NovelToon NovelToon

Loud Girl, Cold Engine

Tabrakan Pertama di Tengah Hujan

Hari-hari Kirana terasa seperti puisi yang ditulis dengan tinta basi.

Sama setiap harinya. Bangun tidur. Mandi. Sarapan roti tawar selai cokelat. Naik Transjakarta dari halte dekat kostnya di kawasan Duren Sawit. Turun di halte depan Universitas Wijaya Kertanegara – atau yang lebih dikenal dengan singkatan Uwikerta.

Kampus swasta kecil di Jakarta Timur itu terkenal dengan gedung-gedungnya yang dicat krem dan pohon rindang di sepanjang jalan setapak. Tapi bagi Kirana, mahasiswi baru jurusan Sastra Indonesia, suasana Uwikerta terasa seperti puisi tanpa rima: datar, hambar, dan bikin ngantuk.

Boring sekali.

Hari itu, Kirana baru saja selesai kuliah Pengantar Teori Sastra. Dosennya serius banget sampai Kirana hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak melamun memikirkan baris-baris puisi yang gagal ia selesaikan semalam.

Di kantin, dua teman Kirana sudah menunggu.

"Kira, lo lama banget!" seru Maya sambil mengunyah risol mayo. Maya adalah anak komunikasi yang hiperaktif dan suka gosip. Di sebelahnya, Sari yang pendiam – jurusan Psikologi – hanya mengangguk sambil menyedot es teh.

"Maaf, dosennya suka ngelebihin jam," jawab Kirana sambil duduk.

"Eh, lo tau gak," Maya memulai dengan mata berbinar, "hari gue seru banget tadi. Gue hampir ketabrak motor di parkiran!"

Sari mengangkat alis. "Seru?"

"Ya seru lah! Cowoknya ganteng banget, tinggi, jaket jeans belel, mukanya kayak badboy drama Korea. Tapi dinginnya minta ampun. Dia gak minta maaf sama sekali!"

Kirana bergumam tak tertarik. "Biasa aja. Cowok Jakarta mah pada cuek."

"Bukan biasa, Kira! Itu tuh Bima Pratama. Anak teknik mesin semester 5. Panggilannya 'Mekanik Malam'. Katanya dia jago modif motor, suka nongkrong di bengkel sampe larut, dan gak pernah peduli sama siapapun."

Sari menimpali pelan, "Mekanik Malam? Keren juga julukannya."

"Keren apanya," potong Kirana. "Cuek mah gampang. Gue juga bisa cuek."

Maya cekikikan. "Lo? Anak sastra yang nangis baca puisi hujan? Mana bisa cuek."

Kirana mendengus kesal. Tapi dia memilih diam dan menghabiskan es teh manisnya.

Hujan turun tanpa permisi saat Kirana berjalan sendirian menuju halte Transjakarta. Maya dan Sari sudah pulang lebih awal karena ada acara keluarga.

Tas selempang Kirana yang berisi buku Hujan Bulan Juni basah kuyup. Rambutnya yang diikat sebentar mulai menjuntai. Payung lipatnya lupa dia bawa.

Sialan. Kenapa hujan selalu datang di saat paling buruk?

Dia berlari-lari kecil melewati area parkiran motor yang licin. Di tengah langkahnya yang terburu-buru, Kirana tidak melihat apa yang ada di depannya. Tubuhnya membentur sesuatu yang keras, panas, dan beraroma bercampur minyak tanah, bensin, dan sedikit asap rokok.

Buk!

Kirana jatuh terduduk di aspal basah. Buku-bukunya berserakan. Pantatnya sakit, telapak tangannya tergores aspal.

"Anjir, sakit banget sih!" pekiknya sambil mendongak.

Di depannya berdiri sesosok tubuh tinggi besar. Cowok itu tingginya mungkin 180-an, dengan jaket jeans lusuh penuh noda hitam bekas oli. Rambut hitamnya agak panjang, sedikit menutupi dahi.

Matanya tajam, dingin, seperti pisau yang baru digosok. Di tangannya tergenggam helm hitam kusam. Dari balik tubuhnya, terlihat motor matic hitam modifikasi dengan knalpot brong yang masih mengepulkan asap tipis.

Cowok itu hanya menatap Kirana sekilas. Lalu... pergi.

Tanpa menunduk. Tanpa mengulurkan tangan. Tanpa satu kata "maaf".

Dia berjalan ke parkiran, menyalakan motor, dan melesat pergi dengan suara knalpot memekakkan telinga.

"MAKSUD LO APA, COK?!" teriak Kirana, tapi cowok itu sudah lenyap.

Dasar brengsek.

Dua hari kemudian, Kirana masuk ke Fotokopi Cepat Jaya di samping koperasi mahasiswa. Dia mau mengopi bahan ujian Apresiasi Puisi yang tebalnya seratus empat puluh halaman.

Begitu pintu fotokopian terbuka, Kirana langsung membeku.

Bima ada di sana.

Cowok itu sedang berdiri menyandar di dinding dekat mesin fotokopi. Masih dengan jaket jeans lusuh yang sama, masih dengan noda oli di tangannya, dan masih dengan wajah dingin tidak ekspresif. Dia menunggu hasil fotokopian sambil memainkan ponsel.

Mata mereka bertemu.

Kirana berharap cowok itu setidaknya mengangguk atau menunjukkan ekspresi "oh, lu yang kemarin". Tapi tidak. Bima hanya menatapnya sekilas, lalu kembali ke ponselnya dengan wajah datar seperti beton.

Cuek amat sih.

Kirana mengambil nomor antrean. Dan tepat saat dia mencari tempat duduk, hanya ada satu kursi plastik merah yang tersisa: di samping Bima.

Dengan perasaan kesal campur sebal, Kirana duduk. Jarak mereka hanya selebar satu telapak tangan. Bau oli dan rokok samar-samar tercium.

Suasana hening. Hanya suara mesin fotokopi yang berdengung.

Kirana membuka buku puisinya – Hujan Bulan Juni – dan membaca dalam hati untuk menghilangkan rasa canggung.

Tiba-tiba, suara berat dan rendah terdengar.

"Sapardi."

Kirana tersentak. Dia menoleh. Bima sedang melirik ke sampul buku itu sekilas.

"Lo tahu?" tanya Kirana, sedikit terkejut.

"Adik gue suka puisi," jawab Bima datar. Matanya kembali ke ponsel.

"Oh."

Hening lagi.

Fotokopian Bima selesai lebih dulu. Dia mengambil setumpuk kertas tebal penuh skema mesin dan rumus termodinamika, lalu berjalan ke kasir.

Begitu sampai di pintu, dia berhenti sejenak. Tidak menoleh, hanya berkata singkat:

"Hati-hati pulang. Jalanan licin."

Lalu dia pergi, meninggalkan Kirana yang mulutnya setengah terbuka.

Apa-apaan ini?

Keesokan harinya, Kirana cerita ke Maya dan Sari di kantin.

"Gue ketemu lagi tuh cowok mesin. Bima namanya."

Maya langsung semangat. "WAH! Terus? Terus?"

"Ya gitu. Cuek. Gak minta maaf. Tiba-tiba bilang 'hati-hati pulang'."

Sari tersenyum kecil. "Berarti dia perhatian, cuma gak bisa nunjukin."

"Perhatian apaan, sih," Kirana membantah, tapi pipinya terasa hangat.

Maya menepuk meja. "Lo harus deketin dia, Kira!"

"Gila lo. Gue benci cowok cuek kayak gitu."

"Tapi lo senyum-senyum sendiri, anjir."

Kirana buru-buru menutup mulutnya. Sial. Ketahuan.

Sejak hari itu, kebetulan mulai terasa seperti kutukan.

Di kantin: Bima sedang makan bakso sendirian di pojok, Kirana duduk tak jauh darinya bersama Maya dan Sari. Di perpustakaan: Bima tertidur di atas buku Termodinamika, Kirana mengambil buku puisi di rak sebelah.

Di parkiran: Kirana hampir keserempet motornya lagi – Bima hanya mengangkat tangan sedikit, semacam "maaf tanpa kata", lalu melesat.

Dan setiap kali, Bima tidak pernah minta maaf. Paling banter tatapan sekilas atau anggukan kecil.

Tapi ada satu hal yang aneh: setiap kali mereka berpapasan, Bima selalu melirik buku yang Kirana bawa. Seperti ada rasa ingin tahu yang dia pendam.

Sampai suatu sore, Maya menarik tangan Kirana.

"Kira, yuk ke bengkel teknik! Gue mau liat-liat."

"Ngapain? Bau oli."

"Biar bisa liat si Bima lagi, dong!"

Kirana ingin menolak, tapi kakinya sudah melangkah mengikuti Maya. Sari ikut di belakang sambil tersenyum tahu.

Di teras bengkel, Bima sedang nongkrong dengan dua temannya. Suara knalpot brong dan tawa mereka terdengar dari kejauhan. Bima sedang memegang kunci pas dan membongkar sesuatu dari motornya. Tangannya lincah, penuh yakin.

Salah satu teman Bima menyadari keberadaan mereka.

"Wah, Bim, ada cewek ngintip lo nih!"

Bima mendongak. Mata mereka bertemu lagi. Kirana sedikit gugup, tapi dia berusaha tegar.

"Gue cuma lewat," ucap Kirana cepat, meskipun jelas dia tidak sedang lewat.

Bima tidak menjawab. Dia hanya menatap beberapa saat, lalu kembali ke motornya. Tapi sebelum menunduk, sudut bibirnya terangkat tipis – hampir tidak terlihat.

Senyum?

Maya menggamit lengan Kirana. "Lihat tuh! Dia senyum! LO BIKIN DIA SENYUM!"

"Diem, Ya!" Kirana menarik Maya pergi, dadanya berdebar tidak karuan.

Sari berbisik pelan, "Aku lihat kok. Dia memang tertarik sama kamu."

Kirana tidak menjawab. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdegub aneh.

Kenapa sih gue harus panas begini?

Dan di belakangnya, Bima masih memegang kunci pas, matanya sesekali melirik ke arah Kirana yang menjauh, diikuti oleh dua teman ceweknya.

Cowok Dua Wajah

Beberapa hari setelah kejadian di fotokopian, Kirana masih menyimpan rasa kesal.

Bukan kesal yang berlebihan. Hanya saja, setiap kali dia mengingat cowok bernama Bima itu – yang dengan santainya menabraknya lalu pergi tanpa minta maaf – hatinya terasa gatal. Seperti ada duri kecil yang tidak bisa dia buang.

Tapi Kirana tidak mau terus-terusan memikirkan hal itu. Ada banyak tugas kuliah yang lebih penting. Puisi yang harus dia setorkan minggu depan juga belum kelar.

Hari ini, Kirana, Maya, dan Sari memutuskan makan siang di kantin kampus. Suasana kantin cukup ramai. Beberapa mahasiswa antre di depan stan nasi goreng, sebagian lagi duduk di meja-meja panjang sambil mengobrol.

Kirana memilih meja di pojok dekat jendela. Paling favorit, karena udaranya sejuk dan tidak terlalu bising.

“Gue pesen bakso aja, Ya,” kata Maya sambil berdiri. “Lo berdua mau?”

“Sama,” jawab Sari singkat.

“Gue juga,” Kirana menambahkan.

Maya pergi ke stan bakso. Kirana dan Sari duduk berdua. Sari membuka buku catatannya yang kecil – dia memang tipe yang suka mencatat apa saja, bahkan saat tidak ada pelajaran.

“Tugas puisi lo sudah?” tanya Sari tanpa mengangkat kepala.

“Belum. Masih buntu,” keluh Kirana. “Dosennya minta tentang pertemuan tak terduga. Gue kebanyakan ide tapi gak ada yang cocok.”

“Coba dari pengalaman lo sendiri. Bukannya lo pernah ketabrak cowok teknik mesin itu? Itu tak terduga, kan.”

Kirana menghela napas. “Iya sih tak terduga. Tapi kalau jadi puisi, nanti puisinya jadi kesal semua. Gak romantis.”

Sari tersenyum kecil. “Ya sudah, cari yang lain.”

Percakapan mereka terhenti saat Maya kembali dengan nampan berisi tiga mangkok bakso. Uap panas mengepul di atasnya.

“Bakso datang!” seru Maya ceria.

Mereka bertiga mulai makan. Sesekali Maya bercerita tentang anak-anak komunikasi yang sedang sibuk persiapan acara kampus. Kirana mendengarkan setengah hati.

Tiba-tiba, suasana di kantin sedikit berubah. Beberapa mahasiswa di meja depan menoleh ke arah pintu masuk. Terdengar bisik-bisik kecil.

Maya yang paling cepat sadar. Dia menyikut lengan Kirana.

“Kira, lihat. Itu dia.”

Kirana menoleh.

Dari pintu kantin, masuk seorang cowok tinggi dengan rambut hitam sedikit panjang. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu muda, digulung rapi sampai siku. Celana chino hitam dan sepatu pantofel sederhana. Tidak seperti biasanya, dia tidak memakai jaket jeans lusuh penuh noda oli.

Bima.

Tapi Bima yang ini berbeda. Rambutnya yang biasanya acak-acakan sekarang tampak rapi, sedikit disisir ke belakang. Wajahnya bersih, tidak ada bekas minyak hitam di tangan atau pipinya. Bahkan dari jarak beberapa meja, Kirana bisa mencium aroma wangi – mungkin sabun atau parfum – yang samar-samar tercium saat dia berjalan mendekat.

Bima tidak sendirian. Di belakangnya ada Gendut dan Roni – dua teman akrabnya yang sering terlihat di bengkel. Tapi mereka tetap dengan penampilan khasnya: jaket jeans belel, tangan kotor, rambut acak-acakan. Kontras sekali dengan Bima yang hari ini terlihat seperti mahasiswa biasa – bahkan rapi.

“Itu Bima?” bisik Sari, ikut terkejut.

“Iya,” jawab Maya. “Gila, dia bisa rapi juga ternyata.”

Kirana tidak berkata apa-apa. Dia hanya memperhatikan dari kejauhan. Bima berjalan ke stan makanan, memesan nasi goreng dan es teh, lalu duduk di meja sekitar tiga meja dari tempat mereka.

Gendut dan Roni ikut duduk di sampingnya.

“Bim, lo hari ini kenapa rapi banget?” terdengar suara Gendut yang agak keras. “Ada acara?”

“Tidak,” jawab Bima singkat. Suaranya tetap rendah.

“Terus kenapa lo pakai kemeja? Biasanya kan jaket oli itu.”

“Cuci. Masih basah.”

Roni cekikikan. “Alasan. Lo pasti ada gebetan baru.”

“Diem, lo.”

Maya menyikut Kirana lagi. “Kira, lo masih kesel sama dia?”

“Iya,” jawab Kirana pelan. “Dia belum minta maaf sampai sekarang.”

“Ya udah, lakukan pendekatan damai. Sapa aja.”

“Gak mau. Biar dia yang datang duluan.”

Sari ikut berbisik. “Tapi dia kan cuek. Mungkin dia lupa.”

“Lupa gimana? Nabrak orang masak lupa.”

Percakapan mereka terhenti saat Bima berdiri dari mejanya. Dia membawa piring kosong dan gelas, berjalan ke tempat pengembalian piring. Lalu – tanpa sengaja – matanya bertemu dengan Kirana.

Bima tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tidak tersenyum, tidak mengangguk. Dia hanya menatap Kirana selama dua detik, lalu berbalik dan kembali ke mejanya.

Cuek lagi.

Kirana menghela napas. Rasa kesalnya kembali muncul. Tidak ada niat minta maaf sama sekali.

“Gue mau ke toilet,” kata Kirana tiba-tiba. Dia berdiri dan berjalan ke arah lorong belakang kantin.

Tapi takdir berkata lain. Di lorong menuju toilet, Bima sedang berdiri – mungkin baru keluar dari toilet. Mereka berdua hampir bertabrakan lagi. Kirana mundur setengah langkah.

“Maaf,” kata Bima cepat.

Kirana membeku. Apa dia baru saja minta maaf?

“Untuk apa lo minta maaf?” tanya Kirana, sedikit menantang.

Bima mengangkat bahu. “Hampir nabrak lo lagi.”

“Itu aja?”

“Itu aja.”

Kirana mengepalkan tangan. “Kalau untuk kejadian minggu lalu? Lo tabrak gue sampai jatuh, gak minta maaf, gak bantuin. Itu gimana?”

Bima diam sejenak. Matanya menatap Kirana dengan ekspresi tidak terbaca.

“Lo masih ingat itu?”

“Iya, gue masih ingat. Lo pikir gue gampang lupa?”

Bima menghela napas. “Gue gak akan minta maaf.”

“Kenapa?!”

“Karena gue gak sengaja. Dan lo juga gak liat depan. Jadi... anggap aja sama-sama salah.”

“Sama-sama salah tapi lo yang gak minta maaf duluan?”

Bima tidak menjawab. Dia malah melihat ke arah tangan Kirana – telapak tangannya yang masih ada bekas goresan tipis.

“Lukanya masih?” tanyanya.

Kirana sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Iya... masih.”

“Pakai betadine.”

“Itu aya—“

“Gue duluan, ya. Ada teman nunggu.”

Bima berjalan melewati Kirana tanpa menunggu jawaban. Kirana hanya bisa berdiri di lorong dengan perasaan campur aduk.

Dia perhatian atau cuek sih?

Setelah ke toilet, Kirana kembali ke mejanya. Maya langsung bertanya.

“Lama banget. Lo ketemu apa di toilet?”

“Ketemu dia,” jawab Kirana datar.

“Bima? Terus?”

“Dia gak minta maaf. Cuma bilang lukaku pakai betadine.”

Maya dan Sari saling pandang.

“Berarti dia perhatian, dong,” kata Sari pelan.

“Perhatian apaan. Dia cuma bilang itu biar keliatan baik.”

“Tapi dia lihat luka lo, Kira. Berarti dia perhatikan.”

Kirana tidak menjawab. Dia melihat ke arah meja Bima. Cowok itu sedang tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Gendut. Tawa kecil itu – Kirana baru sadar – membuat wajah dingin Bima terlihat sedikit... hangat.

Tapi tetap tidak minta maaf.

Sore harinya, Kirana tidak sengaja melewati bengkel mahasiswa teknik mesin. Dia mau mengambil jalan pintas ke perpustakaan.

Di bengkel itu, dia melihat Bima lagi. Tapi Bima yang ini berbeda. Jaket jeans lusuhnya kembali menempel di badan. Tangan dan wajahnya penuh noda hitam oli. Rambutnya acak-acakan seperti kena angin. Dia sedang memegang kunci pas dan membongkar mesin motor.

Gendut dan Roni ada di sampingnya, sama-sama kotor.

“Bim, kencengin baut itu!” teriak Gendut.

“Udah,” jawab Bima dengan suara sedikit berat karena konsentrasi.

Kirana berhenti di pinggir bengkel, memperhatikan dari kejauhan.

Dua wajah yang sangat berbeda. Satu rapi dan wangi. Satu kotor dan acak-acakan.

Dan Kirana tidak tahu kenapa, tapi dia jadi penasaran. Bukan penasaran yang romantis. Hanya penasaran kenapa cowok ini bisa berubah drastis antara di kantin dan di bengkel.

Mungkin anak mesin memang begitu.

Tapi rasa kesalnya karena belum mendapat maaf masih tetap ada. Belum hilang.

Kirana melanjutkan langkah ke perpustakaan, meninggalkan Bima yang asyik dengan kunci pas dan motornya. Di dalam dadanya, tidak ada deg-degan. Hanya rasa kesal biasa yang masih mengendap.

Suatu hari, gue akan dapet maaf dari lo, Bima. Atau setidaknya lo sadar kalau lo salah.

Topeng Baru Sang Playboy

Hari itu kantin Uwikerta lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena hujan tipis di luar membuat banyak mahasiswa memilih bertahan di dalam. Kirana, Maya, dan Sari kebetulan mendapatkan meja favorit mereka di pojok dekat jendela setelah menunggu hampir sepuluh menit.

Maya baru saja selesai mengambil nasi goreng dari stan langganan. Sari memesan mie ayam. Kirana seperti biasa hanya es teh manis dan risol mayo.

“Eh, lo denger gak berita terbaru?” Maya memulai dengan mata berbinar.

Kirana mengunyah risolnya malas. “Apa lagi?”

“Tentang si Bima. Cowok teknik mesin yang pernah nabrak lo itu.”

Kirana mendengus. “Yang bau oli itu?”

“Iya. Ternyata dia playboy, Kira. Suka gonta-ganti pacar.”

Sari yang sedang menyedot mie ayamnya mengangkat alis. “Serius?”

“Serius banget. Gue dengar dari Kak Irwan, senior himpunan teknik mesin. Katanya Bima udah ganti pacar empat kali dalam setahun. Jurusan beda-beda. Semua putus dalam waktu singkat. Tiba-tiba dia dingin, chat dibaca tapi gak dibales, kalau ketemu pura-pura gak kenal.”

Kirana mengangkat bahu. Matanya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

“Emang pantes,” kata Kirana sambil mengambil risol lagi. “Cowok kaya dia mah keliatan gak bener dari awal. Cuek, kasar, gak pernah minta maaf. Ya cocok aja jadi playboy.”

Maya menatap Kirana agak heran. “Kok lo tenang banget sih? Biasanya lo kalau denger gosip kaya gitu pasti heboh.”

“Biasa aja. Udah gue duga dari pertama kali liat mukanya.”

Sari tersenyum kecil. “Lo emang suka nebak-nebak orang, Kira.”

“Bukan nebak. Cari aman aja. Gue tuh orangnya gak mau ribet urusan cowok kayak dia.”

Maya memiringkan kepala. “Tapi kok lo kaya dendam banget sih sama dia? Udah berapa minggu kejadiannya, masa masih lo bawa-bawa terus? Ntar lama-lama suka baru tau rasa lo.”

Kirana hampir menyemburkan es tehnya. “Hah? Dendam? Gue gak dendam. Gue cuma... gak suka. Itu aja.”

“Ya sama aja. Lo terlalu sering mikirin dia padahal lo bilang gak peduli.”

“Gue gak mikirin dia, Ya. Gue cuma mengamati. Itu beda.”

Sari menimpali pelan, “Mengamati juga bentuk kepedulian, Kira.”

Kirana meletakkan gelasnya agak keras. “Ya ampun, kalian berdua kok malah bela dia sih? Lo lupa dia nabrak gue? Lo lupa dia gak pernah minta maaf?”

Maya mengangkat kedua tangan. “Gue gak bela dia. Gue cuma bilang lo tuh keliatan banget keselnya. Mungkin lo perlu move on dari rasa benci itu.”

“Gue gak perlu move on dari apa pun karena gue gak pernah suka dia. Malah gue bersyukur gue gak suka sama orang kayak dia. Ogah gue suka sama cowok bau oli, kotor, dan acak-acakan kaya dia. Kaya gak ada cowok lain aja. Iww.”

Maya terkekeh. “Yee, gitu-gitu dia salah satu cogan tertampan di kampus lho, Kira.”

Kirana mengerutkan dahi. “Cogan? Dia?”

“Iya. Lo kagak liat apa? Tinggi, ganteng, mukanya bersih walau kadang kena oli. Tapi dia keren banget, tahu gitu. Terus juga gagah lagi. Banyak cewek yang naksir dia, sayang aja kelakuannya kurang bener.”

Kirana menatap Maya dengan alis terangkat tinggi. “Wah, wah, wah. Jangan-jangan elu lagi yang suka sama dia, Maya?”

Maya tersenyum sedikit canggung. Jarinya mulai memainkan ujung rambut.

“Iya sih sebenernya... cuma kan lo tau sendiri, gue udah punya pacar. Dan gue sayang banget sama pacar gue. Jadi ya cuma sebatas naksir dikit. Wajar dong sebagai cewek liat cowok ganteng.”

“Naksir dikit tapi tahu detail wajahnya bersih, badannya tinggi, gagah, keren. Lo mah naksir berat, Ya.”

“Ya enggaklah. Gue setia sama pacar gue.”

Sari hanya tersenyum sambil mendengarkan, lalu kembali fokus ke makanannya tanpa menunjukkan ekspresi khusus.

Kirana menghela napas. “Sudahlah, gak penting. Yang penting gue gak akan pernah dekat sama orang kayak Bima. Playboy, cuek, bau oli. Udah tiga alasan cukup buat gue jauhin dia.”

Belum sempat Maya menjawab, tiba-tiba suasana kantin berubah. Dari pintu masuk, terdengar gemuruh suara cewek-cewek yang mulai berbisik-bisik. Beberapa mahasiswa menoleh ke arah pintu. Kirana tanpa sadar mengikuti arah pandangan mereka.

Seorang cowok tinggi masuk ke kantin. Dia masih berpakaian rapi seperti kemaren pada saat sedang di Kampus.

Dia memakai kemeja lengan panjang putih bersih, lengan disingsingkan rapi sampai siku. Celana bahan hitam, sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya ditata rapi, sedikit disisir ke belakang. Wajahnya bersih, tidak ada noda sedikit pun. Dari jarak beberapa meja, aroma parfum yang samar-samar tapi wangi tercium saat dia berjalan.

Bima.

Dia terlihat seperti model yang baru turun dari majalah.

Dua cewek dari meja depan langsung berdiri. “Bim, boleh foto bareng?” salah satu dari mereka bertanya dengan senyum lebar.

Bima mengangguk kecil. Wajahnya tetap datar, tidak ada senyum, tapi dia bersedia. Beberapa cewek lain ikut mengerumuni. Ponsel diangkat. Kamera berbunyi. Suara tawa kecil dan bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut.

“Ganteng banget hari ini, Bim!”

“Wangi banget, pakai parfum apa sih?”

Bima tidak menjawab. Setelah selesai difoto, dia berjalan ke stan bakso tanpa ekspresi, seperti tidak peduli dengan kerumunan di belakangnya.

Maya menutup mulut dengan tangan. “Nah, tuh. Lo liat sendiri. Dia tuh kaya gitu kalau lagi rapi.”

Sari ikut memandang sekilas, lalu kembali makan dengan tenang.

Kirana melengos. Wajahnya berubah sedikit jijik, ditambah ekspresi tidak percaya.

“Apa banget dah selera cewek-cewek kampus sini. Gak banget. Itu aja dikereuin.”

Maya terkekeh. “Ya elah, Kira. Lo tuh gak bisa liat ketampanan orang. Padahal jelas-jelas dia ganteng.”

“Ganteng mah banyak. Tapi kelakuannya? Playboy, cuek, sombong. Gak cukup ganteng buat nutupin semua itu.”

Maya menatap Kirana dengan senyum setengah serius. “Gua pegang ya ucapan lu. Awas lu kalo suka ama dia nanti. Gue bakal ingetin lo terus.”

Kirana mendengus keras. “Ga bakal. Gue bisa jamin. Gue punya harga diri, Ya. Masa iya gue jatuh cinta sama cowok playboy bau oli. Udah, stop bahas dia. Gue muak.”

Maya mengangkat bahu. “Siap. Tapi gua catat ya perkataan lo.”

Sari hanya tersenyum tipis sambil menyedot es jeruknya dan segera menikmati makan siang.

Kirana mengambil risol terakhir di piringnya. Matanya sempat melirik sekilas ke arah stan bakso, tempat Bima sedang duduk sendirian dengan mangkuk bakso di hadapannya.

Teman teman Bima tidak datang karena ada urusan di bengkel mesin yang harus mereka selesaikan. Sementara Bima sudah tidah tahan lagi karena sudah kepalang lapar makanya dia izin duluan ke kantin. Wajahnya tetap datar, tidak menoleh ke mana pun, tidak menggubris cewek-cewek yang masih sesekali melirik ke arahnya.

Kirana mengalihkan pandangan.

“Dasar,” gumamnya pelan.

Maya mendengar. “Apa?”

“Gak ada. Makan tuh.”

Di luar kantin, hujan tipis mulai reda. Tapi suasana di dalam masih hangat dengan bisik-bisik tentang Bima yang hari ini tampil beda.

Kirana tetap pada pendiriannya.

Tidak akan pernah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!