Sartika nampak berlari tergopoh-gopoh dari sawah menuju ke rumah. Orang-orang yang melihatnya berlari tanpa sandal itu pun heran.
"Ada apa Tika. Kenapa lari-lari begitu?!" tanya Ginah, tetangga yang juga kakak ipar Sartika.
"Anakku pulang Mbak. Azam pulang!" sahut Sartika lantang.
"Alhamdulillah. Setelah bertahun-tahun pergi tanpa kabar, akhirnya Azam pulang juga," gumam Ginah.
"Kira-kira apa yang dibawa Azam setelah merantau bertahun-tahun ya Bu?" tanya Padmi.
"Pasti uang lah," tebak Lia.
"Atau Mantu plus cucu," sela Ruwina.
"Daripada penasaran, mending kita liat aja langsung yuk," ajak Ginah.
Padmi, Lia dan Ruwina pun mengangguk. Kemudian empat wanita yang tadi berbincang di teras rumah Padmi itu pun bergegas melangkah mengikuti Sartika. Tapi langkah mereka terhenti di depan rumah karena terhalang sebuah mobil besar yang parkir di halaman rumah Sartika.
"Wah hebat banget si Azam. Abis merantau pulang-pulang bawa mobil. Kayanya masih baru, catnya aja masih mengkilap begitu," puji Padmi.
"Belum tentu. Siapa tau itu mobil sewaan," kata Ginah.
"Sewa gimana maksudnya Bu Gin?" tanya Ruwina tak mengerti.
"Sewa itu artinya pinjem. Dipulangin setelah selesai dipake. Biasanya sewanya dihitung per jam atau harian. Jadi setelah selesai dipake ya dikembaliin ke yang punya sambil ngasih uang. Gitu Na," sahut Ginah gemas.
"Kalo itu saya juga tau Bu. Maksud saya ... " ucapan Ruwina terputus karena Ginah memotong cepat.
"Udah ga usah nanya lagi. Tuh liat, apa yang Azam kasih buat ibunya," kata Ginah sambil memberi isyarat dengan ujung dagunya.
Disaksikan semua orang, Azam memberikan satu set perhiasan emas kepada sang ibu. Saat Sartika masih terpukau tak percaya, sang anak justru membantunya memakaikan semua perhiasan itu.
"Wah ... bagusnya. Ini beneran emas Le?" tanya Sartika sambil mengamati gelang dan cincin di tangannya dengan seksama.
"Ya iya lah Bu. Masa untuk Ibuku aku beliin yang imitasi. Kalo Ibu ga percaya, Ibu bisa kok cek perhiasan ini ke toko emas di pasar," sahut Azam cepat.
"Ga perlu. Ibu percaya sama kamu kok," kata Sartika dengan mata berbinar.
Azam pun tersenyum lebar mendengar ucapan sang ibu.
"Nah gimana, Ibu suka ga?" tanya Azam setelah selesai mengenakan kalung di leher Sartika.
"Suka banget Le. Makasih," sahut Sartika sambil memeluk Azam dengan erat.
"Iya Bu, sama-sama," sahut Azam sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong itu mobil siapa Le?" tanya Sartika kemudian.
"Mobil aku lah Bu," sahut Azam bangga.
"Mobil kamu?" ulang Sartika tak percaya.
"Iya. Ibu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ambil barang yang ketinggalan di mobil," sahut Azam sambil bergegas keluar rumah.
Saat membuka pintu mobil, tak sengaja Azam melihat empat tetangganya berdiri mengamati dari belakang mobil. Setelah mengambil beberapa paper bag, dia segera mendekati Ginah dan ketiga rekannya sambil tersenyum lebar.
"Wah, udah pulang kamu Zam," sapa Ginah dengan ramah.
"Iya Bude," sahut Azam sambil mencium punggung tangan Ginah dengan takzim.
"Bude kirain kamu udah ga inget pulang Zam," kata Ginah.
"Kok Bude bisa nebak begitu sih?" tanya Azam tak mengerti.
"Abisnya kamu pergi lama banget, mana ga ada kabar lagi. Pasti kerjamu enak ya di kota," kata Ginah.
"Saya ngasih kabar kok, walau jarang tapi ibu tau dimana saya. Selama ini saya yang minta sama ibu supaya ga usah cerita apa pun tentang saya. Bukan apa-apa, kabar saya kan cuma penting untuk ibu tapi ga penting untuk diketahui orang lain. Terus soal kerjaan, Bude bisa liat sendiri hasilnya. Kalo ga enak, mana mungkin saya pulang bawa oleh-oleh istimewa buat ibu saya," sahut Azam sambil tersenyum penuh makna.
Ucapan Azam membuat Ginah dan ketiga tetangganya terdiam sambil saling menatap. Mereka tak menyangka akan mendapat jawaban yang kurang mengenakkan. Tapi rasa tak nyaman itu lenyap saat Azam memberikan bingkisan kepada mereka.
"Ini ada sedikit oleh-oleh buat semuanya. Mudah-mudahan suka ya," kata Azam.
"Wah repot-repot segala. Tapi makasih ya Mas Azam," kata Ruwina mewakili rekan-rekannya.
"Sama-sama. Tapi maaf Bude dan semuanya, sekarang saya masuk dulu ya. Saya capek banget nih, mau istirahat. Maklum lah, saya nyetir sendiri dari kota ke sini," kata Azam sesaat kemudian.
"Kenapa ga nyewa supir sekalian Zam?. Biasanya kan rental nyediain jasa supir juga," tanya Ginah.
"Saya ga pake supir karena saya masih mampu bawa sendiri. Lagian ini mobil saya bukan mobil rental Bude," sahut Azam sambil tersenyum.
"Masa sih. Beli cash atau kredit?" tanya Ginah sambil mengamati mobil dan pemiliknya bergantian.
"Cash Bude," sahut Azam dengan sabar.
"Tapi ... " ucapan Ginah terputus karena Padmi memotong cepat.
"Eh, udah yuk. Saya lupa masih ada cucian piring di rumah. Kalo gitu kami pamit, makasih sekali lagi ya Mas Azam," kata Lia sambil menarik lengan Ginah agar menjauh.
"Ck, ngapain narik-narik sih. Aku kan belum selesai ngomong tadi," protes Ginah sambil menepis tangan Lia.
"Kamu bukan ngomong tapi ngajak berantem tadi Gin. Makanya sebelum terjadi, lebih baik aku ajak balik," sahut Lia hingga membuat Ginah melengos kesal.
"Tapi dari pengakuan Azam tadi kita jadi tau sesuatu. Keliatannya Sartika lebih kaya dari Ginah sekarang. Iya kan," kata Padmi.
Ucapan Padmi yang memprovokasi itu membuat Ginah meradang.
"Ck, aku yakin itu mobil rental. Tunggu aja seminggu lagi, mobil itu pasti udah ga ada di rumahnya," sahut Ginah.
"Kalo ga, gimana?" tanya Padmi.
Ginah mengabaikan pertanyaan Padmi. Dia melangkah pergi sambil mendengus kesal dan meninggalkan rekan-rekannya begitu saja.
Mengetahui Ginah terpancing dengan ucapannya tadi, Padmi pun tersenyum puas.
"Kenapa kamu ngomong gitu sih Mi. Liat tuh, Ginah jadi emosi," tegur Lia.
"Gapapa, biar seru aja," sahut Padmi sambil melenggang masuk ke dalam rumahnya.
Lia dan Ruwina nampak menggelengkan kepala melihat tingkah Padmi dan Ginah. Keduanya hapal betul apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara itu di dalam rumah terlihat Sartika dan Azam yang berdiri sambil mengawasi keempat tetangganya itu.
"Kenapa budemu Le, kok mukanya ditekuk begitu?" tanya Sartika.
"Bude Ginah kesel pas tau mobil yang aku bawa itu mobilku Bu," sahut Azam.
"Ga usah diambil hati ya Le. Budemu itu kan emang dari dulu begitu. Paling ga suka kalo ada orang yang lebih maju dari dia," kata Sartika.
"Itu iri namanya Bu. Kalo dia kaya gitu, aku justru makin semangat buat manas-manasin dia nanti," sahut Azam.
"Ga usah Le, ora ilok. Yang ada malah ribut nanti," kata Sartika.
"Kenapa, Ibu takut?" tanya Azam.
"Bukan takut. Ibu cuma ... " ucapan Sartika terputus karena Azam memotong cepat.
"Ibu ga usah takut lagi. Sekarang aku punya uang banyak dan aku bakal beli kesombongannya itu pake uang nanti," kata Azam.
Sartika nampak menghela nafas panjang mendengar ucapan sang anak. Dalam hati dia berharap Azam hanya sekedar bicara dan menganggapnya angin lalu.
Tapi sayang harapan Sartika tak terbukti.
Keesokan harinya Azam nampak mengajak beberapa orang pria ke rumah. Saat Sartika pulang dari sawah dia terkejut melihat mereka sedang mengukur rumahnya.
"Ada apa ini Le?. Kenapa rumah kita diukur-ukur begini. Jangan bilang kamu mau jual rumah peninggalan bapakmu ini !" kata Sartika panik.
"Aku bukan mau jual rumah ini. Justru aku mau benerin rumah ini biar lebih bagus Bu," sahut Azam.
"Lebih bagus?" ulang Sartika.
"Iya. Pokoknya Ibu tenang aja. Rumah ini bakal disulap jadi bagus dan mewah, biar pas sama mobilku," sahut Azam.
"Tapi apa urusannya mobilmu sama rumah ini Le?. Kan mobilmu ada di halaman, ga di dalam rumah," tanya Sartika tak mengerti.
"Ya ada dong. Masa mobil bagus parkir di rumah jelek, ga pantes Bu. Selain aku perlu garasi buat naro mobilku, rumah ini juga udah ketinggalan jaman. Makanya aku renov biar keliatan bagus dan kekinian," sahut Azam.
"Tapi Le ... " ucapan Sartika terputus.
"Ssttt ... udah ya Bu. Sekarang Ibu masuk gih, urusan renovasi rumah serahin aja sama aku," kata Azam sambil mendorong sang ibu ke dalam rumah.
Sartika tak bisa berbuat apa-apa dan hanya menurut saja saat rumah peninggalan sang suami telah dipugar oleh anak laki-lakinya itu.
Renovasi dadakan dan besar-besaran yang dilakukan Azam pada rumah orangtuanya mau tak mau menarik perhatian warga desa.
Rumah yang semula sederhana itu dirubah menjadi rumah megah bak istana.
Sebagian warga mulai mempertanyakan apa pekerjaan Azam di kota hingga bisa membeli mobil dan merenovasi rumah.
"Pergi ke kota beberapa tahun, pulang-pulang bisa bawa mobil dan uang banyak buat merenovasi rumah. Pasti gaji Azam gede ya," kata salah seorang warga.
"Kayanya sih gitu," sahut warga lainnya.
"Kira-kira Azam mau ga ya ngajak anak saya kerja. Siapa tau saya bisa ketularan kaya," kata pria bernama Parto tiba-tiba.
Semua orang menoleh kearah Parto lalu tersenyum. Jika dirunut ke belakang, sebenarnya Parto adalah orang yang bisa dibilang berjasa dalam hidup Azam. Dulu Parto adalah juragan kambing dan Azam adalah salah satu karyawannya. Sayangnya Parto mengalami kebangkrutan setelah ditipu oleh rekannya.
"Coba aja Pak. Yah, nasib orang kan ga ada yang tau. Buktinya Azam, dulu cuma menggembala kambing Bapak, eh setelah merantau malah jadi sukses begitu," sahut Sabri kemudian.
"Betul juga. Yuk, kita tanya sama Azam," ajak Parto sambil melangkah mendekati Azam yang sedang berdiri mengawasi pembangunan rumahnya.
\=\=\=\=\=
Azam yang sedang berbincang dengan mandor pun menoleh saat Parto menyapanya.
"Assalamualaikum Zam. Lagi repot nih keliatannya," sapa Parto.
"Wa alaikumsalam, eh Juragan Parto. Apa kabar Juragan," kata Azam sambil menjabat tangan Parto erat.
"Hush, jangan panggil juragan. Saya cuma orang biasa sekarang. Ga enak kalo ada yang denger nanti," kata Parto salah tingkah.
"Tapi buat saya sama aja. Bapak tetap orang baik yang murah hati dan berjasa dalam hidup saya dan ibu saya. Kalo ga ada Bapak, ga tau deh gimana nasib kami dulu. Soalnya ga ada satu pun yang peduli sama kami. Sejak ayah meninggal, kami seolah tinggal sendiri di lingkungan yang katanya keluarga ini. Tapi sejak Bapak ngijinin saya bantu gembalain kambing sepulang sekolah, saya dan ibu saya jadi bisa makan bahkan hidup lebih baik," sahut Azam dengan mata berkaca-kaca.
Parto pun terharu mendengar ucapan Azam. Dia menepuk punggung Azam dengan lembut.
"Saya juga senang karena kamu anak yang rajin dan bertanggung jawab. Sejak kamu membantu saya, kambing saya tumbuh sehat dan besar. Saya jadi dapat untung banyak karena kambing saya bisa laku dengan harga tinggi dan di atas pasaran," sahut Parto hingga membuat Azam tersenyum.
"Sebenernya saya mau ngajak Bapak mampir, sayangnya rumah lagi kotor dan banyak debu. Tapi saya janji, pas rumah udah jadi, Bapak adalah orang pertama yang bakal saya undang masuk ke dalam rumah kami," kata Azam.
Parto pun tersenyum. Merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk meminta bantuan, Parto pun pamit.
"Katanya mau minta kerjaan buat anak, kok ga jadi Pak?" tanya Sabri.
"Kalian liat sendiri kalo Azam lagi repot. Nanti aja lah kalo rumah udah jadi dan dia punya waktu senggang," sahut Parto.
Warga pun mengangguk setuju. Setelahnya Parto melanjutkan langkahnya entah kemana.
"Kasian ya pak Parto. Dari kaya raya punya segalanya, eh sekarang jadi susah. Untung waktu kaya dia ga sombong, jadi pas bangkrut dia ga punya musuh," kata Sabri prihatin.
Azam yang tak sengaja mendengar ucapan Sabri pun ikut membenarkan dalam hati. Dia adalah saksi betapa Parto tetap membumi di saat kaya raya dulu. Azam tersenyum karena niatnya membalas kebaikan Parto dulu akan segera terwujud sebentar lagi.
"Sabar ya Pak. Setelah rumah ibu selesai, aku bakal bantu Bapak nanti," batin Azam.
Dua Minggu kemudian Azam membuktikan ucapannya. Malam setelah pengajian untuk tasyakuran rumah sang ibu digelar, dia meminta Parto yang saat itu juga hadir untuk menunda kepulangannya.
"Memang ada apa Zam?" tanya Parto.
"Begini Pak. Saya ... maaf kalo terkesan sok tau. Saya denger dari beberapa tetangga kalo Bapak lagi butuh uang. Bukan merendahkan atau gimana, saya cuma ingin membantu. Ini ada sedikit uang, semoga bisa sedikit meringankan beban Bapak," kata Azam sambil menyelipkan amplop berisi uang ke telapak tangan Parto.
Aksi Azam membuat Parto terkejut. Dia menatap anak muda di hadapannya itu beberapa saat.
"Bapak ga usah pikirin gimana cara ganti uang itu karena saya memang ga mau diganti. Saya memberinya dengan ikhlas. Ini sebagai ungkapan terimakasih saya atas kebaikan Bapak ke saya dan ibu saya dulu," kata Azam kemudian.
"Kamu ga perlu kaya gini Zam. Dulu kita kan memang bekerja sama. Kamu dapat gaji, saya juga dapat untung dari penjualan kambing saya yang kamu rawat dengan baik itu," sahut Parto.
"Tapi cuma Bapak yang mau nerima anak kecil kaya saya untuk kerja dan memberi gaji yang layak Pak. Kalo yang lain paling cuma nyuruh-nyuruh dan ngasih uang seenaknya. Mereka ngeremehin saya dan nganggap saya kacung yang ga berharga. Padahal jelas-jelas saya kerja buat bantu ibu," kata Azam kesal.
Parto menghela nafas panjang mendengar ucapan Azam. Setelahnya dia membuka amplop pemberian Azam dan terkejut saat melihat isinya.
"Saya memang lagi butuh uang, tapi saya ga mau kaya gini Zam," kata Parto.
"Terus Bapak maunya gimana?" tanya Azam.
"Begini, kasih saya atau anak laki-laki saya kerjaan. Jadi pelayan juga boleh kok. Saya yakin kamu pasti butuh pelayan untuk merawat rumahmu yang besar ini," pinta Parto.
Azam pun tertawa mendengar permintaan Parto.
"Saya ga mungkin jadiin Bapak pelayan karena Bapak dulu kan bos saya. Apa kata orang kalo liat saya nyuruh-nyuruh mantan bos saya," kata Azam di sela tawanya.
"Saya ga peduli. Yang penting keluarga saya bisa tetap makan dan saya dapat uang halal dengan cara bekerja. Rasanya itu lebih terhormat daripada saya nerima uang ini cuma-cuma begini Zam," sahut Parto.
Azam pun terdiam. Dalam hati dia kagum dengan prinsip Parto yang lebih memilih bekerja daripada menerima uang cuma-cuma.
"Gimana Zam?" tanya Parto.
"Saya omongin sama ibu dulu ya Pak. Saya kan belum tau ibu perlu orang ga untuk merawat rumah ini. Untuk sekarang Bapak bawa aja uang ini dulu. Nanti soal kerjaan kita bahas lain waktu," sahut Azam.
Parto pun tersenyum lalu mengangguk.
"Saya tunggu kabar baiknya ya Zam. Makasih," kata Parto.
"Sama-sama Pak," sahut Azam sambil tersenyum.
Setelah saling berjabat tangan, Parto pun pamit.
Di teras terlihat para tukang yang merenovasi rumah sedang duduk sambil berbincang ringan. Usai mengantar Parto keluar, Azam pun bergabung sejenak. Dia juga mengucapkan terimakasih sekali lagi karena rumah dipugar sesuai keinginannya.
"Saya suka sama hasil kerja Bapak-bapak. In syaa Allah kalo ada proyek di luar, saya bakal ajak Bapak-bapak buat bantu-bantu nanti," janji Azam.
Ucapan Azam tentu saja membuat tukang yang berjumlah lima orang itu senang. Apalagi Azam membayar mereka dengan upah yang lebih besar dari biasanya.
"Monggo dilanjut ngobrolnya, saya masuk dulu ya Pak," kata Azam kemudian.
"Silakan Mas," sahut para tukang bersamaan.
Setelah Azam masuk ke dalam rumah, para tukang pun melanjutkan obrolan mereka.
"Seneng kerja di sini. Mas Azam dan ibunya ramah, ga pelit lagi," kata salah seorang tukang.
"Betul. Suguhannya juga enak-enak," sahut tukang yang lain sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulut.
"Ck, kalo ngomong jangan sambil makan, nyembur nih," omel salah seorang tukang yang disambut tawa rekan-rekannya.
"Tapi sayang kerjaan kita udah selesai. Padahal saya masih betah di sini," kata salah seorang tukang.
"Tenang aja. Kan tadi mas Azam bilang bakal ngajak kita kerja. Sambil nunggu, kita bisa balik nggarap sawah. Lumayan kan ga nganggur-nganggur amat," sahut tukang lain yang diangguki rekan-rekannya.
Di dalam rumah Azam dan Sartika nampak tersenyum lebar mendengar obrolan para tukang itu.
"Emang kamu beneran mau ngajak mereka kerja Le?" tanya Sartika.
"In syaa Allah Bu. Kebetulan aku ada proyek deket sini. Daripada cari tukang lain yang belum kenal dan ga tau mutu kerjanya, lebih baik aku ajak mereka aja. Selain mempererat silaturrahim kan bisa bantu mereka juga," sahut Azam.
Sartika pun tersenyum bangga mendengar ucapan sang anak.
\=\=\=\=\=
Jika banyak warga yang bangga dengan pencapaian Azam, tapi ada seseorang yang justru 'kebakaran jenggot' melihat apa yang Azam raih.
"Sial*n, kenapa mereka bisa beruntung begitu sih. Udah beli mobil, emas, eh sekarang pake renovasi rumah segala. Ini ga boleh. Aku harus bertindak dan hancurkan semuanya. Aku curiga Azam dapat uang dari cara ga wajar. Dia cuma lulusan SMA, kerjaan apa yang bisa dia geluti sampe menghasilkan uang banyak begitu. Aku yakin setelah orang-orang tau apa yang Azam lakukan, dia dan ibunya pasti malu. Saking malunya, aku harap mereka bahkan ga bisa ngangkat kepala lalu pergi dari desa ini," gumam wanita itu sambil mengepalkan tangan.
Iri akan pencapaian tetangganya membuat wanita itu kehilangan akal sehat dan memilih jalan yang salah. Ya, untuk menghancurkan Sartika dan anaknya, dia berniat meminta bantuan seseorang yang biasa 'menyelesaikan' masalah menggunakan kekuatan hitam.
Sambil berpikir cara apa yang akan dia pilih untuk menyakiti Sartika dan anaknya, wanita itu terus mengamati mereka. Dia juga membaur dengan para tetangga bahkan ikut 'rewang' di rumah Sartika.
\=\=\=\=\=
Hari-hari Sartika setelah sang anak kembali pun berubah.
Sartika yang semula jadi buruh di sawah milik orang lain, kini justru jadi pemilik beberapa petak sawah. Jika biasanya dia berangkat pagi untuk bekerja, tapi kini dia berangkat pagi hanya untuk mengecek pekerjaan orang-orang yang bekerja di sawahnya.
Saat kembali ke rumah Sartika tak harus repot masak dan 'beberes' karena Azam membayar seseorang untuk melakukannya. Sartika hanya tinggal duduk menikmati semua. Jika lelah, dia bisa istirahat di kamar yang nyaman.
Azam adalah karyawan di sebuah developer perumahan berskala besar yang proyeknya tersebar di semua wilayah. Salah satunya terletak di luar desa dan berada dalam pengawasan Azam sebagai site manager.
Dengan jabatannya itu Azam punya wewenang merekrut karyawan, termasuk merekrut para tukang yang merenovasi rumahnya untuk bekerja di proyek yang dia tangani.
Perlahan namun pasti, taraf kehidupan kelima orang tukang dan keluarga masing-masing pun membaik. Sartika senang karena kehadiran Azam bisa membantu memperbaiki perekonomian orang lain.
Meski Azam dan ibunya telah menghadirkan kebahagiaan di keluarga lain dengan tulus, tapi tak semua orang menyukai apa yang mereka lakukan. Bahkan Azam diisukan memanfaatkan kelima tukang itu untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
"Kita ga bisa maksa orang untuk suka sama kita. Jadi biarin aja Bu," kata Azam saat sang ibu menyampaikan rumor yang beredar.
"Apa kamu gapapa Le, ga sakit hati atau kecewa gitu?" tanya Sartika.
"Kecewa sih iya. Tapi bukannya itu udah jadi makanan kita sejak dulu Bu. Bedanya dulu aku kecewa karena ga ada yang bantuin kita, tapi sekarang kecewa karena orang masih aja nyinyir sama apa yang kita lakukan. Padahal aku ga minta uang mereka lho," sahut Azam sambil tersenyum kecut.
"Terus gimana?" tanya Sartika.
"Ya ga gimana-gimana Bu. Aku merekrut tukang bukan karena sekedar menuhin janji tapi karena mereka punya kemampuan. Semua orang kantor juga mengakui kemampuan mereka kok. Yah, walau pendidikan mereka ga tinggi, tapi mereka punya skill dan hasil kerja mereka juga bagus. Kalo dibilang aku ngambil untung dari mereka, biarin aja. Yang ngomong begitu berarti ga tau apa-apa. Ini kan dunia kerja bukan yayasan amal. Kita terbiasa berpikir untuk ngambil keuntungan. Tapi jangan lupa, hubungan ini ga hanya menguntungkan aku tapi juga mereka Bu," sahut Azam.
Sartika tersenyum mendengar jawaban bijak sang anak.
"Iya, kamu bener Le. Lagian orang yang kamu bawa, yang katanya dimanfaatin sama kamu itu justru terlihat seneng aja tuh. Makanya aneh kalo ada yang bilang mereka sengsara karena tenaga mereka diperas tanpa upah yang sepadan," kata Sartika.
"Orang ga suka, bakal terus cari cara untuk menjatuhkan kita. Abaikan itu dan fokus aja sama rencana kita ya Bu," sahut Azam sambil merangkul sang ibu.
"Rencana?. Artinya itu termasuk rencana untuk menikah, iya kan. Terus siapa gadis itu Zam. Kapan kamu mau kenalin dia sama ibu?" tanya Sartika antusias.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang ibu, Azam justru mengurai pelukan lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Sartika pun menggelengkan kepala melihat tingkah sang anak.
"Azam, Azam. Ga terasa kamu udah dewasa sekarang. Setelah bertahun-tahun ga pulang, sekarang yang kita bahas bukan lagi soal makan apa besok, tapi berapa uang yang harus kita keluarkan untuk membayar orang besok ya Le," gumam Sartika sambil tersenyum bangga.
Sartika ingat, dulu dia selalu menangis membayangkan Azam hidup menderita di perantauan. Tapi ternyata semua tak terbukti.
Azam justru hidup lebih baik. Dia bekerja sebagai OB di sebuah perusahaan swasta. Meski harus menghemat dan tinggal di kost murah tapi Azam rela. Itu semua dia lakukan untuk mewujudkan mimpinya yaitu melanjutkan pendidikannya hingga meraih Sarjana.
"Ga usah cerita apa-apa sama orang-orang tentang apa yang aku lakukan di kota ya Bu. Pokoknya Ibu tunggu aja di rumah, ga usah terlalu capek atau berpikir yang buruk. Aku pasti pulang untuk Ibu nanti," kata Azam kala itu.
Sartika pun mengiyakan permintaan sang anak. Dia selalu bungkam saat orang bertanya tentang Azam. Bahkan saat Ginah menuduh Azam lupa diri dan malu mengakuinya sebagai ibu, Sartika hanya membisu. Tapi saat Azam kembali dengan membawa kesuksesan, Ginah lah yang paling terpukul.
Sartika tahu, Ginah lah yang menyebar berita buruk tentang anaknya. Tapi Sartika memilih diam karena merasa tak ada gunanya meladeni Ginah.
Sayangnya aksi bungkam Sartika membuat Ginah berpikir dia takut hingga membuat wanita itu makin merajalela. Bahkan kini Ginah menyebar rumor yang lebih menyakitkan tentang Azam. Walau pun diucapkan dengan nada gurauan, tapi itu berhasil memantik amarah Sartika.
"Kenapa Azam ga mau nikah Tik. Rumah udah punya, kendaraan ada, kerjaan juga ada. Apa lagi yang dia tunggu?" tanya Ginah pada satu kesempatan.
"Bukan ga mau, tapi masih nyari yang cocok Mbak. Lagipula Azam lagi dikejar deadline kerjaan. Daripada terlanjur dekat sama perempuan tapi ga kunjung dilamar, nanti malah jadi fitnah. Makanya Azam menunda dulu niatnya untuk cari pasangan," sahut Sartika.
"Oh gitu. Aku kira Azam ga mau nikah karena ga suka sama perempuan Tik," gurau Ginah yang disambut tawa semua orang.
Ucapan Ginah tentu saja membuat Sartika tersinggung. Apalagi itu diucapkan di hadapan banyak orang.
"Apa maksud Mbak ngomong begitu?" tanya Sartika.
"Bukan apa-apa. Abis selama ini Azam selalu ngumpul sama laki-laki. Aku belum pernah liat dia ngobrol sama perempuan tuh. Makanya aku kira dia ga tertarik sama perempuan," sahut Ginah ringan.
"Jangan keterlaluan Mbak. Anakku normal dan bukan golongan yang dilaknat Allah," kata Sartika gusar.
"Buktiin aja Tik. Kalo Azam memang normal, kenapa dia nolak waktu pak Satrio mencoba menjodohkan dia dengan anak perempuannya?" tanya Ginah.
"Kita semua tau gimana anak pak Satrio itu. Cantik iya, tapi itu aja ga cukup untuk jadi istri Mbak. Pergaulannya terlalu bebas, bahkan orangtuanya aja kewalahan. Itu sebabnya Azam nolak dijodohin sama dia. Azam yakin bakal sulit mendidiknya nanti," sahut Sartika.
"Alasan," gumam Ginah sambil mencibir.
"Terserah Mbak mau percaya atau ga. Tapi aku yakin anakku bisa dapat yang lebih baik dari anaknya pak Satrio nanti. Yah, walau ga secantik anaknya pak Satrio, yang penting sholehah. Menurutku Azam perlu pendamping yang setia dalam setiap kondisi dan bisa ngingetin supaya Azam ga salah jalan nanti. Makanya wajar kalo Azam lebih hati-hati memilih pasangan hidup," kata Sartika.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Sartika.
Ginah yang kalah telak terlihat mendengus kesal. Seolah belum puas, dia bersiap membuka mulut untuk kembali memprovokasi Sartika. Tapi sebelum niatnya terwujud, ucapan Sartika lebih dulu menghantamnya.
"Eh sebentar, daripada Mbak sibuk nyariin Azam jodoh, kenapa Mbak ga mikirin anak perempuan Mbak aja. Dia juga kan belum laku, padahal umurnya udah hampir tiga puluh tahun lho," kata Sartika.
"Eh, kok malah bawa-bawa anakku sih. Itu urusanku bukan urusan kamu Tika!" kata Ginah lantang.
Sartika pun tertawa mendengar ucapan Ginah.
"Akhirnya sadar juga. Semua orang tau Azam itu anakku, tapi kamu ikut mengomentari hidupnya seolah kamu ibunya Mbak. Gimana rasanya saat anak sendiri disindir-sindir, ga enak kan?. Makanya ga usah sok-sok an ngurusin hidup orang. Wong urusan sendiri aja masih berantakan kok," kata Sartika sambil tersenyum mengejek.
"Kamu ... " ucapan Ginah terputus karena beberapa orang langsung menariknya agar menjauh dari Sartika.
Sartika nampak menghela nafas lega mengetahui Ginah dijauhkan darinya. Beberapa orang juga mencoba menenangkannya.
"Saya udah cukup sabar selama ini Bu. Saya diam bukan berarti takut tapi saya berusaha menjaga keutuhan keluarga. Tapi kali ini mbak Ginah keterlaluan dan saya ga bisa diam lagi," kata Sartika sambil bangkit dari duduknya.
Setelah menyelesaikan kalimatnya Sartika pun segera berlalu meninggalkan semua orang begitu saja.
"Bu Ginah emang keterlaluan. Dari omongannya tadi dia tuh jelas-jelas nuduh Azam sebagai penyuka sesama jenis. Jelas aja ibunya marah," kata salah seorang warga.
"Tapi saya suka jawaban Bu Tika. Apalagi pas dia bilang supaya Bu Ginah ngurusin anak perempuannya yang belum laku itu," sahut warga lainnya.
"Iya. Bisa-bisanya ngurusin hidup orang padahal hidupnya sendiri aja ga beres," kata yang lain sambil mencibir.
Begitu lah. Akhirnya perdebatan Sartika dan Ginah tadi menjadi bahan gunjingan warga desa. Tak ada permintaan maaf dari Ginah setelahnya. Sedangkan Sartika memilih menjaga kewarasannya dengan cara menjaga jarak dari Ginah.
\=\=\=\=\=
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!