Angin sore di kawasan Rawamangun berhembus cukup kencang, membawa aroma tanah kering dan keringat dari puluhan siswa yang sedang mengambil nilai olahraga. Di tengah lintasan atletik Velodrome yang legendaris itu, suasana riuh rendah dengan bunyi peluit guru penjas dan teriakan semangat para siswa.
Sandi, dengan napas yang memburu setelah menyelesaikan lari estafet, baru saja menyerahkan tongkat kayu kusam itu ke tangan rekannya. Ia membungkuk, memegangi lututnya yang gemetar, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun, gerakannya terhenti. Pandangannya terpaku pada sebuah keributan kecil di pinggir trek lari.
Di sana, tiga orang siswi SMP dengan seragam olahraga putih-biru tampak terpojok. Mereka dikelilingi oleh tiga remaja laki-laki berseragam SMA dengan celana abu-abu yang sengaja dikecilkan—khas anak tongkrongan tahun 2002. Salah satu siswi yang berada di tengah tampak pucat, bahunya gemetar, dan matanya berkaca-kaca menatap ujung sepatunya sendiri.
Deg.
Sandi merasa jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena lari, tapi karena wajah gadis itu. "Kayak kenal..." gumamnya. Memori masa SD di Bhayangkara berkelebat, namun nama gadis itu masih tersangkut di ujung lidah. Tanpa pikir panjang, insting protektif yang diajarkan kakeknya bangkit. Sandi melangkah tegak menghampiri gerombolan itu.
"Maaf abang-abang sekalian, ada urusan apa ganggu mereka?" suara Sandi terdengar tenang namun tegas.
Salah satu siswa SMA berambut jabrik menoleh dengan tatapan meremehkan. "Lah, lo sapa njing! Jangan sok jagoan di sini!"
Sandi tidak berkedip. "Lah yang sok jagoan itu situ, blok! Ditanya baik-baik malah nyolot. Beraninya sama anak cewek."
Mendengar kata 'goblok' yang disamarkan namun jelas tertuju padanya, siswa SMA itu meradang. Ia mencengkeram kerah kaos olahraga SMP Pejuang Bangsa milik Sandi hingga terangkat. "Ngajak ribut lo?!"
"Lah, ayo! Jangan berani karena lo bertiga. One by one sini kalau berani," tantang Sandi.
Dua rekan siswa SMA itu malah tertawa, mengejek teman mereka sendiri yang ditantang anak SMP. Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum, siswa itu melayangkan tinju mentah ke arah wajah Sandi.
Sandi sudah siap. Bekal silat dari sang kakek mengalir di darahnya. Dengan gerakan luwes, ia menggeser posisi kaki, menghalau pukulan itu dengan lengan kiri, dan langsung membalas dengan rangkaian serangan kilat.
Bugh! Bugh! Bugh!
Satu sodokan telapak tangan ke dada, disusul dua pukulan telak ke ulu hati dan perut. Siswa SMA itu terhuyung, napasnya seolah terputus, lalu tumbang berlutut sambil memegangi perutnya yang mulas luar biasa.
"Sape lagi? Sini maju, gue ladenin," tantang Sandi dingin ke arah dua sisanya.
Satu lagi mencoba maju karena merasa terhina, namun nasibnya tak jauh beda. Sebuah tangkisan dan satu pukulan hulu hati yang presisi membuatnya terkapar di aspal kasar pinggir trek. Siswa ketiga, yang melihat dua temannya tumbang hanya dalam hitungan detik, langsung mengangkat tangan.
"Gue... gue nggak ikutan! Gue cabut, gue cabut!" teriaknya sambil lari terbirit-birit meninggalkan teman-temannya yang masih mengerang kesakitan.
Sandi mengatur napasnya kembali, lalu menoleh ke arah tiga gadis itu. "Udah, udah aman. Lebih baik lo bertiga pergi dah, daripada ada lagi yang gangguin lo pada."
Dua teman gadis itu mengangguk cepat dan saat mulai beranjak, gadis yang di tengah tetap diam. Ia menatap Sandi lekat-lekat, matanya yang tadi ketakutan kini berubah penuh selidik.
"Kamu... kamu Sansan bukan? Dari SD Bhayangkara Jakarta?" tanyanya ragu.
Sandi tersentak. Nama panggilan masa kecilnya disebut. "Iya, kenapa?"
"Kamu nggak inget sama aku?"
Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bentar... gue dari tadi emang merasa familiar, tapi sori gue nggak inget nama lo."
Gadis itu mendadak cemberut, bibirnya mengerucut lucu. "Iiihh, Aku Saskia. Saskia Fiana Putri. Masa kamu lupa?!"
Seketika, sebuah memori konyol muncul di kepala Sandi. "Oh! Yang duduk di depan meja guru dan selalu kejedot pintu kelas?"
Wajah Saskia langsung merah padam. Ia memukul lengan Sandi dengan gerakan manja yang tidak bertenaga. "Iiihhh Sandiiiii!! Giliran yang itu kamu inget!"
Tawa Sandi pecah. "Sori, sori Sas! Soalnya cuma itu memori paling epik yang gue inget."
"Au'ah, males sama kamu, San!" Saskia melipat tangan di dada, namun kemudian ia tertunduk. Suaranya mengecil, penuh rasa tulus. "San... makasih ya udah nolongin."
"Woles, Sas. Gue juga nggak sengaja liat lo lagi ketakutan. Makanya gue nyamperin. Taunya si bangsat ini..." Sandi mendaratkan satu tendangan ringan ke perut siswa SMA yang masih tergeletak di bawah. Bugh! "...nggak bisa diajak kooperatif. Mentang-mentang anak SMA dikira gue takut."
Saskia tertawa kecil melihat tingkah tengil Sandi yang tidak berubah. "Oh iya San, kamu sekolah di mana sekarang?"
Sandi melirik arloji digital murah di tangannya. "Lebih baik kita pindah dulu yuk, sembari jalan aja ngobrolnya. Nggak enak dilihatin orang di sini."
Dua rekan Saskia, berkata, " Sas, aku duluan ya! Kayaknya kamu mau reunian sedikit sama ...
"Sandi," singkat Sandi.
"Aku Ananda dan ini Nabila, salam kenal san. Kalo begitu aku duluan ya, Sas." ucap Ananda.
Ananda dan Nabila, berpamitan dengan senyum penuh arti, membiarkan dua teman lama itu melakukan "reuni" kecil.
Sambil berjalan meninggalkan area lintasan, Sandi menjawab, "Gue masuk SMP Pejuang Bangsa, Sas. Lo sendiri?"
"Aku masih di tempat yang sama, SMP Bhayangkara. Papa nggak izinin ke sekolah lain, biar deket dari rumah katanya."
Sandi terkekeh getir. "Emang beda ya kalau orang kaya. Palingan SMA-nya lo juga di sana lagi nih."
Saskia tersipu. "Kamu tau aja, San. Soalnya kakekku kan purnawirawan polisi, cuma Papaku aja yang beda jalur jadi pebisnis."
Sandi terdiam sejenak, menatap lurus ke depan. "Enak ya jadi lo. Hidup lo kayak nggak ada kurangnya. Sedangkan gue... harus usaha sendiri. Lo tau kan pas kelas 6, bokap gue meninggal. Sekarang cuma gue sama Nyokap. Nyokap kerja apa aja, jadi tukang cuci, bantuin orang hajatan... apa aja demi sekolah gue. Makanya gue nggak bisa lanjut di Bhayangkara, biayanya udah di luar jangkauan keluarga gue."
Suasana mendadak hening. Saskia merasa bersalah. "San... maaf ya. Karena aku tanya, kamu jadi harus cerita itu."
Sandi berhenti melangkah, menatap Saskia, lalu... Tuk! Sebuah jitakan lembut mendarat di dahi gadis itu. "Lo nggak berubah ya, selalu minta maaf. Gue yang mau cerita, bukan lo yang maksa."
"Iya San, maaf ya..."
Tuk! Sekali lagi jitakan lembut mendarat. "Baru dibilangin! Jangan kebiasaan minta maaf. Udah ah, kalau minta maaf lagi, gue cabut pulang nih."
Saskia terkekeh sambil memegangi dahinya. "Iya, iya... makasih ya San. Kamu itu dari dulu emang tengil, tapi perhatian sama hal kecil."
"Udah ah jangan dibahas. Sekarang lo mau ke mana?"
Saskia terkejut dan mendadak panik. "Aduh! Tadi aku mau foto-foto pake kamera digital sama Ananda dan Nabila, tapi gara-gara anak SMA tadi, mereka malah udah pulang duluan. Terus... terus... terus aku pulang naik apa? Rumahku di mana ya? Duh, aku lupa arahnya!"
Sandi menghela napas panjang, menatap Saskia yang mulai mondar-mandir panik. "Tuk!" Kali ini jitakan Sandi sedikit lebih bertenaga. "Auw! Sakit San!"
"Lo itu bener-bener ya... ceroboh, pelupa, panikan. Ampe rumah sendiri aja lupa kalau udah panik."
Saskia nyaris menangis. "San, gimana dong? Aku nggak tau jalan pulang!"
"Lah emang lo kemari pake apa tadi?" tanya Sandi.
"Tadi aku mau di antar-jemput sama mama, tapi karena tadi aku barengan sama Ananda dan Nabila, aku bilang ke mama ga usah antar-jemput." lirih Saskia yang sudah mulai berkaca-kaca.
Sandi menghela nafas dan berkata, "Yaudah gue yang anterin. Lo tau alamat rumah lo kan?"
"Bentar San," Saskia membuka dompet mungilnya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak kumal. "Ini... alamat rumahku."
Sandi tertawa geli sampai bahunya terguncang. "Gila lo, ampe nyatet alamat rumah sendiri!"
"Aku kan suka lupa, San..." Saskia nyengir malu.
Sandi menggelengkan kepala, tersenyum tipis. "Yaudah, gue anterin. Untung gue bawa motor kemari."
"Beneran San! Ga ngerepotin kamu nih?" nada Saskia yang sedikit tenang.
"Ho'oh! Lagian kalo gue ga anterin lo, lo pasti ngintilin gue, kan?" ucap Sandi yang mulai inget kelakuan teman SDnya itu.
Saskia mengangguk malu dan memainkan ujung pakaiannya.
"Yaudah ayo, ngapain bengong!" ujar Sandi yang hendak beranjak.
Saskia tersenyum manis dan mengangguk.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran motor. Di bawah langit sore Jakarta Timur yang mulai menguning, Saskia berjalan tepat di belakang Sandi, tangannya menggenggam erat ujung kaos olahraga Sandi, persis seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya di tengah keramaian.
Area parkiran Velodrome sore itu riuh dengan suara knalpot dan obrolan remaja. Debu tipis beterbangan saat ban-ban motor menggilas aspal panas.
"Lo tunggu sini, gue ambil motor dulu," ujar Sandi sambil menunjuk sebuah tiang listrik yang agak teduh.
Saskia mengangguk patuh, tangannya masih memegang tali tas olahraga. Namun, baru empat langkah Sandi menjauh, ia merasakan tarikan lembut di ujung kaosnya. Sandi berhenti dan menoleh, mendapati Saskia yang ternyata masih mengekor di belakangnya dengan langkah ragu.
Sandi menghela napas panjang, menatap gadis di depannya dengan heran. "Kan gue nyuruh lo diam di tempat, Sas. Ngapain ngintilin lagi?"
Saskia tertunduk, ujung sepatunya memainkan kerikil di aspal. "Aku... aku takut, San. Banyak banget orang lalu lalang."
"Lah, namanya tempat umum, pasti rame lah, oneng! Kalau mau sepi, noh di kuburan," seloroh Sandi asal.
Tanpa merasa tersinggung, Saskia menjawab polos, "Nggak juga kok. Di kamarku juga sepi."
Sandi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepolosan teman SD-nya itu yang sepertinya tidak mempan dengan sindiran. "Yaudah, ayo."
Mereka tiba di barisan motor. Sandi menarik sebuah motor sport yang menjadi primadona di era 2002: Kawasaki Ninja 150R warna hijau. Motor 2-tak itu tampak mengkilap, tanda dirawat dengan sangat baik. Begitu Sandi menginjak kick starter, suara knalpotnya yang garing dan cempreng langsung memecah suasana parkiran. Teng-teng-teng-teng!
"San! Motor kamu berisik banget!" teriak Saskia, mencoba mengalahkan suara mesin.
Sandi terkekeh sambil memakai helm full face-nya. "Ya motor peninggalan bokap! Daripada nggak dipake, mending gue yang rawat. Maaf ya kalau berisik!"
Saskia mengangguk sambil berusaha naik ke jok belakang yang posisinya agak nungging. "Iya gapapa! Cuma susah aja kalau mau ngobrol di motor!"
"Ya ini kan motor 2-tak, suaranya emang lebih cempreng daripada lo, kan?" goda Sandi.
Cubit!
"Aduh, Sas! Sakit sumpah!" Sandi meringis, merasakan cubitan maut Saskia di pinggangnya.
Saskia menjulurkan lidahnya dengan jenaka. "EGP (Emang Gue Pikirin)!"
Sandi hanya bisa geleng-geleng kepala karena kata EGP 'Emang Gue Pikirin' itu memang lagi hype pada era 2002. Sandi menghirup nafas sambil memasukkan gigi satu. "Yaudah, pegangan yang kenceng."
Saskia mengangguk patuh. Namun, di luar dugaan Sandi, gadis itu langsung melingkarkan kedua tangannya dengan erat ke perut Sandi.
Deg.
Sandi yang terkejut secara refleks melepas tuas kopling terlalu cepat. Akibatnya, motor itu tersentak dan langsung mati. Jrebbb. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara napas Sandi yang tiba-tiba terasa berat. Ia menoleh ke belakang dengan wajah bingung.
"Sas? Tangan lo?"
Saskia mengerjapkan mata, tampak tidak berdosa. "Kenapa, San? Tanganku?"
"Iya, tangan lo... melingkar di perut gue."
"Kenapa? Kekencangan ya?" Saskia sedikit melonggarkan pelukannya, tapi tangannya tetap tertaut di depan perut Sandi.
Sandi berdehem, mencoba menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Bukan kekencangan, tapi posisi lo itu seakan... meluk gue."
Seketika, rona merah menjalar di pipi Saskia. Ia segera menarik tangannya dengan gugup. "Tadi... tadi kan kamu nyuruh aku pegangan erat-erat!"
Sandi menggaruk pipinya yang tidak gatal, membuang muka ke arah jalan raya. "Iya sih, nggak salah... tapi kesannya gimana ya. Agak canggung guenya."
"Canggung gimana, San? Aku kan cuma ikutin yang kamu suruh," gumam Saskia, suaranya melemah karena malu.
Sandi menghela napas panjang, mencoba bersikap biasa saja agar suasana tidak semakin aneh. "Yaudah, terserah lo aja deh, selama lo nggak apa-apa."
Saskia terdiam sejenak, lalu dengan perlahan dan ragu, ia kembali melingkarkan tangannya di perut Sandi. Kali ini lebih lembut, tapi pasti. Sandi merasakan kehangatan yang asing menjalar di punggungnya. Sebagai remaja laki-laki yang belum pernah berurusan dengan perasaan seperti ini, ini adalah pertama kalinya ia merasakan pelukan seorang wanita selain ibunya.
Dengan jantung yang masih berdebu, Sandi menyalakan kembali mesin Ninjanya. Asap putih tipis keluar dari knalpot saat mereka perlahan meninggalkan area Velodrome Rawamangun, membelah kemacetan sore Jakarta menuju alamat di kertas kumal itu.
Sore itu, kebisingan Jakarta Timur seolah meredup, menyisakan frekuensi rendah dari mesin Ninja 2-tak yang menderu stabil. Di atas jok motor yang nungging itu, Sandi merasakan beban di punggungnya terasa berbeda. Bukan lagi sekadar sandaran ringan, melainkan tekanan lembut yang konstan. Saskia benar-benar membenamkan wajahnya di sana, menghirup aroma sabun bercampur keringat sisa olahraga dari kaos Sandi yang tipis.
Untuk seorang remaja laki-laki yang baru menginjak usia 15 tahun, sensasi ini adalah wilayah asing. Ada desir aneh yang menjalar dari tulang punggungnya langsung menuju jantung. Sandi merasa seolah ada ribuan jarum halus yang menusuk kulitnya, memberikan rasa hangat yang membuat bulu kuduknya meremang. Refleks, jemari Sandi melonggarkan genggaman pada selongsong gas. Ia tidak ingin melaju cepat; ia butuh ruang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh tak beraturan.
Sandi meminggirkan motor hijaunya ke bahu jalan yang agak teduh di bawah pohon angsana. Ia menoleh sedikit ke belakang, mencoba mengintip gadis yang sejak tadi diam membisu.
"Sas? Lo gapapa?" tanya Sandi, suaranya agak serak.
Tidak ada jawaban. Saskia tetap bergeming, wajahnya masih tertanam sempurna di punggung Sandi. Karena penasaran, Sandi memutar badannya lebih lebar. Ia mendapati kelopak mata Saskia terpejam rapat dengan napas yang teratur. Bulu matanya yang lentik tampak tenang, dan bibirnya sedikit terbuka.
Sandi tersentak, lalu sedetik kemudian tawanya pecah tertahan. "Bisa-bisanya nih anak molor," bisiknya geli. Ia tak habis pikir, di tengah suara knalpot yang memekakkan telinga dan guncangan motor sport, Saskia bisa-bisanya terlelap seolah sedang di atas kasur empuk.
Tuk!
Sandi menjitak dahi Saskia dengan tenaga yang pas—cukup untuk mengejutkan tapi tidak untuk menyakiti. Saskia mengerjap-erjapkan matanya, tampak linglung dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Sudah sampai kah, San?" tanya Saskia dengan suara parau khas orang bangun tidur, sembari mengusap matanya yang masih lengket.
Sandi tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Nyampe pala lo! Gue lupa alamat rumah lo, mana tadi kertasnya? Gue tadi agak blank di lampu merah."
Saskia terkekeh malu, menyadari keteledorannya yang tertidur di pundak orang. Ia merogoh kantong jaket olahraganya yang berwarna biru muda, lalu menyerahkan kembali carikan kertas alamat yang sudah agak lecek itu kepada Sandi.
Sandi membacanya dengan saksama, matanya menyipit fokus. "Oke, oke... berarti gue ambil jalur barat ya, lewat Mampang kayanya biar cepet. Nih, simpen lagi alamatnya, jangan sampe ilang."
Saskia mengambil kembali kertas itu dan menyimpannya hati-hati. Saat Sandi menghentakkan kick starter dan mesin kembali menderu garing, Sandi sempat ragu sejenak. Ia menarik napas panjang sebelum memanggil.
"Sas?"
"Iya, San?" Saskia refleks memajukan kepalanya, menempelkan pipinya tepat di bahu Sandi agar suaranya terdengar jelas.
Seketika tubuh Sandi menegang. Ia bisa merasakan kehangatan napas Saskia yang mengenai lehernya. Tubuh gadis itu menempel sempurna tanpa sekat di punggung atletis Sandi yang terbentuk karena latihan silat bertahun-tahun. Sandi gemetar hebat, sebuah sensasi listrik statis seolah menyengat sarafnya.
Saskia yang merasakan perubahan gestur Sandi menjadi bingung. "Kenapa, San? Kok diem?"
Sandi tersentak, buru-buru membuang muka ke depan dan membetulkan posisi duduknya yang mendadak kaku. "Ngg... nggak! Gapapa. Cuma... kalau lo mau tidur lagi, bilang gue ya. Biar gue bawa motornya lebih stabil, nggak zig-zag. Bahaya kalau lo oleng pas gue lagi nikung."
Saskia tersenyum lebar, sebuah senyuman manis yang sayangnya tidak bisa dilihat Sandi. Ia mengangguk mantap, lalu kembali melingkarkan kedua tangannya di perut Sandi, bahkan kali ini jemarinya saling bertautan erat. Ia kembali menyandarkan wajahnya di punggung lebar itu, merasa sangat aman di bawah perlindungan laki-laki yang baru saja ia temukan kembali.
Ninja hijau itu pun kembali membelah aspal Jakarta Timur ke arah Barat meninggalkan sisa asap putih tipis dan aroma oli samping yang khas, membawa dua remaja itu menuju sebuah simfoni yang mulai kehilangan keteraturannya.
Lampu jalanan Jakarta Timur mulai menyala satu per satu, berpendar kuning di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas matahari. Di antara deretan bus kota yang berasap hitam dan kepungan motor bebek keluarga yang melaju santai, Kawasaki Ninja 150RR warna hijau milik Sandi membelah kemacetan bagaikan sebilah pisau tajam. Suara mesinnya yang khas—lengkingan logam yang menderu merdu—menjadi pusat perhatian para pejalan kaki di trotoar dan pengendara lain yang menoleh iri melihat motor "kencang" itu melintas.
Di jok belakang yang nungging, Saskia merasakan adrenalin yang campur aduk dengan rasa ngeri. Setiap kali Sandi menarik tuas gas dan motor itu melompat maju mendahului kendaraan di depannya, jantung Saskia seolah tertinggal di belakang. Ia mempererat kaitan jemarinya di perut Sandi, memeluknya begitu kuat seolah-olah jika ia melonggarkan satu senti saja, ia akan terlempar tertiup angin sore. Wajahnya tidak lagi hanya bersandar, tapi menekan dalam-dalam ke punggung Sandi, mencari perlindungan di balik kain kaos olahraga yang kini terasa lembap oleh keringat.
Sandi, yang insting berkendaranya sangat tajam, menyadari perubahan ketegangan pada tubuh Saskia yang menempel padanya. Ia merasakan tangan kecil itu sedikit gemetar di perutnya. Perlahan, ia mengendurkan genggaman pada selongsong gas, membiarkan raungan mesinnya merendah menjadi gumaman halus. Sambil tetap menjaga fokus pada kendaraan di depannya, Sandi memiringkan kepala sedikit ke samping.
"Sas?" panggilnya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di balik helm.
Saskia perlahan mengangkat wajahnya dari punggung Sandi, menempelkan pipinya di bahu laki-laki itu agar suaranya bisa terdengar. "Iya, San?"
"Lo kenapa? Kok pelukannya kenceng banget kayak mau ngeremes perut gue?" tanya Sandi, mencoba mencairkan suasana dengan nada tengilnya yang biasa.
Saskia menggelengkan kepalanya pelan, rambut panjangnya yang tergerai menari-nari tertiup angin dari celah bahu Sandi. "Gapapa, San... aku cuma takut liat jalanan. Semuanya lewat cepet banget."
Sandi melirik spion, melihat wajah Saskia yang tampak pucat di balik bahunya. "Eh, kekencengan ya gue bawa motornya? Sori, sori, gue kebiasaan narik kalau jalanan agak lowong."
"Iya, agak takut..." aku Saskia jujur. "Tapi gapapa kok, aku bisa merem terus supaya nggak pusing liat kendaraan lain yang kita salip."
Tawa renyah Sandi pecah, terdengar tulus di telinga Saskia. "Ya elah, kalau lo merem terus yang ada malah makin pusing, Sas. Yaudah, gue bawa santai aja dah kalau gitu, biar lo nggak jantungan."
Saskia kembali menggeleng, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya yang masih menempel di bahu Sandi. "Nggak usah, San. Gapapa kok. Aku... aku mempercayai nyawaku ke kamu hari ini. Jadi, aku nggak akan protes mau kamu bawa kayak gimana juga."
Kalimat itu—"Aku mempercayai nyawaku ke kamu"—menghantam Sandi lebih telak daripada tinju siswa SMA di Velodrome tadi. Ada rasa tanggung jawab besar yang tiba-tiba menetap di dadanya. Ia menoleh sedikit, menatap mata Saskia sekilas sebelum kembali menatap jalan.
"Yaudah, kalau gitu pegangan yang kuat, oke?" ujar Sandi, suaranya kini terdengar lebih mantap dan protektif. "Gue bakal anter lo sampai depan rumah lebih cepet, biar lo bisa buru-buru turun dan nggak perlu ketakutan lagi."
Saskia mengangguk patuh. Ia kembali membenamkan wajahnya di punggung Sandi, memeluk perut laki-laki itu dengan erat, seolah-olah punggung atletis itu adalah satu-satunya tempat paling aman di seluruh Jakarta sore itu.
Mendapat "restu" dari penumpangnya, Sandi menarik tuas gas lebih dalam. Mesin 2-tak itu kembali meraung jantan, menyemburkan tenaga maksimal yang membuat ban belakangnya menggigit aspal dengan liar. Motor hijau itu melesat, membelah kemacetan sore Jakarta menuju wilayah perumahan elit, meninggalkan jejak asap putih tipis yang menghilang ditelan senja.
Lampu-lampu jalan di sepanjang arteri Pondok Indah mulai berpendar, menyinari deretan pohon palem botol yang berdiri angkuh di atas trotoar yang bersih. Perjalanan sejauh 15 kilometer dari Jakarta Timur menuju Jakarta Selatan itu terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda. Jika di Rawamangun tadi Sandi masih mencium bau asap knalpot kopaja dan debu jalanan yang pekat, di sini udara terasa lebih dingin dan sunyi.
Hampir satu jam mereka bertarung dengan kemacetan sore Jakarta yang legendaris di tahun 2002. Sandi melonggarkan tarikan gas Ninjanya saat ban motornya mulai menggilas aspal halus di dalam perumahan elit tersebut. Rumah-rumah di sini tidak memiliki pagar kawat berduri atau dinding kusam; semuanya megah dengan pilar-pilar tinggi bergaya Mediterania.
"Sas?" panggil Sandi, suaranya kini terdengar lebih jelas karena suasana yang sepi.
Saskia yang sejak tadi seperti menempel permanen di punggung Sandi perlahan mengangkat wajahnya. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu taman yang mewah. "Udah nyampe ya, San?"
Sandi mengangguk, helmnya bergerak naik turun. "Iya, udah masuk komplek lo nih. Rumah lo yang mana? Gue nggak mau nyasar di perumahan orang kaya, ntar dikira begal lagi."
Saskia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mengenali deretan gerbang besi yang tampak serupa. "Nanti di depan belok kiri, San... terus nanti..." Saskia menggantung kalimatnya, wajahnya tampak berpikir keras sebelum akhirnya meringis kecil. "Aku lupa, San."
Ciiiittt!
Sandi menarik rem depan mendadak hingga ban depan motornya sedikit berdecit. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan tidak percaya. "Eh, rumah lo sendiri kagak inget? Wah, kacau lo, Sas! Masa gue musti keliling Pondok Indah sampe bensin gue abis?"
Saskia tertunduk malu, memainkan ujung jaket birunya. "Aku kan biasanya diantar jemput Mama pake mobil, San. Aku nggak pernah perhatiin jalan, biasanya cuma dengerin lagu atau tidur di kursi belakang."
Sandi menghela napas panjang, mencoba sabar menghadapi kepolosan—atau keteledoran—teman lamanya ini. "Mana alamat yang tadi? Sini biar gue liat sendiri. Percaya sama ingatan lo bisa-bisa kita nyasar sampe Depok."
Saskia merogoh kantong jaketnya, menyerahkan carikan kertas lecek itu. Sandi membacanya ulang, matanya bergerak lincah menatap plang nama jalan di setiap persimpangan. "Metro Alam, Alam Segar, Alam Permai... Kartika Alam..." gumamnya pelan sambil mencocokkan nomor rumah. Setelah yakin, ia kembali menyerahkan kertas itu. "Nih, pegang lagi. Jangan ilang, itu harta karun lo biar nggak jadi gelandangan di komplek sendiri."
Sandi menyusuri jalanan yang lebar dan asri itu dengan kecepatan rendah. Suara teng-teng-teng dari mesin 2-taknya seolah memecah kesunyian lingkungan yang teratur itu. Tak lama, ia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat luas. Pagar besinya tinggi menjulang, dicat warna hitam dengan aksen emas, menunjukkan kemapanan pemiliknya.
"Ini rumah lo? Bener nggak?" tanya Sandi, memandangi kemegahan bangunan di depannya.
Saskia tersenyum lebar, matanya berbinar. "Iya, San! Ini rumah aku. Bener, itu ada pohon mangga yang pendek."
"Yaudah, turun kalo udah bener. Tugas gue selesai," ujar Sandi sambil menurunkan standar samping motornya.
Saskia turun dengan gerakan canggung, lalu merapikan rambut panjangnya yang berantakan karena terpaan angin selama perjalanan. "Ayo masuk dulu, San. Mama pasti seneng ketemu kamu lagi."
Sandi menggeleng cepat. "Nggak usah, Sas. Gue langsung balik aja."
Saskia cemberut, bibirnya mengerucut kecewa. "Minimal minum dulu kek, San. Kamu udah jauh-jauh anterin aku, pasti haus kan?"
Sandi tersenyum tipis, tatapannya melembut. "Udah terlalu sore, Sas. Bentar lagi malam. Gue harus balik ke rumah sebelum jalanan makin macet parah. Nyokap pasti nyariin. Dia itu paling khawatir kalau gue bawa motor peninggalan Bokap. Pikirannya pasti aneh-aneh, takut gue di-begal atau kecelakaan. Gue nggak mau bikin dia jantungan nungguin gue."
Mendengar alasan Sandi tentang ibunya, Saskia tidak tega untuk memaksa. Ia tahu betapa berartinya keluarga bagi Sandi sejak ayahnya meninggal. Saskia mengangguk pelan, kepalanya tertunduk sembari memainkan ujung sepatunya di atas aspal.
"Kalau gitu gue cabut ya. Salam buat nyokap bokap lo," pamit Sandi. Ia sudah bersiap menginjak kick starter.
Namun, saat mesin hendak meraung, Saskia tiba-tiba menarik ujung baju olahraga Sandi dengan cepat. "Kenapa lagi, Sas?" tanya Sandi heran.
"Aku... anu... gimana caraku untuk menghubungi kamu lagi, San? Aku nggak mau kita kehilangan kontak lagi," ucap Saskia lirih, matanya menatap Sandi penuh harap.
Sandi menghela napas, ia menyadari perbedaan kasta di antara mereka sekali lagi. "Gue nggak punya telepon rumah, Sas. Apalagi ponsel kayak punya lo itu. Gue belum mampu beli."
Wajah Saskia langsung layu. "Yah... aku nggak bakal ketemu kamu lagi dong kalau gitu?"
Melihat kesedihan di wajah Saskia, Sandi merasa tidak tega. Ia berpikir sejenak lalu memberikan solusi. "Gini aja deh. Kasih gue nomor telepon rumah lo dan nomor ponsel lo. Kalau gue ada waktu dan ada uang receh, gue coba hubungi lo lewat Wartel atau telepon koin. Gimana?"
Mendengar itu, wajah Saskia langsung berubah cerah. Ia bergegas merogoh tasnya, mencari pulpen dan selembar kertas kecil untuk mencatat nomornya. "Ini, San! Yang atas nomor ponselku, yang bawah nomor rumah. Janji ya, hubungi aku!"
Sandi mengambil kertas itu, melipatnya rapi, lalu menyimpannya di bagian paling aman dalam dompetnya. "Iya, gue usahain. Gue cabut ya."
"San!" Saskia kembali menahan tangan Sandi. "Kapan-kapan main ke Bhayangkara dong. Aku pengen main istana pasir bareng kamu kayak dulu waktu SD."
Sandi tertawa lepas, suaranya menggema di jalanan yang sepi. "Sas, kita udah SMP! Masa lo mau ngajakin gue main pasir-pasiran lagi?"
Saskia ikut terkekeh, namun matanya tetap berbinar nostalgia. "Abis kamu jago banget bikin istana dari pasir. Dulu tiap jam istirahat kamu selalu buatin istana buat aku, terus kamunya pergi main bola sama temen-temen cowok. Aku suka banget istana buatan kamu."
Sandi menarik napas panjang, mengenang masa-masa polos itu. "Iya, nanti kapan-kapan gue usahain mampir ke sana kalau gue lewat."
Kegembiraan Saskia memuncak. Tanpa sadar karena terlalu senang, ia meraih tangan Sandi dan mencium punggung tangan laki-laki itu—sebuah gestur terima kasih yang sangat tulus. "Makasih ya, San. Makasih banget buat hari ini!"
Sandi tertegun sejenak, merasakan sentuhan lembut itu, lalu ia terkekeh untuk menutupi rasa canggungnya yang mendadak muncul lagi. "Yaudah, masuk sana. Gue cabut ya!"
Saskia mengangguk mantap. "Iya, hati-hati ya, San! Dadah, Sansan!"
Saskia berlari kecil menuju gerbang rumahnya yang besar sambil terus melambaikan tangan hingga sosoknya menghilang di balik pintu kayu jati yang megah. Sandi tersenyum di balik helmnya, lalu menendang kick starter motornya kuat-kuat. Suara Ninja itu kembali meraung, membawa Sandi pergi meninggalkan Pondok Indah, kembali menuju realitas hidupnya yang sederhana di Jakarta Timur, dengan satu nomor telepon baru yang tersimpan di dompetnya.
Ninja hijau itu kini membelah keremangan Jatinegara, area yang jauh lebih riuh dan sesak dibandingkan kesunyian aristokrat di Pondok Indah tadi. Bau sate ayam yang terbakar di pinggir jalan dan suara klakson angkot yang saling bersahutan menyambut kepulangan Sandi. Di mulut gang yang sempit, cahaya lampu merkuri temaram menyinari sosok wanita paruh baya yang berjalan perlahan sambil mendekap kantong plastik hitam berukuran besar.
Sandi segera mengenali postur tubuh yang sedikit membungkuk itu. Ia menurunkan putaran mesinnya, membuat suara knalpot 2-taknya mendesis halus sebelum berhenti tepat di samping wanita itu.
"Ayo, Bu, naik," ajak Sandi lembut.
Ibu Sandi, dengan peluh yang menghiasi dahi namun tetap menyunggingkan senyum tulus, segera berpegangan pada bahu putranya dan naik ke jok belakang. Kantong plastik besar itu ia pangku dengan hati-hati.
"Itu pakaian, Bu?" tanya Sandi sambil mulai menjalankan motornya perlahan masuk ke dalam gang.
Ibunya mengangguk, suaranya terdengar agak lelah namun tenang. "Iya, ini pakaian keluarga Pak Haji Romli. Ibu ambil untuk dicuci besok pagi. Kamu kok baru pulang jam segini, San? Ibu tadi sempat khawatir liat langit sudah gelap begini."
Sandi menatap jalanan di depannya yang hanya diterangi lampu motor. "Tadi pas ujian praktek di Velodrome, Sandi nggak sengaja ketemu Saskia, Bu."
"Saskia?" Ibunya mengernyitkan dahi, mencoba menggali memori dari tumpukan ingatan lama. "Saskia mana?"
"Itu lho, Bu... teman Sandi di SD Bhayangkara. Yang dulu sering Sandi ceritain ke Ibu, si 'Oneng' yang hobinya kejedot pintu kelas mulu kalau di sekolah."
Tawa kecil pecah dari bibir ibunya. "Oh, yang itu! Yang ayahnya pengusaha sukses dan kakeknya purnawirawan polisi, sama seperti almarhum kakekmu itu? Terus, kenapa dia ada di Velodrome?"
"Kayaknya dia juga lagi praktek lari dari sekolahnya, Bu. Tapi tadi pas Sandi lihat, dia lagi dikerjain sama anak-anak SMA. Tampangnya ketakutan banget, ya sudah Sandi tolongin," jawab Sandi dengan nada datar, berusaha menyembunyikan aksi heroiknya yang melibatkan baku hantam tadi.
Ibunya manggut-manggut. "Terus, apa hubungannya sama kamu yang pulang telat begini?"
Sandi menghela napas, teringat wajah panik Saskia di parkiran. "Dia itu bareng teman-temannya ke sana, tapi dasar dia emang agak pelupa, dia nggak sadar kalau ditinggal. Pas mau pulang, dia panik karena nggak ada yang jemput. Sandi nggak tega, Bu, masa ditinggal sendirian di tempat ramai gitu. Jadi Sandi antar sampai rumahnya."
"Memangnya rumahnya di mana?"
"Di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Bu. Elit banget rumahnya."
Ibunya tampak terkejut, pegangannya pada plastik baju sedikit mengerat. "Wah, jauh juga ya dia main sampai ke Velodrome. Pantas kamu pulangnya sampai malam begini, macetnya pasti luar biasa lewat jalur sana jam pulang kantor."
Sandi mengangguk mantap. "Iya, Bu. Makanya tadi Sandi buru-buru anterin biar dia nggak makin dicariin orang tuanya."
Ibunya mengelap keringat di pelipisnya dengan ujung jilbab, lalu berbisik pelan, "Kamu memang persis ayahmu, San. Orangnya nggak pernah tegaan kalau lihat orang lain kesusahan. Apalagi kalau itu teman sendiri."
Mendengar nama 'Ayah' disebut, ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam ulu hati Sandi. Kenangan tentang sosok pria yang dulu mengajarinya merawat motor Ninja ini kembali berputar. Ibunya masih begitu setia menyimpan kenangan itu, dan Sandi hanya bisa mengangguk kecil, menahan gejolak emosi di dadanya hingga mereka tiba di depan rumah kontrakan sederhana mereka.
Begitu motor berhenti dan standar diturunkan, ibunya turun sambil membawa beban cuciannya. "Sudah, sana mandi dulu. Bau matahari banget badan kamu itu. Si Saskia nggak protes apa di jalan tadi kalau kamu bau keringat?" goda ibunya sambil terkekeh.
Sandi cengengesan. Ia teringat bagaimana Saskia justru tidur pulas di punggungnya, menghirup aroma yang justru menurut ibunya 'bau matahari' itu. "Yah, nggak tahu juga, Bu. Mungkin dia ngerasain juga, tapi nggak berani komentar. Takut Sandi turunin di pinggir jalan kali," seloroh Sandi asal.
Ibunya tertawa renyah, tawa yang selalu berhasil menghangatkan rumah mungil mereka. "Mandi yang bersih, terus langsung makan ya. Ibu buatin mi rebus pakai telur dulu. Maaf ya, Ibu nggak sempat masak nasi karena tadi banyak pesanan jahitan dan cucian."
"Iya, Bu. Mi rebus aja sudah enak banget," jawab Sandi patuh. Ia bergegas masuk ke kamar, melepas kaos olahraganya yang lembap, lalu mengambil handuk. Sambil melangkah menuju kamar mandi, ia sempat melirik dompetnya yang tergeletak di atas meja belajar—di dalamnya tersimpan secarik kertas berisi nomor telepon seorang gadis dari masa lalu yang baru saja kembali masuk ke dalam simfoni hidupnya.
Waktu bergulir menyusuri kalender 2002 dengan ritme yang monoton bagi Sandi. Hari berganti minggu, dan minggu melebur menjadi bulan. Rutinitasnya sebagai siswa kelas 2 SMP Pejuang Bangsa menyita seluruh fokusnya; mulai dari tugas matematika Pak Gunawan yang memusingkan hingga latihan silat sore hari yang menguras fisik. Di tengah hiruk-pikuk itu, secarik kertas lecek di dalam dompetnya perlahan mulai terlupakan, tertimbun oleh tumpukan kuitansi pembayaran sekolah dan kartu perpustakaan yang kusam.
Menjelang akhir pekan, tepat setelah badai Ujian Akhir Semester (UAS) semester genap mereda, Sandi dan komplotan kecilnya memutuskan untuk melakukan ritual "buang sial". Pantai Ancol menjadi pelarian paling logis bagi remaja Jakarta Timur untuk melepas penat. Dengan tawa yang membahana dan candaan khas anak SMP yang terkadang garing, mereka menikmati embusan angin laut yang membawa aroma garam dan kebebasan.
Satu per satu rekan sekelasnya mulai berpamitan saat matahari mulai condong ke ufuk barat, menyisakan empat orang yang memang dikenal sebagai inti dari kelas mereka. Ada Sandi, sang pelindung yang tangguh; Andra yang humoris; Vino yang terkadang emosional; dan Anggita, gadis tomboi yang tetap terlihat manis meski sering kali bersikap lebih garang dari teman laki-lakinya.
Mereka melangkah di atas jembatan kayu yang membentang di pinggir pantai, tempat di mana deburan ombak terdengar lebih ritmis. "Eh, kita foto-foto di sini yuk, mumpung mataharinya lagi cantik-cantiknya mau tenggelam," seru Anggita sambil mengeluarkan kamera saku dari tasnya.
Andra nyengir kuda, "Boleh, Nggi! Pas banget nih, tinggal 'Kelompok Sableng' yang tersisa. Golden hour begini harus diabadikan."
Vino langsung menyambar dengan nada sewot yang dibuat-buat, "Alah, berak lu! Itu kata 'sableng' kan cuma sebutan dari Pak Gunawan doang gara-gara kita sering protes soal rumus. Bisa-bisanya lo bangga ngecap kita kelompok sableng."
Sandi dan Anggita tertawa renyah mendengar gerutu Vino. Sandi menimpali sambil bersandar di pagar jembatan, "Walaupun dicap sableng, nggak ada yang bisa geser posisi kita di peringkat kelas sejak kelas satu, kan? Anggita ranking satu, gue kedua, lo ketiga, dan Andra keempat. Pak Gunawan itu cuma iri karena murid pintarnya pada bandel."
"Ho'oh, emang rada-rada tuh guru matematika kita," sahut Anggita setuju.
"Udah ah, nggak usah bahas nilai dulu. Kita lagi liburan nih! Ayo kita foto," ajak Andra.
Vino melihat kamera di tangan Anggita dengan bingung, "Lah, terus siapa yang motoin? Masak gantian doang? Nggak seru kalau nggak ada foto berempat sekaligus."
Anggita mengedarkan pandangannya ke sekitar jembatan yang mulai ramai oleh pasangan-pasangan yang mencari suasana romantis. Matanya tertuju pada sepasang remaja yang berdiri tak jauh dari mereka. "San! Minta tolong sama cowok yang di sana tuh. Kayaknya dia lagi asyik berduaan sama ceweknya, pasti mood-nya lagi bagus buat dimintain tolong."
Sandi menoleh ke arah yang ditunjuk Anggita. Ia melihat punggung seorang remaja laki-laki yang sedang berdiri menghalangi sosok perempuan di hadapannya, seolah sedang menutupi si gadis dari terpaan angin laut yang cukup kencang. "Yaudah, mana kamera lo. Gue coba ngomong baik-baik sama abangnya."
Sandi berjalan menghampiri pasangan itu dengan langkah santai. "Permisi, Bang... maaf mengganggu sebentar. Boleh minta tolong fotoin saya sama temen-temen di sana nggak?"
Remaja laki-laki itu menoleh dengan senyum ramah yang sopan. Namun, saat si cowok bergeser, sosok gadis yang tadi terhalangi ikut menoleh. Mata gadis itu membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut yang luar biasa.
"Sansan?!" pekik cewek itu, suaranya melengking tinggi mengalahkan suara ombak.
Sandi tertegun di tempat. Dunia seolah mengecil secara mendadak. "Eh... Saskia? Gue kira siapa tadi, Sas."
Saskia tidak memedulikan tatapan bingung orang-orang di sekitarnya. Ia melangkah maju dengan wajah yang langsung berubah cemberut—wajah 'oneng'-nya yang sangat familiar bagi Sandi. "Iiiihhh, kamu tuh ya! Katanya mau telepon aku lewat wartel atau telepon koin! Sampai sekarang, berbulan-bulan, nggak ada satu pun telepon masuk dari kamu. Sansan jahat! Jahat banget!"
Saskia mulai melancarkan serangan "cubitan maut" ke lengan Sandi dengan gerakan cepat yang membuat Sandi kelabakan. Sandi mencoba menghalau tangan mungil itu sambil meringis, "Aduh, sori, sori, Sas! Gue beneran lupa... eh, nggak lupa sih, cuma ya itu... gue sibuk banget UAS, banyak tugas dari sekolah yang musti dikejar."
Saskia membuang muka, melipat tangannya di dada dengan ekspresi yang sangat dramatis. "Au'ah! Pokoknya aku benci sama Sansan. Kamu nggak nepatin janji!"
Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak enak hati. Ia kemudian menoleh ke arah remaja laki-laki yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan keributan kecil itu. Cowok itu terlihat rapi, dengan gaya yang menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan yang setara dengan Saskia. "Maaf, situ pacarnya Saskia ya?" tanya Sandi ragu.
Remaja itu tersenyum tenang, tatapannya dewasa. Ia mengangguk pelan, "Iya, gue pacarnya Saskia."
Sandi memaksakan senyum ramah dan mengulurkan tangannya. "Gue Sandi, temen lama saskia waktu SD dulu. Maaf ya, pacar lo emang suka heboh begini kalau ketemu temen lama."
Cowok itu menjabat tangan Sandi dengan mantap. "Gue Nanda. Salam kenal, San."
"Ngg... Sas, sori ya gue pinjem pacar lo bentar... eh maksudnya, nanda, boleh nggak gue minta tolong buat fotoin gue sama temen-temen gue di sana?"
Nanda mengangguk maklum. "Boleh, nggak masalah. Sas, gue tinggal bentar ya, mau bantuin temen lo dulu."
Saskia hanya mendengus, matanya masih menatap ke arah laut lepas dengan bibir mengerucut, benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang dalam mode "merajuk level maksimal". Sandi pun kembali ke kelompoknya membawa Nanda. Selama beberapa menit, Nanda membantu mengambilkan berbagai pose untuk Kelompok Sableng tersebut dengan latar belakang matahari tenggelam yang memukau.
"Bro, makasih banyak ya udah mau bantuin. Sori nih jadi ganggu waktu pacaran kalian," ujar Sandi tulus setelah menerima kembali kameranya.
Nanda mengangguk santai. "Santai aja, San. Kalau gitu gue balik ke—"
Kalimat Nanda terhenti seketika. Matanya menyisir tempat di mana Saskia tadi berdiri merajuk. Sandi pun ikut menoleh. Hasilnya nihil. Tempat itu sudah kosong. Saskia menghilang di tengah keramaian pengunjung Ancol yang semakin padat saat senja.
"Lah... kemana si Saskia?" Nanda mulai terlihat panik.
Jantung Sandi mencelos. Ia sangat mengenal watak gadis itu. "Aduh, si 'oneng'! Bener-bener ya kelakuannya. Nan, buruan cari dia! Dia itu orangnya pelupa parah dan benar-benar buta arah. Kalau dia jalan dikit aja pas lagi badmood, dia bisa lupa tadi arah datangnya dari mana!"
Nanda tampak semakin tegang. "Beneran, San? Tadi dia cuma berdiri di situ!"
"Percaya sama gue, dia kalau panik makin kacau. Ayo, gue bantu cari juga sama temen-temen gue!" seru Sandi. "Nggi, Ndra, Vin! Bantu cari Saskia, temen SD gue yang tadi. Dia ilang di kerumunan!"
Tanpa menunggu komando kedua, mereka semua langsung berpencar, membelah keramaian dermaga dan bibir pantai Ancol yang mulai diselimuti kegelapan malam, sementara suara ombak seolah menertawakan keteledoran mereka sore itu.
Suasana Ancol yang semula ceria berubah menjadi tegang. Deburan ombak yang tadinya terdengar menenangkan kini seolah berubah menjadi suara bising yang memburu waktu. Kelompok "Sableng" terbagi menjadi dua formasi pencarian: Andra dan Vino menyisir area pujasera, Sandi dan Anggita mengambil jalur pasir pantai yang mulai basah oleh pasang laut. Sementara Nanda pacarnya Saskia yang tampak pucat berlari ke arah dermaga utama.
Lampu-lampu taman berwarna kuning temaram mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di atas pasir. Di sela-sela langkah kaki mereka yang terburu-buru, Anggita, dengan sifat kritisnya walaupun tomboi, sisi wanitanya tetap melekat, melirik Sandi yang tampak sangat gelisah.
"San?" panggil Anggita, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di antara riuh pengunjung.
Sandi menoleh singkat, matanya masih sibuk memindai kerumunan orang yang sedang duduk di hamparan tikar. "Ngapa, Nggi?".
Anggita melangkah lebar untuk menyejajarkan posisinya dengan Sandi. "Yang kita cari itu sebenarnya siapanya lo sih? Kayaknya lo kenal luar-dalam banget sama dia. Sampai tahu detail sifatnya yang... unik itu."
Sandi terkekeh kecil, tawa yang terdengar getir sekaligus rindu. "Dia itu teman sekelas gue waktu SD di Bhayangkara. Namanya Saskia, tapi gue sering panggil dia Oneng. Karena ya itu... dia orangnya pelupa parah, gampang panikan, teledor, penakut, manja banget... yah, pokoknya paket lengkap sifat Oneng ada di dia semua deh."
Anggita ikut terkekeh, membayangkan sosok gadis cantik yang tadi dilihatnya merajuk secara dramatis. "Terus gue perhatiin tadi, pas dia lihat lo, dia langsung nyubit-nyubit lo tanpa ragu. Kesannya kayak kalian dekat banget, San. Apa memang lo... pernah punya hubungan spesial? Pacaran monyet gitu pas SD?"
Langkah Sandi hampir saja tersandung urat pohon yang mencuat dari pasir. Ia menoleh ke Anggita dengan ekspresi terkejut yang berlebihan. "Ah, gila lo! Mana ada gue kepikiran pacaran pas masih SD. Masih zamannya main kelereng sama gambar tepok, Nggi. Ngaco aja lo."
Anggita tertawa renyah, sebuah tawa yang seolah menggoda rahasia di balik mata Sandi. "Yeee, siapa tahu kan? Tapi kalau misalnya nih, ya... Misalnya doang gue bilang. Kalau suatu saat dia putus dari pacarnya yang rapi tadi, lo mau nggak jadi pacar dia?"
Seketika, langkah kaki Sandi terhenti sepenuhnya. Ia terdiam, mematung di atas pasir pantai yang dingin. Sandi mendongak, menatap langit Ancol yang kini telah berubah menjadi ungu gelap setelah matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Ada keheningan panjang sebelum ia menjawab.
"Jauh!" gumam Sandi singkat, nyaris seperti bisikan.
Anggita mengerutkan keningnya, ia menghampiri Sandi lebih dekat, mencoba membaca raut wajah sahabatnya itu di bawah keremangan lampu. "Maksud lo jauh apa, San? Alamat rumahnya yang jauh atau gimana?"
Sandi mengalihkan pandangannya dari langit, menatap wajah Anggita dengan tatapan yang sulit diartikan. "Status gue jauh sama dia, Nggi. Dia itu anak orang kaya raya, cucu purnawirawan jenderal polisi. Dia tinggal di istana di Pondok Indah. Sedangkan gue?" Sandi tersenyum getir, menatap kaosnya yang mulai kusam. "Walaupun kakek gue juga purnawirawan polisi tapi ga setinggi jabatan kakeknya, gue cuma anak yatim dari Jatinegara yang sekolahnya saja masih disubsidi keringat Nyokap."
Anggita menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba memberikan sudut pandang lain. "Yang namanya perasaan mah nggak mandang kasta kali, San. Tahun 2002 ini masa lo masih mikirin feodalisme sih?"
Tuk!
"Aduh! Sue lo, San! Sakit pala gue lo jitak, njing!" pekik Anggita sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Sandi menarik tangannya kembali dengan wajah tanpa dosa. "Lo aja yang pe’a! Ngomongin cinta di usia yang masih bau kencur begini. Sekolah aja masih dibayarin orang tua, pakai seragam saja masih harus dicuciin Nyokap, sudah berani bahas 'nggak mandang status'. Preeet, tahu nggak!"
Anggita masih mengelus kepalanya, namun tawanya kembali pecah. "Ya siapa tahu itu bisa kejadian kan nanti? Takdir siapa yang tahu, Bos!"
Sandi menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba hadir setiap kali ia memikirkan celah antara dunianya dan dunia Saskia. "Sudah ah, nggak usah dibahas lagi. Sekarang prioritas kita cari 'anak ayam' itu sebelum benar-benar gelap total. Kalau dia kenapa-kenapa di tempat begini, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri."
Anggita mengangguk patuh, menyadari keseriusan di nada bicara Sandi. Mereka pun kembali melanjutkan pencarian, membelah keramaian pengunjung yang semakin padat, sementara di kejauhan, lampu-lampu kapal di dermaga mulai berkedip-kedip seolah memberi tanda akan adanya pencarian yang lebih panjang.
Suasana Ancol semakin pekat oleh malam. Lampu-lampu sorot dari wahana permainan di kejauhan mulai berpendar kontras dengan hitamnya langit laut. Di tengah keriuhan suara musik dari speaker taman dan tawa pengunjung, mendadak sebuah teriakan parau pecah dari tenggorokan Sandi.
"ANJIIIIINNNGG!!! ONENG, DIMANA LO!!!"
Teriakan itu begitu kencang, penuh dengan frustrasi yang meledak-ledak hingga beberapa pengunjung menoleh kaget. Anggita pun tersentak. Ia belum pernah melihat Sandi sekacau ini. Di sekolah, Sandi adalah sosok yang tenang, ranking dua yang selalu punya kendali atas situasi. Namun detik ini, Sandi terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.
Anggita segera menghampiri, tangannya terulur lembut mengelus dada Sandi yang naik-turun karena napas yang memburu. "Sabar, San! Tarik napas... Kita pasti nemuin dia kok. Ada Andra sama Vino juga kan yang lagi nyisir di sektor lain. Jangan panik begini," ucap Anggita, mencoba menjadi jangkar bagi kegelisahan sahabatnya.
Sandi tidak tenang. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan, matanya liar menyisir setiap kerumunan. "Nggi, lo nggak tau dia! Lo nggak paham seberapa parah dia! Jalan aja bisa kejedot pintu kelas, alamat rumahnya sendiri aja dia bisa lupa kalau sudah panik. Bayangin kalau dia sendirian di tempat seluas ini, di tengah ribuan orang... dia bisa bener-bener ilang, Nggi!"
Mendengar nada suara Sandi yang begitu protektif—nada suara yang bahkan belum pernah ditujukan padanya—ada sebersit rasa perih yang menyelinap di hati Anggita. Sebagai teman sekelas yang selalu bersaing nilai dan sering menghabiskan waktu bersama, Anggita menyadari sesuatu: ruang di hati Sandi untuk gadis bernama Saskia itu ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Anggita menelan pahit perasaannya, lalu menarik tangan Sandi dengan tegas. "Kalau gitu lebih baik kita cari lagi, San. Daripada lo cuma berdiri di sini teriak-teriak dan frustrasi nggak jelas. Ayo! Jangan diem aja. Kan lo sendiri yang bilang kita harus nemuin dia sebelum bener-bener gelap. Setiap detik lo diem di sini, dia bisa makin jauh."
Sandi tertegun. Ia menghirup napas dalam-dalam, mencoba memasok oksigen ke otaknya yang sedang kacau, lalu mengembuskannya perlahan. Bahunya yang tegang sedikit melandai. "Sori, Nggi... gue... gue bener-bener cemas banget. Otak gue isinya skenario buruk semua."
Anggita memaksakan sebuah senyum tipis, menatap mata Sandi dengan pengertian yang tulus. "Gue tau, San. Itu sifat lo banget. Lo nggak bakal tenang kalau orang yang lo sayang... eh, maksud gue, kalau temen lo lagi dalam bahaya. Ayo, ke arah sana belum kita cek."
Sandi mengangguk mantap. Keberaniannya kembali terkumpul. Mereka berdua pun kembali membelah lautan manusia di sepanjang bibir pantai, menyelinap di antara tikar-tikar penyewa dan gerobak penjual makanan, berharap menemukan sosok gadis "Oneng" yang telah mengacaukan ritme jantung Sandi malam itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!