NovelToon NovelToon

Istri Rahasia Tuan Ares

Tentukan Syaratmu

“Pernikahan ini bukan hanya tentang kamu dan Ryan, Lyra. Ini juga melibatkan bisnis kedua keluarga jadi nggak bisa dibatalkan gitu aja.”

“Sudah satu minggu Ryan menghilang seperti ditelan bumi, lalu kalian mau aku menikah sama patung gitu?”

Mata Lyra bengkak, wajahnya sembab, air matanya seakan sudah mengering karena terus menangisi calon suami yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Hati masih perih, pikiran masih keruh tapi kedua keluarga justru hanya memikirkan keuntungan dan kerugian seakan pernikahannya hanya sebuah transaksi.

“Menikah saja sama Ares,” usul sang ayah dengan ekspresi datar yang membuat Lyra   menganga.

Bagaimana bisa mereka ingin mengganti pengantin pria begitu saja seperti mengganti sandal yang hilang?

“Benar, menikah saja dengan Ares, meskipun dia bukan darah dagingku tapi sudah kuanggap anak kandung,” kata Tuan Tama dengan enteng yang membuat Lyra tersenyum getir, apalagi saat melihat mama dan calon mama mertuanya mengangguk dengan senyum lebar.

“Bagaimana bisa kalian mengganti pengantin pria seperti mengganti sandal? Bahkan kalian nggak mencoba terlebih dahulu apakah sandal itu pas dikaki atau enggak.” Lyra protes tak terima apalagi pengganti yang mereka usulkan adalah Ares-anak angkat keluarga Jatmika, pria arogan, dingin dan terkenal menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

“Selain itu, Ares sudah punya kekasih, semua orang tahu itu jadi dia nggak mungkin mau menikahiku.”

Lyra tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya, ia lebih rela menerima cibiran karena ditinggal calon suami dari pada harus menikah dengan calon kakak ipar yang sudah memiliki kekasih.

“Ares sudah menikmati kekayaan dan kekuasaan keluarga Jatmika padahal dia nggak memiliki darah keluarga Jatmika, jadi sudah seharusnya dia berkontribusi untuk keluarga ini. Apa pun caranya, akan kubuat dia setuju untuk menikah denganmu.”

Lyra tersenyum pahit karena tahu ia dan Ares sama-sama tidak berdaya di depan Keputusan keluarga, apalagi posisi Ares sebagai anak angkat. Secara logika, pria itu pasti dipaksa menikah dengan alasan balas budi pada keluarga yang membesarkannya.

*******

"Ares belum pulang?"

Lyra mengganti sepatu hak tinggi dengan sandal jepit lalu melangkah masuk ke dalam rumah megah yang menjadi tempat tinggal barunya sejak dua minggu yang lalu. Rumah bak istana tapi sepi dan dingin, bahkan seperti tak berpenghuni.

"Belum, Nyonya. Apa Anda memerlukan sesuatu?"

Lyra menghela napas berat mendengar jawaban Bi Mia yang selalu sama setiap kali ia menanyakan keberadaan suaminya itu.

"Biasanya berapa lama dia dinas?"

Bi Mia tampak berpikir sejenak lalu dengan ragu menjawab, "Tidak tentu, Nyonya."

Lyra mendesah kecewa lalu menjatuhkan diri ke sofa.

Pengantin baru pada umumnya akan pergi berbulan madu di bulan pertama pernikahan, bermesraan tanpa tahu tempat dan waktu, menempel satu sama lain seperti magnet sedangkan Lyra ... huh, jangankan bermesraan, mengobrol satu atau dua kalimat saja tidak sempat karena suaminya  pergi dinas tepat di malam pernikahan kami.

Tidak, pria itu bukan pergi dinas melainkan melarikan diri. Lyra bisa mengerti, keluarga Jatmika memaksanya menikah sedangkan ia sudah memiliki seorang kekasih yang sangat dicintai.

Lyra bangkit dari sofa dengan kesal lalu ke kamar sambil mengentakkan kaki. "Apa dia pikir cuma dia yang merasa terkekang dengan pernikahan ini? Aku juga, sialan_akh, meja sialan!"

Wanita itu meringis sambil memeriksa kakinya yang baru saja menendang meja untuk melampiaskan rasa kesal. Ujung kukunya patah dan berdarah tapi rasa sakit itu bukan apa-apa bagi Lyra setelah semua rasa sakit uang ia rasakan.

“Sialan, kenapa kamu melakukan ini, Ryan?”

Dua tahun bersama menjalin kasih, semuanya selalu baik-baik saja tapi entah apa yang terjadi dua minggu yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Kedua keluarga sudah melakukan segala cara untuk menemukannya tapi tidak membuahkan hasil.

Lyra bertanya-tanya, apakah Ryan merasa tidak siap menikah sehingga melarikan diri ataukah terjadi sesuatu padanya? Bahkan sekarang Lyra tidak tahu apakah harus marah atau mencemaskannya yang masih tidak ada kabar.

Seharusnya pernikahan dibatalkan karena mempelai pria sudah hilang entah ke mana, tetapi kedua keluarga telah menjalin hubungan bisnis di atas hubungan cinta kami lalu mengganti calon suaminya dengan Ares.

Jadi, sebenarnya yang paling menderita di sini adalah aku, pikir Lyra.

Calon suami hilang lalu dipaksa menikah dengan calon kakak ipar. Tak sampai disitu, di malam pernikahan suami justru hilang entah ke mana dan tak pernah menunjukkan batang hidungnya hingga detik ini.

Kakak beradik itu sepertinya dilahirkan untuk menyakiti dan menghinanya.

Jika mengikuti drama pendek yang sedang populer, hidup Lyra pasti akan menderita karena membuat seorang pria kehilangan cinta sejatinya.

“Setidaknya di drama pendek akan ada akhir yang bahagia, sementara akhir dari kisahku … hanya Tuhan yang tahu.”

********

“Mau sarapan apa pagi ini, Nyonya?” tanya Bi Mia yang hanya Lyra jawab dengan gelengan malas. “Nyonya tidak bekerja?”

“Minggu kali, Bi.” Lyra mengambil majalah di meja lalu merebahkan tubuhnya di soda dengan posisi yang jauh dari kata anggun.

Kaki Lyra yang jenjang dan putih menjuntai di sandaran sofa sehingga menyingkap gaun tidurnya, memperlihatkan pahanya yang putih. Bantal kecil terselip sembarang di bawah pinggangnya. Ah, jangan lupakan juga rambut panjangnya yang tergerai berantakan.

“Oh ya, makasih sudah mengobati luka dijariku, Bi,” kata Lyra dengan senyum tulus.

“Mengobati luka?” Bi Mia mengulang dengan bingung. Lyra mengangkat kaki kanannya yang menendang meja hingga membuat ibu jari kakinya terluka. Tadi malam mia terlalu mengantuk dan langsung tidur tanpa mengobati lukanya. Tapi saat bangun di pagi hari, lukanya sudah diobati dan dibalut dengan rapi.

Lyra tidak ingat kapan ART rumahnya itu masuk ke kamarnya dan membalut lukanya, tetapi dia tahu pasti Bi Mia yang melakukannya karena yang tinggal bersamanya hanya Bi Mia.

“Oh ya, hari ini nggak usah masak, Bi. Nanti aku pesan dari luar aja.”

“Apa Tuan Ares juga mau memesan makanan dari luar?”

“Mana aku tahu.” Lyra menjawab dengan ketus sambil membolak-balik majalah. “Manusianya aja mungkin lagi berburu beruang di kutub utara, mungkin juga lagi makan sate beruang di sana.”

“Saya tanya sama Tuan, Nyonya,” ringis Bi Mia yang membuat Lyra mengerut bingung. Perlahan ia menurunkan majalan yang dibacanya sehingga terlihat sosok taka sing yang berdiri tegak di sisi sofa.

“A-Ares?”

Lyra langsung duduk tegak sambil menarik turun gaun tidurnya, jantungnya berdegup sangat cepat seakan ingin melompat dari tempatnya. Ia menahan napas apalagi saat matanya bertemu dengan mata tajam Ares yang seakan ingin menusuk tepat di jantungnya.

 Sekarang ekspresi pria itu seperti singa yang siap menerkam buruannya.

“Siapkan sarapan seperti biasanya.” Ares memberi perintah tegas, dengan suaranya yang berat dan dalam.

Bi Mia langsung mematuhi perintah itu sementara Lyra hanya bisa duduk cemas sambil meremas gaun tidurnya yang tipis.

“Ka-kapan kamu pulang?” Lyra mencoba basa-basi, apalagi ada banyak hal yang perlu ia bicarakan dengan suaminya itu.

“Tadi malam.” Ares menjawab dingin lalu duduk di sofa yang lain. Pria itu hanya memakai celana piyama katun dan kaus hitam polos. Rambutnya tak lagi tertata rapi dan menutupi dahinya. Pria itu meletakkan laptop di pangkuannya, jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.

“Seperti orang lain.” Lyra menggumam dalam hati. Semenjak mengenal Ares, ia tidak pernah melihat penampilan pria itu yang biasa saja.

Ares selalu dalam penampilan formal, memakai jas mahal, menampilkan sosok pria dewasa yang berkharisma dan berwibawa. Tentu saja, ia adalah CEO dari agensi Lily Crown yang menaungi banyak model terkenal.

“Ak_” Lyra meringis saat menyadari bercak merah di leher sang suami.

Sebagai wanita dewasa, Lyra tahu apa bercak merah tersebut.

“Ada yang mau aku bicarakan.” Lyra memberanikan diri berbicara, ia memainkan jari jemarinya guna melampiaskan perasaannya yang bergejolak. “Aku nggak masalah sama hubunganmu  dengan Liana, kalian saling mencintai dan aku mengerti, jadi_” Lyra menelan ludah, tangannya gemetar saat Ares tiba-tiba menghunuskan tatapan tajam.

“Apa aku salah bicara?” Lyra bertanya-tanya dalam hati. “Tapi pasti ini yang dia mau ‘kan?”

Saat ini pernikahannya dengan Ares hanya diketahui oleh keluarga dan kerabat terdekat, Lyra merasa seharusnya tidak masalah jika Ares masih menjalin hubungan dengan kekasihnya tapi mungkin pria itu tidak berpikir demikian.

Ares adalah anak angkat keluarga Jatmika, mungkin pria itu merasa harus membayar hutang budi pada keluarga Jatmika dengan menjadi pengganti Ryan, menjadi suami Lyra. Tapi peran itu harus dibayar dengan luka dan air mata sepasang kekasih yang saling mencintai.

“Aku seperti sosok antagonis dalam drama,” pikirnya.

“Pernikahan ini hanya bisnis, tentukan syaratmu.” Lyra meminta dengan percaya diri dan berani. Ia akan memenuhi apa yang Ares inginkan sebagai kompensasi. Ia juga sudah menunggu selama dua minggu untuk membicarakan masalah ini dengan Ares.

Ares berseringai licik, sorot matanya seperti anjing lapar yang baru menemukan seonggok daging, membuat Lyra merinding, bahkan menyesal karena menantang pria itu. “Tubuhmu_”

Harga Yang Harus Dibayar

“Bibirku ….” Lyra menyentuh bibirnya yang menurutnya sangat cantik, bahkan tak kalah seksi dari bibir seorang model. “Cantik, wajahku juga cantik dan mungil.”

“Sariawan, Ra?”

Lyra berdecak saat dikejutkan oleh sahabatnya yang tiba-tiba muncul. “Perasaan dari tadi pagi kamu ngaca terus, liatin apa sih?”

“Na, menurutmu tubuhku gimana?”

“Tubuhmu_” Sena memperhatikan Lyra dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Lumayan sih.”

“Lumayan?” Lyra meringis lalu berdiri dari kursinya, ia berputar di depan Sena lalu meminta penilaian ulang. “Cuma lumayan?”

Jawaban yang Sena berikan tidak lebih baik dari apa yang Ares katakan padanya.

“Tubuhmu bahkan nggak menarik untuk dilirik.”

Dengan susah payah Lyra mengumpulkan keberanian untuk memperbaiki hubungannya dengan Ares. Mungkin Ares memiliki beberapa syarat dalam pernikahan bisnis mereka, Lyra siap memenuhi syarat tersebut sebagai kompensasi karena sudah menyeret pria tak bersalah dalam masalahnya, bahkan jika seandainya pria itu meminta haknya sebagai suami, Lyra siap menyerahkan diri.

Toh sudah sama-sama dewasa, sama-sama memiliki kebutuhan biologis. Selama tidak hamil, Lyra merasa tidak rugi jika hanya tidur dengan Ares.

Namun, apa yang dikatakan pria itu justru memukul ego dan harga dirinya sebagai wanita yang selalu percaya diri.

Ares mengatakan tubuhnya tidak menarik untuk dilirik.

“Cih, lalu tubuh siapa yang menarik?” Lyra berdecih saat mengingat kembali jawaban dingin sang suami. “Tubuh Liana, gitu?”

“Maksudnya?” tanya Sena yang melihat tingkah aneh sahabatnya.

“Ares bilang tubuhku nggak menarik untuk dilirik,” sungut Lyra yang langsung membuat Sena terkikik.

“Ya harap maklum, Sis. Wanita-wanita di sisi Pangeran kegelapan itu montok-montok semua, sedangkan kamu ….” Dengan jahil Sena mengukur dada Lyra dengan tangannya. “Dadamu bahkan nggak sampai segenggam tanganku yang kecil ini.”

Lyra merengut karena apa yang dikatakan Sena benar adanya, ia sendiri merasa kurang percaya diri dengan dadanya yang hampir rata, bahkan tak jarang Lyra sering menggunakan bra dengan busa tebal untuk menunjang penampilannya. Apalagi ia sebagai seorang desainer yang harus selalu tampil cantik, seksi dan elegan.

“APA-APAAN KALIAN?”

Sena dan Lyra langsung menoleh terkejut saat mendengar suara menggelegar itu. “Pak Ares?” gumam Sena saat melihat pria yang dijuluki Pangeran kegelapan tiba-tiba ada di depannya.

“Apa kalian_” Ares meringis melihat tangan Sena yang masih bertengger di dada Lyra. “tanganmu_ singkirkan tanganmu, sialan!”

Sena tersentak saat Ares memukul lengan kecilnya, pun dengan Lyra yang tak menyangka dengan reaksi Ares. “Melakukan pelecehan seksual di siang bolong.”

“Pelecehan seksual?” pekik Sena dengan mata melotot, wajahnya langsung merah padam karena kesal, sementara Lyra hanya bisa menahan tawa.

Sebagai sahabat sejak kecil, sudah biasa keduanya melakukan kontak fisik seperti itu, apalagi Sena hanya mengukur dadanya. Selain itu, mereka adalah desainer, menyentuh tubuh orang lain untuk mengukur sudah menjadi makanan sehari-hari, meskipun tentu saja mengukurnya tidak dengan cara Sena sekarang yang memang terlihat seperti melakukan hal lain.

“Pulang!” titah Ares yang langsung membuat air muka Lyra berubah.

“Maksudnya?”

“Maksudnya pulang sekarang!”

Lyra mengerutkan dahi karena diperintah oleh Ares, sedangkan keduanya sepakat untuk menjalani hidup masing-masing … walaupun kesepakatan itu tak terucap secara nyata tapi Lyra merasa memang seharusnya seperti itu.

“Tuan Ares, saya sampai lupa bertanya maksud kedatangan Anda ke perusahaan kecil saya.” Lyra menyunggingkan senyum ramah dan professional yang justru ditanggapi dengan seringai oleh sang suami.

“Bukannya kamu mau membicarakan syarat denganku? Mumpung aku ada waktu.”

Pembicaraan di hari sebelumnya memang gagal karena Lyra merasa Ares hanya merendahkannya sehingga ia segera masuk ke kamar lalu menghindari pria itu, bahkan pagi ini ia ke kantor di pagi-pagi buta hanya agar tidak perlu berhadapan dengan Ares.

“Oke,” jawab Lyra pasrah. Ia tidak tahu sampai kapan harus berada dalam pernikahan yang hambar dan dingin, jadi lebih baik membicarakan semuanya dengan jelas dari sekarang agar tak jadi masalah di kemudian hari.

Ares memberi isyarat untuk pergi bersama tapi Lyra segera menolak. “Saat ini pernikahan kita masih rahasia, jika ada yang melihat kita bersama mungkin tidak baik untukmu, Tuan Ares.”

Ares hanya tersenyum miring lalu melenggang pergi, meninggalkan Lyra yang hanya bisa menarik napas panjang.

“Gila, pria itu sudah seperti kulkas 12 pintu aja,” gerutu Sena setelah Ares tak lagi terlihat. “Dan bisa-bisanya dia ngira aku melakukan pelecehan seksual sama kamu. Otaknya miring apa?”

“Otaknya nggak ada,” sahut Lyra kesal yang langsung disetujui oleh Sena. “Semua gara-gara Ryan sialan.”

“Belum ada kabar tentang dia, Beb?”

Lyra hanya menggeleng lemah. “Kamu masih cari dia?”

“Masih, bagaimana pun juga aku akan harus menemukannya.”

*********

“Ares mana?”

Seperti biasa, Lyra disambut oleh Bi Mia, bahkan wanita paruh baya itu seakan sudah tahu kapan Lyra sampai di rumah karena selalu berada di depan pintu saat majikannya pulang, padahal Lyra tidak pernah mengabari kepulangannya.

“Di ruang kerjanya, Nyonya.”

Lyra mengangguk mengerti. “Oh ya, Bi. Bisa tolong bantu aku pindahkan barang-barang ke kamar tamu?”

“Nyonya mau pindah ke kamar tamu? Kenapa?”

“Ares nggak mau sekamar sama aku, jadi lebih baik aku yang di kamar tamu karena ini rumahnya.”

Sudah dua malam Ares berada di rumah dan pria itu tidak pernah masuk ke kamar utama, Lyra merasa dirinya harus tahu diri.

“Kalau Tuan tidak mau satu kamar dengan Nyonya, sejak dulu Nyonya sudah ditempatkan di kamar tamu, kan?”

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah Ares, Lyra memang langsung diarahkan ke kamar utama, saat itu ia tidak menolak karena berpikir Ares yang meminta. Jika pun pria itu tidak ingin memiliki hubungan suami istri yang sesungguhnya, mereka bisa tetap satu kamar tanpa melakukan apa pun. Akan tetapi, selama dua malam ini Ares bahkan tidak menginjakkan kaki ke kamar utama, jadi Lyra merasa Ares memang tidak mau satu kamar dengannya.

“Dia sudah punya kekasih, tubuh dan jiwanya sudah pasti untuk sang kekasih,” pikir Lyra.

“Kalau Bibi nggak sibuk, bisa bantu aku pindahkan barang-barang sekarang? Mumpung Ares masih di ruang kerjanya.”

Bi Mia hanya mengangguk pasrah lalu mengekori Lyra ke kamarnya. “Oh ya, Nyonya ingin makan malam apa?”

“Apa saja, aku nggak pilih-pilih makanan kok, Bi. Jadi jangan selalu tanya aku mau makan apa. Masak saja apa yang ada.”

“Saya hanya melakukan perintah Tuan Ares.”

“Maksudnya?” Lyra mengerutkan dahi tapi belum sempat Bi Mia menjawab, Ares tiba-tiba muncul dengan wajah datarnya.

“Berwajah antagonis banget,” gumam Lyra kesal, ia sampai bingung apa yang disukai oleh model sekelas Liana dari Ares yang selalu berwajah dingin, tegang, bahkan alisnya selalu mengkerut seperti angry birds.

“Mau apa?” tanya Ares dengan nada yang menusuk, membuat Bi Mia gemetar takut.

“Pindah kamar.” Lyra menjawab dengan malas sambil memasukkan barang-barang di meja rias ke dalam tas. “Dari pada kamu yang di kamar tamu, sebaiknya aku yang di sana. Lagi pula ini rumahmu.”

“Keluar!”

Lyra langsung mendongak mendengar perintah itu, jantungnya kembali berdegup kencang, tak menyangka ia akan benar-benar diusir dengan kasar. Dengan kesal, Lyra langsung memasukkan semua barangnya dengan cepat dan sembarang.

“Ba-baik, Tuan.”

Bi Mia menjawab dengan suara gemetar lalu segera berlari tergopoh-gopoh dari kamar, membuat Lyra tercengang karena merasa dirinya yang diusir.

Saat Bi Mia sudah keluar, Ares langsung mengunci pintu lalu mendekati Lyra, langkahnya pelan tapi tegas, seperti pemburu yang sedang berhati-hati saat menargetkan buruannya. Mata Ares yang tajam menatap tepat di matanya, bibir pria itu menyunggingkan senyum miring.

Alarm dalam kepala Lyra menyala, memperingatkan bahaya yang mengancam.

“Ma-mau apa?” tanyanya gelagapan, meski takut, Lyra tetap mengangkat wajah dan membusungkan dada, berharap hal itu membuat Ares melihatnya sebagai sosok yang tidak bisa tindas.

“Aku ingin mengajukan syaratku.”

Lyra mendesah berat, ia bersedekap tangan di dada lalu berkata, “Katakan.”

“Syarat pertama, kita hanya orang asing di luar tapi di dalam rumah harus tetap jadi suami istri.”

“Maksudnya?” Lyra menaikkan ujung alis, tidak mengerti apa yang Ares maksud.

“Maksudku, suami istri berbagi kamar, berbagi ranjang, berbagi selimut dan bantal.”

Lyra menelan ludah mendengar syarat yang Ares ajukan, apalagi pria itu menyebutkannya dengan sangat detail. Awalnya ia mengira tidak apa-apa bahkan meski harus tidur dengan pria itu, tetapi saat Ares memberikan kesal ingin melakukan hal tersebut, jiwanya meronta, dadanya bergejolak.

“Bagaimana menjawab syarat Pangeran kegelapan ini?” Lyra mengepalkan tangan, ia ingin menolak, benar-benar ingin menolak mentah-mentah.

“Jangan lupa, dalam pernikahan ini aku yang sangat dirugikan.” Ares berkata penuh penekanan. “Kamu harus memberikan kompensasi yang layak, kan?”

“Oke!” seru Lyra pasrah.

“Lalu syarat kedua_”

“Berapa banyak syaratmu?” sergah Lyra tak terima, satu syarat yang Ares ajukan sudah membuat ego dan harganya tercabik-cabik.

“Untuk saat ini, aku hanya ajukan dua syarat.”

“Untuk saat ini?” ulangnya. “Apa nanti akan ada syarat tambahan?”

Ares mengangguk dengan seringai liciknya. “Jangan keterlaluan, Ares. Bukan hanya kamu yang merasa terjebak dengan pernikahan ini, aku juga. Kamu pikir mudah menjalani hidup setelah semua yang terjadi? Calon suamiku hilang, lalu dipaksa menikah dengan calon kakak ipar, menjadi istri rahasia dari pria yang sudah memiliki kekasih itu nggak mudah.”

“Kamu bisa menolak, saat itu kamu bisa melarikan diri seperti calon suamimu yang pengecut itu tapi kamu tetap di tempatmu semula, berdiri sebagai pengantin wanita sehingga keluargamu harus mencarikan pengantin pria,” cecar Ares dengan nada rendah nan penuh penekanan, matanya berapi-api, rahangnya mengeras.

Ekspresi Ares yang penuh kemarahan ini membuat nyali Lyra menciut, bahkan ia baru tersadar bahwa apa yang baru saja Ares katakan ada benarnya.

Mengapa ia tak terpikirkan hal itu dulu? Mengapa tidak lari saat pengantin prianya hilang?

Lyra tertunduk, kecewa dan marah pada dirinya sendiri yang begitu bodoh.

“Maaf,” lirihnya. Meskipun Ares terkenal arogan dan licik, tetapi dalam hal ini pria itu memang tak bersalah, hanya korban keegoisan keluarga.

“Permintaan maafmu juga harus ada harganya, Lily.”

“Oke, katakan syarat keduamu.”

“Jangan biarkan siapa pun menyentuhmu, terutama payudaramu yang lebih kecil dari bakpao itu.”

“Ares anak setan!”

Syarat Berikutnya

“Kenapa?”

Lyra melemparkan tatapan menantang pada Ares yang hanya berdiam diri seakan ragu untuk naik ke atas ranjang. “Tenang aja, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Sini!” Ia menepuk ranjang, seperti merayu anak kecil agar segera tidur. Lyra berseringai puas, berpikir Ares akan kesal dengan tingkahnya.

“Yakin bisa menahan diri?”

Seketika Lyra menelan ludah saat suami penggantinya itu melepaskan jubah mandi yang ternyata menyembunyikan tubuh seksinya, otot perutnya bahkan membuat tangan Lyra gatal ingin merasakannya.

Ares saat ini seperti gigolo yang sedang menawarkan diri dengan suka rela.

Tanpa sadar, Lyra terus memandangi tubuh yang terpahat sempurna itu, seakan tidak ada keindahan lain yang bisa menandinginya.

“Air liurmu menetes,” tukas Ares dengan suara beratnya diiringi senyum mengejek yang sangat merendahkan, membuat Lyra langsung memalingkan wajah sambil mengusap mulut, berpikir benar-benar ada air liur yang menetes. Wajahnya bahkan sudah merah padam karena malu.

“Tunggu!” seru Lyra saat Ares naik ke atas ranjang hanya dengan memakai celana pendek. “Kamu mau tidur telanjang?”

“Terima kasih tawarannya.” Ares menarik selimut dengan tenang lalu menghadap Lyra. “Tapi aku laki-laki yang bermoral, nggak pernah tidur telanjang.”

Lyra menganga saat mengerti Ares salah paham terhadap protesnya. “Aku nggak menawarkan, aku … aku ….” Wanita itu kehabisan kata-kata, tidak mengerti telinga Ares yang mana yang mendengar ia menawarkan pria itu untuk tidur telanjang. “Aku bertanya, bukan menawarkan,” gerutunya tapi Ares sudah menutup mata, tak menganggapinya sedikit pun seakan pria itu sudah tenggelam dalam mimpi.

“Laki-laki bermoral katanya, heh.” Lyra tersenyum miring.

Lyra memunggungi suaminya, ia mencoba menutup mata, berusaha tak terpengaruh dengan keberadaan Ares tapi usahanya sia-sia, apalagi selama ini ia terbiasa tidur sendiri.

Setelah hampir dua jam berlalu, Lyra berbalik badan dan mendapati Ares masih tidur menghadapnya, wajahnya tampak tenang, tak lagi ada kerutan di keningnya. “Bagaimana dia bisa tidur nyenyak di saat seperti ini? Hatinya milik siapa raganya di ranjang siapa. Memang dasar pria.”

Saat fokus memandangi wajah Ares yang tak bisa dipungkiri ketampanannya, perhatian Lyra teralihkan pada notifikasi ponsel pria itu yang berada di atas nakas. Entah apa yang merasukinya karena Lyra tiba-tiba merasa sangat penasaran akan siapa yang mengirim pesan pada Ares di tengah malam. Dengan sedikit ragu, wanita itu mengintip ponsel sang suami saat kembali ada notifikasi masuk.

“Kamar nomor 368 besok malam, ya.”

“Cih!” Lyra berdecih kesal saat membaca isi pesan yang entah dari siapa itu tapi sepertinya bukan dari Liana. “Dasar pria, bisa birahi sama siapa pun.”

*****

“Sarapan Anda, Nyonya.”

Lyra menaikkan ujung alis saat Bi Mia langsung menyuguhkan sarapan tanpa bertanya terlebih dahulu. “Tumben nggak nanya dulu, Bi.”

Sejak menginjakkan kaki di rumah Ares, semua hal selalu Bi Mia tanyakan. Mau sarapan apa, makan malam apa, mau buah apa, bahkan mau seprei warna apa, semuanya selalu ditanyakan membuat Lyra kesal sendiri.

“Tuan Ares sudah mencatatkan menu makanan sehari-hari, Nyonya. Tapi kalau nanti Nyonya ingin yang lain, bisa kasih tahu saya.”

“Oh.” Lyra menanggapi dengan enggan lalu menyantap hidangan yang ada, apalagi perutnya sudah keroncongan sejak tadi. “Ares sudah pergi?”

“Belum, Nyonya. Sepertinya di ruang kerja.”

“Dia nggak sarapan?”

“Tuan Ares tidak mengatakan apa pun, Nyonya. Hanya menyuruh saya menyiapkan sarapan.”

Lyra mengangguk mengerti. Semua orang tahu Ares gila kerja, bahkan ada yang mengatakan meski terjadi gempa bumi, Ares tetap akan melanjutkan pekerjaannya selama ia masih bernyawa.

“Apa Liana nggak bosan punya kekasih yang seperti robot?”

“Oh Tuhan!”

Lyra langsung mendongak saat mendengar pekikan Bi Mia, ia segera menghampiri ART-nya yang tampak menahan sakit itu.

“Ada apa, Bi?”

“Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya terkena air panas.”

Lyra memeriksa tangan Bi Mia yang memerah, ia hendak mengobati wanita paruh baya itu tapi ditolak. “Saya mau mengantar kopi Tuan Ares dulu, Nyonya.”

“Biar aku aja, Bibi obati dulu tangannya.”

Bi Mia tampak ragu tapi Lyra meyakinkan bahwa mengobati lukanya adalah yang paling penting.

Saat sampai di depan ruang kerja Ares, Lyra mengetuk pintu tanpa mengatakan apa pun yang langsung dipersilakan masuk oleh Ares.

“Aku kira lagi kerja, ternyata baca majalah.” Lyra tersenyum sinis melihat Ares yang ternyata bisa membaca majalah wanita, tetapi senyumnya pudar saat ia menyadari siapa yang ada di sampul majalah tersebut.

Liana.

“Dasar bucin.”

“Bi Mia ke mana?” Ares meletakkan majalah itu di meja dan Lyra segera mencuri pandang, masih penasaran apa yang Ares lihat dengan wajah serius sejak tadi.

Benar saja, foto-foto Liana karena majalah tersebut memang memuat foto-foto terbaru Liana.

“Tangannya kena air panas, jadi aku yang anterin kopi.”

“Hm.” Ares hanya menggumam lalu menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap, Lyra hanya mendelik melihat pria itu yang kembali melihat majalah Liana.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia meninggalkan Ares, bahkan menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar. Entah kenapa Lyra merasa terganggu dengan apa yang Ares lakukan.

*******

“Kamu cemburu, Beb?”

“Najis,” ketus Lyra sementara Sena terkikik. Saat pertama kali datang ke kantor, wajah sahabatnya itu ditekuk seperti orang yang terlilit hutang. Tentu saja sumber masalahnya pasti Ares.

“Memang nggak mungkin suamimu itu masih suci, liat aja berapa banyak gadis-gadis di sekitarnya. Dari model, aktris, penyanyi.”

Di balik gemerlapnya dunia hiburan memang tersimpan kegelapan yang sudah menjadi rahasia umum. Para publik figure yang menampilkan sosok sempurna bak malaikat terkadang justru menyimpan sisi yang lebih gelap dari iblis. Akan tetapi, Lyra tahu tidak semua orang dari dunia hiburan adalah orang-orang kotor, pasti ada orang yang benar-benar mengejar mimpi dan menjalani semuanya dalam langkah yang bersih.

Adapun Ares …

“Setan pun akan tertawa kalau ada yang merasa dia suci,” sinis Lyra yang langsung disetujui oleh Sena.

“Oh ya, Ra, baju-bajumu yang dipakai Liana sekarang sudah viral tahu.”

“Baju-bajuku?”

Sena menunjukkan gambar baju yang Lyra desain dua tahun lalu, saat ia masih bekerja di perusahaan keluarganya.

“Sekarang semua orang membicarakan desainer dari baju-baju Liana. Seandainya kamu nggak menyerahkan hak cipta desain baju itu sama adekmu yang nggak pintar itu, pasti sekarang kita yang dapat banyak uang, kamu juga akan semakin dikenal sebagai desainer berbakat.”

Lyra memperhatikan setiap baju yang Liana kenakan, memang semuanya adalah baju rancangannya dua tahun lalu.

“Liana memakai baju-baju rancanganmu di majalah terbarunya, semua orang terpukau tapi yang dapat pujian si Cahaya.”

“Nggak apa-apa lah, aku masih bisa mendesain baju yang lebih bagus dari itu.” Lyra berkata dengan senyum tapi matanya menyiratkan kesedihan.

Orang bilang anak kedua seperti bayangan dari anak pertama dan anak terakhir. Awalnya Lyra tidak percaya hal itu, ia yakin kedua orang tuanya menyayangi ketiga anaknya dengan sama besar. Akan tetapi, keyakinan tersebut dipatahkan berulang kali saat orang tuanya mengabaikan Lyra demi kakak atau adiknya.

Aran-sebagai anak pertama selalu mendapatkan perhatian melimpah, apalagi ia adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga sehingga mendapatkan perlakuan seperti Pangeran mahkota.

Sedangkan Cahaya-adik yang hanya berjarak usia dua tahun dari Lyra selalu dimanjakan bak tuan putri, selalu mendapatkan yang terbaik hanya karena status sebagai adik bungsu.

Sementara Lyra … orang tuanya hanya menganggap Lyra sebagai pelengkap dalam keluarga, tanpa perlakuan Istimewa sedikit pun, bahkan berulang kali Lyra harus mendesain pakaian atas nama Cahaya karena adiknya itu tidak berbakat dalam bidang tersebut tapi bersikeras ingin berada di sana.

Dulu Lyra bekerja di perusahaan keluarganya, Crystal Mode. Tapi apa pun yang dia lakukan selalu untuk Cahaya atau Aran.

Lyra seperti bayangan kedua saudaranya yang harus selalu melengkapi mereka tanpa memiliki makna yang berarti. Oleh karena itu, dua tahun yang lalu Lyra keluar dari perusahaan lalu berusaha membangun usahanya sendiri bersama Sena. Awalnya seluruh keluarga tidak mengizinkan, bukan karena khawatir dengan Lyra melainkan karena tidak ada lagi yang bisa menjadi batu loncatan untuk Cahaya, juga tidak ada yang membantu Aran mengurus masalah perusahaan yang tiada habisnya.

“Kalau kamu memang ingin keluar dari perusahaan, Papa izinkan tapi buatkan beberapa desain pakaian untuk adikmu, berikan hak ciptanya pada adikmu. Selain itu, Papa dan seluruh keluarga nggak akan membantu usahamu di luar sana. Kalau memang berani, bangkit saja sendiri.”

Saat itu Lyra langsung menyetujui syarat tersebut, bahkan selama enam bulan Lyra hanya fokus mendesain baju untuk Cahaya demi kebebasannya. Jika gagal di luar sana, Lyra merasa itu jauh lebih baik dari pada terus menerus menjadi bayangan yang tak terlihat oleh siapa pun.

“Udah … udah, nggak usah mikirin ini.” Sena mengambil ponselnya dari tangan Lyra. “Lebih baik sekarang kita berangkat ketemu client. Aku yakin, client yang satu ini akan jadi awal dari kesuksesan kita. Janjiannya di hotel Sky Blue, kan?”

“Hm, Sky Blue, kamar nomor 369.”

Wajah murung Lyra langsung berseri-seri, matanya berbinar terang mendengar apa yang Sena katakan. Saat ini mereka dipercaya untuk merancang gaun pengantin seorang penyanyi terkenal-Zaline. Lyra sendiri tidak tahu bagaimana orang sekelas Zaline bisa meliriknya, bahkan menghubunginya lebih dulu. Bagi Lyra, itu adalah berkah dari langit.

Saat menuju kamar Zaline, tanpa sengaja Lyra berpapasan dengan Ares yang  baru saja keluar dari kamar nomor 368. Seketika Lyra teringat dengan pesan di ponsel suaminya.

“Gila, dari sekian banyaknya hotel kenapa harus hotel yang ini?” Lyra menggerutu dalam hati, tak menyangka kamar tempat suaminya check in bersama wanita itu justru bersebalahan dengan kamar client yang harus Lyra temui.

“Suamimu, Ra,” bisik Sena sambil menyikut Lyra.

“Pura-pura nggak kenal, itu aturan pertama dalam hubungan kita,” balas Lyra yang juga berbisik.

Sesuai perjanjian, Lyra mencoba mengabaikan keberadaan Ares, apalagi saat calon suami Zaline keluar dari kamar dan menyambutnya.

“Apa kalian dari tadi?” tanya pria itu dengan senyum manisnya. “Zaline di dalam.”

“Kami baru sampai.” Lyra membalas senyum dengan ramah.

“Kalau begitu ayo masuk.”

Lyra dan Sena mengangguk tapi saat hendak melangkah masuk, Ares tiba-tiba mencekal tangan Lyra, membuat Sena dan calon suami Zaline langsung melempar tatapan penuh tanya.

“Maaf, ada apa, Tuan?” Lyra berusaha tenang, bahkan menyunggingkan senyum pada Ares.

“Setelah selesai, temui aku di kamar sebelah.”

Lyra langsung melotot tajam, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Ares tapi sia-sia.

Satu kamar untuk dua wanita, gantian, benar-benar hemat, pikir Lyra.

“Sepertinya Anda salah orang.”

“Lily, waktunya membicarakan syarat berikutnya.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!