Sangat disarankan, baca kisah ini ... coba dihayati, pelan-pelan supaya nangkap kode-kode rahasia 😁. Biar kita mikir bareng, jadi sama rata. Yang nulis hampir oleng, yang baca kurang lebih ya seharusnya sama ... Canda, Kakak ❤️🔥
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelopak mata dibingkai bulu lentik bergerak-gerak. Wanita berparas manis, kulit eksotis mulai terjaga dari tidurnya. Ainur membuka mata dengan perasaan bahagia. Secara otomatis, naluri keibuannya mengambil alih … jemarinya meraba perut tertutup baju tidur bahan katun.
Deg!
Detak jantung wanita berumur dua puluh satu tahun itu tidak beraturan.
“Perutku … anakku!” Dia langsung terduduk, menyingkap selimut tipis, menaikan baju tidurnya. “Mana anakku, kemana dia?!”
Ainur berteriak lantang, kedua tangan meraba perut yang sebelumnya sudah sedikit membuncit, kini kembali datar.
“Anakku! Kembalikan anakku!” suaranya kian nyaring disertai buliran bening bercucuran. Ainur histeris.
“Mas Aryo! Bayi kita hilang lagi!” kata lagi sungguh menyakitkan hati, ini kali ketiga dia kehilangan calon buah hatinya yang hampir melewati trimester pertama.
Derap langkah pada lantai keras terdengar bersahut-sahutan. Pintu kamar berukuran luas dengan perabotan seluruhnya terbuat dari kayu jati, dihempaskan.
“Kenapa, sayang?” tanya sosok tampan berwajah ramah, rambut dipotong rapi, tubuh gagah meskipun tidak seperti binaraga.
Daryo, sering di sapa mas Aryo – melangkah lebar, lalu berjongkok, memegang kedua tangan istrinya yang terasa dingin, napas pendek-pendek. “Ada apa sayang? Perutnya sakit, atau mau sesuatu?” suaranya begitu lembut, penuh perhatian.
“Anak kita, mas. Ini ….” Tangan suaminya dia letakkan pada permukaan kulit kantong rahim.
Mata Aryo membulat, ekspresinya terkejut. “Kok kempes, sayang?”
Tangis Ainur pecah, dia meraung-raung menangisi kehilangan calon buah hatinya. “Aku ndak kuat kalau seperti ini terus, mas? Tiga kali hamil, tiga kali pula kita gagal menjadi orang tua. Ayo pergi ke orang pintar, tanya. Kenapa kejadian ini terulang lagi. Ayo mas!”
Ainur memohon dengan wajah berderai air mata. Dia mengajak sang suami mencari orang sakti yang memiliki ilmu spiritual. Rasa sakit hati, kecewa, penasaran, tak terima, membuatnya ingin mencari tahu kendatipun kata ahli medis – sebenarnya dia mengalami kehamilan palsu.
Daryo berlutut, memeluk erat tubuh istrinya yang menangis sesenggukan. Mengelus rambut ikal panjang sepunggung penuh perasaan. “Inur, kamu masih ingat apa kata dokter magang, kan? Kalau sebenarnya dirimu tidak hamil sungguhan. Keterlambatan datang bulan itu dikarenakan efek stress, dan kamu menganggapnya sedang mengandung.”
Pelukan erat itu dilepas paksa. Ainur memandang tak percaya wajah suaminya. “Kamu masih nggak percaya, mas? Kalau memang aku ndak hamil – perut datar perlahan membuncit, mengeras, mual-mual, nafsu makan berkurang, anti bau menyengat, apa artinya kalau bukan hamil?!”
“Sayang dengerin mas, bisa?” suaranya lembut, sama seperti elusan pada pipi basah, sorot mata sendu.
“Nggak bisa! Aku mau pergi cari orang pintar!” Ia memberontak mau turun dari ranjang.
Namun Daryo melarang, kembali mendekap kuat. “Kalau kamu nggak puas dengan diagnosa ahli medis puskesmas, ayo kita pergi ke kota. Periksa ke dokter kandungan. Jangan ke dukun, sama saja kamu mempermalukan keluarga kita, Inur!”
Tubuh Inur kaku, kembali dirinya ditampar kenyataan pahit. Keluarga suaminya bukan orang biasa, mereka terpandang dan terkenal dermawan, serta kakak iparnya adalah seorang bidan yang bekerja di puskesmas desa Tugu Ireng.
Pernah sekali Inur nekat pergi seorang diri mencari tahu siapa orang pintar di wilayah kecamatan ini, belum bertemu tapi keluarga suaminya sudah dapat malu. Fitnah kejam berhembus mengerikan, mengatakan kalau keluarga Tukiran main dukun.
Semenjak itu, Ainur mengubur keinginannya, mencoba menerima kenyataan kalau dia memang hamil palsu.
Yang kata kakak iparnya dipicu oleh ketakutan akan kemandulan, tekanan mental yang membuat otak salah menafsirkan sinyal tubuh.
Awalnya Ainur bisa menerima, dikarenakan sudah tiga tahun menikah, dia belum juga hamil, lebih tepatnya tidak berhasil melahirkan.
Satu kali kehilangan dengan cara tak masuk diakal, tiba-tiba perut kembali datar – Ainur masih bisa berpikir jernih, logikanya belajar menerima walaupun hatinya meyakini dia benar-benar hamil.
Peristiwa kedua membuat kecurigaan yang sudah coba dia kubur dalam sanubari menyeruak ke permukaan. Calon anaknya kembali lenyap tak berbekas – tidak meninggalkan rasa sakit, maupun tanda-tanda dia pernah bersemayam di perut calon ibunya.
“Kamu sedang banyak pikiran, lebih baik istirahat. Nanti mas minta tolong ke ibu buatkan teh herbal.” Aryo berdiri, kedua tangannya menekan bahu sang istri sampai berbaring. Selimut tadi dibenahi, menutupi hingga bahu.
“Dek, mas sayang sama kamu. Tolong jangan memikirkan hal-hal berat. Ada atau tidaknya anak, kita masih bisa bahagia. Toh, orang tuaku, dan orang tuamu sama sekali ndak menuntut keturunan. Mereka mengerti, bersedia bersabar.” Sebuah kecupan lembut ia hadiahkan pada dahi sang istri yang seperti raga kosong, tatapan mata hampa.
“Mas berangkat ngecek para pekerja di kebun dan sawah, ya. Kalau kamu perlu apa-apa, minta saja pada mbak Neneng, atau ibu.” Daryo mengelus sebentar kepala istrinya, lalu dia keluar dari dalam kamar.
Sepeninggalannya sang suami, Ainur tidak tidur. Pikirannya mulai kemana-mana. ‘Apa ada hamil palsu tapi merasa memiliki ikatan batin ke sesuatu yang pernah bersemayam di perutnya?’
Ainur masih terus melamun, mengingat awal dia hamil pertama kali tiga tahun lalu, dua bulan setelah menikah di umurnya yang masih sangat muda – delapan belas tahun lebih tiga bulan.
“Setiap tahun aku merasakan kondisi seperti ibu-ibu hamil pada umumnya, tanda-tandanya pun sama. Ya ada keluar sedikit flek, ya ngidam, ya suasana hati naik turun, terakhir terbentuknya naluri keibuan dengan calon anaknya. Masa iya, hamil palsu?”
Terlalu asik melamun, Ainur sampai tidak menyadari ibu mertuanya sudah masuk ke dalam kamar, membawa nampan berisi secangkir teh masih mengepulkan uap.
"Nduk, pantang melamun seperti itu, nanti kesambet loh,” tegurnya lembut, penuh perhatian.
Tubuh Ainur tersentak lembut, dia menoleh ke wanita anggun mengenakan baju lurik coklat gelap campur muda, rambut digelung sederhana, bawahan kain jarik batik. “Maaf bu, aku ndak denger langkah kaki.”
Bu Mamik, ibu mertuanya Ainur, mengulas senyum lembut, disempurnakan dengan ekspresi ramah. Dia meletakkan nampan tadi di atas meja rias, mengambil gelasnya dan memberikan ke sang menantu.
“Diminum dulu teh daun pegagan ini – biar khasiatnya cepat terasa. Meredakan stres, melancarkan peredaran darahmu, sehingga pikiran jadi rileks, saraf tubuh ndak tegang, cah ayu.”
Gelas bertangkai di ambil oleh Ainur. “Terima kasih, bu. Maaf kalau terus-terusan merepotkan, membuat ibu dan lainnya sering khawatir akan kondisiku.”
Bu Mamik melepaskan sisir konde pada sanggul yang dijadikan aksesoris. Sangat lembut menyisir helaian kusut sembari melontarkan kata-kata penenang. “Kamu sudah ibu anggap seperti anak sendiri, bukan menantu. Saat dirimu sakit, ibu pun merasakannya.”
Ainur terharu, dia hidup diantara orang yang tulus menyayanginya. Dibesarkan dengan penuh kasih, tidak kekurangan materi maupun kasih sayang. Sekarang, memiliki suami berikut keluarganya, juga sangat perhatian.
Beberapa menit kemudian, Ainur sudah meminum habis teh herbal, lalu dia mencoba istirahat walaupun jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Bu Mamik keluar dari dalam kamar, pintu ditutup rapat.
Belum ada lima belas menit, rasa kantuk sudah melandanya. Ainur tertidur dengan wajah sembab. Tidak lama kemudian, keningnya mengerut, buliran keringat membasahi pelipis dan dahi.
“Ibu tolong! Tolong ibu! Hiks hiks ….”
.
.
Bersambung.
Setting, akhir tahun 90-an.
Ainur berada di ruangan temaram bercahayakan lampu obor. Napasnya sesak, tempat ini lembab, pengap dan berdinding tanah.
“Dimana aku?” suaranya memantul, membuat badannya tersentak dan bulu kuduk meremang. Dia tidak berani membuka mulut, berakhir membatin.
‘Tempat apa ini? Kenapa tidak ada ventilasi udara?’ Langkah kakinya gamang, telapak tangan meraba tanah keras meninggalkan bekas pada telapak tangan.
Ainur memicingkan mata, di persimpangan lorong terdapat lampu ublik menyala redup, ada sebuah pintu terbuat dari kayu berserabut kasar.
Pelan, penuh kewaspadaan sampai dia dapat mendengar deru napas dan detak jantungnya sendiri – Ainur mendekati pintu dengan tanda silang merah.
‘Bau anyir, darah kah?’ Jari telunjuknya mencolek garis merah itu, lalu diusapkan pada ibu jari dan diciumnya. ‘Benar, ini bau amis.’
Entah kenapa, Ainur sangat berkeinginan membuka pintu tersebut, dia menempelkan telinganya pada papan, mencoba mencuri dengar sebagai petunjuk.
“Ibu tolong! Tolong ibu! Hiks hiks ….”
Ainur tersentak, seketika tubuhnya kaku, napas terhenti dan perasaannya langsung tak menentu, hati bergejolak.
Pintu tanpa handle dia dorong kuat, tapi tidak berhasil membuat celah.
“Tolong ibu! Tolong!”
Tiba-tiba air matanya menetes dengan sendirinya kala mendengar suara anak kecil merintih kesakitan. “Tunggu sebentar, nak! Ibu sedang berusaha membuka pintunya.”
Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa dia sadari. Lebih sibuk berusaha mendobrak, pikirannya tertuju pada rintihan meminta pertolongan.
“Kok ndak bisa?!” ia tak sabaran, lengan dan samping tubuh sebelah kanan dihantamkan pada daun pintu, tetap tidak berhasil.
Ainur melangkah cepat ke lorong sebelah kiri, mencari sesuatu untuk dijadikan alat membuka daun pintu.
Matanya berkilat senang saat melihat sekop berlumpur disandarkan pada dinding tanah. Tanpa ragu, tidak juga takut – alat itu dia genggam dan kembali ke tempat tadi.
“Loh … mana pintunya?” kalimatnya bergema, tubuh bergeming. Dia ingat betul jika posisinya berdiri ini berhadapan dengan pintu tadi.
Namun hanya ada dinding tanah tanpa penerangan lampu ublik, cuma bias cahaya dari obor di ujung lorong.
Netra Ainur bergetar, badannya bergerak ke segala arah tanpa berpindah posisi – tidak ada siapapun. Cuma lorong berliku-liku diterangi cahaya lampu obor pada kedua sisi dinding tanah liat.
Tubuh tanpa mengenakan baju cuma sehelai kain jarik mencapai betis itu menegang, angin lembut menerpa bulu-bulu halus pada tengkuk. Ujung mata Ainur menangkap bayangan hitam menuju ke arahnya.
Dalam satu gerakan ia berbalik cepat ….
HAH!!
Ainur terjaga, dan langsung terduduk. Ia memperhatikan tubuhnya yang masih mengenakan pakaian tidur.
"Aku cuma mimpi, tapi kenapa seperti nyata? Siapa sebenarnya bayangan hitam yang merengkuhku tadi?” gumamnya pelan, ia kembali mengingat sebuah bayangan mendekap erat, membuat dirinya terkejut bukan main.
Akhh!
Tubuh Ainur tersentak, nyaris saja dia kembali berteriak lantang. “Mbak Neneng sejak kapan disitu?”
Mbak Neneng, sering di sapa mbak Neng – menuliskan sesuatu pada kertas yang dikalungkan di leher, pena diikat tali rafia.
“Baru saja nyonya Inur.”
Ainur menghela napas panjang. Dia tidak suka kata nyonya, sudah lelah menegur, meminta dipanggil nama, tapi tak indahkan. Mbak Neneng tetap memanggil nyonya Inur.
“Ada apa, mbak?”
Pena kembali menari diatas kertas, lalu ditunjukkan pada sang majikan muda. “Diluar ada orang tua nyonya Inur, mereka datang berkunjung.”
“Terima kasih nggeh, mbak. Aku tak cuci muka lanjut salin (ganti) baju.”
Wanita mengenakan kemeja kancing samping lengan sesiku polos, longgar, bawahan jarik sebetis tanpa memakai alas kaki itu mengangguk sopan, lalu keluar dari dalam kamar.
Ainur memperhatikan gerakan luwes sang pelayan yang katanya sudah bekerja selama sepuluh tahun, sebelum dia menjadi menantu keluarga Tukiran.
Mba Neneng melebihi standar umum pelayan yang rata-rata dari kalangan rakyat kasta bawah – kulitnya bersih, gesture tubuh halus, gerakan anggun, dan memiliki kecantikan khas wanita Jawa – manis, berkulit eksotis kadang cenderung kuning langsat kalau dia tidak sedang bekerja menjemur gabah di halaman lumbung padi belakang rumah.
Terkadang Ainur merasa ada yang aneh pada pelayan tidak bisa berbicara itu – sorot mata mba Neng selalu sama, datar. Pernah beberapa kali dia kejutkan, tetap tidak berubah. Seperti raga kosong tanpa jiwa kehidupan.
Heuheuu ….
Ainur menghela napas panjang, dia menggelengkan kepala guna mengembalikan fokusnya.
Kemudian beranjak dari pembaringan, pergi ke kamar mandi yang masih satu ruangan.
***
“Bagaimana kabarmu, nduk?” sapa wanita anggun bernama Warti, ibunya Ainur. Dia mengenakan kebaya polos bawahan kain jarik berwarna kuning telur, rambut disanggul rapi, ada kuncup bunga Melati pada sisir konde menahan gelungan.
“Sae (baik), bu.” Inur mencium punggung tangan sang ibu yang duduk di sofa ruang tamu luas, lalu dia memilih duduk diseberangnya.
Warti mengangguk, tersenyum lembut. Gerakan tangannya begitu anggun saat meraih tangkai cangkir porselen, sebelum meneguk teh, terlebih dahulu mencium aromanya, bunga melati.
“Tadi suamimu datang ke rumah, mengatakan kalau kamu berhalusinasi lagi. Mau sampai kapan dirimu mempercayai jika sedang mengandung, Inur?” suaranya lembut, tapi terdapat nada menegur dibalik ekspresi tenang.
Inur menunduk, tidak berani memandang sang ibu, kakak kandungnya, dan ibu mertuanya. Kedua tangan saling meremas. “Maaf, Bu.”
Semua terdiam, sama-sama menghela napas pelan. Memandang prihatin pada wanita yang perlahan bobot tubuhnya menyusut.
“Ayo mbak periksa, Inur.” Dayanti, kakak kandungnya Inur mengajak sang adik ke kamar tamu. Dia seorang bidan, bertugas di puskesmas kelurahan Tugu Ireng, satu profesi dengan kakak iparnya Ainur.
Ainur menurut, mengikuti langkah kakaknya. Saat sudah masuk ke dalam kamar cukup luas, lengkap dengan satu set tempat tidur – Inur berbaring di atas ranjang bertilam empuk.
Dayanti mengeluarkan tas kerjanya. Mengambil alat tensimeter manual, lalu mulai mengukur tekanan darah sang adik.
“Kurangi berpikiran berat, dek! Tensi darahmu rendah. Pola tidur dijaga – jangan seperti Kalong, malam begadang siang hari terlelap. Meskipun keluarga mertuamu baik, tak lantas dirimu bisa bersikap sesuka hati. Ingat, sekarang statusmu seorang istri, sudah memiliki kewajiban melayani suami, bukan malah sebaliknya.” Yanti menegur lembut sang adik sembari melepas alat tensi darah.
“Nggeh, mbak.” Inur berusaha mau duduk, tapi dicegah.
“Tunggu sebentar. Mbak suntik hormon dulu biar kamu segera menstruasi lagi!”
“Tapi, mbak ….”
.
.
Bersambung.
“Ndak ada tapi-tapian, Inur! Kamu pahamkan kalau siklus datang bulanmu ini sangat mempengaruhi suasana hati, pola pikiran, jadi sering berhalusinasi. Seolah-olah tengah mengandung, padahal aslinya tidak. Sudah dijelaskan oleh dokter magang di puskesmas, kamu hamil palsu – buah dari pikiranmu sendiri yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak,” Yanti menyadarkan sang adik dengan kata-kata halus namun menusuk.
Pelupuk mata Ainur seperti bola kristal, lalu buliran bening itu meluncur. Mulutnya terkatup rapat, enggan menyanggah maupun setuju oleh diagnosis sang kakak.
Dayanti menggenggam tangan kurus adiknya sampai urat punggung tangannya menonjol. “Mbak sayang sama kamu. Ibu, bapak, dan keluarga Daryo juga menyayangimu, Inur. Tolong jangan egois, pikirkan kami juga. Kami khawatir melihat fisikmu semakin kurus.”
“Maaf, mbak.” Inur memeluk erat kakaknya, menumpahkan tangis pilu.
Selalu seperti ini saat dia mengeluh kehilangan calon jabang bayi yang tinggal hitungan hari melewati trimester pertama, menurut perhitungan pribadinya dihitung dari hari terakhir menstruasi.
Keluarganya akan datang memberikan perhatian, menyemangati, ikut berempati, tapi dibalik perlakuan manis terdapat perintah tak kasat mata – dia dipaksa legowo, menerima diagnosa ahli medis. Jika sebenarnya tidak hamil.
Dayanti melerai pelukan mereka, membingkai wajah sedikit pucat sang adik. “Kamu kuat, ayo kembali seperti Ainur yang dulu … penuh semangat, ceria, memiliki mimpi besar ingin menjadi pengrajin rajut tas sukses.”
Senyum alakadarnya tak sampai pada mata. Mimpi indah itu sudah dikubur semenjak menikah dengan pemuda yang dijodohkan sang bapak.
Yanti menyuntikkan obat hormon pada bokong Ainur, dia juga memberikan pil memicu datang bulan yang wajib diminum secara rutin.
Setelahnya Ainur turun dari ranjang, kembali mengikuti langkah sang kakak. Kebiasaannya sedari kecil, kemana Dayanti melangkah, dia berdiri tepat dua atau tiga langkah dibelakangnya.
***
Kunjungan itu terbilang singkat, bu Warti berpamitan kepada sang besan, begitu juga Dayanti.
Ainur, bu Mamik menghantarkan tamu mereka sampai teras. Menunggu hingga delman yang dikendalikan oleh kusir, salah satu pekerja di rumah keluarga Sugianto, ayahnya Ainur, keluar dari pagar besi tempahan berukir daun wayang kulit.
Ainur bukan dari kalangan keluarga sederhana. Keluarganya sama-sama kaya, terpandang seperti keluarga sang mertua.
Di wilayah kecamatan Tugu Ireng, nama desa pun sama. Ada tiga keluarga terhormat yakni, Tukiran – keluarga mertua Ainur. Lalu Sugianto, keluarga kandung Ainur. Terakhir Jayadi, saudaranya bu Mamik.
Ketiga keluarga tersebut disegani, merekalah penggerak perekonomian wilayah kecamatan yang luasnya seperti daerah kabupaten. Rata-rata penduduknya bekerja sebagai petani, buruh tanam padi, petik sayur mayur, dan lain sebagainya.
“Ayo masuk, nduk. Ibu temani sarapan, mau?” Ia rangkul bahu ringkih sang menantu.
“Terima kasih, bu. Biar aku sarapan sendiri saja. Bukannya kemarin ibu bilang kalau hari ini mau pergi ke rumahnya pakde Jayadi?” Inur mengingatkan perihal perkataan ibu mertuanya kemarin hari.
“Oalah, iyo. Ibu nganti lali (sampai lupa). Terlalu mencemaskan keadaanmu sampai kehilangan fokus, daya ingat melemah,” selorohnya dengan senyum tipis.
Ainur kembali merasa bersalah, dikarenakan telah membuat semua orang khawatir. “Maaf nggeh, bu.”
Bu Mamik menggeleng anggun. Menepuk-nepuk punggung sang menantu. “Jangan sungkan seperti itu, Inur. Kamu pelengkap di keluarga Tukiran, kehadiranmu berkah buat kita semua.”
“Aku juga sangat bersyukur bisa masuk kedalam keluarga hangat ini. Diterima baik, disayangi layaknya anak sendiri. Terima kasih, bu.” Ainur memeluk lengan sang ibu mertua. Mereka sama-sama melangkah kebagian dalam hunian mewah, luas, furniture hampir semua terbuat dari kayu, dengan warna asli, di plitur agar terlihat mengkilap.
***
Pada meja makan besar cukup menampung dua belas orang – terhidang menu mewah bagi keluarga sederhana. Namun biasa saja teruntuk berekonomi menengah ke atas.
Ainur tengah menikmati botok tempe campur potongan daging ayam. Ada juga pepes ikan air tawar, dan tumis bayam.
Ibu tolong! Tolong ibu!
Kalimat itu terus berputar-putar seperti suara dengungan serangga penghisap darah.
‘Aku sudah berusaha melupakannya, tapi tetap saja tak mampu mengusir suara rintihan kesakitan itu.’ Piring masih tersisa nasi separuh berikut lauknya, dia dorong jauh. Ainur kehilangan nafsu makan.
Ekor mata Ainur menangkap siluet tubuh menyelinap di samping lemari berbatasan dengan ruang makan. Cepat-cepat dia mencuci tangan di air dalam mangkuk yang sudah disediakan.
Ainur melepaskan sandal jepitnya, agar langkahnya tidak menimbulkan suara. Dia bergegas mengikuti kemana arah sosok tadi.
Dari dalam rumah hingga keluar dan berhenti di halaman hunian kakak iparnya yang masih satu pagar tembok tinggi, Ainur gamang mau masuk. Takut dikira lancang, apalagi mbak Citra sedang bertugas di puskesmas.
Pintu depan yang terbuka separuh, dibuka lebar oleh pria berbaju kaos pas badan, celana longgar, rambutnya seperti orang baru bangun tidur. “Ada apa, Inur? Mau masuk, ayo silahkan!”
Sejenak Inur menahan napas. Dia sedikit takut dan tak nyaman bila berinteraksi dengan suaminya Citranti. “Maaf mas Wesa, tadi aku seperti melihat seseorang, tapi ternyata salah. Mungkin dikarenakan sedang banyak pikiran.”
“Oh ….” kalimatnya menggantung. Tatapan matanya tak sopan menelisik penampilan sederhana sesama ipar yang terlihat anggun sekaligus rapuh.
Ainur segera berpamitan, takut terkena fitnah dan juga merasa tak nyaman.
Saat sudah masuk lagi ke dalam hunian sang mertua. Ainur bingung mau ngapain. Dia merasa sendirian, suaminya tengah pergi memeriksa para pekerja. Ayah dan ibu mertuanya juga ada kesibukan diluar rumah.
“Mbak Neng!” panggilnya kala melihat sang pelayan berjalan ke halaman depan. Dia menyusul.
“Mau kemana, mbak?” Inur bertanya seraya memperhatikan penampilan mba Neng yang jauh lebih rapi.
“Ke perbatasan desa. Mau membeli beberapa tanaman bunga untuk mengganti yang mati.” Ia memperlihatkan tulisan pada kertas putih.
“Aku boleh ikut ndak?” sorot matanya memohon, ia tidak bernyali dirumah sendirian sementara ada Wesa. Perasaan takut selalu mendera bila berdekatan dengan pria yang berprofesi sebagai staf kelurahan.
Mba Neng mengangguk. Meminta sang kusir menunggu sedikit lebih lama lagi.
Alat transportasi di desa masih mengandalkan delman yang ditarik oleh tenaga Kuda. Pada hunian orang kaya, mereka memiliki kendaraan pribadi itu berikut kusirnya. Adapun mobil, biasanya digunakan untuk perjalanan jauh.
Sementara bagi rakyat kecil, lebih mengandalkan berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya. Banyak juga tidak mengenakan sandal, mereka sudah terbiasa.
Untuk penerangan di kecamatan Tugu Ireng, masih menggunakan lampu minyak, petromak, bila ada hajatan maka memakai generator listrik atau mesin pembangkit listrik.
***
Ainur sudah duduk di atas busa kabin/kereta delman. Berhadapan dengan mba Neng yang duduk diseberangnya. Sepanjang perjalanan, mata Ainur menatap hamparan sawah, membalas sapaan warga seraya menunduk singkat sebagai tanda kesopanan.
Roda besar itu menggelinding di jalanan belum diaspal, kadang bertanah berdebu, lalu melewati bebatuan. Bunyi suara pak kusir mengendalikan Kuda, sesekali menghentakan pecut tidak membuat Ainur mengalihkan perhatian dari pematang sawah.
Saat akan menuruni bukit rendah, Ainur melihat bagian sisinya yang terdapat sebuah tebing ditanami pepohonan rimbun.
Matanya menyipit, tiba-tiba dia meminta sang kusir menarik tali kekang Kuda agar berhenti berjalan.
Ainur bergeser sampai ke tepian, deru napasnya meningkat. Di pertengahan tebing ada sesuatu menarik matanya – sebuah jendela kayu, bukan itu yang membuat jantungnya bertalu-talu, akan tetapi ….
.
.
Bersambung.
...----------------...
Hai ... hai 🥰
Mungkin karya satu ini sedikit berbeda dari Sawitri, Laila Ngatemi, dan Padmini, yang tingkat kesadisannya ngeri-ngeri sedap. Jadi bisa dinikmati bagi memiliki tingkat ketakutan tinggi.
Kali ini aku mau mencoba alur diam-diam menghanyutkan, menenggelamkan ... eh, gak tau juga perumpamaan yang tepatnya. Tinggal kakak yang mendeskripsikan saja.
Sesuai sama logatnya yang sedikit halus.
Selamat membaca, menerka, dan dipersilahkan, diperbolehkan berkomentar sebanyak-banyaknya. Terima kasih 🫂🥰❤️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!