NovelToon NovelToon

Istriku Memiliki Dua Wajah

perkenalan

SINOPIS

Arka Pradana, seorang desainer grafis pendiam dan setia, mengira ia telah menemukan kebahagiaan sempurna saat mempersunting Elena Wijaya—wanita cantik, elegan, dan penuh kelembutan yang berasal dari keluarga terpandang Surabaya. Pernikahan mereka di Jakarta tampak seperti kisah dongeng: mewah, harmonis, dan irama bagi banyak orang. Namun, ketenangan itu perlahan retak saat Arka mulai menyadari perubahan-perubahan kecil namun mencurigakan pada istrinya.

Elena yang biasanya hangat, mulai sering diam, mematikan ponselnya di jam-jam ganjil, dan pulang larut malam dengan alasan yang selalu berubah-ubah. Rasa curiga Arka memuncak saat ia secara tidak sengaja menemukan sebuah ponsel tua tersembunyi di dasar koper Elena. Di dalamnya, bukan hanya pesan-pesan yang menandakan perselingkuhan, tetapi jejak kehidupan lain yang sama sekali tidak ia kenal. Elena berkomunikasi intens dengan seorang pria bernama Adrian Mahesa—sosok misterius dari Bandung yang seolah tahu segala hal tentang masa lalu istrinya, hal yang bahkan Arka sendiri tidak ketahui.

Semakin Arka menyelidiki, semakin ia terperangkap dalam labirin kebohongan. Ia menemukan rekaman CCTV yang menampilkan Elena berada di dua tempat berbeda di waktu yang sama. Ia bertemu saksi mata yang mengaku Elena pernah hidup dengan nama lain: Claire. Ia juga menyadari bahwa orang-orang terdekatnya—mulai dari sahabatnya sendiri, Mira, yang diam-diam mencintainya, hingga teman masa kecilnya, Kelvin—semua seolah terlibat dalam jaringan rahasia ini.

Bantuan datang dari Daniel, detektif berkarakter keras kepala, dan Naomi, wanita misterius dari Ambon yang mengaku pernah mengenal Elena di masa kelam. Potongan puzzle mulai terbentuk, namun bukan menyelesaikan masalah, malah membuka luka yang lebih dalam. Arka menyadari bahwa ini bukan sekadar kisah perselingkuhan biasa. Di balik senyum manis Elena, tersembunyi trauma mendalam, manipulasi psikologis tingkat tinggi, dan sebuah identitas yang dibangun di atas reruntuhan masa lalu.

Siapa sebenarnya Elena Wijaya? Mengapa semua orang yang pernah dekat dengannya tampak menyimpan rasa takut yang sama? Dan yang paling mengerikan: apakah wanita yang tidur di sampingnya setiap malam adalah orang yang sama dengan wanita yang ia nikahi?

Di antara bayang-bayang dua wajah istrinya, Arka harus memilih antara cinta yang ia yakini atau kebenaran yang mungkin menghancurkan nyawanya sendiri. Karena pada akhirnya, dalam permainan psikologis ini, tidak ada yang benar-benar menjadi korban, dan tidak ada yang benar-benar tidak bersalah.

# DAFTAR KARAKTER UTAMA

## 1. Arka Pradana

- Suku Jawa

- Asal Yogyakarta

- Umur 29

- Pekerjaan UI/UX Designer freelance

- Pendiam, setia, mudah percaya

- Trauma karena ayahnya pernah selingkuh

- Perlahan berubah obsesif dan paranoid

Ciri bicara:

- “nggih”

- “ora”

- “piye”

Kalimat khas:

“Aku cuma ingin tahu mana yang sebenarnya.”

---

## 2. Elena Wijaya

- Tionghoa Indonesia

- Asal Surabaya

- Umur 27

- Interior designer

- Elegan, lembut, manipulatif

- Diduga memiliki identitas lain

- Masa lalunya misterius

Ciri bicara:

- logat Surabaya halus

- “yaelah”

- “cih”

Kalimat khas:

“Kalau semua orang punya rahasia, kenapa cuma aku yang disalahkan?”

---

## 3. Adrian Mahesa

- Sunda

- Asal Bandung

- Umur 31

- Misterius dan dingin

- Pria dalam chat rahasia Elena

- Tahu masa lalu Elena

Ciri bicara:

- “punten”

- “atuh”

Kalimat khas:

“Ada beberapa kebenaran yang lebih baik tetap disembunyikan.”

---

## 4. Mira Anindya

- Minang

- Asal Padang

- Umur 28

- Sahabat Arka

- Diam-diam mencintai Arka

- Terlihat tulus tetapi manipulatif

Ciri bicara:

- “awak”

- “indak”

Kalimat khas:

“Orang yang terlalu sabar biasanya paling sakit saat dikhianati.”

---

## 5. Daniel Sihombing

- Batak

- Asal Medan

- Umur 35

- Detektif freelance

- Mantan polisi

- Menyelidiki Elena

Ciri bicara:

- “bah”

- “kali”

Kalimat khas:

“Kasus ini nggak normal, bah.”

---

## 6. Naomi Lestaluhu

- Ambon

- Asal Maluku

- Umur 26

- Wanita misterius

- Mengenal Elena dari masa lalu

Ciri bicara:

- “beta”

- “ale”

Kalimat khas:

“Beta pernah lihat hidup orang hancur karena terlalu percaya.”

---

## 7. Kelvin Saputra

- Betawi

- Asal Jakarta

- Umur 30

- Teman lama Arka

- Humoris tetapi mencurigakan

Ciri bicara:

- “iye”

- “kagak”

Kalimat khas:

“Kadang yang keliatan santai justru paling bahaya.”

---

## 8. Sarah Wijaya

- Tionghoa Indonesia

- Asal Surabaya

- Umur 22

- Adik Elena

- Takut pada masa lalu kakaknya

Kalimat khas:

“Kalau Kak Elena berubah lagi, semuanya bakal terlambat.”

---

## 9. Leon Dharmawan

- Bali

- Asal Denpasar

- Umur 40

- Psikolog terkenal

- Menyimpan rahasia besar Elena

Kalimat khas:

“Trauma tidak pernah benar-benar hilang.”

# KARAKTER TAMBAHAN

## 10. Rendy

- Rekan kantor Elena

- Sering terlihat dekat Elena

- Membuat Arka semakin curiga

## 11. Tania

- Teman Mira

- Tukang menyebar gosip

- Memperkeruh konflik

## 12. Bima

- Tetangga apartemen

- Sering melihat Elena keluar malam

## 13. Karin

- Mantan Adrian

- Membenci Elena

- Mengetahui rahasia lama

BAB 1

BAB 1: JAM DUA PAGI

"Kenapa istriku selalu online jam 2 pagi?"

Hujan deras mengetuk kaca jendela apartemen lantai dua puluh itu dengan ritme yang membosankan, namun bagi Arka Pradana, suara itu terdengar seperti gemuruh kegelisahan yang tak berujung. Ia duduk di meja kerjanya, punggungnya menekan kursi ergonomis mahal yang dibelikan Elena sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Di layar laptop, desain antarmuka aplikasi masih terbuka separuh, namun matanya sudah tidak sanggup lagi fokus pada garis-garis dan warna-warna itu.

Pikirannya tertuju pada satu hal saja: Elena.

Wanita yang dinikahinya dua tahun lalu, wanita yang datang membawa cahaya dan kehangatan ke dalam hidup Arka yang sempat kelam setelah perceraian orang tuanya. Elena Wijaya, wanita keturunan Tionghoa kelahiran Surabaya itu, memiliki pesona yang sulit dijelaskan. Lembut, elegan, berbicara dengan nada rendah yang menenangkan, selalu tahu cara membuat Arka merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.

Namun, tiga bulan terakhir... ada yang berubah.

Arka meraih ponselnya di atas meja. Jempolnya bergerak otomatis membuka aplikasi pesan instan. Nama Elena berada di urutan paling atas. Statusnya tertulis abu-abu samar: Terakhir dilihat: 02:01.

Jantung Arka berdegup kencang, nyeri.

Ia melirik jam dinding. Sekarang pukul 02.15 pagi. Elena sudah masuk kamar tidur sejak jam satu lebih lima belas menit. Ia sendiri yang mengantar Elena sampai ke ambang pintu, melihat istrinya mengenakan baju tidur sutra berwarna biru muda, menguap lebar sambil mengelus lengan Arka manja. "Mas, aku ngantuk banget ya. Tidur dulu ya," katanya waktu itu, lalu menutup pintu kamar pelan-pelan.

Kalau dia tidur... kenapa statusnya baru saja aktif?

Dengan langkah pelan, seolah takut mengganggu kesunyian malam, Arka berjalan menuju pintu kamar tidur mereka. Ia memutar kenop pintu perlahan, celah kecil terbuka. Cahaya remang dari lampu tidur berwarna kuning keemasan menerangi ruangan. Di atas kasur besar yang empuk itu, Elena terbaring miring, punggungnya menghadap ke arah pintu. Napasnya terdengar teratur, naik turun dengan tenang. Benar-benar tidur.

Di atas meja samping tempat tidur, ponsel utama Elena—yang berwarna putih mutiara dan selalu ia genggam ke mana-mana—tergeletak diam, layarnya mati total.

Arka mengunci kembali pintu itu pelan-pelan. Ada rasa dingin yang menjalar dari tulang ekor hingga tengkuknya. Logikanya berteriak bahwa ini tidak masuk akal. Kecuali... Elena punya ponsel lain.

Pikiran itu muncul begitu saja, menusuk tajam.

Ia ingat minggu lalu, saat sedang membereskan lemari pakaian Elena karena pembantu sedang cuti. Di bagian paling bawah koper besar berwarna cokelat tua, terselip benda pipih yang tertutup kain. Saat Arka hendak mengambilnya, Elena datang tiba-tiba. Wajahnya yang biasanya pucat dan tenang, seketika berubah merah padam. Ia bergerak sangat cepat, lebih cepat dari yang pernah Arka lihat, lalu merebut benda itu dan menyembunyikannya di balik punggung.

"Yaelah, Mas, kok suka buka-buka barang pribadi sih?" katanya waktu itu, tertawa canggung, logat Surabayanya sedikit kental karena gugup. "Itu barang lama, udah rusak, mau aku buang lho. Nanti kotor tangan Mas."

Arka saat itu percaya. Atau lebih tepatnya, ia memilih untuk percaya. Ayahnya pernah selingkuh, menghancurkan keluarganya, dan Arka bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi paranoid seperti ibunya dulu. Ia ingin pernikahan yang sehat, penuh kepercayaan. "Nggih, maaf ya Le. Aku cuma mau bantu beres-beres," jawabnya saat itu, pasrah.

Tapi malam ini, status online jam dua pagi itu menghancurkan segala rasa percaya yang ia bangun susah payah.

Arka kembali duduk di kursi kerjanya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Di luar, hujan semakin deras, seolah langit sedang menangis. Pikirannya mulai melayang ke kejadian-kejadian kecil yang dulu ia abaikan.

Seperti kemarin sore, saat Elena pulang terlambat hampir dua jam.

"Macet parah di jalanan Thamrin, Mas," katanya sambil meletakkan tas. Tapi sepatu hak tingginya bersih, tidak ada satu pun percikan lumpur atau air hujan, padahal hujan turun deras sekali sejak sore.

Atau minggu lalu, saat telepon rumah berdering. Elena mengangkatnya, berbicara sebentar dengan nada tegang, lalu menutupnya dengan kasar.

"Siapa, Le?" tanya Arka.

"Oh... cuma orang salah sambung. Cih, ganggu banget sih," jawab Elena, lalu berjalan cepat ke kamar mandi, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Arka sempat mendengar bisikan-bisikan pelan dari balik pintu itu, tapi saat ia mengetuk, suara Elena kembali ceria dan normal seolah tidak terjadi apa-apa.

Atau soal Mira. Sahabat karib Arka dari Padang itu, wanita yang selalu bicara apa adanya, sejak dua bulan lalu sering menatap Elena dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara kasihan, curiga, dan benci.

"Mas Arka," kata Mira kemarin, saat mereka minum kopi berdua tanpa Elena. "Awak cuma mau ngasih tahu. Kalau ada apa-apa, kalau Mas merasa ada yang aneh... jangan ditutupin sendiri. Elena itu... bukan wanita biasa."

"Maksud Mira apa?" tanya Arka waktu itu, keningnya berkerut.

Mira hanya menggeleng, lalu menyeruput kopi hitamnya pelan. "Indak ada. Semoga awak salah. Semoga cuma perasaan awak aja."

Namun sekarang, melihat jam yang terus berputar dan status Elena yang masih abu-abu di layar ponselnya, Arka sadar. Perasaannya bukan khayalan.

Ada sesuatu yang disembunyikan istrinya. Sesuatu yang besar.

Dan malam ini, Arka memutuskan: ia tidak akan lagi menutup mata.

— BERSAMBUNG.......

BAB 2

BAB 2: JEJAK DI PERGELANGAN TANGAN

"Ada kebohongan yang dibungkus sangat rapi sampai kamu lupa mana yang asli."

Pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, membawa serta cahaya keemasan yang kontras dengan kegelapan yang memenuhi kepala Arka semalaman. Ia tidak tidur sama sekali. Matanya perih, berat, tapi pikirannya berputar cepat, menganalisis setiap detik gerak-gerik Elena yang kini bergerak lincah di dapur.

Aroma kopi buatan Elena memenuhi ruangan, aroma yang dulunya menjadi penenang hati Arka, kini terasa memabukkan dan menyisakan rasa pahit di tenggorokan.

Elena keluar dari dapur dengan nampan berisi dua cangkir kopi dan roti bakar. Senyumnya merekah indah, bibirnya merah merona alami, matanya berbinar cerah. Seolah semalam tidak ada apa-apa. Seolah ia tidur nyenyak dari jam satu pagi hingga matahari terbit.

"Pagi, Mas," sapa Elena lembut, mencium pipi Arka sekilas saat meletakkan nampan di meja makan. "Kok matanya merah banget? Semalam nggak tidur ya? Kerjaan terus sih, orangnya."

Arka menatap wajah istrinya lekat-lekat. Mencari sedikit pun jejak kelelahan, atau tanda bahwa wanita ini pernah bangun dan beraktivitas di tengah malam. Tapi nihil. Elena tampak sempurna. Terlalu sempurna.

"Pagi, Le," jawab Arka pelan, suaranya sedikit serak. Ia mengambil cangkir kopi, tangannya sengaja bergerak pelan. "Aku cuma... piye ya, kurang enak badan dikit. Mimpi buruk mungkin."

Elena duduk di hadapannya, menopang dagu dengan tangan kanannya yang lentik. "Mimpi apa? Mimpi dikejar hantu? Atau mimpi aku marahin Mas?" ia terkekeh pelan, suara renyahnya menggema di ruang makan yang luas itu.

Arka tidak menjawab. Matanya tiba-tiba terpaku pada pergelangan tangan kiri Elena. Lengan baju daster katun yang biasa ia pakai itu sedikit melorot ke bawah, memperlihatkan kulit putih bersih yang biasanya selalu tertutup.

Dan di sana, terlihat jelas.

Sebuah bekas memar berwarna keunguan, bentuknya memanjang melingkar pas di pergelangan tangan. Bentuknya persis seperti bekas cengkeraman jari-jari tangan seseorang yang mencengkeram kuat.

Darah Arka mendidih seketika, namun ia tetap diam, menahan diri.

"Le..." panggilnya pelan, matanya menatap tajam ke arah memar itu. "Itu... dari mana di tangan?"

Gerakan Elena terhenti sepersekian detik. Senyum di bibirnya hilang sekejap, sebelum kembali terpasang lebih lebar dari sebelumnya. Dengan gerakan sangat cepat dan halus, ia menarik kembali lengan bajunya ke bawah, menutupi bekas itu sepenuhnya. Gerakan yang dilakukan orang yang sudah terbiasa menyembunyikan sesuatu.

"Ah, ini?" Elena melirik tangannya dengan santai, lalu mengibaskan tangannya seolah itu hal sepele. "Tadi sore nabrak gagang pintu lift di kantor. Sakit lho, Mas. Kasihan istrimu ini, kerja keras terus eh malah celaka dikit."

Ia tertawa lagi, berusaha membuat suasananya ringan. Tapi Arka tidak tertawa.

"Nabrak?" tanya Arka menegaskan. Ia pernah bekerja di desain interior, paham betul bentuk luka akibat benturan dan akibat tekanan. "Benturan biasanya memarnya di satu sisi, Le. Ini melingkar... persis kayak orang mencengkeram."

Wajah Elena berubah. Rona merah di pipinya memudar, digantikan warna pucat yang khas pada dirinya. Ia menatap Arka, matanya yang besar menyipit tajam. Ada kilatan emosi yang sulit diartikan—marah? Takut? Atau terancam?

"Mas kok ngomongnya gitu?" nada bicaranya berubah, sedikit meninggi, logat Surabayanya keluar lebih kental. "Emang Mas nuduh aku diapain sama orang lain? Mas nuduh aku berantem? Atau... Mas nuduh aku ketemu orang lain sampai ditangkap-tangkap gitu?"

Suara Elena mulai bergetar. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, membuat Arka serba salah. Dalam sekejap, wanita itu berubah menjadi sosok yang paling tersakiti di dunia.

"Aku cuma tanya..." Arka mencoba melunakkan nada bicaranya, merasa bersalah karena telah menuduh tanpa bukti. "Aku khawatir, Le."

"Khawatir atau curiga?" Elena bangkit berdiri kasar, kursi di belakangnya bergeser berisik. Air mata jatuh membasahi pipinya. "Kenapa akhir-akhir ini Mas berubah? Kenapa semuanya jadi salah di mata Mas? Aku kerja capek-capek, ngurus rumah, ngurus Mas... bukannya dihargai, malah dituduh macam-macam!"

"Le, aku bukan bermaksud gitu..."

"Udah!" Elena menyeka air matanya kasar, lalu berbalik badan menjauh. "Aku mau pergi. Ada urusan sama klien di daerah Senayan. Nanti kalau Mas udah bisa mikir jernih, baru ngomong sama aku lagi. Aku capek kalau dituduh terus."

Arka diam terpaku di kursinya. Ia ingin memanggil, ingin menjelaskan, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melihat Elena berjalan cepat ke kamar tidur, menutup pintu dengan cukup keras.

Di meja makan, kopi yang masih mengepul itu perlahan menjadi dingin. Arka menatap kosong ke arah pintu kamar. Ia tahu, tadi itu hanya akting. Elena pandai sekali memutarbalikkan fakta, membuat Arka merasa menjadi penjahat, membuat dirinya menjadi korban.

Tapi satu hal that pasti: itu bukan bekas benturan.

Dan Arka yakin sekali, tangan yang mencengkeram istrinya itu... bukan tangannya.

Pintu kamar terbuka lagi. Elena keluar dengan pakaian rapi, kemeja putih dan celana bahan hitam, tas tangan besar berwarna hitam tersampir di bahu. Wajahnya sudah bersih dari air mata, riasan tipis sudah kembali sempurna. Seolah tidak ada pertengkaran sedetik yang lalu.

Ia berjalan melewati meja makan, berhenti sejenak tepat di samping kursi Arka. Menunduk menatap suaminya dengan tatapan yang dalam, tajam, dan dingin.

"Mas..." bisiknya pelan, cukup dekat hingga Arka bisa mencium wangi parfum mahal yang biasa ia pakai. "Ingat ya... kalau kita nggak saling percaya, kita nggak bakal bisa bertahan. Jangan sampai Mas nyesel udah curiga sama aku yang nggak-nggak."

Elena berjalan pergi, langkah kakinya mantap, sepatu hak tingginya mengetuk lantai keramik dengan irama yang meninggalkan bekas di hati Arka.

Pintu depan tertutup.

Arka mengusap wajahnya kasar. Di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan seperti ombak yang tak terbendung. Siapa yang mencengkeram tanganmu, Elena? Dan kenapa kau bertindak seolah akulah musuhmu?

Dan lebih mengerikan lagi... kenapa rasanya Elena ingin Arka tahu, tapi sekaligus ingin Arka bungkam selamanya?

— BERSAMBUNG......

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!