NovelToon NovelToon

Baby... I Love You

New Job

Sia pov~

Drrrttt... drrttt... drrtttt...

" Iya halo." Aku mengangkat telfon tanpa melihat nama kontak diponsel.

" Adek!!! kalo angkat telfon tuh Assalamu'alaikum dulu, kamu tuh yah kebiasaan langsung halo halo terus deh."

Aku lihat nama yang tertera di layar ponsel K**anjeng Mama.

" Assalamu'alaikum mah, maaf adek lupa. Tumben mama telfon malem-malem." Ujarku nyengir sambil menggaruk leher belakang.

" Kamu gimana kabarnya dek? Kemarin lancar kan interviewnya? gimana Mama pengen denger cerita kamu."

"Alhamdulillah adek sehat Ma, kemarin juga interviewnya lancar, minggu depan udah mulai kerja setelah nglengkapin berkas-berkas yang masih kurang. " Ujarku menjawab pertanyaan Mama.

" Adek kenapa sih cari kerja jauh begitu, mbok ya cari kerja disini aja kan juga banyak, Jakarta itu kota besar lho dek dan adek sendirian disana. Kemarin kuliah di Bandung sekarang kerja di Jakarta kamu kayak yang nggak betah banget gitu di Jogja." Mama mulai ngedumel lagi karena aku yang memilih untuk kerja di Jakarta.

" Adek kan juga pengen mandiri Ma, masa Mas Fardan aja dulu kuliah di Jakarta sekarang kerja di Bali Mama bolehin sedangkan adek nggak boleh, kan sama-sama sendiri juga." Jawabku pada Mama.

" Beda dong dek, Mas Fardan kan laki-laki wajar kalo dia hidup mandiri kan bisa jaga diri. Adek kan perempuan Mama nggak tega kalo kamu sendirian disana, kalo ada apa-apa misal kamu sakit gimana coba? " Kembali Mama melakukan aksi protesnya seperti dulu saat aku meminta ijin untuk kuliah di Bandung. Mama takut karena menurutnya aku tuh anak perempuan, jadi tidak boleh jauh-jauh dari orang tua. Takut terjadi sesuatu jika aku sendirian di Kota orang.

" Kan Ayah juga setuju kalo adek kerja di Jakarta, buat nambah pengalaman juga Ma." Aku sedikit membela diri dengan membawa nama Ayah dipercakapan aku dan Mama.

" Ayah kan cowok, jadinya kurang peka sama perasaan perempuan yang jauh dari anaknya." Mama masih tidak terima dengan pembelaan dariku.

" Ayah bukannya tidak peka Ma, Ayah juga khawatir kalo adek jauh dari kita. Tapi biarkan mereka mencari pengalaman hidup. Kan tidak selamanya kita sama mereka, tugas kita hanya perlu membimbing dan mendoakan agar selalu baik-baik saja." Terdengar suara Ayah yang berbicara disebelah Mama.

" Iya Mama sama Ayah doain adek supaya disini baik-baik aja, sehat selalu, lancar kerjaannya bisa membanggakan orang tua." Aku menimpali ucapan Ayah dengan halus agar Mama juga tidak lagi khawatir dengan keadaanku di Jakarta.

" Adek lulus cumlaude aja Mama udah bangga sekali dek. Ya udah sehat-sehat disana, kalo ada apa-apa kabarin Mama, Ayah, atau Mas Fardan. " Mama akhirnya mau mengerti dengan keputusanku yang memilih untuk kerja di Jakarta.

" Iya ma, adek janji akan selalu ngabarin Mama."

" Ya udah Mama tutup dulu ya telfonnya, udah malem kamu istirahat. Inget pesen Mama jangan lupa sholat sama jangan lupa makan. Assalamu'alaikum Dek."

" Iya Ma, Wa'alaikumsalam." Akhirnya Mama memutuskan sambungan telfon setelah beberapa kali membujuk aku untuk kerja di Jogja saja, dan tentu saja aku tolak dengan halus agar Mama bisa mengerti keinginanku.

.

.

Ya Aku adalah Maureen Calysia Putri biasa dipanggil Sia anak kedua dari dua bersaudara. Aku lahir di Yogyakarta. Sebagai anak perempuan bungsu satu-satunya yang membuat orang tua dan kakakku, Mas Fardan sering kali memanjakanku secara berlebihan. Dari dulu aku sangat ingin hidup mandiri, maka dari itu pada saat ada kesempatan waktu pendaftaran perguruan tinggi aku memutuskan kuliah di Bandung jauh dari orang tua. Permasalahan ijin tentu saja sulit aku dapatkan, tapi dengan perjanjian bahwa aku akan selalu mengabari mereka setiap hari dan memperbolehkan Mas Fardan menjenguk setiap minggu pada akhirnya ijin bisa aku dapatkan.

Kakakku satu-satunya bernama Maudrik Fardan Syaputra kita beda usia 5 tahun. Sekarang dia seorang pengusaha kontraktor yang saat ini bertugas di Bali. Pada saat aku kuliah di Bandung Mas Fardan memutuskan untuk menunda pekerjaannya di Bali dan bekerja di Jakarta demi untuk menjagaku sampai aku lulus kuliah. Hingga saat aku lulus, aku membujuknya untuk mengambil pekerjaan yang di Bali. Dengan alasan bahwa aku sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri akhirnya dia mau meninggalkan aku di Jakarta.

Ayahku Dodi Subroto adalah seorang dosen di Universitas di Jogja sebagai dosen jurusan peternakan. Ayah adalah orang yang cukup tegas didepan mahasiswanya. Berbeda saat Ayah bersama kita, dia akan menjadi orang yang sangat humoris.

Sedangkan Mama Farida Putri adalah seorang ibu rumah tangga, walaupun dia lulusan sarjana namun sejak menikah Mama memutuskan untuk total mengurus keluarga dan berhenti bekerja menjadi staf akutansi di sebuah Bank. Dia orang yang sangat lembut dalam keluarga ini. Sedikit keras kepala jika ini menyangkut anak-anaknya.

Sekiranya cukup itu perkenalan dariku. Jika ada yang ingin kalian tau cukup baca perjalanan kisahku sampai bab akhir ya😊.

.

.

Seminggu sejak Mama telfon sudah berlalu. Hari ini adalah hari pertama aku bekerja di PT Santoso Group sebagai staf akutansi. Dandananku cukup sederhana, hanya dengan Rambut kucir satu, kemeja putih dengan blazer berwarna abu-abu dan celana bahan hitam. Jangan lupakan juga make up minimalis dan sepatu hak 5cm agar terlihat santai namun tetap formal.

Hampir saja aku kesiangan karena tadi malam tidak bisa tidur memikirkan bagaimana nanti suasana di kantor karena ini merupakan pengalaman kerja aku pertama kalinya. Walaupun dulu saat kuliah aku mengikuti KKN di sebuah perusahaan juga, rasanya kali ini sangat berbeda. Membuat aku sedikit nervous.

Saat ini aku duduk di sofa lobi perusahaan menunggu staf HRD untuk mengambil kartu Identitas perusahaan dan juga kartu absensi.

Saat aku sedang membereskan berkas-berkas seseorang memanggilku.

" Mbak Maureen ya? " Tanya laki-laki yang berdiri didepanku. Terlihat dia masih cukup muda berusia sekitar 27 tahunan.

" Oo iya Pak, saya Maureen." Jawabku langsung bergegas untuk berdiri.

" Mari mbak ikut saya ke ruang HRD."

Aku mengikuti laki-laki bername tag Fariz Atta rizky keruang HRD.

" Silahkan duduk dulu mbak Maureen." Ujarnya lagi.

" Boleh saya lihat berkas-berkas kelengkapannya mbak? " Pak Fariz meminta berkas yang memang sudah aku siapkan dari kemarin.

" Oo iya silahkan." Aku memberikan berkas ini kepada Pak Fariz.

" Jadi kamu lulusan tahun ini." Ujarnya melihat berkas aku.

" Waowww.. lulus cumlaude dengan IPK 3,9 nyaris sempurna." Ujarnya memuji nilai ijazahku.

" Ini ID card kamu untuk akses masuk kantor, jangan lupa juga untuk absen setiap masuk dan pulang. Dan ini name tag kamu." Ujarnya memberikan ID card dan juga name tag.

" Terimakasih Pak." Aku menerima ID card dan name tag tersebut.

" Nanti kamu akan ditempatkan di staf akutansi kelompok 2 dilantai 5." Ujarnya menambahkan.

" Baik Pak."

" Kamu santai saja kalo sama aku disini aku bukan atasan kamu, jangan panggil Pak, aku masih 28 tahun. Panggil saja Fariz seperti yang lain." Ujar Pak Fariz tersenyum.

" Eehh.. aku panggil Mas Fariz aja ya, kan Mas lebih tua dari aku. Kalo gitu Mas Fariz panggil aku Sia aja, kalo Maureen terlalu formal Mas." Aku juga ikut mengganti bahasa formal dengan bahasa yang lebih santai seperti Mas Fariz.

" Oke Sia, jadi semangat ya kerja disini semoga kamu betah. Silahkan kamu boleh ke kubik kerja kamu. Atau saya antar saja." Ujarnya seraya tersenyum.

Dilihat dari wajahnya Mas Fariz memang cukup manis, dengan tubuh tinggi sedikit kekar dan kulit kecoklatan, aku rasa disini banyak yang suka sama dia.

" Tidak usah Mas, lagian aku harus balik ke lobi lagi buat absen kan." Ujarku padanya.

" Baiklah kalo begitu. Kalo kamu ada kesulitan atau apapun itu kamu bisa beri tahu aku." Ujarnya lagi.

" Iya Mas, kalo gitu aku permisi dulu ya." Aku beranjak dari kursiku meninggalkan ruangan HRD.

.

.

" Sudah dapat ID cardnya mbak Maureen." Tanya Mba Prita begitu melihatku menuju mejanya.

" Iya mbak ini udah dapet. Oo Iya, Mbak panggil aku Sia aja biar lebih akrab." Ujarku memberikan ID card kepadanya seraya tersenyum.

" Oke Sia. Jadi sini aku tunjukin cara absennya." Mbak Prita mengajariku cara untuk absen karyawan.

" Jadi Mba Prita udah kerja disini berapa lama? " Tanyaku pada Mba Prita.

" Aku disini udah hampir 3 tahun, udah cukup lama si. Kamu sendiri lulus kuliah langsung daftar disini? " Tanya Mbak Prita kepadaku

" Iya Mba, kebetulan aku pertama daftar kerja disini dan Alhamdulillah langsung diterima. Mba sendiri pernah kerja dimana aja? " Tanyaku pada Mbak Prita.

" Aku juga lulus kuliah Alhamdulillah langsung kerja disini." Jawabnya.

" Berarti Mbak masih muda dong kalo baru tiga tahun disini." Ujarku menggodanya.

" Lah iyalah aku masih muda, walaupun masih mudaan kamu. Aku baru 26 tahun." Ujarnya tertawa.

" Kita cuma beda 3 tahun Mbak." Ujarku lagi.

" Ya udah ayo aku anter ke ruangan kamu." Ujarnya keluar dari meja kerjanya.

Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menarik celana yang aku pakai.

" Dunda.. Dunda.."

Dunda...

" Dunda... Dunda... "

"Eehh ada apa nak? " Sia menundukan kepalanya untuk melihat bocah yang sedang menarik-narik celananya.

" Dunda.. Kendla mau pipis. " Bocah laki-laki itu terlihat menahan buang air kecil dengan menghentak-hentakan kakinya.

" Eehh mbak aku anter anak ini pipis dulu ya, kasian dia kayaknya nahan pipis gitu." Ujar Sia kepada Prita.

" Tapi Si.... "

Sia langsung meletakkan barang-barangnya disofa dekat meja Prita.

"Ayo nak, tante anter ke kamar mandi."

Digendongnya bocah tersebut dan langsung menuju ke kamar mandi.

Setelah selasai dengan urusan anak itu, Sia bertanya kepadanya.

" Adek disini sama siapa? Kok sendirian? "

" Nama aku Kendla Dunda, aku sama Ayah sama Om Andle." Ujar anak itu dengan mata menatap Sia berbinar.

" Oke Kendla, sekarang tante anter ke tempat Ayah kamu ya."

" Orang tua macam apa yang meninggalkan anaknya sendirian disini. Bagaimana kalo ada yang menculik anak manis ini. " Ujar Sia berkata dalam hati.

" Kendlaaa Dunda, bukan Kendla." Ujar bocah manis itu.

" Kendra? " Tanya Sia lagi.

" Iya betul, nama aku Kendla." Bocah itu tersenyum memperlihatkan gigi susunya yang putih bersih.

" Sekarang Tante anter ke Ayah kamu ya."

Sia kembali ke lobi dimana ada Prita di sana.

" Sia biar aku telfon Pak Andre dulu kalo Kendra disini." Ujar Prita begitu melihat Sia.

" Halo Pak Andre, maaf menganggu. Sekarang Kendra ada dibawah, di lobi sendirian."

"Saya kesana."

" Mbak, ini bocah anak siapa sih? Kok manis begini." Saat ini Sia sedang memangku Kendra yang sedang memakan biskuit susunya.

" Ini tuh Kendra putra tunggalnya Pak Radit, Direktur kita Sia." Ujar Prita menjelaskan.

" Kok bisa dia sendirian disini, memangnya nggak ada yang jagain? Kalo ilang gimana coba. Udah ini anak manis banget, aku suka dia imut." Ujar Sia mengelus pipi bakpao milik Kendra.

" Dunda.. Kendla geli." Kendra mengusapkan wajahnya ke dada Sia. Sedangkan Sia hanya tertawa.

" Sia, Kendra manggil kamu Bunda?" Tanya Prita terkejut.

" Eehh.. nggak mbak, dia panggil aku Tante Dunda deh kayaknya, padahal udah aku ajarin supaya panggil aku Tante Sia." Ujar Sia menjelaskan.

" Dia bukan panggil kamu Tante Dunda Sia, dia tuh panggil kamu Bunda." Ujar Prita lagi.

" Kok Bunda sih, kenapa dia panggil aku Bunda? " Tanya Sia bingung.

"Ya mungkin karena...... "

" Terima kasih mbak Prita sudah menjaga Kendra."

Belum sempat Prita menjawab pertanyaan Sia, tiba-tiba Pak Andre sudah sampai di lobi.

" Eehh iya Pak Hendra sama-sama." Ujar Prita tersenyum.

" Om Andleeee... " Teriak Kendra begitu melihat Andre dihadapannya, dari tadi bocah itu sibuk dengan makanan yang ada ditangannya.

" Ayo ikut Om ke Ayah." Andre mengambil Kendra yang berada dipangkuan Sia.

" Saya permisi dulu Mbak Prita dan Mbak... "

" Nama saya Sia Pak." Ujar Sia kepada Andre.

" Saya permisi Mba Sia." Ujar Andre mengulangnya.

" Silahkan Pak." Ujar Sia.

" Nanti Kendla main sama Dunda ya. Dadahh Dunda, Kendla ke Ayah duyu ya." Kendra melambaikan tangannya kepada Sia dan dibalas senyuman olehnya.

" Mbak ini gimana, aku harus ke atas sebelum jam 9 kan." Ujar Sia panik begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul 08.57.

" Nggak papa kan aku yang nganter kamu. Nanti biar aku yang jelasin ke kepala divisi kamu." Ujar Prita menenangkan.

" Ya udah sekarang kita naik."

Sia dan Prita berjalan menuju lift untuk ke lantai 5 dimana divisi akutansi 2 berada.

.

.

.

" Selamat pagi Pak Sean, saya mengantarkan karyawan baru untuk divisi akuntansi 2. Maaf sedikit terlambat karena tadi Sia masih ada urusan dengan saya."

" Tidak apa-apa Mbak Prita, silahkan anak barunya boleh masuk. " Ujar Sean masih dengan tatapan tertuju pada layar komputernya.

" Sia kamu boleh masuk, aku kebawah dulu ya, semangat." Ujar Prita begitu keluar ruangan Sean.

" Makasih ya Mbak udah nemenin kesini."

" Oke sama-sama Si, nanti istirahat aku tunggu di lobi ya, kita makan di cafetaria kantor aja." Ujar Prita menambahkan

" Oke Mbak, aku masuk dulu ya."

Sia mengetuk pintu ruangan kepala divisi.

Tok... tok... tok...

" Ya masuk."

" Selamat pagi Pak." Sia menyapa kepala divisinya tersebut.

" Selamat pagi juga." Sean menaikkan pandangannya, seketika dia merasa tertarik begitu melihat Sia. Di mata Sean, saat ini Sia terlihat seperti anak kucing yang lugu dan menggemaskan.

" Nama kamu siapa?." Tanya Sean berusaha biasa saja.

" Nama saya Maureen Calysia Putri Pak." Jawab Sia seraya tersenyum.

" Oke Maureen, jadi di divisi akuntansi dibagi menjadi 3, yaitu akutansi 1,akutansi 2,dan akutansi 3. Seperti yang sudah diberitahukan oleh staf HRD, kamu saya tempatkan di divisi akutansi 2. Kamu sudah mengerti? Nanti jika kamu ada yang belum paham bisa ditanyakan langsung kepada senior-senior kamu atau ke saya." Ujar Sean meberikan penjelasan.

" Baik Pak saya sudah paham." Jawab Sia.

" Saya antar ke divisi kamu."

.

.

.

Teman-teman di divisinya saat ini sangatlah ramah, mereka banyak membantu Sia yang memang masih junior disana.

" Lo udah paham kan Si." Ujar Dian yang sedari tadi membantunya saat Sia mengalami kesulitan.

" Iya yan gue udah paham." Jawab Sia

Disini Sia tidak berbicara formal karena Dian yang memintanya, mereka hanya beda usia satu tahun. Dan jika Sia memanggilnya Mbak, Dian akan merasa dia sudah tua, sehingga dia tidak mau dipanggil Mbak.

" Ya jelas Sia cepet paham, dia aja IPKnya nyaris sempurna. Orang pinter gitu." Celetukan dari Leo yang kubikel kerjanya ada pojok belakang.

Di ruangan divisi akutansi 2 hanya terdapat 4 orang. Saat ini Mas Tio salah satu teman di divisi tersebut sedang tugas dilapangan sehingga saat ini hanya ada Sia, Dian, dan Leo. Disini Leo dan Dian memang seperti Tom and Jerry, mereka tidak pernah akur tetapi kemana saja selalu bersama.

" Iyalah, beda sama lo yang otaknya cuma setengah." Ujar Dian menyauti.

" Gak papa setengah dari pada nggak punya." Jawab Leo seraya tertawa.

" Kalian ini emang setiap hari nggak pernah akur ya." Sia hanya bisa menggelengkan kepala karena sedari tadi melihat Dian dan Leo yang selalu ribut.

" Dia duluan tuh yang bikin gue emosi terus." Ujar Dian kesal.

" Apaan orang gue dari tadi diem aja." Jawab Leo dari mejanya.

" Kalian kalo begini terus lama-lama jodoh gimana coba." Sia tertawa melihat reaksi wajah dari Dian yang sedikit memerah.

" Iihh nggak mau gue sama dia, kayak yang nggak ada cowok lain yang lebih waras aja." Jawab Dian kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

" Jangan gitu, jodoh nggak ada yang tau loh." Ujar Sia berkata lirih seraya tersenyum. Sedangkan Dian berpura-pura tidak mendengar perkataan Sia.

Dunda Cantik

Andre tiba diruangan direktur dengan Kendra yang ada di gendongannya, dimana Radit sudah ada disana.

" Ayahhhhh... " Kendra berteriak girang begitu melihat Ayahnya.

" Kendra, kamu darimana saja, Ayah sama Om Andre dari tadi nyariin kamu. Kenapa tadi Kendra bisa sampai lobi?. " Radit berjongkok dihadapan Kendra dan meraihnya dalam gendongannya.

" Tadi Kendla kelual waktu Ayah ke kamal mandi." Ujar Kendra menjelaskan.

Di umurnya yang ke 3 tahun ini Kendra termasuk anak yang cerdas, dia sangat pandai bercerita walaupun pelafalan katanya masih belum jelas. Kendra juga anak yang aktif, hal ini membuat Radit harus ekstra dalam mengawasinya, seperti tadi saat dia dikamar mandi tiba-tiba saja Kendra sudah tidak ada. Hal ini sering terjadi, walaupun diruangan Radit sudah disediakan tempat bermain namun Kendra lebih suka bermain diluar karena dia tertarik dengan kegiatan orang-orang diluar.

Jika biasanya Kendra hanya bermain di lantai 15 tempat ruangan Radit berada, maka tadi Radit sudah kecolongan karena ternyata Kendra bisa sampai di lantai satu.

" Sekarang ceritakan sama Ayah, kenapa Kendra ada di lantai 1." Tanya Radit seraya duduk di kursinya dengan Kendra yang ada di pangkuannya.

" Kendla ikut dibelakang Tante bibil melah tadi. Tapi tantenya tidak lihat Kendla." Ujar Kendra.

Tante bibir merah yang dimaksud Kendra adalah Lisa, dia merupakan sekretaris Radit. Ruangannya berhadapan dengan ruang Direktur yang mana merupakan ruangan Radit. Hanya Lisa karyawan disini yang berani menggunakan make up tebal dengan lipstik berwarna merah menyala. Jangan heran dengan kelakuannya ini, dia merupakan salah satu manusia tercentil yang pernah Radit kenal. Hanya karena pekerjaannya yang baguslah yang Radit tetap mempertahankannya.

" Tadi saya ditelfon sama Mbak Prita Pak, makanya saya tau Kendra ada di lobi. " Untung saja tadi sebelum Radit keluar dari kamar mandi Prita memberitahunya jika Kendra ada di lobi, jadi dia bergegas untuk turun. Entah bagaimana mana jadinya jika Radit tahu Kendra tidak ada diruangannya dan hilang.

" Ayah.. tadi kendla pipis diantel sama Dunda." Ucapan Kendra ini membuat Radit sangat terkejut.

" Dunda? "

" Bukan Dunda Ayah, tapi Duunda. " Kendra menekankan pelafalan kata yang seharusnya adalah Bunda.

" Bunda? "

" Iya Ayah, Dunda." Jelas Kendra lagi.

" Bunda siapa Kendra? " Tanya Radit semakin bingung.

" Dunda yang tadi ngantel Kendla pipis Ayah."

" Siapa yang dimaksud Bunda sama Kendra, Ndre? Prita? " Tanya Radit kepada Andre. Karena setaunya karyawan perempuan yang bekerja di lobi hanya ada Prita.

" Setau saya bukan Mbak Prita Pak." Andre mencoba mengingat nama perempuan yang tadi bersama Prita.

" Kalo bukan Prita memang siapa? "

" Nanti saya coba tanyakan ke Mbak Prita Pak. " Jawab Andre.

" Kenapa Kendra panggil dia Bunda?" Tanya Radit kepada Kendra yang sudah turun dari pangkuannya dan saat ini sedang sibuk dengan mainan robot-robotannya.

" Kata Ayah Dunda Kendla cantik, Dunda yang tadi antel pipis juga cantik. " Jawaban Kendra yang polos ini seketika membuat Radit dan Andre tertawa gemas. Jadi hanya karena wanita tadi cantik maka Kendra memanggilnya Bunda.

" Lain kali Kendra kalo keluar ruangan Ayah harus ijin dulu yah, jangan langsung pergi-pergi aja, nanti kalo Kendra diculik terus enggak bisa ketemu Ayah gimana coba? Kendra nggak kangen sama Ayah? "

" Iya Ayah, Kendla bakal ijin Ayah kalo mau kelual. Kendla juga tidak akan ngikutin Tante bibil melah lagi."

Entah kenapa Kendra bisa mengucapkan kata dengan huruf B didalamnya, namun tidak bisa mengucapkan kata Bunda. Hal ini membuat Radit menjadi heran.

.

.

Saat ini pukul 12.30, Sia turun bersama Dian dan Leo menuju ke lobi. Disana sudah ada Prita yang menunggu.

" Mba Prita... " Seru Dian heboh begitu melihat Prita.

"Husshh diem, kamu malu-maluin tau nggak." Ujar Leo seraya menarik pelan baju Dian.

" Apaan sih." Ujar Dian kesal.

Prita yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala, sudah hal biasa jika Dian dan Leo selalu bertengkar dimanapun dan kapanpun.

" Kalian ya, dimana-mana selalu berantem. Bisa nggak sih sehari aja libur berantemnya."

" Nggak bisa Prit, udah jadi rutinitas." Ujar Leo santai.

Sedangkan Sia hanya tertawa melihat tingkah mereka.

" Kamu nggak pusing kan Si liat tingkah mereka berdua yang kalo berantem hebohnya kaya orang sekampung tawuran." Ujar Prita menghiperbolakan ucapannya.

" Apaan sih Mbak orang sekampung, gak segitunya kali." Ujar Dian memanyunkan bibirnya.

" Justru malah jadi seru tau Mbak, suasana nggak pernah sepi." Ujar Sia tertawa.

" Jadi kita mau makan di mana ini, gue udah laper nih." Ujar Leo mengelus perut ratanya.

" Kita di cafetaria depan aja gimana? " Ujar Prita.

" Bolehlah Mbak, aku kan belum pernah kesana. Ayo." Jawab Sia

.

.

" Lo pada pesen apa? biar gue yang kesana." Ujar Leo bertanya.

" Nasi goreng komplit sama es jeruk." Ujar Prita.

" Aku sop ayam sama nasi putih minumnya es jeruk juga." Jawab Sia.

" Gue samain aja sama Sia." Jawab Dian yang sudah fokus dengan ponselnya.

Begitu pesanan datang mereka langsung sibuk dengan makanan masing-masing sambil sesekali terdapat obrolan.

Ditengah-tengah saat mereka makan, Prita bersuara.

" Kamu kenal sama Kendra anaknya Pak Radit Direktur kita Sia? " Tanya Prita.

" Ya nggak kenal lah Mba, kan aku baru kerja aja hari pertama Mba, tau muka Pak Direktur aja enggak. Aku baru tau Kendra tadi pas minta dianterin pipis." Jawab Sia santai sambil tetap memakan sop ayamnya.

" Tapi kok Kendra bisa panggil kamu Bunda? " Prita masih tidak percaya dengan jawaban Sia.

" Mana aku tau, mungkin aku mirip sama Bundanya kali." Ujar Sia.

" Haa... Lo dipanggil Bunda sama Kendra anaknya Pak Radit, kok bisa? " Ujar Dian kaget.

Sedangkan Leo hanya menjadi pendengar dengan tetap menikmati sop buntutnya.

" Aku juga nggak tau Dian, Mbak Prita. Aku aja baru ketemu tadi pagi." Sia mencoba menjelaskan lagi.

" Iya mungkin Sia mirip sama Bundanya kali Mbak. " Ujar Dian kemudian.

" Iya juga yah, kita aja nggak tau muka istrinya Pak Radit " Ujar Prita.

.

.

" Aku duluan ya, mau sholat dulu. Nanti kalo kalian udah selesai langsung ke atas aja nggak papa nanti aku nyusul. " Ujar Sia pada Prita dan Dian. Saat ini mereka berdua memang sedang berhalangan jadi tidak mungkin mereka sholat.

" Oke sipp." Ujar Prita.

" Bareng ayok gue juga mau sholat." Ujar Leo yang sudah menyelesaikan makannya.

Sia dan Leo berjalan bersama menuju mushola disebelah Cafetaria.

" Tempat wudhu perempuan dimana Mas? " tanya Sia kepada Leo.

" Itu disebelah tempat sholat perempuan yang paling pojok." Ujar Leo.

" Oke, aku duluan mas."

" Gue tunggu lo diteras depan ya."

Sia mengacungkan jempol tangannya.

Mereka menuju tempat wudhu masing-masing.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!