NovelToon NovelToon

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

LEGACY 1 - KUTUKAN JANTUNG

...Dunia hampir berakhir sekali......

......dan malam ini, kesalahan itu akan diulang....

...⚙⚙⚙...

Salju turun di atas ibu kota Astrevan. Dan di luar menara istananya yang mencakar langit, angin musim dingin berhembus kencang. Namun, di dalam Aula Dewan Agung, suasananya berbeda. Di sana tidak ada dingin, tapi hawanya terasa pengap dan panas. Bukan karena api dari perapian, melainkan karena ambisi yang meluap dari orang-orang di dalamnya.

“Ini bukan sekadar kemajuan, ini adalah kegilaan,” suara itu keras menghantam dinding aula.

Seorang peneliti berdiri di titik pusat ruangan. Jubahnya yang biasanya rapi kini kusam, dipenuhi debu kristal biru yang masih berkilau samar. Di hadapannya, sebuah meja bundar dari batu obsidian membentang, dipenuhi dengan diagram energi yang berkelip dan model mekanis yang tampak hidup.

Di tengah meja itu, sebuah peta proyeksi menyala, memperlihatkan keseluruhan Benua Valtheria dengan garis-garis acak yang seperti urat, menjalar sampai ke ujung. Garis itu disebut sebagai Jaringan Titan.

“Kalian memandangnya sebagai senjata,” lanjut peneliti itu, suaranya parau namun tajam. “Tapi dengarkan aku! Ini adalah organisme. Sebuah sistem saraf raksasa yang tertidur di bawah kulit Valtheria. Jika kalian memicu satu simpul, seluruh dunia akan bereaksi!”

Seorang jenderal veteran di sisi kanan meja, Jenderal Krovax, menyandarkan tubuhnya yang kekar. Ia mencibir, membiarkan medali di dadanya berdenting.

“Dan sejak kapan Astrevan takut pada reaksi dunia?” Krovax tertawa kecil, suara beratnya bergema. “Jika raksasa itu bangun, maka mereka akan bangun di bawah bendera kita. Bukankah itu yang kau temukan, Peneliti?”

Beberapa bangsawan di sekitarnya ikut tertawa.

Ia tidak bergeming. Rahangnya menegang hingga urat lehernya menonjol. Dengan gerakan kasar, ia membentangkan peta tambahan yang lebih detail. Titik-titik cahaya biru tersebar di seluruh benua Valtheria, dihubungkan oleh garis-garis energi.

“Ini bukan tentang bendera!” ia menunjuk pusat peta. “Ini adalah jaringan energi kuno Astreya. Titan-titan itu tidak berdiri sendiri. Mereka terikat satu sama lain.”

Seorang penasihat kerajaan bertubuh ramping dengan jubah emas condong ke depan, matanya berkilat serakah. “Lalu, bagaimana dengan kunci itu? Artefak yang kau bawa dari reruntuhan?”

Peneliti itu terdiam sesaat. Ia merasakan berat di dadanya saat menyebut nama itu.

“Proto *Heart***s**.”

^^^*gambar buatan AI^^^

Keheningan seketika menyergap ruangan. Tawa para bangsawan mati. Napas mereka tertahan.

“Jika Proto Heart diaktifkan dalam kapasitas penuh,” suaranya merendah, memberi penekanan pada setiap kata, “ia akan mengirimkan sinyal pemicu ke seluruh jaringan. Semua Titan yang telah tertidur selama ini, semua mesin pembantai itu akan bangkit serentak.”

Lalu seorang jenderal muda berdiri dengan mata yang menyala-nyala oleh gairah perang.

“Luar biasa!” serunya, tangannya terkepal. “Bayangkan, Jenderal! Barisan Titan setinggi gunung berjalan di garis depan kita. Tidak ada benteng yang bisa berdiri tegak. Tidak ada pasukan manusia yang punya cukup nyali untuk sekadar menatap mereka!”

“Perang ini akan selesai bahkan sebelum pedang musuh sempat dicabut,” sahut bangsawan lain dengan senyum licik.

“Bukan hanya perang,” bisik yang lain, matanya terpaku pada peta. “Seluruh benua ini akan berlutut. Valtheria akan menjadi milik Astrevan selamanya.”

Suasana aula berubah menjadi hiruk-pikuk rencana dan kalkulasi penaklukan. Mereka sudah mulai membagi wilayah yang bahkan belum mereka injak.

“KAU TIDAK MENGERTI!”

Pria peneliti itu menghantam meja batu dengan tinjunya. Getarannya membungkam ruangan. Topeng ketenangannya hancur, memperlihatkan ketakutan.

“Itu bukan alat yang bisa kita kendalikan!” teriaknya, matanya menatap mereka satu per satu. “Berabad-abad lalu, peradaban Astreya yang jauh lebih maju dari kita hancur karena kesombongan yang sama! Titan-titan itu tidak mengenal kawan! Mereka mengamuk! Kota-kota berubah menjadi debu dalam semalam! Dunia hampir musnah!”

“Cukup!”

Suara dingin dan berat memotong teriakannya. Seorang jenderal veteran dengan bekas luka di wajahnya menatapnya.

“Kau berbicara seolah kami adalah anak kecil yang bermain dengan api tanpa tahu cara memadamkannya, Eldric Valen. Jangan hina intelektualitas militer kami.”

Eldric menatap balik, matanya tajam. “Karena memang begitulah kenyataannya. Sejak Astrevan dipermalukan oleh Kerajaan kecil Selenia, kalian menghalalkan segala cara untuk memutarbalikkan kenyataan itu.”

Beberapa tangan jenderal bergerak serentak ke gagang pedang mereka. Kondisi di ruangan itu semakin memanas.

Seorang penasihat tua akhirnya angkat bicara, suaranya lembut namun berbisa. “Eldric, kau adalah pikiran terbaik di Arcanum Foundry. Tapi kau menderita penyakit yang sama dengan para pengecut, kau terlalu fokus pada kegagalan.”

“Karena itulah yang akan terjadi!” balas Eldric tanpa ragu.

“Bukan,” sahut sang penasihat sambil tersenyum tipis. “Yang akan terjadi adalah kebangkitan sebuah kekaisaran yang takkan pernah runtuh.”

Di ujung meja, di atas takhta yang terbuat dari logam kuno yang dingin, Raja Altherion tetap diam.

Sejak awal pertemuan, sang raja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia duduk dengan dagu bertumpu pada tangannya yang berbalut sarung tangan hitam, matanya mengamati setiap gejolak emosi di ruangan itu.

Eldric menarik napas dalam. Paru-parunya terasa sesak oleh udara yang panas. Ini adalah kartu terakhirnya.

“Yang Mulia,” Eldric menatap langsung ke mata raja. Suaranya tidak lagi berteriak, namun bergetar dengan beban kebenaran. “Jika kita melanjutkan proyek ini, kita tidak hanya mempertaruhkan mahkota Anda atau nyawa para prajurit. Kita mempertaruhkan eksistensi dunia ini sebagai taruhannya.”

Raja Altherion akhirnya berdiri. Gerakannya pelan, namun kehadirannya seperti gunung yang runtuh menimpa ruangan tersebut. Seluruh dewan membeku. Para jenderal menahan napas.

Raja berjalan mendekati meja, langkah kakinya bergema berat di atas lantai marmer. Ia menatap peta jaringan Titan, lalu beralih pada Eldric.

“Penemuanmu adalah puncak dari sejarah kita, Eldric Valen.” Suara raja tenang, namun ada getaran kekuasaan yang tak terbantahkan di dalamnya.

Ia menyentuh proyeksi cahaya biru jaringan Titan itu.

“Jaringan ini,” katanya pelan, “adalah kunci menuju keabadian Astrevan.”

Ia mengangkat pandangannya, matanya berkilat dengan ambisi yang dingin. “Dan justru karena risikonya begitu besar, kita tidak mungkin membiarkan kekuatan ini terabaikan. Kekuatan hanya berbahaya bagi mereka yang lemah.”

Eldric mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini, namun tetap saja, rasanya seperti belati yang menghujam jantungnya.

“Proyek Titan akan dilanjutkan segera.”

Keputusan raja adalah hukum alam. Tidak ada yang berani menentang. Tidak ada yang berani bertanya.

Para jenderal tersenyum puas. Para penasihat saling berbisik tentang kejayaan. Namun di tengah sorak-sorai dalam diam itu, sesuatu dalam diri Eldric Valen runtuh.

Bukan harapannya akan perdamaian. Bukan pula kesetiaannya pada kerajaan. Tapi ilusinya bahwa ia sedang melayani ilmu pengetahuan.

Di aula yang penuh dengan ambisi itu, Eldric menyadari satu hal, ia baru saja memberikan kunci neraka kepada iblis. Dan ia harus melakukan sesuatu, sebelum seluruh dunia ikut terbakar bersamanya.

...⚙⚙⚙...

Jika kalian suka cerita awal dari novel ini, bantu like dan subscribe, jangan lupa komen teori dan tanggapan kalian mengenai novel ini.

—T28J

LEGACY 2 - PENCURI JANTUNG

...Yang satu takut pada kehancuran…...

......yang satu lagi melihatnya sebagai awal....

...⚙⚙⚙...

Suara nyaring alarm membelah keheningan Arcanum Foundry. Cahaya merah menyala di setiap sudut lorong, berkedip di antara pilar-pilar batu obsidian. Di balik dinding-dinding itu, derap sepatu bot logam para penjaga bergema, ritme yang terkoordinasi, cepat, dan mematikan.

“Eldric Valen! Berhenti, atau kau akan berakhir di ujung tombak!”

Namun Eldric tidak menoleh. Ia terus berlari, napasnya tidak stabil. Di tangannya, kotak logam kuno itu bergetar hebat.

DUM... DUM... DUM...

Denyut itu bukan lagi sekadar getaran mekanis. Itu adalah detak jantung yang telah lama terkunci, kini terbangun dan menuntut kehidupan. Setiap denyutannya mengirimkan gelombang panas yang merambat hingga ke tulang Eldric.

Ia menerobos lorong servis yang sempit, bahunya menghantam dinding batu dengan kasar saat ia melakukan belokan tajam. Dunianya kini hanyalah tentang kiri, turun, dan lurus. Ia hafal setiap inci laboratorium ini, namun malam ini, Arcanum Foundry terasa asing.

Dua penjaga muncul tiba-tiba dari tikungan depan, senjata mereka terhunus.

“Berhenti!”

Tanpa ragu, Eldric menghantam panel darurat di sisi dinding.

BRAKK...

Gerbang baja raksasa jatuh menghujam lantai, menciptakan dentuman yang sangat keras. Eldric terpisah dari mereka, namun suara langkah kaki lain justru semakin banyak dari arah belakang. Mereka tidak lagi mengejar, mereka sedang menggiringnya menuju jebakan.

“Dia menuju level bawah!”

“Blokir semua akses keluar! Jangan biarkan pengkhianat itu mencapai permukaan!”

Eldric menuruni tangga spiral tua, langkahnya hampir terpeleset di atas batu yang lembap. Udara berubah drastis, semakin dalam ia turun, udara terasa semakin dingin dan berat.

Dinding batu yang kasar perlahan berganti menjadi halus. Inilah salah satu Reruntuhan Astreya yang terkubur di bawah Kerajaan Astrevan. Cahaya biru mulai merembes dari celah kotak logam di tangannya. Garis-garis energi di dinding reruntuhan menyala seketika, merespon kehadiran artefak tersebut.

“Jangan sekarang kumohon, jangan sekarang,” bisik Eldric parau.

Namun denyut itu semakin menjadi. Jantung di dalam kotak itu seolah sedang berteriak, memanggil sesuatu di kegelapan, atau mungkin menjawab panggilan dari kedalaman tanah.

Tiba-tiba, langkah kaki di belakangnya berhenti total. Sunyi yang tercipta terasa lebih mencekam daripada kebisingan alarm.

Para penjaga mundur dengan patuh, menciptakan lorong di antara barisan mereka tanpa perlu perintah suara. Siluet seorang pria berjalan melewati mereka dengan tenang. Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap ketukan sepatunya di lantai batu terasa mantap. Matanya yang sedingin es menyapu lorong, menghitung setiap variabel, menilai setiap celah.

“Tidak ada yang ikut,” suara pria itu datar, namun berwibawa.

“Tapi Komandan, dia membawa artefak itu.”

“Itu perintah.”

Tidak ada yang berani membantah. Komandan itu melangkah masuk ke dalam kegelapan reruntuhan sendirian, bayangannya memanjang di bawah cahaya biru yang remang.

Sementara itu, Eldric mencapai sebuah aula luas yang setengah hancur. Di tengah ruangan, sebuah lingkaran simbol Astreya raksasa terukir dalam di lantai batu. Eldric terhenti di sana, lututnya goyah. Kotak di tangannya bergetar dengan sangat kuat

DUM...

Langkah kaki pelan dan terukur terdengar dari ambang pintu. Eldric berbalik perlahan. Komandan itu berdiri di sana, diam seperti patung. Tidak ada pedang yang ditarik. Tidak ada ancaman yang diteriakkan. Hanya tatapan yang seolah mampu membaca isi kepala Eldric.

“Jadi ini pilihanmu, Eldric,” katanya. Suaranya bergema di aula yang kosong. “Menjadi pencuri di rumah yang membesarkanmu.”

Eldric menggenggam kotak itu. “Jika aku tidak melakukan ini, kalian akan menghancurkan dunia! Kalian memperlakukan kekuatan ini seperti mainan, padahal ini adalah kiamat yang terbungkus cahaya!”

Siluet pria itu melangkah masuk lebih dalam, matanya tidak pernah lepas dari kotak yang bersinar itu. “Kalian para peneliti selalu takut pada bayangan masa lalu. Kemajuan membutuhkan keberanian, bukan ketakutan.”

“Ini bukan tentang keberanian!” Eldric berteriak, suaranya pecah oleh emosi. “Ini tentang keserakahan! Jika jaringan ini bangun sepenuhnya, tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun! Hanya ada abu!”

Komandan itu terdiam sejenak. Matanya tidak lagi sekadar dingin, ada sesuatu yang bergerak di baliknya. Sesuatu yang lebih dalam dan gelap.

“Dunia ini memang butuh dibakar,” gumamnya pelan. Ia melangkah mendekat, “tapi bukan oleh orang-orang bodoh di atas sana.”

Pria itu berhenti tepat di depan Eldric. Ia memandang cahaya biru yang merembes keluar dari kotak, menerangi wajahnya yang kaku.

“Kael Vortan dari Iron Wardens.” sahut Eldric.

“Menarik,” gumamnya pelan. “Sepertinya jantung itu sangat menyukaimu. Ia berdenyut mengikuti irama jantungmu sendiri.”

Eldric membeku. Benar saja, cahaya biru itu berdenyut lebih terang, seolah memahami ketakutan dan tekadnya.

Kael tersenyum tipis. Namun itu bukan senyum persahabatan, itu adalah senyum seorang predator yang baru saja menemukan sesuatu yang mengasyikkan dalam rencananya.

Lalu tanpa peringatan, ia menghujamkan pedangnya ke arah dinding.

CRASH...

Artefak-artefak kuno yang dipajang di dinding hancur berkeping-keping. Kristal pecah. Mesin-mesin relik kuno jatuh dengan suara yang sangat keras.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Eldric terperanjat mundur.

“Memberimu waktu,” jawabnya dingin sambil terus menghancurkan ruangan itu. Satu demi satu pilar reruntuhan ia tebas, menciptakan suara ledakan dan kehancuran yang menggema hingga ke lorong luar.

Di luar, para penjaga langsung bereaksi panik.

“Komandan sedang bertarung dengan pengkhianat itu!”

“Masuk! Cepat!”

Namun Kael kembali ke ambang pintu, berdiri kokoh menghalangi jalan masuk bagi siapa pun.

“Tidak ada yang masuk. Area ini tidak stabil!” bentaknya pada para penjaga yang ragu.

Di dalam ruangan yang hancur, Eldric menatapnya dengan kebingungan yang murni. “Apa yang kau rencanakan, Kael? Kenapa kau membantuku?”

Kael menoleh sedikit, matanya berkilat tajam di balik kegelapan. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kesetiaan pada raja di dalam tatapan itu, sebuah ambisi yang jauh lebih gelap.

“Pergi,” perintah Kael pelan. “Sekarang, sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan bahwa jantung itu lebih baik berada di tanganku.”

Hanya butuh beberapa detik bagi Eldric untuk menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, melewati lorong reruntuhan yang semakin gelap, menuju takdir yang baru saja ia curi dari tangan kerajaan.

Di belakangnya, suara kehancuran buatan Kael masih bergema, menipu telinga para penjaga dan memberikan Eldric perlindungan yang paling tidak mungkin ia dapatkan.

Tidak ada yang mengejar malam itu. Kael memastikan semua orang percaya bahwa Eldric Valen telah terkubur di bawah reruntuhan, sementara ia sebenarnya tetap berdiri tegak di ambang pintu, tersenyum licik sambil menatap kegelapan yang menelan Eldric.

...⚙⚙⚙...

Jika kalian suka cerita awal dari novel ini, bantu like dan subscribe, jangan lupa komen teori dan tanggapan kalian mengenai novel ini.

—T28J

BRAKENFORD ARC 1 - BAHASA LOGAM

...Semua mesin punya irama, dan semua kehidupan punya detak. Ketika satu saja melenceng......

......sesuatu akan bangun....

...⚙⚙⚙...

Dua puluh lima tahun kemudian...

CLANG...

Suara logam beradu bergema di dalam ruang mesin yang pengap. Seorang mekanik muda menyentak kunci pasnya, memastikan tidak ada baut yang longgar, memastikan setiap bagian tetap bertahan walau dipaksa bekerja melampaui batasnya.

“Arven Valen... kalau mesin itu meledak lagi, aku sendiri yang akan melemparmu ke dalamnya!” teriak seorang pria tua dari luar.

Arven tidak menoleh. Ia hanya mengetuk pelat penutup generator di depannya dengan buku jari. “Kalau meledak, berarti mesin ini yang memang mau berhenti. Bukan salahku,” jawabnya santai.

“Mesin tidak punya kemauan, bocah. Kau saja yang keras kepala,” gerutu pria itu, nada suaranya setengah kesal, setengah pasrah.

Arven tersenyum tipis. Di hadapannya, sebuah generator tua menganga setengah terbuka. Roda gigi di dalamnya sudah aus, beberapa bahkan tidak sejajar karena dipaksa bekerja melewati batas. Baginya, mesin ini tidak benar-benar mati, ia hanya sedang kehilangan iramanya.

Ia memasukkan tangannya ke dalam rongga mesin yang panas, meraba di antara kumpulan gear dan poros engkol. Ia tidak sekadar mencari kerusakan fisik, ia mencari getaran yang salah. Seperti yang sering dikatakan ayahnya, mesin memiliki bahasa mereka sendiri.

Tangannya berhenti, ia merasakan getaran ganjil di balik transmisi utama. Bukan karena aus, tapi karena tidak selaras. Salah satu komponen kecil mencoba bergerak melawan ritme seluruh sistem.

Arven mengernyit. Ia mengambil obeng dari tas perkakas di pinggangnya, lalu dengan gerakan presisi yang terlatih, ia menyetel ulang pengunci di bagian dalam, memperbaiki posisi yang hampir tak terlihat oleh mata biasa.

Sejenak, ruangan itu sunyi. Lalu beberapa saat kemudian, mesin tua itu terbatuk, mengeluarkan uap panas, dan mulai menderu.

KRRRRR...

Lantai di bawah kaki Arven bergetar stabil. Suara mesin yang tadinya kasar, terputus-putus, kini berubah menjadi dengungan rendah yang teratur.

“Nah, sudah hidup,” kata Arven santai. Ia melompat turun dari ruang mesin, menyeka oli di tangannya ke kain lusuh yang melilit pinggangnya, meninggalkan noda hitam yang sudah terlalu banyak untuk dihitung.

Si penambang tua mendekat, matanya menyipit memeriksa putaran roda mesin dengan penuh curiga, ia tidak percaya perbaikan sederhana itu benar-benar berhasil. “Bisa dipakai sampai shift malam?” tanyanya, suaranya lebih rendah sekarang.

Arven menatap rangka roda yang mulai retak di beberapa titik. “Bisa. Tapi jangan serakah. Kalau kau paksa membawa muatan berlebih lagi, mungkin nanti rangkanya yang akan patah.”

“Kalau muatannya sedikit, target harian tidak akan tercapai!” potong penambang itu cepat, seperti kalimat yang sudah terlalu sering ia ulang.

Arven tidak langsung menyahut. Ia menatap ke arah tambang yang sibuk di ujung sana, ada debu, uap, dan suara logam yang saling hantam. Bagi orang lain, itu adalah kebisingan yang memekakkan telinga. Bagi Arven, itu adalah simfoni mekanis yang hidup.

“Kalau dipaksa,” ucap Arven datar sambil menatap pria itu, “bukan cuma targetmu yang berhenti, tapi seluruh tambang ini akan macet.”

Si pria tua mendengus, lalu bergumam pelan, “kalau kau sedikit saja lebih serius, kau sudah lama jadi insinyur di kerajaan mana pun yang kau mau.”

Arven tertawa kecil sambil berjalan pergi. “Dan terjebak di balik meja sepanjang tahun? Tidak, terima kasih.”

^^^*gambar buatan AI^^^

Ia melangkah meninggalkan hiruk-pikuk area galian menuju pondok kecilnya di tepi tebing tambang. Langkahnya santai, tidak terburu-buru meski teriakan dan suara mesin terus memanggilnya kembali. Di sana, ia duduk di bangku kayu tua yang sudah mulai lapuk, memegang segelas air dingin dari sumur desa yang sederhana.

Arven diam sejenak, membiarkan angin gunung menyapu wajahnya yang kotor oleh debu logam. Dari ketinggian itu, ia memandang dunia di bawahnya, sebuah desa tempat kelahirannya, Brakenford.

Brakenford terbentang di dasar lembah, terjepit di bawah bayangan tebing yang curam dan dinding pegunungan Kharvendal yang menjulang kaku. Asap kelabu merayap dari cerobong rumah-rumah kayu tua, menciptakan lapisan tipis di udara. Dari ketinggian, alun-alun desa tampak mengecil, hanya berupa titik-titik sumur batu, bengkel, dan gudang bijih yang terhubung oleh jalur jalan tanah yang sibuk oleh lalu-lalang pekerja.

Di sisi Arven, tambang emas menganga lebar seperti luka besar di tubuh gunung, dipenuhi deru mesin-mesin besi yang dipaksa bergerak tanpa jeda. Rantai berderit, roda berputar, dan palu mekanis menghantam tanpa ampun. Di sini, tidak ada istilah hari yang tenang atau malam yang sunyi. Brakenford tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya berganti irama, dari siang yang bising ke malam yang lebih gelap namun tetap hidup.

Arven menyesap airnya perlahan, membiarkan rasa dingin menyentuh kerongkongannya. “Setiap hari selalu sama,” gumamnya datar pada diri sendiri.

Baginya, hidup kini hanya pengulangan dari mesin yang hancur, amarah para pekerja, dan target yang harus terus dikejar. Ia menyandarkan punggungnya pada bangku kayu tua, membiarkan matanya tertuju pada benda berat di tangan kanannya, Titan Wrench.

Kunci Inggris raksasa itu tampak tua, permukaannya dipenuhi bekas goresan dan benturan dari ribuan jam kerja keras yang ia lalui. Benda ini adalah warisan ayahnya, Eldric, satu-satunya peninggalan yang tetap ia genggam erat sejak sang ayah pergi entah kemana. Namun, akhir-akhir ini, Arven merasa ada yang berubah. Ia mengangkat alat itu sedikit, memperhatikan setiap jengkal logamnya yang dingin.

“...kau juga mulai aneh,” bisiknya sambil mengernyit.

Pada malam-malam tertentu saat bengkel hening, Titan Wrench itu terasa berdenyut pelan seakan memiliki detak jantung di dalam rongga bajanya. Terkadang, kristal biru kecil yang tertanam di sana berkedip redup. Arven menghela napas, berusaha mengusir firasat ganjil itu. “Jangan mulai bertingkah aneh. Mesin di tambang sudah cukup merepotkan.”

Tiba-tiba, sebuah teriakan keras memecah keheningan dari kejauhan. “Arven! Mesin sisi selatan macet lagi!”

Arven tidak langsung bangkit. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati hening yang tersisa. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya. “Mereka pikir aku ini robot juga...” gumamnya pelan. Ia berdiri perlahan, menyampirkan Titan Wrench yang berat itu di bahunya, membayangkan dirinya tidak jauh berbeda dengan raksasa besi yang dipaksa bekerja tanpa henti di jantung tambang tersebut.

Langkah kakinya mulai menuruni lereng menuju hiruk-pikuk mesin dan debu yang kembali memanggilnya. Brakenford masih berdetak dengan ritme yang sama, stabil dan keras kepala.

Namun Arven tahu bahwa sesuatu di sekitarnya perlahan-lahan mulai tidak lagi sepenuhnya "biasa".

...⚙⚙⚙...

Jika kalian suka cerita dari novel ini, bantu like dan subscribe, jangan lupa komen teori dan tanggapan kalian mengenai novel ini.

—T28J

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!