NovelToon NovelToon

Yang Hilang Tanpa Pergi

Yhtp *1

Hujan turun perlahan malam itu. Bukan hujan badai yang menggelegar atau memaksa siapa pun berlari mencari perlindungan. Hanya rintik-rintik halus yang jatuh lembut dari langit kelabu, mengetuk-ngetuk permukaan kaca jendela apartemen mereka dengan irama yang menenangkan. Suara itu terdengar seperti nyanyian kecil alam, menciptakan suasana hangat, damai, dan nyaman.

Suasana yang selalu menjadi favorit Merlin. Di balik kaca yang sedikit berembun itu, kota besar di luar sana tampak samar, hanya berupa bayangan cahaya lampu jalan yang berkilauan dan garis-garis cahaya kendaraan yang bergerak pelan di tengah rintik air.

Di dapur kecil yang berukuran pas-pasan itu, aroma kuah kaldu yang gurih, campuran jahe, bawang, dan potongan ayam empuk, memenuhi seluruh ruangan. Uap putih mengepul perlahan dari mulut panci di atas kompor listrik, membawa kehangatan yang menyebar ke setiap sudut ruangan.

Merlin berdiri diam di sana, tangannya bergerak lambat mengaduk isian panci itu sesekali, memastikan bumbunya meresap sempurna. Matanya sesekali melirik ke arah jam dinding yang tergantung di dekat pintu. Jarum panjangnya sudah berada di angka dua belas, jarum pendeknya menunjuk angka sembilan.

Sudah hampir pukul sembilan malam. Dan seperti kebiasaan belakangan ini, Reyno belum pulang. Namun berbeda dari malam-malam biasanya, di mana Merlin akan mulai gelisah, mengecek ponsel berkali-kali, atau sedikit kesal karena menunggu terlalu lama. Malam itu hatinya terasa damai, tenang, dan penuh harapan. Ia justru tersenyum kecil sendiri di depan kompor, matanya berbinar bahagia seolah ada pesta besar yang sedang ia persiapkan sendirian.

Hari itu bukan hari biasa. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.

Dua tahun yang lalu, di tanggal yang sama, mereka berjanji untuk saling memiliki, saling menjaga, dan saling menjadi rumah satu sama lain seumur hidup. Dan sejak pagi tadi, Reyno sudah berkali-kali mengirim pesan, menelepon, bahkan sempat menyempatkan diri berhenti sebentar di rumah hanya untuk meminta maaf.

Pekerjaan di kantor sedang menumpuk, ada proyek besar yang harus diselesaikan minggu ini, dan kemungkinan besar suaminya itu akan pulang lebih larut dari jam biasanya.

«Maaf ya, Sayang. Hari ini pasti pulang telat banget. Ada rapat tambahan yang gak bisa ditinggal. Tapi aku janji gak bakal lama, nanti pas pulang aku langsung cari kamu, ya?»

Kalimat itu, nada suara itu, dan penyesalan tulus di mata Reyno pagi tadi masih teringat jelas di kepala Merlin, berputar terus seperti kaset kesayangan. Dan seperti biasa, Merlin mempercayainya sepenuhnya.

Selama dua tahun mereka menikah, Reyno memang sering sibuk, sering lembur, sering pulang larut malam. Tapi laki-laki itu selalu berusaha menepati setiap janji yang ia ucapkan. Tidak pernah sekalipun ia lupa tanggal penting mereka. Tidak pernah sekalipun ia pergi terlalu lama tanpa kabar. Reyno selalu pulang. Reyno selalu kembali. Dan Reyno selalu berusaha membuat Merlin merasa dicintai, meski dengan cara-cara sederhana.

Merlin mematikan kompor, lalu mengangkat panci itu perlahan ke atas alas kayu di meja makan. Ia berjalan pelan menuju meja makan kecil yang terletak tepat di samping jendela besar, tempat mereka biasa menghabiskan waktu berdua. Di sana, sejak sore tadi, ia sudah menyiapkan segalanya dengan rapi.

Dua piring keramik putih polos.

Dua pasang sendok dan garpu.

Dan di tengah meja, tiga batang lilin kecil berwarna krem yang sudah disusun membentuk garis lurus, lengkap dengan korek api di sampingnya.

Sederhana sekali. Tidak ada pesta mewah, tidak ada dekorasi mahal, tidak ada kue besar bertingkat. Hanya makan malam hangat, cahaya lilin yang lembut, dan kehadiran satu sama lain. Tapi bagi Merlin, kesederhanaan inilah yang paling berharga. Cukup. Sudah lebih dari cukup untuk membuat rumah kecil mereka ini terasa begitu hangat dan berharga.

Di dinding tepat di belakang meja makan itu, beberapa bingkai foto tergantung rapi berjejer. Merlin berhenti sejenak, menatap satu per satu foto itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ada foto pernikahan mereka, di mana mereka berdua berdiri berdampingan dengan senyum paling lebar dan paling bahagia di dunia. Ada foto saat mereka baru pertama kali pindah ke apartemen ini, duduk bersila di lantai yang masih kosong, dikelilingi kardus-kardus barang yang belum dibongkar. Ada foto liburan singkat ke pantai, saat matahari terbenam dan bayangan mereka berdua terlihat saling berpegangan tangan di pasir.

Namun matanya berhenti pada satu foto di sudut bawah. Foto yang membuatnya tertawa kecil setiap kali melihatnya.

Di sana tercetak wajah Reyno yang tertidur pulas di atas sofa ruang tamu, mulutnya sedikit terbuka, rambutnya berantakan ke segala arah, dan tangannya erat memeluk bantal persegi panjang dengan motif bunga yang sebenarnya agak konyol untuk dipeluk laki-laki dewasa.

Wajahnya terlihat sangat damai, sangat lelah, namun juga sangat tenang. Merlin ingat betul saat itu. Waktu itu Reyno baru pulang dari perjalanan dinas jauh, kelelahan luar biasa, lalu langsung terlelap begitu duduk sebentar di sofa.

Merlin diam-diam mengambil kamera dan memotretnya. Saat Reyno terbangun dan menyadari foto itu ada di galeri, laki-laki itu marah besar, menganggap fotonya jelek dan memalukan.

Tapi akhirnya, justru Reyno sendiri yang menempelkan foto itu ke dinding, sambil bergumam pelan, "Yaudah, biar ada kenangannya. Biar ingat kalau gue capek pun, ada lo di sana nemenin."

"Dasar nyebelin," gumam Merlin pelan, tapi suaranya penuh kasih sayang. Ia menyentuh permukaan kaca bingkai itu pelan, seolah sedang menyentuh wajah suaminya sendiri.

Suara kunci diputar di lubang pintu depan terdengar jelas memecah keheningan. Klik.

Jantung Merlin langsung berdegup lebih kencang. Matanya berbinar cerah, seolah ada lampu yang baru saja dinyalakan di dalam sana. Ia buru-buru berjalan cepat keluar dari ruang makan, menuju ruang tamu yang menghadap pintu depan.

Dan benar saja, pintu terbuka perlahan, dan sosok tinggi besar itu berdiri di sana. Reyno.

Jas kerjanya sedikit basah terkena rintik hujan, rambut depannya agak lepek menempel di dahi, dan wajahnya terlihat sangat lelah. Lingkaran gelap di bawah matanya terlihat jelas, dan bahunya tampak berat seolah memikul beban dunia di atasnya.

Namun, begitu matanya menangkap sosok Merlin yang berdiri menunggunya, seluruh kelelahan itu seolah menguap begitu saja. Ekspresi kaku dan tegang itu langsung melembut, berganti menjadi tatapan hangat yang selalu sama.

"Hey ...." Senyumnya muncul pelan, menyungging di bibirnya, senyum yang hanya dimiliki Merlin seorang.

Merlin berjalan mendekat dengan langkah cepat, lalu berhenti tepat di hadapan suaminya. Ia mendongak sedikit agar bisa menatap mata itu lekat-lekat.

"Kamu lama banget," katanya, nada protesnya terdengar kecil, manja, dan sama sekali tidak berisi kemarahan. Hanya rindu yang terselip di sana.

Reyno tertawa pelan, suara beratnya terdengar renyah di ruang sempit itu. Ia mengangkat kedua tangannya seolah mengaku kalah.

"Maaf, maaf ya. Tadi ada klien yang ngobrolnya panjang banget. Gak enak kalau dipotong," jawabnya lembut.

Yhtp *2

Lalu seperti kebiasaannya yang tak pernah berubah sejak hari pertama mereka menikah, laki-laki itu langsung merentangkan kedua lengannya, menarik tubuh Merlin masuk ke dalam pelukan yang erat, hangat, dan sangat akrab.

Badan mereka saling menempel rapat. Merlin bisa merasakan detak jantung Reyno yang sedikit cepat, merasakan hawa dingin yang terbawa dari luar, tapi juga merasakan kehangatan tubuh laki-laki itu yang selalu bisa menghangatkan dirinya dalam sekejap.

Seolah tempat itu memang milik mereka berdua. Seolah tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih nyaman selain berada di dalam pelukan satu sama lain.

"Aku kangen," bisik Reyno pelan, suaranya teredam saat ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Merlin, menghirup aroma sabun dan wangi tubuh istrinya yang menjadi ketenangan baginya.

Merlin mendengus kecil, tangannya naik melingkar di leher Reyno, jari-jemarinya bermain pelan di ujung rambut belakang leher itu. "Padahal baru sehari lho kita pisah. Pagi tadi kan masih ketemu," jawabnya pelan.

"Tetep aja namanya pisah, tetep aja kangen," gumam Reyno, mengeratkan pelukannya sedikit lagi seolah takut istrinya akan hilang jika dilepas.

Merlin tidak bisa menahan senyumnya yang makin melebar. Sejujurnya, ia selalu selemah itu pada Reyno. Pada kata-kata manis sederhananya. Pada perhatian kecil yang ia berikan. Pada caranya memeluk seolah Merlin adalah harta paling berharga. Pada caranya memandang, seolah wanita itu adalah satu-satunya rumah yang paling ingin ia pulangi di seluruh dunia.

"Udah ah, nanti pelukannya gak kelar-kelar," kata Merlin akhirnya, berusaha melepaskan diri pelan meski hatinya enggan sekali. Ia menatap wajah suaminya, menyeka sisa air hujan kecil di pipi laki-laki itu dengan ujung jarinya. "Aku masak sup ayam. Panas banget, wanginya udah nyebar dari tadi."

Reyno mengendus udara di sekitarnya dengan heboh, matanya berbinar lapar.

"Mmm ... pantesan dari depan pintu aja udah kecium wangi enak. Kamu emang paling jago bikin aku kangen rumah."

Ia melepas jasnya yang basah, lalu menggantungkannya di gantungan dekat pintu. Ia mengusap perutnya yang sedikit keroncongan.

"Laper banget aku, dari siang cuma makan roti isi doang," keluhnya polos.

"Ya ampun ... makanya kalau di kantor makan yang bener. Ayo sana cuci tangan dulu, makanannya udah siap di meja," suruh Merlin, nadanya terdengar seperti ibu yang sedang menasihati anaknya sendiri.

"Iya, Bu Istri. Siap laksanakan!" jawab Reyno semangat sambil memberi hormat kecil, lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi kecil di sudut ruangan.

Merlin tertawa kecil melihat tingkah laku suaminya yang kadang masih saja kekanak-kanakan itu. Sederhana sekali. Hal-hal kecil seperti inilah yang membahagiakan hatinya lebih dari apa pun. Tidak butuh kemewahan, tidak butuh hal besar. Cukup kebersamaan, canda tawa, dan rasa saling memiliki.

Malam itu mereka makan malam berdua di bawah cahaya lilin yang lembut, ditemani suara hujan yang masih setia turun di luar sana. Mereka bercerita tentang segalanya. Tentang pekerjaan Reyno yang melelahkan dan penuh tekanan. Tentang rekan kerjanya yang sedikit cerewet tapi baik hati. Tentang tanaman kecil berdaun hijau yang Merlin taruh di balkon, yang tadinya hampir mati karena kurang air, tapi kini akhirnya tumbuh subur dan berdaun lebat. Tentang film baru yang sedang tayang di bioskop, yang ingin mereka tonton bersama di akhir pekan nanti.

Pembicaraan biasa. Hal-hal kecil. Tidak ada yang luar biasa. Tidak ada topik besar atau masalah berat. Tapi bagi Merlin, semuanya terasa cukup. Semuanya terasa lengkap.

Saat piring mereka sudah kosong dan perut sudah terasa kenyang, Reyno tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan rapi. Ia menatap istrinya lekat-lekat, lalu berdiri perlahan dari kursinya.

"Aku ada sesuatu buat kamu," katanya pelan, suaranya tiba-tiba jadi calmer dan lebih serius.

Ia berjalan menuju tas kerjanya yang ada di dekat sofa, lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. Saat kembali ke meja makan, di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil persegi berwarna hitam polos.

Merlin langsung membelalakkan matanya, tangannya menutup mulut sedikit karena kaget.

"Rey ... kamu beli apa lagi sih? Kan udah bilang gak usah repot-repot beli kado, cukup kamu pulang aja udah jadi kado buat aku," katanya cepat, hatinya berdesir senang bercampur rasa tidak enak hati.

"Buka dulu aja. Baru ngomong," jawab Reyno sambil menyodorkan kotak itu ke depan dada istrinya, senyumnya misterius namun hangat.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru, Merlin menerima kotak itu. Ia membukanya perlahan, pelan-pelan, seolah takut merusak apa yang ada di dalam sana.

Di dalam bantalan beludunya, tergeletak sebuah gelang sederhana dari perak yang mengkilap. Rantai-rantainya kecil dan halus, pas sekali untuk ukuran pergelangan tangan wanita. Namun yang membuat napas Merlin tertahan bukan bentuknya, melainkan tulisan kecil yang terukir rapi di bagian dalam gelang itu. Tulisan yang kecil, tapi jelas terbaca. Home.

Rumah.

Merlin langsung mendongak, menatap Reyno dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Air mata bahagia mulai menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan wajah suaminya.

"Kamu suka?" tanya Reyno pelan, nada suaranya penuh harap dan kecemasan kecil. Ia menyentuh sisi luar gelang itu perlahan. "Gak mewah sih, cuma ... aku kepikiran buat ngasih ini."

"Cantik Rey, ini cantik banget," jawab Merlin terbata-bata, air matanya mulai menetes jatuh membasahi pipi. Ia mengusap sudut matanya cepat dengan punggung tangan. "Tapi ... kenapa tulisannya Home?"

Reyno tersenyum kecil, senyum yang paling tulus dan paling dalam yang pernah wanita itu lihat malam ini. Ia mengulurkan tangan, mengambil gelang itu, lalu perlahan memasangkannya sendiri ke pergelangan tangan Merlin.

"Karena kamu rumah aku, Lin," jawabnya pelan dan jelas, berbisik tepat di depan wajah istrinya. "Ke mana pun aku pergi, sejauh apa pun aku melangkah, seberapa capek pun aku rasanya ... cuma kamu tempat aku pulang. Cuma kamu tempat aku merasa aman, tenang, dan utuh. Kamu rumah aku."

Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana.

Namun kalimat itu berhasil membuat dada Merlin terasa penuh, sesak oleh rasa bahagia yang meluap-luap. Ia langsung memeluk pinggang suaminya erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, mendengarkan detak jantung yang selalu menjadi ketenangannya.

Malam itu, di bawah rintik hujan dan cahaya lilin yang lembut, Merlin benar-benar percaya dengan sepenuh hatinya. Ia yakin, ia berjanji, dan ia meyakini bahwa mereka akan baik-baik saja selamanya. Bahwa kehangatan ini akan abadi. Bahwa ikatan mereka tak akan pernah putus. Bahwa rumah kecil ini akan selalu menjadi tempat paling indah di dunia.

Ia tidak tahu, tidak pernah sedikit pun membayangkan, bahwa beberapa bulan setelah malam yang penuh kebahagiaan itu,

segalanya akan berubah. Bahwa hubungan mereka akan mulai retak perlahan, sangat pelan, hampir tidak terasa, hampir tidak terdengar suaranya.

Retakan yang muncul diam-diam di celah-celah kebersamaan mereka. Sampai akhirnya, rumah yang dulu terasa begitu hangat, begitu nyaman, dan begitu berarti itu, tidak lagi menjadi tempat untuk pulang. Melainkan hanya menjadi bangunan kosong yang menyimpan banyak kenangan.

Yhtp *3

Pagi itu dimulai seperti biasanya. Matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela, menyinari lantai kayu apartemen mereka dengan cahaya keemasan yang hangat dan lembut. Udara di dalam ruangan masih terasa sejuk, namun sudah dipenuhi aroma kopi bubuk yang baru diseduh dan bau roti panggang yang manis.

Seperti kebiasaan yang tak pernah berubah selama dua tahun ini, Merlin selalu bangun lebih dulu. Ia bergerak pelan di antara ruangan-ruangan kecil itu, menyiapkan sarapan, merapikan tempat tidur, lalu menarik tirai jendela sampai terbuka lebar agar cahaya matahari bisa masuk memenuhi setiap sudut rumah mereka.

Suasana pagi itu terasa hangat. Tenang. Dan nyaman. Persis seperti pagi-pagi sebelumnya.

Namun, jika Merlin boleh jujur, beberapa minggu terakhir ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Sesuatu yang kecil, samar, hampir tidak terlihat mata, hampir tidak terdengar telinga. Sesuatu yang begitu halus hingga orang lain pasti takkan menyadarinya. Tapi bagi Merlin, bagi wanita yang hidupnya hanya berpusat pada rumah ini dan pada satu orang itu, perubahan kecil itu terasa begitu nyata, begitu jelas, dan begitu mengganjal di hati.

Reyno mulai sering pulang malam. Awalnya hanya sesekali. Mungkin seminggu sekali, dua kali, sebagai bentuk kewajiban pekerjaan yang wajar. Tapi perlahan, frekuensinya makin sering. Tiga kali seminggu, empat kali, sampai akhirnya rasanya hampir setiap malam, Reyno baru melangkahkan kakinya masuk ke rumah saat jam sudah menunjuk ke arah sepuluh atau sebelas malam.

Dan setiap kali Merlin bertanya, setiap kali ia bertanya dengan nada penasaran atau sedikit kecewa, jawaban Reyno selalu sama. Kalimat yang diulang berulang kali, dengan nada lelah yang sama pula.

“Kerjaan lagi banyak banget, Lin. Lagi ada proyek besar, gak bisa ditinggal.”

Atau kadang, “Klien minta revisi, gue sama tim harus lembur bareng. Maaf ya telat lagi.”

Merlin percaya. Tentu saja ia percaya. Bagaimana mungkin ia tidak percaya pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya, laki-laki yang berjanji menjadi rumah baginya? Reyno memang dikenal sebagai pekerja keras sejak dulu, sejak masa kuliah hingga sekarang. Ia selalu bertanggung jawab, selalu menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya. Merlin paham betul sifat itu.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, rasa percaya itu sedikit goyah. Sesuatu di hati kecilnya terasa tidak nyaman, terasa gelisah, seolah ada tanda bahaya kecil yang berkedip samar di sudut pikirannya.

Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

Di atas meja makan, makanan yang sudah disiapkan Merlin sejak pukul tujuh tadi sudah dingin. Kuahnya mengental, nasi putihnya mulai keras, dan uap hangat yang tadi mengepul indah sudah lenyap sama sekali. Merlin sudah dua kali memanaskannya kembali, tapi kini ia membiarkannya begitu saja.

Merlin duduk sendirian di sofa ruang tamu, tangannya menggenggam ponsel cukup erat. Layar percakapan mereka masih terbuka di layar itu. Pesan terakhir dari Reyno dikirimkan dua jam yang lalu.

«Aku telat dikit ya. Masih ada bahasan yang belum kelar. »

Itu saja. Tidak ada kabar lagi setelah itu. Tidak ada pesan tambahan, tidak ada panggilan masuk, tidak ada apa pun. Merlin menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya menatap kosong ke arah pintu depan yang tertutup rapat. Di luar sana, hujan turun lagi. Bukan rintik halus seperti malam ulang tahun mereka dulu, tapi hujan yang lumayan deras, disertai angin yang bertiup kencang membuat dahan-dahan pohon di bawah sana bergoyang liar.

Entah kenapa malam itu rasanya berbeda. Gelisah itu makin menjadi-jadi. Jantungnya berdegup tidak beraturan, ada rasa takut yang entah datang dari mana merayap masuk ke dalam dada.

Klik. Suara kunci diputar di lubang pintu terdengar jelas memecah keheningan malam.

Merlin langsung bangkit berdiri dari sofa, refleks bergerak maju menyambut kepulangan suaminya. Namun langkah kakinya terhenti di tengah jalan. Senyum sambutan yang hampir saja terukir di bibirnya pun hilang seketika, berganti kerutan kening yang bingung dan heran.

Reyno masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat sangat lelah, pucat, dan matanya tampak merah seolah habis menahan tangis atau kelelahan luar biasa. Tapi bukan itu yang membuat langkah Merlin terhenti.

Bukan itu. Melainkan sosok wanita muda yang berdiri persis di belakang Reyno. Wanita itu berdiri membungkuk sedikit, bahunya berguncang pelan. Wajahnya terlihat pucat pasi, matanya sembab dan bengkak luar biasa, bekas air mata masih tampak jelas menempel di pipinya yang basah. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dari Merlin, masih sangat muda, dan terlihat begitu rapuh seolah satu sentuhan saja bisa membuatnya hancur berkeping-keping.

“Mer .…”

Reyno terdiam seketika saat melihat istrinya berdiri di sana. Ada keraguan, ada rasa bersalah, dan ada kesedihan mendalam yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia melangkah sedikit ke samping, memberikan ruang pada wanita muda di belakangnya itu, lalu memperkenalkan dengan suara berat.

“Ini Yara.”

Merlin menatap wanita itu lekat-lekat, dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu perlahan kembali menatap wajah suaminya. Dadanya mulai terasa sesak oleh rasa penasaran dan pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk.

“Siapa?” tanyanya pelan, nadanya tenang namun penuh tanda tanya. “Kamu gak bilang mau bawa tamu.”

“Adiknya Lucas,” jawab Reyno singkat.

Satu nama itu langsung membuat darah Merlin serasa berhenti mengalir. Lucas. Sahabat karib Reyno sejak masa kuliah. Orang yang paling dekat dengan suaminya, lebih dekat dari siapa pun.

Orang yang pernah beberapa kali datang berkunjung ke apartemen mereka, selalu tertawa keras, selalu bercanda berlebihan, dan sering sekali menginap di ruang tamu sampai pagi. Merlin ingat betul terakhir kali ia bertemu laki-laki itu sekitar dua minggu yang lalu, saat Lucas mampir sebentar sekadar menyapa dan membawa oleh-oleh camilan. Dan sekarang ... adiknya berdiri di depan pintu rumah mereka dengan wajah yang terlihat hancur lebur.

“Lucas kecelakaan,” ucap Reyno lagi, suaranya terdengar parau dan berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menahan gejolak emosi yang meluap di dadanya.

“Dia ... meninggal, Merlin.”

Dunia seolah mendadak sunyi senyap. Suara hujan di luar, suara detak jam dinding, suara napas mereka sendiri. Semuanya seolah lenyap tertelan kebisuan yang mendadak itu.

Mata Merlin membesar perlahan, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut tak percaya.

“Apa?” bisiknya hampir tak terdengar. “Meninggal? Lucas?”

Reyno mengangguk pelan, matanya menatap lantai, tak berani menatap istrinya. “Mobilnya jatuh ke jurang di jalan atas sana. Waktu hujan tadi sore,” jelasnya dengan nada yang penuh rasa sakit. “Hujan deras banget, jalanan licin. Dia ... dia nyelametin aku, Merlin. Kalau dia gak nyetir cepat dan ambil alihan setirnya, pasti aku yang ada di posisi dia sekarang.”

Merlin membeku. Kakinya terasa lemas, ia harus berpegangan pada sisi lemari dekatnya agar tidak jatuh terhempas. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara. Hanya suara rintik hujan yang makin deras menghantam kaca jendela di luar sana.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!