Matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar, menyentuh permukaan sprei katun yang masih hangat. Namun bagi Haris Abidzar, cahaya yang paling terang ada tepat di pelukannya. Ia tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah gerakan kecil saja bisa menghancurkan momen sempurna ini. Haris membiarkan jemarinya bermain lembut, membelai rambut Haniyah karena ia tertidur setelah zikir subuh yang panjang.
Lima tahun telah berlalu sejak kalimat "Saya terima nikahnya" diucapkan dengan satu tarikan napas di depan penghulu. Namun bagi Haris, setiap pagi tetap terasa seperti hari pertama bulan madu mereka. Ia adalah tipe pria yang masih sering mencuri pandang saat Haniyah sedang sibuk di dapur, atau sengaja memacu kendaraan pulang lebih awal hanya demi melihat senyum lelah namun tulus istrinya menyambut di ambang pintu. Bagi Haris, Haniyah adalah pelabuhan dari segala lelahnya dunia.
"Sudah bangun, Mas?" suara lembut Haniyah memecah keheningan yang nyaman itu.
Mata indah Haniyah perlahan terbuka, menemukan sepasang mata suaminya yang menatap dengan binar penuh kekaguman yang tak pernah pudar. Haris tersenyum lebar, senyum yang selalu berhasil membuat perut Haniyah terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.
"Bagaimana aku bisa berhenti menatapmu kalau setiap hari kamu terlihat semakin cantik? Aku merasa seperti pengantin baru yang selalu takut kehilangan sedetik pun tanpamu, Hani," bisik Haris dengan nada yang dalam dan tulus.
Haniyah tertawa kecil, rona merah muda segera menjalar di pipinya yang bersih. Ia selalu merasa kecil di bawah tatapan memuja Haris. "Mas ini bicara apa pagi-pagi begini. Kita sudah lima tahun menikah, Mas. Masa masih sering gombal seperti remaja yang baru kasmaran?"
Haris tidak membalas dengan tawa. Ia justru bangkit sedikit, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil terus memaku pandangannya pada wajah sang istri. Jemarinya merapikan anak rambut Haniyah yang menyembul dari balik kerudung yang baru dipakai Haniyah.
"Lima tahun, Lima puluh tahun, atau bahkan Lima abad pun, perasaanku tidak akan pernah berubah, Hani. Kamu adalah hadiah terbaik yang pernah Allah titipkan untuk menyempurnakan hidupku. Aku sungguh tidak butuh apa pun lagi di dunia ini, asalkan ada kamu yang selalu setia berdiri di sisiku," ucap Haris dengan nada yang begitu sakral.
Haniyah tertegun. Kalimat terakhir Haris selalu menjadi oase di tengah padang pasir hidupnya. Namun di saat yang sama, kalimat itu menjelma menjadi duri tak kasatmata yang menusuk ulu hatinya. Ia tahu Haris tulus mencintainya tanpa syarat. Ia tahu suaminya tidak pernah menuntut hal yang belum Allah gariskan. Namun, Haniyah juga sadar ada beban sosial dan harapan besar yang seharusnya mereka tanggung bersama, namun kini ia merasa memikulnya sendirian di atas pundaknya yang mulai rapuh.
"Mas mau sarapan apa hari ini?" tanya Haniyah, mencoba mengalihkan gemuruh di dalam dadanya yang mulai sesak oleh rasa haru dan sedih yang bercampur aduk.
Haris menarik hidung Haniyah dengan gemas sebelum menariknya kembali ke dalam dekapan hangat. "Nasi goreng buatanmu dan senyummu yang paling manis. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk menjadi energiku sampai sore nanti."
Kemesraan yang tenang itu tiba-tiba terinterupsi oleh dering keras bel rumah. Suara itu terdengar sangat menuntut, berkali-kali ditekan tanpa jeda seolah-olah sang tamu sedang dalam keadaan darurat yang hebat. Haris mengernyitkan dahi, merasa sedikit terganggu karena waktu berkualitasnya terusik.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya Haris heran sambil melirik jam dinding yang baru menunjuk angka tujuh.
"Biar Niya yang lihat, Mas. Mungkin tukang paket atau tetangga yang ingin meminta tolong," ujar Haniyah sambil bergegas bangun dan merapikan pakaian serta jilbabnya.
Namun, saat pintu depan dibuka, jantung Haniyah seolah berhenti berdetak. Seluruh sendinya terasa lemas seketika. Di sana, di balik pintu kayu itu, berdiri sosok wanita dengan pakaian formal yang sangat rapi. Tatapannya dingin, setajam silet, dengan tangan yang bersedekap di depan dada. Ibu Rosita, mertuanya.
"Mama? Silakan masuk, Ma. Haris ada di dalam, sedang bersiap," sapa Haniyah, berusaha tetap menjaga kesopanan meski suaranya sedikit bergetar karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.
Rosita melangkah masuk tanpa menyahut sapaan menantunya sedikit pun. Ia langsung berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana dengan posisi tegak yang mengintimidasi. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan yang tertata rapi, seolah sedang mencari debu atau cacat di rumah itu. Haris, yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian santai, tampak terkejut melihat kehadiran ibunya.
"Mama? Tumben sekali Mama sudah sampai di sini pagi-pagi. Ada apa? Apa ada kabar penting dari rumah?" Haris mendekat, lalu mencium tangan ibunya dengan takzim.
"Mama memang mau bicara penting. Tapi hanya dengan istrimu. Haris, kamu masuklah ke kamar dulu atau mandi sana. Ini urusan antar perempuan," perintah Rosita dengan nada bicara yang tidak bisa dibantah.
Haris menatap Haniyah dengan cemas. Ia tahu persis bagaimana watak ibunya yang keras. "Bicara apa, Mah? Kalau ini soal keluarga, aku rasa aku juga punya hak untuk tahu dan mendengarnya."
"Haris, jangan mulai membangkang. Mama bilang ini urusan perempuan. Jangan membantah Mama hanya karena kamu ingin terus menempel pada istrimu," suara Rosita meninggi satu oktaf.
Haniyah memberikan kode dengan anggukan kecil serta senyum tipis pada Haris, mencoba meyakinkan suaminya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Tidak apa-apa, Mas. Temani Ibu dulu sebentar di sini, aku akan ke dapur untuk buatkan teh hangat."
Setelah Haris masuk ke dalam kamar dengan langkah ragu, suasana di ruang tamu berubah menjadi mencekam secara instan. Oksigen seolah menghilang dari ruangan itu. Haniyah meletakkan secangkir teh melati hangat di meja dengan tangan yang masih gemetar, namun Rosita bahkan tidak melirik cangkir itu sama sekali.
"Duduk, Haniyah," perintah Rosita pendek.
Haniyah duduk di kursi seberang dengan posisi menunduk, tidak berani menatap mata mertuanya yang membara.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Rosita ketus, meski ia tahu persis jawabannya.
"Sudah jalan Lima tahun, Mah," jawab Haniyah pelan, nyaris berbisik.
"Lima tahun. Dan rumah ini masih sesepi kuburan. Tidak ada tangis bayi, tidak ada tawa anak kecil. Kamu tahu kan, Haris itu anak laki-laki satu-satunya di keluarga besar kita? Dia punya tanggung jawab besar untuk meneruskan nama dan garis keturunan keluarga. Tapi lihat dirimu, Haniyah. Rahimmu masih sunyi seperti tanah tandus yang tidak bisa ditanami benih apa pun," ucap Rosita dengan kata-kata yang begitu berbisa.
Kalimat itu menghujam jantung Haniyah, lebih perih dari sayatan benda tajam. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Mah. Kami juga tidak pernah putus berdoa di setiap sujud kami."
"Doa saja tidak akan cukup kalau memang dasarnya kamu yang bermasalah secara fisik! Mama sudah membawa Haris ke dokter spesialis saat dia masih remaja, dan hasilnya dia sehat sempurna. Jadi kesimpulannya sangat jelas, masalahnya ada di kamu. Mama sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi gunjingan orang-orang. Tetangga sudah mulai berbisik-bisik, teman-teman sosialita Mama sudah menimang cucu kedua bahkan ketiga, sedangkan Mama? Mama hanya bisa diam saat mereka bertanya kapan Haris punya anak," Rosita berbicara dengan napas yang memburu karena emosi.
Rosita memajukan posisi duduknya, menatap Haniyah dengan sorot mata yang mengancam dan penuh tekanan psikologis. "Mama beri waktu tiga bulan lagi. Hanya tiga bulan. Jika dalam waktu singkat ini tes kehamilan itu masih bergaris satu, kamu harus tahu diri dan mengambil sikap yang benar."
Haniyah mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menahan tangis yang mendesak keluar. "Maksud Mama... mengambil sikap yang bagaimana?"
"Relakan Haris untuk menikah lagi dengan wanita lain. Ibu sudah menyiapkan calon yang tepat. Dia gadis shalihah, usianya masih sangat muda, dan yang paling penting, semua saudara perempuannya subur. Jangan menjadi penghalang bagi kebahagiaan dan masa depan anakku hanya karena keegoisanmu yang ingin memilikinya sendirian!" bentak Rosita, tidak peduli jika suaranya terdengar sampai ke dalam kamar.
"Tapi Mah, Mas Haris sangat mencintaiku. Beliau pasti tidak akan mau kalau dipaksa menikah lagi," ucap Haniyah membela diri dengan sisa keberaniannya.
"Dia tidak mau karena dia terlalu kasihan padamu! Dia pria yang terlalu baik sehingga tidak tega menyakitimu. Tapi Mama sebagai orang tuanya tidak akan membiarkan anak Mama menderita tanpa keturunan selamanya. Pikirkan baik-baik, Haniyah. Jika kamu memang mencintai Haris secara tulus, kamu tidak akan membiarkan dia menjadi pohon yang kering dan mati tanpa buah," Rosita berdiri, merapikan tas mahalnya, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban lagi.
Sebelum melangkah keluar, Rosita berbalik sekali lagi dengan senyum sinis yang mengerikan. "Ingat, tiga bulan. Jangan berani-berani memberitahu Haris tentang pembicaraan kita pagi ini jika kamu tidak ingin suasana rumah tangga kalian semakin kacau. Biarkan ini menjadi rahasia antara kita berdua sampai harinya tiba."
Haniyah mematung di tengah ruangan yang terasa sangat luas dan dingin. Dunianya serasa runtuh dalam sekejap mata. Harapan yang ia bangun tadi pagi bersama Haris hancur berkeping-keping. Tak lama kemudian, Haris keluar dari kamar dengan wajah yang sudah segar setelah mandi.
"Mama sudah pulang? Cepat sekali beliau bertamu. Bicara apa tadi sampai wajahmu terlihat sepucat itu?" tanya Haris cemas sambil merangkul pundak istrinya, mencoba mencari jawaban di mata Haniyah.
Haniyah segera menyeka sudut matanya yang mulai basah dengan ujung jilbab sebelum Haris menyadarinya sepenuhnya. Ia memaksakan sebuah senyum yang paling getir dalam hidupnya, sebuah topeng untuk menutupi luka yang menganga di dalam sana.
"Hanya bicara soal arisan besar keluarga bulan depan, Mas. Mama ingin kita datang dan membantu persiapannya," dusta Haniyah. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha menutupinya dengan tawa kecil yang dipaksakan.
Haris menarik napas lega dan mencium pipi istrinya. "Hanya itu? Astagfirullah, aku sempat mengira ada hal serius yang terjadi. Mama memang terkadang terlalu bersemangat dan sedikit keras kalau soal acara keluarga besar."
Haris kembali memeluk Haniyah dengan penuh kasih sayang, namun kali ini Haniyah merasa pelukan itu begitu menyesakkan dadanya. Ia menatap dinding ruang tamu yang hampa dengan tatapan kosong. Di kepalanya, sebuah jam raksasa seolah mulai berdetak dengan suara yang memekakkan telinga, menghitung mundur setiap detik berharga yang ia miliki bersama laki-laki yang sangat ia cintai itu.
Tiga bulan. Hanya tiga bulan sebelum ia dipaksa oleh keadaan untuk memilih: menghancurkan hati Haris dengan pengkhianatannya atau menghancurkan hatinya sendiri dengan merelakan suaminya bersanding dengan wanita lain.
Satu bulan berlalu seperti hembusan angin yang membawa sembilu. Bagi Haniyah, setiap detik yang berdetak di jam dinding ruang tamunya terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuran. Ia berusaha tampil normal di depan Haris, tetap menjadi istri yang paling hangat, meski di dalam dadanya ada bara api yang perlahan menghanguskan ketenangannya.
Sore itu, saat langit mulai merembang jingga, ketenangan Haniyah kembali terkoyak. Suara mobil berhenti di depan rumah, disusul suara langkah kaki yang angkuh. Pintu depan terbuka tanpa ketukan. Ibu Rosita masuk dengan dagu terangkat, namun kali ini ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, seorang wanita muda melangkah dengan penuh percaya diri.
Wanita itu sangat cantik. Rambutnya yang ikal kecokelatan dibiarkan tergerai bebas, menari di bahunya setiap kali ia bergerak. Ia mengenakan pakaian yang modis namun minim, sangat kontras dengan Haniyah yang selalu tertutup rapat. Tanpa mengucapkan salam, mereka berdua masuk dan langsung menduduki sofa panjang seolah mereka adalah pemilik rumah ini.
"Mama? Ada apa kemari lagi?" tanya Haniyah, berusaha meredam debar jantungnya.
"Aku datang untuk memperlihatkan padamu apa yang tidak kamu miliki, Haniyah," sahut Rosita dengan suara sedingin es. Ia melirik wanita di sampingnya. "Kenalkan, ini Deswita. Dia putri dari rekan bisnis almarhum ayah Haris. Dan dia adalah calon istri kedua untuk Haris."
Haniyah merasa seolah ada petir yang menyambar di siang bolong. Matanya beralih menatap Deswita. Wanita itu tidak menunduk malu, ia justru menatap Haniyah dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang merah merona.
"Hai, Haniyah. Ibu Rosita sudah banyak bercerita tentangmu. Sayang sekali ya, wajah cantikmu tidak sebanding dengan kesuburan rahimmu," ucap Deswita dengan nada bicara yang sangat angkuh.
Haniyah terdiam, lidahnya kelu. Ia merasa harga dirinya sedang diinjak-injak di rumahnya sendiri.
"Dengar, Haniyah. Lima tahun sudah berlalu. Lima tahun rahimmu hanya memberikan kehampaan bagi keluarga ini," Rosita kembali mengulang kalimat yang paling dibenci Haniyah. "Mama tidak bisa menunggu selamanya sampai kamu memberikan keajaiban yang tidak mungkin terjadi. Jika dalam dua bulan ke depan tidak ada tanda-tanda kehidupan di perutmu, lepaskan Haris. Biarkan dia menikah dengan Deswita yang jauh lebih mampu memberikan garis keturunan bagi keluarga kami."
Rosita berdiri, diikuti oleh Deswita yang masih sempat-sempatnya merapikan rambut di depan cermin ruang tamu Haniyah. "Jangan egois, Haniyah. Kebahagiaan Haris bukan hanya tentang cinta picisanmu, tapi tentang masa depan nama keluarga. Kami pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, mereka melenggang pergi begitu saja. Haniyah luruh di lantai setelah pintu tertutup. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia melihat ke sekeliling rumah yang ia bangun dengan cinta, kini terasa begitu asing dan menyesakkan. Namun, ia tidak boleh larut. Sebentar lagi Haris pulang. Ia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Dengan sisa tenaga, Haniyah bangkit dan pergi ke dapur. Ia mulai memotong sayuran dan memasak masakan kesukaan Haris. Bau harum masakan memenuhi ruangan, menutupi aroma duka yang sebenarnya sedang menyeruak. Tak lama kemudian, suara mobil Haris terdengar di halaman.
"Assalamualaikum, Sayang!" suara Haris menggema, penuh energi seperti biasanya.
Haris melangkah masuk dan langsung menemukan Haniyah di dapur. Tanpa melepaskan tas kerjanya, ia langsung memeluk Haniyah dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak sang istri.
"Tolong biarkan seperti ini sebentar, Hani. Aku ingin mengisi daya dulu. Tenagaku sudah habis dikuras habis-habisan di kantor hari ini," gumam Haris sambil memejamkan mata.
Haniyah memaksakan sebuah senyum. Ia mengusap punggung tangan Haris yang melingkar di perutnya dengan penuh kasih sayang. "Mas pasti capek sekali ya. Maaf, aku baru selesai memasak."
"Hanya dengan mencium aroma tubuhmu saja, capekku hilang setengah," balas Haris sambil mengecup bahu Haniyah.
Haniyah membalikkan badannya, menatap wajah suaminya yang terlihat lelah namun tetap memandangnya dengan cinta. "Mas mandi dulu sana supaya segar kembali. Setelah itu kita makan malam bersama, ya?"
Haris mengangguk patuh. "Siap, Permaisuriku. Tapi ada satu syarat."
"Apa itu?"
Haris tiba-tiba menangkup wajah Haniyah dan mengecup bibirnya singkat namun penuh perasaan. Sebelum Haniyah sempat bereaksi, Haris sudah berlari kecil menuju kamar sambil tertawa. Haniyah hanya bisa menatap punggung suaminya dengan hati yang hancur. Bagaimana mungkin ia sanggup membagi pria sebaik ini dengan wanita seangkuh Deswita?
Meja makan sudah tertata rapi saat Haris kembali dengan kaos santai dan rambut yang masih agak basah. Ia duduk di kursi sebelah Haniyah, bukan di seberangnya. Ia selalu ingin duduk sedekat mungkin dengan istrinya. Dengan telaten, Haniyah menyendokkan nasi dan lauk ke piring Haris.
Mereka mulai makan dalam keheningan yang sedikit berbeda dari biasanya. Baru beberapa suap nasi masuk ke mulut mereka, Haniyah menghentikan gerakannya. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Haris dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mas..." panggil Haniyah lirih.
"Iya, Sayang? Ada apa? Masakannya enak sekali seperti biasa," sahut Haris sambil terus mengunyah.
"Boleh Niya meminta sesuatu? Dan apakah Mas berjanji akan menuruti keinginanku kali ini?" tanya Haniyah dengan suara yang bergetar.
Haris berhenti makan. Ia menangkap nada serius dalam suara istrinya. Ia meletakkan sendoknya dan menggenggam tangan Haniyah. "Apapun, Sayang. Selama itu baik dan Mas mampu, pasti akan Mas penuhi. Kamu mau liburan? Atau mau beli sesuatu?"
Haniyah menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di lubuk hatinya. "Niya ingin Mas menikah lagi."
Uhuk!
Haris langsung tersedak hebat. Wajahnya memerah karena terkejut dan sumbatan makanan di tenggorokannya. Haniyah dengan sigap memberikan segelas air putih dan menepuk-nepuk punggung suaminya. Setelah Haris mulai tenang dan napasnya kembali teratur, ia menatap Haniyah dengan tatapan tajam yang belum pernah Haniyah lihat sebelumnya.
"Apa maksudmu dengan permintaan itu, Hani? Kamu sedang bercanda, kan?" tanya Haris, suaranya kini terdengar berat dan rendah.
"Niya serius, Mas. Niya ingin kamu segera memiliki keturunan. Niya tidak ingin menjadi penghalang bagimu untuk menjadi seorang ayah. Niya ingin melihat ada anak kecil yang berlari di rumah ini, dan Niya sadar, mungkin Niya tidak bisa memberikannya padamu," ucap Haniyah sambil menahan tangis.
Haris melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri dari kursi, menciptakan jarak yang tiba-tiba terasa begitu lebar. "Hani, apa yang terjadi? Siapa yang datang ke rumah ini saat aku tidak ada? Apa Mama lagi yang bicara padamu?"
"Tidak ada yang datang, Mas. Ini murni keinginanku. Niya hanya ingin kamu bahagia," dusta Haniyah lagi.
Haris mendekati Haniyah, memegang kedua bahu istrinya dan memaksanya untuk mendongak. "Bahagiaku itu kamu, Haniyah Zahira! Dengarkan Mas baik-baik. Cintaku tidak bisa dibagi, dan Mas tidak akan pernah membaginya dengan siapapun. Mas tidak membutuhkan alasan lain untuk mencintaimu selain karena Allah telah memilihmu untukku."
"Tapi Mas, Mama sangat ingin cucu..."
"Urusan anak adalah hak prerogatif Allah! Jika Allah belum memberi, artinya kita harus lebih bersabar, bukan malah mencari jalan pintas yang menyakitimu. Mas menolak permintaanmu, Hani. Jangan pernah ucapkan kata poligami atau menikah lagi di depan mukaku, karena itu sangat melukai perasaanku sebagai suamimu," tegas Haris dengan suara yang bergetar karena emosi.
Haris meninggalkan meja makan begitu saja, masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras. Haniyah terisak di meja makan yang kini terasa begitu dingin. Ia tahu Haris mencintainya, tapi ia juga tahu bahwa tekanan ibunya tidak akan pernah berhenti.
Haniyah menatap piringnya yang masih penuh. Di dalam hatinya, sebuah keputusan besar mulai mengkristal. Jika Haris tidak mau menikah lagi selama ia ada di rumah ini, maka solusinya hanya satu: Ia harus menghilang dari hidup Haris. Bukan karena benci, tapi karena cinta yang terlalu besar sehingga ia tidak sanggup melihat suaminya hancur di antara dua wanita yang ia sayangi.
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di setiap sudut rumah. Setelah membereskan meja makan dengan gerakan yang lambat dan membersihkan dapur hingga mengilap, Haniyah melangkah menuju kamar dengan hati yang diselimuti keraguan. Ia membuka pintu secara perlahan, melihat Haris sudah berbaring di tempat tidur dalam posisi membelakangi pintu. Suaminya tampak sudah tertidur, namun Haniyah tahu ada kegelisahan yang menggantung di udara. Nampaknya, Haris benar-benar marah atas permintaannya di meja makan tadi.
Haniyah mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram dari lampu nakas. Ia membaringkan tubuhnya tepat di samping Haris, lalu dengan gerakan ragu, ia memeluk punggung lebar suaminya. Ia merapatkan wajahnya ke punggung Haris, menghirup aroma maskulin yang selalu menjadi candunya.
"Mas, maafkan Niyah. Niyah tidak bermaksud ingin membuat Mas marah. Niyah hanya merasa takut karena Mama selalu menuntut ingin memiliki cucu," bisik Haniyah dengan suara yang pecah.
Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya tumpah, membasahi kain baju tidur yang dikenakan suaminya. Haniyah terisak kecil, merasa menjadi istri yang sangat buruk karena telah melukai hati suaminya yang begitu baik. Tiba-tiba, tubuh Haris bergerak. Pria itu ternyata belum tidur. Ia membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
Haris menatap mata sembap istrinya, lalu jemarinya bergerak lembut menghapus sisa air mata di pipi Haniyah. Ia mengecup dahi Haniyah dengan penuh kasih sayang, sebuah ciuman yang sangat lama dan menenangkan.
"Mas tidak marah, Hani. Mas hanya sedih karena kamu memikirkan hal itu sendirian," ucap Haris dengan nada rendah yang sangat teduh. "Dengarkan Mas. Belum adanya anak di antara kita itu bukan karena kamu yang salah, bukan karena Mas yang salah, tapi karena Allah ingin kita menikmati masa berdua lebih lama lagi. Mungkin Allah tahu kalau kita punya anak nanti, kamu akan lebih menyayangi anak itu daripada Mas, jadi Dia memberiku waktu untuk bermanja-manja dulu denganmu."
Haniyah sedikit tersenyum mendengar candaan suaminya, meski hatinya masih terasa berat.
"Jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan Mama. Yang menjalankan rumah tangga ini adalah kita, yang menanggung nasib adalah Mas, bukan Mama. Jadi, cukup dengarkan Mas saja, mengerti?" lanjut Haris sambil mengelus pipi istrinya.
Haniyah mengangguk pelan dalam dekapan Haris.
"Sekarang, daripada kita bersedih, mari kita ambil wudhu. Kita sholat bersama agar hatimu lebih tenang," ajak Haris.
Mereka pun bangkit dan menghadap Sang Khalik dalam kesunyian malam. Haris sempat ingin mencumbui istrinya setelah sholat untuk mencairkan suasana, namun ia melihat binar di mata Haniyah masih meredup. Istrinya tampak sangat tidak bersemangat. Sebagai suami yang peka, Haris tidak ingin memaksakan keadaan. Ia akhirnya hanya memeluk Haniyah erat dan mengajaknya tidur.
Di sepertiga malam, Haniyah kembali terbangun. Hatinya masih terasa ganjil. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Di atas sajadah, ia kembali bersujud, mengadu pada pemilik nyawa. Ia teringat dengan jelas ancaman ibu mertuanya tempo hari.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Kalimat itu terngiang-ngiang seperti kutukan. Haniyah menangis dalam sujud terakhirnya. Suara tangisnya tertahan, hanya bahunya yang naik turun karena menahan sesak. Ia merasa berada di persimpangan jalan yang mustahil. Haruskah ia tetap tinggal dan melihat Haris berdosa karena membangkang ibunya, atau ia pergi agar Haris bisa memenuhi keinginan wanita yang telah melahirkannya?
Zikirnya terhenti saat ia mendengar suara langkah kaki. Haris terbangun dan melihat istrinya masih bersimpuh di atas sajadah. Tanpa banyak bicara, Haris masuk ke kamar mandi dan ikut melaksanakan sholat tahajjud di dibelakang istrinya. Setelah salam, Haris segera merapat dan memeluk tubuh Haniyah yang terasa begitu rapuh.
"Kenapa menangis lagi, Sayang?" tanya Haris lembut.
"Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa memberikan keturunan untukmu," jawab Haniyah dengan suara serak.
Haris memegang pundak Haniyah, memaksanya untuk menatap matanya. "Hani, jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Semuanya sudah ada waktunya. Jangan menangis karena takdir Allah, Sayang. Aku memilikimu saja sudah lebih dari cukup bagi dunia dan akhiratku. Anak adalah titipan, dan jika Allah belum menitipkannya, itu bukan berarti kamu gagal. Kamu adalah bidadariku, dengan atau tanpa tangisan bayi di rumah ini."
Hati Haniyah terasa seperti disiram air dingin yang sangat sejuk. Ia merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Haris yang tidak pernah menuntut. Namun, rasa syukur itu justru memperkuat niatnya untuk berkorban. Ia merasa Haris terlalu berharga untuk hidup dalam tekanan ibunya terus-menerus.
Setelah sholat subuh berjamaah, Haniyah menyuruh Haris untuk istirahat sejenak. "Mas tidur lagi saja sebentar. Mas pasti lelah. Nanti kalau sarapan sudah siap, Niyah bangunkan."
Haris mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya. Haniyah pun bergegas ke dapur. Ia memasak sarapan pagi itu dengan penuh perasaan, seolah-olah itu adalah hidangan terakhir yang ia siapkan untuk suaminya. Setelah semuanya siap di meja makan, ia membangunkan Haris dengan lembut.
Mereka sarapan bersama dalam suasana yang tampak jauh lebih tenang dari malam sebelumnya. Haris bercerita tentang pekerjaannya di kantor hari ini, sementara Haniyah mendengarkan dengan senyum yang dipaksakan. Setelah selesai, Haris berpamitan untuk berangkat kerja. Haniyah mengantarnya sampai ke depan rumah, mencium punggung tangan suaminya dengan sangat khidmat dan lama.
Ia berdiri di teras, menyaksikan mobil Haris perlahan menghilang dari pandangan. Begitu mobil itu tak lagi terlihat, pertahanan Haniyah runtuh. Ia segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama di daftar kontak. Ratih, sahabatnya yang bekerja sebagai seorang pengacara.
Panggilan itu tersambung pada nada ketiga.
"Halo, Ratih?" ucap Haniyah dengan suara yang dijaga agar tetap stabil.
"Iya, Hani? Tumben sekali telepon pagi-pagi. Ada apa?" sahut Ratih dari seberang sana dengan nada ceria.
Haniyah menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya yang seolah tersayat-sayat. "Ratih, aku butuh bantuanmu. Bisakah kamu membuatkan dokumen gugatan cerai untukku?"
Hening sesaat di seberang sana. Ratih seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa? Cerai? Hani, kamu bercanda, kan? Kamu dan Haris itu pasangan yang paling romantis yang aku kenal. Ada masalah apa?" tanya Ratih dengan nada terkejut dan penuh selidik.
"Aku tidak bercanda, Ratih. Aku harus melakukan ini. Tolong jangan tanya alasannya sekarang. Aku hanya butuh dokumen itu secepatnya sebelum aku berubah pikiran," jawab Haniyah dengan suara yang mulai bergetar kembali.
"Hani, pikirkan baik-baik. Cerai itu bukan perkara main-main. Kamu sangat mencintai Haris, aku tahu itu!" Ratih mencoba menasihati.
"Justru karena aku mencintainya, Ratih. Karena aku sangat mencintainya, aku harus melepaskannya agar dia bisa memiliki masa depan yang lebih baik daripada bersamaku," bisik Haniyah sebelum akhirnya ia mematikan sambungan telepon itu.
Haniyah terduduk lemas di sofa ruang tamu. Keputusannya sudah bulat. Ia akan pergi, meninggalkan segala kemanisan yang diberikan Haris, demi memberikan apa yang disebut ibunya sebagai "masa depan".
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!