“Aku telat, ya, Cha? Maaf, ya.”
Hari di mana suaminya meninggalkan dunia. Aku, entah senang atau sakit. Semua rasa itu menjadi satu…
“Makan dulu, Gar.”
Melihat Echa menyuguhkan dua teh hangat dan sup dengan nasi di depan semua orang serta seluruh keluarganya yang menatap mereka pun berusaha Garra abaikan, mengingat Echa hari itu hanya sedang berusaha kuat di hadapan pria kecil berumur lima tahun yang sedari tadi membuntutinya.
“Kalo mau bantu-bantu di belakang gak apa-apa, Cha. Ada Joo Heon sama aku,” ujar Garra diikuti senyum serta anggukan pria di sisinya.
“Ya sudah, aku tinggal, ya.”
Sejenak, Garra memandangi langkah Echa ke dapur sampai Joo Heon menyenggol lengannya.
“Ini boleh di makan?” bisik Joo Heon.
“Dih,” cibir Garra, “makan sudah.”
Senyum mengembang di wajah Joo Heon yang langsung menaruh nasi cukup banyak di mangkuk supnya. Sementara, Garra yang hanya mengambil nasi seperlunya tampak melamun memandangi lantai yang terkadang tampak bayangan orang berlalu lalang di hadapannya.
“Di Indonesia kalau ada yang meninggal juga makan-makan kaya di Korea, ya. Ngomong-ngomong sup-nya enak,” celoteh Joo Heon dengan suara amat pelan.
“Hmm,” sahut Garra yang masih makan sambil melamun.
“Itu yang kamu buatkan klinik?”
“Iya, sudah rampung?”
“Kata Min Gyu baru 65%.”
“Habis ini kita ke sana. Aku mau liat. Terus, tolong urus surat pengunduran diri Echa di Samboja. Aku mau dia keluar dari sana.”
“Siap. Nanti aku hubungi Yeon Jun biar dia uruskan semua.”
Sejenak, Echa terlihat memperhatikan perbincangan Garra serta temannya dari dapur. Dia menghela napas usai mengalihkan pandangan walau sebenarnya tidak mendengar apa yang tengah mereka perbincangkan dan kembali fokus memotong buah semangka. Seakan, tidak ada jawaban yang dia dapat dari memandangi mereka.
“Mbak ijin sampai kapan?” tanya Ayik, Kakak Sepupu Echa.
“Kalo gak ada halangan tiga hari, Kak.”
“Itu teman Mbak yang kuliah sama kerja di Korea itu, kan?”
“Iya, Kak. Itu Garra.”
Ada rasa terkejut usai mendengar jawaban datar Echa namun, Ayik yang tengah membantu memotong semangka berusaha menahan diri tatkala melihat kondisi Adiknya yang belum siap untuk menjawab apapun yang ada di kepalanya saat itu.
“Mbak, itu siapa?” tanya Lina, istri Kakak Sepupunya yang lain dan tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka.
“Sagarra, Kak. Temen.”
Seakan tidak ingin menanggapi sosok di hadapannya, Echa pun memilih beranjak dan meninggalkan pekerjaannya. Echa menarik anaknya dan mengajaknya masuk ke kamar.
“Mami, Papi sudah sama Tuhan, ya.”
“Iya, Nak. Doakan Papi, ya. Adek tidur dulu, ya. Istirahat. Nanti malam banyak lagi Kakak yang lain ngumpul di rumah.”
Ada rasa sesak di dada tatkala Echa memeluk anak lima tahun yang perlahan memejam itu, dan perlahan ia pun ikut menutup mata ingin beristirahat sejenak.
Aku…masih berharap ini hanya mimpi. Karena setiap kali aku tidur memeluk Rouwheen, kau selalu hadir memelukku dari belakang.
Batin Echa memecah isaknya, perlahan tetesan air mata membasahi pipinya. DIa tetap memejam dan menangis dalam diam, memeluk erat buah hatinya yang telah terlelap nyaman.
TOK! TOK! TOK!
Perlahan Echa bergerak mendengar ketukan lembut dari luar, ia duduk di tepi ranjang dan melangkah pelan kearah pintu lalu membukanya dengan hati-hati.
“Kenapa, Ma?”
Diana, Mamanya tampak begitu teduh menatapnya.
“Rouwheen tidur?” tanya Diana.
“Iya, Ma, Kenapa?”
“Nanti Mama awasin. Mama duduk depan kamarmu sambil ngupasin bawang. Pintunya buka aja. Kamu ke depan, temanmu mau pamit.”
“Oh! Iya, Ma.”
“Eh, Mbak tapi, itu siapa? Garra?” tanya Diana berusaha meyakinkan hatinya.
Dibalik wajah murung dan kedua mata sembab sejak menerima kabar kematian suaminya, ada senyum yang terukir di wajahnya kali ini.
“Iya, Ma. Itu Garra. Dari awal Ibu gak pernah liat Garra ataupun David tapi, Mama satu-satunya orang yang percaya kalo mereka ada. Aku dibilang pembohong tapi, kali ini, Garra datang buatku, Ma.”
Ada air mata yang tertahan di pelupuk mata Echa, dan Diana pun tersenyum menepuk pelan lengannya serta mengangguk setuju dengan semua pernyataan Sang Anak.
“Mama, akan percaya apapun yang anak Mama ucap serta lakukan, selama itu tidak menyakiti atau merugikan orang lain.”
Bergegas Echa menghapus air matanya yang sempat mengalir.
“Sudah, temui Garra dulu. Habis itu bantu-bantu lagi, ya. Kita usaha supaya gak nyusahin orang biar Zayn pun enak di sana. Kuat, ya, Nak. Demi Rouwheen.”
“Iya, Bu. Mbak ke depan bentar, ya.”
Melangkah ke teras rumah, Echa bisa melihat Garra tengah tertawa kecil bersama Joo Heon yang tampak begitu semangat bercerita.
“Mau pulang, ya?”
Teguran Echa seketika membuat tawa Garra berubah jadi senyum riang.
“Iya, Cha. Aku masih ada kerjaan. Kalo gak ada halangan besok malam aku ke sini. Aku ngajak dia lagi sama temanku satu, ya.”
“Kamu ngomong gitu kaya miskin banget, Gar.”
Ucapan Echa hampir membuat tawa Garra lepas namun, ia tahan dengan senyum tipis.
“Ya, udah, aku pamit, ya.”
Baru Garra akan melangkah, tangan Echa yang mengayun tidak sengaja menyentuh kelingking kanan Garra.
“Oh! Kenapa, Cha?” ujar Garra yang kembali berbalik.
“Oh! Gak, gak sengaja. Aku mau garuk tanganku. Gak sengaja ngenain tanganmu.”
“Oh! Kirain. Ya sudah, aku pamit, ya.”
“Mmm…Gar?”
Sontak Garra menghentikan langkahnya dan menatap Echa yang tampak tidak nyaman.
“Aku cuma mau bilang, makasih banyak sudah datang dari subuh terus bantu-bantu sampai selesai.”
“Oh! Santai, Cha,” ujar Garra sambil mengusap sesaat lengan kanan Echa, “dah, aku pamit, ya.”
“Iya, hati-hati, ya.”
Ada masa di mana aku selalu menunggu membuktikan semuanya benar dan hari ini, Tuhan mendengar doaku walau di saat yang kurasa kurang tepat…
“Sudah kamu kabarin Yeon Jun?” tanya Garra usai mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah Echa.
“Udah. Lagi proses. Jadi, kita ke mana? Pulang ke rumah atau langsung ke lokasi?” tanya Joo Heon yang masih fokus menyetir.
“Ke rumah aja. Ada yang mau aku siapkan dulu.”
Pukul 07.00 malam, sesosok pria dengan kaos hitam santai yang membentuk tubuh berototnya tampak tersenyum menyambut Garra dan Joo Heon. Rahangnya yang tegas membuat sosoknya terlihat sombong ketika senyum itu pudar.
“Pyeonjiga?(Suratnya?)”
Segera dia menyerahkan sebuah amplop cokelat besar dan langsung Garra menyambut serta mengecek selembar kertas yang sejenak membuatnya tersenyum puas sebelum kemudian memasukkannya lagi.
“Yeon Jun?” tanya Garra.
“Geu Hong Chani buleuo. Geuronikka, ohue baro samusil doraga (Hong Chan memanggilnya. Makanya dia langsung balik ke kantor sore tadi).”
“Geudeul ajik ana?(Mereka belum datang?)” tanya Garra lagi sambil memperhatikan sekeliling.
“Nugu?(Siapa?)”
Han Min Gyu, pria yang memiliki tinggi serta bentuk badan yang sama dengan Garra itu tampak mengerutkan kening, sementara Joo Heon sudah berkeliling cukup jauh ke belakang gedung yang sudah memiliki sekat-sekat itu.
“Geu saramdeul mideo. Geugeo hoksi, nado mideojana(Orang yang dia percaya. Dan mungkin, juga bisa aku yakini),” ujar Garra dengan senyum singkat.
“Haaa…Echa?”
“Aniya. Geu chingu. Echaneun geudeul chinguragu buleujyo(Bukan. Temennya. Echa bilang, mereka temen).”
Dan saat mereka berbalik tiba-tiba seberkas cahaya lampu mobil masuk menyinari gedung yang cukup terang malam itu.
“Takut, eh.”
Garra tampak tersenyum sinis saat salah satu dari empat wanita yang baru turun dari mobil putih itu berucap lirih tentang ketakutannya. Dan bergegas Garra membuka pintu masuk gedung yang sudah hampir selesai itu.
“Saya, Sagarra,” ujar Garra yang langsung mengulurkan tangan menyambut mereka.
Tidak nyaman namun, pria satu-satunya diantara mereka pun menyambut dengan senang hati menggantikan empat wanita yang berjejer di sisinya.
“Irfan. Ini Istri saya, Dokter Saputri. Ini Bidan di klinik kami sekarang, Firdha. Lalu di sebelahnya, Apoteker Dewinta. Dan bagian administrasi kami, Jeni.”
“Silahkan masuk dan liat dulu.”
Untuk beberapa lama, Joo Heon dibantu Garra menjelaskan secara detail rincian gedung yang mereka perkenalkan malam itu.
“Sebenarnya kalo diliat begini termasuk gedung mewah, sih, Pak,” ujar Saputri yang terdengar lebih riang dari beberapa saat mereka bertemu.
“Rumah Sakit tipe C masuk gak, sih, ini? Iya, kan?” tanya Firdha yang ikut bersemangat.
“Ehehe, iya, Pak. Rumah Sakit tipe C masuk, sih, ini. Karena kelewatan lengkapnya.”
Sejenak Garra tertawa renyah.
“Saya cuma mau klinik 24 jam dengan standar Internasional. Karena saya tau sistem penyediaan serta pelayanan juga standarnya udah cukup menyulitkan ngedapetin pengakuan sertifikasi akreditas. Kebetulan selain jaminan kesehatan Indonesia, saya juga mau nerapin jaminan kesehatan Internasional milik perusahaan kami sendiri. Jadi, kasarnya saya main secara halus untuk menguasai pasar bidang kesehatan di sini. Jaminan kesehatan dari negara kami juga bisa mempermudah WNI yang mau netap di Korea saat mengalami keadaan yang memerlukan perawatan kesehatan. Jadi, cukup menguntungkan kedua pihak, kan?”
Mendengar penjelasan Garra, kelimanya tampak berpikir namun, di satu sisi mereka terlihat menampakkan gelagat menyetujui penuturannya. Sementara, Min Gyu dan Joo Heon yang berdiri di sisi kiri serta kanan Garra terlihat saling melirik kearahnya yang masih tetap tersenyum pada orang-orang di depannya.
“Jadi, bisa, kan? Karena tawaran Dokter Saputri sebelumnya, saya gak tertarik untuk mengakuisisi klinik yang sekarang menjadi rumah untuk Nona dan Tuan sekalian. Terlebih saya dengar terlalu banyak cacat di gedungnya. Itu ngebuat saya semakin gak tertarik. Apalagi pemilik gedungnya pun gak terlalu peduli dengan keadaan karyawan serta kliniknya. Saya udah terlalu dalam mencari tau. Jadi, saya benar-benar gak mau membuang waktu,” jelas Garra dengan senyum tipis diakhir kalimatnya.
“Mmm…boleh kita diskusi dulu gak, Pak?” tanya Irfan.
“Boleh. Kalo gak ada halangan kita ketemu di kafe sebelah aja besok lusa. Silahkan di bawa beberapa kontrak karyawan yang mungkin bisa dijadikan patokan untuk berpikir serta berdiskusi.”
Segera, Irfan menerima amplop cokelat yang cukup tebal dari Garra sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan gedung tersebut.
“Jeni…yeppeo(Jeni...cantik),” bisik Min Gyu dengan wajah datar.
“Echaneun bonjeokinayo?(Kamu udah liat Echa?)” bisik Joo Heon.
“Ajik. Geunyang sajineu bwa. Wae? Yeppeo?(Belum. Cuma di foto. Kenapa? Cantik?)” sahut Min Gyu seraya melihat serius Joo Heon.
“Yeppeo? Dangyeonhaji. Geunde, geu segsiye Jeni boda(Cantik? Pastinya. Tapi, dia lebih seksi dari Jeni). Akh!”
Pukulan cukup keras di puncak kepala Joo Heon sontak mengejutkan mereka.
“Jukgolle?(Mau mati?)” ujar Garra dingin.
Mereka pun meneguk ludah kuat dan terbirit masuk ke mobil diikuti Garra yang hanya bisa menghela napas keras.
Karena sedikitpun aku sudah tidak rela melepaskanmu. Baik kau, maupun anakmu sekarang milikku…
If you are tired and exhausted
and you need someone else
I will be there, I’ll treat you well so you can rest
I will stand behind you (Lirik Lagu U-Kiss - Love of A Friend)
Mendengar nada dering dan melihat nomor yang tertera di panggilan Whattsup-nya, Echa langsung meletakkan pisau dan meninggalkan pekerjaannya memotong daging.
“Halo, selamat siang. Kenapa, Pak?”
Usai menjauh dari kerumunan keluarganya yang tengah membantu di rumah mereka untuk acara malam kedua meninggal suaminya, dia menerima panggilan dari atasannya.
“Gak. Kemaren ada Kakakmu ke kantor Bapak. Dia bilang, kamu mau pensiun dini dari PNS-mu karena mau ikut dia ke Korea. Ini sudah yakin? Soalnya surat pengunduran dirimu sudah Bapak pegang. Tapi, lebih dari itu Bapak terima kasih untuk hadiah yang kamu kasi buat bantu nikahan anak Bapak,” jelas suara dari seberang.
“Ka…kak?” ucapnya setengah berbisik.
Ada kebingungan berkecamuk dalam pikirannya. Ada takut dan gelisah yang ia rasakan. Kata-kata surat pengunduran diri dan pensiun dini membuatnya sangat gelisah karena dia pun saat itu memiliki tunggakan pinjaman bank untuk membantu ekonomi keluarganya.
“Pa, Pak, maaf, kalau boleh tau Kakak saya namanya siapa yang menyerahkan surat pengunduran diri saya kemaren, Pak?” tanyanya gugup.
“Yosua.”
“Yo, Yosua?”
“Iya. Kakakmu Yosua. Orangnya ganteng banget, sampai anak-anak heboh. Hahaha…”
Tawa renyah atasannya tidak sedikitpun membuat Echa merasa tenang.
“Mmm…Pak. Saya, kan, masih ada ijin cuti sampai besok, ya, Pak. Boleh, kah, membahas soal ini waktu saya nemuin Bapak lagi? Saya merasa gak enak sebenarnya nyerahin suratnya lewat Kakak saya.”
“Iya, boleh. Gak apa-apa. Bapak mohon maaf gak bisa ngasi apa-apa, ya. Cuma bisa turut mendoakan.”
“Iya, Bapak. Terima kasih banyak. Saya tutup dulu, Pak. Selamat siang.”
“Oh! Iya, siang.”
Sejenak, usai telepon tertutup, Echa mengutak-atik ponsel dan menekan nomor Garra di aplikasi Cocotalk-nya.
“Hmm? Halo?”
Tampak sesaat Echa meneguk ludah kuat saat mendengar suara serak dan berat Garra. Sudah berapa tahun sejak terakhir mereka saling berkomunikasi melalui telepon dan kali ini, rasa gugup tiba-tiba menyelimutinya.
“K, Ko…eh! Anu, Gar, kamu punya temen yang namanya Yosua?”
Di sisi lain, Garra yang baru bangun dari tidurnya tidak langsung menjawab pertanyaan Echa.
“Bentar, Cha. Aku baru bangun.”
“Oh! I, iya. Aku matikan aja, ya, dulu. Kamu beres-beres aja du…”
“Gak usah. Nyantai, Cha. Bentar, aku nyari bajuku dulu.”
Di pihak Echa sendiri merasa tidak nyaman saat Garra mengatakan tentang mencari baju. Otaknya membayangkan hal yang sebenarnya tidak ingin dia bayangkan sampai ia menepuk-nepuk cukup kuat pipinya.
“Oh! Halo, Cha? Udah,” panggil Garra.
Garra melangkah ke dapur dengan kaos hitam tanpa lengan yang baru saja ia kenakan, dia menenteng ponsel dan mengenakan earphone bluetooth.
“Cha? Halo?”
“Oh! Iya, halo, Ko..eh, Gar. Iya.”
Sesaat Garra tertawa geli mendengar sahutan Echa usai ia meneguk air es-nya.
“Apa, Me?”
“Heh! Aku gak sengaja.”
“Iya, iya. Kenapa?” sahut Garra yang masih tersenyum geli.
“Gak. Kamu punya temen namanya Yosua, kah? Aku di telepon atasanku di rumah sakit barusan. Katanya, ada orang ngaku Kakakku, namanya Yosua, dia nyerahin surat pengunduran diri atas namaku,” jelas Echa yang terdengar memelas, “Gar, kalo ini memang kerjaanmu, tolong dipikir ulang. Aku masih ada tunggakan bank 150 juta dengan gadai SK. Belum angsuran kecil lain yang totalnya hampir 50 juta. Suamiku sudah gak ada, mau aku kasi makan apa anakku. Rouwheen masih kec…”
“Nikah sama aku,” ujar Garra datar.
“Ni, nikah? Gar, gila kamu. Kuburan suamiku bahkan belum ke…”
“Kamu gak punya pilihan, Cha. Seluruh hutangmu yang totalnya hampir 250 juta itu sudah kubayar lunas.”
“Lu, lunas? Kamu lunasin semuanya tanpa ngomong apa-apa sama aku?”
Ada nada sedih serta kesal yang tertahan, terdengar dari suara Echa yang membuat Garra sesaat memejam, seakan ia bisa merasakan apa yang Echa rasakan detik itu.
“Aku tutup teleponnya. Aku gak mau benci kamu. Tapi, kasi aku waktu.”
TUUUT!
“Haaa…”
Garra terlihat tenang, ia menarik salah satu kursi meja makan dan duduk sambil menikmati sisa air es-nya serta memandangi matahari pagi yang sudah memanjat cukup tinggi.
“Aku gak mau maksa. Tapi, aku tau kamu gak bisa lari kalo soal balas budi, Me. Haaa…”
Sejenak, ia mengutak-atik ponsel, menyalakan musik dan beranjak dari kursi menuju halaman rumah. Dilihatnya Min Gyu dan Joo Heon sudah sangat berkeringat.
“Bangun cukup siang hari ini, Bosku?” sindir Min Gyu.
“Cih,” cibir Garra yang langsung merebut dumbbell yang dipegang Joo Heon, “padahal aku mau ngomong sendiri hari ini. Tapi, malah keduluan orang itu.”
“Siapa?” tanya Joo Heon.
“Marwan,” sahut Garra dingin.
Tampak Joo Heon meneguk ludah kuat, firasatnya yang mengatakan jika mereka melakukan sedikit kesalahan membuatnya hanya bisa tertunduk.
“Echa bilang, orang itu hubungin dia. Aku gak tau apa yang dia bahas sama orang itu tapi, dia nanya, kenal atau gak sama Yosua.”
“Haaa…nanti aku bereskan.”
Ucapan Min Gyu yang berusaha menengahi membuat Joo Heon sedikit lega.
“Aku gak nyalahkan kalian tapi, aku selalu bilang, apapun yang menyangkut dia, aku mau kita gerak hati-hati. Aku mau dia tau dari aku, biar aku yang jelaskan semua. Bukan dari orang lain. Dia benci sesuatu yang kaya gitu.”
“Ya, tapi, gimana, orang itu yang bikin masalah. Gak mungkin Yeon Jun ngelakuin kesalahan. Dia orang yang detail. Kamu kenal kita semua. Bahkan lebih dari diri kita sendiri,” ujar Min Gyu penuh harap.
“Ma, maaf, Kak,” ujar Joo Heon penuh sesal.
“Nasi udah jadi Bubur. Aku nemuin Echa dulu. Masalah orang itu kita tunggu keputusan Echa aja. Kalian tolong urus proses pembangunan klinik sama pelatihan anak-anak itu nanti kalo mereka setuju.”
Segera keduanya menggangguk singkat dan hanya memandangi langkah Garra yang sudah berjalan ke kamar mandi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!