Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, mengubah langit menjadi kelabu pekat seolah ikut meratapi nasib Arka. Pemuda berusia 20 tahun itu berdiri mematung di lobi apartemen mewah dengan seragam kurir yang sudah basah kuyup. Air hujan merembes dari ujung rambutnya, jatuh menetes ke lantai marmer yang mengkilap. Namun, tangannya tetap mendekap erat sebuah kotak paket; dia lebih memilih tubuhnya menggigil kedinginan daripada barang pelanggan yang ia bawa rusak terkena air.
"Permisi, Pak Satpam. Saya mau antar paket ke lantai 22, atas nama Bapak Kevin," ucap Arka dengan suara yang sedikit gemetar menahan dingin.
Satpam bertubuh tegap itu memandang Arka dengan tatapan yang sangat merendahkan. Bukannya membukakan pintu, dia justru menghalangi jalan. "Heh, kurir! Lewat pintu belakang sana! Jangan lewat lobi utama, nanti lantai mahalnya kotor kena air got dari sepatumu itu. Bau apek lagi!"
Arka hanya bisa menghela napas panjang. Inilah kenyataan hidupnya sebagai mahasiswa miskin yang harus banting tulang jadi kurir paruh waktu demi membiayai kuliah dan pengobatan ibunya di kampung. Di kota sebesar ini, harga diri seolah hanya milik mereka yang punya mobil mewah.
Tak lama kemudian, denting lift berbunyi. Seorang pemuda sebaya Arka keluar dengan gaya perlente, mengenakan jam tangan Rolex yang berkilau di bawah lampu lobi. Dia menggandeng seorang gadis cantik berpakaian minim. Arka tersentak; itu Kevin, teman satu kampusnya yang memang terkenal suka pamer dan sering menjadikannya bahan lelucon di depan mahasiswa lain.
"Loh, Arka? Jadi benar rumornya kalau sekarang lo jadi babu antar paket?" Kevin tertawa terpingkal-pingkal, suaranya menggema di lobi yang sunyi. "Pantas saja di kelas muka lo selalu kuyu kayak orang kurang gizi. Ternyata malamnya sibuk nyari recehan buat beli nasi bungkus ya?"
Selly, gadis di samping Kevin, menutup hidungnya dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Hii, Sayang. Jangan dekat-dekat, bau keringat sama air hujan. Nanti baju mahalku kena kuman dari dia."
Arka berusaha sekuat tenaga menahan emosi yang mulai mendidih di dadanya. "Kevin, ini paket lo. Tolong tanda tangan biar gue bisa lanjut kerja."
Kevin menyeringai nakal. Dia mengambil paket itu, lalu dengan sengaja melepaskannya begitu saja hingga jatuh ke genangan air hujan di dekat kaki Arka. "Aduh, licin. Ambilin dong, Ka. Kan lo emang tugasnya buat melayani. Anggap saja ini latihan kalau nanti lo beneran jadi pelayan di rumah gue."
Arka mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Namun, bayangan wajah ibunya yang sedang sakit membuatnya terpaksa menelan harga dirinya bulat-bulat. Dengan tangan gemetar, ia membungkuk untuk mengambil paket yang sudah kotor itu. Saat itulah, dengan gerakan yang sangat sengaja, sepatu kulit mahal Kevin menginjak jari tangan Arka yang sedang memegang paket.
"Agh!" Arka merintih, merasakan tulang jarinya seolah mau patah.
"Ups, sori. Nggak sengaja. Udahlah, ini tips buat lo." Kevin merogoh kantongnya, mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah yang sudah lecek, lalu melemparnya tepat ke wajah Arka sebelum pergi sambil tertawa puas.
Arka berdiri perlahan, memungut uang itu dengan hati yang hancur. Dia menatap punggung Kevin dengan tatapan yang sangat tajam. 'Suatu hari nanti, Kevin... gue bakal pastiin lo yang bakal berlutut di bawah kaki gue,' batinnya bersumpah.
Dengan perasaan hancur, Arka mengendarai motor bututnya menembus badai. Di sebuah tikungan jalan raya yang gelap, dia melihat seorang kakek tua sedang berusaha menyeberang jalan. Tiba-tiba, sebuah mobil SUV melaju sangat kencang, seolah tidak melihat keberadaan orang tua itu.
"Kek! Awas!"
Tanpa pikir panjang, Arka menjatuhkan motornya dan melompat menerjang kakek itu. Keduanya terguling di trotoar tepat saat mobil itu melintas dengan kecepatan tinggi, hanya berjarak beberapa senti dari tubuh mereka.
"Kakek nggak apa-apa?" Arka terengah-engah, luka lecet menghiasi lengannya.
Kakek itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menatap Arka dengan satu mata yang tampak buta, namun memancarkan aura yang sangat mencekam. Tiba-tiba, tangan sang kakek yang dingin memegang dahi Arka. "Anak muda, kau memiliki mata yang jujur namun dunia menutupinya dengan penderitaan. Biarlah aku membuka tabir itu untukmu."
Seketika, Arka merasakan sensasi panas luar biasa merambat masuk ke kedua matanya. Rasanya seperti ada besi panas yang dicolokkan langsung ke saraf matanya. Arka menjerit histeris, dunianya berputar, dan semuanya perlahan menjadi gelap gulita.
Keesokan paginya, Arka terbangun di kamar kosannya yang sempit dan pengap. Kepalanya masih berdenyut hebat. Saat dia membuka mata, dia terbelalak kaget. Dia tidak lagi melihat plafon kamarnya yang berjamur, melainkan dia bisa melihat kerangka kayu di balik plafon itu, bahkan dia bisa melihat tikus yang sedang berlari di sela-sela genteng.
Pandangannya beralih ke dinding kamar. Tembok beton itu seolah berubah menjadi kaca transparan. Dia melihat Ibu Kos di kamar sebelah sedang sibuk menghitung tumpukan uang sewa, bahkan Arka bisa menghitung jumlah lembaran uang itu dengan sangat teliti hanya dalam sekali lirik.
"Apa yang terjadi sama mata gue?" gumamnya tak percaya.
Dia mengambil ponselnya yang mati total akibat kehujanan kemarin. Saat dia menatap ponsel itu, instingnya tiba-tiba bekerja dengan sangat tajam. Dia seolah bisa merasakan aliran listrik yang tersumbat di dalam mesin ponsel itu. Tanpa sadar, jempolnya menekan satu titik di bagian belakang casing ponsel selama beberapa detik.
BEEP!
Ponsel yang seharusnya sudah jadi rongsokan itu tiba-tiba menyala dengan layar yang lebih jernih dari biasanya. Arka berlari menuju cermin retak di pojok kamar. Dia melihat pantulan dirinya sendiri. Matanya yang dulu sayu kini terlihat sangat dalam, dengan pupil yang sesekali berkilat warna emas saat dia memfokuskan penglihatan.
Arka menyentuh wajahnya. Dia bisa merasakan kekuatan baru mengalir di setiap tetes darahnya. Dengan mata ini, dia tidak hanya bisa melihat apa yang disembunyikan orang lain, tapi dia juga bisa melihat masa depan yang baru saja dimulai.
"Kevin, Siska... dan siapa pun yang pernah menghina gue. Persiapkan diri kalian," bisik Arka dengan seringai yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
#urbanfantasi #harem #komedi #mata_sakti
Arka masih berdiri terpaku di depan cermin retaknya selama hampir sepuluh menit. Dia mencoba memejamkan mata, lalu membukanya kembali, berharap semua ini bukan sekadar mimpi gila akibat benturan di kepala. Namun, setiap kali kelopak matanya terbuka, dunia di depannya tampak jauh lebih "telanjang". Dia bisa melihat serat kayu pada pintu kamarnya yang mulai lapuk, melihat debu yang menari-nari di udara dengan sangat jelas, bahkan bisa merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya sendiri yang berdetak lebih kuat dari biasanya.
"Kakek misterius itu... siapa dia sebenarnya?" gumam Arka pelan.
Perutnya tiba-tiba keroncongan, mengingatkannya bahwa dia hanya makan satu bungkus mi instan sejak kemarin. Dia merogoh saku celananya, hanya ada selembar uang lima ribu rupiah pemberian Kevin yang sudah kumal dan beberapa koin receh. Penghinaan kemarin kembali terngiang di telinganya, tapi kali ini rasa sakit hatinya berubah menjadi ambisi yang dingin.
Arka segera mencuci muka, mengenakan jaketnya yang paling mendingan—meski warnanya sudah memudar—dan memutuskan untuk keluar. Dia butuh membuktikan kekuatan mata ini di dunia nyata.
Tujuannya satu: Pasar Antik dan Bursa Batu Mulia di ujung kota. Tempat itu adalah sarang bagi para spekulan, orang kaya yang bosan, dan orang miskin yang berharap mukjizat. Di sana, orang membeli sebongkah batu mentah yang tampak seperti kerikil jalanan dengan harga jutaan rupiah, berharap di dalamnya ada giok berkualitas tinggi. Satu tebakan benar bisa membuatmu kaya mendadak, satu tebakan salah bisa membuatmu gila.
Sesampainya di sana, bau kemenyan, suara gerinda pemotong batu, dan hiruk-pikuk tawar-menawar langsung menyambutnya. Arka berjalan menyusuri kios-kios kecil di pinggiran. Dia tidak punya modal jutaan, dia hanya punya nyali dan sepasang mata yang aneh.
"Ayo, batu dari Kalimantan! Baru datang! Hanya lima ratus ribu satu bongkah!" teriak seorang pedagang dengan kumis tebal.
Arka berhenti di depan kios itu. Dia mencoba memfokuskan pandangannya pada tumpukan batu hitam kecokelatan yang terlihat tidak menarik. Awalnya, dia hanya melihat permukaan kasar batu itu. Namun, saat dia menahan napas dan memusatkan seluruh pikirannya ke mata kanannya, sensasi hangat kembali muncul.
Tiba-tiba, lapisan luar batu itu seolah memudar, menjadi transparan seperti air jernih. Arka terbelalak. Di dalam batu pertama, isinya hanya tanah dan batuan beku yang tak berguna. Batu kedua sama saja. Namun, di sudut tumpukan, ada sebuah batu kecil seukuran kepalan tangan bayi yang bentuknya sangat buruk dan penuh retakan.
Saat Arka menatap batu buruk itu, matanya menangkap kilauan hijau yang sangat pekat dan murni di bagian tengahnya. Hijau itu seolah bernapas, memancarkan aura yang menenangkan.
"Instingku bilang... ini bukan batu biasa," batin Arka. Dia tidak butuh layar bantuan untuk tahu bahwa itu adalah harta karun.
"Bang, yang ini berapa?" Arka menunjuk batu buruk tadi.
Si pedagang melirik sinis. "Itu? Itu batu sisa, buat ganjal pintu juga nggak laku. Kasih saya seratus ribu saja, ambil sana."
Arka berpura-pura ragu. "Mahal banget, Bang. Ini kan retak-retak. Lima puluh ribu deh, saya cuma punya uang segini buat makan."
Setelah drama tawar-menawar yang cukup alot demi menutupi kecurigaannya, si pedagang akhirnya melepas batu itu dengan harga tujuh puluh ribu rupiah—setengahnya adalah uang hasil Arka meminjam dari teman kosnya kemarin.
Arka membawa batu itu ke tempat pemotongan umum di tengah pasar. Di sana, seorang pria tua dengan kacamata tebal sedang mengoperasikan mesin pemotong cakram. Beberapa orang kaya berpakaian rapi sedang mengantre, menunggu batu-batu mahal mereka dibelah.
"Heh, kurir? Kamu mau potong batu apa? Batu kali?" celetuk seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang sedang memegang cerutu. Namanya adalah Pak Broto, kolektor giok yang cukup dikenal sombong di pasar itu.
Orang-orang di sekitar tertawa melihat Arka yang kumal membawa batu yang terlihat seperti sampah.
"Hanya mencoba peruntungan, Pak," jawab Arka tenang.
"Coba peruntungan itu pake modal, Nak. Bukan pake kerikil sisa konstruksi," timpal Pak Broto sambil memamerkan batu miliknya yang seharga dua puluh juta rupiah. "Lihat ini, batu dari Myanmar. Pasti isinya giok tipe A. Kamu mending pulang, uang segitu mending buat beli sabun biar nggak bau apek."
Arka hanya tersenyum tipis. "Gimana kalau kita taruhan, Pak? Kalau batu saya isinya lebih bagus dari punya Bapak, Bapak bayar biaya potong batu saya."
Pak Broto tertawa terbahak-bahak sampai perutnya berguncang. "Boleh! Jangankan bayar biaya potong, kalau kerikilmu itu ada isinya, saya beli sepuluh kali lipat dari harga belimu! Tapi kalau isinya cuma semen, kamu harus berlutut dan bersihin sepatu saya pake baju kamu itu!"
Arka mengangguk setuju. Penonton mulai berkumpul, mencium aroma konflik yang menarik.
Batu milik Pak Broto dipotong lebih dulu. Suara mesin menderu nyaring, air pendingin menyemprot ke mana-mana. Saat batu itu terbelah dua... hening. Isinya putih pucat, hanya ada sedikit bintik hijau kusam yang disebut "giok sampah". Pak Broto pucat pasi. Dua puluh jutanya melayang jadi abu.
"Sekarang giliran saya, Kek," kata Arka pada si pemotong.
Si kakek pemotong batu menggelengkan kepala melihat batu Arka, tapi dia tetap bekerja. Begitu cakram pemotong menyentuh permukaan batu buruk itu, hanya dalam hitungan detik, air pendingin yang mengalir tiba-tiba berubah warna menjadi kehijauan.
"Tunggu!" teriak si kakek pemotong. Dia menghentikan mesinnya, tangannya gemetar. Dia mengambil air botol dan menyiram sisa debu pada belahan batu itu.
Seketika, seluruh pasar seolah berhenti berdetak. Dari balik batu retak yang dihina semua orang itu, muncul pancaran warna hijau zamrud yang begitu jernih, transparan, dan tanpa cacat sedikit pun. Cahaya matahari yang masuk ke lobi pasar seolah terserap dan terpantul kembali dengan kemilau yang mewah.
"Imperial Jade! Ini... ini Giok Kekaisaran!" teriak seseorang dari kerumunan.
"Gila! Benar-benar hijau murni tanpa serat! Ini kualitas langka yang cuma ada di pelelangan internasional!"
Pak Broto hampir menjatuhkan cerutunya. Matanya melotot seolah mau copot. "Nggak mungkin... kerikil itu..."
Arka menarik napas lega. Matanya tidak menipunya. Penglihatan tembus pandang itu nyata, dan itu sangat akurat.
"Pak Broto, sepertinya sepatu Bapak masih bersih, nggak perlu saya lap," ucap Arka dingin. "Dan tadi Bapak bilang mau beli sepuluh kali lipat dari harga beli saya? Saya beli tujuh puluh ribu, jadi Bapak mau bayar tujuh ratus ribu buat giok yang harganya minimal bisa sampai dua ratus juta ini?"
Wajah Pak Broto merah padam karena malu. Penonton menyoraki pria sombong itu.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan setelan jas formal dan kacamata hitam berjalan menembus kerumunan. Auranya begitu elegan dan berwibawa, membuat orang-orang secara otomatis memberinya jalan. Dia adalah Clarissa, putri dari pemilik grup perhiasan terbesar di kota ini.
Clarissa melepas kacamata hitamnya, menatap giok di tangan Arka dengan binar kekaguman, lalu beralih menatap Arka yang penampilannya sangat kontras dengan harta yang dipegangnya.
"Anak muda, jangan dengarkan orang tua sombong itu," suara Clarissa lembut tapi tegas. "Nama saya Clarissa. Saya dari Permata Nusantara. Giok ini... jika kamu bersedia, saya akan membelinya sekarang juga dengan harga lima ratus juta rupiah secara tunai."
Seluruh pasar gempar. Lima ratus juta! Dari uang tujuh puluh ribu menjadi setengah miliar hanya dalam waktu kurang dari satu jam!
Arka sempat terpaku melihat kecantikan Clarissa yang seperti bidadari, tapi dia segera menguasai diri. Dia menatap mata Clarissa, dan entah kenapa, matanya memberitahunya sesuatu yang lain. Dia bisa melihat detak jantung wanita itu yang sedikit tidak beraturan, dan ada rona merah di pipinya—Clarissa benar-benar menginginkan giok ini bukan hanya untuk bisnis, tapi karena dia terkesan dengan keberuntungan (atau kemampuan) Arka.
"Tentu, Nona Clarissa. Tapi saya punya satu syarat," ucap Arka dengan nada yang kini lebih percaya diri.
Clarissa mengangkat alisnya, tertarik. "Syarat apa?"
"Bukan soal uang. Saya butuh kartu nama Anda. Saya rasa, ini bukan terakhir kalinya saya menemukan benda seperti ini," jawab Arka sambil memberikan senyum paling manis yang bisa ia berikan.
Clarissa terpana sejenak. Jarang ada pria, apalagi yang terlihat miskin, berani menatap matanya dengan begitu berani dan penuh rahasia. Dia tersenyum kecil, lalu mengeluarkan kartu nama berlapis emas dari dompetnya.
"Menarik. Aku tunggu kejutanmu berikutnya, Arka."
Arka menerima kartu itu. Di saat yang sama, dia melirik ke arah Kevin yang entah sejak kapan ada di pinggiran kerumunan, menatap Arka dengan wajah iri dan tidak percaya. Arka hanya mengangkat gioknya tinggi-tinggi ke arah Kevin, memberikan isyarat bahwa mulai detik ini, roda nasib telah berputar.
Hari itu, Arka pulang bukan lagi sebagai kurir miskin yang dihina. Dia pulang sebagai pemuda yang baru saja menggenggam kunci untuk menguasai dunia.
#urban_fantasi #harem #romance #komedi #mata_sakti
Langkah kaki Arka terasa lebih ringan saat meninggalkan bursa batu mulia. Di saku celana jinnya yang sudah mulai robek di bagian lutut, terselip sebuah kartu nama berwarna hitam dop dengan tulisan emas yang elegan: Clarissa – CEO Permata Nusantara. Di tangan satunya, dia menggenggam ponsel murahnya yang layarnya retak seribu, namun menampilkan notifikasi yang bisa membuat jantung siapapun copot.
Transfer Masuk: Rp500.000.000,00.
Arka berhenti sejenak di bawah halte bus yang mulai sepi. Dia menatap angka nol yang berderet di layar ponselnya itu selama hampir satu menit. Lima ratus juta. Bagi orang seperti Pak Broto atau Clarissa, mungkin itu hanya harga satu jam tangan atau tas mewah. Tapi bagi Arka, yang sebulan lalu harus membagi satu bungkus mi instan untuk dua hari, uang ini adalah nafas kehidupan. Ini adalah peluru pertama untuk senapan balas dendamnya.
"Dunia beneran lucu ya," gumam Arka sambil terkekeh sinis. "Kemarin aku diusir kayak anjing karena telat bayar kos sejuta. Sekarang, aku bisa beli gedung kos itu sekalian sama harga diri pemiliknya."
Dia memejamkan mata sejenak, merasakan sensasi hangat di mata kanannya yang perlahan mulai mereda. Kekuatan ini bukan mimpi. Mata Ilahi ini nyata. Dan dia bersumpah tidak akan menyia-nyiakannya.
Tujuannya sekarang jelas: Grand Wijaya Mall.
Itu adalah pusat perbelanjaan paling elite di pusat kota. Tempat di mana lantai marmernya selalu berkilau dan bau parfum mahal tercium bahkan dari jarak sepuluh meter sebelum pintu masuk. Dulu, Arka hanya berani melewati gedung itu dengan motor bututnya saat mengantar pesanan ojek online. Dia ingat betul bagaimana satpam di sana sering menatapnya dengan tatapan "Jangan-lama-lama-di-sini-kamu-bikin-kotor-pemandangan".
Begitu turun dari taksi—yang sopirnya sempat menatapnya curiga karena takut Arka tidak bisa bayar—Arka melangkah masuk. AC dingin langsung menyergap kulitnya yang masih agak lembap karena keringat dan sisa gerimis.
Di dalam mal, orang-orang berpakaian rapi, membawa tas belanja dari merk-merk internasional yang harganya selangit. Arka, dengan kaos oblong yang warnanya sudah memudar dan sepatu kets yang solnya hampir lepas, terlihat seperti noda hitam di atas kanvas putih yang bersih.
Dia berjalan menuju sebuah butik bernama Vangogh Heritage. Itu adalah butik khusus pria yang hanya melayani pelanggan kelas atas. Jas-jas yang dipajang di etalase depannya bukan cuma pakaian, tapi karya seni.
Baru saja Arka menginjakkan kaki di atas karpet beludru merah butik itu, seorang pelayan pria berambut klimis dengan setelan jas abu-abu langsung berdiri menghalangi jalannya. Namanya, menurut papan nama di dadanya, adalah Fandi.
Fandi menatap Arka dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Dia tidak menyapa "Selamat siang" atau "Ada yang bisa dibantu?". Dia malah bersedekap.
"Mas, salah alamat ya? Toko baju murah atau obralan ada di lantai dasar, deket area parkir motor. Di sini khusus barang high-end," ucap Fandi dengan nada meremehkan yang sangat kental.
Arka tidak langsung marah. Dia malah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tenang tapi mematikan. "Saya nggak salah alamat. Saya mau cari jas."
Fandi mendengus, hampir tertawa mengejek. "Cari jas? Mas tahu nggak jas paling murah di sini harganya berapa? Tiga puluh juta. Itu mungkin gaji Mas selama dua tahun jadi kurir. Jadi tolong, jangan buang-buang waktu saya. Saya lagi nunggu pelanggan VIP."
"Pelanggan VIP? Oh, maksudmu orang yang punya uang?" Arka melangkah maju satu tindak, membuat Fandi refleks mundur karena merasa terintimidasi oleh sorot mata Arka yang tiba-tiba menajam.
"Kurang ajar ya kamu! Keluar sekarang, atau saya panggil sekuriti!" teriak Fandi mulai emosi.
Keributan kecil itu menarik perhatian beberapa pelanggan lain di dalam butik. Seorang wanita paruh baya yang sedang melihat dasi sutra menatap Arka dengan pandangan menghina, seolah-olah keberadaan Arka di sana bisa menularkan kemiskinan.
Tepat saat itu, Arka mengaktifkan Mata Ilahi-nya. Dia tidak mencari giok sekarang, dia mencari kelemahan. Dia melihat ke arah rak jas di belakang Fandi. Matanya menembus lapisan kain, melihat struktur jahitan, dan tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menarik pada sebuah jas berwarna biru gelap (navy) yang dipajang di manekin utama.
"Jas navy di sana itu... harganya delapan puluh juta, kan?" tanya Arka tiba-tiba.
Fandi melotot. "Iya, dan itu jas limited edition karya desainer Italia. Jangan bilang kamu mau beli itu. Nyentuh aja kamu nggak boleh!"
"Lucu ya," Arka terkekeh. "Delapan puluh juta untuk jas yang jahitannya di ketiak kiri sedikit renggang dan kancing keduanya hampir lepas karena kesalahan produksi? Vangogh Heritage ternyata jualan barang cacat?"
Wajah Fandi langsung pucat pasi. "Ngaco kamu! Jangan asal bicara ya!"
"Cek aja sendiri," tantang Arka.
Mendengar itu, manajer butik, seorang pria paruh baya bernama Pak Hendra, keluar dari ruangannya. Dia sudah mendengar perdebatan itu sejak tadi. Dia segera mendekati manekin yang dimaksud Arka. Dengan teliti, dia memeriksa jahitan di bawah lengan kiri. Matanya membelalak. Benar. Ada sedikit perenggangan benang yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, dan kancingnya memang sedikit goyang.
Pak Hendra menatap Arka dengan pandangan berubah drastis. Dari mana pemuda kumal ini tahu detail sekecil itu dari jarak tiga meter?
"Mas... bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Pak Hendra dengan nada yang jauh lebih sopan.
Arka tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mengelupas, dan menarik sebuah kartu debit berwarna hitam—kartu eksklusif yang baru saja dia dapatkan dari bank setelah menunjukkan saldo lima ratus jutanya.
Arka meletakkan kartu itu di meja kasir dengan bunyi plak yang mantap.
"Saya ambil jas itu. Ambilkan yang baru dari gudang, jangan yang di manekin ini. Oh, dan sekalian kemeja sutra putih, sepatu pantofel kulit sapi asli, dan jam tangan yang ada di etalase itu," kata Arka tenang.
Fandi, si pelayan sombong tadi, gemetar. "Mas... kartu itu..."
"Gesek aja dulu. Kalau saldonya nggak cukup, saya sendiri yang bakal jalan kaki keluar dari mal ini sambil telanjang," ucap Arka dingin.
Pak Hendra dengan sigap mengambil kartu itu dan memasukkannya ke mesin EDC. Dia menekan angka: Rp125.000.000,00 untuk seluruh setelan yang diminta Arka
Beep. APPROVED.
Hening. Suasana butik itu mendadak jadi sunyi senyap, hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar. Fandi hampir jatuh terduduk. Seratus dua puluh lima juta keluar begitu saja dari kantong orang yang dia sebut "sampah" tadi.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan!" Pak Hendra langsung membungkuk dalam-dalam. "Fandi, cepat siapkan ruang VIP! Layani Tuan ini dengan standar tertinggi! Sekarang!"
"Nggak perlu," potong Arka. Dia menatap Fandi yang wajahnya sudah seperti kertas putih. "Saya nggak mau dilayani orang yang matanya katarak dan lebih mementingkan bungkus daripada isi. Biar Pak Hendra saja yang urus."
Selama satu jam berikutnya, Arka mendapatkan perlakuan bak raja. Dia mandi di kamar mandi eksklusif butik, mencukur jenggot tipisnya yang tidak rapi, dan mengenakan setelan jas navy yang pas di tubuhnya. Jas itu seolah menyatu dengan kulitnya, memberikan kesan wibawa yang luar biasa. Bahunya yang dulu sering membungkuk karena beban hidup, kini tegak.
Saat Arka keluar dari ruang ganti, Pak Hendra dan beberapa pelayan wanita di sana sempat menahan napas. Pemuda kurir tadi sudah hilang. Yang berdiri di depan mereka sekarang adalah seorang pria tampan dengan aura misterius, seolah dia adalah pewaris konglomerat yang baru pulang dari luar negeri.
"Luar biasa, Tuan. Anda terlihat... berbeda," puji Pak Hendra tulus.
Arka menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya kini tidak hanya melihat rahasia di balik benda, tapi juga memancarkan kepercayaan diri yang mematikan.
"Bungkus baju lama saya. Buang saja ke tempat sampah," kata Arka sambil merapikan kerah jasnya.
Dia melangkah keluar dari butik. Setiap langkah sepatunya yang mengkilap di atas lantai marmer mal menimbulkan bunyi yang tegas. Orang-orang yang tadi memandangnya rendah kini justru berbisik-bisik, bertanya-tanya siapa "pangeran" baru yang sedang berjalan ini.
Arka memutuskan untuk mencari makan siang. Dia berjalan menuju area Fine Dining di lantai paling atas. Namun, saat dia melewati sebuah restoran Italia terbuka bernama La Luna, langkahnya mendadak terhenti.
Di sana, di meja pojok dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, duduk dua orang yang sangat dia kenal.
Siska. Mantan pacarnya yang memutuskan Arka di bawah hujan dua hari lalu dengan alasan "Kamu nggak punya masa depan". Siska terlihat cantik dengan gaun merah ketat, tertawa manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu seorang pria.
Pria itu adalah Rendy. Anak pemilik dealer mobil bekas yang dulu sering menjadikan Arka bahan lelucon di depan teman-temannya. Rendy sedang memamerkan kunci mobil BMW-nya di atas meja dengan sengaja.
"Aduh sayang, nanti kalau kita nikah, aku mau pesta di hotel bintang lima ya. Nggak kayak si Arka itu, mungkin dia cuma bisa ngajak aku makan di warteg," suara Siska terdengar renyah, diikuti tawa sombong Rendy.
"Arka? Hahaha, anak itu palingan sekarang lagi dikejar-kejar penagih hutang. Jangan sebut namanya lagi lah, bikin selera makan ilang aja," sahut Rendy sambil meminum wine-nya.
Arka menyeringai. Sebuah seringai dingin yang penuh arti. Dia merapikan jas navy-nya, memperbaiki letak jam tangan mewahnya, lalu melangkah mantap menuju meja mereka.
"Wah, kebetulan banget ya. Lagi bahas masa depan, atau lagi bahas masa lalu?"
Suara berat dan penuh wibawa itu membuat Siska dan Rendy serentak menoleh. Dan saat mereka melihat siapa yang berdiri di depan mereka, waktu seolah berhenti berputar.
#urbanfantasi #harem#romansa #komedi
#mata #sakti
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!