Aroma bedak murahan bercampur semerbak arak bunga persik menguar kental di udara Malam Jinling. Ibukota Kekaisaran Yan tidak pernah tidur, apalagi di Distrik Lentera Merah. Di pusat distrik tersebut, Paviliun Teratai Malam berdiri megah dengan lampion-lampion emas yang memancarkan cahaya remang, memantulkan bayangan para bangsawan yang kehilangan akal sehat mereka malam ini.
Di lantai tiga paviliun, yang disewa khusus dengan harga setara pajak satu kota kecil selama setahun, suara tawa serak memecah denting kecapi.
"Tuang lagi! Apakah Paviliun Teratai Malam sudah kehabisan arak?! Jika Nyonya Su tidak bisa memuaskanku malam ini, aku akan membeli seluruh tempat ini dan mengubahnya menjadi kandang kuda-kudaku!"
Seorang pemuda berpakaian sutra biru tua yang disulam benang emas bersandar malas di atas dipan berlapis bulu rubah putih. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, matanya sedikit memerah karena efek alkohol. Tangan kanannya memeluk pinggang seorang penari cantik yang gemetar pelan, sementara tangan kirinya memutar-mutar cawan giok.
Dialah Cang Qixuan, pewaris tunggal Kediaman Jenderal Cang. Tuan muda paling terkenal di seluruh ibukota, bukan karena bakat bela dirinya, melainkan kemampuannya menghancurkan harta kekayaan leluhur.
Di sudut ruangan, dua pria berwajah datar dalam balutan jubah abu-abu saling bertukar pandang. Mereka duduk berbaur dengan para penjaga, berpura-pura menikmati hidangan. Hanya orang dengan mata batin tajam yang bisa melihat lencana kecil berukir naga melingkar di balik kerah mereka—Anjing Pelacak Kaisar. Mata-mata Istana.
Qixuan menyadari keberadaan mereka sejak langkah pertamanya memasuki paviliun. Sudut bibirnya berkedut kecil membentuk seringai tipis, sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya, sebelum kembali tertawa terbahak-bahak.
"Tuan Muda Cang benar-benar murah hati," suara lembut nan merayu terdengar dari ambang pintu. Nyonya Su Liyin, pemilik paviliun, melangkah masuk membawa nampan berisi guci arak pualam. Usianya menginjak pertengahan tiga puluh, pesonanya matang ibarat buah persik yang siap dipetik. "Ini adalah Arak Dewa Mabuk berusia seratus tahun. Hanya ada tiga guci di seluruh ibukota."
"Berapa harganya?" Qixuan bertanya tanpa melepaskan pelukannya pada sang penari.
"Lima ribu tael emas, Tuan Muda."
Ruangan mendadak hening. Lima ribu tael emas cukup untuk mempersenjatai satu batalion pasukan elit kekaisaran dengan zirah besi terbaik.
Tanpa berkedip, Qixuan melempar kantong kain sutra ke arah Nyonya Su. Kantong itu mendarat di atas meja kayu cendana dengan bunyi dentingan yang berat. "Di dalamnya ada sepuluh lembar wesel dari Bank Giok Ruyi, masing-masing bernilai seribu tael. Sisanya anggap saja uang jajan untukmu, Nyonya Su."
Mata para pelayan terbelalak. Kedua mata-mata kekaisaran di sudut ruangan tersenyum sinis, mencatat dalam ingatan mereka betapa bodohnya pewaris Jenderal Cang ini. Jenderal Besar Cang Baotian mempertaruhkan nyawa di perbatasan menjaga negara, sementar cucunya melempar emas untuk arak dan wanita.
Saat Nyonya Su mengambil kantong tersebut, jari telunjuknya dengan lincah menyapu bagian bawah kantong. Ada sebuah kompartemen rahasia kecil di sana. Di dalamnya bukan emas, melainkan gulungan kertas seukuran jarum berisi tiga nama pejabat penting yang harus disingkirkan informasinya malam ini.
Pandangan Nyonya Su bertemu dengan mata Qixuan selama sepersekian detik. Mata pemuda yang tadinya terlihat mabuk itu kini sedingin es di Puncak Gunung Surgawi. Sangat tajam. Sangat jernih.
"Terima kasih atas kemurahan hati Tuan Muda," Nyonya Su menunduk dalam, menyembunyikan senyum penuh artinya. Emas yang selama ini dibakar oleh Cang Qixuan di tempat ini tidak pernah menjadi abu. Uang itu mengalir deras bagai sungai di bawah tanah, membiayai pembentukan Jaring Bayangan—sebuah organisasi intelijen bawah tanah yang mulai mencengkeram nadi ibukota.
Tepat saat arak mulai dituangkan, pintu ruangan ditendang terbuka. Kayu gaharu yang mahal hancur berkeping-keping.
"Hahaha! Aku penasaran siapa orang tolol yang berani menyewa seluruh lantai tiga. Ternyata Tuan Muda Sampah dari Klan Cang!"
Seorang pemuda melangkah masuk diiringi belasan pengawal berotot kawat. Pemuda itu memiliki wajah panjang dengan hidung bengkok bak burung bangkai. Pei Qianji, putra kedua dari Perdana Menteri Pei. Secara politis, Klan Pei adalah musuh bebuyutan Klan Jenderal Cang. Kaisar Yan diam-diam mendukung Klan Pei untuk menekan pengaruh militer Jenderal Besar.
Qixuan tidak bangkit dari dipannya. Ia bahkan tidak melepaskan penari di pelukannya. "Ah, Tuan Muda Pei. Bau kotoran babi dari sepatumu merusak aroma Arak Dewa Mabuk milikku. Apakah pelayan di rumahmu lupa cara membersihkan kakimu?"
Wajah Pei Qianji memerah padam. "Cang Qixuan! Kau pikir kau masih bisa bersikap arogan?! Kakekmu sedang sekarat di Perbatasan Utara, dan kau di sini membuang-buang uang pensiun prajuritnya! Kau bukan lagi kultivator jenius seperti lima tahun lalu. Meridianmu sudah lumpuh! Hari ini, aku akan memberimu pelajaran tata krama!"
Mendengar kata meridian lumpuh, hawa dingin seketika menyelimuti ruangan. Lima tahun lalu, Qixuan memang diracun oleh pembunuh bayaran misterius. Racun 'Pembakar Nadi' menghancurkan seluruh saluran qi di tubuhnya, mengubahnya dari jenius bela diri menjadi manusia fana yang lemah. Sejak hari itu, ia mulai hidup berfoya-foya, mengklaim dirinya sudah menyerah pada jalan bela diri.
Pei Qianji memberi isyarat. Dua pengawalnya di tingkat Pembentukan Fondasi tahap akhir melesat maju, tangan mereka membentuk cakar elang yang siap meremukkan bahu Qixuan.
Para penari menjerit. Nyonya Su melangkah mundur.
Tepat sebelum cakar itu menyentuh sutra bajunya, sebuah bayangan hitam muncul dari belakang dipan Qixuan. Bayangan itu bergerak lebih cepat dari kilat.
*Brak! Brak!*
Dua pengawal Pei Qianji terlempar mundur hingga menghantam dinding koridor luar, memuntahkan darah segar sebelum jatuh pingsan.
Di samping Qixuan, kini berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas hitam legam dengan pedang tak tercabut di pinggangnya. Wajahnya tanpa ekspresi. Dia adalah Mo Chen, pelayan sekaligus pengawal pribadi Qixuan.
Pei Qianji mundur selangkah, menelan ludah. "B-beraninya kau melawan! Mo Chen, kau pikir kau bisa menahan kami semua?!"
Qixuan akhirnya bangkit. Ia merapikan jubahnya yang kusut, lalu berjalan perlahan mendekati Pei Qianji. Langkahnya gontai, senyumnya merendahkan.
"Tuan Muda Pei... kau berbicara soal tata krama?" Qixuan merogoh lengan bajunya, mengeluarkan setumpuk wesel emas lagi. Tanpa aba-aba, ia menampar wajah Pei Qianji dengan tumpukan kertas berharga tersebut.
*Plak!*
"Ini untuk pintu Nyonya Su yang kau rusak."
*Plak!*
"Ini untuk mengganggu waktu minumku."
*Plak!*
"Dan ini... karena wajahmu sangat jelek."
Tiga tamparan menggunakan kertas, tidak memiliki qi atau tenaga dalam, kemurnian penghinaan fisik belaka. Pei Qianji gemetar karena amarah dan rasa malu yang luar biasa, wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Ia ingin menyerang, matanya menatap tajam ke arah Mo Chen yang tangannya sudah berada di gagang pedang. Qi membunuh dari pengawal hitam itu begitu pekat hingga membuat napas Pei Qianji sesak.
"Kau... Cang Qixuan! Tunggu pembalasanku!" Pei Qianji berbalik, melarikan diri meninggalkan pengawalnya yang masih terkapar.
Qixuan mendengus keras. "Mo Chen, bereskan sampah di koridor. Nyonya Su, uang yang berserakan di lantai itu untuk biaya kebersihan. Aku sudah kehilangan selera malam ini."
Kedua mata-mata kekaisaran menghela napas lega. Pertunjukan sudah selesai. Pewaris Cang itu sama sekali tidak memancarkan fluktuasi qi saat marah, membuktikan desas-desus bahwa meridiannya benar-benar telah mati permanen. Tindakannya menggunakan uang untuk menampar lawan adalah bukti nyata kebobrokan moral dan mentalnya.
Tanpa menoleh lagi, Qixuan melangkah keluar paviliun, meninggalkan Distrik Lentera Merah yang masih hingar-bingar.
Kereta kuda Klan Cang melaju menembus dinginnya malam. Di dalam kabin yang kedap suara, postur tubuh Qixuan yang tadinya bersandar malas kini berubah tegap bak pedang yang baru ditempa. Bau arak yang menguar dari tubuhnya perlahan sirna, digantikan aura misterius yang menekan udara di dalam kabin.
Mo Chen yang memegang kendali kuda di luar mengirimkan transmisi suara rahasia ke dalam kabin. *"Tuan Muda, mata-mata Kaisar sudah kembali ke istana. Tidak ada yang membuntuti kita."*
*"Bagus,"* Qixuan membalas menggunakan transmisi qi murni. Ya, qi murni. Saluran qi yang dikabarkan hancur lima tahun lalu itu tidak sepenuhnya mati.
Ia memejamkan mata. Di dalam lautan kesadarannya, ia melihat kembali memori malam berdarah itu. Pembunuh bayaran yang dikirim Kaisar memang berhasil meracuninya. Saluran qi utamanya hancur berantakan. Mengobatinya membutuhkan pil tingkat dewa yang mustahil ditemukan di dunia fana.
Alih-alih putus asa, Qixuan menemukan teknik terlarang dari gulungan kuno milik leluhur pertama klan: *Seni Pernapasan Menelan Langit*. Teknik ini tidak membutuhkan meridian utuh. Alih-alih mengalirkan energi alam ke dalam tubuh, teknik ini memaksa tubuh penggunanya menyerap energi secara kasar, menghancurkan sisa-sisa meridian lama untuk membentuk pusaran energi (Dantian) buatan di sembilan titik vital.
Rasa sakitnya seperti dikuliti hidup-hidup setiap malam selama lima tahun berturut-turut. Kegagalan berarti kematian instan. Cang Qixuan bertahan melalui neraka tersebut dalam diam, bersembunyi di balik topeng seorang pria brengsek yang gila foya-foya.
Kini, dari sembilan pusaran energi yang dibutuhkan, ia baru berhasil membuka dua. Kekuatannya baru setara dengan kultivator tingkat akhir Pengumpulan Qi, masih sangat jauh dari kekuatan puncaknya dulu. Jalan kebangkitannya masih sangat panjang.
Kereta kuda akhirnya berhenti di depan gerbang Kediaman Jenderal Cang. Dua patung singa batu besar yang mengapit gerbang tampak kusam dimakan cuaca. Cat merah pada pintu kayunya mulai terkelupas. Tidak ada penjaga lapis baja yang berbaris rapi seperti kediaman menteri lainnya. Kekaisaran secara perlahan memotong dana militer dan persediaan klan, membiarkan mereka membusuk dari dalam.
Qixuan melangkah turun. Seorang pelayan tua yang memegang lampion buru-buru menyambutnya.
"Tuan Muda, Anda sudah kembali." Suara pelayan itu serak, menyembunyikan kekhawatiran.
"Paman Lin, siapkan air hangat. Aku butuh mandi." Qixuan menjawab singkat, menjaga suaranya tetap datar.
"Tuan Muda..." Paman Lin ragu-ragu. "Tuan Besar menunggumu di Aula Leluhur."
Langkah Qixuan terhenti sesaat. Kakeknya, Jenderal Besar Cang Baotian, seharusnya berada di Perbatasan Utara mengawasi pergerakan Suku Barbar Badai. Mengapa dia kembali ke ibukota tanpa pemberitahuan? Kembali tanpa perintah kaisar adalah pelanggaran militer berat.
Tanpa banyak bicara, Qixuan bergegas menuju Aula Leluhur yang terletak di bagian terdalam manor. Aroma dupa cendana yang kuat menyengat hidungnya. Di tengah ruangan remang itu, di hadapan ratusan papan nama leluhur Klan Cang, berlutut seorang pria tua dengan zirah perang yang penyok dan berlumuran darah kering.
"Kakek." Qixuan melangkah masuk, menutup pintu kayu tebal di belakangnya.
Cang Baotian menoleh pelan. Wajah yang dulunya gagah dan ditakuti musuh hingga ribuan mil jauhnya itu kini pucat pasi. Bibirnya bernoda darah hitam. Dia terluka parah. Bukan luka senjata tajam, melainkan luka akibat benturan qi dari kultivator tingkat tinggi.
"Kau berbau pelacur dan arak murahan lagi, Xuan'er," suara jenderal tua itu berat dan serak, memendam kelelahan yang luar biasa.
Qixuan bergegas maju, memeriksa denyut nadi kakeknya. Wajah pemuda itu berubah drastis. Saluran jantung kakeknya hancur. Racun dingin sedang menggerogoti organ dalamnya. Ini bukan hasil pertarungan melawan orang barbar di perbatasan. Ini adalah racun khas dari Bayangan Istana—pasukan pembunuh pribadi Kaisar.
"Kaisar... dia akhirnya bergerak memotong rumput hingga ke akarnya," bisik Qixuan, giginya terkatup rapat hingga rahangnya menonjol.
Cang Baotian terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah hitam ke lantai batu. Ia mencengkeram lengan cucunya dengan sisa tenaga yang ada. Cengkeramannya lemah, membuat hati Qixuan terasa diiris pedang tak kasat mata.
"Pasukan Naga Hitam di perbatasan... sudah disusupi. Wakil Jenderalku, orang yang kuangkat dari jalanan, menusukku dari belakang bersama tiga Tetua Istana," napas Cang Baotian tersengal. "Mereka menuduh klan kita melakukan pemberontakan. Dekrit pemusnahan mungkin akan turun besok pagi."
Qixuan menatap mata kakeknya. Tidak ada kepanikan, hanya rasa duka yang mendalam. Selama ratusan tahun, Klan Cang menumpahkan darah melindungi Dinasti Yan. Setiap pria dalam klan ini mati di medan perang, meninggalkan para janda yang terus membesarkan generasi berikutnya untuk kembali ke medan perang. Hasil dari kesetiaan berdarah itu adalah kecurigaan dan bilah pisau dari kaisar yang duduk nyaman di atas takhta emas.
"Aku memaksakan diri kembali menggunakan Jimat Pengecil Ruang untuk memperingatkanmu," kakeknya melanjutkan, membelai wajah Qixuan dengan tangan kasar yang gemetar. "Bawalah ibumu. Pergilah ke Selatan. Bersembunyilah. Untungnya... untungnya selama lima tahun ini kau terus merusak nama baikmu. Kaisar melihatmu sebagai sampah yang tidak mengancam. Mereka mungkin akan melepaskanmu jika kau membuang nama belakangmu."
Air mata menggenang di pelupuk mata jenderal tua itu. Baginya, melihat cucu kebanggaannya menjadi pemuda hidung belang adalah siksaan batin, sebuah rasa malu yang tak tertahankan. Mengetahui cucunya itu kini harus membuang nama klan untuk bertahan hidup membuatnya merasa gagal sebagai leluhur.
Qixuan diam. Ia tidak menjawab. Perlahan, ia melepaskan cengkeraman tangan kakeknya, lalu mundur dua langkah.
Pria muda yang selalu terlihat mabuk dan malas itu merubah posturnya. Tulang punggungnya lurus menantang langit. Mata merahnya yang selalu sayu kini memancarkan cahaya biru kelam yang mengerikan. Udara di dalam Aula Leluhur tiba-tiba menjadi sangat berat. Dupa yang menyala di atas altar seketika padam tanpa tertiup angin.
Dua pusaran energi di dalam dada dan perut Qixuan berputar liar. Gelombang qi murni, sangat padat dan buas—jauh melampaui qi kultivator normal tingkat Pengumpulan—memancar dari tubuhnya, menyapu debu di ruangan tersebut.
Mata Cang Baotian terbelalak lebar. Mulutnya terbuka menatap fenomena di depannya. "Xuan'er... kau... meridianmu..."
"Cucu tidak berbakti ini memohon ampun karena telah membohongi Kakek selama lima tahun," Qixuan berlutut, menempelkan dahinya ke lantai batu yang dingin. Suaranya bergema penuh tekad baja. "Malam ini, Kakek tidak akan mati. Klan Cang tidak akan musnah. Dan mulai malam ini, Dinasti Yan akan mulai menghitung mundur hari kehancurannya."
Qixuan mengangkat kepalanya. Seringai tipisnya yang biasa kini berubah menjadi senyum malaikat pencabut nyawa.
"Aku telah menghabiskan jutaan emas untuk membeli mata dan telinga di seluruh ibukota. Aku membiarkan mereka memanggilku sampah. Biarkan Kaisar Yan merasa puas melihat pertunjukan badutku. Karena saat badut ini melepas topengnya... seluruh istana mereka akan tenggelam dalam darah."
Di luar Aula Leluhur, badai musim semi mulai turun, menyapu dedaunan kering di halaman, menandakan dimulainya era kekacauan baru di Benua Surgawi. Tuan Muda yang boros telah menelan cukup banyak cemoohan; kini saatnya ia menelan kekaisaran.
Aula Leluhur yang remang kembali sunyi setelah badai energi spiritual yang dilepaskan oleh Cang Qixuan mereda. Keheningan di dalam ruangan itu begitu pekat hingga suara rintik hujan pertama yang menghantam genting tanah liat di luar terdengar seperti ketukan genderang perang.
Jenderal Besar Cang Baotian masih mematung di atas lantai batu. Sepasang matanya yang mulai merabun karena racun menatap sang cucu dengan campur aduk antara tidak percaya, ngeri, dan secercah harapan yang sudah lama padam. Sebagai seorang petarung yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di puncak tingkat Komandan Bumi, ia bisa merasakan kemurnian energi yang baru saja terpancar dari tubuh Qixuan. Energi itu kasar, dingin, dan tidak mengalir melalui jalur biasa, melainkan berdenyut langsung dari dalam sumsum tulang dan organ vital.
"Teknik apa yang kau latih, Xuan'er?" suara sang jenderal bergetar, bukan karena takut pada kematian yang mendekat, melainkan karena kengerian melihat harga yang harus dibayar cucunya demi kekuatan ini. "Tanpa meridian... bagaimana mungkin tubuh fana bisa menahan beban qi sepadat itu?"
Qixuan bangkit berdiri perlahan. Ia melangkah mendekati kakeknya, lalu berlutut di samping tubuh tua yang ringkih tersebut. Tangannya bergerak cepat menekan tiga titik nadi di punggung Cang Baotian.
"Seni Pernapasan Menelan Langit," jawab Qixuan lirih. Bersamaan dengan ucapannya, pusaran energi di dadanya berputar berlawanan arah. Seketika, gelombang qi biru kelam mengalir keluar dari telapak tangannya, menembus kulit zirah sang jenderal dan langsung mengunci aliran racun dingin yang sedang merayap menuju jantung. "Teknik kuno yang menuntut penggunanya menghancurkan pondasi lama untuk membangun sembilan pusaran pengganti. Lima tahun ini, setiap malam adalah neraka. Namun, neraka itu sepadan."
Cang Baotian meringis saat energi dingin Qixuan berbenturan dengan racun beracun di dalam dadanya. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi sensasi terbakar yang mencekik jantungnya perlahan-lahan mulai mengendur. Wajah sang jenderal yang tadinya sewarna kertas kuno kini mulai mendapatkan kembali sedikit rona kehidupan, meski darah hitam masih merembes dari sudut bibirnya.
"Kau merahasiahkan ini bahkan dariku... dari ibumu..." gumam Cang Baotian, menatap papan nama leluhur mereka yang berjejer di altar. "Kau membiarkan seluruh dunia meludahi namamu, membiarkan para tetua klan mencacimu sebagai aib..."
"Jika musuh ingin melihat seorang badut, maka aku akan menjadi badut terbaik yang pernah mereka saksikan," Qixuan menarik kembali tangannya setelah memastikan racun kakeknya telah ditekan untuk sementara waktu. "Jika aku menunjukkan sedikit saja tanda-tanda pulih dalam lima tahun ini, Kaisar Yan tidak akan menunggu hingga hari ini untuk mengirim dekrit pemusnahan. Dia akan meratakan kediaman ini saat aku masih mengumpulkan serpihan tulangku."
Qixuan berdiri, berjalan menuju jendela aula yang sedikit terbuka. Di luar, hujan deras telah sepenuhnya mengguyur ibukota Jinling. Air mengalir deras dari atap-atap bangunan, membasahi halaman manor yang sepi dan terbengkalai.
"Emas yang aku hamburkan di Paviliun Teratai Malam, di meja judi milik Klan Pei, dan di pelelangan-pelelangan barang antik... semua itu tidak pernah hilang," Qixuan melanjutkan, suaranya sedatar air telaga namun mengandung bobot yang menekan. "Uang itu adalah umpan. Melalui Nyonya Su Liyin, lima puluh persen rumah bordil, kedai arak, dan rumah judi di tiga distrik utama kini berada di bawah kendaliku. Para pejabat yang mendatangi tempat-tempat itu untuk memuaskan syahwat dan keserakahan mereka tidak sadar bahwa setiap desah napas dan rahasia yang mereka bisikkan di ranjang telah dicatat dalam buku Jaring Bayangan."
Cang Baotian menarik napas dalam-dalam. Siasat ini... strategi jangka panjang yang begitu rapi dan mematikan, tumbuh subur tepat di bawah hidung para pengawas kekaisaran. Selama ini, mata-mata istana melaporkan pengeluaran fantastis Tuan Muda Cang sebagai bukti kebobrokan moral, tanpa tahu bahwa setiap keping emas yang keluar adalah paku tambahan untuk peti mati dinasti ini.
"Namun, Xuan'er, malam ini segalanya telah berubah," kata jenderal tua itu, mencoba menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu aula. "Kaisar Yan bukan lagi sekadar merencanakan pembatasan kekuatan kita. Dia telah mengambil langkah terakhir. Wakil Jenderal Mu Chenghai telah mengkhianatiku di perbatasan. Tiga Tetua Bayangan Istana mengepungku di Lembah Gagak. Jika bukan karena Jimat Pengecil Ruang leluhur, kepalaku sudah tergantung di gerbang kamp militer saat ini. Besok pagi, saat fajar menyingsing dan ketidakhadiranku di perbatasan diumumkan sebagai 'pemberontakan', pasukan Pengawal Kekaisaran akan mengepung tempat ini."
Qixuan berbalik dari jendela. Sepasang matanya berkilat tajam di bawah cahaya lilin yang bergoyang. "Mereka tidak akan menunggu hingga besok pagi, Kakek. Kaisar Yan adalah orang yang penuh waspada. Begitu para Tetua Bayangan melaporkan bahwa Kakek lolos menggunakan jimat ruang, perintah penangkapan klan kita di ibukota pasti langsung dikeluarkan. Saat ini, Pengawal Kekaisaran mungkin sudah mulai bergerak mengunci gerbang kota."
Tepat ketika kalimat Qixuan berakhir, terdengar ketukan tiga kali di pintu Aula Leluhur. Ketukan yang berirama khusus—dua ketukan lambat, satu ketukan cepat.
"Masuk," perintah Qixuan.
Pintu terbuka, dan Mo Chen melangkah masuk dengan senyap. Pakaian hitamnya basah kuyup oleh air hujan, tetapi tidak ada setetes air pun yang menempel pada gagang pedangnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan kain sutra abu-abu yang terikat benang perak.
"Tuan Muda, Jenderal Besar," Mo Chen memberi hormat dengan satu lutut bertumpu di lantai. "Pesan mendesak dari Nyonya Su. Pasukan Pengawal Kekaisaran di bawah komando Panglima Pei Ji—kakak tertua Pei Qianji—telah memobilisasi tiga ribu prajurit berbaju zirah berat. Mereka bergerak dari barak barat menuju Kediaman Cang. Jarak mereka kurang dari lima belas li dari sini."
Wajah Cang Baotian menegang. "Tiga ribu prajurit zirah berat... Pei Ji sendiri berada di tingkat Komandan Bumi tahap awal. Ditambah dengan formasi tempur militer, mereka bisa meratakan tempat ini dalam waktu satu jam. Xuan'er, kita harus membawa ibumu keluar dari sini sekarang melalui jalur bawah tanah!"
"Tidak," Qixuan memotong dengan tegas, suaranya tenang tanpa ada tanda-tanda kepanikan. "Jika kita lari malam ini, kita akan menjadi buronan seumur hidup. Nama Klan Cang akan selamanya dicap sebagai pengkhianat dalam sejarah Dinasti Yan. Kakek, ratusan ribu prajurit yang tewas di bawah panji Klan Cang di perbatasan tidak layak menerima penghinaan ini."
"Lalu apa rencanamu?! Bertahan di sini dan mati bersama?!" Cang Baotian terbatuk lagi, rasa frustrasi mulai membakar dadanya. "Kekuatanmu saat ini baru berada di tingkat Pengumpulan Qi! Bahkan dengan sembilan pusaranmu yang aneh, kau bukan tandingan bagi satu pasukan militer!"
Qixuan berjalan mendekati altar leluhur, mengambil sebatang dupa baru, memantiknya dengan sentuhan kecil qi-nya, lalu menancapkannya di depan papan nama ayahnya yang gugur sepuluh tahun lalu.
"Kekuatan seorang penguasa tidak hanya diukur dari seberapa tajam pedangnya, Kakek, melainkan dari seberapa banyak pedang yang bisa ia gerakkan tanpa perlu mengotori tangannya," Qixuan tersenyum tipis. "Pei Ji mengira dia sedang mengepung seekor macan tua yang sekarat. Dia lupa bahwa di ibukota ini, Klan Pei bukan satu-satunya harimau yang lapar."
Qixuan menoleh ke arah Mo Chen. "Mo Chen, aktifkan sandi 'Sutra Merah'. Kirim pesan kepada Menteri Pendapatan Negara, Lu Zhen."
Mo Chen mendongak, matanya sedikit membelalak. "Menteri Lu? Tapi Tuan Muda, dia adalah orang yang dikenal paling netral di pengadilan. Dia tidak pernah memihak klan kita ataupun Klan Pei."
"Dia netral karena dia belum melihat keuntungan yang cukup besar untuk mempertaruhkan nyawanya," Qixuan mendengus. "Bulan lalu, putra sulung Lu Zhen kalah judi di Paviliun Teratai Malam sebesar delapan ratus ribu tael emas. Tebak siapa yang memegang surat hutangnya?"
Mo Chen seketika mengerti. "Anda, Tuan Muda."
"Katakan pada Lu Zhen, jika dalam waktu setengah jam dia tidak membawa dokumen korupsi pajak militer yang dilakukan oleh Klan Pei selama tiga tahun terakhir ke hadapan Perdana Menteri Kanan, Han Mian, maka besok pagi surat hutang anaknya akan ditempel di setiap sudut tembok ibukota. Bukan hanya itu, bukti bahwa dia diam-diam menjual garam sitaan kekaisaran ke Suku Barbar juga akan mendarat di meja kerja Kaisar."
Qixuan melangkah mendekati meja cendana, mengambil kuas dan selembar kertas kosong. Dengan gerakan cepat dan bertenaga, ia menuliskan beberapa baris kalimat.
"Dan untuk Perdana Menteri Kanan Han Mian... dia selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan Perdana Menteri Kiri Pei Shiyuan demi merebut posisi perdana menteri tunggal. Kirimkan pesan ini berserta kepala mata-mata kekaisaran yang kita tangkap di Paviliun Teratai Malam tadi. Katakan padanya, malam ini adalah kesempatan terbaiknya untuk memotong sayap militer Klan Pei. Jika dia bergerak sekarang untuk menahan pergerakan Pengawal Kekaisaran di depan istana dengan tuduhan manipulasi gerakan militer tanpa izin tertulis Kaisar, Klan Cang akan mendukungnya penuh di masa depan."
Cang Baotian menatap cucunya dengan rasa takjub yang semakin mendalam. Pemuda di hadapannya ini tidak sedang merencanakan pelarian diri; dia sedang memicu perang politik tingkat tinggi di antara para raksasa kekaisaran, memanfaatkan keserakahan, ketakutan, dan ambisi mereka sebagai bidak catur miliknya sendiri.
"Bagaimana dengan Kaisar Yan?" tanya Cang Baotian. "Menteri dan perdana menteri mungkin bisa saling menahan, tapi jika Kaisar mengeluarkan dekrit mutlak, semua permainan politik ini akan hancur."
"Kaisar Yan saat ini sedang sakit sakral, Kakek. Racun usia tua dan konsumsi pil panjang umur palsu dari para kultivator sesat di istana telah membuat pikirannya lambat," Qixuan melipat kertas tersebut dan menyerahkannya pada Mo Chen. "Dia tidak akan bertindak sebelum melihat faksi mana yang menang di pengadilan besok pagi. Yang perlu kita lakukan malam ini adalah memastikan pasukan Pei Ji tidak pernah melewati gerbang depan kediaman kita dengan selamat."
Mo Chen menerima surat tersebut, membungkuk dalam, dan dalam sekejap mata tubuhnya melebur ke dalam kegelapan malam di luar aula.
Qixuan berbalik kembali menghadap kakeknya. "Kakek, beristirahatlah di ruang rahasia di bawah altar ini. Biarkan cucumu yang menyambut kedatangan Panglima Pei Ji."
Hujan semakin deras, mengubah jalanan berbatu di sekitar Kediaman Cang menjadi aliran air yang keruh. Di kejauhan, bunyi derap langkah kaki yang teratur dan dentingan zirah besi mulai terdengar bergemuruh, memecah kesunyian malam ibukota. Cahaya obor-obor yang dilindungi kain minyak tampak bergoyang-goyang di ujung jalan, mendekat bagai naga api yang siap menelan mangsanya.
Tiga ribu prajurit zirah berat dari Pengawal Kekaisaran menghentikan langkah mereka tepat seratus langkah dari gerbang depan Kediaman Jenderal Cang. Formasi mereka rapi, mengunci setiap jalan keluar dari kediaman tersebut.
Di barisan paling depan, di atas seekor kuda perang berbulu hitam legam, duduk seorang pria paruh baya dengan zirah emas bertatahkan lambang burung elang. Wajahnya keras, matanya memancarkan keangkuhan yang sama dengan Pei Qianji, namun dengan intensitas yang jauh lebih mematikan. Dia adalah Panglima Pei Ji.
Di sampingnya, menunggangi kuda yang lebih kecil dengan wajah yang masih diperban karena tamparan kertas emas tadi malam, adalah Pei Qianji.
"Kakak, pastikan kau tidak membunuh si bajingan Cang Qixuan itu terlalu cepat!" Pei Qianji mendesis penuh dendam, meraba pipinya yang masih bengkak. "Aku ingin meremukkan setiap tulang di tubuhnya dengan tanganku sendiri!"
Pei Ji melirik adiknya dengan pandangan dingin. "Tujuan kita malam ini adalah membersihkan klan ini atas perintah rahasia Istana. Jenderal Besar Cang Baotian dikabarkan terluka parah di perbatasan dan melarikan diri kembali ke sini. Jika dia ada di dalam, bunuh di tempat. Jangan beri mereka kesempatan untuk berbicara di pengadilan besok."
Pei Ji mengangkat tangan kanannya, siap memberi perintah untuk mendobrak gerbang.
Namun, sebelum tangannya sempat turun, pintu gerbang kayu besar Kediaman Cang yang sudah kusam itu perlahan-lahan terbuka dengan suara derit yang panjang.
Dari balik kegelapan gerbang, melangkah keluar seorang pemuda sendirian. Ia tidak mengenakan zirah perang, tidak memegang pedang ataupun tombak. Ia hanya mengenakan jubah sutra biru tua yang longgar, tangan kanannya memegang sebuah payung kertas minyak berwarna putih, sementara tangan kirinya membawa sebuah tungku kecil penghangat tangan dari perunggu.
Cang Qixuan berdiri di bawah guyuran hujan, terlindung oleh payungnya, menatap tiga ribu prajurit bersenjata lengkap seolah-olah mereka hanyalah kerumunan penonton di rumah bordil.
"Panglima Pei Ji," suara Qixuan terdengar jelas menembus deru suara hujan, membawa nada malas yang sangat akrab di telinga Pei Qianji. "Membawa tiga ribu prajurit bersenjata lengkap ke kediaman seorang Jenderal Kekaisaran di tengah malam... Apakah Klan Pei akhirnya memutuskan untuk melakukan pemberontakan yang selama ini kalian rencanakan?"
Pei Ji mendengus kencang, suaranya menggelegar dibantu oleh qi tingkat Komandan Bumi miliknya. "Cang Qixuan! Jangan membalikkan fakta! Kakekmu, Cang Baotian, telah berkhianat di Perbatasan Utara dan bersekongkol dengan Suku Barbar! Aku di sini membawa titah lisan dari Istana untuk menggeledah tempat ini dan menangkap seluruh anggota Klan Cang!"
"Titah lisan?" Qixuan terkekeh pelan, melangkah maju beberapa tindak hingga berdiri di anak tangga teratas gerbangnya. "Klan Cang kami telah melindungi perbatasan selama tiga ratus tahun, menumpahkan darah jutaan prajurit demi kedamaian Dinasti Yan. Dan sekarang, seorang panglima dari Klan Pei ingin meratakan kediaman kami hanya berdasarkan 'titah lisan'? Di mana Dekrit Kekaisaran tertulis? Di mana segel naga?"
"Menghadapi pengkhianat negara, tidak perlu formalitas!" Pei Qianji berteriak dari atas kudanya. "Cang Qixuan, kakekmu sudah sekarat! Menyerahlah sekarang atau kau akan melihat ibumu diperkosa oleh para prajurit ini sebelum kepalanya dipenggal!"
Mendengar penghinaan terhadap ibunya, pandangan mata Qixuan tidak berubah, namun suhu di sekitar tempat ia berdiri mendadak turun drastis. Rintik hujan yang jatuh di sekitar payungnya perlahan-lahan membeku menjadi butiran es kecil sebelum menyentuh tanah. Sembilan pusaran energi di dalam tubuhnya mulai berputar dengan kecepatan yang menakutkan, mengalirkan energi spiritual yang dingin dan tajam ke ujung-ujung jarinya.
"Pei Qianji," Qixuan berbisik, namun suaranya anehnya terdengar tepat di samping telinga pemuda berbaju perban itu, membuat Pei Qianji bergidik ngeri. "Kemarin malam aku melepaskanmu karena menganggapmu hanya seekor anjing yang menggonggong. Tapi tampaknya, anjing yang tidak dididik dengan benar akan mulai menggigit pemilik rumah."
"Banyak bicara! Serang! Hancurkan gerbang dan bunuh siapa saja yang melawan!" Pei Ji berteriak, mengayunkan tangan kanannya ke bawah.
Seratus prajurit barisan depan dengan perisai besar dan kapak raksasa melangkah maju secara serempak. Langkah kaki mereka membuat tanah bergetar.
Qixuan tidak mundur secenti pun. Ia meletakkan tungku perunggu kecilnya di atas pilar batu gerbang, lalu perlahan menutup payung kertas minyaknya. Tubuhnya kini membiarkan hujan mengguyur jubah sutranya, namun anehnya, setiap tetes air yang menyentuh tubuhnya langsung menguap menjadi kabut putih tipis.
"Mo Chen, aktivasikan Formasi 'Guntur Sembilan Siksaan'," perintah Qixuan dengan suara rendah.
Tepat saat para prajurit Pengawal Kekaisaran menginjakkan kaki di batas seratus langkah dari gerbang, garis-garis cahaya ungu tiba-tiba menyala dari bawah genangan air di jalanan batu. Garis-garis cahaya itu saling terhubung satu sama lain, membentuk sebuah lingkaran formasi raksasa yang mengurung seluruh tiga ribu prajurit Pei Ji.
*Blarrr!*
Suara petir yang sangat keras tiba-tiba menyambar dari langit malam yang gelap, bukan mengarah ke bangunan, melainkan langsung menyambar pusat formasi cahaya ungu tersebut. Bumi berguncang hebat. Kilatan listrik berwarna ungu tua merayap cepat dari sela-sela batu jalanan, merambat naik melalui zirah besi para prajurit.
Zirah besi yang seharusnya menjadi pelindung terbaik mereka kini berubah menjadi konduktor maut. Ratusan prajurit di barisan depan seketika menjerit histeris saat tubuh mereka terpanggang di dalam baju zirah sendiri. Bau daging terbakar bercampur dengan aroma belerang menyengat seketika memenuhi udara malam yang basah.
"Formasi Pertahanan Tingkat Bumi?!" Wajah Pei Ji berubah drastis. Ia melepaskan qi emasnya untuk melindungi tubuhnya dan kudanya dari sengatan listrik, namun matanya menatap tidak percaya pada pemandangan di depannya.
Kediaman Cang yang dikabarkan miskin dan tidak memiliki dana militer, bagaimana mungkin memiliki Formasi Pertahanan Tingkat Bumi yang harganya setara dengan anggaran militer satu provinsi?! Dan siapa yang mengaktifkannya? Mengaktifkan formasi serumit ini membutuhkan kendali spiritual yang sangat presisi!
Di atas anak tangga, Qixuan berdiri tegak di tengah kabit putih yang mengelilinginya. Tangan kanannya kini memegang sebuah token giok hitam yang memancarkan cahaya ungu samar—token kendali formasi.
Emas yang ia habiskan selama lima tahun ini bukan hanya untuk informasi, melainkan juga untuk membeli bahan-bahan formasi langka dari pasar gelap bawah tanah. Selama bertahun-tahun, secara rahasia pada malam hari, Mo Chen dan beberapa anggota Jering Bayangan yang setia telah menanam batu-batu spiritual dan mengukir prasasti formasi di sepanjang jalan menuju kediaman ini.
"Pei Ji, kau bilang Klan Cang adalah pengkhianat," Qixuan melangkah turun satu anak tangga, matanya menatap dingin ke arah panglima yang mulai panik itu. "Malam ini, biarkan aku menunjukkan kepadamu bagaimana seorang 'pengkhianat' bertarung."
"Jangan panik! Pertahankan formasi! Gunakan Qi Zirah untuk menahan petir!" Pei Ji berteriak mencoba menenangkan pasukannya yang mulai kacau. Namun, formasi guntur milik Qixuan bukan formasi biasa. Ini adalah formasi yang telah dimodifikasi menggunakan pemahaman Dao tingkat tinggi yang ia peroleh dari sisa-sisa ingatan teknik kuno. Setiap sambaran petir tidak hanya menyerang fisik, melainkan juga mengikis energi spiritual di dalam Dantian para prajurit.
Di tengah kekacauan tersebut, dari arah belakang pasukan Pengawal Kekaisaran, tiba-tiba terdengar suara terompet militer yang berbeda. Suara terompet yang berat dan berwibawa, menandakan kedatangan pasukan dari faksi lain.
Cahaya obor baru yang jumlahnya tidak kalah banyak muncul dari arah jalan menuju Istana Kekaisaran. Ribuan prajurit dengan zirah perak berlambang harimau putih maju dengan kecepatan penuh, dipimpin oleh seorang pria tua berjubah menteri yang duduk di dalam kereta kuda yang megah.
"Panglima Pei Ji! Hentikan tindakanmu segera!" sebuah suara tua namun berwibawa menggema menembus hujan.
Perdana Menteri Kanan Han Mian telah tiba, didampingi oleh Menteri Pendapatan Negara Lu Zhen dan ratusan pejabat pengadilan.
Pei Ji menoleh, wajahnya menjadi semakin gelap. "Perdana Menteri Han! Apa maksudnya ini?! Saya sedang menjalankan perintah rahasia Istana untuk menangkap pemberontak!"
Han Mian keluar dari kereta kudanya, memegang sebuah gulungan kertas besar di tangannya, wajahnya dipenuhi amarah yang dibuat-buat namun sangat meyakinkan. "Perintah rahasia?! Pei Ji, Menteri Lu Zhen baru saja menyerahkan bukti otentik kepada saya dan Dewan Tetua Pengadilan bahwa Klan Pei telah memanipulasi dana logistik militer Perbatasan Utara selama tiga tahun berturut-turut, menyebabkan pasukan Jenderal Besar Cang kekurangan pasokan! Tindakanmu malam ini membawa pasukan tanpa Dekrit Kekaisaran resmi yang disegel oleh Dewan Pengadilan adalah upaya pembunuhan berencana untuk melenyapkan saksi kunci!"
"Apa?!" Pei Ji tertegun. Ia menatap Lu Zhen yang berdiri di belakang Han Mian dengan wajah pucat namun mengangguk tegas. Pei Ji tidak bodoh; ia segera menyadari bahwa Klan Pei telah dijebak ke dalam perangkap politik yang sangat mematikan.
"Menteri Lu! Beraninya kau memfitnah klan kami?!" Pei Qianji berteriak histeris, melupakan rasa sakit di wajahnya.
"Ini bukan fitnah, Tuan Muda Kedua Pei," Lu Zhen berkata dengan suara bergetar namun tegas, tangannya meraba saku bajunya di mana surat hutang anaknya yang asli berada—yang baru saja dikembalikan oleh Mo Chen sepuluh menit lalu sebagai jaminan kesetiaannya. "Semua pembukuan dan tanda terima palsu yang dibuat oleh Klan Pei ada di tangan Perdana Menteri Han. Panglima Pei Ji, jika Anda tidak menarik mundur pasukan Anda sekarang, Anda akan langsung dicap sebagai pemberontak sejati oleh seluruh pengadilan besok pagi!"
Pei Ji mengepalkan tinjunya hingga sendi-sendinya memutih. Di depannya, Formasi Guntur Sembilan Siksaan milik Qixuan telah menewaskan hampir lima ratus prajurit elitnya dalam hitungan menit. Di belakangnya, faksi politik Han Mian siap menerkam klannya di pengadilan dengan bukti korupsi yang entah bagaimana bisa bocor malam ini.
Ia menatap ke arah Cang Qixuan yang berdiri tenang di kejauhan. Pemuda itu kini kembali membuka payung putihnya, menutupi wajahnya dari pandangan, seolah-olah seluruh drama berdarah dan politik yang terjadi malam ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
*Dia... Tuan muda sampah ini... apakah semua ini adalah buatannya?* Sebuah pemikiran mengerikan melintas di benak Pei Ji, namun ia segera menepisnya. Tidak mungkin, seorang pemuda fana dengan meridian hancur tidak mungkin memiliki kemampuan untuk menggerakkan dua menteri agung dan mengendalikan formasi tingkat bumi sendirian. Ini pasti rencana tersembunyi yang telah dipersiapkan oleh Jenderal Besar Cang Baotian sebelum ia kembali dari perbatasan!
"Mundur!" Pei Ji akhirnya berteriak dengan gigi terkatup rapat. "Kita kembali ke Kediaman Perdana Menteri!"
Dengan sisa pasukan yang terluka dan hangus, Klan Pei menarik diri dari jalanan Kediaman Cang dengan tergesa-gesa, meninggalkan genangan darah dan abu zirah besi yang perlahan-lahan hanyut oleh air hujan.
Han Mian melangkah mendekati gerbang Kediaman Cang setelah pasukan Pei Ji menjauh. Ia menatap Qixuan dengan pandangan penuh selidik. "Tuan Muda Cang, malam ini orang tua ini telah memenuhi bagian dari kesepakatan kita yang dibawa oleh pengawalmu. Kuharap klanmu tidak lupa akan janji dukungan militer di masa depan."
Qixuan menurunkan sedikit payungnya, memperlihatkan sepasang mata biru kelamnya yang dingin. "Perdana Menteri Han tidak perlu khawatir. Selama Klan Pei runtuh, kerja sama kita akan selalu menguntungkan. Mo Chen, antar Perdana Menteri Han dan para menteri kembali dengan selamat."
Setelah semua orang pergi dan jalanan kembali sepi, hanya menyisakan aroma darah yang samar di bawah guyuran hujan, Qixuan menghela napas panjang. Kabut putih di sekitar tubuhnya perlahan menghilang.
Ia membalikkan badan, berjalan kembali memasuki kediamannya yang sunyi. Langkah kakinya terasa berat. Membuka dua pusaran energi dan mengendalikan formasi tingkat Bumi sekaligus tadi telah menguras hampir seluruh qi murni di dalam tubuhnya yang belum sempurna. Dadanya terasa sesak, dan rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum kembali merayap di sepanjang jalur meridiannya yang hancur.
Namun, ekspresi wajahnya tetap dingin tanpa emosi.
Ini baru permulaan. rencana penghancuran Dinasti Yan baru saja dimulai. Klan Pei telah terluka, faksi pengadilan telah terpecah, dan Kaisar Yan sebentar lagi akan menyadari bahwa anjing pemburu yang ia pelihara di ibukota ternyata memiliki taring yang bisa merobek tenggorokannya sendiri.
Qixuan melangkah menuju Aula Leluhur, bersiap untuk menghadapi malam-malam panjang meditasi berdarah berikutnya demi membuka pusaran ketiga. Jalan menuju puncak kekuasaan sejati tidak dibangun dengan kata-kata, melainkan dengan untaian sutra yang ditenun dari darah para musuhnya.
Ruang rahasia di bawah Altar Leluhur Klan Cang sangat dingin, udaranya kental oleh aroma obat luka dan kemenyan. Dinding batu giok hitam yang mengelilingi ruangan tersebut dirancang untuk menyerap fluktuasi energi spiritual, memastikan tidak ada satu pun aura yang bocor ke permukaan.
Di atas sebuah ranjang batu es purba, Jenderal Besar Cang Baotian terbaring tak sadarkan diri. Napasnya sangat pelan, nyaris tidak terlihat. Racun dari Bayangan Istana telah dihentikan penyebarannya oleh qi milik cucunya, walau demikian, organ dalamnya masih mengalami kerusakan parah.
Cang Qixuan duduk bersila di lantai, tepat tiga langkah dari ranjang batu tersebut. Wajah pemuda itu pucat pasi, peluh dingin membasahi keningnya. Mengendalikan Formasi Guntur Sembilan Siksaan sekaligus menekan racun kakeknya telah menguras habis cadangan qi murni di dalam tubuhnya. Meridiannya yang sudah lama hancur terasa seperti diremukkan kembali oleh ribuan semut api.
Jari-jemari Qixuan membentuk segel tangan yang rumit. Mulutnya sedikit terbuka, menyedot udara malam yang dingin ke dalam paru-parunya.
*Seni Pernapasan Menelan Langit.*
Teknik ini tidak menuntut kelembutan. Teknik ini menuntut penggunanya menjadi predator yang memangsa energi alam. Dua pusaran energi di area dada dan perut bawah Qixuan berputar dengan kecepatan gila, menyedot partikel spiritual dari udara sekitarnya secara paksa. Rasa sakit yang luar biasa menghantam sarafnya saat energi liar itu masuk tanpa disaring oleh meridian, langsung menabrak dinding organ dalamnya.
Urat-urat halus di pelipis dan lehernya menonjol, berwarna kebiruan. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat, menolak mengeluarkan suara rintihan sekecil apa pun. Kegelapan menyelimuti kesadarannya, seolah-olah ia sedang ditarik ke dasar lautan es abadi. Di dalam kegelapan itu, ia mengingat kembali ribuan keping emas yang telah ia hamburkan, wajah-wajah meremehkan dari para bangsawan, dan genangan darah prajuritnya. Hinaan dan kebencian itulah bahan bakar sejatinya.
Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur ibukota, seberkas cahaya biru kelam memancar dari tubuh Qixuan. Suara letupan pelan terdengar dari dalam tulangnya. Dua pusaran energinya perlahan melambat, memadat, dan memancarkan cahaya yang lebih solid dari sebelumnya. Kekuatannya yang berada di tingkat akhir Pengumpulan Qi kini telah stabil sepenuhnya. Ia bahkan bisa merasakan tanda-tanda embrio untuk pusaran ketiga mulai terbentuk di dekat titik nadinya yang paling vital.
Qixuan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya memancarkan ketajaman setajam pedang pusaka yang baru diasah. Napasnya teratur kembali. Meskipun lelah, tubuhnya kini dipenuhi oleh ledakan tenaga yang meremajakan.
"Tuan Muda," suara Mo Chen terdengar dari balik dinding batu. Pintu rahasia bergeser terbuka, menampilkan sosok pengawal berpakaian hitam tersebut yang memegang sebuah tabung bambu kecil berlapis malam merah—segel pesan tingkat tertinggi Jaring Bayangan.
"Bacakan," perintah Qixuan seraya berdiri, merapikan jubah sutranya yang kusut.
Mo Chen mematahkan segel malam tersebut, membuka gulungan kertas tipis di dalamnya. "Dari mata-mata kita di Aula Emas Istana. Sidang pagi kekaisaran baru saja dimulai. Perdana Menteri Han Mian memimpin serangan terhadap Klan Pei."
Sudut bibir Qixuan melengkung membentuk senyum dingin. "Bagus. Mari kita dengarkan bagaimana anjing-anjing itu saling menggigit."
Istana Naga Langit berdiri megah di pusat ibukota Jinling, pilar-pilarnya dilapisi emas murni dan atapnya berukirkan ribuan naga awan. Di dalam Aula Emas, atmosfernya begitu tegang hingga terasa sulit untuk bernapas. Ratusan pejabat berbaris rapi berdasarkan pangkat, kepala mereka menunduk dalam-dalam menghadap Singgasana Sembilan Naga.
Di balik tirai mutiara yang menggantung di depan singgasana, duduklah Kaisar Yan Wudi. Pria yang dulunya dikenal sebagai Penakluk Benua Timur itu kini tampak rapuh. Wajahnya tertutup bayangan tirai, hanya suara batuk berdahaknya yang sesekali memecah keheningan yang mencekam. Bau herbal menyengat dari tungku dupa di sampingnya gagal menyamarkan aroma pembusukan yang keluar dari tubuh sang penguasa tua.
Di bawah tangga singgasana, dua raksasa politik Dinasti Yan sedang saling berhadapan.
Perdana Menteri Kiri Pei Shiyuan berdiri dengan wajah muram. Di sampingnya berlutut putra sulungnya, Panglima Pei Ji, yang zirah emasnya masih menyisakan noda hangus akibat sambaran petir semalam.
Di seberang mereka, Perdana Menteri Kanan Han Mian berdiri tegak, memegang papan kayu kecil di depan dadanya. Di belakangnya, Menteri Pendapatan Lu Zhen memegang sebuah kotak kayu bertahtakan permata.
"Yang Mulia," suara Han Mian menggelegar, memecah kesunyian dewan. "Tadi malam, tanpa adanya titah resmi, Panglima Pei Ji menggerakkan tiga ribu Pengawal Kekaisaran menuju Kediaman Jenderal Besar Cang Baotian. Tindakan militer ilegal di dalam dinding ibukota adalah ancaman langsung terhadap keselamatan Yang Mulia dan merupakan bentuk makar yang nyata!"
Pei Shiyuan segera melangkah maju, wajahnya merah padam. "Yang Mulia, mohon jangan mendengarkan fitnah ini! Putra saya menerima informasi bahwa Jenderal Cang Baotian telah membelot dan melarikan diri dari Perbatasan Utara. Mengingat urgensi ancaman tersebut, Panglima Pei Ji bergerak cepat untuk mengamankan pemberontak sebelum mereka sempat menyusun kekuatan di dalam kota!"
"Mengamankan pemberontak?" Han Mian mendengus keras, nada suaranya penuh sarkasme. "Sejak kapan seorang Jenderal Besar yang telah membela negara ini selama empat puluh tahun dicap sebagai pemberontak tanpa adanya pengadilan militer? Sebaliknya, alasan sebenarnya Klan Pei bergerak begitu cepat adalah untuk menutupi kejahatan mereka sendiri!"
Han Mian memberi isyarat kepada Lu Zhen. Menteri Pendapatan itu melangkah maju dengan tangan gemetar, mengangkat kotak kayu ke atas.
"Yang Mulia," lapor Lu Zhen, suaranya berusaha keras disamarkan agar terdengar berani. "Bulan lalu, Departemen Pendapatan menemukan ketidaksesuaian besar dalam aliran dana logistik menuju Perbatasan Utara. Kami melakukan penyelidikan rahasia dan menemukan buku besar bayangan dari Kamar Dagang Emas yang terafiliasi dengan Klan Pei. Selama tiga tahun terakhir, mereka telah menyelundupkan sebagian besar jatah gandum militer dan menjualnya ke pasar gelap. Kekurangan pasukan Jenderal Cang di perbatasan bukan disebabkan oleh kekalahan perang, melainkan kelaparan akibat ulah pejabat korup di ibukota!"
Aula Emas seketika gempar. Para menteri saling berbisik dengan wajah pucat. Korupsi dana militer adalah kejahatan besar yang hukumannya adalah pemenggalan sembilan keturunan.
"Fitnah! Ini semua adalah rekayasa Han Mian untuk menjatuhkan klanku!" teriak Pei Shiyuan, menunjuk ke arah Lu Zhen. "Kalian memalsukan bukti itu semalam!"
"Buku besar itu terbuat dari kertas daun perak yang hanya diproduksi oleh percetakan keluarga Pei, lengkap dengan segel darah tetua klan kalian," Lu Zhen membalas dengan tegas, karena ia tahu persis dokumen yang dikirimkan oleh anak buah Cang Qixuan semalam adalah asli seratus persen. "Jika Perdana Menteri Pei tidak percaya, silakan serahkan pada Biro Penyelidik Istana untuk diperiksa keasliannya."
Tirai mutiara di depan singgasana tiba-tiba bergetar pelan. Suara ketukan jari berhias cincin giok pada sandaran kursi menggema, menghentikan seluruh perdebatan seketika.
"Cukup," suara Kaisar Yan Wudi parau, lemah, bercampur dengan aura penekanan tingkat Langit yang membuat lutut para pejabat gemetar.
Mata kaisar yang tajam bagai elang tua mengamati aula tersebut. Di dalam benaknya, roda gigi kelicikan berputar cepat. Ia sendiri yang memberi perintah rahasia pada Klan Pei semalam untuk memusnahkan Kediaman Cang. Ia sudah muak dengan pengaruh militer keluarga jenderal tersebut. Sayangnya, rencana sempurnanya hancur berantakan. Cang Baotian lolos dari Bayangan Istana, dan kini Klan Pei justru terjebak dalam skandal korupsi raksasa di hadapan publik.
Kaisar tahu Klan Pei memang melakukan korupsi, ia bahkan diam-diam membiarkannya agar memiliki kelemahan yang bisa digunakan untuk menekan mereka. Rencana awalnya adalah membersihkan Klan Cang terlebih dahulu, lalu membersihkan Klan Pei di kemudian hari. Kemunculan bukti ini secara tiba-tiba menghancurkan keseimbangan kekuasaan yang ia bangun dengan susah payah.
Jika ia memihak Klan Pei hari ini dan tetap menghukum Klan Cang, seluruh menteri akan melihatnya sebagai tiran yang melindungi koruptor. Pemberontakan massal dari faksi netral bisa terjadi.
"Panglima Pei Ji," Kaisar memanggil.
"Hamba, Yang Mulia," Pei Ji bersujud hingga dahinya menyentuh lantai emas.
"Kau menggerakkan pasukan tanpa dekrit tertulis dari Tanganku. Tindakanmu ceroboh dan melampaui batas wewenangmu. Sebagai hukuman, pangkatmu diturunkan dua tingkat, kau dicopot dari jabatan Panglima Pengawal Kekaisaran, dan gajimu ditahan selama lima tahun."
Wajah Pei Shiyuan memucat, sangat terkejut dengan keputusan tersebut. Kehilangan kendali atas Pengawal Kekaisaran adalah pukulan fatal bagi kekuatan militer Klan Pei di ibukota.
Kaisar belum selesai. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Han Mian. "Bukti korupsi ini akan diselidiki secara mendalam oleh Biro Penyelidik. Sampai hasilnya keluar, Perdana Menteri Pei akan dikenakan tahanan rumah."
"Yang Mulia, sungguh bijaksana!" Han Mian bersujud, menyembunyikan senyum kemenangan di balik lengan bajunya.
"Jangan terburu-buru merasa senang, Han Mian," tegur Kaisar dingin. "Meskipun tindakan Pei Ji salah, laporan tentang menghilangnya Jenderal Besar Cang Baotian dari posnya di perbatasan adalah fakta. Meninggalkan medan perang tanpa perintah adalah desersi tingkat tinggi."
Kaisar terbatuk lagi, mengusap setitik darah dari bibirnya dengan saputangan sutra.
"Keluarkan Dekrit Kekaisaran. Segel Harimau milik Jenderal Cang Baotian dicabut dan dikembalikan ke Istana. Kendali atas Pasukan Naga Hitam di perbatasan diserahkan sementara kepada Wakil Jenderal Mu Chenghai. Kediaman Cang di ibukota akan diawasi secara ketat. Semua tunjangan militer mereka dihentikan. Berhubung Cang Baotian belum terbukti melakukan pemberontakan langsung dan mengingat jasa masa lalunya... hukuman mati tidak akan dijatuhkan. Ahli warisnya, Cang Qixuan, diizinkan mempertahankan gelar kebangsawanannya."
Keputusan itu dijatuhkan. Sidang dibubarkan dengan atmosfer yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.
Di dalam tandunya yang mewah saat menuju kediamannya, Han Mian merenung panjang. Klan Pei telah dilumpuhkan sebagian, ini adalah kemenangan besar. Walaupun demikian, ia merasa ada tangan tak kasat mata yang merancang seluruh peristiwa semalam. Mengingat kembali janji Tuan Muda Cang, Han Mian bergidik ngeri. Mungkinkah pemuda hidung belang yang terkenal bodoh itu adalah dalang di balik semua badai ini?
Kembali ke Kediaman Cang.
Qixuan duduk di paviliun tamannya, menyesap teh daun teratai dengan santai. Mo Chen berdiri di sampingnya seperti bayangan tak bernyawa. Laporan dari pengadilan telah ia dengar sepenuhnya.
"Sempurna," Qixuan meletakkan cangkir tehnya. "Kaisar tua itu bertindak persis seperti yang kuharapkan. Mengorbankan posisi Pei Ji untuk menenangkan publik, menahan Klan Pei untuk sementara waktu, mencabut kekuatan militer kita, lalu membiarkan kita hidup sebagai tahanan di dalam kota."
"Tuan Muda, tanpa Segel Harimau, Pasukan Naga Hitam di perbatasan kini sepenuhnya jatuh ke tangan Mu Chenghai, wakil jenderal yang mengkhianati Tuan Besar. Apakah kita akan membiarkan ini terjadi?" tanya Mo Chen. Suaranya mengandung sedikit keraguan atas keselamatan pasukan yang dulu ia bela tersebut.
Qixuan tertawa pelan. Tawanya terdengar merdu sekaligus mengintimidasi. "Mo Chen, Segel Harimau itu hanyalah bongkahan emas berbentuk binatang. Kekuatan sejati pasukan tidak terletak pada logam mati, melainkan pada perut yang kenyang dan dompet yang tebal. Mu Chenghai mendapat segelnya, itu benar. Pertanyaannya adalah, bisakah dia membayar gaji ratusan ribu prajurit itu saat musim dingin tiba bulan depan?"
Mo Chen mengerutkan kening, mencoba memahami.
"Mulai hari ini, potong aliran dana gelap ke kamp militer utara," perintah Qixuan matanya berkilat licik. "Biarkan Kaisar Yan dan Mu Chenghai merasakan beratnya membiayai pasukan elit tanpa bantuan kekayaan rahasia Klan Cang. Dalam dua bulan, saat tentara mulai kelaparan dan persediaan senjata menipis, mereka akan memohon kepada kita untuk mengambil kembali segel tersebut. Kesetiaan yang dibeli dengan penderitaan adalah kesetiaan yang palsu. Aku akan membuat mereka kelaparan, dan kemudian membelinya kembali dengan harga yang jauh lebih murah."
Seorang pelayan wanita berjubah hijau melangkah masuk ke area paviliun, membungkuk memberi hormat. Ia adalah bawahan langsung Nyonya Su Liyin dari Jaring Bayangan.
"Tuan Muda, Nyonya Su menyampaikan pesan," ucap pelayan tersebut, menyerahkan sebuah undangan berlapis beludru hitam. "Malam ini, Pelelangan Bawah Tanah Gedung Menara Kaca akan mengadakan lelang besar. Salah satu barang yang akan dilelang adalah 'Akar Nadi Naga' berusia tiga ratus tahun."
Mata Qixuan berbinar mendengar nama benda tersebut. Akar Nadi Naga adalah salah satu bahan herbal spiritual tingkat tinggi, sangat berharga bagi kultivator berelemen tanah. Bagi Qixuan, benda itu adalah pemicu yang tepat untuk membuka pusaran ketiga dalam teknik Menelan Langit-nya, sekaligus menyempurnakan obat untuk memperbaiki jantung kakeknya.
"Apakah keluarga lain tahu tentang akar ini?" tanya Qixuan.
"Informasi ini cukup tersebar di kalangan atas, Tuan Muda," lapor pelayan itu. "Banyak tuan muda dari klan bangsawan lain bersiap untuk memperebutkannya. Tuan Muda Ketiga dari Klan Zhao, dan bahkan beberapa utusan dari sekte luar kota."
"Bagus sekali," Qixuan berdiri, merentangkan tangannya perlahan. Tulang-tulangnya berbunyi ringan. "Aku sudah menahan diri selama berjam-jam. Jika Tuan Muda Cang tidak menghamburkan puluhan ribu emas hari ini, penduduk ibukota pasti akan mengira aku sedang sakit parah."
Ia menoleh pada pengawalnya. "Mo Chen, siapkan kereta kuda yang paling mewah. Pasang bendera dengan lambang klan kita sebesar mungkin. Bawa lima peti emas murni dari gudang bawah tanah. Hari ini, kita akan membuat semua orang di pelelangan menangis darah."
Gedung Menara Kaca terletak di Distrik Pusat Jinling. Bangunan setinggi lima lantai itu terbuat dari batu kristal dan kayu ulin yang memancarkan cahaya berkilauan di bawah sinar rembulan. Ini adalah tempat pelelangan kelas atas di mana uang receh tidak berlaku; di sini, kekayaan diukur dalam bentuk permata spiritual dan cek emas berskala kekaisaran.
Kereta kuda milik Kediaman Cang yang berlapis daun emas dan ditarik oleh empat kuda bersurai putih tiba di pelataran menara dengan angkuh. Kedatangannya langsung menarik perhatian puluhan penjaga bersenjata dan tamu undangan lainnya.
Qixuan turun dari kereta dengan langkah gontai khas pemabuk. Pakaiannya kali ini sangat menyilaukan mata: jubah sutra merah terang dengan sulaman benang perak berbentuk burung merak, lengkap dengan kipas lipat bertulang giok di tangannya. Ia mengapit lengan seorang pelayan wanita cantik di sisi kirinya, meraba pinggangnya secara terang-terangan sambil tertawa keras.
Tingkah lakunya persis seperti gambaran tuan muda tak berguna yang tidak peduli bahwa klannya baru saja kehilangan kekuatan militernya siang tadi.
Beberapa bangsawan yang melihatnya mencibir jijik.
"Lihat si sampah itu. Kakeknya kehilangan posisinya, klannya sedang diawasi ketat, dan dia masih berani pamer kekayaan di sini."
"Kudengar perbendaharaan Klan Cang sudah hampir kosong. Dia pasti menjual perabotan ibunya untuk bisa masuk ke tempat ini."
Qixuan mengabaikan bisikan-bisikan itu. Ia melemparkan sebuah kantong kecil berisi seratus keping emas ke dada penjaga pintu hanya sebagai uang tip untuk membukakan jalan. Penjaga itu menangkapnya dengan panik dan segera membungkuk dalam-dalam.
Memasuki ruang lelang bawah tanah, suasananya sangat berbeda. Ruangan berbentuk melingkar itu dihiasi karpet beludru tebal. Ratusan kursi berlapis emas tersusun rapi mengelilingi panggung marmer putih di tengah. Di lantai dua, terdapat ruang-ruang VVIP yang tertutup tirai tipis untuk menjaga identitas para penawar tingkat tinggi.
Qixuan tidak memilih ruang VVIP. Ia justru duduk di kursi baris pertama yang paling mencolok, meletakkan kakinya dengan santai di atas meja kecil di depannya. Mo Chen berdiri diam di belakangnya bersama lima orang kuli panggul berbadan besar yang memikul peti kayu tebal bertuliskan karakter 'Emas'.
Lelang dimulai. Berbagai senjata spiritual, baju pelindung, dan pil obat tingkat rendah hingga menengah laku terjual. Qixuan tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Ia hanya sibuk mengipas dirinya dan menggoda pelayan wanita yang menuangkan anggur untuknya.
Hingga akhirnya, juru lelang tua di atas panggung membuka sebuah kotak batu giok yang memancarkan kabut tipis keperakan. Di dalamnya terdapat akar tanaman berwarna cokelat keemasan yang bentuknya meliuk menyerupai seekor naga kecil. Energi spiritual yang pekat seketika menyebar ke seluruh ruangan, membuat banyak orang tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.
"Para tamu yang terhormat, ini adalah puncak acara kita malam ini," juru lelang mengumumkan dengan senyum lebar. "Akar Nadi Naga berusia tiga ratus tahun, dipanen langsung dari kedalaman Lembah Hantu Merah. Sangat berguna untuk memperkuat meridian, memperpanjang umur, dan memecahkan kemacetan kultivasi tingkat Bumi. Harga awal... sepuluh ribu tael emas! Setiap penawaran minimal seribu tael!"
Harga yang fantastis. Bagi sekte kecil, jumlah itu cukup untuk biaya operasional selama satu dekade.
"Sebelas ribu tael!" seru seorang pria buncit dari barisan tengah.
"Tiga belas ribu tael!" sahut Tuan Muda Ketiga Zhao dari ruang lantai dua.
"Lima belas ribu tael!" suara seorang wanita yang jernih namun dingin terdengar dari ruang VVIP nomor satu di lantai atas.
Mendengar suara wanita itu, seisi ruangan terdiam. Semua orang di ibukota tahu siapa pemilik ruangan nomor satu. Itu adalah Putri Yan Ling, putri bungsu kesayangan Kaisar. Beliau terkenal sebagai jenius kultivasi berwajah dingin yang sangat dihormati di sekte-sekte besar. Tidak ada yang berani bersaing dengannya demi menghindari murka Istana.
Juru lelang tersenyum puas. "Lima belas ribu tael dari Ruang Nomor Satu. Apakah ada—"
*Brak!*
Suara kayu yang ditendang bergema keras di ruangan yang sunyi itu.
Semua mata menoleh ke barisan depan. Cang Qixuan baru saja menendang meja kecil di depannya hingga terbalik. Ia bangkit berdiri, merapikan jubah merahnya, lalu melambaikan kipas gioknya dengan gerakan yang luar biasa arogan.
"Lima belas ribu tael? Kalian menyebut ini pelelangan barang berharga atau pasar sayur loak?" Qixuan berbicara dengan suara keras dan mengejek, memastikan seluruh ruangan mendengarnya. "Benda sekecil itu hanya pantas digunakan sebagai mainan kunyah anjing penjaga di rumahku."
Ia menjentikkan jarinya ke arah kuli panggul di belakangnya. "Mo Chen, buka petinya."
Mo Chen menendang kunci kelima peti kayu tebal itu secara berurutan. Kelimanya terbuka secara bersamaan, memantulkan cahaya kuning emas yang sangat menyilaukan mata. Ratusan batangan emas murni tersusun rapi di dalamnya, memancarkan aura kekayaan yang sanggup membutakan mata manusia fana.
"Lima puluh ribu tael emas," ucap Qixuan dengan nada malas, seolah ia baru saja membeli sebuah apel di pinggir jalan. "Bungkus akar rongsokan itu. Aku ingin pulang cepat, arakku sudah dingin."
Keheningan mutlak melanda ruangan tersebut. Lima puluh ribu tael emas?! Untuk satu akar spiritual? Harga itu lima kali lipat lebih mahal dari harga pasar tertingginya! Ini bukan lagi pelelangan, ini adalah pembuangan uang yang gila-gilaan!
Di dalam ruang VVIP nomor satu, Putri Yan Ling yang mengenakan kerudung putih mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Matanya yang dingin menatap tajam menembus tirai, mengarah tepat pada sosok Qixuan yang sedang menguap bosan.
"Cang Qixuan... si sampah tidak berguna itu," desis Putri Yan Ling. "Berani sekali dia merusak rencanaku. Akar itu adalah bahan utama pil untuk merawat penyakit Ayahanda Kaisar."
"Tuan Putri," bisik pengawal tua di sebelahnya. "Apakah kita harus menambah penawaran? Perbendaharaan rahasia kita hanya membawa tiga puluh ribu tael malam ini."
Putri Yan Ling menarik napas dalam, berusaha menenangkan gejolak emosinya. "Tidak. Biarkan si bodoh itu membelinya. Menghabiskan sisa harta klannya yang sedang dalam pengawasan Istana hanya akan mempercepat kejatuhan mereka. Saat Klan Cang dihancurkan nanti, semua hartanya akan kembali ke Istana pula. Kita akan merampasnya setelah ia keluar dari gedung ini."
Di atas panggung, juru lelang menelan ludah dengan susah payah, tangannya gemetar memegang palu kayu. "L-lima puluh ribu tael dari Tuan Muda Cang! Apakah ada penawaran lain?"
Hening. Tidak ada satupun yang gila atau sekaya itu untuk melawannya.
"Tiga, dua, satu. Terjual kepada Tuan Muda Cang!"
Qixuan menyeringai lebar. Ia memberi isyarat kepada pelayannya untuk mengambil kotak giok tersebut. Saat akar Nadi Naga itu berada di tangannya, denyut energi di dalam tubuhnya merespons dengan liar. Pusaran ketiga di dalam tubuhnya seakan meraung kelaparan, ingin segera melahap energi bumi yang terkandung di dalam akar kuno tersebut.
Dengan akar ini, bukan hanya jantung kakeknya yang akan terselamatkan, langkah kakinya menuju tingkat kultivasi Pembentukan Fondasi kini berada tepat di depan mata.
"Kerja bagus," Qixuan memasukkan kotak giok ke dalam lengan bajunya. Ia memutar tubuhnya untuk berjalan keluar, meninggalkan peti-peti emasnya untuk diurus oleh petugas pelelangan.
Tepat saat ia melangkah menuju lorong keluar, sebuah niat membunuh yang sangat tipis—setipis benang sutra—terasa menyentuh bagian belakang lehernya. Niat membunuh itu sangat ahli disamarkan, berasal dari bayangan pilar di dekat pintu keluar.
Langkah kaki Qixuan sedikit melambat, namun wajah bodoh dan sombongnya tidak berubah sedikit pun. Ia terus berjalan sambil bersiul sumbang, mengayun-ayunkan kipasnya.
Di balik kelopak matanya yang setengah tertutup karena mabuk palsu, Qixuan mengkalkulasi jarak, waktu, dan kekuatan musuh rahasia di depannya. Pembunuh bayaran tingkat Pembentukan Fondasi tahap akhir. Mungkin dikirim oleh saingannya dalam pelelangan tadi, atau mungkin anjing pelacak Istana yang berniat membunuhnya dalam 'insiden perampokan' acak.
Siapapun itu, Qixuan sudah siap. Uang lima puluh ribu emas yang ia hamburkan malam ini tidak hanya memberinya barang ajaib, melainkan juga sebuah panggung yang sempurna. Panggung untuk menunjukkan bahwa meskipun dia seorang tuan muda yang boros dan tanpa meridian, membunuhnya di jalanan ibukota adalah tugas yang jauh lebih sulit daripada membunuh naga di langit.
"Mo Chen," panggil Qixuan dengan suara manja yang keras, tangannya pura-pura tersandung ke arah pilar tempat si pembunuh bersembunyi. "Kakiku gatal. Potong benda apapun yang bersembunyi di balik bayangan itu."
Kilatan pedang hitam menyapu kegelapan, disambut oleh percikan darah segar yang menodai karpet beludru merah, menjadi penutup malam yang sempurna bagi sang penguasa sutra dari bayangan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!