NovelToon NovelToon

Jodoh Pak Dokter

Chapter 1

Aroma karbol yang tajam kian menusuk indra penciuman nya Shanum sebelum kelopak matanya benar-benar terbuka. Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya yang masih kabur. Perlahan, kesadarannya terkumpul, dan hal pertama yang ia ingat adalah hantaman keras mobil hitam itu.

Seketika, tangan Shanum bergerak cepat meraba perutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat jemarinya tidak lagi merasakan gundukan hangat yang selama tujuh bulan ini menjadi tumpuan harapannya. Perutnya kini rata, kosong, dan dingin.

"Bayiku... mana bayiku?!" teriak Shanum. Suaranya pecah, mengguncang kesunyian bangsal rumah sakit.

Pintu terbuka kasar. Bu Siti, sang nenek, melangkah masuk dengan napas tersengal. Melihat cucunya meronta di atas ranjang, air mata wanita tua itu langsung luruh. Ia segera memeluk pundak Shanum yang bergetar hebat.

"Nduk, kamu yang sabar, Nduk... Istighfar," bisik Bu Siti dengan suara parau.

"Nek, mana bayiku, Nek? Katakan padaku dia baik-baik saja, kan! Dia cuma dipindahkan ke ruangan lain, kan?" Shanum mencengkeram lengan baju neneknya, matanya membelalak mencari kepastian.

Bu Siti hanya bisa terdiam, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang lebih dalam. Keheningan itu menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Shanum. Kecelakaan ojek itu telah merenggut segalanya, bayi yang ia pertahankan meski sang suami tega menceraikannya lewat pesan singkat dari negeri seberang sebulan yang lalu. Kini, di saat ia merasa sudah berada di titik nadir, takdir justru merampas satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup.

Dua Minggu Kemudian

Matahari sore menyelinap masuk melalui celah jendela kamar yang remang. Di sudut ruangan, sebuah mesin jahit tua milik mendiang ibunya berdiri membisu. Shanum duduk bersimpuh di lantai, mendekap sepotong baju bayi perempuan berwarna merah muda dengan detail renda yang cantik, baju yang ia jahit sendiri dengan penuh cinta setiap malam.

Ia menciumi kain lembut itu, membayangkan aroma bayi yang seharusnya kini ia timang. Air matanya kembali jatuh membasahi jahitan yang ia buat dengan sisa-sisa harapan.

"Putri kecilku..." bisik Shanum lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sepi. "Rasanya Bunda ingin sekali pergi menyusul mu, Nak. Dunia ini terlalu dingin untuk Bunda hadapi sendirian."

Ia terdiam sejenak, menoleh ke arah pintu kamar di mana terdengar langkah kaki Bu Siti yang menyeret, sesekali terdengar rintihan kecil karena penyakit jantungnya yang sering kumat. Shanum memejamkan mata erat, memeluk baju bayi itu lebih kencang ke dadanya.

"Namun, Bunda tidak bisa meninggalkan Nenek Siti seorang diri di sini. Hanya beliau yang Bunda punya, dan hanya Bunda yang beliau miliki."

Dalam kesedihan yang membiru, Shanum dipaksa untuk tetap bernapas, meski jiwanya seolah sudah ikut terkubur bersama malaikat kecilnya.

*

*

Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari saat kesunyian rumah petak itu pecah oleh suara erangan tertahan. Shanum, yang belum sepenuhnya terlelap karena masih memeluk baju bayi mungilnya, tersentak bangun. Ia mendapati Bu Siti sedang mencengkeram dada kirinya dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin yang membasahi keningnya.

"Nek! Nenek kenapa?" suara Shanum bergetar hebat.

"Sakit, Nduk... rasanya sesak sekali," rintih Bu Siti dengan napas yang tersengal.

Tanpa pikir panjang, Shanum segera mencari bantuan. Dengan sisa tabungan yang kian menipis, ia membawa sang nenek ke Rumah Sakit Citra Medika. Di dalam taksi, pikiran Shanum berkecamuk. Esok pagi seharusnya menjadi hari pertamanya bekerja sebagai ART di sebuah rumah mewah di komplek sebelah. Ia sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk menyambung hidup, namun kini nyawa neneknya sedang di ujung tanduk.

Di Depan Ruang IGD

Setelah pemeriksaan cepat, seorang perawat menghampiri Shanum dengan raut wajahnya yang serius.

"Mbak Shanum, kondisi Bu Siti kritis. Ada penyumbatan serius dan beliau harus segera menjalani operasi pasang ring malam ini juga. Ini rincian biayanya, mohon segera diurus ke bagian administrasi agar tindakan bisa segera dilakukan."

Shanum menerima selembar kertas itu. Angka yang tertera di sana seakan menghantam jantungnya lebih keras dari kecelakaan dua minggu yang lalu. Puluhan juta rupiah. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam?

Shanum terduduk lemas di bangku panjang koridor. Ia menangkupkan wajah ke telapak tangannya. "Ya Allah... kenapa cobaan Mu datang bertubi-tubi? Bayiku pergi, suamiku berkhianat, dan sekarang Nenek..." ia berbisik lirih, hampir menyerah pada takdir.

Namun, di tengah keputusasaannya, deru langkah kaki yang tegas mendekat. Seorang pria tinggi dengan jas putih dokter yang rapi lewat di depannya. Di belakangnya, beberapa asisten tampak sibuk mencatat instruksinya.

"Siapkan ruang operasi sekarang. Saya yang akan menangani pasien serangan jantung di bed nomor tiga," ucap dokter itu dengan suara bariton yang tenang namun penuh wibawa.

Ia adalah Dokter Daniel Lee, seorang spesialis jantung yang baru saja dipindahtugaskan dari salah satu rumah sakit ternama di Singapura. Kabarnya, ia adalah "si tangan dingin" yang sanggup menyelamatkan nyawa di saat-saat paling kritis sekalipun.

*

*

Sore itu, Shanum kembali ke rumah sakit dengan tubuh yang letih luar biasa setelah seharian bekerja di rumah majikan barunya. Ia beruntung sang majikan memberinya izin pulang lebih awal setelah mendengar musibah yang menimpanya.

Di lobi, ia berpapasan dengan Pak Budi, petugas keamanan rumah sakit yang sudah mengenalnya sejak lama.

"Mbak Shanum! Wajahnya kok kuyu sekali? Oh iya, beruntung sekali Bu Siti ditangani langsung oleh dokter baru itu," sapa Pak Budi ramah.

"Dokter baru, Pak?" tanya Shanum bingung.

"Lho, Mbak belum tahu? Itu Dokter Daniel Lee. Dia baru pindah dari Singapura. Bukan cuma hebat dan masuk banyak artikel kesehatan internasional, tapi beliau itu terkenal sangat dermawan. Sering sekali membantu biaya pasien yang kurang mampu kalau beliau lihat keluarganya sungguh-sungguh ingin sembuh," jelas Pak Budi antusias.

Mendengar hal itu, ada binar harapan yang kembali menyala di matanya Shanum. Ia teringat sosok dokter yang ia lihat sekilas semalam, sosok yang terlihat begitu tenang namun mematikan keputusasaan.

"Dokter Daniel Lee..." gumam Shanum. "Apakah beliau jawaban dari doa-doaku, Pak?"

Shanum segera melangkah menuju ruang rawat kelas tiga, tempat neneknya berada. Ia bertekad untuk mencari keberanian menemui Dokter Daniel. Bukan hanya untuk memohon kesembuhan neneknya, tapi juga untuk berterima kasih karena telah memberi secercah cahaya di tengah kegelapan hidupnya yang seolah tak berujung.

Bersambung...

Chapter 2

Rasa syukur yang tak terhingga membuncah di dadanya Shanum saat melihat monitor di ruang High Care Unit (HCU) menunjukkan grafik detak jantung Bu Siti yang kian stabil. Operasi pasang ring itu berjalan lancar.

Shanum berdiri di depan meja perawat, berharap bisa bertemu langsung dengan Dokter Daniel Lee untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, sekaligus membicarakan masalah biaya yang masih mengganjal di pikirannya.

"Maaf, Mbak Shanum," ucap suster jaga dengan nada menyesal. "Dokter Daniel baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu. Beliau ada keperluan medis yang sangat mendesak di luar rumah sakit."

Shanum menghela napas, menyembunyikan sedikit kekecewaan di wajahnya yang lelah. "Oh, begitu ya, Sus. Ya sudah tidak apa-apa. Besok sore selepas saya pulang bekerja, saya akan coba menemui beliau lagi."

Keesokan Harinya di Ruang Rawat

Matahari pagi menembus celah gorden kamar rawat kelas tiga. Bu Siti sudah dipindahkan dari ruang HCU. Beliau kini duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang pasien, wajahnya yang kemarin pucat pasi kini mulai dialiri semburat darah segar.

Pintu kamar berdecit pelan. Bu Siti cukup terkejut saat melihat sosok jangkung berjas putih melangkah masuk bersama seorang suster. Gurat ketampanan dan karisma yang menenangkan langsung memenuhi ruangan itu.

"Selamat pagi, Ibu Siti. Bagaimana kondisi Anda saat ini? Apakah Anda sudah merasa baikan?" tanya Dokter Daniel ramah sambil melemparkan senyumnya yang menawan.

Bu Siti tersenyum lemah namun tulus, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. "Alhamdulillah, Dokter. Terima kasih banyak karena Dokter sudah menyelamatkan nyawa saya..."

Dokter Daniel membalasnya dengan anggukan hangat. "Berterima kasihlah kepada Sang Pencipta, Ibu. Saya hanyalah sebagai perantara."

Dengan gerakan yang terampil dan telaten, Dokter Daniel mulai melakukan pemeriksaan serius pada dada dan denyut nadi Bu Siti menggunakan stetoskopnya. Detik berikutnya, sebuah senyuman tipis namun puas terukir di bibir sang dokter. Operasinya sukses besar, kondisi Bu Siti jauh melampaui perkiraan medisnya untuk pasien seusia beliau.

Dokter Daniel kemudian merapikan kembali selimut Bu Siti dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sepi.

"Ibu Siti, tidak ada yang menunggu Ibu di sini? Padahal pascaoperasi seperti ini, harus ada yang menjaga Ibu minimal satu orang untuk membantu keperluan Ibu," tanya Dokter Daniel dengan nada penuh perhatian.

Mendengar pertanyaan itu, gurat kesedihan mendalam kembali membayang di wajah keriput Bu Siti. Beliau menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

"Cucu saya, Shanum... Dia cucu satu-satunya yang saya punya, Dok. Saat ini dia terpaksa harus pergi bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di perumahan dekat sini. Nanti sore setelah pulang kerja, baru dia ke sini untuk menjaga saya sampai pagi," ujar Bu Siti lirih.

Dokter Daniel mendengarkan dengan saksama, dahinya agak mengernyit heran. "Bekerja sampai sore lalu menjaga Ibu semalaman? Apa dia tidak kelelahan?"

"Mau bagaimana lagi, Dokter... Shanum itu tulang punggung saya satu-satunya sekarang," air mata Bu Siti mulai menetes saat ia teringat nasib malang cucunya. "Anak itu baru saja kehilangan bayinya dua minggu lalu karena kecelakaan ojek, tepat di usia kandungan tujuh bulan. Suaminya yang jadi TKI di luar negeri juga tega menceraikannya sebulan yang lalu. Sekarang, dia harus membanting tulang sendirian demi mencari biaya pengobatan saya..."

Mendengar cerita itu, Dokter Daniel tertegun. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar rentetan kemalangan yang menimpa seorang wanita muda dalam waktu yang begitu singkat. Rasa iba yang mendalam seketika merayapi hatinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang dipikul oleh cucu pasiennya itu.

Dokter Daniel mendekat, memegang pundak Bu Siti dengan lembut untuk menenangkannya.

"Semoga Mbak Shanum selalu kuat menghadapi hidup ini ya, Bu. Bilang padanya jangan mudah menyerah, begitu juga dengan Bu Siti. Ibu harus cepat sembuh agar tidak membuat Mbak Shanum semakin cemas," ucap Dokter Daniel dengan suara yang begitu tulus.

Mendengar untaian kalimat yang begitu menyejukkan, Bu Siti langsung meraih dan menggenggam erat tangan Dokter Daniel dengan kedua tangannya yang gemetar.

"Terima kasih, Dokter... Terima kasih banyak," bisik Bu Siti penuh haru.

Sepanjang hidupnya yang serba kekurangan, baru kali ini Bu Siti bertemu dengan seorang dokter yang tidak hanya hebat dan dihormati, tetapi juga memiliki hati selembut malaikat seperti Dokter Daniel Lee.

*

*

Matahari mulai condong ke barat saat Shanum melangkah gontai meninggalkan meja administrasi Rumah Sakit Citra Medika. Untuk kedua kalinya, ia harus menelan kekecewaan karena lagi-lagi gagal menemui sang dokter spesialis jantung.

"Maaf, Mbak Shanum. Dokter Daniel baru saja masuk ke ruang operasi untuk tindakan darurat," ucap suster jaga dengan raut wajah menyesal.

Shanum menghela napas berat, bahunya merosot lesu. "Kenapa susah sekali bertemu dengan dokter dermawan itu!" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Dengan perasaan campur aduk, Shanum akhirnya memutuskan untuk langsung menuju ruang rawat inap kelas tiga. Namun, rasa kecewanya seketika menguap begitu ia membuka pintu kamar. Di atas ranjang, Bu Siti sudah duduk tegak dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar, tidak ada lagi rona pucat pasi yang mengerikan seperti beberapa hari yang lalu.

"Nenek!" Shanum bergegas mendekat dan langsung memeluk erat tubuh ringkih sang nenek, menumpahkan segala rasa rindu dan khawatirnya. "Bagaimana kabarnya hari ini? Ada yang sakit?"

Bu Siti terkekeh pelan, mengusap punggung cucunya. "Alhamdulillah, Nenek sudah sehat sekali, Num. Ini semua berkat Dokter Daniel. Tadi pagi dia memeriksa Nenek. Ya Allah, Num... dokternya baik sekali, ramah, sopan, pinter lagi!"

Mendengar nama itu disebut, Shanum menoleh. "Oh ya? Jadi Dokter Daniel yang periksa Nenek?"

Bu Siti mengangguk antusias, matanya berbinar-binar. "Kalau kamu bertemu dengan Dokter Daniel, Nenek yakin kamu bakalan jatuh hati, Num. Kalau Nenek masih muda saja, ya minimal seusiamu lah, pasti Nenek naksir...!" ucap Bu Siti sambil tertawa cekikikan.

Shanum sampai menepuk jidatnya sendiri, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Nenek genit ih! Lihat cowok bening dikit langsung kepincut!" goda Shanum sambil menahan tawa. Sudah lama ia tidak melihat neneknya seceria ini.

"Tapi beneran, Num! Dokter Daniel itu sangat tampan, mirip sama aktor Korea yang pernah Nenek tonton di TV tetangga dulu!" Bu Siti tetap tidak mau kalah.

Shanum kembali menghela napasnya, kali ini sambil tersenyum geli. "Sudahlah, Nek. Tambah ke sini omongan Nenek tambah ngawur, ah."

"Kau ini kalau dibilangin suka saja seperti itu. Pokoknya nanti pas kamu lihat sendiri, Nenek yakin kamu akan terpesona... Mudah-mudahan saja kamu dan Dokter Daniel berjodoh!" Sang nenek kembali tertawa cekikikan, menggoda cucu satu-satunya itu.

"Nenek...!" balas Shanum dengan pipi yang sedikit merona, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang nenek yang semakin menjadi-jadi.

Keesokan Harinya

Pagi hari berikutnya, suasana di sekitar area luar Rumah Sakit Citra Medika tampak ramai. Shanum berjalan setengah berlari menyusuri trotoar menuju halte bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka yang kritis, ia hampir saja kesiangan.

Karena terburu-buru dan terus melihat ke arah jalan, Shanum tidak memperhatikan langkah orang dari arah berlawanan.

Bruk!

Bahu Shanum menyenggol keras dada bidang seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya. Sentuhan itu membuat beberapa berkas yang dipegang sang pria hampir terjatuh.

"Maaf, maaf! Saya tidak sengaja!" ucap Shanum panik tanpa melihat siapa yang ditabraknya.

Pria itu reflex menahan lengan Shanum agar tidak terjatuh. Saat itulah, kedua mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Shanum tertegun sesaat melihat sepasang mata tajam namun teduh di balik kacamata tipis pria itu. Namun, rasa takut terlambat kerja mengalahkan segalanya. Shanum buru-buru menarik tangannya dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, pria yang tak lain adalah Dokter Daniel Lee, terpaku di tempatnya berdiri. Ia memandangi punggung wanita yang menjauh itu dengan pandangan takjub. Paras cantik alami yang berpadu dengan hijab yang melekat rapi di kepalanya sempat membuat detak jantung sang dokter berdesir aneh.

"Cantik..." bisik Dokter Daniel pelan.

Sebuah senyuman tipis yang jarang terlihat akhirnya terukir di bibirnya. Pria itu kemudian merapikan jasnya dan bergegas masuk menuju lobby rumah sakit.

Begitu Dokter Daniel melangkah masuk ke dalam lobby, suasana langsung berubah riuh secara berbisik. Para wanita jomblo yang bekerja di bagian resepsionis dan administrasi yang sudah menantikan kehadirannya sedari tadi langsung heboh.

"Woy, Oppa Lee kesayangan kita sudah datang!" bisik salah satu petugas resepsionis dengan heboh kepada teman-temannya.

Beberapa wanita lainnya mulai sibuk merapikan seragam, membetulkan riasan, dan memastikan penampilan mereka terlihat sempurna di hadapan pria matang dengan status duda anak satu itu. Di rumah sakit ini, Dokter Daniel adalah sosok idola yang begitu dipuja.

Namun, Dokter Daniel Lee tetaplah Dokter Daniel. Langkah kakinya terdengar tegas, wajahnya kembali bertukar menjadi dingin dan datar seolah tak memedulikan para wanita yang mencoba menebarkan pesona padanya.

Semenjak bercerai dengan mantan istrinya tiga bulan yang lalu, sikap Daniel memang berubah menjadi sangat dingin, tertutup, dan menjaga jarak dengan wanita. Namun, kebekuan sikapnya itu akan runtuh seketika saat ia berhadapan dengan pasiennya. Di dalam ruang rawat, ia akan kembali menjadi sosok dokter yang sangat baik, lembut, dan hangat, sosok malaikat penolong yang sesungguhnya.

Bersambung...

Chapter 3

Aroma ruangan rumah sakit yang khas tidak mengurangi kehangatan yang tercipta di dalam kamar rawat kelas tiga itu. Dokter Daniel Lee baru saja selesai memeriksa perkembangan kondisi fisik Bu Siti. Sambil mencatat sesuatu di papan klip medisnya, ia mendengarkan dengan saksama penuturan wanita tua di hadapannya.

Entah mengapa, Daniel selalu merasa betah berlama-lama di kamar ini. Ia sangat kagum mendengar kisah ketegaran hidup Bu Siti dan cucunya, Shanum. Di saat badai musibah datang menghantam silih berganti, dimana wanita kehilangan bayi, dikhianati suami, hingga penyakit jantung yang mendadak, wanita muda bernama Shanum itu masih sanggup bangkit berjuang demi kesembuhan sang nenek. Keteguhan hati seperti itu adalah hal yang sangat langka di mata Daniel.

Bu Siti yang melihat gurat keramahan di wajah sang dokter pun memberanikan diri untuk berbicara.

"Dokter, sebenarnya cucu saya ingin sekali bertemu dengan Dokter untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Tapi setiap sore ke sini, selalu saja tidak pas waktunya. Bisakah hari ini Dokter bertemu dengan cucu saya, Shanum?" tanya Bu Siti penuh harap.

Dokter Daniel melirik jam tangannya sejenak, lalu beralih menatap Bu Siti. Sebuah senyuman lebar yang tulus terukir di wajahnya yang tampan.

"Sepertinya bisa, Bu. Kebetulan sore ini saya tidak ada jadwal praktik di tempat lain maupun jadwal operasi darurat. Ya sudah, saya tunggu cucu Ibu di sini," jawab Daniel dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa.

Waktu terus merambat naik. Rasa cemas mulai merayapi hati Bu Siti. Matanya berulang kali melirik ke arah jam dinding yang berdetak nyaring. Sudah lewat lima belas menit dari waktu biasanya, namun tanda-tanda kehadiran Shanum belum juga terlihat.

Sementara itu, Dokter Daniel yang duduk di kursi samping ranjang juga sesekali melirik jam tangan mewahnya. Ia memiliki banyak urusan, namun entah ada dorongan apa yang membuatnya tetap setia bertahan di ruangan itu.

Melihat sang dokter mulai memeriksa arlojinya lagi, Bu Siti merasa tidak enak hati. "Duh, maaf ya Dokter, jadi menyita waktu Dokter Daniel..."

Daniel tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Tidak apa-apa, Bu. Tapi sepertinya cucu Ibu..."

Ceklek.

"Assalamualaikum, Nek!"

Pintu kamar terbuka dengan cepat. Shanum muncul di ambang pintu dengan napas yang tersengal-sengal. Jilbabnya sedikit bergeser karena ia habis berlari sepanjang koridor rumah sakit setelah turun dari angkutan umum yang sempat terjebak macet.

Dokter Daniel spontan menoleh ke arah sumber suara. Detik itu juga, gerakannya terkunci. Matanya menatap lurus ke arah wajah Shanum, wanita berhijab yang tadi pagi sempat menyenggol dadanya di depan area pintu masuk rumah sakit.

Di sisi lain, Shanum yang masih berusaha mengatur napasnya mendadak membeku. Pandangannya beradu dengan sepasang mata tajam di balik kacamata tipis milik pria berjas dokter di hadapannya.

Jantung Shanum berdebar dua kali lebih cepat. Ia terkejut, sekaligus terkesima. Pria jangkung yang berdiri dengan begitu gagah dan penuh karisma di samping ranjang neneknya ternyata adalah pria yang ia tabrak tadi pagi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pria itu adalah Dokter Daniel Lee, sosok dokter spesialis jantung hebat yang selama ini diceritakan oleh sang nenek dan sangat ingin ia temui.

Ruangan itu seketika hening, menyisakan tatapan penuh arti di antara keduanya yang kembali dipertemukan oleh takdir.

Shanum melangkah pelan mendekati sisi tempat tidur Bu Siti dengan kepala tertunduk. Langkahnya terasa berat karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Kini, ia berdiri saling berhadapan dengan Dokter Daniel, terpisahkan oleh ranjang pasien di mana Bu Siti berada tepat di tengah-tengah mereka. Tatapan elang sang dokter yang lurus ke arahnya membuat atmosfer di dalam ruangan itu terasa begitu intens.

"Akhirnya kamu pulang juga, Num," ucap Bu Siti memecah keheningan, wajah tuanya memancarkan binar bahagia. "Kebetulan sekali ada Dokter Daniel yang sengaja Nenek tahan di sini. Bukankah kamu ingin sekali bertemu dengannya?"

Shanum tampak gugup dan salah tingkah. Ingatannya langsung melayang pada kejadian tadi pagi di depan rumah sakit, saat ia menyenggol dada bidang pria ini dengan begitu ceroboh. Siapa sangka, takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara seperti ini.

Shanum meremas pelan ujung jilbabnya untuk mengurangi rasa gemetar, Shanum akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.

"Dokter Daniel... S.. saya ingin mengucapkan banyak terima kasih karena Dokter sudah menyelamatkan nyawa Nenek saya, satu-satunya keluarga yang saya miliki," ucap Shanum terbata-bata. Ia mengatakannya sambil tertunduk malu, sama sekali tak berani menatap langsung ke dalam manik mata sang dokter yang begitu memikat.

Dokter Daniel yang memperhatikan gerak-gerik gugup wanita di depannya itu mengulas senyum tipis. Suaranya terdengar begitu menenangkan saat membalas, "Sama-sama, Shanum. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai dokter untuk menyelamatkan pasien kritis seperti Ibu Siti."

Mendengar respons yang begitu ramah, Shanum sedikit mengumpulkan keberaniannya, meski suaranya masih terdengar bergetar. "Tapi Dok... pada malam itu, saya sebenarnya tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar seluruh biaya operasi Nenek."

"Sudah, kamu tidak usah memikirkan hal itu dulu, Shanum. Yang penting sekarang Bu Siti cepat pulih," potong Dokter Daniel lembut, mencoba meringankan beban pikiran wanita muda itu.

Namun, harga diri dan keteguhan hati Shanum tidak membiarkannya pasrah begitu saja. "Tidak, Dok. Saya tetap ingin membayarnya... meskipun saya hanya bisa mencicilnya setiap bulan dari hasil kerja saya."

Mendengar ketegasan di balik suara lembut Shanum, Dokter Daniel perlahan beranjak dari tempat duduknya. Ia merapikan jas putihnya yang tampak sangat pas di tubuh tegapnya.

"Sudahlah, kamu tidak usah memikirkan hal itu dulu. Yang penting sekarang kau fokus saja pada kesembuhan Bu Siti," tegas Dokter Daniel lagi, menyudahi perdebatan kecil itu dengan penuh wibawa.

Shanum seketika terdiam. Otaknya berputar keras, mencari cara lain agar bisa melunasi biaya operasi sang nenek sesegera mungkin. Ia tidak mau memiliki hutang budi yang besar, terutama menyangkut masalah uang. Meskipun hidupnya sedang dihantam badai, di dalam lubuk hatinya, Shanum merasa ia masih sanggup berjuang dan bertanggung jawab atas takdirnya sendiri.

Sementara itu, Dokter Daniel mulai melangkah pelan menuju pintu keluar. Sambil berjalan, sebuah senyuman tipis misterius terukir di bibirnya. Pikirannya mendadak teralih pada masalah pribadi yang sedang dihadapinya di rumah.

'Sepertinya aku harus secepatnya mencari ibu susu untuk Ziva. Donor ASI yang kemarin malam malah membuat kulit putri kecilku timbul bercak-bercak merah. Aku sampai lupa kalau Ziva memiliki alergi. Apakah mungkin pemilik ASI yang kemarin hobinya makan makanan seafood?'batin Dokter Daniel bingung sekaligus khawatir memikirkan kondisi bayinya yang masih sangat kecil.

Tanpa mereka sadari, sebuah benang takdir yang baru tampaknya mulai terajut di antara kerumitan hidup yang sedang mereka jalani masing-masing.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!