NovelToon NovelToon

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Bab 1

Disa berlari menuruni tangga. Senyum lebar menghiasi wajah ayunya. Sebuah benda pipih berukuran kecil yang biasa disebut alat tes kehamilan tergenggam erat di tangannya.

Hai ini adalah hari anniversary pernikahan mereka yang kedua. Ini akan menjadi kejutan yang paling mengejutkan untuk suaminya, Cakra.

"Mas .... " Disa membuka pintu. Menyambut kepulangan Cakra dengan senyum yang sama seperti biasa. Namun, apa yang dia lihat di depan matanya, memudarkan senyumnya perlahan.

Cakra, suaminya, tidak sendirian. Ada perempuan lain bersamanya yang sangat Disa kenal. Risa, sahabat Disa. Masalahnya, tangan Risa sedang menggamit erat lengan Cakra. Itu yang membuat dada Disa seketika dialiri rasa panas.

Siapa pun yang melihat kedekatan mereka yang begitu intens, akan dengan mudah menebak jika keduanya memiliki sebuah hubungan. Tapi, kan, Risa sahabatnya!

"Hai, Dis," sapa Risa dengan senyum ramahnya seperti biasa. Namun Disa, kali ini melihat senyum itu dengan rasa muak.

"Risa, kanapa kamu datang ke sini sama Mas Cakra?" tanya Disa.

Risa menoleh ke arah Cakra, seolah mempersilakan pria itu untuk memberi penjelasan kepada Disa yang kepalanya sudah dipenuhi tanda tanya. Apakah dia mulai mencium bau-bau pengkhianatan?

"Disa," Cakra mulai bicara sambil melirik Risa sekilas. "Mungkin ini akan mengejutkan kamu, tapi sekarang ini sudah waktunya kamu tahu. Sebenarnya aku sama Risa sudah menikah siri sejak tiga bulan yang lalu dan sekarang Risa sedang hamil anak aku."

Deg! Bagai disambar petir di siang bolong, sesuatu telah menghantam telak di dada Disa. Ia mendadak kesulitan bernapas.

"Maksud kamu? Mas, jangan bercanda!" teriak Disa. Dengan sekali sentakan ia melepaskan tangan Risa dari lengan suaminya. Kemudian menarik Cakra sedikit menjauh dari Risa.

"Kalian cuma mau prank aku, kan?! Iya kan?" Disa menatap Cakra dan Risa bergantian, mencari-cari kebohongan di mata keduanya. Mereka terlalu sering bercanda, tetapi Disa pikir candaan mereka kali ini sungguh keterlaluan.

"Kita enggak sedang prank kamu, Dis," Risa menjawab dengan diiringi tatapan prihatin. Tetapi ada senyum kemenangan kecil yang tersinggung di bibir tebalnya.

"Maaf kalau selama ini kami berkhianat di belakang kamu, tapi ... aku dan Mas Cakra, suami kamu, saling mencintai," Risa tersenyum tipis mengusap perutnya yang rata. "Aku hamil, Dis. Aku sudah lelah menyembunyikan hubunganku dan Mas Cakra, toh cepat atau lambat kamu pasti akan tau. Jadi kami memilih jujur."

Disa tidak percaya. Dia seperti mendengar dongeng yang mustahil dipercaya. Risa, sahabatnya, tega mengkhianatinya? Lebih sadis lagi, Cakra sampai membuatnya hamil. Hal yang sudah diusahakan Disa dan Cakra selama dua tahun dengan jatuh bangun.

Ia tersenggal. Tanpa Cakra sadari, Disa menyelipkan alat tes kehamilan di genggaman tangannya ke dalam saku dasternya.

Biar Disa sembunyikan kehamilannya ini.

"Jadi kalian mau apa?" tanya Disa berusaha tetap tegar, tetap berpijak tanpa goyah walaupun satu air mata sudah menetes di pipinya. Dia tidak mau membuang-buang tenaganya untuk bertanya mengapa mereka mengkhianati Disa dan sejak kapan mereka melakukan ini.

"Aku cuma mau kamu tau, Dis, dan aku mau kamu membiarkan Mas Cakra adil karena aku juga istrinya yang lagi hamil," tutur Risa.

Disa menghela napas pendek. Tak sangka, Risa yang biasa meminta barang pribadi milik Disa seperti tas, sepatu, dompet, aksesoris, ternyata pun tega mengambil sesuatu yang sangat berharga yang Disa miliki. Suami Disa.

Tubuh Disa diputar hingga kini berhadapan dengan wajah tampan Cakra. Ah sialnya, cinta Disa yang sangat membara di hatinya membuat luka yang mereka torehkan semakin terasa menjadi-jadi. Namun Disa masih saja mengakui dan terpesona dengan ketampanan Cakra walau pria itu sudah menyakiti sedemikian rupa.

"Sayang, dengerin aku," pinta Cakra, meremas lembut kedua bahu Disa. "Bukannya kamu merasa tertekan dengan permintaan mama yang terus menuntut kamu untuk hamil? Tapi sampai dua tahun kita menikah, kamu belum juga hamil. Aku janji, anak Risa akan menjadi anak kita juga. Kamu bisa memiliki anak tanpa repot-repot merasakan hamil dan melahirkan."

Apa maksud mereka? Apakah mereka ingin menjadikan Disa sebagai baby sitter gratisan untuk anak mereka kelak?

Cakra tersenyum puas, merasa idenya sangat cemerlang dan pasti akan diterima baik oleh Disa.

"Iya, Dis," sambung Risa. Disa menoleh ke arahnya.

"Kamu bisa mengakui anak aku nanti sebagai anak kamu juga. Jadi, kamu bisa memberikan cucu untuk orang tuanya Mas Cakra," imbuh Risa.

"Kamu setuju kan, Sayang?" Cakra bertanya, suaranya tetap terdengar lembut seperti biasanya.

"Aku minta maaf karena aku udah bohongin kamu selama ini, tapi aku melakukan semuanya juga demi kamu. Aku mau kita memiliki anak, aku nggak tega liat kamu terus terusan ditekan sama mama," Cakra mengusap sebelah pipi Disa. Segera, Disa menepis tangan pria itu dari pipinya.

Disa tersenyum. Cakra sempat bernapas lega, berpikir Disa akan menyetujui keputusannya.

"Ide kamu bagus, Mas. Aku akan punya anak tanpa repot-repot hamil, melahirkan, menyusui. Begitu, kan?"

"Ya ....." Cakra mengangguk mantap, senyumnya semakin lebar.

Disa menoleh ke arah Risa. Dia sudah bukan sahabatnya lagi, kini Risa adalah mantan sahabatnya.

"Kamu setuju dengan keputusan Mas Cakra, Ris?"

Risa mengangguk. "Aku setuju, Dis, karena aku sayang sama kamu."

Ya ampun.... Calon ibu macam apa Risa itu? Dia bersedia hamil dan melahirkan, namun dia tidak mau membesarkan anaknya. Hewan jauh lebih bernurani dibanding si pelakor itu.

"Tapi aku nggak setuju," Disa lekas menatap Cakra, yang senyumnya perlahan hilang.

"Maksud kamu apa, Dis?"

Buat apa Disa tetap bertahan dengan pria yang jelas-jelas sudah berkhianat di depan mata? Sampai menitipkan benihnya di rahim perempuan lain.

Disa sudah tidak lagi menjadi satu-satunya Ratu di hati pria itu. Disa tidak mau diduakan dengan perempuan mana pun. Apalagi itu adalah sahabatnya.

"Talak aku sekarang juga, Mas," pinta Disa disertai tatapan datarnya.

"Disa!"

...****************...

Bab 2

"Disa!" bentak Cakra. "Apa-apaan kamu? Aku nggak akan pernah mentalak kamu!"

Disa menarik sudut bibirnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. "Jangan serakah, Mas. Kamu udah ada Risa yang sedang hamil anak kamu. Jadi, kamu udah nggak butuh kehadiranku lagi. Biarkan aku yang pergi!"

Sakit hati yang teramat sangat membuat Disa mengambil keputusan untuk langsung pergi dari rumah Cakra malam ini juga. Namun, Cakra mencekal lengannya sebelum Disa sempat melangkah.

"Bukan ini yang aku mau!" teriak Cakra. "Aku mau kamu tetep ada di samping aku, Dis. Aku nggak mau kita pisah."

"Lalu Risa?" tanya Disa, menoleh ke arah Risa yang sejak jadi hanya menjadi penonton. Oh, mungkin dia tengah menikmati pertengkaran yang terjadi antara Disa dan Cakra, sepasang suami-istri yang selalu menunjukkan kehangatan dan sisi romantisnya di depan Risa.

"Risa ... Risa juga akan tetap menjadi bagian dari kita. Kita butuh anak yang sedang Risa kandung kan, Dis, jangan egois. Aku ngelakuin ini karena nggak mau kamu terus-terusan ditekan sama mama, sama keluarga aku! Harusnya kamu berterimakasih."

emosi Disa semakin tersulut setelah mendengar Cakra mengatakan itu.

"Kamu pikir aku nggak bisa hamil?" desis Disa sengit.

Cakra menatap tajam Disa dengan kedua bahu yang terangkat, "Buktinya? Mana? Sampai dua tahun kita menikah, kamu belum juga hamil. kamu pikir aku nggak stress dituntut untuk segera memiliki momongan?"

Andai saja Cakra tahu bahwa di kantong baju Disa ada kejutan yang seharusnya menjadi hadiah di hari anniversary ini. Namun sayangnya, Cakra lebih dulu memberi kejutan yang tak terduga bagi Disa.

Biarlah, Disa rahasiakan kehamilannya ini. Semua sudah menjadi percuma sekarang. Cakra akan memiliki anak dari wanita lain, maka tak usahlah dia tahu bahwa di rahim Disa sudah tumbuh satu kehidupan baru.

"Oh yaudah. Jadi sekarang kamu bisa bilang ke keluarga kamu kalau kamu akan segera mempunyai anak. Siapa pun ibu dari anak itu nggak akan menjadi masalah buat keluarga kamu, kan? Nggak harus aku?" Suara Disa bergetar.

"Memang!" Dan ketika Cakra menyahut cepat, hati Disa semakin sakit. Seolah ada benda tajam yang sedang menyayatnya tanpa ampun.

"Aku bisa membuktikan ke keluargaku kalau bukan aku yang bermasalah," sambung Cakra. Kini, Disa sudah tidak mengenali tatapan pria itu yang berbeda. "Aku cuma kasihan sama kamu, tapi kalau kamu nggak setuju sama rencana aku ... Ya sudah."

Disa menarik napas panjang seraya mengerjap beberapa kali. Dia tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh meneteskan air mata di depan Cakra dan Risa atau Risa akan semakin merasa menang. Lihat saja sekarang, Disa menemukan kepuasan di wajah Risa meksipun berusaha ditutup-tutupi oleh wanita licik itu.

"Tunggu apa lagi?" tagih Disa. "Talaknya, Mas. Setelah itu aku akan langsung pergi dari kehidupan kamu." Sangat berat bagi Disa untuk mengatakan itu.

Jujur, bukan seperti ini yang Cakra harapkan. Dia inginkan Disa untuk tetap ada di sampingnya, dia masih sangat mencintai istrinya. Namun, memohon agar Disa tetap bertahan adalah suatu kekalahan yang tidak mau Cakra tunjukkan.

"Baik," Cakra mengangguk. "Adisa, malam ini aku talak kamu. Kamu bebas sekarang, sudah bukan menjadi istriku lagi."

Tak pernah terbayangkan sebelumnya pernikahan ini hanya akan bertahan selama dua tahun. Lelaki yang Disa kira setia, ternyata telah mendua. Dan akhirnya Disa yang harus menyingkir dari kehidupannya.

Malam itu juga, Disa langsung membereskan barang-barangnya. Memasukkan baju-bajunya ke dalam koper serta beberapa benda berharga miliknya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menangis, namun saat menatap ranjang dengan seprei di atasnya yang masih rapi, dada Disa terasa sangat sesak. Dalam sekejap, matanya memanas.

Malam anniversary ini tidak berakhir di atas ranjang seperti tahun kemarin. Justru yang terjadi adalah sebuah perpisahan karena pengkhianatan.

Disa sedang membayangkan, bagaimana jika suatu saat Cakra tahu tentang kehamilannya ini? Mungkinkah pria itu akan menyesal?

"Jangan menyesal setelah aku pergi, Mas."

Itu adalah pesan yang Disa katakan sebelum kakinya melangkah keluar dari rumah yang telah ia tempati selama dua tahun lamanya.

Cakra hanya diam, tak ada usaha pencegahan yang ia lakukan. Hanya terus menatap Disa hingga wanita itu masuk ke dalam taksi yang ia pesan.

Apakah benar ini adalah keputusan yang terbaik? Bagaimana Cakra akan menjalani hari-harinya tanpa Disa terlibat di dalamnya?

*

Tangis Disa pecah di dalam taksi. Dadanya terasa sangat sesak jika ia terus menahannya.

"Ya ampun ... Aku nggak sangka semuanya akan berakhir seperti ini."

Disa mengusap-usap perutnya sendiri, merasa bahagia sekaligus kesedihan dalam waktu yang bersamaan. Dia bahagia karena kini dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang ibu, namun Disa juga sedih menyadari anak ini akan tumbuh tanpa kehadiran papanya.

Sungguh Disa tak menyangka Cakra tega mengkhianatinya dengan Risa. Cakra tahu betul Risa adalah sahabat dekatnya, apakah tidak ada wanita lain selain Risa? Mungkin rasa sakitnya tidak akan menjadi-jadi seperti sekarang jika seandainya wanita itu bukanlah Risa.

Membayangkan Risa tidur dengan Cakra, sungguh membuat hati Disa bagai diremas-remas.

Disa tak mempunyai pilihan lain selain pulang ke rumah orang tuanya.

"Disa," gumam ibunya ketika membukakan pintu. Melihat Disa dalam keadaan yang sangat berantakan beserta koper yang ada di sampingnya tentu membuat wanita tua itu bertanya-tanya.

"Ibu .... "

"Disa, kamu kenapa? Enggak pulang sama Cakra?"

Disa hanya menggeleng lemah.

"Ayo masuk," ajak Rahmi.

Disa semakin tidak kuasa menahan air matanya yang mengalir deras ketika Rahmi memeluknya. Pada akhirnya, ibu adalah tempat terbaiknya untuk pulang.

Disa menceritakan semuanya kepada Rahmi. Tentang Cakra dan Risa juga tentang kehamilannya.

"Keterlaluan Cakra!"

Sama seperti Disa, Rahmi pun tak menyangka. Menantu yang selama ini ia bangga-banggakan ternyata tega menyakiti anaknya sedemikian dalam.

"Cakra pasti akan menyesal setelah tau dia melepas kamu dalam keadaan sedang hamil anaknya, Dis."

"Biarkan aja, Bu."

Memang itu yang Disa harapkan. penyesalannya Cakra.

...****************...

Bab 3

Diam-diam, Risa tersenyum puas saat melihat Disa ditalak hingga akhirnya keluar dari rumah Cakra. Memang seperti ini yang Risa harapkan. Dia tidak benar-benar merelakan anak yang sedang dikandungnya untuk diserahkan kepada Disa dan Cakra. Risa melakukan itu hanya untuk menarik simpati Cakra saja.

Kini, Risa sudah berhasil menendang Disa dari sisi Cakra dan menggantikan posisinya. Meskipun Risa tahu, saat ini ia hanyalah sebatas istri sirinya Cakra.

Ingatan Risa mundur ke belakang. Lima bulan yang lalu, ia melakukan hal yang sangat nekat. Yaitu menggoda suami sahabatnya sendiri. Tentunya ada alasan kuat yang menggiring Risa melakukan hal itu.

Semesta nampaknya sedang berpihak pada Risa. Cakra, yang dari luar terlihat seperti suami setia, alim, sayang istri, suami idaman para wanita, rupanya begitu gampang tergoda. Risa sampai tidak percaya dalam waktu kurang dari dua bulan, dia sudah menjadi istri kedua Cakra.

Cakra semakin masuk ke dalam perangkapnya setelah tahu Risa langsung positif hamil setelah satu bulan mereka menikah. Hal yang sangat Cakra harapkan dari Disa, justru bisa Risa berikan secepat itu.

Maka, semakin dekatlah pada gerbang kehancuran Disa.

"Bagaimana kalau kita jujur sama Disa? Kita bongkar hubungan kita dan katakan kalau aku sedang hamil," bujuk Risa kala itu.

Cakra tentu saja menolak, sebab ia tidak mau kehilangan Disa. Besar kemungkinan setelah Disa tahu tentang hubungannya dengan Risa, Disa akan meminta cerai. Cakra tidak mau itu terjadi.

"Aku nggak mau. Kalau Disa tau, dia pasti akan minta pisah."

"Nggak mungkin," sangkal Risa. "Disa kan sampai sekarang belum juga hamil, kita bilang aja kalau anak kita ini akan menjadi anaknya juga. Aku yakin, dengan bagitu Disa nggak akan ninggalin kamu," jelasnya penuh keyakinan.

Risa harus bisa meyakinkan Cakra agar setuju dengan rencananya untuk membongkar hubungan ini di depan Disa. Supaya apa? Supaya Disa semakin sakit, karena Risa tahu betul bagaimana watak Disa.

Disa tidak akan pernah mau bertahan.

Semua rencana Risa berjalan mulus. Ketika akhirnya Disa memilih pergi, di situlah awal kemenangan Risa.

"Maaf ya Mas, ternyata perkiraanku meleset. Aku kira Disa nggak akan ninggalin kamu demi anak yang kita janjikan," Risa mengusap-usap bahu kekar Cakra yang tertunduk di sofa.

Cakra menghela napas dalam. "Sudahlah," sergahnya. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Dengan pengkhianatan yang terang-terangan Cakra akui dan tunjukkan di depan Disa, Cakra tidak akan bisa menarik perempuan itu kembali ke sisinya.

"Kamu nggak sendirian kok, Mas, kan ada aku sekarang. Aku akan nemenin kamu, menggantikan posisi Disa." Risa, yang duduk di samping Cakra, meraih tangan Cakra untuk diletakkan di atas perutnya. "Ingat, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Itu kan yang kamu harapkan selama ini."

Cakra menggerakkan kepalanya pelan, menoleh ke arah Risa, kemudian tersenyum tipis. Benar, Cakra tidak perlu repot-repot menangisi kepergian Disa. Ada yang lebih penting untuk dia pikirkan dibandingkan dengan kepergian Disa, yaitu anak ini.

Cakra mengusap lembut perut Risa. Dia memang kehilangan Disa, tetapi sebagai gantinya, Cakra memiliki Risa dan anak ini.

"Iya. Mulai sekarang kamu tinggal di sini aja. Besok akan aku kenalkan kamu ke mama sama papa aku, sekaligus memberitahukan hubungan kita," tutur Cakra.

"Iya, Mas," Risa mengangguk pelan dan malu-malu. Padahal di dalam hati, dia bersorak gembira.

"Kamu istirahat aja sana di kamar," suruh Cakra seraya mengusap lembut lengan Risa.

"Kamar yang mana?"

"Terserah. Di kamar utama juga boleh, toh udah nggak ada Disa di rumah ini."

Risa mengangguk kemudian beranjak ke lantai atas. Membuka pintu kamar utama, kamar yang dulunya menjadi saksi bisu cinta Disa dan Cakra.

Masih ada banyak barang-barang Disa yang tertinggal di sana sebab saat pergi tadi, Disa hanya membawa satu koper saja. Mungkin besok atau secepatnya, Risa harus menyuruh Cakra untuk mengosongkan semua barang-barang Disa.

Sementara di bawah, Cakra pergi ke dapur. Niatnya hendak mengambil minum, namun ia dibuat tertegun oleh keadaan meja makan yang penuh dengan makanan.

Ada satu kue tart kecil berhias coklat dengan tulisan di atasnya.

Happy anniversary ke dua

Semua ini ... Pasti Disa yang sudah repot-repot menyiapkan sejak siang.

Untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke dua. Namun, Cakra sudah menghancurkan malam yang seharusnya indah ini.

*

Disa tak dapat terlelap. Dia berbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar. Membiarkan air mata mengalir dari kedua matanya yang kemudian membasahi telinganya.

Tadi di depan Cakra, Risa, bahkan di depan ibunya, Disa masih bisa terlihat kuat. namun saat malam datang, hanya kesendirian dan keheningan yang menemani, Disa tidak bisa menahan dadanya yang terasa sangat sesak.

Rasanya dikhianati oleh dua orang yang sangat dipercaya itu sangat sangat sakit. It's another level of broken heart.

Disa tak tahu salah apa dirinya terhadap Risa dan Cakra sehingga mereka melakukan ini terhadapnya.

Dunia Disa hancur.

Tetapi, Disa tak boleh membiarkan dunianya hancur lebih dari pada ini, kan? Sebab ada satu nyawa kecil yang kini sedang tumbuh di rahimnya.

"Harus kuat Disa ... Harus kuat. Demi dia."

Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dari pada terus menerus larut dalam keterpurukan, Disa memilih melakukan suatu hal yang bermanfaat dan positif.

Disa perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Mengusap kedua matanya yang basah dan sembab, kemudian pergi ke kamar mandi.

Membasahi wajahnya dengan air wudhu, lalu ia bentangkan sajadah di samping tempat tidurnya. Disa melakukan salat tahajud di sepertiga malam. Berdoa kepada sang pencipta agar ia diberikan kekuatan dalam menjalani setiap cobaan yang datang.

Jujur, ini adalah kali pertama Disa mengalami patah hati yang sangat-sangat dalam.

Usai melaksanakan salat, Disa berharap ada ketenangan yang hadir di dirinya. Seharusnya begitu, namun ia malah membuka ponselnya.

Risa mengirimkan satu pesan. Berupa foto. Foto Risa yang memamerkan dirinya yang sedang bersandar di dada bidangnya Cakra yang terlelap. Tubuh mereka tertutup selimut, hanya terlihat kedua bahu mereka yang tak tertutup apa pun. Polos.

Disa cukup tahu apa yang baru saja mereka lakukan di kamar yang kemarin masih Disa tempati bersama Cakra.

"Terima kasih sudah memilih pergi Disa. Terima kasih kamu selalu memberikan milikmu yang aku inginkan."

Begitulah pesan yang Risa tulis di bawah foto itu.

Disa menggeram.

"Tidak tahu diri! dari dulu kamu selalu menginginkan barang bekasku. Nggak mampu ya beli barang baru yang nggak bekas aku?"

Setelah mengirim balasan itu, Disa menggenggam erat ponselnya sesaat, rahangnya mengeras. Lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

...****************...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!