NovelToon NovelToon

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Kembali ke Tanah yang Pernah Membuatku Hancur

 

Hembusan angin London membawa bau hujan dan bunga mawar, aroma yang tak pernah bisa Elizabeth lupakan sepanjang lima tahun dia pergi. Dari jendela taksi, dia memandang gedung-gedung tua yang berdiri megah, jalanan yang ramai, hingga ujung jalan yang terlihat atap Istana Buckingham yang bersinar di bawah langit biru yang berawan. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara rasa takut, rindu, dan ketidakpastian.

“Bu, kita mau ke rumah yang indah itu?” suara kecil di sampingnya membuat Elizabeth menoleh. Di sebelahnya duduk seorang gadis kecil berusia empat tahun, dengan rambut keriting keemasan dan mata cokelat yang cerah, persis seperti mata orang yang tak pernah bisa dia hapus dari ingatan. Anak itu memegang tangan ibunya erat-erat, menunjuk ke arah istana dengan jari mungilnya.

Elizabeth tersenyum tipis, mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Iya sayang, kita akan tinggal di dekat sana untuk sementara waktu. Nanti kamu bisa melihat taman yang penuh bunga mawar, dan burung-burung yang terbang bebas.”

“Wah! Seru sekali, Bu!” gadis kecil itu bertepuk tangan gembira, lalu kembali memandang keluar jendela dengan mata berbinar.

Elizabeth menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar semakin kencang. Lima tahun lalu, dia berjalan keluar dari gerbang istana itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir, membawa luka yang terasa tak akan pernah sembuh. Saat itu, dia pikir dia tak akan pernah kembali lagi ke tempat yang sama, tempat di mana dia menemukan cinta terindah sekaligus luka terparah dalam hidupnya. Tapi takdir berkata lain, dan kini dia kembali, membawa anak buah hatinya, dan rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah kota yang megah namun tenang, tak jauh dari kawasan istana. Elizabeth membayar sopir, lalu turun sambil menggendong anaknya, mengangkat tas kecilnya. Begitu masuk ke dalam rumah, dia merasa lega sekaligus gelisah. Semuanya terasa asing namun akrab, seperti dia tak pernah pergi sama sekali.

“Bu, aku mau jalan-jalan di luar!” teriak anaknya sambil berlari menuju pintu, membuat Elizabeth tersenyum tipis.

“Tunggu dulu, sayang. Ibu harus membereskan barang-barang dulu, ya. Nanti sore kita jalan-jalan ke taman, janji.”

Saat dia mulai mengeluarkan barang-barang dari tas, ponselnya berdering. Nama di layar membuat napasnya tercekat: Fransiskus. Dia berhenti bergerak selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

“Halo, Frans.” suaranya terdengar tenang, meski di dalam hatinya sedang bergemuruh.

“Elizabeth! Kamu sudah sampai di sana, kan?” suara laki-laki di seberang terdengar hangat dan bersemangat. “Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu, rumah itu sudah dibersihkan, dan semua yang kamu butuhkan sudah ada di sana. Bagaimana perjalananmu?”

“Lancar, terima kasih banyak, Frans. Kamu sungguh teman terbaik yang pernah aku miliki.” jawab Elizabeth dengan tulus. Fransiskus adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran, satu-satunya orang yang mendukungnya saat dia harus pergi meninggalkan istana, dan satu-satunya orang yang bisa dia percayai sepenuhnya.

“Jangan bicara begitu, El. Kamu tahu aku akan melakukan apa saja untukmu. Dan untuk anakmu juga.” suaranya menjadi lebih lembut. “Kapan kamu berencana untuk bertemu dengannya?”

Elizabeth terdiam, memandang keluar jendela ke arah istana yang terlihat di kejauhan. “Aku belum tahu, Frans. Lima tahun sudah berlalu. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia masih mengingatku? Atau dia sudah melupakanku dan melanjutkan hidupnya?”

“Taylor tidak pernah melupakanmu, El. Tidak pernah sedikitpun. Selama lima tahun ini, dia selalu bertanya di mana kamu, kenapa kamu pergi, dan kenapa kamu tak pernah memberi kabar. Dia berubah, El. Dia tak lagi menjadi laki-laki ceria dan penuh senyum yang kamu kenal. Dia menjadi dingin, keras, dan selalu sibuk dengan tugas kerajaan, seolah dia ingin menenggelamkan dirinya dalam tanggung jawab untuk melupakanmu.”

Kata-kata Fransiskus menusuk hati Elizabeth. Dia bisa membayangkan betapa beratnya perasaan laki-laki itu, sama beratnya dengan perasaannya selama ini. “Aku takut, Frans. Aku takut dia tak mau menerimaku kembali. Aku takut aturan kerajaan akan memisahkan kita lagi. Dan yang paling aku takutkan... aku takut dia tak mau menerima anak kita.”

“Dengarkan aku, El. Cinta yang kalian miliki takkan pernah mati, tak peduli berapa tahun berlalu, tak peduli seberapa banyak hal yang memisahkan kalian. Taylor mencintaimu, dan dia akan mencintai anak kalian juga, aku yakin akan hal itu. Kamu hanya perlu memberinya kesempatan untuk tahu kebenaran.”

Elizabeth menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa. “Baiklah. Aku akan mencoba. Tapi tolong, jangan katakan padanya bahwa aku sudah kembali. Aku ingin bertemu dengannya dengan caraku sendiri.”

“Tentu saja. Aku takkan bicara sepatah kata pun. Jika kamu butuh apa saja, atau jika ada masalah, hubungi aku kapan saja, ya. Aku selalu ada untukmu.”

“Terima kasih, Frans. Terima kasih untuk segalanya.”

Setelah telepon dimatikan, Elizabeth duduk di tepi tempat tidur, memegang dadanya yang terasa sesak. Selama lima tahun dia berusaha melupakan, berusaha melanjutkan hidup, berusaha menyembuhkan luka di hatinya. Tapi kini dia sadar, dia takkan pernah bisa benar-benar melupakan laki-laki itu. Cintanya pada Taylor tak pernah pudar, bahkan semakin kuat seiring berjalannya waktu.

“Bu...” suara kecil membuat Elizabeth menoleh. Anaknya berdiri di depan pintu, memegang boneka beruang kesayangannya, memandang ibunya dengan mata cemas. “Ibu sedih ya?”

Elizabeth tersenyum, menggendong anaknya dan memeluknya erat. “Tidak, sayang. Ibu tidak sedih. Ibu hanya... memikirkan banyak hal, itu saja.”

“Kita akan bertemu Ayah tidak, Bu?” pertanyaan itu membuat napas Elizabeth tercekat. Dia tak pernah memberi tahu anaknya banyak hal tentang ayahnya, hanya mengatakan bahwa ayahnya adalah orang yang baik, dan suatu hari nanti mereka akan bertemu.

Elizabeth mencium kening anaknya. “Suatu hari nanti, sayang. Suatu hari nanti kita akan bertemu dengannya. Ibu janji.”

Sore itu, Elizabeth membawa anaknya berjalan-jalan di taman yang tak jauh dari istana. Angin berhembus lembut, membawa aroma bunga mawar yang mekar di mana-mana. Anaknya berlari-lari di antara bunga-bunga, tertawa riang, membuat hati Elizabeth terasa hangat. Untuk sesaat, dia melupakan semua ketakutan dan kekhawatirannya, hanya menikmati momen kebahagiaan bersama anaknya.

Tapi takdir ternyata bekerja lebih cepat dari yang dia bayangkan. Saat dia duduk di bangku taman, memandang anaknya yang bermain, sebuah mobil mewah berhenti di gerbang taman. Dari dalam mobil turun seorang laki-laki yang berpakaian seragam militer kerajaan, rambutnya yang selalu teratur rapi sedikit berantakan diterpa angin, wajahnya yang gagah terlihat lebih dewasa dan lebih tajam dari yang dia ingat.

Jantung Elizabeth berhenti berdetak sejenak.

Itu dia.

Taylor.

Pangeran Taylor, pewaris takhta Kerajaan Inggris, laki-laki yang dia cintai, dan ayah dari anaknya.

Taylor berjalan masuk ke dalam taman, diikuti oleh dua orang pengawal pribadinya. Matanya yang tajam menatap sekeliling, seolah sedang mencari sesuatu atau seseorang. Saat matanya bertemu dengan mata Elizabeth, langkahnya terhenti. Wajahnya yang tenang dan dingin seketika berubah, matanya melebar tak percaya, napasnya tercekat.

Dunia seolah berhenti berputar di sekitar mereka. Semua suara menghilang, hanya menyisakan detak jantung mereka yang berdebar kencang, terdengar jelas di telinga masing-masing.

Elizabeth merasa kakinya lemas, dia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku di tempat. Dia memandang laki-laki di hadapannya, melihat perubahan yang terjadi padanya, melihat luka yang masih tersisa di matanya, luka yang dia sendiri yang membuatnya.

Taylor perlahan berjalan mendekatinya, langkahnya berat tapi pasti, matanya tak pernah lepas dari wajah wanita yang tak pernah bisa dia lupakan selama lima tahun ini. Semua ingatan kembali mengalir deras ke dalam pikirannya—pertemuan pertama mereka, saat-saat indah yang mereka lalui bersama, hingga hari di mana dia pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkannya dengan hati yang hancur berkeping-keping.

“Elizabeth...” suaranya terdengar rendah dan bergetar, seolah dia tak percaya wanita di hadapannya adalah orang yang dia cari selama ini. “Apakah itu benar kamu?”

Elizabeth menelan ludah, berusaha mengendalikan suaranya yang bergetar. “Halo, Taylor. Lama tidak bertemu.”

Mereka berdiri saling memandang, tak ada yang bicara selama beberapa detik, seolah kata-kata tak cukup untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Sampai akhirnya suara tawa kecil terdengar, dan anak Elizabeth berlari mendekatinya, memeluk kaki ibunya, lalu menatap Taylor dengan mata penasaran.

“Bu, siapa orang ini?” tanya anaknya polos, membuat suasana menjadi hening seketika.

Matanya beralih dari wajah Elizabeth ke wajah gadis kecil di kakinya, dan dunia seolah runtuh di hadapan Taylor. Dia melihat wajah gadis kecil itu, melihat matanya, melihat hidungnya, melihat senyumnya... semua fitur yang ada di wajahnya sendiri, dicampur dengan kelembutan wajah Elizabeth.

Jantungnya berdebar kencang, tangannya gemetar, napasnya tercekat hingga sulit untuk bernapas. Dia menatap Elizabeth lagi, matanya penuh dengan pertanyaan, kebingungan, dan harapan yang tak berani dia ucapkan.

“Siapa dia, Elizabeth?” suaranya terdengar parau, matanya tak bisa lepas dari wajah gadis kecil itu. “Jawab aku. Siapa anak ini?”

Elizabeth memeluk anaknya lebih erat, menatap mata Taylor dengan berani, untuk pertama kalinya setelah lima tahun terpisah, dia akhirnya berani mengucapkan kata-kata yang dia simpan selama ini.

“Ini anak kita, Taylor. Namanya Hunter. Dan dia berusia empat tahun.”

Mata Taylor melebar, kakinya terasa lemas hingga dia hampir jatuh. Selama lima tahun dia bertanya-tanya kenapa Elizabeth pergi, kenapa dia tak pernah memberi kabar, kenapa dia meninggalkannya tanpa alasan. Selama lima tahun dia hidup dalam rasa sakit dan penyesalan, tak pernah menyangka bahwa di balik kepergiannya ada sebuah rahasia yang bisa mengubah seluruh hidupnya.

Anak kami.

Kata-kata itu berputar di dalam pikirannya, mengisi hatinya yang selama ini kosong dengan perasaan yang tak bisa dia gambarkan. Dia menatap gadis kecil di hadapannya, anak yang tak pernah dia ketahui keberadaannya, anak yang dia sayangi bahkan sebelum dia sempat bertemu dengannya.

Hunter menatap laki-laki di hadapannya, lalu menoleh ke arah ibunya, bertanya dengan suara polos, “Bu, apakah dia Ayah?”

Elizabeth menatap Taylor, lalu mengangguk perlahan. “Iya sayang. Dia Ayahmu.”

Air mata mulai menetes di pipi Taylor, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, air mata mengalir bebas dari matanya. Dia berlutut di hadapan anaknya, memandang wajah mungil itu dengan mata yang berbinar, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan kebahagiaan yang begitu besar, lebih besar dari segala kehormatan dan kekuasaan yang dia miliki sebagai pangeran kerajaan.

“Hai, Hunter,” suaranya terdengar lembut dan penuh cinta, dia mengulurkan tangannya perlahan, takut anak itu akan menjauh darinya. “Aku Ayahmu. Maafkan Ayah yang baru bisa bertemu denganmu sekarang.”

Hunter menatap tangannya, lalu menatap wajahnya, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar, senyum yang persis seperti senyum Elizabeth, dan memeluk leher ayahnya erat-erat.

“Ayah!” teriak anak itu gembira, membuat hati Taylor terasa meleleh oleh kebahagiaan.

Di saat itulah, di tengah taman yang penuh bunga mawar, di bawah langit London yang cerah, dua hati yang pernah terpisah akhirnya bertemu kembali, dan sebuah keluarga yang terpisah akhirnya bersatu kembali. Namun mereka berdua sadar, pertemuan ini hanyalah awal dari perjalanan yang panjang dan berat. Di balik kebahagiaan ini, masih ada aturan kerajaan yang keras, intrik istana yang berbahaya, dan banyak orang yang tak akan membiarkan cinta mereka dan keluarga kecil mereka hidup dalam damai.

Karena cinta mereka bukan sekadar cinta biasa. Cinta mereka adalah cinta yang harus melawan Mahkota, cinta yang harus melawan seluruh dunia, untuk bisa bersatu selamanya.

Elizabeth menatap dua orang yang dia cintai di dunia ini, dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, dia merasa bahwa dia akhirnya pulang.

 

Bayang di Balik Senyuman

Angin sore bertiup semakin kencang, menggoyangkan kelopak bunga mawar yang mekar di sekeliling mereka, seolah ikut merasakan gejolak yang meledak di dalam dada setiap orang yang ada di situ. Taylor masih berlutut di atas rumput, memeluk tubuh mungil Hunter erat-erat seolah takut anaknya akan lenyap begitu saja jika dia melepaskannya sedikit pun. Air mata yang selama bertahun-tahun dia tahan, akhirnya jatuh bebas membasahi pipinya, menetes ke bahu anak laki-lakinya.

Selama ini dia hidup dalam kekosongan. Sejak Elizabeth pergi tanpa pesan, tanpa kabar, dia berusaha menenggelamkan dirinya dalam tugas kerajaan, berusaha menjadi sosok Pangeran yang tangguh dan sempurna seperti yang diharapkan seluruh rakyat dan anggota istana. Tapi di balik seragam kebesarannya, di balik senyum yang selalu dia pamerkan di depan umum, hatinya selalu terasa hampa, seolah separuh jiwanya ikut pergi bersama wanita yang dia cintai. Dan kini, di hadapannya berdiri bukan hanya Elizabeth, tapi juga buah hati mereka—bukti dari cinta yang pernah mereka miliki, yang kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan dan ceria.

“Ayah menangis ya?” suara polos Hunter terdengar lembut di telinga Taylor. Anak itu mengangkat tangannya yang mungil, mengusap pipi ayahnya yang basah dengan jari-jarinya yang halus. “Jangan menangis, Ayah. Hunter senang akhirnya bertemu Ayah.”

Kata-kata sederhana itu membuat hati Taylor terasa meleleh. Dia mengangkat wajahnya, menatap mata anaknya yang cokelat terang, persis seperti mata Elizabeth, lalu mencium kening anaknya berulang kali dengan penuh kasih sayang. “Ayah tidak menangis karena sedih, Nak. Ayah menangis karena bahagia. Sangat bahagia, sampai Ayah tak bisa menahan air mata ini.”

Elizabeth berdiri di tempatnya, memandang kedua orang yang dia cintai dengan air mata yang menetes di pipinya. Selama empat tahun dia membesarkan Hunter sendirian, ada kalanya dia merasa lelah, ada kalanya dia merasa takut tak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, dan ada kalanya dia rindu pada laki-laki yang selalu ada di dalam hatinya. Kini melihat mereka berdua bersama, dia merasa bahwa semua perjuangan dan rasa sakit yang dia lalui selama ini terbayar lunas.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Dari arah gerbang taman, terdengar langkah kaki yang teratur dan cepat, membuat ketiganya menoleh ke arah sumber suara. Terdapat tiga orang laki-laki berjalan mendekat, dengan pakaian rapi dan sikap yang penuh wibawa. Di depan berjalan Xaverius, penasihat utama keluarga kerajaan yang selama ini selalu berada di sisi Raja dan Ratu. Di belakangnya ada Savero dan Briant, dua orang pengawal pribadi yang selalu mengikuti ke mana pun Taylor pergi.

Wajah Xaverius yang biasanya selalu tenang dan ramah, kini terlihat kaku dan penuh kekhawatiran. Dia berhenti beberapa langkah dari mereka, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, sebelum matanya beralih menatap Elizabeth dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Yang Mulia,” ucap Xaverius dengan suara rendah, matanya melirik sekeliling untuk memastikan tak ada orang lain yang memperhatikan mereka. “Kami sudah mencarinya ke seluruh penjuru kawasan istana. Raja dan Ratu menunggu Anda untuk menghadiri jamuan makan malam bersama para duta besar dari luar negeri. Kita harus segera pergi, Yang Mulia.”

Taylor perlahan berdiri, masih memegang tangan kecil Hunter erat-erat, matanya menatap tajam ke arah penasihat itu. “Aku tak akan pergi ke mana pun sekarang, Xaverius. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku selesaikan di sini.”

Wajah Xaverius berubah sedikit pucat. Dia melirik Elizabeth sekali lagi, lalu menatap gadis kecil yang berdiri di samping Pangeran, sebelum kembali berbicara dengan nada yang lebih rendah dan tegas. “Yang Mulia, Anda tahu betul aturan yang berlaku di istana. Kehadiran wanita ini, dan anak ini... hal ini bisa menimbulkan masalah yang sangat besar. Raja dan Ratu takkan senang jika mengetahui hal ini, apalagi saat kita sedang dalam masa kunjungan kenegaraan yang sangat penting. Kita harus menyelesaikan ini dengan cara yang benar dan teratur, tanpa menarik perhatian orang banyak.”

Kata-kata penasihat itu seperti air dingin yang disiramkan ke atas kepala Elizabeth. Dia sadar, sejak awal dia tahu bahwa kembali ke sini berarti dia harus menghadapi aturan yang keras, aturan yang pernah memisahkan mereka berdua lima tahun yang lalu. Di mata keluarga kerajaan, status Elizabeth bukanlah orang yang pantas berada di sisi pewaris takhta. Dia hanyalah anak dari keluarga bangsawan kelas bawah, tanpa pengaruh dan kekuasaan, yang dianggap tak pantas menjadi ibu dari pewaris darah kerajaan.

“Xaverius benar, Taylor,” suara Elizabeth terdengar lembut namun tegas, membuat semua mata beralih menatapnya. “Kita tak bisa membiarkan hal ini tersebar begitu saja. Kita tak bisa membuat masalah di saat situasi sedang seperti ini. Aku dan Hunter akan pulang dulu. Kita bisa bicara lagi nanti, saat waktunya sudah tepat.”

Taylor menoleh menatap wanita yang dia cintai, matanya memancarkan rasa takut kehilangan yang sama seperti lima tahun yang lalu. “Aku takkan membiarkanmu pergi lagi, El. Tidak kali ini. Aku takkan membiarkan aturan bodoh atau siapa pun memisahkan kita lagi. Kamu dan Hunter adalah keluargaku, dan aku takkan membiarkan siapa pun menyakiti kalian.”

“Tapi kita harus berhati-hati, Taylor,” jawab Elizabeth, tangannya terulur untuk menyentuh lengan laki-laki itu dengan lembut. “Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, atau pada Hunter. Aku sudah menunggu lima tahun, aku bisa menunggu sedikit lebih lama lagi. Yang penting kita sudah bertemu, dan aku tahu kau akhirnya tahu kebenaran.”

Hunter memandang wajah ayah dan ibunya bergantian, lalu menarik ujung seragam ayahnya dengan tangannya yang kecil. “Ayah, Ibu benar. Kita bisa main lagi besok, kan? Hunter mau main bola sama Ayah.”

Mendengar suara anaknya, napas Taylor perlahan teratur kembali. Dia menatap mata Elizabeth dalam-dalam, seolah ingin mengingat setiap detil wajah wanita itu, sebelum akhirnya dia mengangguk perlahan. “Baiklah. Tapi berjanjilah padaku, kau takkan pergi lagi. Kau takkan menyembunyikan dirimu dariku lagi. Aku akan datang menemuimu besok pagi, tak peduli apa pun yang terjadi. Katakan padaku di mana tempat tinggalmu, aku akan datang sendiri.”

Elizabeth memberinya alamat rumah yang disiapkan Fransiskus, lalu mereka berpisah di gerbang taman. Taylor memandang punggung wanita dan anaknya yang berjalan menjauh, sampai mereka lenyap di ujung jalan, sebelum akhirnya dia berbalik dan masuk ke dalam mobil bersama rombongannya. Sepanjang perjalanan kembali ke istana, dia duduk diam di kursi belakang, tangannya tergenggam erat, matanya menatap keluar jendela tanpa melihat apa-apa. Di dalam pikirannya, ribuan rencana dan pertanyaan berputar kencang. Dia harus mencari cara untuk membuat keluarganya diakui, dia harus melawan aturan yang sudah ada selama ratusan tahun, dan dia harus menghadapi orang tuanya yang takkan mudah menerima kenyataan ini.

Sementara itu, di dalam mobil, Xaverius duduk di kursi depan, matanya menatap ke arah jalan, tapi pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja dia saksikan. Dia sudah mendengar desas-desus selama lima tahun ini, dia tahu bahwa Elizabeth adalah wanita yang dicintai Pangeran, dan dia tahu bahwa kepergian wanita itu adalah penyebab perubahan besar pada sifat dan sikap Taylor. Tapi dia tak pernah menyangka bahwa di balik kepergian itu, tersembunyi sebuah rahasia yang bisa mengguncang seluruh fondasi keluarga kerajaan.

Sesampainya di dalam Istana Buckingham, Taylor langsung berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya, mengabaikan semua orang yang menyapanya di sepanjang lorong. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, dia menyandarkan punggungnya di balik pintu, lalu menghembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Tangannya terangkat menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Selama ini dia berpikir bahwa dia harus berjuang sendirian, tapi kini dia menyadari bahwa dia tak lagi sendirian. Dia memiliki keluarga, dan dia akan melakukan apa saja untuk melindungi mereka.

Namun ketenangan di dalam hatinya tak berlangsung lama. Terdengar ketukan di pintu, dan suara David, salah satu sahabat dan penasihat kepercayaannya, terdengar dari balik pintu. “Yang Mulia, Raja dan Ratu memanggil Anda ke ruang kerja mereka. Mereka ingin membahas persiapan jamuan malam ini, dan juga rencana perjalanan Anda ke negara tetangga bulan depan.”

Jantung Taylor terasa berdebar kencang lagi. Dia tahu bahwa pertemuan dengan orang tuanya kali ini takkan berjalan mulus. Jika Xaverius saja sudah bereaksi sekeras itu, dia bisa membayangkan betapa marah dan kecewanya Raja dan Ratu saat mengetahui kebenaran. Dia menghembuskan napas sekali lagi, lalu berjalan membuka pintu. “Baiklah. Aku akan datang sekarang juga.”

Saat dia berjalan menuju lorong sayap barat istana, tempat kamar dan ruang kerja Raja dan Ratu berada, dia melihat Guetta dan Berlin berdiri di dekat jendela, berbisik-bisik satu sama lain, dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Keduanya adalah kerabat jauh dari keluarga kerajaan, yang selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh lebih besar di dalam istana. Selama ini mereka selalu berusaha mendekatinya, tapi Taylor selalu tahu bahwa niat mereka tak pernah tulus.

Saat matanya bertemu dengan mata Guetta, wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang terasa dingin dan penuh makna tersembunyi, sebelum akhirnya dia membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. “Selamat sore, Yang Mulia. Wajah Anda terlihat sangat berseri hari ini. Apakah ada kabar gembira yang datang menghampiri Anda?”

Suara wanita itu terdengar manis, tapi bagi Taylor itu terdengar seperti ancaman terselubung. Dia hanya mengangguk singkat, lalu berjalan melewati mereka tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia tahu bahwa kabar tentang kehadiran Elizabeth dan anaknya takkan bisa disembunyikan selamanya. Di dalam istana ini, dinding memiliki telinga, dan setiap langkah yang dia ambil pasti akan diawasi dan dibicarakan. Jika Guetta dan Berlin sudah mulai mencium sesuatu, maka tak lama lagi seluruh penghuni istana akan tahu, dan hal itu hanya akan membuat perjuangannya menjadi semakin sulit.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja Raja, dia berhenti sejenak untuk mengatur napas dan menenangkan pikirannya, sebelum akhirnya dia mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Di dalam ruangan yang luas dan mewah itu, Raja duduk di kursi besar di belakang meja kerjanya, sementara Ratu berdiri di dekat jendela, memandang keluar ke arah taman istana dengan wajah yang tenang namun penuh perasaan.

“Kau terlambat, Taylor,” suara Raja terdengar berat dan tegas, membuat suasana di dalam ruangan menjadi semakin dingin. “Apa yang membuatmu begitu sibuk sampai melupakan tugas dan kewajibanmu sebagai Pangeran Kerajaan?”

Taylor berdiri tegak di tengah ruangan, menatap mata ayahnya dengan kepala terangkat tinggi. “Maafkan aku, Ayah. Aku bertemu seseorang yang sangat penting bagiku, dan hal itu membuatku terlewat waktu.”

Raja menatap anaknya dalam-dalam, matanya tajam seolah bisa membaca apa yang tersembunyi di dalam pikiran anaknya. “Aku dengar dari Xaverius bahwa kau bertemu dengan wanita yang membuatmu lupa akan segalanya lima tahun yang lalu. Wanita yang membuatmu berubah menjadi orang yang dingin dan keras selama ini. Wanita yang membuatmu melupakan posisimu dan kewajibanmu terhadap negara dan rakyatmu.”

Napas Taylor terasa tercekat. Dia tahu bahwa Xaverius pasti sudah melaporkan segalanya pada Raja. Dia menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun tegas. “Benar, Ayah. Aku bertemu Elizabeth lagi. Dan kali ini aku takkan membiarkannya pergi lagi. Dia adalah wanita yang aku cintai, dan dia adalah ibu dari anakku.”

Suasana di dalam ruangan seolah berhenti bergerak. Ratu yang berdiri di dekat jendela berbalik cepat, matanya melebar tak percaya, sementara wajah Raja berubah merah padam karena marah.

“Anakmu?” suara Raja meninggi, tangannya mengepal di atas meja. “Kau benar-benar gila, Taylor! Kau tahu betul aturan yang berlaku! Wanita itu tak pantas berada di sisimu, apalagi menjadi ibu dari pewaris takhta! Dan kau berani menyembunyikan hal sebesar ini dari kami selama bertahun-tahun?!”

“Aku tak menyembunyikannya, Ayah! Aku baru tahu kebenarannya sore ini juga!” jawab Taylor, suaranya ikut meninggi, tak lagi bisa menahan amarah dan perasaannya. “Dan tak peduli apa kata aturan, tak peduli apa kata siapa pun, Elizabeth dan Hunter adalah keluargaku. Aku takkan membiarkan siapa pun memisahkan kami lagi, bahkan jika itu adalah Ayah dan Ibu sendiri!”

Di saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu ruang kerja terbuka perlahan, dan Valeria berjalan masuk dengan langkah yang lembut dan anggun. Wanita muda itu adalah putri dari keluarga bangsawan tertinggi, yang selama ini dianggap sebagai calon istri yang sempurna untuk Taylor. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Ratu, menatap Taylor dengan mata yang terlihat sedih dan terluka, seolah hatinya hancur mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Pangeran.

“Yang Mulia,” suaranya terdengar lembut dan bergetar, membuat semua mata beralih menatapnya. “Aku tahu perasaanmu, dan aku mengerti betapa besar cintamu pada wanita itu. Tapi tolong ingat, posisimu bukan hanya milikmu sendiri. Kau adalah pewaris takhta, dan kau memiliki tanggung jawab yang besar pada negara dan seluruh rakyat Inggris. Apakah kau rela mempertaruhkan masa depan kerajaan hanya demi perasaan pribadi?”

Taylor menatap wanita di hadapannya, lalu menatap orang tuanya, dan untuk pertama kalinya dia sadar seberapa berat perjuangan yang harus dia lalui. Di hadapannya berdiri aturan, tradisi, tekanan dari keluarga dan kerajaan, serta banyak orang yang ingin melihatnya gagal. Namun di dalam hatinya, ada dua orang yang dia cintai lebih dari nyawanya sendiri, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan apa saja, tak peduli seberapa berat rintangannya, untuk bisa hidup bersama mereka selamanya.

Karena baginya, takhta dan kekuasaan tak ada artinya jika dia harus hidup tanpa orang yang dia cintai.

Rahasia yang Terbuka

Udara di dalam ruang kerja Raja terasa semakin menyesakkan, seolah dinding-dinding batu tebal di sekelilingnya perlahan menyempit, menekan setiap orang yang ada di dalamnya. Suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi dingin, penuh dengan amarah dan kekecewaan yang meledak di setiap sudut ruangan. Raja duduk tegak di kursinya, wajahnya merah padam, matanya menatap tajam ke arah anak laki-lakinya seolah ingin membaca setiap pikiran yang tersembunyi di dalam benak Pangeran. Ratu berdiri diam di dekat jendela, tangannya menggenggam ujung gaunnya erat-erat, wajahnya pucat pasi, tak mampu berkata-kata mendengar kenyataan yang baru saja terungkap.

Valeria berdiri di samping Ratu, matanya yang indah menatap Taylor dengan pandangan yang terlihat sedih dan terluka, namun di balik tatapan itu tersembunyi kilatan kecemburuan yang sulit disembunyikan. Selama bertahun-tahun dia berharap bisa menjadi pendamping hidup Pangeran, berharap bisa menjadi Ratu suatu hari nanti. Dia selalu menganggap dirinya adalah orang yang paling pantas berada di sisi pewaris takhta, dengan latar belakang keluarga yang mulia, pendidikan yang sempurna, dan sikap yang selalu sesuai dengan aturan kerajaan. Dan kini, semua harapan itu seolah runtuh dalam sekejap, hanya karena kehadiran wanita yang dianggap tak pantas itu.

“Jadi begini cara kau membalas semua pengorbanan kami, Taylor?” suara Raja terdengar berat dan bergetar karena amarah, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Kami membesarkanmu, mendidikmu, menyiapkanmu untuk menjadi pemimpin yang hebat bagi negeri ini, dan kau malah membawa masalah yang bisa menghancurkan nama baik keluarga kerajaan? Kau pikir ini hanya soal perasaan? Kau pikir perasaanmu lebih penting daripada keselamatan dan kestabilan seluruh negeri?”

“Aku tidak pernah melupakan tanggung jawabku, Ayah!” jawab Taylor dengan suara yang keras dan tegas, matanya tak berkedip menatap mata ayahnya. “Aku tahu siapa diriku dan apa kewajibanku. Tapi aku juga manusia, Ayah. Aku punya hati, aku punya perasaan, dan aku punya orang-orang yang aku cintai lebih dari nyawaku sendiri. Lima tahun yang lalu aku membiarkan aturan memisahkan kami, dan aku membayar harganya dengan hidup dalam kekosongan dan penderitaan selama bertahun-tahun. Kali ini aku takkan membiarkan hal yang sama terulang lagi. Elizabeth dan Hunter adalah keluargaku, dan mereka akan menjadi bagian dari hidupku, entah Ayah suka atau tidak.”

“Kau gila! Kau benar-benar gila!” Raja menepuk meja kerjanya dengan keras, membuat gelas kristal di atas meja berdering keras. “Wanita itu tidak memiliki kedudukan, tidak memiliki kekuasaan, dan tidak memiliki apa pun yang bisa membuatnya pantas menjadi istri seorang Pangeran! Kalau kau bersikeras mempertahankan mereka, kau akan menghadapi konsekuensinya. Kami bisa mengeluarkan perintah untuk membuang wanita itu dan anaknya keluar dari negeri ini, atau membuat mereka menghilang selamanya dari hidupmu. Jangan pikir kami takkan melakukannya demi kebaikan kerajaan!”

Kata-kata Raja menusuk langsung ke dalam hati Taylor, membuat darahnya mendidih karena marah dan takut. Dia tahu ayahnya bukan orang yang sembarangan mengucapkan ancaman, dan dia tahu kekuasaan yang dimiliki ayahnya bisa membuat apa saja terjadi. Tapi di saat yang sama, ancaman itu hanya mempertegas tekadnya. Dia takkan membiarkan siapa pun menyakiti orang-orang yang dia cintai, bahkan jika itu adalah orang tuanya sendiri.

“Kalau Ayah berani menyentuh rambut satu pun dari kepala mereka, aku takkan tinggal diam,” jawab Taylor dengan suara yang rendah namun penuh ancaman, matanya menatap tajam ke arah ayahnya. “Aku rela melepaskan hakku atas takhta, aku rela melepaskan segala gelar dan kekuasaanku, asalkan aku bisa hidup bersama mereka dengan damai. Takhta dan mahkota takkan ada artinya bagiku jika aku harus hidup tanpa mereka. Jadi silakan, lakukan apa yang Ayah anggap perlu. Tapi ingatlah, Ayah akan kehilangan anakmu selamanya.”

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar di dalam ruangan. Wajah Raja berubah pucat, matanya terbelalak menatap anaknya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Selama ini dia selalu yakin bahwa anaknya akan melakukan apa saja demi kerajaan, bahwa dia akan mematuhi setiap aturan dan perintah yang diberikan. Dia tak pernah menyangka bahwa cinta dan ikatan keluarga bisa membuat anaknya rela melepaskan segala sesuatu yang selama ini dianggap paling berharga.

Ratu yang sejak tadi diam akhirnya berbicara, suaranya bergetar dan penuh perasaan. “Cukup! Hentikan pertengkaran ini! Kalian berdua adalah orang yang aku cintai, dan aku takkan membiarkan kalian saling menyakiti seperti ini.” Dia berjalan mendekati anaknya, menatap wajah Taylor dengan mata yang berkaca-kaca. “Ibu mengerti perasaanmu, Nak. Ibu tahu betapa besar cintamu pada wanita itu, dan Ibu mengerti betapa berartinya anakmu bagimu. Tapi cobalah mengerti posisi Ayahmu juga. Dia memikirkan kebaikan seluruh negeri, dia memikirkan masa depan kerajaan yang sudah berdiri selama ratusan tahun. Kita tak bisa bertindak sembarangan, karena setiap langkah yang kita ambil akan berdampak pada jutaan orang.”

Taylor menatap mata ibunya, dan amarah di dalam hatinya perlahan mereda, digantikan oleh rasa lelah dan bingung. Dia tahu ibunya benar, dia tahu bahwa masalah ini tak bisa diselesaikan hanya dengan kemauan keras semata. Tapi dia juga tahu bahwa dia takkan bisa hidup bahagia jika dia harus memilih antara keluarga dan tanggung jawabnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan, Ibu?” suaranya terdengar lemah, untuk pertama kalinya dia terlihat seperti anak kecil yang sedang memohon pertolongan pada orang tuanya. “Aku tak bisa hidup tanpa mereka, dan aku juga tak bisa meninggalkan tanggung jawabku. Apakah tak ada jalan tengah yang bisa kita temukan?”

Ratu menghela napas panjang, lalu menoleh menatap suaminya, yang kini duduk diam di kursinya, wajahnya masih terlihat marah namun matanya tak lagi setajam sebelumnya. “Kita tak bisa mengambil keputusan terburu-buru. Kita butuh waktu untuk memikirkan semuanya dengan baik. Tapi satu hal yang pasti, kita takkan menyakiti wanita itu dan anakmu. Mereka adalah bagian dari keluargamu, dan entah kita suka atau tidak, mereka juga adalah bagian dari keluarga kerajaan.”

Mendengar kata-kata itu, Taylor merasa beban yang berat terangkat dari pundaknya. Dia tahu perjuangannya belum berakhir, dia tahu bahwa masih banyak hal yang harus dia hadapi, tapi setidaknya dia merasa sedikit lega karena orang tuanya takkan berbuat jahat pada orang yang dia cintai.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari sudut ruangan, Valeria yang sejak tadi diam akhirnya berbicara, suaranya terdengar lembut namun penuh makna tersembunyi. “Yang Mulia, aku mengerti betapa besar perasaanmu, dan aku ikut senang karena akhirnya kau bisa bertemu dengan orang yang kau cintai. Tapi tolong ingat, dunia luar takkan melihat hal ini dengan cara yang sama. Kalau berita ini menyebar ke seluruh negeri, orang-orang akan bicara banyak hal. Mereka akan mempertanyakan kemampuanmu memimpin, mereka akan mempertanyakan keputusanmu, dan hal ini bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi musuh-musuh kerajaan yang akan memanfaatkan situasi ini untuk menjatuhkanmu.”

Kata-kata Valeria membuat hati Taylor kembali terasa berat. Dia sadar bahwa wanita itu benar, dan dia sadar bahwa perjuangannya tak hanya berlangsung di dalam istana, tapi juga di hadapan seluruh rakyat dan dunia luar. Tapi sebelum dia sempat menjawab, pintu ruang kerja terbuka lagi, dan David berjalan masuk dengan wajah yang terlihat gelisah.

“Maafkan aku mengganggu, Yang Mulia, Baginda, Yang Mulia Ratu,” ucap David dengan suara rendah, matanya melirik ke arah Taylor dengan pandangan yang penuh kekhawatiran. “Ada hal yang harus aku sampaikan segera. Guetta dan Berlin sudah menyebarkan kabar tentang pertemuan Yang Mulia dengan Elizabeth dan anaknya. Kabar ini sudah sampai ke telinga banyak orang di dalam istana, dan bahkan sudah mulai menyebar ke luar istana melalui orang-orang yang bekerja di sini.”

Suasana di dalam ruangan seolah menjadi semakin dingin. Wajah Raja kembali berubah merah padam, sementara Ratu menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Taylor mengepalkan tangannya erat-erat, amarahnya kembali meledak di dalam dada. Dia tahu bahwa Guetta dan Berlin selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkannya, dan kini mereka menggunakan rahasia terbesarnya sebagai senjata untuk menghancurkannya.

“Dasar orang-orang berhati busuk!” geram Taylor, matanya menyala karena marah. “Mereka takkan berhenti sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka ingin membuat keributan, mereka ingin membuatku terlihat buruk di mata semua orang, hanya agar mereka bisa mendapatkan kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar.”

“Kita tak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut,” ucap Raja dengan suara yang tegas, amarahnya kini berubah menjadi tekad yang kuat. “Kalau kabar ini terus menyebar, kita takkan bisa mengendalikannya lagi. Kita harus bertindak cepat, sebelum situasi menjadi semakin buruk. Tapi kita juga takkan membiarkan orang-orang seperti Guetta dan Berlin mengendalikan keadaan. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama, dan kita akan memastikan bahwa nama baik keluarga kerajaan tetap terjaga.”

Di saat semua orang sibuk membahas rencana dan langkah yang harus diambil, pikiran Taylor melayang kembali ke arah Elizabeth dan Hunter. Dia tahu bahwa sekarang mereka sedang dalam bahaya. Kalau kabar ini terus menyebar, tak lama lagi orang-orang akan datang mencari mereka, dan mereka takkan lagi aman di tempat tinggalmu. Dia harus segera menemui mereka, dia harus membawa mereka ke tempat yang aman, sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

“Aku harus pergi sekarang,” ucap Taylor tiba-tiba, membuat semua mata menatapnya. “Elizabeth dan Hunter sedang dalam bahaya. Kalau kabar ini sudah menyebar, orang-orang akan mulai mencari mereka, dan mereka takkan aman di tempat mereka tinggal sekarang. Aku harus menemui mereka dan membawa mereka ke tempat yang aman.”

“Tapi kau tak bisa pergi begitu saja, Taylor,” ucap Ratu dengan nada cemas. “Orang-orang sudah mulai membicarakanmu. Kalau kau pergi menemui mereka sekarang, semua orang akan yakin bahwa kabar itu benar, dan hal itu hanya akan membuat situasi menjadi semakin buruk.”

“Aku tak peduli apa kata orang, Ibu. Keselamatan mereka adalah hal yang paling penting bagiku, lebih penting daripada apa pun di dunia ini. Aku takkan membiarkan siapa pun menyakiti mereka, bahkan jika aku harus menghadapi seluruh dunia sekalipun.”

Tanpa menunggu jawaban, Taylor berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah cepat. Dia takkan membiarkan siapa pun menghalanginya, dia takkan membiarkan orang yang dia cintai berada dalam bahaya sendirian. Di dalam hatinya, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melindungi mereka dengan seluruh jiwa dan raganya, tak peduli seberapa berat rintangan yang harus dia hadapi.

Saat dia berjalan menyusuri lorong istana, dia melihat banyak orang yang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada yang penuh dengan rasa ingin tahu, ada yang penuh dengan rasa kasihan, dan ada yang penuh dengan kebencian dan penghakiman. Dia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya takkan pernah sama lagi. Rahasia yang selama ini dia simpan akhirnya terbuka, dan kini dia harus berjuang dengan segala cara untuk membela cinta dan keluarganya, melawan aturan, melawan tradisi, dan melawan semua orang yang ingin memisahkan mereka.

Karena dia sadar, perjuangannya baru saja dimulai.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!