NovelToon NovelToon

MY DEAR SECRETARY

Cassia Manon

Empat musim telah berlalu sejak Cassia Manon pertama kali melangkah ke gedung Kingsford Tower.

Pagi itu, 15 November lagi. Tepat 365 hari.

Cassia berdiri di depan cermin kamar sewaannya yang sempit di Queens. Sebenarnya, dengan gajinya yang lumayan besar—dia bisa saja menyewa apartemen mewah.

Tapi, dia hanya ingin hemat agar bisa menabung untuk hari tuanya kelak. Karena Cassia selalu berpikir bahwa dia akan menua sendirian, tanpa keluarga atau pun pasangan.

Ia menata rambut coklatnya dengan rapi—kuncir kuda tinggi, tanpa satu helai pun yang lepas. Kacamata dengan frame hitam khas tahun 90-an masih setia di batang hidungnya yang mancung.

Lensa minusnya sebenarnya tak terlalu besar, hanya saja entah kenapa Cassia lebih nyaman memakai kacamata sebagai perlindungan diri dari tatapan mata yang menusuk.

Warna pakaiannya sekarang berbeda dari setahun lalu. Bukan karena dia tiba-tiba merubah penampilan, melainkan karena kepala HRD mengancam akan memindahkannya ke divisi lain jika terus datang dengan warna pakaian yang selalu sama.

Cassia memilih satu setelan formal dengan model kuno berwarna peach tua yang dia beli dari toko barang bekas di Brooklyn.

Jasnya sedikit kebesaran di bahu, roknya panjang sampai betis, dan blus putih di dalamnya masih baru dan putih. Sepatu hak rendah hitam membungkus telapak kakinya.

Penampilannya seperti seorang pustakawan dari tahun 1985, pikir Cassia sinis. Tapi ini terasa nyaman baginya karena dia tak perlu risih dengan lirikan para pria hidung belang yang pastinya tidak akan melirik padanya sama sekali.

Dengan tas hitam yang sama, isinya laptop perusahaan, buku catatan, bekal roti, dan beberapa barang yang menurutnya penting—Cassia berangkat menuju stasiun kereta bawah tanah.

*

*

Kantor terasa sama seperti biasa. Tak ada yang berubah, kecuali penampilan para pegawai staf yang selalu semarak dan modis, sangat kontras dengan dirinya.

Cassia hanya mengambil dan membawa dokumen penting yang harus segera ditandatangani Maxence Kingsford hari itu. Dokumen kontrak merger dengan perusahaan teknologi senilai 2 miliar dollar. Dan hari ini sang bos tak masuk ke kantor karena akan pergi ke luar negeri.

Max lupa membawanya pulang kemarin. Sekarang dokumen itu ada di tangan Cassia, dan dia harus mengantarnya ke penthouse Maxence yang tak jauh dari kantor.

Penthouse di Kingsford Tower II, lantai 62.

Cassia sudah dua kali ke sana sebelumnya. Dua kali itu juga untuk mengantar dokumen.

Dua kali itu dia melihat wanita berbeda keluar dari kamar tidur Maxence dengan rambut acak-acakan dan kemeja pria yang kebesaran.

Dia berdoa semoga kali ini tidak ada pemandangan seperti itu lagi.

Petugas security mengenali Cassia. "Miss Manon, Tuan Kingsford sudah menunggu"—lalu petugas itu memberinya akses lift eksklusif.

Lift naik perlahan. Cassia menggenggam map coklat berisi dokumen itu erat-erat. Jantungnya berdetak normal. Setelah satu tahun, dia pikir dia sudah kebal.

Pintu lift terbuka langsung ke ruang tamu penthouse. Luas, mungkin 300 meter persegi. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit menghadap ke selatan di mana Patung Liberty tampak seperti mainan putih di kejauhan.

Dan dari salah satu pintu di sebelah kiri, kamar tidur utama, terdengar suara tawa wanita. Doanya tampaknya tidak terkabul. Ada wanita lagi di sini.

Cassia berhenti di ambang pintu. Seorang wanita melangkah keluar. Rambut pirang panjang bergelombang, mata biru.

Dia hanya mengenakan kemeja putih, kemeja Maxence, yang hanya sampai ke paha. Kakinya jenjang, tanpa alas, kuku kaki dicat merah.

Cassia tak suka penampilan wanita itu. Seperti wanita murahan, pikirnya. Hanya wanita simpanan yang jika bosan akan segera dibuang oleh Max.

(JANGAN LUPA KOMEN YANG BANYAAAAAAKKK)

Bos Playboy

Wanita itu menatap Cassia dengan malas. "Oh, sekretaris Max? Dia di kamar mandi. Katanya ada dokumen, mana berikan padaku." Wanita itu meregangkan tubuh, pakaiannya sedikit terbuka di bagian dada.

Cassia tidak menunduk. Tidak malu. Matanya datar.

"Ya, aku Cassia Manon, sekretaris eksekutif Tuan Kingsford. Dokumen ini sangat penting. Aku akan menunggu di ruang tamu."

Dia berbalik dan duduk di sofa, meletakkan map di atas meja. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Dingin seperti es.

“Hei, kau pikir aku akan merusak dan mencuri dokumennya?” wanita itu sedikit marah dengan sikap Cassia.

Cassia hanya diam saja, tak terlalu mempedulikannya.

Dari dalam kamar mandi, suara air berhenti. Maxence keluar beberapa menit kemudian—hanya mengenakan handuk yang disampirkan di pinggangnya, dada bidangnya masih basah, rambut gelapnya digerai ke belakang.

Dia mengusap wajahnya dengan handuk kecil, lalu tersenyum melihat Cassia.

"Ah, Cass. Tepat waktu seperti biasa."

Cass. Panggilan yang sudah biasa. Tidak akrab. Hanya agar lebih singkat saja.

Wanita pirang tadi masuk kembali ke dalam kamar dengan wajah kesal.

Max mengambil dokumen itu, membacanya sekilas—Cassia tahu dia tidak benar-benar membaca, karena dia sudah meringkas semuanya di halaman pertama—lalu menandatangani di lima tempat.

"Selesai." Dia menyerahkan kembali map itu. "Tadi itu Natasha. Pacar baruku."

Cassia mengangguk. ‘Tak akan lama. Kutebak, mungkin hanya seminggu. Apa yang sebenarnya Max cari? Semua wanita selalu terhempas dengan mudah, secantik apapun mereka,’ pikir Cassia.

Tidak ada cemburu di hatinya meskipun sebenarnya dia diam-diam menyukai sang bos yang sebenarnya memiliki sifat yang sangat baik dan terlalu dermawan. Mungkin karena Cassia sadar bahwa Max tak akan pernah tertarik padanya, pada gadis kuno yang membosankan.

Max tidak pernah, tidak sekali pun menatapnya dengan hasrat. Dia hanya menatap Cassia dengan rasa hormat profesional.

Kadang dengan rasa kagum saat Cassia menyelamatkan perusahaan dari kesalahan strategis. Tapi tidak pernah sebagai wanita, hanya pegawai teladan.

‘Dia hanya tertarik pada otakku,’ pikir Cassia. ‘Dan itu sudah cukup. Aku sudah cukup senang karena aku masih berguna baginya.’

"Itu saja, Cass. Terima kasih sudah mengantar sampai sini. Kau boleh kembali ke kantor." Max sudah tidak memperhatikannya lagi. Dia berbalik masuk ke dalam kamarnya.

Cassia berdiri. Membungkuk sopan meskipun pria itu tak melihatnya lagi.

Dia berjalan keluar, menekan tombol lift. Pintu lift menutup. Cassia sendirian di ruang kecil itu. Hanya dia dan bayangannya di dinding lift berlapis cermin.

Dia menatap pantulannya, kacamata, setelan kuno yang terlalu besar, rambut kuncir rapi tanpa gaya. Tidak ada satu pria pun yang akan menatapnya dua kali. ‘Itu kan, yang kau inginkan?’ bisiknya dalam hati.

‘Tapi tidak apa-apa,’ bisiknya dalam hati. ‘Aku butuh uang dan pekerjaan ini. Aku butuh uang untuk membuktikan pada keluarga Manon bahwa aku bisa hidup tanpa mereka.’

Dia mengepalkan tangannya. Lalu melepaskannya.

Saat lift mencapai lobi dan pintu terbuka, Cassia melangkah keluar dan berjalan menuju gedung perusahaan tempatnya bekerja tanpa menoleh ke belakang.

Tak lama, ponselnya berbunyi. Dia mengambilnya dari tas dengan cepat, takut jika sang bos menelepon.

Tapi ternyata, nama ayahnya yang ada di layar ponselnya. Dia mengangkatnya. “Halo, Dad.”

“Cia, nanti malam datanglah ke rumah,” kata Bobby Manon, ayah kandung Cassia.

Cassia tak segera menjawab. “Selamat ulang tahun, Dad,” ucapnya kemudian.

“Terima kasih, Cia. Nanti malam datanglah ke rumah. Akan ada makan malam bersama keluarga.”

“Tapi … mereka tak menerimaku, Dad.”

“Kau tetap anakku. Datanglah.”

“Bagaimana dengan nenek dan … istrimu?” Suara Cassia semakin pelan dan ragu.

“Datanglah. Aku mengharapkan kehadiranmu. Jangan hiraukan mereka. Oh ya, kau butuh uang, Cia? Jangan sungkan jika—“

“Gajiku sangat besar, Dad,” potong Cassia. “Aku sangat cukup.”

“Syukurlah. Jangan lupa nanti datang. Tak perlu membawa hadiah. Hadiahku adalah kehadiranmu,” sahut sang ayah yang suaranya selalu menenangkan.

“Baiklah, Dad.” Lalu sambungan telepon berakhir. Cassia menghela napas panjang, kemudian kembali berjalan.

Masa Lalu Yang Menyedihkan

Cassia menghela napas panjang, kemudian kembali berjalan. Ponselnya masih tergenggam erat di tangan. Nama ayahnya—Bobby Manon—masih terbayang di layar meski panggilan telah berakhir.

Ada rasa hangat sekaligus perih yang menusuk di dadanya. Hangat karena suara ayahnya yang selalu lembut dan penuh kasih. Perih karena di balik undangan itu, selalu ada harga yang harus dibayar.

Bobby Manon. Nama itu cukup ternama di kalangan pengusaha properti kelas menengah. Tidak sekaya Kingsford tentu saja, tetapi cukup mapan dengan beberapa ruko dan apartemen yang disewakan.

Cassia kecil pernah hidup dalam kemewahan itu. Sejak usia lima tahun, dia tinggal bersama pelayan dan pengasuh setelah ibunya meninggal, menjauh dari rumah besar ayahnya karena terusir

Bukan karena ayahnya jahat. Bobby Manon adalah pria baik yang hanya memiliki satu kesalahan, berselingkuh dengan seorang wanita penghibur dan akhirnya memiliki anak haram bersama, yaitu Cassia.

Nenek Cassia—dari pihak ayah—tidak pernah menyukai ibunya, bahkan membencinya, termasuk Cassia.

Ayahnya punya istri sebelumnya, yang berasal dari keluarga pengusaha tekstil. Dari pernikahan pertama itu, Bobby memiliki dua orang anak, yaitu kakak tiri Cassia yang bahkan belum pernah diajaknya bicara sejak kecil karena dilarang.

Tapi Bobby tetap bertanggung jawab atas Cassia. Setiap bulan, ada transfer uang yang selalu dikembalikan Cassia sejak Cassia sudah bekerja di Kingsford Corp.

Setiap tahun, di hari ulang tahunnya, ayahnya akan menelepon. Dan setiap kali ada acara keluarga, undangan selalu diberikan.

Meskipun Cassia tahu bahwa kedatangannya hanya akan disambut dengan muka masam dari nenek dan keluarga tirinya.

*

Tepat pukul lima sore, Cassia keluar dari gedung Kingsford Corp. Dia memilih naik kereta menuju kawasan rumah ayahnya. Bukan karena tidak mampu naik taksi, tapi karena dia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Di dalam kereta yang agak lengang, Cassia duduk dekat jendela. Ponselnya bergetar lagi. Ada pesan singkat dari ayahnya. [Cia, jangan lupa. Kau masih ingat rumahnya, kan?]

Cassia tersenyum tipis membaca pesan itu. Dia masih ingat saat awal kakinya melangkah masuk ke rumah itu—setelah ibunya meninggal.

Tapi itu tak bertahan lama karena sang nenek dan ibu tirinya tak mengharapkan kehadirannya di sana. Hingga akhirnya dia diusir keluar dan tinggal bersama para pelayan yang disediakan oleh ayahnya.

Meskipun sejak kecil ayahnya memfasilitasinya dengan hal-hal mewah, tapi Cassia merasa kosong. Dia melampiaskannya pada pendidikan saja agar menjadi yang terbaik.

Tujuannya hanya satu, yaitu ingin dilihat oleh Keluarga Manon bahwa dia begitu membanggakan. Tapi, ternyata tidak. Dia tetap dianggap aib yang menjijikkan.

"Aku sangat menyanyangimu, Cia. Selamanya. Maafkan aku. Ini karena kesalahanku," kata ayahnya saat itu.

Cassia berusia lima tahun waktu itu, tapi dia sudah mengerti bahwa selamanya tidak selalu berarti bersama.

*

*

Rumah itu tampak sama seperti yang dia ingat. Angkuh.

Cassia berdiri di depan halaman selama beberapa menit. Tangannya memegang gantungan kunci di tasnya karena gugup. Dia hampir saja menekan bel ketika pintu utama terbuka dari dalam.

Seorang perempuan tua berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun.

Neneknya. Nyonya Imelda Manon. Rambutnya tetap pirang menyala, dan matanya tetap tajam. Tatapan yang sama yang dulu membuat dirinya menangis tanpa suara karena takut.

Tatapan yang sama yang membuat Bobby Manon tak berani membantah saat diminta mengusir dirinya dari sana.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!