NovelToon NovelToon

Pesona Lukas Seorang Perwira

Yang Pertama

Lucas Abner Gosal Pemuda Minahasa campuran Ambon ini tumbuh dan diajarkan untuk menjadi pria tangguh dan bertanggung jawab. Papanya bernama Cornelius Gosal adalah mantan perwira Angkatan Darat yang sudah pensiun dengan pangkat Mayor. Sedangkan ibunya Rahel Mony adalah seorang perawat senior yang masih berdinas di rumah sakit tentara yang ada di Jakarta. Lucas lahir dan besar di Jakarta. Dan terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga ini.

Kehidupan keluarga ini, tidak semudah seharmonis yang dilihat orang - orang. Papinya adalah laki - laki yang terlahir keras, bertemu dengan perempuan Ambon yang juga sama - sama keras. Susah bagi mereka mempertahankan rumah tangganya karena sifat keras dan cendrung egois.Lucas tumbuh besar melewati semua masalah orangtuanya.

Sekarang dia sudah menjadi laki - laki gagah lulusan terbaik akademi militer dengan pangkat Letnan dua. Dia dipercayakan berada di Pasukan Khusus angkatan Darat. Dan sekarang Lucas sedang mengikuti pendidikan khusus agar dibisa bergabung dengan tim elitenya.

Dengan Tinggi seratus delapan puluh dengan berat badan sembilan puluh kilogram, Lucas selalu menjaga stamina tubuhnya dengan baik. Lucas Abner Gosal lulus dalam pendidikan itu dengan peringkat terbaik dan bergabung dengan tim pasukan khusus elite ini.

Pendidikan yang dijalani oleh Lucas selama tujuh bulan di Kota Bandung selatan. Kecakapan berperang di darat, hutan bahkan lautan semua dilatih. Dan dilanjutkan dengan pendidikan komando, pendidikan spesialis agar bisa mendapat brevet komando atau lencana.

Hari ini Mayor Purnawirawan Cornelius Gosal hadir bersama istrinya Rahel Mony dalam upacara pelantikan pasukan khusus elite dimana anak satu - satunya mereka akan mendapatkan penyematan brevet, baret dan sangkur komando. Sekaligus penugasan pertamanya di Markas besar besar kopassus di Jakarta. Kebanggan tak terkira bagi kedua orangtua Lettu Lucas Abner Gosal.

Tugas pertama Lucas dan tim elitenya yang terdiri dari Matias, Ismail, Isak dan Daniel ini adalah mengejar mafia Narkoba yang sedang merajai bumi persada ini. Informasi yang didapat mereka mempunyai Markas ada disalah satu desa terpencil di Bandung. Setelah melakukan pengintaian. Pabrik rumahan itu berhasil disita dan penanggung jawabnya berhasil di tangkap dan dibawa ke Jakarta untuk di Introgasi.

Pada operasi tangkap tangan itu salah satu rekan kerja mereka Isak terkena luka tusuk. Dan harus dirawat di rumah sakit tentara.

Sore hari Lucas ,bersama Matias, Ismail dan Daniel datang mengunjunginya. Di sebelah tempat Isak dirawat ada beberapa orang laki dan perempuan sedang melihat teman mereka yang juga di rawat. Lucas tertarik dengan senyuman salah satu perempuan yang hanya duduk diam dan sesekali memperlihatkan senyumannya jika apa yang dibicarakan teman - teman mereka lucu. Ternyata temannya yang dirawat adalah anggota tentara juga dari kesatuan yang berbeda.

"Joy, lu ngak berdinas??"

"Kalau berdinas, ngak mungkin dia disini lah??"

"Susah tahu mau mengajak Dokter Joy Debora, bergabung bersama kita."

"Iya ya."

Lucas menangkap pembicaraan mereka, bahwa nama perempuan itu adalah Joy Debora, seorang dokter. Pertemuan pertama ini, membuat Lucas penasaran tentang siapa sosok perempuan itu.

Dua hari kemudian, Lucas kembali ke rumah sakit tentara, namun kali ini menjemput mamanya yang sudah lepas jaga dan berdinas di rumah sakit ini. Tanpa sengaja dia melihat perempuan itu menggunakan jas dokter.

"Ma, itu dokter yang cantik itu kerja dirumah sakit ini??"

"Oooo dokter Joy, iya dia itu dokter spesialis bedah yang diperbantukan disini."

"Bukan dokter tetap."

"Bukan. Kamu kenapa tanya dokter Joy??? Kamu kenal nyong."

"Ya baru mau kenal."

Satu tahun berlalu. Sekarang  Lucas sudah berpangkat Kapten, pangkat ini dia terima setelah melakukan tugas pengamanan dunia di Kamboja. Dan sekarang bersama anggota tim khususnya mereka ditugaskan di Indonesia bagian timur. Usianya sudah tidak muda lagi, namun masih tetap melajang. Dua puluh sembilan tahun. Orangtuanya resah karena sampai sekarang Lucas masih betah sendiri.

Bukan karena tidak ada yang suka, namun kesenangannya berganti - ganti pacar ini yang membuat dia belum mempunyai seseorang yang tetap. Di markas besar Lucas Abner Gosal dijuluki si playboy kopassus. Sebab setiap ada di tempat tugas dia mempunyai wanita. Selesai bertugas selesai juga hubungan  cinta mereka.

Hari ini Lucas dan lima puluh anggota akan di berangkatkan dengan menggunakan pesawat tentara angkatan udara ke Indonesia Bagian Timur tepatnya di Papua. Disana mereka ditugaskan sebagai pasukan pengamanan . Ini penugasan terlama Lucas di bumi persada ini. Bukan tugas sebagai tim elite namun sebagai tentara biasa.

Lucas bukan anak yang baik. Waktu dia masih sekolah suka sekali mabuk bersama teman - temannya. Kelebihannya di bidang akademik ini yang menyelamatkannya. Kalau sudah mabuk, Mamanya lah yang menjemput dia di dalam sebuah diskotik. Kalau papanya yang menjemput sudah pasti muka gantengnya hancur. Sebagai istri mantan seorang tentara, mamanya tidak perna takut masuk tempat - tempat seperti ini. Sekarang Lucas baru sadar bahwa dia sampai seperti sekarang karena kemurahan Tuhan.

"Jaga kesehatan ya sayang."

"Siap mama"

Mamanya langsung memeluk anak  laki - lakinya sangat erat, beliau tahu bahwa medan yang Lucas pergi ini berat, namun ini pilihan cita - cita yang dia mau. Hanya doa seorang ibu menemaninya.

Penerbangan empat sampai lima jam mereka tiba di ibu kota propinsi. Perjalanan tidak berhenti disitu, mereka masih terbang lagi sampai didaerah pegunungan yang sering terjadi konflik. Sebagai Komandan Kapten Lucas Abner Gosal, bertugas memperhatikan anggotanya yang berjumlah lima  puluh orang.

Perjalanan panjang mengudara empat sampai lima jam dilanjutkan dengan tiga jam melewati darat, akhirnya mereka tiba ditempat tugas mereka. Pertama kali Lucas lakukan waktu tiba tentu dia berdoa memohon perlindungan Tuhan karena dia tidak tahu apa yang terjadi satu jam, satu hari bahkan satu bulan kedepan.

Rombongan yang di komandoi Lucas di sambut oleh pejabat daerah setempat. Dan mereka menempati bangunan lama bekas digunakan oleh tentara juga. Selesai melakukan brifing, semua anggota membersihkan tempat tinggal mereka. Masih pukul tiga siang. Lucas menyempatkan diri menghubungi orangtuanya.

Pemandangan di tempat ini masih sangat asri, jelas suplai oksigen murni diperoleh mereka karena tempat mereka dikelilingi oleh hutan - hutan besar. Berbeda dengan Jakarta. Untungnya infrastruktur di sini masih sangat bagus. Dan fasilitas air serta WC bagus. Dan yang utama jaringan seluler juga tidak susah. Signalnya bagus. Sebelah camp mereka ada bangunan puskesmas.

Bagunan - bangunan ini terletak di atas bukit lebih tinggi dari perumahan warga. Waktu insiden berdarah beberapa waktu yang lalu semua tenaga medis ditarik ke pusat. Karena peristiwa itu memakan korban ada yang selamat, namun ada juga yang meninggal.

Malam harinya mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing. Namun Lucas sebagai Komandan  dia harus melaporkan semua perkembangan mereka ke kantor pusat lewat jaringan satelit yang sudah disiapkan.

Pagi harinya mereka melakukan olah raga dengan berlari pagi mengelilingi kampung yang berada di dekat markas mereka. Warga masyarakat setempat menerima kedatangan anggota ini dengan baik. Bahkan mereka semua ramah. Informasi yang Lucas terima bahwa yang membuat suasana tidak aman adalah kelompok - kelompok  kecil dari luar namun disayangkan mereka juga bersenjata.

"Bukan hanya penduduk asli yang mendiami daerah ini, saya lihat ada pendatang juga."

"Iya komandan mereka itu pekerja tambang."

Cewek - cewek di kampung ini, begitu antusias melihat anggota yang berlari pagi. Mereka semua berada diluar pagar rumah mereka.

"Wah bahaya nih Dan banyak godaan juga."

"Banyak berdoa komandan, katanya kalau terikat dengan orang disini ngak bisa balik."

"Busyet sadis amat. Benaran???!"

"Siap benar komandan no hoax." Lucas tersenyum memamerkan lesung pipinya.

Sambil berlari Lucas tersenyum, karena dia sempat mendengar perbincangan dua orang perempuan di depan halaman sekolah, yang memuji ketampanannya, Lucas menebak pasti mereka berdua adalah guru yang bertugas disini.

Lokasi disini baru dibuka lagi, setelah mengalami insiden sekitar sebelas bulan yang lalu. Dan sekarang mulai lagi berdatangan orang - orang diluar kota ini untuk melayani, setelah pemerintah daerah menyatakan tempat ini aman.

Di markas Lucas bertugas sekarang mendapat nama - nama daftar tenaga medis yang harus mereka jemput besok. Katanya mereka sudah tiba di ibu kota propinsi dan besok akan terbang menuju ke tempat ini.

"Dokter Joy Debora spesialis bedah??? Seperti tidak asing dengan nama ini."

"Lapor komandan, kendaran dan fasilitas puskesmas sudah siap untuk menyambut tenaga medis. Laporan selesai." Daniel yang berpangkat sebagai sersan kepala melapor kepada Lucas.

"Besok aku ikut dengan tim penjemputan."

"Siap komandan."

Disebuah bandara kecil, telah mendarat pesawat tentara yang membawa lima belas orang tenaga medis. Terdiri dari empat orang dokter spesialis dan dua dokter umum dan tujuh orang ners. Dan dua orang bidan. Mereka menjadi tenaga medis perdamaian dan ditempatkan disini setelah sudah melalui beberapa kali tes dan pelatihan.

Bukan hanya orangnya saja yang tiba, namun perlengkapan medisnya juga ada. Makanya informasi yang sampai ke markasnya, Lucas harus membawa trek. Karena ada peti - peti kayu berisi alat - alat medis juga harus dibawa ke tempat mereka melayani.

"Sebagai komandan disini, Saya Kapten Lucas Abner Gosal bertanggung jawab atas keselamatan para medis."

 Semua para medis perempuan yang terdiri dari lima orang itu terkesima dengan ketampanan kapten Lucas Gosal. Sedangkan mata Lucas tidak berpindah dari sosok Joy Debora. Mereka saling tatap menatap namun hanya diam membisu, sampai dokter Stev spesialis penyakit dalam mengingatkannya dokter Joy untuk melaporkan keberadaan mereka.

"Terima kasih, atas penyambutannya. Kami tetap mengharapkan bantuan dan perlindungan dari bapak - bapak tentara. Untuk sepengetahuan kami tim medis berjumlah lima belas orang, terdiri dari empat dokter spesialis dua dokter umum dan tujuh tenaga perawat serta dua bidan. Nanti perkenalannya bisa dilakukan ditempat tugas seiring dengan waktu bekerja."

"Laporan diterima . Karena masih ada tiga jam lagi kita tempat tugas. Maka diberi kesempatan sepuluh menit untuk ke toilet."

"Tiga jam????!!!" Mendengar tiga jam perjalanan Joy langsung merespon bertanya.

Melihat muka Joy, Lucas tersenyum. Hati kecilnya berkata bahwa Joy pasti akan terkesima dengan kharismanya. Kamu pasti jadi miliku.

Kesal

Setegah jalan, mobil diberhentikan karena dokter Joy merasa mual. Lucas yang semobil dengannya terpaksa menghentikan mobil yang dikendarai oleh Daniel. Nur bidan yang semobil dengan Joy menolong dokter Joy mengatasi mualnya.

Sebenarnya Dokter Joy Debora sedang sakit waktu berangkat tugas ini, memang dia memaksakan dirinya karena kontrak yang sudah dia lakukan. Satu minggu keberangkatannya, mama Joy meninggal dunia akibat Kanker Leukimia hal itu yang membuat Joy terpukul. Sebagai anak satu - satunya dia merasa kehilangan sekali. Sedangkan papanya memilih tinggal bersama istri keduanya yang sementara hamil.

Hubungan orangtua Joy memang tidak harmonis , papanya yang suka berselingkuh membuat mamanya yang adalah pegawai perusahaan swasta salah satu BUMN yaitu perbankan harus membesarkan Joy seorang diri. Sejak Joy masih sekolah di menegah pertama. Mamanya sudah pensiun setelah Joy selesai kuliah kedokteran. Semenjak pensiun mamanya sakit - sakit namun tidak mau berobat. Sampai Joy pulang dari Korea baru dia tahu penyakit sebenarnya yang diderita oleh mamanya. Yaitu Kanker. Penyakit mematikan ini membuat Mamanya menyerah di usia Joy dua puluh sembilan tahun dia menyerah akan hidupnya. Alasan ini juga yang membuat Joy memilih untuk tetap berangkat menjadi dokter relawan yang diadakan oleh perserikatan bangsa - bangsa.

"Baru perjalanan tiga jam saja sudah begini bagaimana jika menghadapi perang.

Semua orang yang sedang beristirahat di kaget kan dengan mendengar teguran keras komandan Lucas mengatakan hal yang tidak pantas buat didengar oleh dokter Joy.

"Bukan urusan kamu. Kebetulan saya kesehatannya lagi drop saja."

"Dokter apa yang sakit - sakitan??"

"Dokter juga manusia."

"Lagu ya." Lucas menjawab sedikit mengejek. Membuat tensi dokter Joy langsung naik.

 Perjalanan langsung dilanjutkan. Mereka tiba di tempat tugas disambut oleh anggota tentara lain dengan pengalungan bunga. Joy tidak begitu semangat menerima sambutan ini. Karena dia kesal dengan komandan mereka.

"Kenapa sih, ada manusia sialan, yang bisa jadi komandan."

"Sabar  bu dokter." Joy menangis dalam pelukan ners Tini. Lucas yang mendengar bahwa Joy telah menyumpahi dia. Niat hatinya mau membalas, namun terhalang begitu mendengar tangisan Joy.

"Dia kira, saya sakitnya akting kali."

Ners Zaki datang memanggil mereka, karena makan malam sudah siap.

"Dokter mau makan di kamar??"

"Kalau di ijinkan, takut komandan reseh itu marah."

Sementara itu dokter Stev, Leo dan Frans sedang berbincang - bincang dengan komandan Aldy menunggu berkumpul tim medis.

"Komandan mohon maaf atas sikap dokter Joy, namun tolong di pahami, mamanya seminggu yang lalu baru meninggal dan memang dokter Joy lagi sakit."

Joy makan di kamar, selesai makan dia minum obat dan peralatan makannya dibersihkan oleh Nur dan Siti.

Pagi hari dirasa badannya sedikit membaik. Semenjak semalam dia tidur cepat, selesai minum obat. Joy menggunakan baju olah raga dan menyempatkan diri berolah raga pagi, agar staminanya bagus. Biar tidak dikata fisik lemah.

"Selamat pagi."

"Kalau mau berdebat dengan saya, mohon maaf saya lelah. Tolong biarkan saya menikmati pagi ini dengan baik, agar mood saya kembali." Balasan sapaan pagi yang Joy berikan bagi komandan Lucas, dan dia tersenyum. Dalam hatinya Lucas berkata ternyata dia menyerah.

"Kalau orang kasih selamat pagi, ya dibalas dulu dengan sapaan yang sama. Kamu tahu ngak makna dari memberi salam seperti itu??"

"Apa ya komandan, ngak tahu. " Hati Joy kembali kesal, ngak bisa lihat orang damai kah. Pertemuan pagi yang tidak menyenangkan bagi Joy dan menyenangkan bagi Lucas.

"Kamu kenal sama dokter Joy, bro???"

"Tidak."

"What !!! Kenapa loe tega sekali bro."

"Gemesin. Kamu ingat ngak waktu kita jenguk Isak dirumah sakit. Dokter Joy ada disitu rombongan disebelah tempat tidur Isak. Gue suka senyumnya."

Joy sudah mandi dan dandan tipis - tipis. Sisi kecantikan Joy terpancar, tugas pertama mereka melakukan cek up bagi semua tentara. Waktu Joy mau membantu cek up lengkap yang dilakukan dokter - dokter yang lain di ruang berobat, Kejadian aneh terjadi, tentara yang semula sudah antri di dokter Stev, dan dokter - dokter lain semua berpindah kepada dokter Joy. Dokter - dokter itu hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah para tentara. Dan sekarang mereka tidak tahu bahwa komandan mereka ada dibelakang barisan mereka. Joy yang kesal dengan Lucas langsung menjalankan niat jailnya.

"Komandan saja yang pertama?" Semua anggota kaget, mereka langsung memberi hormat dan memberi jalan bagi komandan mereka. Sementara Lucas yang mau menghindar karena ada urusan yang harus dia lakukan, merasa kaget karena dia yang pertama.

"Saya???"

"Iya, bapak kan komandan, pemimpin mereka kan??" Lucas tersenyum. Dan berpikir Awas kamu jangan menghindar ya, kamu yang memulai semua ini. Dia menyerahkan daftar dirinya.

"Kapten Lucas Abner Gosal ?? Seperti nama komandan tidak asing deh." Joy yang mengingat cerita ners Rahel Mony. Bahwa suaminya orang Minahasa marga Gosal. Joy kenal dengan ners Rahel karena mereka bertugas pada satu klinik bedah sarah. Ners Rahel ada asisten yang membantunya dengan dokter Ari.

"Perasaan dokter saja. Nama keren ini, ngak mungkin pasaran apalagi muka ini." Semua tersenyum. Joy cemberut. Muka cemberutnya membuat Lucas semakin gemas.

"Percaya diri sekali." Pemeriksaan kesehatan tetap dilakukan. Joy langsung menusuk jarum ke tangan Lucas tanpa aba - aba setelah mendapat nadi. Otomatis Lucas sangat kaget terdengar teriakan kecil yang keluar dari mulutnya.

"Pakai perasaan dokter."

"Masa jarum sekecil ini saja takut." Semua orang di ruangan itu tertawa. Lucas yang kesal langsung memasang muka marahnya dan semua anggotanya tersenyum malu - malu. Lucas sedikit mendekatkan mukanya ke muka dokter Joy.

"Dokter tahu, balasan saya akan lebih sakit. Jika jarum saya menusuk ke tubuh dokter." Joy yang mengerti maksud Kapten Lucas langsung mukanya merah mendengar itu.

"Dasar ......" Lucas dengan cepat memotong pembicaraan Hanna.

"Hasil pemeriksaan ini, kamu selaku ketua tim yang melaporkan langsung ke saya. Sore ini saya tunggu."

"Ehhhh kenapa saya??"

"Tidak dengar tadi saya ngomong kamu ketua tim yang bertanggung jawab. Sore hasilnya diserahkan ke saya." Lucas langsung keluar ruangan.

Siang hari di tempat makan. Joy Debora bertemu dengan Daniel.

"Boleh duduk disini?"

"Silahkan."

"Kita perna bertemu dengan dokter, waktu menjenguk teman kami Serda Isak. Waktu itu dokter juga menjenguk teman dokter yang sakit sebalah dengan teman saya."

"Oooo Serda Isak yang kena luka tusuk."

"Betul itu saya dokter. " Isak datang bergabung.

"Dokter bekerja di rumah sakit tentara??"

"Hanya kontrak. Kapten Lucas mamanya juga ners lama dirumah sakit itu."

"Apa ners Rahel Mony???"

"Ya itu mamanya Kapten Lucas."

"Pantas mukanya ada sedikit - sedikit ners Rahel. Tetapi kenapa kelakuannya berbeda ya."

"Komandan itu pada dasarnya baik."

"Mungkin aku yang apes ya ketemu sisi ngak baiknya." Kami bertiga tertawa.

Joy yang melihat kehadiran Lucas segera mengangkat piring kotornya. Dan meninggalkan Daniel dan Isak. Namun kata - kata yang keluar dari mulut dokter Joy membuat Daniel dan Isak tertawa.

"Tertawa apa kalian??"

"Tidak ada komandan." Lucas yang curiga mulai melakukan kekerasan sebagai hukuman bagi Daniel dan Isak. Dia yang melihat Joy menghindar langsung mengingatkan Joy tentang hasil pemeriksaan kesehatan tadi Pagi.

"Jangan lupa dokter Joy, saya tunggu hasil pemeriksaan hari ini."

Jam lima sore, semua data kesehatan anggota sudah keluar. Pada umumnya semua sehat. Hanya komandan Lucas yang  sedikit bermasalah dengan fungsi ginjalnya. Dan Hanna sementara berada di ruangan komandan.

"Terus obat buat saya apa?"

"Ya kurangi kebiasaan buruk komandan."

"Kebiasaan buruk??"

"Iya, fungsi ginjal komandan  bermasalah disebabkan oleh alkohol. Dan kurang minum air putih. Komandan masih suka minuman yang beralkohol??"

"Dari mana dokter tahu kalau saya suka Alkohol?"

"Mama komandan Ners Rahel Mony."

"Kamu tahu dari mana nama mama saya. Jangan- jangan kamu pengintai ya?"

"Saya perna bekerja dengan mamanya komandan di rumah sakit tentara. Mamanya asisten ners di klinik bedah saraf buat saya dan dokter Ari." Lucas sadar, bahwa waktu itu dia melihat dokter Joy yang kedua kali, mamanya langsung mengenal. Ternyata bekerja bersama. Jangan - jangan semua keburukan saya diceritai mama ya

"Oke. Baik nasehat dokter akan saya dengar, itu sebagai teguran buat saya. Tetapi jangan percaya diri bisa menasehati saya."

" Percaya diri ???? Komandan kali, kalau saya tidak."

Hanna langsung keluar ruangan, Lucas tersenyum melihat tingkah Joy.

Malam harinya Joy sedang membuat laporan untuk dilaporkan kepada badan perserikatan bangsa - bangsa yang mengurus kesehatan dunia. Sambil menikmati keindahan bintang di langit ditengah - tengah hutan ditemani secangkir kopi instan. Daniel yang melihatnya sendiri langsung menghampiri.

"Jangan suka menyendiri. Lokasi disini belum kita kenal baik."

"Eh Serka Daniel. Minum kopi ??."

"Dibuatin boleh."

"Iya aku buatin."

"Aku juga mau kopi satu." Lucas juga ikut meminta.

"Aku bukan pembantu." Daniel tertawa, melihat tingkah komandan dan dokter Joy.

"Masa hanya Daniel yang dibuat, aku juga mau."

Akhirnya Joy membuat dua cangkir kopi buat kedua tentara . Sementara kedua rekan dokternya sedang berlomba, menebak nasib dokter Joy dan Komandan Lucas. Mereka bertarung bahwa pasti akan ada benih cinta yang tumbuh diantara mereka berdua.

Selesai Joy mengirim email ke lembaga kesehatan dunia dia iseng bertanya kepada Daniel tentang letak pasar. Kebetulan dia mau mencari sendal.

"Dan, kalau mau berbelanja, apa pasarnya jauh?"

"Ngak paling lima belas menit naik motor, mau beli apa, besok aku antar selesai turun jaga jam delapan."

"Boleh?"

"Tentu boleh."

"Siapa bilang boleh yang mau keluar dari lingkungan ini harus ijin aku. Mengerti."

"Kenapa sih kamu sukanya marah, melarang, mengejek. Sebal tahu. Lama - lama gue suntik mati juga." Joy langsung meninggalkan tempat ini.

"Eh.. dokter rencana pembunuhan ya." Joy sudah berlari meninggalkan kedua tentara itu.

Misi Menegangkan

Semua larangan Kapten Lucas Abner Gosal tidak diindahkan oleh dokter Joy Debora. Seperti hari ini, dia memaksa Daniel mengantarnya ke pasar terdekat. Dia harus membeli sendal jepit, karena ketika dia mau melakukan keguatan di kamar mandi terhambat dan harus menunggu punya tenaga medis lainnya. Pukul sembilan dengan di bonceng oleh Daniel mereka kepasar Tradisional. Disana harga barangnya bisa tiga sampai lima kali lipat dari Jakarta. Namun karena dia butuh akhirnya dia beli. Selain itu dia juga membeli beberapa buah - buahan hasil bumi mama - mama yang berjualan. Sekarang Joy selalu berusaha menghindar dari Lucas. Dan dia merasakan itu.

Sementara masyarakat setempat mulai tahu, bahwa puskesmas sudah beroperasi lagi, jadi dari pagi sudah mulai berdatangan orang - orang yang mau berobat.

Siang harinya di puskesmas kedatang pasien pekerja tambang, yang sudah berumur, dan memiliki penyakit Jantung yang tidak perna di obati.Ketika dia mengalamai kecelakaan di perusahaan langsung dibawakan ke puskesmas dan kondisinya sangat kritis. Dokter Joy yang perada di ruangan IGD langsung memberi tindakan.

"Semua alat vital tubuhnya menurun dokter."

Tiba - tiba terjadi serangan jantung. Joy langsung memberi pertolongan pertama.Pasien tertolong. Diketahui bapak ini bernama Ayub, dan dia adalah kepala suku yang di percayakan perusahaan pertambangan dan memperkerjakannya karena kemauannya sendiri.

Akhirnya dokter Joy dibantu beberapa dokter berkeputusan untuk melakukan operasi. Karena sudah ada pendarahan. Sebenarnya ini juga beresiko, namun jika pasien dibiarkan juga akan meninggal. Sementara di luar puskesmas sudah banyak warga dengan alat perang tradisional di lereng- lereng bukit. Karena memang puskesmas dan markas tentara berada di ketinggian. Lucas langsung memerintahkan anggotanya dengan perlengkapan lengkap untuk siaga melindungi para medis. Lucas langsung menemui Joy dan teman - teman dokter lainnya.

"Bagaimana kondisinya?" diruangan itu sudah ada istri dari bapak Ayub, penanggung jawab perusahaan dan Lucas beserta tim elitenya.

" Ada pendarahan di sekitar jantungnya. Harus di operasi. Jika harus dirujuk ke kota, sangat tidak bisa."Atas ijin istrinya operasi akan dilakukan oleh dokter Joy bersama rekan - rekannya.

"Pengamanan di luar itu tugas kami." Lucas mempertegas, bahwa dia akan melindungi mereka seperti janjinya.

Masyarakat adat setempat meminta untuk dibawa rumah sakit besar, namun kondisi pasien tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, karena dari kampung ini kekota tiga jam lewat darat.  Ada helikopter perusahaan, namun ini juga tidak bisa membantu.

Operasi sudah berjalan selama satu jam. Bekerja dibawa tekanan itu rasanya seperti mau mati saja.  Itu yang dirasakan oleh dokter Joy dan kawan - kawan. Dua jam sudah, operasi dapat dilakukan dengan baik. Semua alat vital didalam tubuh bapak Ayub sudah berfungsi normal. Selesai operasi pasien sudah ditempatkan diruangan khusus.

"Busyet kenapa banyak sekali orang - orangnya?"

"Sepertinya orang - orang luar kampung ini ada yang sudah bergabung."

"Tim waspada tetap siaga ada penyusup di antara warga. Bagaimana operasinya apa sudah ada kabar?? tolong satu anggota tanyakan?"

"Informasi sudah selesai dan pasien sudah berada di ruangan khusus sedang dipantau oleh dokter Joy."

"Minta dokter Hanna dan penanggung jawab perusahan menjelaskan kepada warga kalau ada keluarganya juga lebih bagus, mungkin istrinya."

"Siap komandan."

"Gila komandan ini, aku juga takut." Lucas mendapat informasi jika Joy ketakutan dia meminta anggotanya menyerahkan alat komunikasi kepada Hanna.

"Dokter Joy dengar baik - baik, kamu harus berani. Disini juga ada saya dan anggota saya siaga menjaga kamu."

"Janji."

"Iya. Keluar Joy jelaskan buat warga."

Dia pun memberanikan dirinya untuk keluar menemui warga bersama pihak perusahaan, dan istri dari bapak Ayub dan menjelaskan kepada warga yang berada di luar lingkungan puskesmas tentang kondisi beliau.

Dengan bahasa Indonesia di jelaskan oleh Hanna ada yang mengerti namun ada yang tidak. Istri bapak Ayub pasien yang sementara sedang dipantau perkembangannya menjelaskan dengan bahasa daerah. Ternyata ada kesalah pahaman dari warga, mereka mengira di sini tidak bisa melakukan tindakan dengan alat canggih medis.

"Yang bertugas disini adalah dokter - dokter terbaik yang ditempatkan oleh organisasi dunia yang memperhatikan kesehatan bapak,ibu dan saudara - saudari serta anak - anak. Jadi jika warga yang memerlukan bantuan kesehatan disini bisa. Tempat ini terbuka buat kalian semua." Lucas membantu memperjelaskan sehingga warga mengerti. Mereka pun bubar hanya keluarga saja yang masih ada.

Lucas masih berpikir kenapa banyak sekali orang, apalagi anak - anak muda. Sedangkan di kampung ini banyak juga pendatang. Ketika di amati ternyata mereka tinggal di hutan - hutan.

Kondisi bapak Ayub sudah mulai stabil, beliau sudah sadar malam ini. Joy bersama istri dan anaknya ada disamping bapak.

"Selamat malam bapak, apakah bapak bisa mendengarkan suara saya."

"Bisa dokter." Sangat lemah namun bisa didengarkan oleh semua di ruangan ini. Joy pun memeriksa kondisinya, dia tersenyum.

"Mama, bapak dalam kondisi baik. Puji Tuhan organ vitalnya semua dalam keadaan baik."

"Puji Tuhan, terima kasih anak dokter."

"Bapak perlu istirahat, nanti besok baru bapak bisa makan dan saya yakin bapak pasti pulih." Joy melihat kearah bapak Musa dan dia tersenyum. " Terima kasih bapak, sudah bisa bekerja sama dengan baik."

Tangan Joy dipegang erat oleh beliau. Cengkraman yang kuat, dia tersenyum ke arahnya. Dan Joy yakin bahwa itu ungkapan terima kasihnya.

Joy merasa lega pasien pertama yang dia tangani bersama timnya boleh dilewati dengan baik. Joy tersenyum kearah mereka semua.

"Terima kasih kerja samanya."

"Sama - sama dokter."

"Saya bisa beristirahat. Tolong dokter Stev sampaikan kepada komandan tentang kondisi bapak Ayub."

"Siap dokter ." Joy kembali tersenyum kepada rekan - rekannya. Dalam perjalanan menuju kamarnya, Lucas memperhatikan sikap Joy, dia mendengarkan pembicaraannya dengan rekan - rekan dokter. Hati kecil berkata kurang ajar juga ini dokter, bisa - bisanya dia memerintahkan rekan lainnya melapor kepada saya.

Karena hari minggu, Joy sudah bagun pagi - pagi selesai olah raga dia sudah mandi, mengambil tas alkitabnya dan berjalan menuju ke gereja yang berada di tengah - tengah kampung. Joy sungguh tidak takut, padahal kemarin hampir saja terjadi ketegangan.

Hanya lima belas menit, Joy berjalan dan sudah tiba di gereja, masih sepi. Ketika dia masuk, beberapa orang yang di gereja melihat ke arahnya Hanna tersenyum dan langsung duduk di kursi depan. Dia menyiapkan hatinya untuk beribadah kepada Tuhan.

Karena situasi kemarin, Lucas memerintahkan, anggotanya yang beragama kristen juga tenaga medis berdoa di Aula yang dijadikan ruangan serba guna.

"Komandan dokter Joy sudah ke gereja lima belas menit yang lalu."

"Ngak takut dia." Akhirnya dia berganti baju dan menggunakan motor ke gereja. Lucas sampai lima menit sebelum ibadah dimulai, dia langsung duduk disebelah Joy. Betapa kagetnya dia, namun dia tetap berfokus untuk beribadah begitu juga dengan Lucas. Ibadah selesai Lucas langsung mengandeng tangan Joy, mereka bersalaman denga pendeta dan warga jemaat lain lalu menuju ke motornya. Semua jemaat melihat.

"Komandan jangan begini, entar baper nyesal loh?"

"Kamu baper? Kalau aku sih ngak ya."

" hi percaya diri amat." Lucas tersenyum langsung membantu Joy naik ke motor.

"Untung saja pakai celana panjang, kalau ngak mana bisa naik motor gede ini, baru di paksa lagi." Lucas tidak merespon, dia hanya konsentrasi membawa motor dan membalas sapaan orang - orang dari yang dewasa sampai anak - anak yang menyapa mereka. Terus terang, Lucas merasa gugup, ada seperti kupu - kupu di hatinya bisa berduaan sama Joy Debora perempuan yang sudah membuat dia jatuh hati waktu melihat senyuman manisnya pertama kali. Namun sekali lagi dia berusaha untuk profesional.

"Lain kali kalau mau beribadah lihat situasi jangan asal pergi."

"Masa mau beribadah di larang."

"Hai dokter yang cantik katanya dan pintar, gunakan akal sehat kamu kalau mau melakukan sesuatu disini. Ini bukan Jakarta bu dokter terhormat."

"Kamu tadi bilang saya cantik kan? Baru tahu ya, emang saya cantik." Joy langsung meninggalkan Lucas yang hanya menatap kepergiannya.

"Bukan saya yang bilang, tadi orang - orang di jalan yang bilang." Lucas berbicara kecil sekali suaranya. Sampai dikagetkan oleh Daniel rekan satu tim elitenya yang sudah seperti saudara baginya.

"Bagaimana beribadah dengan idola."

"Galak amat, jutek juga." Daniel hanya tersenyum melihat komandan dan sahabatnya itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!