Suara sirine mobil yang memekakkan terlinga terdengar bersahut - sahutan. Dua buah mobil pemadam kebakaran melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke pusat kepulan asap kehitaman yang membumbung tinggi.
"Kapt! Ada mobil yang menghalangi jalan." Driver mobil pertama melapor pada Kaptennya yang berada di mobil kedua.
"Ji, turun dan lihat ada pemiliknya atau tidak." Perintah Kalandra pada salah satu anggotanya yang ada di mobil pertama.
"Siap, Kapt." Jawab Oji yang langsung turun dan mencari pemilik mobil.
Kebakaran yang melahap salah satu wilayah paat penduduk yang berada di dalam gang sempit itu tentu cukup menyulitkan. Untungnya, gang itu masih bisa di lewati mobil truk pemadam kebakaran.
"Gak ada pemiliknya, Kapt. Warga yang ada di sini juga gak tau siapa pemiliknya dan kemana orangnya." Kata Oji yang melapor.
Kalandra menghela nafas. Timnya tentu di buru oleh waktu untuk segera memadamkan api agar tak terus merembet ke rumah yang lain.
Pria tampan dengan postur tubuh yang proporsional itu segera turun dan berjalan menghampiri tempat mobil penyebab masalah terparkir.
"Turun semua!" Titah Kalandra yang meminta semua timnya untuk segera turun.
"Mobil masih bisa lewat kalau kita miringkan mobil ini." Kata Kalandra yang membuat rekan - rekannya mendelik.
"Apa? Di miringin? Mobil mewah ini mau di miringin, Kapt?" Tanya Oji dengan tatapan tak percaya.
"Iya. Ayo, segera! Kita gak punya banyak waktu." Perintah Kalandra.
"Tapi, Kapt. Kalau nanti pemiliknya ngamuk, gimana? Bisa - bisa kita di tuntut ganti rugi." Tanya Rian dengan ragu.
"Gak usah takut. Mobil ini menghalangi jalan kita yang sedang bertugas. Kondisinya pun darurat karena pemiliknya gak ada. Kita di lindungi undang - undang untuk melakukan apapun agar tugas kita tak terhambat." Jawab Wildan yang di sambut acungan jempol oleh Kalandra.
"Ayo! Tunggu apa lagi? Kalian mau apinya semakin merembet? Mungkin juga ada korban yang masih terjebak dan harus kita selamatkan di sana." Kata Kalandra dengan tegas.
"Siap, Kapt!" Jawab semua anggota timnya.
Mereka semua kemudian mengambil ancang - ancang untuk memiringkan mobil yang tak mungkin di pindahkan itu
Satu...
Dua...
Tiga!
Kalandra memberi aba - aba. Hanya dengan satu kali angkat, mereka bisa membuat mobil itu berada dalam kondisi miring dengan pintu bagian kemudi berada di atas.
Beberapa warga yang sedang berada di sana pun sempat mengabadikan kondisi mobil yang menutupi jalan dan saat petugas Pemadam Kebakaran memiringkan mobil itu dengan kamera ponsel mereka.
Para driver segera kembali ke dalam mobil dan memposisikan mobil agar bisa lewat. Setelah dua mobil Pemadam Kebakaran itu berhasil lewat, semua anggota yang masih ada di luar pun segera naik dan melanjutkan perjalanan ke titik pusat kebakaran.
Mereka bergerak cepat ketika sudah mencapai tempat kejadian. Di sana, banyak warga yang sudah bahu membahu untuk memadamkan api yang dengan cepat merembet ke bangunan lain.
"Astaghfirullah." Lirih Kalandra melihat parahnya TKP.
"Ayo cepat!" Perintah Kalandra pada semua timnya.
Mereka bergerak cepat dan langsung menyiram api dengan air bertekanan tinggi. Kalandra terus memberikan instruksi pada semua anggotanya. Netra elangnya pun mengawasi setiap pergerakan yang terjadi di sekitarnya.
"Mikiiii... Tolong! Tolong Miki." Seorang gadis kecil yang masih memakai seragam putih merah, berlari ke arah salah satu rumah yang perlahan mulai di rambati si jago merah.
"Adek mau kemana? Jangan ke sini, bahaya." Dengan sigap, Kalandra memegangi tubuh gadis kecil itu.
"Tolong Miki... Tolong anjingku, Pak. Miki masih di dalam." Kata gadis kecil yang histeris itu.
"Tunggu di sini, biar saya yang cari Miki." Kata Kalandra setelah menyerahkan gadis kecil yang menangis histeris itu pada orang tuanya yang juga baru sampai.
Dengan langkah cepat dan tanpa ragu, Kalandra mendobrak pintu rumah yang terkunci. Rumah yang sudah di penuhi asap tebal itu, membuat jarak pandangnya terbatas.
"Miki... Miki..." Kalandra mencoba memanggil hewan peliharaan si empunya rumah. Langkahnya cepat menyisir setiap ruangan yang ada di rumah itu.
"Miki..." panggilnya lagi sembari sesekali melihat ke atas, dimana api sudah mulai membesar di sana.
"Miki... Miki..." Seru Kalandra semakin keras.
Tak lama, terdengar suara gonggongan anjing yang ternyata berada di lantai dua. Mungkin karena panik, anjing itu berlari kesana dan kemari untuk menyelamatkan diri.
Kalandra segera naik dan menghampiri anjing kecil yang ketakutan itu. Kalandra kemudian membungkus tubuh anjing kecil itu dengan kain basah yang sudah ia bawa. Ia kemudian membawa anjing kecil itu keluar dari rumah yang kini mulai terbakar.
Langkahnya kian cepat seiring dengan hawa panas yang semakin terasa. Sementara anjing kecil itu tampak tenang seolah yakin jika nyawanya akan selamat kali ini.
Begitu keluar dari pintu, langkahnya tiba - tiba terhenti. Entah mengapa, ia merasa tubuhnya seperti terpatri di atas tanah.
"Kapt, awas!" Teriak salah satu anggotanya.
BRRAAAAKK!
Atap teras yang terbuat dari kayu dan asbes itu runtuh tepat di hadapannya. Api berkobar dengan gagah tepat di depan matanya. Kalandra mundur beberapa langkah dengan masih memeluk anjing kecil yang kini mulai ketakutan.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah..." Kalandra terus beristigfar dalam hati.
"Kapt! Kapten!" Seru para anggotanya.
Mereka segera mengarahkan air ke tempat Kalandra berada untuk memadamkan api yang berada di sekitar Kalandra.
"Kapten!" Suara Oji paling keras terdengar.
"Tetap fokus! Aku baik - baik aja!" Jawab Kalandra yang juga berseru.
Mendengar jawaban dari Kalandra, mereka semua pun mulai kembali tenang. Para aggota tim yang terbagi menjadi dua itu mulai kembali fokus memadamkan kobaran api yang mulai jinak.
Sementara Kalandra, tanpa ragu berjalan menembus kobaran api yang mulai meredup. Ia kemudian menghampiri gadis kecil yang masih menangis itu.
"Mikiii...." Seru si gadis kecil ketika melihat Kalandra yang datang bersama anjingnya.
"Terima kasih, Pak! Terima Kasih." Ucap gadis kecil itu, ketika Kalandra memberikan hewan peliharaannya.
"Sama - sama. Sekarang tolong minggir, ya. Cari tempat yang aman." Ujar Kalandra sembari mengusap bahu gadis kecil itu.
"Kapten, baik - baik aja?" Tanya Wildan yang sedang membantu mengendalikan selang air bertekanan tinggi ketika Kalandra menghampiri.
"Aku baik - baik aja." Jawab Kalandra.
"Ayo fokus! Tinggal sedikit lagi!" Seru Kalandra.
Setelah berjuang melawan si jago merah selama hampir tiga jam, tim pemadam kebakaran akhirnya berhasil memadamkan api yang melahap habis tujuh bangunan rumah warga.
Dengan nafas yang masih terengah - engah, para anggota tim beristirahat di dekat mobil. Sementara itu, Kalandra di temani oleh Oji, berkeliling untuk memastikan jika sudah tak ada lagi titik api di lokasi kejadian.
"Sudah aman, Kapt?" Tanya Rian.
"Alhamdulillah, semuanya aman. Terima kasih karena sudah bekerja keras memadamkan api." Ucap Kalandra sambil tersenyum bangga.
Salah satu hal yang selalu membuatnya bangga yaitu bisa memadamkan api tanpa ada korban jiwa.
Seperti biasa, setelah sampai di Markas Pemadam Kebakaran, Kalandra akan memeriksa setiap alat yang mereka gunakan. Sementara itu, anggota yang lain akan beristirahat atau langsung membersihkan diri.
"Emang paling rajin Kapten kita ini." Kata Wildan yang menghampiri Kalandra sembari melemparkan kaleng minuman yang ia bawa.
"Memang udah tanggung jawabku, meriksa peralatan dan perlengkapan kayak gini." Jawab Kalandra yang membuat Wildan tertawa.
"Kata Komandan, kamu menolak tawaran untuk naik pangkat lagi, Kal?" Tanya Wildan yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Kenapa? Padahal kamu punya kesempatan bagus." Tanya Wildan yang penasaran.
Kalandra sendiri hanya tersenyum. Pria tampan itu kemudian meneguk minuman kaleng dingin yang terasa menyegarkan itu.
"Aku lebih suka kayak gini. Karna ini cita - citaku dari dulu. Kalau aku terima tawaran itu, udah pasti aku jarang turun ke lapangan." Jawab Kalandra sambil tersenyum dan menatap lurus ke arah deretan mobil truk pemadam yang berjajar rapi.
"Astaga! Cuma itu alasannya? Serius kamu, Kal?" Tanya Wildan dengan tatapan tak percaya.
"Iya!" Jawab Kalandra.
"Cita - citaku menyelamatkan warga dan selalu turun secara langsung ke TKP untuk membantu. Bukan cuma memberi perintah sambil mengawasi di dalam ruangan." Jawab Kalandra.
"Padahal pekerjaan kita ini berbahaya. Kamu, di kasih aman, malah nyari bahaya." Gerutu Wildan.
"Biar idup gak monoton, Wil. Semua hal yang menantang itu harus di cobain." Jawab Kalandra.
"Oh iya, Kal. Tadi itu, aku lihat sesuatu yang aneh, deh, waktu kamu nyelametin anjing tadi." Kata Wildan yang membuka percakapan baru.
"Ada apa?" Tanya Kalandra.
"Atap teras yang rubuh dan hampir nimpah kamu itu, jatuhnya gak wajar." Kata Wildan.
"Maksudnya?" Tanya Kal.
"Kalau di pikir secara logika, harusnya kayu besar yang jadi penyangga itu jatuhnya lurus, tepat di titik kamu berdiri. Karna posisinya gak mungkin kegeser. Tapi aku lihat sendiri dengan mata kepalaku kalau tiang itu sedikit bergeser." Kata Wildan sembari memeragakan posisi kayu pengangga yang ia maksud.
"Masak sih, Wil?" Tanya Kalandra.
"Ya Allah, serius, Kal. Makanya tadi mereka semua teriak dan panik setengah mati karna itu, perkiraanku dan perkiraan mereka itu sama." Jawab Wildan.
"Terus, masak dalam jarak yang cuma dalam hitungan senti meter dari tiang itu rubuh. Kamu gak ngalami apa - apa? Itu kayu yang di makan api loh, Kal, apinya pun nyala. Ya minimal lecet atau melepuh sedikit lah. Tapi, lihat nih." Kata Wildan sembari memeriksa wajah dan kedua tangan Kalandra.
"Tetep mulus, bersih, putih, bening, ganteng. Bahkan waktu kamu sampe, gak ada tuh merah - merah di mukamu. Cuma belepotan hitam aja." Ujar Wildan sambil menangkup wajah Kalandra dan mengamatinya.
"Apaan, sih, Wil! Geli banget, sumpah. Biasa aja lah, ngelihatinnya." Kata Kalandra sambil menoyor kepala Wildan yang wajahnya sangat dekat dengan wajah Kal.
"Apa yang di bilang sama Kak Awan itu jangan - jangan bener, ya?" Tanya Wildan.
"Apaan?" Tanya Kalandra.
"Itu, sosok tinggi besar yang di pundaknya bertengger burung Rangkong besar. Yang sering di sebut Kak Awan dengan sebutan Raja. Kata Kak Awan, dia itu selalu ngelindungin kamu, Kal." Kata Wildan.
"Setelah lihat kejadian kemari, aku kayaknya percaya deh." Imbuh Wildan.
"Hahahaha!" Kalandra tertawa.
"Ngaco kamu, Wil! Lagian Kak Awan juga ada - ada aja. Halu aja dia tuh." Kekeh Kalandra.
"Emang kamu gak percaya sama yang ghoib gitu?" Tanya Wildan.
"Ya percaya, lah. Allah aja ghoib. Tapi, di antara kita semua, yang lihat sosok itu kan cuma Kak Awan. Minimal separuh dari kita lihat itu, baru aku percaya." Jawab Kalandra.
"Terus, emangnya gak aneh? Kalo memang dia itu ada, kenapa kok gak pernah nampakin wujudnya ke aku? Katanya dia ngelindungin aku?" Imbuh Kalandra.
"Udah ah! Aku mau mandi. Bentar lagi magrib." Ujar Kalandra sambil meninggalkan Wildan.
"Eh, Kal! Tunggu. Aku juga mau mandi." Seru Wildan yang kemudian mengekor pada Kalandra.
Seperti biasa, seusai sholat magrib, mereka yang sedang bertugas jaga akan makan malam bersama. Kali ini, Kalandra pun turut mendapat tugas jaga. Setelah makan malam, mereka semua berkegiatan masing - masing, kecuali petugas operator yang harus selalu berjaga di dalam ruangan jikalau ada panggilan darurat.
Beberapa ada yang beristirahat di kamar, beberapa ada yang berolah raga di ruang gym, ada juga yang hanya bersantai dan mengobrol di garasi yang menjadi spot favorit mereka untuk bersantai. Kalandra bersama Oji dan Wildan memilih bersantai di garasi sembari menikmati kopi panas.
"Sllluurpp.... Aaaaakhh! Emang paling seger kopi buatan barista kita ini." Kata Oji yang memuji kopi buatan Kalandra yang rasanya tak pernah gagal.
"Iya, bener banget." Sahut Wildan.
"Kal, aku heran deh. Masih gak habis fikri, kenapa kok kamu malah milih kerja jadi petugas Damkar?" Tanya Wildan.
"Emang kenapa? Gak boleh?" Kalandra balik bertanya.
"Maksudnya, Papa kamu punya Perusahaan Properti yang besar dan terkenal, Kakakmu aja ngikutin jejak Papamu. Terus, Mamamu juga punya Resto besar, intinya kamu tuh anaknya seorang pengusaha besar di kota ini. Tapi, kenapa kamu malah memilih jadi anomali?" kata Wildan yang membuat Kalandra menyemburkan kopi yang baru ia seruput.
"Kampret kamu, Kal! Yang bener aja. Aku gak kesurupan, kenapa kamu sembur pake kopi!" Protes Wildan yang membuat Oji terbahak - bahak.
"Maaf - maaf. Kaget, tiba - tiba di sebut Anomali. Kayak anak - anak zaman sekarang aja ngomongnya." Kekeh Kal.
"Iya lah! Biar gak ketinggalan zaman. Emang kamu, anak zaman purba." Sewot Wildan sembari berjalan kembali ke tempatnya setelah mencuci wajahnya.
"Lagian ya, Kal. Kayaknya kalo kamu gak kerja pun, kamu gak akan denger suara meteran listrik yang teriak - teriak karena isinya mau abis deh." Timpal Oji.
"Dari kecil, aku memang suka berpetualang. Apa lagi, dulu waktu kecil aku sama Kakakku di titipkan di rumah Ni Tuwe dan Pui waktu Papa dan Mama sedang merintis usaha di sini. Setiap hari, aku selalu ikut Ni Tuwe keluar masuk hutan." Cerita Kalandra.
"Ni Tuwe? Pui?" Tanya Oji yang tentu asing dengan panggilan itu. Begitu juga dengan Wildan yang tampak bingung.
"Iya, Ni Tuwe itu Kakek, sedangkan Pui itu Nenek. Beliau adalah orang tua Mama yang tinggal di Kalimantan." Jawab kalandra.
"Ooh, jadi kamu ini blasteran, Kal?" Kekeh Oji.
"Iya, blasteran Jawa - Kalimantan." jawab Kalandra sambil tersenyum.
"Pantes aja, tiap ada kegiatan SAR kamu selalu di bawa. Ternyata emang basiknya penjelajah sejak dini." Kata Wildan.
"Hm'm, aku dapat banyak ilmu survival dari Ni Tuwe. Makanya di keluarga, aku di bilang cucu kesayangan Ni Tuwe. Karena dulu kemanapun Ni Tuwe pergi, aku selalu ikut." Cerita Kalandra.
Tak banyak rekan yang mengetahui mengenai latar belakang Kalandra dan keluarganya. Sejauh ini, hanya Oji, Wildan dan Kak Awan lah yang cukup tau banyak tentang ia dan keluarganya.
"Pak! Paaak! Tolong..." seorang pria berlari tergopoh - gopoh dengan wajah panik. Ia langsung menghampiri tiga pria yang sedang duduk bersantai di garasi itu.
"Kenapa, Pak, ada apa?" Tanya Wildan.
"Tolong... Tolong anak saya..." Kata si Bapak dengan nafas yang terengah - engah.
"Tolong anak saya..." Kata si Bapak dengan wajah panik.
"Mana anaknya, Pak? Anaknya kenapa?" Tanya Wildan sambil celingukan mencari keberadaan anaknya.
"Anak saya di rumah, Pak. Kepalanya kesangkut di antara celah teralis jendela." Jawab si Bapak.
"Astaghfirullah! Kok bisa?" Tanya Oji.
"Gak tau, Pak. Namanya juga musibah." Jawab si Bapak.
"Iya juga, ya." Kekeh Wildan yang menular pada Oji.
"Yaudah, kita siapkan peralatan dulu ya, Pak." Kata Kalandra yang segera beranjak.
"Aku sama Oji ambil motor, Kal. Sekalian laporan." Seru Wildan yang di jawab acungan jempol oleh Kalandra.
Setelah semua siap, mereka segera pergi ke rumah si Bapak dengan berboncengan motor. Ternyata rumah si Bapak berada tak jauh dari Markas Damkar.
"Ya Allah, gimana bisa kepalanya masuk sini sih, Dek?" Kata Kalandra yang merasa heran sendiri.
"Gak tau ini, Pak. Ada aja proyeknya." Jawab si Ibu yang memegangi tubuh anak laki - laki berusia empat tahun itu.
"Mana cengar - cengir aja, kamu. Kamu gak tau, Bapakmu lari - lari sampe gak sempet nafas gara - gara kamu." Kata Oji yang membuat mereka tertawa.
Kalandra dan Oji pun bersiap dengan menggunakan APD. Sementara Wildan membantu menyiapkan peralatan yang mereka butuhkan untuk memotong tralis besi. Tak lupa, mereka berdoa sejenak untuk memohon kemudahan dan keselamatan saat bertugas.
Setelah menutupi bagian kepala hinga leher si anak dengan handuk basah, Kalandra pun mulai menghidupkan mesin gerindra yang sudah di siapkan oleh Wildan.
"Jangan gerak - gerak ya, Dek. Ibunya tolong di peluk aja anaknya." Titah Oji yang sudah memegangi kepala si anak.
"Berdoa ya, Dek." Kata Kalandra yang bersiap untuk memotong besi.
Dengan suara keras, anak laki - laki itu justru membaca doa sebelum makan sambil memejamkan matanya. Bukannya mulai bekerja, mereka semua justru terbahak - bahak karena mendengar doa yang di baca si Anak.
"Aduh, ya Allah. Kok malah ngelawak." Komentar Kalandra di sela- sela tawanya.
Setelah kembali siap, Kalandra pun mulai memotong teralis besi dengan mengunakan grindra.
"Zikir, Dek. Gak usah takut, Om nya udah biasa motong yang keras - keras kok." Kata Oji.
"Motong apa Om? Motong besi?" Tanya si Anak.
"Bukan, tapi motong leher anak yang bandel." Sahut si Bapak yang membuat si Anak langsung menjerit.
Setelah berhasil memotong salah satu besi, Kalandra di bantu Wildan kemudian membenggangkan besi itu hingga dapat memperbesar celah untuk jalan keluar kepala si Anak.
"Tarik lagi, Wil." Kata Kalandra sembari mengamati ukuran celah yang ia buat.
"Susah, Kal." Jawab Wildan.
"Tahan lagi, ya. Aku potong bagian satunya." Kata Kalandra yang memberi instrusi pada Wildan.
"Sabar ya, Dek. Jangan gerak - gerak." Kata Klandra.
"Tuh, dengerin. Jangan gerak - gerak, nanti kepotong lehermu." Kata si Bapak yang justru meledek anaknya. Tak ayal, hal itu kembali membuat Kaladra, Oji dan Wildan terkekeh geli.
"Nah, coba tarik, Wil." Kata Kalandra setelah berhasil memotong bagian lain. Wildan dan Kalandra pun kembali membenggangkan besi itu.
"Sip! Bantu keluar pelan - pelan, Ji." Titah Kalandra ketika melihat celah itu sudah bisa di lewati.
"Pelan - pelan, Dek." Kata Oji yang membantu mengatur posisi kepala si Anak agar tak terkena bagian besi yang terpotong.
"Alhamdulillah." Lirih mereka semua hampir bersamaan saat si Anak berhasil di tolong.
"Makasih ya, Om Damkar." Ucap si Anak.
"Iya, sama - sama. Besok lagi jangan main sembarangan, ya." Pesan Kalandra yang di jawab anggukan oleh si Anak.
"Tuh! Dengerin, jangan di ulangin lagi. Aneh - aneh aj kamu ini mainannya." Gemas si Ibu sambil menarik hidung putranya.
"Makasih banyak ya, Pak. Maaf ngerepotin malem - malem." Ucap si Bapak.
"Iya, gak apa - apa, Pak. Kami permisi dulu kalau begitu." Pamit Kalandra.
"Pak ini, buat beli kopi." Kata si Bapak yang menyerahkan amplop sambil menyalami Kalandra.
"Eh! Jangan, Pak." Tolak Kalandra yang langsung menarik tangannya.
"Gak apa - apa, Pak. Saya ikhlas. Saya berterima kasih sekali." Kata si Bapak yang sedikit memaksa.
"Kami juga ikhlas kok, Pak. Memang ini salah satu tugas kami ntuk membantu masyarakat." Jawab Kalandra.
"Bener, Pak. kami jangan di kasih hadiah. Bisa - bisa kami di kasih sanksi karena menerima gratifikasi." Imbuh Wildan.
"Oh, gitu, ya? Yasudah, terima kasih banyak ya, Pak. Mudah - mudahan Allah memberi pahala yang berlipat ganda untuk Bapak Damkar semua." Kata si Bapak dengan tulus.
"Aamin. Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak." Pamit Kalandra.
Kalandra, Oji dan Wildan kemudian segera kembali ke Markas setelah menyelesaikan tugas mereka. Sesampainya di Markas, salah satu Anggota yang berjaga malam itu menghampir Kalandra, Oji dan Wildan yang baru memarkirkan motor.
"Kal, di panggil sama Komandan." Kata Rian dengan wajah khawatir.
"Kenapa, Yan?" Tanya Wildan.
"Itu, pemilik mobil yang tadi siang, dateng kesini dan mengajukan keluhan. Dia ngamuk - ngamuk karena mobilnya kita gulingin." Jawab Rian.
"Waah! Bener - bener tuh orang. Udah salah, tapi gak tau diri." Geram Oji.
"Komandan belum pulang?" Tanya Kalandra.
"Belum tuh, masih di ruangannya." Jawab Rian.
"Emang kamu gak nyampein itu ke Komandan, Kal?" Tanya Wildan.
"Udah. Udah ada di laporan yang aku buat dan aku serahin ke Komandan." Jawab Kalandra.
"Yaudah, aku ke ruangan Komandan dulu." Kata Kalandra yang kemudian berjalan cepat menuju ke ruangan Komandannya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk." Suara si empunya ruangan yang mempersilahkan. Kalandra pun segera masuk ke dalam ruangan.
"Duduk, Kal." Titah Komandan. Pria itu tampak tenang seperti biasanya.
"Ada apa, Ndan?" Tanya Kalandra.
"Apa benar, tadi kalian menggulingkan sebuah mobil yang ada di tepi jalan?" Tanya Komandn Salim.
"Benar, Ndan. Mobil itu terparkir di tepi jalan sempit menuju ke Perumahan yang siang tadi terbakar." Jawab Kalandra yang membuat Komanda Salim manggut - manggut.
"Saya sebenarnya sudah membaca laporan yang kamu buat, tetapi ada beberapa bagian yang berbeda dengan yang di sampaikan oleh pemilik mobil." Kata Komandan Salim. Komandan Salim kemudian menceritakan kronologi kejadian versi si pemilik mobil.
Kalandra menghembuskan nafas panjang. Ia memang sudah menduga jika ini memang akan terjadi. Pemilik mobil pasti akan mencari - cari alasan atau bahkan memutar balikkan fakta supaya bisa mendapat kompensasi.
"Itu gak benar, Ndan. Bahkan warga gak tau siapa pemilik mobil itu dan dimana orangnya saat itu." Kata Kalandra.
"Saya memiliki bukti berupa foto dan vidio yang di ambil oleh beberapa warga yang ada di lokasi kejadian. Salah satu anggota kita juga sengaja merekam kejadian saat itu sebagai barang bukti." Kata Kalandra.
"Bagus!" Puji Komandan Salim sambil tersenyum lega.
"Kamu memang selalu teliti. Segera kirimkan bukti - bukti pada saya. Kalian gak usah khawatir, saya akan mengurus sisanya." Kata Komandan Salim tanpa ragu. Ia tentu sangat memercayai anggotanya. Mereka tentu tak pernah asal bertindak.
"Baik, Ndan." Jawab Kalandra.
"Baiklah, kamu boleh keluar." Ujar Komandan Salim yang di jawab anggukan oelh Kalandra.
Begitu keluar dari ruangan Komandan Salim, Kalandr segea mengambil ponselnya yang ada di dalam loker. Ia lalu mengiriman semua foto dan vidio yang ia dapatkan pada Komadan Salim.
"Kal! Gimana, Kal?" Tanya Oji.
"Gak apa - apa, aman." Jawab Kalandra.
"Semua buktinya udah aku kirim ke Komandan." Imbuh Kalandra kemudian.
"Alhamdulillah. Kirain kita bakal kena sanksi." Kata Oji yang merasa lega.
"Gak mungkin lah, lagi pula kita benar. Makanya, aku selalu bilang kalau dokumentasi itu penting. Selama ada bukti, semuanya pasti aman." Jawab Kalandra.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!