NovelToon NovelToon

KAMU SELINGKUH, KAMU BANGKRUT

01

.

Tok tok tok!

Ketukan pelan terdengar di pintu ruangan, ketika Anindya Maheswari duduk tegak di kursi kerjanya dengan tumpukan berkas di hadapannya. Matanya meneliti setiap baris angka dan kalimat dalam berkas-berkas itu.

“Masuk,” serunya tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.

Rosita, asistennya melangkah masuk dengan membawa sebuah amplop coklat tebal. “Maaf, Bu Anin. Ada paket untuk Anda, tapi tidak ada nama pengirimnya,” lapor Rosita sambil mengulurkan amplop tersebut.

Anindya mengernyitkan dahi, namun tangannya tetap terulur menerima benda itu. Jemarinya yang lentik membuka perekat amplop itu dengan tenang. Namun begitu amplop terbuka, ketenangan itu runtuh dalam sekejap.

Isi amplop itu membuat napasnya tercekat di tenggorokan. Beberapa lembar foto berwarna jatuh berserakan di atas meja kerjanya. Foto Raditya, Suaminya, bersama seorang wanita yang sedang memegang perutnya yang besar. Hamil.

Jantung Anindya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, seakan hendak meledak. Tangannya gemetar hebat saat ia membalik foto-foto berikutnya satu per satu.

Di foto itu, Raditya terlihat begitu hangat dan perhatian. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh kasih sayang. Sesuatu yang selama ini ia pikir hanya untuknya.

Ting!

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara notifikasi ponselnya memecah keheningan. Anin membukanya dan terdapat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Jika kau ingin melihat lebih jelas, datanglah ke Rumah Sakit Graha Medika sekarang.”

Anindya terdiam membeku selama beberapa detik. Dunia seakan berhenti berputar. Wajahnya pucat pasi, namun matanya perlahan berubah menjadi tajam.

“Apa jadwalku setelah ini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

“Tidak ada, Bu. Sisa hari ini kosong,” jawab asistennya pelan.

“Baik. Siapkan mobil. Aku akan pergi sekarang.”

*

Beberapa saat kemudian, mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Anin berhenti tepat di halaman Rumah Sakit Graha Medika. Anindya melangkah dengan hati yang terasa sangat berat. Dalam hatinya masih berharap, itu hanya pesan dari orang iseng.

Matanya menyapu setiap sudut lobi rumah sakit yang megah itu, hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada satu titik.

Raditya. Suaminya. Pria yang telah ia dampingi, dan cintai selama dua puluhtahun, sedang berjalan pelan sambil menggandeng tangan seorang wanita yang perutnya sudah sangat besar. Di sisi lain, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun memegang tangan pria itu dengan manja, sesekali menengadah meminta perhatian.

Hati Anindya hancur. Seolah-olah semua perjuangan, air mata, dan semua janji yang pernah mereka ucapkan tidak pernah ada.

*

dua puluhTahun Yang Lalu...

Anindya masih ingat jelas hari itu. Hari ketika mereka memutuskan untuk menikah. Mereka tidak punya apa-apa saat itu. Tidak ada harta apalagi rumah mewah. Yang ada hanya sebuah kamar kontrakan sempit dan keyakinan bahwa cinta bisa mengatasi segalanya.

“Sayang, terima kasih sudah mau menemani aku berjuang,” ucap Raditya kala itu, suaranya terdengar lelah sambil memijat pundak Anindya yang terasa pegal setelah seharian bekerja. “Kamu pasti capek sekali.”

Anindya tersenyum kecil, menggeleng pelan. “Kenapa berterima kasih? Kita sama-sama berjuang.”

“Ini salahku. Aku yang belum bisa membahagiakanmu,” lanjut Raditya dengan suara parau.

“Jangan bicara seperti itu,” sahut Anindya sambil memegang pipi suaminya. “Kita memang tidak lahir dari keluarga kaya. Tapi aku percaya suatu hari nanti kita bisa jadi orang sukses.”

Raditya menatapnya lama. “Kamu benar-benar wanita yang baik sekali,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Namun, kalimat yang terlontar kemudian tanpa Anin sadari akan menjadi awal dari sebuah lubang besar dalam pernikahan mereka.

“Usaha kita masih belum berhasil. Hidup kita masih serba sulit. Daripada nanti anak kita ikut menderita, bagaimana kalau kita tunda dulu? Kita fokus membangun masa depan dulu.”

Anindya terdiam. Ada rasa perih yang menusuk hatinya saat itu. Namun, karena rasa cinta dan kepercayaannya yang buta, ia pun mengangguk.

“Baiklah kalau itu memang keputusan terbaik untuk kita.”

Kembali ke saat ini

Setelah dua puluh tahun, semua kerja keras itu terbayar lunas. Perusahaan mereka kini berdiri megah, nama mereka harum di mana-mana, harta berlimpah ruah. Kesuksesan yang dulu hanya angan-angan, kini menjadi nyata.

Namun ternyata, kesuksesan itu juga yang merenggut segalanya.

Anindya menatap pemandangan menyakitkan di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Mengapa... setelah semua perjuangan kita…” suaranya bergetar lirih, hampir tak terdengar. “Yang kudapatkan bukan kebahagiaan. Melainkan pengkhianatan?"

Anindya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan.

*

Anindya berjalan gontai keluar dari rumah sakit. Air matanya masih mengalir dan sesekali ia seka dengan punggung tangan. Masuk ke dalam mobilnya dan mengambil nafas untuk menenangkan diri. Setelah merasa keadaannya lebih baik, Anindya mulai menjalankan mobilnya, tapi ia tidak kembali ke perusahaan, tidak juga pulang ke rumah megah yang selama ini ia tempati bersama Raditya. Ia mengarahkan mobilnya menuju rumah sahabat baiknya, Zaskia.

“Anin?!” Zaskia yang sedang duduk di sebuah sofa panjang terkejut melihat wajah sahabatnya yang pucat dan kacau. “Kamu kenapa?! Ada apa?!” tanya Zaskia sambil menarik tubuh sahabatnya ke dalam pelukan.

Air mata kembali jatuh membasahi pipi Anindya saat ia menyerahkan tumpukan foto yang sudah sedikit kusut karena genggamannya.

Zaskia mengambilnya, dan seketika itu juga, wajahnya berubah merah padam menahan amarah.

“Raditya!” geramnya tertahan. “Dasar brengsek!”

Anindya hanya diam, bahunya semakin terguncang oleh isak tangis.

“Kurang ajar!” desis Zaskia, matanya memancarkan api kemarahan. Ia menatap Anindya, lalu menarik napas panjang seolah baru mengingat sesuatu yang besar. “Ada sesuatu yang harus kamu tahu, Anin. Sesuatu yang selama ini aku sembunyikan karena takut kamu sakit hati.”

Anindya mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. “Apa…?”

“Lima tahun lalu... ” Zaskia mulai bicara pelan. “Aku pernah melihat Radit bersama seorang cewek. Dia yang ada di foto itu.”

Anindya syok. Tubuhnya terasa membeku. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.

“Aku sempat mengancam Radit akan memberitahukan ini padamu. Tapi kemudian dia bersumpah akan putus hubungan dengan cewek itu. Dan aku pikir Radit benar-benar berubah, karena aku lihat hubungan kalian juga baik-baik saja.”

Anindya semakin tergugu. Air matanya mengalir semakin deras.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ternyata mereka masih bersama bahkan punya dua anak.” Zaskia meraih tubuh sahabatnya dan memeluknya erat. Wanita itu bahkan ikut menangis karena merasa ikut bersalah telah menyembunyikan hal buruk itu.

“Pantas saja,” bisik Anin pelan, seolah tersadar akan sesuatu. "Sudah lama Ayah dan Ibu mertua tidak pernah lagi menuntut cucu. Ternyata, mereka sudah punya cucu.”

Zaskia menggenggam tangan sahabatnya erat-erat. “Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kalau kalian bercerai sekarang, bukankah itu justru menguntungkan mereka? Wanita selingkuhan itu yang nanti akan menikmati semua hasil keringatmu, semua harta yang kamu bangun dari nol!”

Ruangan itu menjadi hening. Hanya terdengar suara napas Anindya yang mulai teratur. Perlahan namun pasti, ekspresi wajah wanita itu berubah total. Air matanya berhenti mengalir. Digantikan oleh sebuah senyum tipis sedingin es.

Ia menggenggam balik tangan Zaskia, kali ini dengan genggaman yang kuat dan mantap. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucapnya. Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang hingga membuat bulu kuduk Zaskia merinding.

“Apa yang akan kamu lakukan? Jangan bertindak nekad!”

Anindya melepas pelukan Zaskia lalu berdiri tegak. Aura seorang CEO yang tangguh dan kejam mulai terpancar kembali dari dirinya, jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Zaskia menelan ludah melihat perubahan drastis pada sahabatnya.

“Mereka lupa satu hal. Jika aku bisa membuat Radit sukses, aku juga bisa membuatnya hancur!”

02

.

Anin meninggalkan rumah Zaskia setelah merasa lebih baik. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumah. Wanita itu mengemudikan mobilnya menuju sebuah gedung perkantoran di pusat kota, tempat pengacara ternama yang selama ini menjadi konsultannya dalam urusan hukum. Haryo Wibowo.

Sepanjang perjalanan hatinya bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang yang mengirimi dia foto-foto Radit dan selingkuhannya? Siapa juga yang mengirimi dia pesan tentang keberadaan Radit di rumah sakit? Apakah teman, atau lawan? Tidak ada nama pengirim foto. Anin mencoba menghubungi nomor pengirim pesan, tapi nomor itu sudah tidak aktif.

*

Sesampainya di kantor firma milik Haryo Wibowo, Anindya langsung dipersilakan masuk, karena seluruh kantor tersebut tahu, Anin adalah klien Pak Haryo. Anin duduk di hadapan Pak Haryo bahkan tanpa menunggu dipersilakan.

“Bu Anin?” Pak Haryo tampak terkejut dengan kedatangan Anindya. “Apa yang membawa Anda ke sini? Kenapa tidak memanggil saya jika ada yang penting?”

“Saya ingin mengajukan gugatan perceraian dengan suami saya, Raditya," jawab Anin tanpa basa-basi. "Dia sudah berselingkuh di belakang saya. Saya ingin dia keluar dari rumah tanpa membawa harta sepeser pun. Apakah bisa?”

Pak Haryo mendengarkan dengan seksama, tangannya mencatat beberapa poin penting di buku catatannya.

“Sebelumnya, Bu. Apakah Ibu dan Pak Radit memiliki perjanjian pranikah yang mengatur soal pembagian harta jika terjadi perceraian?” tanya pengacara Haryo setelah Anin selesai bicara.

Anindya menggelengkan kepala perlahan. Senyum pahit terukir di bibirnya. “Tidak ada, Pak. Dulu kami menikah dalam keadaan miskin, tidak punya apa-apa. Saya terlalu mempercayainya, saya tidak pernah berpikir akan ada hari seperti ini. Bagi saya, cinta dan kepercayaan itu sudah cukup. Siapa sangka dia akan melakukan hal sekejam ini?"

Pengacara itu menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.

“Kalau begitu, maafkan saya, Bu. Saya harus jujur. Tanpa perjanjian pranikah, secara hukum semua aset yang diperoleh selama menikah otomatis menjadi harta bersama. Artinya, harus dibagi dua sama rata. Ibu tidak bisa begitu saja menyingkirkannya tanpa memberi apa-apa, sekalipun dialah pihak yang berselingkuh. Terlebih di mata publik dan hukum, Pak Raditya juga dianggap turut andil membangun bisnis itu.”

“Lalu tidak ada jalan lain sama sekali, Pak?” tanya Anindya, matanya menyipit penuh tekad.

“Ada satu jalan, tapi ini langkah yang cukup berat dan berisiko,” jawab Pak Haryo. “Jika Ibu benar-benar tidak ingin dia menikmati hasil kerja keras Ibu, satu-satunya cara adalah dengan mengalihkan semua aset atas nama pribadi Ibu, atau… “

"Apa?" Anin menatap wajah pengacara Haryo dengan tidak sabar.

Pengacara Haryo memajukan badan hingga posisi wajahnya berada di atas meja hingga dua bola mata mereka saling bertatapan. "Anda membuat perusahaan dan aset-aset tersebut dalam kondisi bangkrut sebelum proses pembagian harta dimulai. Namun, ini butuh strategi yang matang dan waktu yang tepat.”

Mata Anindya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka. Membuat perusahaan sendiri dalam kondisi bangkrut? Otaknya mulai berputar memikirkan setiap kemungkinan yang disampaikan pengacara itu. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menjawab, nada dering ponselnya berbunyi nyaring di ruangan yang hening itu.

Anin mengambil ponsel dari tasnya, dan nama yang tertera di layar membuat jantungnya berdenyut nyeri. Raditya.

Dengan mata yang menyala menahan amarah, ia mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“Sayang? Kamu di mana? Ini sudah sore, kenapa belum pulang?” suara Raditya terdengar lembut dan penuh perhatian dari seberang telepon. “Aku sudah masak makanan kesukaanmu, sudah aku siapkan semuanya di meja makan. Kamu pasti capek seharian kerja, kan?”

Anindya merasa dadanya begitu sesak saat ingatannya melayang jauh ke masa lalu. Selama dua puluh tahun ini, Radit tidak pernah ada gelagat mencurigakan. Radit suami yang sempurna. Selalu peka, menyiapkan apa pun yang ia butuhkan tanpa diminta. menjadi sandaran di saat lelah, dan mendukung setiap keputusannya. Hingga Anindya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Namun sekarang, kata-kata manis itu terasa seperti racun. Di balik semua kebaikan itu, ternyata pria yang berdiri di sampingnya selama ini telah menyembunyikan rahasia besar yang menghancurkan segalanya.

“Aku akan pulang sebentar lagi,” jawab Anindya. Suaranya datar, tidak ada nada hangat seperti biasanya.

Di seberang telepon, Raditya mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda dari suara istrinya. “Sayang? Kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar aneh. Kamu ada di mana biar aku jemput?”

“Aku baik saja. Sampai jumpa di rumah.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Anindya langsung menutup telepon. Itu bukan kebiasaannya. Biasanya ia akan mengakhiri percakapan dengan kata-kata manis atau ucapan sayang.

Di seberang sana, Raditya yang masih memegang ponselnya di ujung sana merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun ia tidak tahu apa.

Anindya mengembalikan ponselnya ke dalam tas, lalu menatap kembali pengacara Haryo. Perkataan terakhir dari pengacara berputar-putar dalam otaknya. BANGKRUT. Jika tak ada jalan lain, maka jalan itu yang akan dia tempuh.

.“Saya mengerti penjelasan Bapak," Ucap anin kembali menghadap pengacara . Terima kasih atas waktunya. Saya akan berpikir dulu dan akan menghubungi Bapak lagi dalam waktu dekat.”

“Baik, Bu. Saya tunggu kabar dari Ibu kapan saja. Dan jika Ibu butuh bantuan apapun soal hukum, jangan ragu untuk menghubungi saya."

Anin mengangguk lalu berdiri dari duduknya. "Radit… jika aku bisa membuat perusahaan itu berjaya, hanya untuk membuatnya bangkrut adalah hal kecil!" gumamnya dalam hati.

Setelah Anindya keluar dari ruangan dan langkah kakinya menjauh, seorang pria dengan jas hitam dan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung keluar dari pintu sekat di sebelah ruangan, lalu duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Anin.

Pak Haryo berdiri sebentar dan menundukkan kepala dengan hormat. “Ternyata Anda benar, Bu Anin pasti datang. Anda tenang saja, saya pasti akan membantu Bu Anin semampu saya.”

*

Anindya mematikan mesin mobil begitu ia sampai di depan rumah besar yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya bersama Radit. Ia diam sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu melangkah masuk.

Begitu ia membuka pintu utama, matanya langsung menangkap pemandangan di ruang tengah. Raditya sedang berdiri membelakanginya, sedang berbicara melalui ponselnya dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik.

“…tenang saja, semua aman. Dia tidak curiga apa-apa. Besok aku akan kirimkan uangnya seperti biasa…”

Begitu mendengar suara sol sepatu mendekat, Raditya buru-buru mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam saku celana dengan gerakan tergesa-gesa, lalu menoleh, dan senyum lebar langsung terukir di bibirnya seolah tidak ada apa-apa.

“Sayang! Kamu sudah pulang?” Radit berjalan cepat menyongsong kedatangan istrinya. “Ayo, makan dulu. Masakannya sudah aku hangatkan lagi.”

Anindya hanya menatapnya diam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, segala sesuatu yang dulu terlihat biasa saja, kini terlihat sangat mencurigakan. Cara Raditya menyimpan ponsel dengan tergesa-gesa, senyum yang dulu terlihat tulus kini terasa seperti topeng, tatapan matanya yang dulu penuh kasih sayang kini terlihat menyembunyikan kebohongan.

Semua gerak-geriknya, setiap kata yang keluar dari mulutnya, bahkan cara ia berjalan, semuanya kini terlihat seperti akting yang sedang dimainkan oleh seorang aktor ulung.

“Kenapa dulu mataku buta?” batinnya seraya berjalan pelan mendekati Radit.

Matanya menatap lurus ke dalam mata suaminya. Di dalam hatinya, ia berkata, “Kamu pikir kamu sudah sangat pandai menyembunyikan semuanya? Tunggu saja. Sekarang giliranku yang bermain. Dan aku akan pastikan, permainan ini akan berakhir dengan kekalahan total untukmu!”

03

.

"Sayang..." panggil Raditya lagi. Tatapan datar wanita itu sungguh sesuatu yang tidak biasa.

"Kamu capek ya?" tanya pria itu lembut, berusaha mencairkan suasana. Dengan sabar ia mengambil tas yang ada di tangan Anindya, lalu membimbing bahu istrinya untuk duduk di sofa empuk yang ada di ruang tengah.

"Dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah berselingkuh," gumam Anindya dalam hati.

Kedua matanya tetap menatap lurus ke arah wajah suaminya dengan tatapan yang sama sekali tanpa ekspresi.

"Pria yang demi dia a-aku rela mengorbankan segalanya ternyata hanya seorang baj'ingan."

"Sayang… Ada apa?" tanya Raditya yang mulai terlihat bingung dan gelisah. Sejak tadi Anindya hanya menatapnya tanpa suara, dan tatapan itu membuat bulu kuduknya meremang. Ada perubahan besar pada istrinya malam ini, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Tidak apa-apa," jawab Anindya singkat. Suaranya terdengar datar, datar sekali. "Aku hanya sedikit capek."

"Ya sudah, ayo sini istirahat sebentar," ucap Raditya lalu berjalan cepat menuju ruang makan dan tak lama kemudian kembali lagi dengan segelas air putih di tangan, lalu mengulurkannya kepada Anindya yang masih menatapnya dalam diam.

Anindya menerima gelas itu, namun tidak langsung meminumnya. Tangannya menggenggam benda itu erat-erat.

"Apa karena aku terlalu baik, hingga dia mengira apapun yang dia lakukan, aku tak akan pernah marah atau pergi. Atau karena perusahaan sudah berjalan lancar, lalu dia mengira posisinya sudah aman?"

“Tapi Radit... kamu salah besar. Aku yang menemanimu mengalami semua kesusahan saat awal berbisnis. Aku yang membanting tulang bersamamu. Dan sekarang, ada orang lain yang ingin ikut menikmati hasilnya tanpa pernah bersusah payah sedikitpun? Apa kalian pikir aku akan diam saja?”

“Aku yang menemanimu dari nol. Aku yang membangun jaringan, membangun koneksi, berjuang mengerahkan segalanya hanya untuk kebahagiaan kita berdua. Tapi ternyata, semua itu sama sekali tidak berarti di matamu. Karena itu... jangan salahkan aku mengambil semuanya kembali.”

Anindya menatap Raditya yang sedang tersenyum padanya, lalu perlahan ia menyesap air itu, tanpa Radit tahu, di dalam hatinya, api dendam sudah membara siap melahap segalanya.

"Sayang... ada apa?"

Raditya mengibaskan tangannya perlahan di depan wajah Anindya yang terlihat sedang melamun jauh. Tatapan wanita itu kosong, seakan jiwanya berada di tempat lain.

“Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan? Kalau ada masalah, katakan! Kita hadapi bersama.” sungguh manis mulut Radit berucap.

"Ah... tidak ada apa-apa," jawab Anindya pelan. “Oh iya. Aku lelah sekali hari ini. Aku ingin tidur dengan tenang malam ini. Kamu tidur di kamar tamu saja ya."

Tanpa menunggu jawaban atau protes sedikitpun, Anindya segera berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah pasti, tak peduli seruan dari Radit yang menyuruhnya untuk makan malam dulu.

Raditya menatap kepergian istrinya dengan pikiran berkecamuk. Hatinya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan Anindya? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah sedingin es? Ada firasat tidak enak yang mulai menjalar di ulu hatinya, namun ia tak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, di dalam kamar tidurnya...

Anindya menutup pintu dan memutar kunci, lalu berdiri bersandar pada daun pintu itu.

"Pria yang selingkuh itu sampah... menjijikkan," geramnya pelan. “Aku tidak akan sudi lagi bersentuhan dengannya."

Keesokan harinya, jam makan siang.

Anindya duduk sendirian di sebuah restoran mewah. Selama ini ia selalu berhemat. Lebih memilih membawa bekal dari rumah daripada menghabiskan uang untuk makan di tempat semewah ini. Semua itu ia lakukan demi bisa mengumpulkan harta bersama Raditya. Hanya karena pria itu pernah berjanji tidak akan mengecewakannya, ia rela melakukan tirakat berhemat sedemikian rupa.

Tapi kini... tidak lagi.

Ia tidak akan lagi menahan diri. Ia akan membeli apa yang ia suka, makan apa yang ia inginkan. Daripada uang yang ia kumpulkan susah payah dinikmati oleh pelakor, lebih baik ia habiskan untuk dirinya sendiri.

Ponselnya berdering, panggilan dari suaminya. Pasti laki-laki itu sedang kelimpungan di kantor, karena saat itu harusnya ada pertemuan dengan klien. Tapi ia tak peduli. Mulai sekarang ia tak akan bekerja keras lagi. Dia akan menikmati waktu untuk membahagiakan diri sendiri.

Namun, saat ia baru saja hendak menikmati hidangan yang baru diantar oleh pelayan…

Seorang wanita yang usianya terlihat jauh lebih muda darinya, mendekat sambil menyangga perutnya yang besar. Anindya tahu persis siapa dia. Sofia. Selingkuhan Raditya. Wajah itu terpatri kuat di ingatannya sejak melihat foto dan di rumah sakit kemarin.

Anindya meletakkan kembali garpu dan pisau di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan kedua tangan di dada, dan menatap wanita itu dengan tatapan sedingin es.

Matanya memindai penampilan Sofia dari atas hingga bawah. Pakaian yang dikenakan Sofia jelas berharga mahal. Begitu pula dengan perhiasan yang berkilau di leher dan jari-jarinya.

Dan dari mana semua itu berasal? Tentu saja sebagian dari hasil Anin mandi keringat, memeras otak, memajukan perusahaan dan memenangkan setiap tender. Lalu kini wanita yang tidak ikut bersusah payah ini, seenaknya menikmati hasilnya? Apa dia layak?

"Kamu terlihat begitu bahagia sekarang. Tapi kamu lupa, sesuatu yang didapat dari hasil merampas, tidak akan bisa dinikmati selamanya. Tunggulah hingga hati itu tiba, dan kamu tak kan punya muka untuk bertemu siapapun!" gumamnya.

Sofia duduk tepat di hadapan Anindya tanpa permisi, seolah sengaja ingin memamerkan perut besarnya.

"Hallo, Nyonya Wicaksono," sapa Sofia dengan senyum manis.

Anindya tidak menjawab. Tidak ada respon sama sekali selain tatapan datar yang menembus masuk ke dalam jiwa wanita itu.

"Sepertinya Nyonya tidak mengenal saya," lanjut Sofia lagi, berusaha tetap terlihat ramah meski mulai risih. "Padahal saya sangat mengagumi Nyonya. Seorang wanita pebisnis hebat yang namanya terkenal di seluruh penjuru negeri. Saya pernah melihat Anda di acara pesta dulu."

Anindya tetap diam. Matanya tak berkedip menatap lurus, membuat suasana semakin canggung.

“Kurang ajar!” umpat Sofia dalam hati. “Aku sudah bersusah payah memoles diri, tapi dia sama sekali tidak merespons! Tidak mungkin dia tidak kenal aku!”

Merasa malu, akhirnya Sofia memilih mundur. Dengan wajah memerah menahan dongkol, ia mengambil kembali tas bermerek mahalnya.

"Ah maaf... sepertinya kehadiran saya sangat mengganggu. Saya akan pergi sekarang," ucapnya lalu berdiri cepat meninggalkan meja itu.

Anindya menatap punggung wanita itu pergi dengan wajah tetap dingin tanpa ekspresi.

"Dia masih begitu muda. Wajahnya cantik, kelihatannya terpelajar juga," batin Anindya berkomentar. "Tapi kenapa malah lebih senang jadi simpanan?”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!