NovelToon NovelToon

Hanya Sebatas Ranjang Pengganti

Episode Pernikahan.

"Kiss, kiss , kiss, kiss!"

Tamu undangan bersorak menginginkan pasangan pengantin baru yang baru saja sah sebagai suami istri itu berciuman.

Alea gadis cantik berusia 24 tahun terlihat begitu cantik menggunakan gaun pengantin panjang hingga menyapu lantai, gaun cantik yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang langsing seperti model internasional, tidak lupa memakai selayar cukup panjang sampai menyapu lantai.

Sejak tadi raut wajahnya tampak begitu bahagia, bagaimana tidak akhirnya dia bisa menikah dengan kekasihnya yang selama ini mereka menjalin hubungannya selama 2 tahun lebih.

Pria tampan di hadapannya sejak tadi menggenggam kedua tangannya, terlihat malu-malu sampai wajahnya memerah saat ingin mengabulkan permintaan para tamu undangan.

"Ayo kisss!" teriak seseorang membuat pria bernama Dharma itu tertawa kecil dan melihat istrinya yang berdiri di hadapannya.

"Aku mencintaimu Dharma," ucap Alea.

"Aku juga mencintaimu Alea," Dharma langsung membalas jawaban cinta tersebut.

Dharma mendekatkan wajahnya pada istrinya itu dengan memegang kedua pipinya dan langsung meraup bibir merah merona itu.

Pasangan pengantin baru itu berciuman romantis membuat para tamu undangan tampak begitu iri, ciuman itu berlangsung hanya beberapa detik saja dan kemudian Dharma melepaskan tautan bibir itu. Dharma mengakhiri dengan mencium lembut kening Alea.

Prok-prok-prok.

Para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah, seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan pasangan pengantin baru tersebut.

"Ini first kis pertama untukku," batin Alea merasa sangat beruntung sebagai wanita.

Berpacaran dengan pria yang bukan orang sembarangan. Dharma pria 28 tahun yang cukup sukses dalam bidang bisnis keluarganya yang saat ini dia telah mewarisi semua aset keluarganya. Karena merupakan putra tunggal dari keluarga Adiwijaya.

Selama menjalin hubungan, mereka memang tidak pernah berciuman dan menurut Alea hubungan seperti itu sangat sehat sampai akhirnya mereka sudah berada di tahap pernikahan dan first kiss mereka pertama kali ketika sudah sah menjadi pasangan suami istri.

***

Setelah pernikahan selesai. Dharma bersama dengan Alea berada di ruang tamu, sudah tidak memakai pakaian pengantin lagi.

"Alea apa kamu lelah?" tanya wanita terlihat anggun dengan wajah tampak tegas sekitar berusia 45 tahun. Liana tak lain adalah ibu mertua Alea.

"Tidak. Ma! Alea tidak terlalu lelah dan justru sangat bahagia dengan pernikahan seumur hidup ini," jawab Alea.

"Papa juga mengharapkan hal yang sama, zaman sekarang ini perceraian sangat rentan, pasangan suami istri memiliki sedikit masalah dan langsung mengakhiri pernikahan dengan perceraian. Papa titipkan pernikahan ini kepada kalian berdua dan jangan sampai membuat malu keluarga. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan bagaimana caranya agar tidak terjadi perceraian!" tegas Adiwijaya.

"Itu sudah pasti. Pa. Dharma akan berusaha menjaga rumah tangga ini dengan baik dan tidak akan ada perceraian," sahut Dharma membuat Alea tersenyum terus menatap kagum suaminya penuh dengan kebijaksanaan itu.

"Alea, kamu tidak perlu program apapun, kamu juga tidak perlu menunda untuk memiliki momongan. Mama dan Papa menunggu kehadiran buah hati dalam pernikahan kalian untuk menjadi pewaris keluarga ini," sahut Liana.

Alea mengangguk dengan tersenyum, melihat ke arah suaminya, dari raut wajah Alea sepertinya memang tidak ingin menunda apapun. Tetapi ekspresi sang suami tampak tidak tersenyum meluas, senyum terpaksa seperti ada sesuatu yang dia pikirkan.

Di tengah obrolan itu seorang pria berusia 28 tahun dengan setelan berjas rapi menghampiri ruang tamu dengan menundukkan kepala.

"Maaf jika saya menggangu!" ucapnya merasa tidak enak.

"Ada apa Raidan?" tanya AdiWijaya.

"Maaf, jika saya mengganggu pembicaraan ini. Saya meminta maaf karena tadi tidak sempat hadir di acara pernikahan, tetapi saya menyempatkan diri untuk datang dan mengucapkan selamat secara langsung untuk pernikahan Dharma dan juga Alea, tetapi maaf sekali saya juga harus mengantarkan dokumen ini karena membutuhkan persetujuan secepatnya," ucap Raidan.

"Kamu tidak perlu sungkan seperti itu Raidan. Memang terkadang seorang sahabat pasti suka membuat sensasi dengan terlambat datang ke acara penting sahabatnya," sahut Dharma.

"Kalau begitu Om mengambil dokumen ini dan akan menandatanganinya," sahut Adiwijaya membuat Raidan memberikan dokumen tersebut.

"Saya ucapkan selamat sekali lagi di atas pernikahan kalian!" ucap Raidan melihat secara bergantian pasangan suami istri itu.

"Terima kasih dan semoga saja kamu cepat menyusul," sahut Alea membuat Raidan menganggukkan kepala dengan ekspresi datar.

"Pa. Ma, kalau begitu kami ke kamar dulu untuk istirahat," ucap Dharma membuat kedua orang tuanya menganggukkan kepala dan pasangan suami istri itu langsung meninggalkan ruang tamu.

Sementara Raidan harus menunggu tanda tangan terlebih dahulu sembari membahas beberapa hal dengan kedua orang tua sahabat dekatnya itu.

*****

Alea terlihat cantik di kamar pengantinnya, kamar pengantin pada umumnya dipenuhi dengan kelopak mawar dengan aroma romantis di kamar dengan wanita yang tampak remang itu.

Alea baru saja memakai lipstik pada bibirnya, piyama berbahan satin berwarna silver yang ia gunakan tampak begitu cantik, dengan rambutnya yang dibiarkan di gerai.

Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Alea melihat ke arah sang suami yang juga sudah berganti pakaian dengan menggunakan kaos putih dan celana panjang.

"Mas, tidak mau saya ambilkan baju untuk tidur?" tanya Alea.

"Tidak Alea!" jawab Dharma.

Alea tersenyum dan melangkah menghampiri suaminya itu, memeluk suaminya dengan ekspresi wajahnya tidak berhenti bahagia.

"Mas, Alea tidak menyangka jika sekarang Alea sudah menjadi istri. Mas, bukankah banyak sekali impian kita berdua yang akan kita wujudkan dalam pernikahan ini," ucap Alea.

Tidak ada reaksi apapun dari suaminya membuat Alea melonggarkan pelukan itu dan melihat ekspresi suaminya tampak datar.

"Kamu lelah?" tanya Alea.

"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu dan ini hal penting," ucap Dharma terlihat begitu serius.

"Katakan ada apa?" tanya Alea.

Dharma menggenggam tangan istrinya itu dan kemudian mengajaknya untuk duduk di sofa.

"Alea aku minta maaf dan harus jujur pada kamu ketika kita sudah menikah," ucap Dharma.

"Memang ada apa. Mas? kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak dan ekspresi wajah kamu membuatku takut," ucap Alea.

"Alea, aku bisa mewujudkan impian kamu untuk menikah, memiliki keluarga tetapi aku tidak bisa mewujudkan impian kamu untuk memiliki anak dariku," ucap Dharma membuat Alea kebingungan dan tidak mengerti akan maksud suaminya itu.

"Maksud kamu bagaimana?" tanya Alea.

"Kita tidak akan bisa memiliki anak," ucap Dharma.

"Kenapa. Mas! Aku sehat dan bukankah aku sudah memeriksakan diri sebelum kita menikah, tidak ada masalah sama sekali denganku," ucap Alea.

"Kamu benar! Kamu sehat dan aku yang tidak bisa memberikan itu kepada kamu," ucap Dharma.

"Maksud kamu.... Kamu...."

"Benar! Aku di vonis tidak bisa memiliki keturunan," jawabnya jujur membuat Alea benar-benar kaget dengan menutup mulutnya menggunakan satu tangan.

"Astaga. Mas," Alea butuh waktu untuk tenang dengan berita mengagetkan dari sang suami di malam pertama mereka.

"Mas, jangan memikirkan apapun, kita bisa berobat dan ini tidak menjadi masalah untukku," Alea sangat mencintai suaminya dan mungkin kekurangan suaminya tidak akan menjadi penghalang dalam pernikahan mereka.

"Apa kamu tidak mendengar apa yang diinginkan kedua orang tuaku? Mereka menginginkan kita untuk secepatnya memberi keturunan dan jika aku mengatakan semua ini kepada mereka bahwa aku tidak bisa memiliki keturunan maka semua akan hancur," ucap Dharma.

"Tetapi kita masih bisa berobat dan masih bisa melakukan usaha apapun itu. Di zaman sekarang banyak cara untuk bisa mendapatkan anak agar tetap lahir dari rahim ku dan akan tetap menjadi anak kamu!" ucap Alea.

Bersambung.....

Episode 2 Malam Pertama Bukan Dengan Suami

"Kamu benar! tidak mendapatkan anak dariku bukan tidak bisa melanjutkan pernikahan dan seperti apa yang dikatakan kedua orang tuaku bahwa tidak akan ada perceraian di antara kita, jika aku tidak bisa memberikan anak dan tetap kamu bisa melahirkan anak dari rahimmu dan juga akan menjadi anakku," ucap Dharma.

"Kita bisa menggunakan bayi tabung," ucap Alea dengan penuh semangat berusaha agar mereka bisa mendapatkan keturunan.

"Itu membutuhkan waktu lama Alea. Aku ingin kamu dalam beberapa minggu ke depan harus hamil," ucap Dharma terdengar begitu memaksa istrinya.

"Mas, bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu tidak sehat dan untuk mendapatkan anak butuh proses yang banyak agar anak itu berasal dari kita berdua? bagaimana mungkin aku bisa hamil," ucap Alea merasa tidak masuk akal.

"Anak yang akan menjadi pewaris lahir dari rahim kamu, tetapi bukan berasal dari benih ku," ucap Dharma.

"Maksud kamu?" tanya Alea dengan jantung berdebar sudah mulai merasa ada yang tidak beres

"Aku sudah memikirkan semua ini. Raidan yang akan menggantikan tugasku untuk menanamkan benihnya di rahim kamu," ucap Aidan membuat Alea kaget dengan mata melotot.

"Mas!" Alea bahkan sampai berdiri dengan melepas genggaman tangannya dari suaminya.

"Kamu gila!" pekik Alea.

"Kamu menyuruhku tidur dengan temanmu hanya untuk mendapatkan anak!" pekik Alea.

"Raidan bukan hanya temanku saja, tetapi juga sudah dianggap keluarga di rumah ini dan sejak kecil kami selalu bersama, bahkan orang-orang mengatakan kami adalah orang yang mirip, kami seperti saudara kandung dan bahkan wajah kami hampir mirip. Aku sudah memikirkan semua ini dan jika di dalam rahim kamu terdapat benih Raidan dan maka anak itu akan lahir dengan sempurna dan wajahnya juga tidak akan jauh beda dari wajahku," tegas Dharma dengan semua pikiran konyolnya.

"Bukan masalah melahirkan anak sempurna dengan fisik yang diinginkan, tapi ini tidak masuk akal jika aku menikah dengan kamu tapi aku justru tidur dengan laki-laki lain!" tegas Alea.

"Tidak ada pilihan lain Alea, kamu tidak dengar apa yang diinginkan kedua orang tuaku dan hanya dengan ini caranya. Aku sudah membicarakan semua ini dengan Raidan dan dia menyetujui semua ini!" tegas Dharma.

"Aku tidak mau dan tidak akan melakukan hal sebodoh itu! aku akan bicara dengan kedua orang tua kamu dan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya dan aku yakin mereka akan mengerti, lalu tidak akan memaksa kamu untuk memiliki keturunan!" ucap Alea ingin keluar dari kamar mama langsung ditahan Dharma.

"Jangan membuka aib di depan kedua orang tuaku. Alea selama ini aku selalu melakukan apapun untuk kamu, bahkan aku membayar hutang-hutang kedua orang tuamu, memberi kehidupan untuk anak panti yang kamu rawat dan kamu tidak bisa melakukan semua ini kepadaku," Dharma terlihat mengungkit sesuatu untuk mengingatkan hutang Budi pada istrinya.

"Mas, ini tidak masuk akal!" tegas Alea dengan suaranya tampak lirih, air matanya bahkan sudah jatuh.

"Ini cara satu-satunya Alea. Malam ini kamu akan tidur dengan Raidan," ucap Dharma membuat Alea menggelengkan kepala.

"Aku tidak bisa melakukannya dan lebih baik kita mengakhiri pernikahan kita daripada aku harus tidur dengan laki-laki yang tidak menikah denganku. Aku sangat mencintai kamu dan seluruh tubuhku hanya milik kamu bukan milik orang lain!" tegas Alea bahkan rela berpisah.

"Kamu ingin berpisah denganku dan itu sama saja kamu mencari masalah dengan kedua orang tuaku. Kamu tiba-tiba meminta berpisah. Apa yang ada di pikiran mereka dan apa kamu pikir aku akan mengakui bahwa aku mandul. Tidak Alea dan kamu akan disalahkan dalam hal ini dan kamu mengetahui bagaimana orang tuaku. Keluarga kamu akan mendapatkan masalah karena kamu mempermalukan keluargaku!" tegas Dharma menggambarkan risiko yang akan dihadapi Alea jika dia nekat.

Dharma mendekati istrinya itu dengan memegang keduanya.

"Tidak ada yang berubah Alea. Kamu hanya perlu tidur dengan Raidan, hubungan seksual yang kalian lakukan akan menghasilkan anak dan setelah kamu hamil. Maka, semuanya akan selesai dan kita bisa kembali menjalani pernikahan kita. Hanya untuk satu anak dalam kehidupan kita aku yakin kita akan terus bahagia," Dharma berusaha untuk meyakinkan istrinya itu.

"Aku mencintaimu Alea dan aku yakin kamu juga mencintaiku," ucap Dharma dengan mencium lembut kening istrinya.

****

Alea tidak hentinya meneteskan air mata sejak tadi dikamar pengantinnya, kamar tersebut masih tetap rapi seperti sebelumnya karena tidak ada aktivitas apapun di dalamnya.

"Kamu lakukan tugas kamu dengan baik dan anggaplah bahwa pria yang menyentuh kamu adalah aku," ucap Dharma mencium lembut kening Alea dan kemudian langsung meninggalkan kamar tersebut.

Tidak lama suaminya itu pergi, suara pintu kamar terbuka kembali dan terdengar suara langkah kaki yang membuat bulu kuduk Alea merinding.

Dia sudah mengetahui siapa orang yang masuk ke dalam kamarnya dan siapa lagi jika bukan Raidan. Saat ini Raidan berdiri di belakangnya dengan membuka jasnya.

"Berapa bayaran yang kamu dapatkan untuk melakukan semua ini?" tanya Alea dengan suaranya terdengar begitu lirih seolah-olah ada rasa sakit yang menyelimuti pikirannya.

"Hutangbudi yang pernah diberikan kepada saya untuk melakukan hal konyol ini," jawabnya.

Alea mengepal tangannya dan kemudian berdiri dari tempat duduknya berhadapan langsung dengan pria yang akan menidurinya.

"Aku tidak sudi melakukan hal gila seperti ini!" tegas Alea.

"Jika diizinkan untuk menolak, maka saya juga tidak akan menolaknya dan tidak ingin melakukan hal bodoh ini. Tetapi saya tidak punya pilihan untuk menuruti permintaan Dharma, karena sudah pasti ada ancaman besar yang saya dapatkan, setuju tidak setuju dengan apa yang terjadi tetapi saya disini hanya menjalankan tugas yang diperintahkan untuk saya!" tegas Raidan.

Alea saat ini benar-benar tidak bisa berbicara apapun, terlihat menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Ternyata dia sama dengan pria di hadapannya itu, mereka berdua tidak jauh-jauh terlibat hutangbudi dan hutangbudi adalah hutang yang tidak akan bisa dibayar dengan apapun kecuali dengan jasa.

Raidan melangkah semakin mendekati Alea dengan memegang kedua bahu Alea yang membuat Alea langsung menepis tangan tersebut.

"Ini benar-benar gila. Aku tidak siap melakukan semua ini dengan pria yang bukan suamiku!" tegas Alea.

"Saya hanya menjalankan tugas," ucap Raidan memegang pinggang Alea.

Raidan tidak memiliki banyak waktu dan apalagi harus membujuk Alea untuk setuju. Sebelumnya Alea pasti sudah melakukan perdebatan dengan suaminya dan ketika dirinya diizinkan masuk sudah pasti Alea menyetujui semuanya.

Raidan terlihat melepas tali pengikat piyama yang dikenakan Alea dan bahkan lapisan piyama tersebut langsung jatuh ke lantai dan hanya meninggalkan lapisan dalam yang terlihat seksi dengan lengan satu jari dan panjangnya sepahanya.

"Saya mengerti bagaimana perasaan kamu saat ini, tapi kita berdua sama-sama menjalankan perintah yang sudah kita ketahui apa yang akan kita lakukan bersama. Jadi suka tidak suka kita harus menjalankan semuanya," ucap Raidan tidak basa-basi dan bahkan membaringkan perlahan tubuh Alea di atas ranjang membuat Alea sejak tadi menggenggam tangannya dengan kuat.

Tidak pernah terbayangkan jika nasib pernikahannya akan berakhir seperti ini, seharusnya malam ini dia bersenang-senang dengan suaminya tapi justru dengan sahabat suaminya yang sudah dianggap keluarga yang akan menggantikan suaminya untuk menanamkan benih di rahimnya.

Bersambung ....

Episode 3 Panas

Raidan memang hanya menjalankan tugas, terlihat melepas kemeja yang dia gunakan. Air mata Alea sejak tadi tidak berhenti keluar. Betapa hancurnya hatinya mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya, ini benar-benar tidak pernah dipikirkannya, pernikahan yang bahagia dalam impiannya berubah menjadi tangis penuh luka.

Pria dengan lengan berotot itu sudah telanjang dada dan kemudian menindih tubuh Alea. Dari ekspresi wajahnya sebenarnya tidak tega melakukan hal seperti itu kepada istri sahabatnya. Apalagi melihat Alea begitu sangat tertekan.

Tetapi apa boleh buat. Raidan juga akan mendapatkan masalah besar jika tidak menuruti permintaan Dharma. Raidan ingin mencium bibir Alea. Namun langsung memalingkan wajahnya.

Raidan kesulitan menelan ludah dan terus memperhatikan wajah Alea. Raidan melanjutkan tugasnya dengan mencium leher jenjang putih mulus milik Alea.

"Hentikan!" Alea tidak siap dan memiringkan tubuhnya membelakangi Raidan.

"Aku tidak siap. Tolong beri aku waktu!" pinta Alea dengan suara hampir tidak terdengar jelas.

Raidan menarik nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya. Alea menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang sedikit terbuka.

Raidan memilih untuk duduk di sofa dan mungkin istri sahabatnya itu benar-benar harus diberi waktu agar siap dan menerima apa yang dia lakukan.

"Kenapa kamu tega melakukan semua ini. Mas, ini seharusnya menjadi malam untuk kita berdua dan kamu justru menyerahkanku pada orang lain," batin Alea benar- benar merasa sakit hati dengan keputusan Dharma.

Dratt- Dratt- Dratt- Dratt-

Suara ponsel terdengar berasal dari ponsel Raidan membuatnya mengangkat telpon tersebut.

"Ingat Raidan, kamu harus membuat istriku hamil dalam waktu cepat! ketika sudah hamil. Kamu baru bisa berhenti menyentuhnya. Jika dalam 2 Minggu kamu tidak berhasil, maka semua resiko yang aku katakan kepadaku akan benar-benar terjadi," Alea sendiri bahkan mendengar perkataan dari suaminya itu yang ternyata benar apa adanya bahwa Raidan juga mendapatkan ancaman.

"Baiklah! Saat ini saya akan melakukannya," jawab Raidan dengan telepon tersebut langsung berakhir.

Raidan kembali melihat kearah Alea. Raidan menarik nafas panjang dan kemudian membuang perlahan ke depan. Raidan kembali berdiri. Alea kembali merasakan langkah kaki tersebut semakin mendekati ranjangnya.

"Kita sama-sama tidak menginginkannya dan anggaplah ini adalah sebuah tugas yang harus dilakukan. Kamu tidak menyukainya dan itu adalah hak kamu. Saya mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, tetapi kembali lagi saya melakukan semua ini karena tidak punya pilihan," ucap Raidan.

Alea memejamkan mata dengan meremas dadanya. Air matanya terus berlinang dan bulu kuduknya kembali berdiri, ketika tangan Raidan terasa menyentuh lengan kulitnya.

Raidan harus melakukan berbagai cara untuk membuat pasangannya nyaman agar tidak terus menangis dalam melakukan hubungan seksual dengan terpaksa itu.

Raidan sedikit menundukkan kepalanya dengan mencium lengan tangan tersebut, membuat Alea kesulitan menelan ludah. Sungguh sentuhan pria tersebut membuatnya seperti tersengat listrik.

Raidan perlahan membalikkan kembali tubuh Alea, wajah cantik itu terlihat kembali dengan air mata yang masih keluar.

Alea sungguh tidak berani menatap pria yang berada di atas tubuhnya itu. Tetapi sudah terlihat kepasrahan dari wajahnya dan mungkin tidak punya pilihan lain.

Alea dan pria itu sama-sama mendapat ancaman dan mereka sama-sama harus melakukan apa yang diinginkan Dharma.

Alea terlihat menahan diri saat tangan Raidan mengusap lembut pahanya, Alea merasakan sesuatu hal yang baru dalam hidupnya ketika tangan tersebut mulai nakal membelai pahanya dan bahkan naik ke atas.

Saat ini yang dilakukan Raidan adalah untuk memberi ketenangan kepada pasangannya bercinta.

Raidan juga memberanikan diri untuk mengecam bibir Alea dan tidak ada pemberontakan dari Alea. Raidan melanjutkan tugasnya dengan melumat bibir ranum seperti buah persik.

Lidahnya mulai bermain di dalam sana dengan mengabsen setiap rata gigi Alea. Alea mulai terbuai dengan memejamkan mata. Tangannya meremas seprai dengan begitu erat saat pertama kali merasakan hal yang aneh pada tubuhnya.

Jika di saat hari pernikahan dia dan suaminya hanya melakukan ciuman secara singkat dan tidak seperti apa yang dilakukan Raidan, menuntun dirinya untuk mendapatkan kenikmatan.

Tangan Raidan juga semakin liar yang sejak tadi mengelus pahanya, bahkan tanpa di sadari Alea dengan refleks membuka kakinya sedikit seolah-olah memberikan akses untuk Raidan.

Raidan mengusap-usap bagian selangkangan yang masih terbungkus itu dengan ciuman yang semakin dalam. Satu tangannya juga bahkan sudah mulai bermain pada gunung kembar yang menonjol itu.

Ciuman pada bibir itu berakhir dan bukan berarti semua sudah selesai, Raidan semakin liar memberikan sensasi penuh kenikmatan di leher jenjang Alea dengan memberikan tanda kemerahan di sana.

"Ahhhhh!"

Suara desahan berhasil lolos dari mulut Alea. Alea benar-benar merasa bahwa dirinya wanita naif, tadi dia menangis dan sungguh suaminya begitu kejam karena menyerahkan dirinya kepada pria lain.

Tetapi siapa sangka semua keluhan itu seketika berubah menjadi keinginan yang lebih untuk didapatkan di malam pertamanya.

Apakah Raidan berhasil membuatnya terangsang sehingga Alea terlihat pasrah dan bahkan menikmati sentuhan yang diberi Raidan.

Raidan saat ini sudah tidak peduli lagi siapa wanita di bawahnya itu, Raidan hanya menjalankan tugasnya untuk menanamkan benihnya pada rahim istri dari sahabatnya.

Lidahnya terus menjalar membuat tubuh Alea semakin terangsang menggeliat seperti cacing kepanasan, jari-jari Raidan bermain di area sensitif itu.

"Ahhhhh!"

"Ahhh!"

Alea sudah merasa begitu basah. Alea saat ini tidak bisa membohongi dirinya jika dia menginginkan yang lebih.

Di tengah-tengah sentuhan yang tidak seberapa itu dengan penuh gairah, Raidan tiba-tiba saja berhenti dan membaringkan tubuhnya di sebelah Alea dengan nafas naik turun.

Sungguh apa yang di lakukan Raidan membuat Alea tersiksa. Matanya terbuka perlahan dengan nafas naik turun dan melihat ke sebelahnya.

Keduanya sama-sama dipenuhi dengan keringat.

"Aku hanya berusaha untuk menjalankan tugasku, jangan mempersulit semuanya," ucap Raidan harus menegaskan kembali sebelum hubungan itu berlanjut.

"Baiklah, aku terima takdirku seperti ini, tetapi anak yang lahir dari rahimku harus benar-benar tampan dan tidak membuatku kecewa," ucap Alea.

"Aku bukan Tuhan menciptakan fisik manusia," sahut Raidan.

"Kalau begitu lakukan dan hanya sekali saja, aku tidak mengerti dengan semua ini dan aku berharap kamu bisa melakukannya tetapi hanya satu kali. Aku merasa sangat sakit untuk semua ini dan aku juga tidak ingin melakukan dengan pria yang bukan suamiku!" tegas Alea.

"Aku melakukannya hanya sesuai perintah, jika kamu hamil maka semua ini akan berakhir," ucap Raidan.

"Kalau begitu lakukan!" ucap Alea akhirnya setuju untuk melanjutkan hubungan seksual yang tertunda itu.

Kepala keduanya bisa sama-sama sakit jika tidak dilanjutkan. Mendapatkan izin dari pasangan bercintanya membuat Raidan kembali menindih tubuh Alea.

Alea kembali pasrah saat bibirnya dilumat, lidah Raidan bermain dengan sangat liar di dalam sana mengabsen setiap rata gigi Alea dengan keduanya saling bertukar saliva.

Tangan Raidan kembali bermain di area sensitif Alea kembali menarik rangsangan membuat wanita di bawahnya semakin menggeliat.

Sentuhan nakal yang dia terima mampu membuat tubuhnya seperti tersengat listrik.

Lupa akan semua kemarahannya pada suaminya dengan kenikmatan yang sudah meloloskan desahan manja keluar dari mulut. Keduanya sama-sama tidak memiliki pilihan selain melakukan hubungan yang diinginkan oleh Dharma agar Alea mendapatkan anak.

Bersambung.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!