NovelToon NovelToon

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

SUMPAH DARAH DAN PENYESALAN.

"Sampai kapan kau akan menjadi hakim untuk dosa yang tidak pernah dia perbuat, Maheer?"

Langkah kaki Maheer Arasyid terhenti di lorong rumah sakit yang dingin. Ia menoleh perlahan, menatap kakaknya, Muzammil, dengan sorot mata yang sarat akan kebencian. "Buktinya sudah cukup jelas, Kak. Assel itu ular. Dia memanfaatkan kita, dan kau adalah korban paling bodoh karena mau menikahinya."

Muzammil mendekat, wajahnya tenang meski dadanya sesak. "Kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat. Teman-temanmu itu memfitnahnya karena dia miskin. Mereka tidak suka Assel berada di lingkaran kalian sejak SD. Aku punya bukti bahwa mereka yang menjebaknya, Heer."

"Bukti apa? Foto dia bersama pria lain di belakang sekolah itu palsu? Aku melihatnya dengan mataku sendiri!" Maheer mendengus sinis. "Berhentilah membela wanita itu. Karena dia, aku memilih pergi ke luar negeri. Aku muak melihat wajahnya di rumah kita."

"Maheer, tolong buka sedikit hatimu. Assel adalah istriku sekarang. Dia ibu dari keponakanmu."

"Dia hanya jembatan untuknya naik kasta, Kak. Jangan naif."

Perdebatan itu tertahan ketika mereka sampai di depan pintu ruang VVIP. Muzammil menghela napas, mencoba meredam emosi sebelum membuka pintu. Di dalam ruangan, seorang wanita paruh baya terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

"Mama," panggil Maheer. Suaranya melunak seketika.

Wanita itu membuka mata. Air mata langsung mengalir di pipinya yang mulai keriput. "Maheer? Benarkah ini kau, Nak?"

Maheer berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Iya, Mah. Maheer pulang."

"Jangan pergi lagi. Ibu merindukanmu. Muzammil selalu menjagaku, begitu juga Assel. Kau tahu, Nak? Kau sudah punya keponakan yang sangat lucu. Razka sangat mirip dengamu saat kecil," ucap Ibu dengan suara bergetar bahagia.

Wajah Maheer yang semula lembut mendadak kaku. Mendengar nama Assel dan anaknya disebut di momen haru ini terasa seperti siraman air keras di atas luka lamanya. Ia melepaskan genggaman tangan ibunya secara perlahan.

"Maaf, Mah. Sepertinya Maheer butuh udara segar," ujar Maheer ketus.

"Tapi Maheer, Mama baru saja..."

Maheer tidak menghiraukan panggilan ibunya. Ia berdiri dan melangkah lebar meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi. Rasa muak menyumbat tenggorokannya. Mengapa semua orang di rumah ini seolah telah dicuci otak oleh wanita bernama Assel itu?

"Maheer! Berhenti!" Muzammil mengejarnya ke lorong, lalu menahan bahu adiknya dengan kuat.

"Lepaskan, Kak!"

"Jangan karena amarahmu yang salah tempat pada Assel, kau sampai mengecewakan Mama yang sedang kritis! Dia merindukanmu selama lima tahun ini!" tegur Muzammil dengan nada tinggi.

Maheer menyentak tangan kakaknya. "Amarahku tidak salah tempat. Kalianlah yang salah karena membiarkan wanita itu masuk ke keluarga kita. Aku pulang untuk Mama, bukan untuk mendengarkan dongeng tentang kebaikan istrimu."

"Kau keras kepala! Suatu saat kau akan menyesal karena telah membenci orang yang paling tulus pada keluarga kita."

"Aku tidak akan pernah menyesal membenci seorang pengkhianat!"

Maheer berbalik dan berlari menuju area parkir. Pikirannya kalut. Bayangan masa SMA, di mana teman-temannya menunjukkan betapa "busuknya" Assel, terus berputar seperti kaset rusak. Ia merasa dikhianati oleh lingkungan dan keluarganya sendiri.

Langkah Maheer begitu cepat menyeberangi aspal parkiran yang panas. Ia tidak memperhatikan sekeliling. Ia hanya ingin masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraan itu sejauh mungkin dari aroma rumah sakit ini.

"Maheer! Awas!"

Suara teriakan Muzammil membelah udara. Maheer tersentak, namun terlambat. Sebuah SUV hitam melaju kencang tanpa kendali, mengarah tepat ke arahnya. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di tanah. Kematian hanya berjarak beberapa inci darinya.

Bruk!

Satu dorongan kuat menghantam tubuh Maheer hingga ia terpental beberapa meter ke samping. Maheer jatuh tersungkur, merasakan perih di siku dan lututnya. Namun, suara yang menyusul kemudian jauh lebih mengerikan. Bunyi hantaman logam yang beradu dengan tubuh manusia.

Maheer bangkit dengan tubuh bergetar. Dunianya seolah berhenti berputar saat melihat pemandangan di depannya. Kakaknya, Muzammil, tergeletak di aspal dengan posisi yang tidak wajar. Darah merah segar mengalir deras, merembes di bawah tubuh yang biasanya tegap itu.

"Kak Muzammil!" Maheer menjerit parau.

Ia merangkak mendekat, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Ia mengangkat kepala kakaknya ke pangkuannya. Aspal yang semula abu-abu kini berubah menjadi merah pekat.

"Kak? Bangun, Kak! Kenapa kau lakukan ini?" tangis Maheer pecah.

Muzammil terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Matanya sayu, menatap Maheer dengan sisa-sisa kesadaran. "Heer... maafkan... aku..."

"Jangan bicara! Seseorang, tolong! Medis! Cepat ke sini!" Maheer berteriak liar, air matanya jatuh membasahi wajah kakaknya yang mulai pucat.

"Jaga... Assel... dan Razka," bisik Muzammil parau. Cengkeraman tangannya di baju Maheer terasa lemah namun mendesak. "Lindungi mereka... berjanji padaku..."

Penyesalan menghimpit dada Maheer hingga ia sulit bernapas. Hanya beberapa menit yang lalu ia membantah kakaknya, memakinya, dan mengabaikan nasihatnya. Kini, orang yang paling menyayanginya itu sedang meregang nyawa hanya demi menyelamatkan nyawanya yang keras kepala.

"Aku janji, Kak. Aku janji! Tapi tolong bertahanlah," raung Maheer.

Muzammil tersenyum tipis. Sebuah senyuman terakhir sebelum matanya perlahan menutup dan tangannya terkulai lemas di atas aspal yang bersimbah darah.

"Kak? Kak Muzammil!"

Hening. Muzammil tidak lagi bernapas. Maheer memeluk jasad kakaknya dengan erat, meraung dalam kehancuran. Di kejauhan, orang-orang mulai berkerumun dan petugas medis berlarian. Namun, bagi Maheer, semuanya sudah terlambat.

Ia membenci Assel, namun kini ia terikat sumpah darah untuk menjaga wanita itu. Ia membantah kakaknya seumur hidup, dan sebagai gantinya, kakaknya memberikan nyawanya.

"Kenapa harus kau yang pergi, Kak? Kenapa bukan aku saja?" bisik Maheer di tengah isak tangisnya.

Matahari siang itu terasa membakar, namun hati Maheer membeku. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya. Ada mahar luka yang harus ia bayar. Dan wanita bernama Assel Salsabila, musuh bebuyutannya, kini adalah beban sekaligus tanggung jawab yang harus ia pikul seumur hidupnya.

Maheer mendongak, menatap gedung rumah sakit dengan mata merah yang menyimpan badai. Di balik kepedihan itu, satu hal yang pasti: hidup Assel dan hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Pernikahan bukan lagi tentang cinta, melainkan hutang nyawa yang harus ditebus dengan air mata.

MAHAR DI ATAS PUSARA

Langkah kaki yang terburu-buru bergema di koridor rumah sakit, memecah keheningan yang mencekam setelah kepergian Muzammil. Maheer berdiri mematung di sudut lorong, kemejanya masih bercak darah kering yang mulai menghitam. Dari kejauhan, seorang wanita berlari kecil sambil mendekap erat seorang anak laki-laki.

Maheer terpaku. Penampilan wanita itu telah berubah drastis dari ingatannya lima tahun lalu. Assel Salsabila kini mengenakan hijab panjang yang membingkai wajahnya yang pucat. Tanpa sapuan kosmetik sedikit pun, kecantikan alaminya justru terpancar lebih kuat, meski kini tertutup oleh kabut ketakutan. Assel melewati Maheer begitu saja seolah pria itu tidak ada, matanya hanya tertuju pada pintu ruang IGD yang tertutup rapat.

Brak!

Assel menerobos masuk. Langkahnya mendadak gontai saat melihat sebuah ranjang di tengah ruangan. Tubuh di atasnya telah tertutup kain putih dari ujung kaki hingga kepala. Dunia seolah runtuh seketika. Ia menurunkan Razka dari gendongannya dengan tangan gemetar.

"Ini tidak mungkin. Tidak, Mas Muzammil tidak mungkin..." bisik Assel parau.

Ia mendekat perlahan, jemarinya yang dingin meraih ujung kain putih itu. Begitu wajah pucat Muzammil terlihat, tangisnya pecah tanpa suara. Assel mengguncang bahu kaku itu dengan putus asa.

"Bangun, Mas! Jangan bercanda seperti ini! Kau janji akan menjemput kami untuk makan siang, kan? Bangun!"

Hening. Tidak ada napas, tidak ada senyum yang biasanya menyambutnya.

"Mas Muzammil! Bangun Mas!" jerit Assel histeris. Ia memeluk tubuh tak bernyawa itu, meraung hingga suaranya serak. Kesedihan yang teramat dalam membuat oksigen di paru-parunya seolah habis. Seketika, tubuhnya melemas dan ia terkulai pingsan di samping ranjang suaminya.

"Mama! Mama bangun!" Razka menangis kencang, menarik-narik ujung hijab ibunya.

Maheer segera masuk dan menyambar tubuh Assel sebelum menghantam lantai. Ia mengangkat wanita itu dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa asing yang menyengat saat kulitnya bersentuhan dengan Assel, namun ia segera menepisnya. Ia menyerahkan Assel ke penanganan medis, sementara jenazah kakaknya segera dipersiapkan untuk dibawa pulang.

Beberapa jam kemudian, di dalam ruang perawatan, Assel perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Maheer yang duduk di samping ranjangnya sambil memangku Razka yang tertidur kelelahan. Tanpa aba-aba, Assel bangkit dan merenggut paksa infus di tangannya hingga darah segar menetes.

"Berikan anakku!" desis Assel, merebut Razka dari pangkuan Maheer.

Maheer berdiri, wajahnya kembali mengeras. "Kau belum pulih, Assel."

Assel menatap lurus ke depan, enggan melihat wajah pria yang selalu menghinanya itu. "Apakah sekarang kau puas? Bukankah ini keinginanmu sejak dulu? Memisahkan kami dan melenyapkan Mas Muzammil dari pengaruhku?"

Maheer tertegun. Kata-kata itu menghujam jantungnya seperti belati. Sebelum ia sempat membalas, Assel sudah melangkah pergi dengan sisa tenaga yang ada, menggendong putranya keluar dari ruangan itu.

Tiba-tiba, suara Muzammil di parkiran tadi kembali terngiang di telinga Maheer. Jangan sampai kau menyesal karena telah menyalahkan orang yang tidak bersalah. Benarkah semua kebenciannya selama ini hanyalah hasil fitnah teman-temannya?

Mansion keluarga Arasyid sudah dipenuhi pelayat. Kolega bisnis Muzammil memadati halaman, memberikan penghormatan terakhir bagi pemimpin perusahaan besar yang disegani itu. Prosesi berjalan cepat. Setelah disholatkan, jenazah segera dibawa ke pemakaman keluarga saat matahari mulai condong ke barat.

Tanah merah itu akhirnya menutup liang lahat Muzammil. Satu persatu pelayat pulang setelah ustadz selesai memimpin doa. Kini hanya tersisa keluarga inti, sang Ayah, Maheer, dan kakak perempuan Maheer. Ibu mereka masih terbaring di rumah sakit, tidak diberitahu tentang pemakaman ini demi keselamatannya.

"Assel, ayo pulang, Dek. Hari sudah hampir gelap," bujuk kakak perempuan Maheer lembut.

Assel menggeleng pelan. Ia bersimpuh di samping gundukan tanah yang masih basah, memeluk Razka yang tertidur pulas dalam dekapannya. "Biarkan aku di sini sebentar lagi, Kak. Aku ingin menemani suamiku."

Maheer menatap pemandangan itu dengan dada sesak. Ia berpaling ke arah ayah dan kakaknya. "Ayah pulanglah dulu dengan Kakak. Biar aku yang mengurus sisanya di sini."

Setelah mereka pergi, suasana pemakaman menjadi sunyi senyap. Hanya suara terdengar suara Isak Assel dan gesekan daun kamboja yang tertiup angin sore. Maheer berdiri beberapa langkah di belakang Assel, menatap punggung wanita itu dengan tatapan dingin yang dipaksakan.

"Besok jam sembilan pagi, bersiaplah. Kita harus ke kantor KUA," ujar Maheer tiba-tiba dengan suara ketus.

Bahu Assel menegang. Ia tidak menoleh sedikit pun. "Apa maksudmu?"

"Ini bukan keinginanku. Kak Muzammil memberikan wasiat sebelum napas terakhirnya. Dia menyuruhku menjagamu dan anakmu," jawab Maheer datar. "Satu-satunya cara agar kau tetap dalam lindungan keluarga Arasyid adalah dengan menikahiku."

Assel perlahan berdiri, memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan. Matanya yang sembab menatap Maheer dengan sorot kebencian yang sama besarnya dengan yang dimiliki pria itu.

"Itu tidak perlu," jawab Assel ketus. "Aku bisa menjaga diriku dan anakku sendiri tanpa bantuan pria yang menganggapku ular."

Maheer maju selangkah, menipiskan jarak di antara mereka. "Bagus kalau kau merasa sehebat itu. Tapi kau lupa satu hal, Assel."

Maheer mencengkeram lengan Assel saat wanita itu hendak melangkah pergi. "Serahkan hak asuh Razka pada kami. Secara hukum dan status keluarga, kami adalah pihak yang paling berhak atas darah daging Muzammil. Kau tidak punya harta, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya dukungan."

"Kau mengancamku?" suara Assel bergetar karena marah.

"Ini pilihan, bukan ancaman. Menikahlah denganku dan kau tetap bisa menjadi ibu bagi Razka, atau tolak aku dan kau tidak akan pernah punya kesempatan melihat anakmu lagi selamanya. Arasyid tidak akan membiarkan pewarisnya hidup menderita dengan wanita miskin sepertimu."

Assel terengah, matanya berkaca-kaca menahan amarah yang meledak. Di bawah langit senja yang mulai menggelap, di atas pusara pria yang paling mereka cintai, sebuah janji pernikahan yang lebih mirip dengan vonis penjara baru saja diucapkan.

"Kau benar-benar iblis, Maheer," bisik Assel tajam.

Maheer hanya menatapnya tanpa ekspresi, meski di dalam hatinya, rasa bersalah dan benci sedang berperang hebat. "Aku tunggu jawabanmu besok pagi. Jangan terlambat jika kau masih ingin Razka memanggilmu Mama."

PELARIAN DI UJUNG FAJAR

"Aku tidak punya pilihan lain, Ndah. Dia akan mengambil Razka dariku jika aku tetap di sini."

Suara Assel bergetar hebat di balik sambungan telepon. Ia berdiri di tengah kegelapan kamar yang luas, hanya diterangi cahaya rembulan dari balik jendela. Di depannya, koper kecil berisi beberapa potong baju Razka sudah siap. Ia tidak membawa satu pun pakaian miliknya, tidak juga perhiasan pemberian Muzammil. Ia ingin pergi dengan tangan bersih, membawa harta paling berharganya: darah dagingnya sendiri.

"Kau gila, Assel? Ini jam dua pagi! Ke mana kau akan pergi?" Suara Indah di seberang sana terdengar panik namun penuh simpati.

"Ke mana saja, asal jauh dari Maheer. Dia mengancamku di depan makam Mas Muzammil. Tolong aku, Ndah. Hanya kau yang kupunya sekarang."

Hening sejenak sebelum Indah menjawab dengan helaan napas berat. "Tunggu di gerbang belakang sepuluh menit lagi. Aku akan membawamu ke rumah nenekku di pelosok Jogja. Maheer tidak akan bisa menemukanmu di sana."

Tepat pukul tiga pagi, sebuah mobil merah berhenti tanpa lampu depan di dekat gerbang belakang mansion. Assel menggendong Razka yang masih terlelap, menyelinap di antara bayang-bayang pohon. Para penjaga yang biasanya sigap, kini tampak tertidur di pos mereka masing-masing setelah menyesap kopi yang disuguhkan Assel beberapa saat lalu. Dengan jantung yang berdegup kencang, Assel masuk ke dalam mobil.

"Terima kasih, Ndah," bisik Assel sambil mendekap Razka.

"Jangan berterima kasih sekarang. Kita harus keluar dari kota ini sebelum fajar menyingsing," sahut Indah, memacu mobilnya menjauh dari kemewahan yang kini terasa seperti penjara.

Pukul sembilan pagi, mobil Maheer terlihat sudah terparkir di depan Mansion milik Muzammil. Ia melangkah masuk ke dalam mansion kakaknya itu dengan langkah tegap. Jas hitam yang ia kenakan tampak sangat rapi, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang masih kacau. Ia berhenti di depan kepala pelayan yang sedang menunduk ketakutan.

"Mana Assel? Katakan padanya aku sudah di sini," ujar Maheer ketus.

"Maaf, Tuan muda Maheer. Nyonya... nyonya sepertinya belum turun dari kamar," jawab pelayan itu gugup.

"Belum turun? Ini sudah hampir siang!" Maheer mendengus kesal. Ia tidak membuang waktu dan langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Di depan pintu kamar utama, Maheer menggedor kayu jati itu dengan keras. "Assel! Buka pintunya! Kita punya jadwal yang harus ditepati!"

Tidak ada sahutan. Hening yang mencurigakan merayap keluar dari celah pintu. Maheer memutar kenop dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia mendorongnya hingga terbuka lebar. Kamar itu rapi, terlalu rapi hingga terasa tak berpenghuni. Aroma parfum Muzammil masih tertinggal di udara, menyesakkan dada Maheer seketika.

Matanya tertuju pada sebuah bingkai besar di atas kepala tempat tidur. Foto pernikahan Muzammil dan Assel. Keduanya tersenyum begitu tulus, sebuah kebahagiaan yang selama ini Maheer anggap sebagai kepalsuan. Ada rasa nyeri yang mendadak menyerang hatinya saat menyadari bahwa senyum itu kini terkubur bersama tanah makam kakaknya.

"Assel!" Maheer menerobos masuk ke ruang ganti.

Ia tertegun. Deretan baju Muzammil masih bersanding rapi dengan gaun-gaun Assel. Tidak ada yang hilang. Ia membuka lemari kecil Razka dan menemukan beberapa bagian sudah kosong.

"Sialan," umpat Maheer. Ia segera turun ke bawah dengan langkah menggelegar. "Semua penjaga, kumpul di depan sekarang!"

Tiga penjaga berdiri gemetar di hadapannya. "Kenapa kalian bisa kecolongan? Bagaimana dia bisa keluar?"

"Kami... kami tidak tahu, Tuan. Setelah Nyonya memberikan kopi, kami merasa sangat mengantuk," sahut salah satu penjaga dengan wajah pucat.

"Bodoh! Kalian diracuni kantuk oleh seorang wanita dan kalian tidak sadar?" Maheer berteriak, matanya berkilat marah. "Periksa CCTV sekarang!"

Beberapa menit kemudian, di ruang kendali, Maheer melihat rekaman pukul tiga pagi. Assel terlihat berjalan tergesa-gesa, memeluk Razka dalam dekapan pelindung, lalu masuk ke dalam sebuah mobil merah yang sudah menunggu.

"Kau pikir bisa lari dariku, Assel?" Maheer mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Ia segera menghubungi Hans, asisten setia kakaknya yang kini ia ambil alih. "Hans, lacak mobil merah dengan plat nomor ini sekarang juga."

Tidak butuh waktu lama bagi Hans yang ahli dalam bidangnya. "Tuan Muda Maheer, mobil itu terekam melintasi gerbang tol arah timur. Koordinat terakhir menunjukkan mereka menuju wilayah Yogyakarta, tepatnya ke arah pedesaan di pelosok."

Maheer mengambil kunci mobilnya dengan kasar. "Siapkan kendaraan. Kita berangkat ke Jogja sekarang."

"Tapi Tuan, ada rapat pemegang saham siang ini," Hans mencoba mengingatkan.

"Batalkan semuanya! Aku tidak peduli dengan rapat itu jika wanita itu berani membawa lari darah daging keluarga Arasyid," bentak Maheer.

Di dalam mobil yang melaju kencang, Maheer menatap jalanan dengan pikiran yang berkecamuk. Ia teringat kembali kata-kata terakhir Muzammil tentang fitnah. Namun, pelarian Assel justru memperkuat keyakinannya bahwa wanita itu menyembunyikan sesuatu.

"Kenapa kau lari kalau kau memang tidak bersalah, Assel?" gumamnya rendah. "Kau hanya membuatku semakin ingin menghancurkanmu."

Hans yang duduk di kursi pengemudi melirik dari spion. "Tuan, daerah yang mereka tuju cukup terpencil. Akan sulit mencari mereka jika mereka sudah masuk ke wilayah perkampungan."

"Gunakan semua sumber daya yang kita punya, Hans. Aku ingin setiap sudut Jogja diawasi. Dia tidak akan bisa bersembunyi di bawah ketiak para sahabatnya selamanya."

Maheer menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke depan. Penolakan Assel di pemakaman kemarin dan pelariannya hari ini telah menyulut api baru dalam dirinya. Ini bukan lagi sekadar melaksanakan wasiat, ini adalah tentang harga diri dan kepemilikan.

"Kau ingin bermain kucing-kucingan? Baiklah," Maheer tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Tapi ingat, Assel. Ketika aku menemukanmu, mahar yang kau bayar akan jauh lebih mahal dari sekadar pernikahan."

Perjalanan panjang menuju Jogja pun dimulai. Di balik kemudi, Hans terus memantau pergerakan melalui jaringan GPS, sementara Maheer terus memutar-mutar cincin di jarinya, membayangkan wajah pucat Assel saat ia menemukannya nanti. Perburuan ini baru saja dimulai, dan Maheer Arasyid tidak pernah membiarkan mangsanya lepas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!