Langit Jakarta mendadak pekat, seolah tinta raksasa tumpah di atas cakrawala yang sebelumnya cerah.
Awan kumulonimbus menggulung rendah, menghimpit padang rumput sunyi di pinggiran kota yang biasanya tak tersentuh langkah manusia.
Di tengah deru angin yang mulai mengganas, dr. Sawitri Setyaningrum merapatkan jas hujannya yang mulai berkibar tak keruan.
Jemarinya yang ramping namun kokoh menggenggam ponsel di telinga kanan, sementara rambutnya yang terikat rapi mulai berantakan dihantam badai.
"Sawitri! Kenapa kamu nekat ke lokasi sendirian? Tempat itu sepi, kalau ada apa-apa bagaimana?" Suara Iptu Tari di seberang telepon terdengar panik, nyaris tertutup deru angin.
Sawitri hanya menatap lurus ke depan, matanya tajam memindai area di depannya.
Sebagai dokter spesialis forensik, dia sudah terlalu terbiasa dengan keheningan mayat daripada keriuhan manusia hidup.
"Aku sudah bertahun-tahun jadi ahli forensik, Tari. Turun ke lapangan sendirian bukan hal baru," jawab Sawitri tenang, nyaris tanpa emosi.
"Tapi pembunuh kali ini benar-benar brutal! Kamu lihat sendiri kan hasil autopsinya korban lainnya? Overkill, luka-lukanya tidak wajar, seperti ada dendam kesumat yang meluap!" Tari berteriak, suara deru mesin mobilnya terdengar dipacu maksimal.
"Justru karena itu aku harus di sini," gumam Sawitri sambil berjongkok di dekat tumpukan batu.
"Hujan sebentar lagi turun. Kalau bukti di TKP ini tersapu air, kita akan kehilangan jejak penting."
"Sawitri, tunggu aku! Aku sudah dekat, jangan—"
"Aku sudah sampai di TKP."
Klik. Sawitri mematikan sambungan telepon sebelum Tari sempat menyelesaikan kalimatnya.
Petir ungu membelah langit, menerangi sekilas siluet Sawitri yang mulai mengenakan sarung tangan lateks di tengah kegelapan yang merayap.
Dia tidak peduli pada gemuruh guntur, fokusnya hanya pada satu titik, lokasi penemuan korban ketiga.
Luka di leher korban ini identik dengan dua korban sebelumnya, namun ada anomali yang mengusik rasionalitas Sawitri.
Di punggung korban ketiga ini, tidak ditemukan guratan simbol mistis yang selalu ada pada korban-korban sebelumnya.
"Ada defensive wound di lengan, tapi memar di tengkuk menunjukkan serangan dari belakang," batin Sawitri, matanya memicing menganalisis bercak darah di bebatuan.
Bau tanah basah menguar tajam, bercampur dengan aroma anyir yang samar namun tertangkap oleh indra penciumannya yang terlatih.
Tiba-tiba, firasatnya berdenyut kencang, sesuatu yang lebih dingin dari angin malam merayap di belakang punggungnya.
Kilat menyambar lagi, menerangi sebuah batu besar di depan Sawitri yang kini berlumuran darah segar membentuk simbol mengerikan.
Namun, bukan simbol itu yang membuat jantungnya berdegup, melainkan bayangan kurus yang berdiri tepat di balik batu tersebut.
Sawitri bereaksi cepat, tubuhnya yang terlatih bela diri Tarung Derajat bergeser ke samping, menghindari tusukan belati yang mengarah ke ulu hati.
Mata pisau itu berkilat dingin di bawah cahaya petir, membawa hawa kematian yang nyata.
Hujan tumpah seketika, mengaburkan pandangan dan mengubah tanah menjadi lumpur licin.
Sawitri berhasil mencengkeram pergelangan tangan si penyerang, lalu melayangkan lutut kanannya dengan telak ke perut lawan.
Lelaki kurus itu mengerang kesakitan, namun ada sesuatu yang janggal dalam perhitungan medis Sawitri.
"Tenaga orang ini tidak mungkin bisa menghasilkan luka sedalam yang ada pada korban," pikirnya cepat.
Belum sempat Sawitri menghindar dari serangan berikutnya, sebuah hantaman keras mendarat di belakang kepalanya.
"Trauma tumpul di oksipital..." batinnya sesaat sebelum dunianya berputar hebat dan ia tersungkur ke lumpur dingin.
Dalam kesadaran yang kian menipis, Sawitri merasakan dinginnya baja menembus tubuhnya berkali-kali.
Anehnya, rasa takut itu tidak ada, yang ada hanyalah kekecewaan karena ia menyadari satu hal penting di detik-detik terakhirnya.
Ada dua orang di sana, satu kurus, satu lagi bertubuh tegap yang menghantamnya tadi.
Ini bukan aksi tunggal, melainkan kejahatan kelompok.
Sawitri memaksa matanya tetap terbuka, merekam wajah kedua orang itu saat kilat terakhir menyambar.
Jemarinya yang bersimbah darah bergerak lemah, mencakar tanah, meninggalkan jejak yang ia harap bisa dibaca oleh Tari nanti.
"Semoga kuku ini menyimpan sisa kulit mereka untuk tes DNA," bisik jiwanya sebelum kegelapan total menjemput.
Guntur menggelegar, namun suaranya terasa berbeda, lebih berat, lebih purba.
Sawitri tersentak bangun, napasnya memburu seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam lama.
Keringat dingin membasahi pakaian kain kasar putih yang ia kenakan.
Ia mengerjapkan mata, namun pemandangan di depannya bukan lagi padang rumput pinggiran Jakarta atau ruang otopsi yang steril.
Ia berada di sebuah kamar kayu dengan arsitektur kuno.
Sebuah meja kayu jati tua dengan ukiran kembang di sudutnya berdiri di tengah ruangan, ditemani pelita minyak yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah pintu.
"Aku... masih hidup?" Sawitri menyentuh lehernya, tidak ada bekas luka tusukan, hanya rasa lemas yang luar biasa.
Ia menoleh ke arah cermin perunggu di sudut kamar.
Wajah yang terpantul di sana adalah wajahnya, namun lebih muda, lebih pucat, dan tampak sangat rapuh dalam balutan kebaya yang sudah menipis warnanya.
"Ndara? Ndara Ayu Sawitri? Ndara pun tangi?" Sebuah suara cemas terdengar dari balik pintu.
Seorang gadis muda mengenakan kemben dan jarik lusuh masuk dengan tergesa-gesa.
Tangannya gemetar membawa mangkuk tanah liat berisi cairan hitam pekat yang baunya sangat menyengat, jamu brotowali.
Ingatan asing tiba-tiba menghantam kepala Sawitri sekuat palu godam.
Ia adalah Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum, putri sulung Kanjeng Raden Tumenggung Danurejo yang dibuang ke pesanggrahan terpencil karena dianggap membawa sial setelah kematian ibundanya, Raden Ayu Kinanti.
"Ndara, mangga unjuk jamunipun. Tubuh Anda panas sekali sejak semalam," ucap gadis itu, Ndari, sambil menyodorkan mangkuk ke bibir Sawitri.
Sawitri mengernyit.
Bau paitan jamu itu sangat tajam, namun ia tahu secara medis bahwa alkaloid dalam brotowali memang efektif untuk menurunkan demam, meski rasanya seperti empedu.
Ia meminum jamu itu dalam satu tegukan tanpa ekspresi, membuat Ndari terbelalak heran.
Biasanya, Nona mudanya akan menangis dan meronta hanya untuk meminum satu sendok jamu tersebut.
"Ndara... Anda tidak apa-apa?" tanya Ndari ragu.
"Aku baik-baik saja, Ndari," jawab Sawitri pendek.
"Buka pintu! Mana setoran kalian?!"
Suara tawa serak bergema di tengah badai.
“Nyuwun pangapunten, Kang. Ndara Ayu saweg gerah.”
Suara Nyi Inggit memohon di luar sana terdengar bergetar ketakutan.
"Persetan dengan Ndara-mu! Nek mboten bayar, angkat kaki kalian dari pesanggrahan ini!"
Sawitri menyibakkan selimut luriknya dalam diam.
Ia bangkit dengan tubuh ringkih yang bergetar.
"Ndara badhe teng pundi?" cegah Ndari panik.
"Menyambut tamu."
Kebaya lawasan dan jarik batiknya yang menipis berkibar tertiup angin dingin dari celah pintu.
"Setoran apa yang kalian maksud?" tanya Sawitri dari ambang pintu.
Matanya menatap tajam lima centeng bayaran bertampang beringas di teras.
"Heh, Nimas. Tanah ini sudah digadaikan ke juragan kami. Bayar, atau kami seret kau keluar!" ancam preman bertubuh gempal.
"Menyeret putri kandung Tumenggung Mataram? Sentuh aku, dan kau tanggung akibatnya.”
"Cih! Tumenggung sudah membuangmu, Ndara!"
Seorang lelaki gempal di sebelah preman itu maju, berniat menjambak rambut Sawitri.
"Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat di lengan lelaki itu.
Bukan dari Sawitri, melainkan Ndari yang maju menerjang bak singa betina.
"Wani kowe ndemek Ndara Ayu!" jerit Ndari garang.
Preman gempal itu murka.
Golok ditebaskan dengan liar, namun Sawitri bertindak lebih cepat.
Satu putaran tajam, diakhiri sentakan keras ke bawah.
Krek.
"Gusti, ampun! Lenganku! Ampun!"
Pria gempal itu berlutut di lumpur, menjerit kesakitan menahan tulangnya yang bergeser.
"Siapa lagi yang mau minta setoran?"
Sawitri menatap empat pria lainnya dengan sorot mata sedingin es.
Mereka mundur teratur, nyali mereka ciut seketika.
"Sampaikan pada selir majikanmu itu."
Sawitri menendang dada centeng di bawahnya hingga terguling jatuh ke pelataran basah.
"Jangan pernah menginjak halaman ini lagi."
Ia membalikkan badan, memunggungi mereka.
"Pergi!"
Kelima centeng itu lari tunggang langgang, menghilang ditelan gelapnya alas.
Sawitri terbatuk hebat.
Darah segar merembes dari sudut bibirnya, tubuh ringkih ini belum sanggup menahan ledakan tenaga tadi.
"Gusti Pangeran! Ndara Ayu!"
Nyi Inggit memekik histeris, menyanggah tubuh Sawitri yang limbung.
"Nyi, bawa Ndara masuk. Kulo ambilkan air hangat," Ndari terisak, berlari ke dapur luar.
Di atas dipan, Nyi Inggit mengusap lembut dahi Sawitri yang berkeringat dingin.
"Ndara Ayu kok nekat. Kalau Romo Tumenggung dengar, kita bisa diusir sungguhan."
"Romo tidak akan peduli, Nyi. Mulai sekarang, kita yang menentukan nasib kita sendiri."
Cahaya pelita bergoyang tertiup angin malam yang menyusup dari celah bilik bambu.
Sawitri bersandar di dipan kayu jati yang berderit pelan.
Napasnya masih terasa berat, menyisakan rasa amis darah di pangkal tenggorokan.
"Ndara Ayu, kulo mboten tega," isak Nyi Inggit, jemarinya yang keriput mengusap lengan Sawitri yang sedingin es.
"Seandainya Raden Ayu Kinanti masih ada, Ndara tidak akan dibuang ke pesanggrahan reot ini."
Mata tua itu meneteskan air mata, meratapi nasib putri majikannya yang terbuang.
Tumenggung Danurejo, ayah kandung Sawitri, membuangnya karena desakan selir muda.
Alasannya klise, Sawitri dituduh membawa sial sejak lahir.
Sawitri menatap langit-langit anyaman daun jati dengan sorot mata datar.
"Menangis tidak akan mengubah nasib kita, Nyi."
Suaranya pelan namun setajam sembilu.
"Mulai detik ini, pesanggrahan ini adalah wilayahku. Tidak ada yang boleh menginjakkan kaki tanpa izinku."
Ndari yang sedang mengaduk sisa jamu paitan menatap majikannya dengan mata membulat.
"Ndara... Ndara sungguh berbeda sekarang," cicit gadis batur itu ragu.
"Aku hanya lelah menjadi korban, Ndari."
Sawitri memejamkan mata, membiarkan pikirannya menganalisis kondisi fisiknya sendiri.
"Malnutrisi kronis dan kelelahan ekstrem," batin Sawitri menilai detak jantungnya yang tidak beraturan.
Tubuh gadis delapan belas tahun ini terlalu ringkih untuk jiwa seorang spesialis forensik berusia awal tiga puluhan.
"Aku butuh istirahat. Besok, carikan aku akar alang-alang dan daun sambiloto di pinggir hutan."
"Nggih, Ndara Ayu," jawab Ndari cepat, menyelimuti kaki Sawitri dengan kain lurik tua.
Dua minggu berlalu semenjak malam itu.
Pesanggrahan terpencil di tepi alas Mataram itu kini terasa lebih hidup.
Sawitri duduk di tepi aliran Kali Opak yang beriak tenang.
Jarik batiknya yang memudar ditarik sedikit ke atas, menghindari cipratan air.
Dua keping uang kepeng perunggu tergeletak di telapak tangannya.
Di sebelahnya, sebuah tenggok bambu berisi ubi jalar dan seikat daun singkong teronggok bisu.
Itulah bayaran yang ia terima setelah mengobati demam anak seorang petani pagi ini.
"Praktik medis dibayar dengan ubi," gumam Sawitri, sudut bibirnya berkedut tipis membentuk senyum sinis.
Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan sungai yang jernih.
Gadis beralis bulan sabit, berhidung bangir, dengan kulit pucat yang mulai menunjukkan rona kemerahan.
"Fisik ini perlahan mulai pulih," batinnya sambil mengikat rambut panjangnya yang mulai terawat dengan seutas akar wangi.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terseret dan terburu-buru memecah keheningan hutan bambu.
"Ndara! Ndara Ayu!"
Ndari berlari tergopoh-gopoh, kembennya nyaris melorot saking paniknya.
Di belakangnya, seorang pria tua bertelanjang dada mengikuti dengan napas memburu.
"Ada apa, Ndari?" Sawitri bangkit, seketika insting dokternya mengambil alih.
"Gusti Pangeran... tolong kulo, Ndara..." Pria tua itu jatuh berlutut di atas tanah berlumpur.
"Istri anak kulo, Karyo... dia terpeleset jatuh ke kedung sungai!"
Mata Sawitri memicing tajam.
"Kondisi korban?" tanyanya cepat, nadanya berubah menjadi sangat otoriter.
Pria tua itu kebingungan dengan istilah 'korban', tapi Ndari segera menyela.
"Mbakyu Karti sedang hamil tua, Ndara! Delapan bulan!"
Jantung Sawitri berdegup. Waktu adalah segalanya sekarang.
"Bawa aku ke sana. Sekarang!"
Sawitri setengah berlari menembus rimbunnya ilalang, meninggalkan tenggok ubi jalarnya begitu saja.
Pikirannya berpacu, menghitung estimasi waktu tenggelam dan sisa oksigen di dalam rahim.
Di hilir sungai, kerumunan warga desa sudah berkumpul membentuk lingkaran.
Suara raungan dan tangis histeris menyayat langit sore yang mulai menguning.
Kang Karyo duduk bersimpuh di tanah, memeluk tubuh istrinya yang basah kuyup dan terbujur kaku.
"Minggir! Beri jalan!" teriak Ndari sambil membelah kerumunan.
Sawitri menerobos masuk tanpa permisi.
Mata forensiknya langsung bekerja, memindai tubuh wanita malang itu dalam hitungan detik.
Kulit wajah jenazah sudah membiru.
Sawitri berjongkok, meletakkan dua jarinya di leher mendiang.
Nihil. Tidak ada denyut nadi.
Ia menempelkan telinganya ke dada jenazah. Hening. Tidak ada detak jantung.
"Istriku... istriku sudah tiada, Ndara," raung Kang Karyo, memukul-mukul tanah dengan putus asa.
Sawitri tidak mengacuhkan tangisan pria itu.
Tangannya dengan cepat meraba perut buncit wanita itu yang terbalut kebaya basah.
Ada pergerakan yang sangat lemah di dalam sana.
"Asfiksia mematikan ibunya, tapi suplai darah di plasenta masih menyimpan sedikit waktu," analisis Sawitri dalam monolog batinnya.
"Janinnya sedang mengalami fetal distress hebat. Aku punya waktu kurang dari tiga menit."
Sawitri mendongak, menatap Kang Karyo dengan sorot mata sedingin malaikat maut.
"Berhenti menangis! Kau mau anakmu ikut mati?!" bentaknya tajam, membuat seluruh warga desa terdiam ngeri.
Kang Karyo tersentak, air matanya berhenti mengalir.
"A-anakku? Anakku masih hidup?" tanyanya terbata.
"Ndari! Buat pemisah untuk menutupi kami!" perintah Sawitri cepat.
Ndari langsung bergerak gesit, dibantu beberapa ibu-ibu desa membentangkan kain jarik mereka.
Mereka membentuk bilik darurat di pinggir sungai, menyembunyikan Sawitri, jenazah Karti, dan Kang Karyo dari pandangan umum.
"Kang Karyo, berikan aku pisau belatimu. Yang tajam!"
Tangan Sawitri menengadah, wajahnya datar tanpa emosi.
"Pisau? U-untuk apa, Ndara?" Kang Karyo gemetar merogoh saku celana pangsinya.
"Untuk mengeluarkan anakmu. Cepat!"
Mata Kang Karyo membelalak ngeri, tapi sorot mata Sawitri yang mutlak memaksanya menyerahkan belati itu.
Sawitri menerima belati itu, tidak memedulikan absennya kesterilan alat saat ini.
Ini adalah pembedahan darurat di alam liar.
Jika ia ragu sedetik saja, nyawa bayi itu akan melayang.
Dengan gerakan yang terukur, presisi, dan tanpa keraguan, Sawitri menekan ujung belati ke perut jenazah.
"Maafkan aku," bisik Sawitri lirih pada jenazah wanita itu.
Sret!
Satu sayatan panjang membelah lapisan perut dengan sangat akurat.
Darah kental yang mulai gelap merembes keluar, menodai tangan pucat Sawitri.
Kang Karyo menutup mulutnya dengan kedua tangan, nyaris pingsan melihat sang istri dibelah.
Sawitri mengabaikannya. Wajahnya keras seperti pualam.
Jemarinya yang cekatan merobek lapisan pelindung rahim yang mulai kehilangan kelenturannya.
Air ketuban bercampur darah tumpah membasahi tanah berlumpur.
Sebuah tubuh mungil yang membiru terlihat meringkuk di dalam sana.
Sawitri menarik janin laki-laki itu keluar dengan sangat hati-hati namun cekatan.
Bayi itu tidak bergerak, tubuhnya pucat dingin dan lemas.
"Ndara... anakku..." Kang Karyo merintih parau.
"Diam!" tegur Sawitri dingin.
Ia memotong tali pusar dengan belati, mengikat sisa ujungnya dengan robekan kain kembennya sendiri.
Lalu, ia membalikkan tubuh bayi mungil itu.
Sawitri membersihkan sisa air ketuban dari mulut dan hidung bayi itu menggunakan telunjuknya.
Dengan telapak tangannya, ia menepuk punggung bayi itu agak keras. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Hening.
Ketegangan di dalam bilik kain jarik itu terasa begitu pekat hingga membuat napas tercekat.
Sawitri membalik tubuh bayi itu lagi, menggunakan kedua ibu jarinya untuk menekan dada mungil itu secara ritmis.
"Bernapaslah," desis Sawitri, matanya menyipit menatap wajah bayi yang membiru.
Ia memberikan tiupan udara kecil ke mulut dan hidung bayi itu secara bersamaan.
Satu siklus. Dua siklus.
Pada detik kesepuluh, tubuh mungil itu tersentak pelan.
"Oeeeekk! Oeeeeekkk!"
Suara tangisan melengking memecah keheningan senja, mengalahkan suara deburan air sungai.
Warga desa di luar bilik jarik terkesiap, lalu bersorak haru tak percaya.
Kang Karyo menangis sejadi-jadinya.
Sawitri mengusap darah di keningnya dengan punggung tangan.
Ia menyerahkan bayi laki-laki yang menangis kuat itu ke pelukan ayahnya.
"Sembunyikan di balik dadamu. Suhu tubuhnya masih terlalu rendah," perintah Sawitri datar.
Kang Karyo mendekap erat anaknya, menciumi wajah mungil yang berlumuran darah itu.
Sementara itu, tugas Sawitri belum selesai.
Ia menatap jenazah wanita di depannya.
Sebagai dokter forensik, menghormati jenazah adalah kode etik tertinggi.
"Ambilkan jarum dan benang rami," perintah Sawitri pada Ndari yang mengintip dari balik celah jarik.
Dengan tangan telanjang yang masih merah oleh darah, Sawitri menjahit kembali perut jenazah itu.
Jahitannya sangat rapi, rapat, dan profesional, meminimalisir kesan mengerikan pada jasad.
"Selesai. Bersihkan istrimu dan makamkan dengan layak."
Sawitri berdiri, kakinya sedikit kebas karena sisa kelelahan fisik tubuh lamanya, tapi posturnya tetap tegak menantang.
Kang Karyo meletakkan bayinya sejenak di atas kain kering pelindung, lalu bersujud di lumpur dekat kaki Sawitri.
Dahinya dibiarkan menempel di tanah kotor.
"Matur sembah nuwun, Ndara Ayu! Kulo mboten saged balas budi jenengan. Nyawa kulo milik Ndara!" isak Kang Karyo meledak.
"Bangunlah. Aku tidak butuh nyawamu."
Sawitri menarik kakinya perlahan, menatap pria itu tanpa segan apalagi pongah.
"Rawat anakmu. Itu sudah cukup."
Ia berjalan pelan menembus bilik kain jarik.
Sore itu, seluruh warga desa menatapnya dengan pandangan berbeda.
Bukan lagi tatapan kasihan pada putri terbuang, melainkan rasa hormat dan ketakutan yang suci.
Langkah Sawitri di tanah berumput diikuti oleh tatapan memuja penduduk desa.
Ndari berlari kecil menyusul majikannya, wajahnya berseri-seri di balik kepanikan sisa tadi.
"Ndara Ayu! Ndara sungguh luar biasa!" seru Ndari takjub.
"Mereka bilang Ndara ini titisan dewi! Ndara pakai ilmu aji-aji sihir kan untuk menghidupkan bayi itu?"
Sawitri terus melangkah pelan kembali ke pesanggrahan, tanpa menoleh.
"Itu bukan sihir, Ndari," jawabnya sangat datar, mengusap sisa darah di lengannya.
"Itu Caesar."
Ndari mengerjap, langkahnya tertinggal beberapa inci di belakang sang majikan.
"Ce... Cesar ki opo Ndara? Apa itu sejenis aji-aji dari Keraton, Ndara?"
Sawitri hanya mendengus pelan, menatap langit senja Kerajaan Mataram yang mulai dihiasi semburat oranye.
Satu hal yang ia tahu pasti.
Mulai hari ini, namanya akan terdengar sampai ke telinga orang-orang yang membuangnya.
Dan saat waktu itu tiba, Sawitri Setyaningrum sudah harus siap menyambut mereka.
Sawitri menghentikan langkahnya secara mendadak.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Ndari dengan sorot mata sedingin es di puncak Merapi.
"Kau mau kuajari? Membelah perut manusia itu sebetulnya jauh lebih logis daripada menganyam tikar pandan."
Wajah Ndari pucat pasi seketika, darah seolah terhisap habis dari wajahnya.
Gadis batur itu mundur dua langkah dengan gemetar, nyaris tersandung akar pohon beringin.
"Boten, Ndara! Kulo ampun!" jerit Ndari panik sambil menggeleng kuat-kuat.
"Kulo mending disuruh masak oseng terong pedas seumur hidup daripada pegang belati berdarah!"
Mendengar kata 'oseng terong', napas Sawitri tertahan.
Langkah kakinya terhenti sepenuhnya, mematung di tengah jalan tanah setapak.
Tari...
Nama sahabat polisinya di kehidupan modern itu melintas di benaknya tanpa permisi, menghantam dadanya dengan keras.
Dulu, setiap kali Sawitri dan Tari menyelesaikan sebuah kasus, Tari selalu memaksanya memasak sayur lodeh dan oseng terong untuknya.
"Kamu bukan cuma punya pisau bedah di otakmu, Wit. Tapi tanganmu itu tangan koki bintang lima," puji Tari sambil tertawa lebar di dapur apartemennya waktu itu.
Rasa nyeri yang asing dan menyesakkan tiba-tiba meremas ulu hati Sawitri.
Ia bukan lagi dr. Sawitri Sp.F di Jakarta yang dikelilingi lampu neon steril dan meja bedah baja.
Ia kini terperangkap di tubuh putri buangan Mataram, hidup di pesanggrahan reot yang atapnya bocor saat hujan.
"Ndara? Ndara Ayu sakit?" tegur Ndari cemas, melihat wajah majikannya berubah kaku bak arca batu.
Sawitri menarik napas panjang, menekan emosi personalnya itu dalam-dalam hingga terkunci di sudut tergelap akalnya.
"Aku baik-baik saja," suaranya kembali datar, rasional, dan tanpa celah.
"Satu hal yang pasti, Ndari. Tutup mulutmu rapat-rapat di depan Nyi Inggit soal kejadian pembedahan tadi sore."
Ndari mengangguk cepat, matanya masih memancarkan sisa ketakutan.
"Nggih, Ndara. Kulo paham. Nyi Inggit pasti pingsan di tempat kalau dengar Ndara membelah perut orang mati."
Sawitri kembali melangkah menuju pesanggrahan yang tampak samar ditelan temaram senja.
Logikanya tahu betul, Nyi Inggit tidak akan sanggup menerima realita tabu ini.
Di era di mana jasad manusia disakralkan secara spiritual, membedah perut jenazah pasti akan dianggap sebagai penistaan maut yang berujung pada hukuman pancung.
Tiga hari kemudian.
Kabut pagi masih menggantung pekat bak selimut abu-abu di lereng pesanggrahan terpencil itu.
Embun menetes dari ujung daun pisang, memecah keheningan fajar yang membeku.
Di tengah pelataran tanah liat yang basah, Sawitri bergerak dalam diam mutlak.
Ia mengenakan pakaian longgar dari kain belacu putih murni yang dijahit serampangan oleh Ndari.
Kuda-kudanya kokoh mencengkeram tanah, ritme napasnya diatur dalam frekuensi yang mematikan.
Satu pukulan tajam membelah udara, disusul tangkisan kilat, dan diakhiri sapuan kaki yang presisi.
Ini sama sekali bukan tarian keraton yang gemulai, melainkan jurus dasar bela diri Tarung Derajat.
Ia sedang memaksa tubuh ringkih ini membangun kembali memori otot petarungnya.
"Gusti Pangeran Maha Suci! Ndara Ayu!"
Pekikan melengking memecah konsentrasi Sawitri seketika.
Nyi Inggit berlari keluar dari ambang pintu dapur, tangannya gemetar hebat memegang irus kayu.
"Pakaian apa niku, Ndara? Ya ampun, mirip sekali dengan kain kafan orang mati!"
Mata tua Nyi Inggit berkaca-kaca menatap ngeri pada setelan putih longgar yang membalut tubuh majikannya.
Sawitri menurunkan kepalan tangannya perlahan tanpa tergesa-gesa.
Ia mengatur ritme napasnya kembali normal, mengabaikan tatapan ngeri pengasuhnya.
"Kain ini ringan. Keringat jauh lebih mudah menyerap, Nyi."
"Boten pantes, Ndara! Jika ada batur Kadipaten yang kebetulan lewat, kita bisa dituduh melakukan tirakat sesat!"
Belum sempat Sawitri menimpali, terdengar suara ketukan keras dan berisik dari arah gerbang bambu depan.
"Kulo buka dulu. Ndara kedah cepat ganti baju!" Nyi Inggit mendorong pelan punggung Sawitri menuju bilik tidurnya.
Sawitri mendengus pelan, namun ia tidak membantah.
Ia melangkah masuk dan segera meraih kebaya lawasan berwarna ungu gelap, merangkapnya menutupi pakaian belacu putihnya.
Baru saja ia mengaitkan peniti tembaga terakhir di dadanya, suara isak tangis yang riuh terdengar dari arah halaman.
Sawitri menyibak tirai rami kamarnya dan melangkah keluar ke teras pendopo kecilnya.
Lebih dari sepuluh orang warga desa berlutut di pelataran tanah liatnya yang sempit dan basah.
Di barisan paling depan, Kang Karyo memeluk erat buntalan kain tebal berisi bayi merah yang tertidur pulas.
Nyi Inggit mundur merapat ke dinding bambu, wajah tuanya dilanda kebingungan total melihat kerumunan itu.
"Matur sembah nuwun, Gusti Tabib!" seru Kang Karyo dengan suara serak dan bergetar.
Pria desa berpakaian lusuh itu membenturkan dahinya ke tanah berbatu dengan keras.
"Kulo datang membawa saudara sedarah kulo. Kami semua siap menjadi abdi dalem Ndara Ayu seumur hidup!"
Sawitri berdiri di undakan teratas pendopo kayunya dengan postur tegak paripurna.
Tidak ada senyum bangga, tak ada kilat haru di wajah pucatnya yang menatap datar ke bawah.
"Bangun," perintah Sawitri tegas, suaranya tak lebih keras dari desiran angin, namun berhasil memotong semua isak tangis di sana.
"Kulo boten berani, Ndara! Hutang nyawa harus dibayar nyawa!" bantah Kang Karyo keras kepala, enggan mengangkat wajahnya dari lumpur.
Sawitri menuruni satu anak tangga kayu yang berderit menahan berat badannya.
Matanya yang tajam bak elang mengunci punggung Kang Karyo.
"Aku Tabib. Aku bukan tengkulak nyawa."
Kata-kata itu meluncur dingin, menghujam tajam tanpa bisa dibantah.
"Menjadi abdi dalemku berarti kau membuang kedaulatan masa depan anakmu."
Sawitri melipat kedua lengannya di dada.
"Aku membelah ibunya agar anak itu bisa hidup bebas, bukan untuk melahirkan batur baru di tanah ini."
Kang Karyo tersedak oleh tangisnya sendiri, tak mampu menyanggah kelugasan argumen yang membekukan itu.
Sawitri menoleh sedikit ke arah Ndari yang mematung di dekat tempayan air.
"Ndari, berikan lembaran daun lontar itu padanya sekarang."
Ndari tersentak sadar, lalu buru-buru berlari menyerahkan sepotong daun lontar berisi ukiran aksara Jawa.
"Itu resep jamu pelancar air susu ibu untuk diserahkan pada perempuan yang menyusui bayimu."
Sawitri membalikkan badan, kembali menaiki undakan pendopo.
"Dan pastikan bayi itu dijemur saat matahari terbit agar tidak kuning. Pulanglah."
Sawitri mendorong pintu kayu jati tua itu hingga tertutup rapat dengan suara debuman pelan.
Meninggalkan kerumunan warga desa yang merinding ngeri sekaligus dipenuhi takjub pada wibawa sang Ndara Ayu.
Setengah bulan berlalu dengan cepat tanpa disadari.
Rumor tentang "Ndara Tabib Sakti" dari pesanggrahan tanah buangan menyebar laksana api melahap jerami kering di musim kemarau.
Warga dari berbagai desa silih berganti datang meminta pengobatan, membawa barter ubi, telur, hingga kepingan uang kepeng perunggu murni.
Tenggok bambu yang dianyam rapat di sudut kamar Nyi Inggit kini mulai berat oleh kepingan harta.
"Ndara Ayu," Nyi Inggit menghampiri Sawitri yang sedang duduk hening di teras samping.
Siang itu matahari bersinar sangat terik, panasnya memanggang atap ijuk pesanggrahan hingga menebarkan bau gosong yang samar.
"Kepingan uang kita sudah terkumpul lumayan banyak. Bagaimana kalau besok kulo ke Pasar Kotagede?"
Sawitri tidak menoleh sedikit pun.
Matanya sibuk menganalisis gulungan Serat Triguna Usada, kitab pengobatan Jawa kuno yang baru dibelinya secara barter dari seorang tabib keliling.
"Untuk apa?" tanya Sawitri tanpa setitik pun minat.
"Membeli kain sutra atau minimal kain tenun halus, Ndara. Cuaca sangat panas, kebaya lawasan Ndara sudah terlalu tebal dan berbulu."
"Tidak usah membuang uang."
Sawitri memutar gulungan lontar di tangannya dengan sangat hati-hati agar tidak patah.
"Kain lusuh ini masih bisa dipakai. Uangnya simpan untuk membeli stok akar Somjawa dan pisau perak yang baru."
Nyi Inggit menghela napas panjang hingga dadanya naik turun, hafal betul dengan sekeras apa batu kepala sang majikan.
"Ngapunten... Ndara Tabib wonten?"
Sebuah suara pria yang berat, sopan, namun sangat berwibawa menyela dari arah pintu gerbang bambu yang terbuka separuh.
Sawitri mengangkat wajahnya perlahan dari kitab kuno itu.
Di balik pagar, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan beskap lurik berpotongan rapi dan blangkon bermotif ksatria.
Itu sama sekali bukan warga desa biasa yang mencari obat gatal atau demam.
"Kulo buka pintunya," bisik Ndari gugup, bergegas berlari menunduk menuju gerbang.
Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan langkah terukur, menundukkan kepalanya sedikit ke arah teras.
"Sembah kulo, Ndara Ayu. Kulo Ki Padmo, diutus langsung dari kediaman agung Ki Jayaningrat di pusat kota Kadipaten."
Sawitri meletakkan gulungan lontarnya di atas meja kayu dengan gerakan pelan.
Mata forensiknya langsung bekerja otomatis, memindai fisik Ki Padmo dari ujung kepala hingga ujung alas kakinya.
"Tangan bersih tanpa bekas kapalan pekerja kasar, otot leher tegap, dan sepatu kulit yang terawat. Ini pelayan kasta tinggi," batin Sawitri merangkai deduksi dengan cepat.
"Ada urusan mendesak apa?" tanya Sawitri langsung memotong pada intinya, bahkan tanpa repot menyilakan tamunya duduk di tikar.
Ki Padmo sedikit tersentak ke belakang.
Ia sudah malang melintang menemui puluhan tabib keraton, tapi tak ada satupun yang seketus dan sedingin gadis belia ini.
Bahkan wajah pucat Sawitri tidak menyiratkan setitik pun keramahan atau rasa segan pada tamu terhormat.
"Kulo diutus mencari Ndara Tabib pesanggrahan yang tersohor itu. Ini perihal putra bungsu majikan kulo, Den Bagus Kusuma."
Ki Padmo menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan sikap penuh hormat.
"Beliau sering menjerit kesakitan memegangi kepalanya tanpa henti. Semakin hari nyerinya semakin menyiksa, bahkan kemarin sore beliau pingsan total."
"Berapa usia tepatnya?" Sawitri memotong kalimat itu bagai tebasan pedang.
"D-delapan tahun, Ndara Ayu."
"Keluhan penyerta? Apa dia sering memuntahkan makanannya tiba-tiba tanpa sebab? Apakah pandangannya mengabur?"
Rentetan pertanyaan medis itu meluncur bagai peluru tajam yang menghujam Ki Padmo bertubi-tubi.
"Gusti... Leres, Ndara! Den Bagus sering muntah tiba-tiba, menolak menelan nasi secuil pun!" jawab Ki Padmo takjub, rasa skeptisnya mulai terkikis habis.
"Tahun lalu," Sawitri mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam menembus bola mata pria tua itu.
"Apakah kepalanya pernah terbentur benda keras dengan sangat kuat?"
Ki Padmo membelalak lebar, mulutnya setengah terbuka kehabisan kata-kata.
"Gusti nu agung... dari mana Ndara bisa tahu detail itu? Leres, musim hujan tahun lalu, beliau terpeleset dan kepalanya membentur batu gilang di taman keraton!"
Sawitri bersandar kembali ke kursi goyang kayunya.
Wajahnya tetap datar sempurna, sama sekali tak ada senyum kemenangan di bibirnya.
"Gejala subdural hematoma kronis," sebut Sawitri di dalam kepalanya yang dingin.
"Ada pendarahan perlahan di otaknya. Gumpalan darah mati itu terus membesar dalam setahun dan kini menekan saraf vitalnya secara fatal."
"Jadi... apakah ada racikan jamu atau rajah mantra yang bisa menyelamatkan beliau, Ndara Tabib?" tanya Ki Padmo dengan suara memelas penuh harap.
"Air jamu tidak akan bisa menembus tengkorak manusia."
Sawitri meraih secarik kertas merang kusam dan sebatang arang hitam dari laci mejanya.
"Ada gumpalan darah kotor yang membeku di dalam batok kepalanya. Itu sumber rasa sakitnya, dan itu yang harus dihancurkan."
Ia mencoretkan beberapa aksara Jawa dengan gerakan tangan yang sangat luwes.
"Bawa anak itu kemari besok pagi."
Sawitri mengangsurkan kertas merang itu ke arah udara, memaksa Ki Padmo mendekat untuk mengambilnya.
"Aku akan menggunakan teknik tusuk jarum perak bersuhu panas di titik saraf kepalanya untuk memecah gumpalan darah itu. Resep ini hanya jamu pereda mual sementara."
Tangan Ki Padmo yang menerima kertas merang itu mendadak kaku sekeras kayu.
Tusuk jarum perak berapi?
Ditusukkan ke dalam kepala rapuh anak lelaki pewaris tunggal berusia delapan tahun?
Oleh seorang gadis belia yang menatapnya dengan mata yang seperti tanpa jiwa ini?
"Ndara... Ndara akan menancapkan besi jarum ke kepala... Apakah, apakah tindakan itu mboten mengancam nyawa Den Bagus?" Ki Padmo bertanya ragu, nada suaranya berubah sangat berhati-hati.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!