekan. Tawaran Haris yang menyerahkan anak gadisnya sendiri sebagai penebus utang seolah membekukan aliran udara di tempat itu.
Dua pengawal yang memegangi bahu Haris tampak tertegun, tidak menyangka seorang ayah akan serendah itu demi menyelamatkan kulitnya sendiri. Namun, reaksi paling keras datang dari orang yang berdiri di sebelah meja kerja Asher.
Kenzo, yang biasanya selalu bersikap tenang layaknya robot tanpa emosi, mendadak menegang. Sepasang matanya menajam, memancarkan kilatan amarah yang jarang sekali dia tunjukkan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tegap. Bagi Kenzo, tawaran Haris bukan hanya sebuah tindakan yang menjijikkan, melainkan sebuah penghinaan besar bagi harga diri bosnya.
"Tutup mulutmu, tua bangka keparat!"
Suara Kenzo menggelegar, memecah kesunyian ruangan dengan nada bariton yang sarat akan murka. Dia melangkah maju dengan cepat, berniat untuk menghajar wajah Haris yang bersujud di lantai. Tangannya sudah bergerak menuju gagang senjata di pinggangnya.
"Kau pikir Bos Asher ini pria hidung belang yang bisa kau suap dengan wanita?" bentak Kenzo dengan tatapan menghunus tajam. "Kau pikir organisasi ini tempat penampungan pelacur? Berani sekali kau menyamakan posisi Bos kami dengan para kolektor wanita jalang di luar sana!"
Bagi Kenzo, Asher adalah seorang penguasa tertinggi yang mutlak dan terhormat di dunia bawah tanah. Asher tidak pernah bermain-main dengan wanita, tidak pernah menyentuh klub-klub malam untuk mencari kepuasan kedagingan, dan sangat menjaga jarak dari segala bentuk godaan emosional yang bisa melemahkan posisinya. Menawarkan seorang gadis kepada Asher seolah-olah merendahkan derajat sang bos mafia menjadi setingkat dengan pria-pria mesum kelas teri yang haus belaian.
Haris yang melihat kemarahan Kenzo langsung memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan tubuhnya ke lantai marmer yang dingin. "Ampun, Pak Kenzo! Ampun! Saya tidak bermaksud begitu! Saya hanya... saya tidak punya apa-apa lagi!" jeritnya dengan suara melengking, bersiap menerima hantaman sepatu atau timah panas yang mungkin akan menembus kepalanya detik itu juga.
Namun, sebelum langkah Kenzo sempat mencapai tubuh Haris, sebuah gerakan lambat menghentikan segalanya.
Asher mengangkat tangan kirinya ke udara. Hanya satu gerakan kecil, tanpa suara, namun memiliki kekuatan absolut yang sanggup menghentikan badai.
Kenzo langsung mengerem langkahnya tepat satu meter di depan Haris. Tangan kanan yang sangat setia itu menoleh ke arah bosnya, napasnya masih memburu menahan geram. "Bos, pria ini sudah kehilangan akal. Dia menghina Anda dengan penawaran sampah seperti ini. Biarkan saya menyelesaikannya sekarang juga," ucap Kenzo, mencoba menjaga suaranya tetap terkendali di hadapan Asher.
Asher tidak langsung merespons Kenzo. Dia perlahan menurunkan tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit mewahnya. Tatapan matanya yang kelabu berpindah dari Kenzo, lalu turun mengunci sosok Haris yang masih gemetar di lantai. Wajah Asher tidak menunjukkan kemarahan sama sekali; wajah itu tetap datar, sedingin bongkahan es di kutub, membuat siapa pun tidak bisa menebak apa yang sedang berputar di dalam isi kepalanya.
"Tenang, Kenzo," ucap Asher pendek. Suaranya yang rendah dan tenang justru terdengar lebih mengerikan daripada bentakan Kenzo sebelumnya. "Kembalilah ke posisimu."
Kenzo mengepalkan tinjunya dengan kuat, menahan gejolak penolakan di dalam dadanya. Namun, kepatuhannya kepada Asher berada di atas segalanya. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya, Kenzo mundur beberapa langkah dan kembali berdiri tegap di samping meja kerja, meskipun matanya tetap menatap Haris dengan pandangan yang siap membunuh.
Asher kembali memfokuskan perhatiannya pada Haris. Dia mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja kayu mahogani, menciptakan ritme yang konstan dan menyiksa di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Anak gadis, katamu?" Asher bersuara, nadanya terdengar sangat santai, hampir seperti seorang pengusaha yang sedang menanyakan spesifikasi barang dagangan yang ditawarkan kepadanya. "Kau ingin menukar utang ratusan ribu dolar yang kau curi dari kas wilayahku... dengan seorang gadis?"
Haris buru-buru mendongak, melihat celah kecil untuk bertahan hidup. "I-Iya, Bos Asher! Benar! Dia... dia putri satu-satunya yang saya miliki. Hidupnya masih sangat bersih, Bos!" jawab Haris dengan lantang, meskipun suaranya terbata-bata dan napasnya tersengal karena sisa rasa takut.
Asher memicingkan matanya. "Aku tidak butuh wanita pajangan di rumahku, Haris. Katakan padaku, apa yang membuat anak gadismu bernilai setara dengan nyawamu malam ini? Bagaimana ciri-cirinya?"
Mendengar pertanyaan itu, Haris seolah mendapatkan kekuatan tambahan dari keputusasaannya. Dia langsung menjabarkan ciri-ciri putrinya dengan suara yang keras, mencoba meyakinkan sang iblis di depannya bahwa barang tebusan yang dia tawarkan tidak akan mengecewakan.
"Dia... dia berumur dua puluh satu tahun, Bos! Kulitnya seputih susu, sangat halus karena dia tidak pernah bekerja kasar," tutur Haris dengan menggebu-gebu, air mata dan keringat bercampur di wajahnya yang kuyu. "Rambutnya... rambutnya panjang, berwarna cokelat gelap alami yang sangat indah. Matanya besar dan jernih, seperti... seperti rusa yang polos, Bos Asher!"
Haris menelan ludah yang terasa kering di kerongkongannya sebelum melanjutkan dengan terbata-bata, "D-Dan yang paling penting... dia sangat penurut. Dia anak yang berbakti, Bos. Dia tidak pernah membantah perkataan saya. Dia murni, belum pernah pacaran, apalagi disentuh oleh laki-laki lain. Saya bersumpah demi sisa umur saya, dia masih suci! Anda bisa memeriksa dan memilikinya seumur hidup Anda!"
Kenzo yang mendengarkan penuturan itu dari samping mengepalkan rahangnya begitu kuat hingga persendian tangannya memutih. Dia merasa sangat muak melihat seorang ayah yang menjajakan kesucian putrinya sendiri dengan begitu gamblang di ruang eksekusi mafia demi melunasi utang judi. Jika bukan karena perintah Asher untuk diam, Kenzo sudah pasti akan memotong lidah Haris saat itu juga.
Asher mendengarkan seluruh penjelasan Haris tanpa menyela satu kata pun. Matanya yang kelabu tidak berkedip, memperhatikan setiap ekspresi ketakutan sekaligus kelicikan yang terpancar dari wajah pria tua itu. Bayangan tentang seorang gadis muda yang polos, berkulit putih, berambut cokelat gelap, dan bermata jernih melintas sejenak di benaknya.
Bagi Asher, wanita adalah makhluk yang paling pandai bermuka dua. Mereka bisa terlihat sangat suci dan rapuh di luar, namun menyimpan racun dan pengkhianatan yang mematikan di dalam. Mengingat hal itu, sebuah kilatan dingin yang kejam melintas di dasar mata kelabu Asher.
Membunuh Haris malam ini adalah hal yang terlalu mudah dan murah. Pria tua ini pantas mendapatkan hukuman yang lebih menyiksa daripada sekadar kematian instan: yaitu melihat bagaimana putri yang dibanggakannya masuk ke dalam sangkar emas seorang monster dan hidup dalam penderitaan. Lagi pula, menghancurkan sesuatu yang dianggap 'murni' selalu memberikan kepuasan tersendiri bagi jiwa Asher yang sudah lama mati dan menghitam.
Asher perlahan menarik sudut bibir kanannya, membentuk sebuah seringai tipis yang sangat mengerikan—sebuah senyuman tanpa kehangatan yang menandakan bahwa sang predator telah menemukan mainan barunya.
"Menarik," ucap Asher perlahan. Satu kata itu keluar dari bibirnya dengan nada yang teramat dingin, namun sarat akan keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Haris tertegun sejenak, menahan napasnya menunggu kelanjutan kalimat sang bos mafia.
Asher berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan. Dia menatap Haris dari ketinggian tubuhnya, memberikan tekanan visual yang membuat pria tua itu kembali menundukkan kepala.
"Kenzo," panggil Asher tanpa menoleh.
"Ya, Bos," jawab Kenzo cepat, meskipun ada nada berat dalam suaranya yang menandakan ketidaksetujuan yang mendalam atas arah pembicaraan ini.
"Batalkan perintah eksekusi untuk malam ini. Tahan pria tua ini di sel bawah tanah, berikan dia makan dan minum sewajarnya. Jangan biarkan dia mati atau melarikan diri sebelum kesepakatan ini selesai," perintah Asher dengan tegas.
Haris yang mendengar hal itu langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa. Dia kembali bersujud, menangis tersedu-sedu, namun kali ini adalah tangisan syukur karena nyawanya telah diperpanjang. "Terima kasih, Bos Asher! Terima kasih banyak! Anda sangat murah hati!"
Asher mengabaikan ucapan terima kasih yang menjijikkan itu. Dia mengalihkan pandangannya kembali pada Kenzo yang masih berdiri kaku. "Dan Kenzo... besok pagi-pagi sekali, bawa beberapa orang bersamamu. Jegal gadis itu dari rumahnya, bawa dia langsung ke kediamanku. Aku ingin melihat sendiri apakah barang tebusan yang ditawarkan pria tua ini memang sepadan dengan angka ratusan ribu dolar yang hilang."
Kenzo terdiam selama dua detik, menatap mata Asher untuk mencari tahu apakah bosnya sedang bergurau. Namun, di dalam mata kelabu itu, hanya ada kegelapan yang pekat dan kepastian yang dingin. Tidak ada ruang untuk berdebat.
Kenzo akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menelan seluruh protes yang ada di ujung lidahnya. "Dimengerti, Bos. Perintah Anda akan dilaksanakan besok pagi."
"Bagus," ucap Asher pendek. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan meja kerjanya, berjalan menuju pintu keluar pribadi di sudut ruangan tanpa melirik Haris sedikit pun. Langkah kakinya yang mantap dan berwibawa menggema, menandakan bahwa babak baru yang penuh dengan kegelapan dan penderitaan bagi sebuah jiwa yang polos akan segera dimulai esok hari.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!