Di mata dunia, Lucifer Azrael adalah nama yang membuat Wall Street berlutut.
Dua puluh sembilan tahun. Dua meter kurang satu senti. Tubuh kekar tersembunyi di balik jas Savile Row, mata biru sewarna es Arktik yang bisa membekukan siapa saja dalam satu tatap. Sampul Forbes menyebutnya jenius. Para wanita menyebutnya mustahil.
Yang tak tertulis di majalah: ia adalah Raja Dunia Bawah.
Sadis tanpa ragu. Kejam tanpa suara. Membunuh seperti menandatangani kontrak. dingin, cuek—red flag berjalan dengan izin hukum.
Pulau pribadi di Karibia, jet Gulfstream, gedung pencakar langit dengan namanya di puncak. Bahkan Tuhan pun seolah ia tantang.
Florence Beatrix adalah kebalikannya.
Dibesarkan di panti asuhan St. Monica, pinggiran Chicago. Kulit pucat, rambut coklat bergelombang jatuh sampai punggung, mata coklat hangat yang masih menyimpan sisa-sisa doa anak kecil. Hidupnya sederhana. Satu-satunya bisikan setiap malam sebelum tidur: temukan orang tua yang hilang sejak ia berusia lima tahun.
Takdir mempertemukan mereka di gudang pelabuhan Boston.
Suara tembakan merobek malam.
Florence menutup mulutnya, tubuhnya meringkuk di balik peti kayu. Ia hanya ingin mengembalikan dompet yang terjatuh. Bukan menyaksikan Lucifer Azrael—pria dari sampul Forbes—menarik pelatuk tanpa mengubah ekspresi.
Mata biru itu menoleh. Dingin. Mematikan.
“Lacak dia,” perintahnya rendah ke anak buah. “Malam ini juga, aku mau namanya di mejaku.”
Florence lari. Tapi sejauh apa gadis panti bisa lari dari pria yang menggenggam setengah dunia?
Dua puluh empat jam kemudian, ia terbangun di kamar serba putih. Jendela setinggi dinding menghadap laut lepas. Pintu terkunci dari luar.
Dan suara itu menyambutnya dari kegelapan, tenang seperti vonis:
“Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan.”
Debur ombak dan kalimat itu yang membangunkannya untuk kedua kali.
Bukan sirine panti. Bukan suara Suster Maria memanggil anak-anak untuk doa pagi.
“Di sini, aku adalah Tuhan.”
Kamarnya terlalu mewah untuk penjara. Ranjang king size berlapis sutra, lukisan abstrak yang harganya cukup membiayai panti selama setahun. Tapi jendelanya mati. Gagang pintu lenyap dari dalam.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Lucifer Azrael masuk. Jas hitam, kemeja hitam, tanpa dasi. Mata biru itu menyapu Florence dari ujung rambut sampai ujung kaki telanjangnya. Menilai. Mengukur.
“Bangun. Ikut aku,” suaranya datar. Bukan permintaan.
Florence menggenggam salib kayu di lehernya. “Ke mana?”
“Di pulauku, aku yang bertanya.” Ia melangkah mendekat. Tinggi, kekar, bayangannya menelan Florence utuh. “Kau yang menjawab. Aturan pertama.”
Florence mundur sampai betisnya mentok pinggiran ranjang. “Aku mau pulang.”
Bibir Lucifer melengkung tipis. Bukan senyum. Lebih mirip predator yang geli melihat mangsa melawan.
“Kau lihat yang tidak boleh kau lihat, Florence Beatrix. Di duniaku, itu berarti mati.”
“Kalau begitu kenapa aku masih hidup?” Ia memberanikan diri menatap mata itu. Biru, tapi kosong. Neraka yang membeku.
Lucifer diam. Jemari panjangnya mencengkeram dagu Florence, memaksanya mendongak. Kasar, tapi tak menyakiti. Jempolnya menyentuh salib di lehernya, seolah logam itu membakar.
“Karena aku belum memutuskan di mana kuburanmu,” bisiknya. “Bisa di bawah mawar di taman. Bisa di dasar laut. Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung seberapa berguna kau untukku.” Ia melepasnya seperti jijik. “Sekarang jalan. Atau aku seret kau.”
---
Pulau pribadi. Pasir putih, air sebening kaca, hutan kecil di belakang. Di tengahnya berdiri vila modern megah dengan helipad di atap. Surga. Yang berubah neraka karena sipirnya adalah Lucifer.
Di teras, meja makan sudah siap. Sarapan Amerika lengkap. Anak buahnya berdiri seperti patung bersenjata.
“Duduk,” perintahnya. Florence dipaksa duduk di samping kanannya.
“Aku nggak lapar.”
“Aturan kedua,” ia memotong steak tanpa menoleh. Pisau itu terlihat terlalu ringan di tangannya. Tangan yang semalam menembak kepala orang tanpa berkedip. “Kau makan saat aku bilang makan. Kau tidur saat aku bilang tidur. Kau bicara saat aku izinkan.”
Florence meremas rok selut tipis yang entah siapa yang memakaikan padanya saat ia pingsan. “Kau nggak bisa ngatur aku. Tuhan yang ngatur hidupku.”
Gerakan Lucifer berhenti. Hening. Bahkan ombak seolah menahan napas.
Pelan, ia menoleh. Mata biru itu kini menyala badai.
“Di sini,” katanya, setiap kata seperti paku, “aku adalah Tuhan.”
Ia berdiri, kursi bergeser kasar. Ia menunduk sampai napasnya menyapu wajah Florence. Bau mint dan bahaya.
“Dan Tuhanmu tidak ada di pulau ini, Florence. Hanya ada aku. Jadi kau pilih: patuh, atau aku buang salibmu itu ke laut dan kita lihat Tuhanmu datang menyelamatkanmu atau tidak.”
Florence menggigit bibir. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Suster Maria bilang, iblis paling suka melihat orang takut.
“Aku... akan makan,” bisiknya akhirnya.
Lucifer duduk kembali. Kepuasannya tipis, nyaris tak terlihat. “Bagus. Anak pintar.”
Tapi di samping piring kristal, ada sebuah map coklat.
Di sampulnya tertulis: FLORENCE BEATRIX – PANTI ASUHAN ST. MONICA, CHICAGO.
Ia tahu nama panti Florence. Ia tahu segalanya.
Lucifer mengetuk map itu dengan jari telunjuk. “Aturan ketiga: kalau kau berguna, mungkin aku beritahu di mana kuburan orang tuamu. Atau... di mana mereka sekarang.”
Darah Florence berdesir. Doa dan benci bertarung di dadanya.
---
Tagline:
Di kurungan sang iblis, doa adalah satu-satunya senjata. Dan ia adalah tahanan yang tak boleh jatuh cinta.
Malam pertama di pulau itu, Florence tak mampu terlelap.
Kamarnya memang mewah—udara dingin membelai kulit, ranjang selembut awan, debur ombak jadi kidung pengantar. Namun ini tetap bui. Dan sipirnya adalah iblis bermata biru yang menyimpan potret orang tuanya.
Ia berlutut di sisi peraduan. Cara yang sama sejak Suster Maria menuntunnya kecil dulu. Kedua tangan terkatup, salib kayu menempel di kening.
“Bapa yang di surga…” bisiknya, suara retak. “Jika Engkau sungguh melihatku… tunjukkan jalan pulang. Atau… beri aku tulang punggung untuk bertahan di sini.”
Air matanya luruh tanpa isak. Ia tak menuntut mukjizat. Hanya mohon imannya tak layu di tempat yang Tuhan-nya disebut tak ada.
Klik.
Pintu terbuka. Florence tersentak, buru-buru menghapus pipi dengan punggung tangan.
Lucifer berdiri di ambang. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing, memamerkan dada yang keras bahkan dalam temaram. Di jemarinya, kristal berisi cairan amber berayun. Wiski, mungkin. Aroma bahaya masuk bersamanya.
“Aku tak ingat memberimu izin berbisik dengan siapa pun,” suaranya rendah, serak. “Termasuk Tuhanmu.”
Florence bangkit cepat, mendekap salib ke dada. “Aku… aku cuma berdoa.”
Lucifer melangkah masuk. Pelan. Terukur. Setiap tapaknya membuat marmer terasa lebih dingin. Ia berhenti tepat di hadapan Florence. Terlalu rapat. Dadanya nyaris menyentuh kepala Florence yang hanya setinggi bahunya.
Matanya, yang biasa membeku, kini menyipit. Menelisik.
Florence menahan napas. Ini dia—detik Lucifer Azrael menghabisinya karena berani menentang titah.
Namun yang terjadi selanjutnya di luar nalar.
Lucifer mengangkat tangan. Florence refleks memejam, menyangka akan dihantam. Yang terasa justru sentuhan. Kasar, namun bimbang. Jemarinya menyentuh rahang Florence, mengangkat wajahnya perlahan agar menatap langsung ke birunya.
Hening. Hanya ombak dan degup jantung Florence yang menggila.
Di bawah lampu temaram, Lucifer membatu. Terlalu lama.
Cantik. Kata itu terlalu murah untuk yang ia tatap. Kulit porselen tanpa cela, seolah Tuhan lupa mengutus penjaga. Rambut madu tergerai acak sebab resah, malah tampak seperti mahkota yang jatuh dari surga. Dan mata itu… coklat hangat, basah oleh linang, menyimpan gentar sekaligus bara. Cantiknya bukan untuk sampul majalah. Cantiknya tipe yang menyalakan perang. Tipe yang membuat lelaki sepertinya—yang mencabut nyawa tanpa kedip—tiba-tiba lupa cara menghirup udara.
Rahangnya mengeras. Kekaguman itu hanya sekejap. Cepat ia pendam, diganti topengnya: beku, acuh, bengis.
“Hentikan tatapan itu,” desisnya, namun suaranya tak sedatar biasa. Ada retak di sana. Gangguan. “Aku bukan salah satu orang suci di pantimu.”
Ibu jarinya tanpa sadar mengusap sisa linang di pipi Florence. Geraknya cepat, kasar, seakan muak pada kelembutannya sendiri. Begitu sadar, ia menurunkan tangan, mengepalkannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aturan keempat,” ucapnya, kembali menjadi jahanam yang Florence kenal. “Kau tak boleh berdoa sembarangan. Doa di pulauku harus lewat restuku.”
Florence membelalak. “Kau tak bisa melarang orang berdoa!”
“Di sini aku bisa.” Lucifer menenggak wiskinya tandas, lalu membanting gelas ke nakas. Pecah. “Sebab di pulau ini, hanya ada satu neraka. Dan aku rajanya. Jika kau mau surga, kau mati dulu. Mengerti?”
Florence mundur selangkah. Pecahan kaca itu serupa cermin hatinya.
Lucifer berbalik, menuju pintu. Sebelum lenyap, ia terhenti. Tak menoleh.
“Besok pukul enam, di beranda. Kita bahas orang tuamu.”
Lalu ia pergi. Meninggalkan Florence dengan jantung yang masih berpacu, pipi yang masih membara bekas sentuh, dan satu tanya baru.
Mengapa sedetik tadi, mata iblis itu tak tampak hendak membunuh?
Ia berlutut lagi. Kali ini doanya berbeda.
“Tuhan… jika dia bukan jalanku pulang, jangan jadikan dia jalan aku tersesat.”
---
Di luar kamar, Lucifer bersandar pada dinding lorong. Kepalan tangannya bergetar, lalu menghantam tembok sekali, keras, sampai buku jarinya berdarah. Di kepalanya masih ada wajah itu. Wajah yang cantiknya tak sanggup ia beri nama. Dan itu mengusiknya.
Sebab Lucifer Azrael tak boleh mengagumi apa pun, apalagi tawanannya sendiri. Dan malam ini, dia marah pada dirinya yang hampir khianat.
Jam 6 pagi. Langit masih semburat jingga.
Florence sudah duduk di teras, sesuai perintah. Gaun putih selutut membalut tubuhnya — pasti pilihan Lucifer lagi. Di depannya, meja marmer panjang penuh sarapan Amerika: pancake, bacon, telur, jus jeruk. Terlalu banyak untuk dua orang. Terlalu mewah untuk seorang tahanan.
Lucifer muncul 10 menit kemudian. Tanpa jas. Hanya kemeja hitam digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot penuh urat. Rambutnya masih basah. Dia habis berenang atau habis membunuh orang, Florence tidak bisa bedakan.
Dia duduk di ujung meja. Tidak menyapa. Langsung ke intinya.
“Makan.”
Florence tidak menyentuh apa pun. Tangannya dingin. “Kamu janji mau bicara soal orang tuaku.”
Lucifer mengiris steaknya. Gerakan elegan untuk tangan yang biasa menarik pelatuk. “Aku selalu tepati janji.”
Dia menjentikkan jari. Salah satu anak buahnya datang membawa map coklat yang sama dengan kemarin. Map itu diletakkan di depan Florence. Debar jantung Florence langsung menggila.
“Buka.”
Dengan tangan gemetar, Florence membuka map itu. Isinya foto. Laporan. Catatan.
Dua nama di halaman pertama: Richard Beatrix & Anna Beatrix. Wajah orang tuanya. Muda, tersenyum, menggendong balita berambut coklat. Dia.
Air mata Florence langsung menggenang. 17 tahun dia berdoa untuk wajah ini.
Lalu lembar kedua. Foto pemakaman. Dua nisan bersebelahan. Tanggal kematiannya 15 tahun lalu. Kecelakaan mobil.
Kata-kata di laporan itu hitam di atas putih: Deceased. Confirmed.
“Dunia ini kejam, Florence,” suara Lucifer datar, tanpa simpati. “Orang tuamu sudah mati. Lama. Tidak ada keajaiban. Tidak ada reuni.”
Dunia Florence runtuh. Harapan yang dia pegang sejak di panti, doa yang dia bisikkan tiap malam, semuanya dusta. Dia menutup mulut, menahan isak yang mau pecah. Salib di lehernya terasa panas.
Lucifer menatapnya. Tidak ada iba di mata biru itu. Hanya meneliti, seperti ilmuwan melihat reaksi tikus lab.
Bohong.
Semuanya bohong. Richard & Anna Beatrix masih hidup. tapi informasi tentang mereka tidak di temukan, diluar jangkauan Lucifer, dan menurut nya itu tidak terlalu penting.Kematian mereka adalah cerita yang dia karang semalam. Kenapa? Karena gadis yang punya harapan itu berbahaya. Gadis yang patah lebih mudah dikurung. Lebih mudah... dimiliki.
“Makan,” ulang Lucifer. “Sebelum makananmu dingin. Atau sebelum aku berubah pikiran dan kubur kamu di sebelah mereka.”
Florence menghapus air mata kasar. Benci membakar dadanya. Dia mengambil garpu, menusuk pancake dengan marah. Dia makan. Setiap kunyahan terasa seperti menelan kaca.
Bagus. Patah. Itulah yang Lucifer mau. Atau... seharusnya mau.
Di tengah makan, anak buah lain datang. Bukan membawa senjata. Tapi setangkai mawar.
Mawar merah. Masih ada embunnya. Satu tangkai, tapi sempurna.
“Taruhan di sini,” Lucifer menyender, menatap Florence tajam. “Kamu pikir aku akan kasih bunga?”
Florence diam. Bingung.
Lucifer mengambil mawar itu. Dia berdiri, melangkah memutari meja sampai di samping Florence. Aromanya — mint, whisky, dan bahaya — menyergap lagi.
“Mawar di pulau neraka tidak tumbuh sembarangan,” bisiknya. Suaranya rendah, hanya untuk Florence. “Dia tumbuh karena disiram darah. Sama seperti kamu. Kamu ada di sini karena darah.”
Dia menyelipkan mawar itu ke belakang telinga Florence. Jemarinya sengaja menyentuh kulit pipi Florence sedetik lebih lama. Kelembutan yang salah tempat. Kejam yang menyamar.
“Hadiah karena kamu patuh dan makan,” katanya. “Tapi ingat, Florence. Mawar itu indah. Tapi durinya membunuh.”
Jari Lucifer menekan batang mawar, sengaja. Darah menetes dari ujung jarinya, jatuh ke gaun putih Florence. Setetes merah di atas putih suci.
“Seperti aku,” lanjutnya sambil menjilat darahnya sendiri dari jarinya. Sorot matanya gelap, posesif. “Aku bisa kasih kamu indah. Tapi aku juga yang akan membunuhmu kalau kau menusukku dari belakang.”
Florence beku. Di telinganya ada mawar. Di gaunnya ada darah iblis. Di dadanya ada duka karena orang tua yang katanya mati.
Dan di kepalanya, untuk pertama kali, dia bertanya: kalau orang tuanya benar mati, kenapa mata Lucifer terlihat seperti menyembunyikan sesuatu saat bicara?
Sarapan dengan iblis selesai. Tapi perang baru saja dimulai.
Lucifer kembali ke kursinya. “Aturan kelima: Kamu boleh simpan mawar itu. Sampai dia layu. Saat dia mati, kamu ingat siapa yang kasih hidup, dan siapa yang bisa mengambilnya.”
Dia melirik map di meja. Laporan palsu.
Florence tidak boleh tahu. Belum. Tidak sebelum Lucifer memutuskan apakah gadis ini pantas jadi ratunya, atau sekadar pion yang mati cantik.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!