Wanita cantik yang tengah hamil itu mendorong troli belanjaannya menyusuri setiap lorong yang berisi berbagai kebutuhan rumah tangga. Bintik-bintik keringat sebesar biji bunga matahari tampak memenuhi sudut keningnya. Sesekali ia mengurut pinggang bagian belakangnya yang terasa pegal. Namun, tak ada sedikit pun keluhan yang keluar dari bibir ranumnya.
Hari ini, seperti hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi, kemanapun Ayra pergi hanya akan membawa perutnya yang mulai membuncit. Termasuk pada saat ia memeriksakan kehamilannya.
Seperti itulah kehidupan yang harus dijalani oleh Kinayra Calista. Seorang wanita berusia dua puluh satu tahun, yang harus menjalani pernikahan karena perjodohan. Sang ibu, Mirah, telah lama sakit-sakitan. Jika nanti Tuhan memanggil ia ke haribaannya, Mirah tak ingin meninggalkan putri semata wayangnya sendirian di dunia ini tanpa ada yang menjaga,
Apalagi suami Mirah, ayah Ayra, telah lebih dulu meninggalkan mereka untuk selamanya.
Karena itulah, Mirah menjodohkan Ayra dengan putra kerabat jauhnya, Rayyan Gibran.
Awalnya pernikahan itu berjalan normal. Namun, setelah dua bulan kepergian Mirah, Ayra justru lebih sering tinggal sendirian di rumah dan kini menjalani kehamilannya tanpa ada yang menjaga.
Rayyan lebih banyak menghabiskan waktu di luar kota dengan alasan pekerjaan.
Hari ini pun, Ayra yang sedang hamil lima bulan terpaksa berbelanja seorang diri. Saat ia sedang berusaha menjangkau kotak susu hamil di rak, tiba-tiba seorang bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari kencang dari arah tikungan lorong dan hampir saja menabrak perut Ayra.
"Eh!" Ayra terpekik kecil, refleks mundur sambil melindungi perutnya dengan kedua tangan.
"KENZIE! STOP!" Sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa menggema di keheningan lorong tersebut.
Seorang pria dengan perawakan tegap dan tinggi menjulang, segera menghampiri dengan langkah sigap. Ia memiliki rahang tegas dengan tatapan mata yang tajam namun dan memancarkan aura dingin. Ia mengenakan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku, pria itu tampak sangat maskulin dan berkharisma.
Dia segera memegang bahu bocah kecil tadi, lalu menatap Ayra datar tanpa ekspresi.
"Saya minta maaf. Anda tidak apa-apa? Saya lalai menjaga anak saya yang terlalu aktif."
Ayra menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena kaget.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya sedikit kaget saja."
Pria itu kemudian berjongkok di depan anaknya, sikapnya melembut, lalu menunjuk perlahan ke arah perut Ayra.
"Kenzie, lihat Tante ini. Di dalam perutnya ada adik bayi yang sedang tidur. Kalau Kenzie tabrak, nanti adik bayinya bangun dan kesakitan. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
Bocah itu mengerjapkan mata, menatap perut Ayra dengan wajah polos dan rasa bersalah. "Nanti adik bayinya nangis ya, Pa?"
"Iya, makanya Kenzie harus minta maaf sekarang," ujar pria itu lembut namun tegas.
"Maaf ya, Tante cantik... Kenzie nggak sengaja," ucap bocah itu dengan suara mencicit.
Ayra tidak bisa menahan senyum tipisnya melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Iya sayang, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya, Kenzie."
Pria itu kembali berdiri, menatap Ayra dengan tatapan yang sangat tenang.
"Saya Zavian Zovano." Katanya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Saya Kinayra Calista, panggil saja Aira." Wanita cantik itu tersenyum dan membalas jabat tangan Zavian.
"Sekali lagi maaf sudah mengejutkan Anda. Sepertinya belanjaan Anda cukup banyak, apa tidak menunggu suami saja untuk membantu?"
Ayra tertegun sejenak.
"Ah... suami saya sedang tugas di luar kota, Pak Zavian. Jadi saya sudah terbiasa sendiri."
Zavian terdiam sejenak, memperhatikan gurat lelah di wajah Ayra.
"Sendirian? Saya tahu rasanya, karena saya juga mengurus Kenzie sendirian sejak ibunya meninggal dunia. Tapi untuk wanita hamil, belanja sebanyak ini sendirian itu cukup berisiko."
Ayra tersenyum lagi. Tapi kali ini sekaligus menyembunyikan kegetirannya. Hingga tanpa sengaja ia melihat orang yang sedang dibicarakannya.
Rayyan! Tapi ia tidak sendirian. Di sisinya ada seorang wanita berbusana formal seperti Rayyan. Tapi yang membuat Ayra terhenyak, wanita itu merangkul mesra lengan suaminya.
"Mas Rayyan..." Gumamnya dengan suara yang sangat pelan menyerupai bisikan. Tapi Zavian di sampingnya bisa mendengar jelas. Lalu pria itu mengikuti arah tatapan Ayra.
"Ada apa?" Tanyanya pura-pura tak mengerti.
"Oh... ng-gak..." Jawab Ayra gugup, gemetar dan terluka. Refleks tangannya membelai perut buncitnya.
"Maaf pak Zavian... saya harus pergi."
Segera Ayra mendorong trolinya. Tapi saat sedikit menjauh, ia meninggalkan trolinya begitu saja dan setengah berlari menuju pintu keluar.
Semua itu tak luput dari perhatian Zavian. Lelaki itu ingin mengejar Ayra karena takut terjadi apa-apa pada wanita hamil itu. Tapi ia tak bisa mencampuri urusan orang, apalagi orang yang baru dikenalnya.
***
Begitu sampai di luar gedung, udara panas siang itu langsung menyergap, tapi tidak lebih panas dari dadanya yang terasa sesak. Ayra berdiri mematung di trotoar, berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh juga, membasahi pipinya yang pucat.
Ia memegangi perutnya yang mendadak terasa kram. Sakit hati dan rasa terkejut itu seolah menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.
"Mas Rayyan berbohong? Jadi selama ini dia tidak ke luar kota?" isaknya lirih sambil menatap kosong ke arah jalanan yang ramai.
Sementara itu, di dalam supermarket, Zavian masih berdiri di tempat yang sama. Matanya menatap troli penuh belanjaan yang ditinggalkan Ayra begitu saja. Kenzie mendongak, menarik-narik ujung kaus papanya.
"Papa, kenapa Tante cantik lari? Dia nggak mau beli susunya?" tanya Kenzie polos.
Zavian tidak menjawab. Pikirannya tertuju pada tatapan terluka wanita bernama Ayra tadi saat melihat pria di kejauhan. Sebagai laki-laki yang sudah dewasa, ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ada pengkhianatan yang tertangkap basah.
Zavian menghela napas berat. Ia tahu ia tidak seharusnya ikut campur, tapi bayangan Ayra yang berlari dalam kondisi hamil terus mengusik batinnya.
"Kenzie, ayo ikut Papa sebentar. Kita cari Tante tadi," ujar Zavian dan mendorong troli belanjaan Ayra. Lalu dibawanya ke kasir. Untung saja ada kasir yang kosong, jadi prosesnya bisa cepat.
Setelah itu ia segera keluar sambil menuntun Kenzie, setengah menariknya.
Dalam pikirannya, Zavian tak bisa membiarkan wanita hamil yang sedang terguncang hebat itu berada di jalanan sendirian.
Setelah berada di luar gedung, matanya menyapu area depan gedung dengan jeli, hingga akhirnya ia menemukan sosok wanita itu sedang terduduk lemas di sebuah kursi tunggu halte dekat area parkir. Bahunya berguncang hebat.
Zavian mendekat perlahan, berusaha tidak mengejutkan Ayra lebih jauh. Ia berhenti dalam jarak dua meter, membiarkan suaranya yang tenang terdengar lebih dulu.
"Mbak Ayra? Kamu tidak apa-apa?"
Ayra tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan kasar dan menoleh. Ia malu karena orang asing seperti Zavian harus melihat kerapuhannya.
"Pak Zavian... saya... saya tidak apa-apa. Maaf, saya tadi tiba-tiba merasa tidak enak badan."
Zavian tidak lantas percaya. Ia melihat jemari Ayra yang masih bergetar hebat.
"Wajah kamu sangat pucat. Biarkan saya antar kamu pulang. Tidak aman bagi kamu naik angkutan umum atau mencari taksi dalam kondisi seperti ini."
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri..."
"Saya tidak sedang menawarkan pilihan, Mbak Ayra. Saya sedang memastikan keselamatan bayi kamu," potong Zavian dengan nada tegas namun penuh kharisma.
Ayra melihat Jam di dinding menunjukkan pukul 8:30 PM. Hujan di luar sangat lebat, membuat suasana terasa mencekam. Selama ini Ayra tak pernah merasa takut sendirian di rumah dalam keadaan apapun. Sekalipun listrik mati dan ia harus gelap-gelapan sendirian di tengah malam dan hujan lebat.
Tapi kali ini, ada rasa takut yang begitu mengusik hatinya. Bagaimana jika Rayyan meninggalkannya demi wanita itu? Bagaimana dengan nasib anak yang sedang dikandungnya kelak jika ia sampai berpisah dengan Rayyan? Ia tak punya pekerjaan. Bagaimana ia harus menghidupi anaknya nanti?
Ayra mengusap kasar pipinya yang basah. Lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Dicarinya nomor Rayyan. Lalu diklik nya nama itu.
Terdengar bunyi sambungan, tapi Rayyan belum juga mengangkatnya.
"Angkat mas..." Desahnya. Tapi sampai beberapa detik Rayan tak kunjung mengangkat teleponnya.
Ayra tak menyerah. Ia terus mengulang panggilannya. Hingga akhirnya Rayyan mengangkatnya.
"Kamu apa-apaan sih? Ganggu orang lagi kerja aja!" Semprot Rayyan dengan nada bentakan sebelum Ayra sempat mengucapkan 'halo'.
"Assalamualaikum, Mas..." Sapa Ayra dengan suara lembut, meski hatinya bergejolak.
"Waalaikumsalam. Kamu ngapain malam-malam telepon aku? Aku harus istirahat, besok pagi harus kerja." Ucap Rayyan ketus.
"Mas... ayo tidur!"
Telinga Ayra masih normal. Suara manja barusan terdengar sangat jelas, masuk ke indera pendengarannya.
"Itu siapa, Mas? Aku minta Mas Rayyan pulang sekarang juga!"
"Siapa apa? Kamu jangan gila, aku kan sedang di luar kota." Elak Rayyan, membuat Ayra tertawa sumbang.
"Aku tadi ke supermarket yang ada di dekat kantormu. Aku melihatmu dengan seorang perempuan yang menggandeng tangan kamu mesra." Pekik Ayra, saking tidak tahannya memendam luka yang kini tengah menganga di hatinya.
Hening. Sunyi yang panjang sempat tercipta beberapa detik di seberang telepon. Rayyan seolah tersedak oleh kata-katanya sendiri,
"Supermarket? Ayra, jangan gila! Aku benar-benar sedang di luar kota. Kamu pasti salah lihat orang," ucap Rayyan akhirnya. Suaranya terdengar berusaha tenang, namun ada nada gugup yang sangat kentara.
"Penglihatanku masih sangat normal, Mas! Aku melihatmu dengan jelas. Dan baru saja... aku dengar sendiri suara perempuan itu mengajakmu tidur!" Ayra berteriak, air matanya kembali tumpah deras.
"Kenapa kamu tega berbohong sejahat ini saat aku sedang mengandung anak kita, Mas?"
"Ayra, sudahlah! Kamu sedang hamil, pikiranmu jadi ke mana-mana. Suara tadi itu suara televisi, jangan mulai drama!" kilah Rayyan, mencoba mencari alasan paling tidak masuk akal.
"Jangan teruskan kebohonganmu, Mas! Cukup!" potong Ayra dengan suara gemetar. "Kalau Mas tidak pulang malam ini juga ke rumah, besok pagi aku sendiri yang akan datang ke kantormu. Aku akan pastikan semua rekan kerjamu termasuk atasanmu, tahu apa yang sedang kamu lakukan di belakang istri yang sedang mengandung."
Terdengar suara kasur yang berderit dan langkah kaki yang terburu-buru di seberang telepon. Mungkin Rayyan sedang menjauh dari perempuan itu agar bisa bicara lebih bebas.
"Kamu berani mengancamku? Kamu tahu kan kalau pekerjaan ini yang menghidupi kita?" nada suara Rayyan berubah menjadi rendah dan tajam.
"Aku tidak peduli lagi. Aku akan datang ke sana dengan kondisi seperti ini dan menceritakan semuanya kalau Mas tidak pulang sekarang juga!"
Kembali ada jeda beberapa detik yang terasa sangat menyesakkan. Terdengar suara Rayyan yang mendengus frustrasi sebelum akhirnya ia memberikan jawaban terakhirnya.
"Oke! Aku pulang malam ini. Puas kamu?!"
Klik.
Sambungan telepon diputus secara sepihak. Ayra perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Tubuhnya luruh ke lantai, ia bersandar pada kaki tempat tidur sambil memeluk perutnya yang mendadak terasa kencang. Meski ia berhasil memaksa suaminya pulang, tak ada rasa tenang di hatinya. Yang ada hanya rasa ngeri membayangkan amarah seperti apa yang akan dibawa Rayyan nanti saat tiba.
***
Di tempat lain Rayyan memang tengah bersama wanita yang tadi dilihat Ayra di supermarket. Wanita itu nampak tidak suka saat Rayyan bersiap untuk pergi.
"Kamu mau kemana, Mas?" Tanyanya galak. Dia bangkit dari tempat tidur dan membungkus tubuh polosnya dengan selimut. Lalu menghampiri Rayyan yang tengah mengancingkan kemejanya.
"Aku harus pulang dulu, Liztha." Jawab Rayyan singkat.
"Tidak bisa! Aku tak akan mengizinkan kamu menemui wanita yang sudah merebut kamu dariku!"
Liztha cepat-cepat berdiri di depan pintu, menghalangi supaya Rayyan tak bisa keluar.
"Aku harus pulang, sayang. Kalau aku tidak pulang, Ayra akan pergi ke kantor dan membocorkan hubungan kita. Kita pasti akan dipecat dari perusahaan." Rayyan mencoba memberi pengertian pada wanita itu.
Sejenak Liztha terdiam. Tapi dia masih belum beranjak dari depan pintu.
"Tapi kamu jangan lama-lama di sana. Malam ini juga kamu harus balik ke sini. Awas kalau kamu sampai berhubungan dulu sama dia. Tadi kita sudah bertarung habis-habisan. Aku tidak mau kamu loyo saat datang lagi ke sini!" Ujarnya tanpa rasa malu. Di otak wanita itu hanya urusan l*ndir.
Tapi Rayyan malah tersenyum. Dia mendekat tanpa menyisakan jarak diantara mereka. Tangannya meraih pinggang ramping Liztha dan menariknya. Senyum nakal bermain di bibirnya. Setelah itu bibir Rayyan menempel di telinga Liztha dan membisikkan sesuatu. Membuat wanita itu cekikikan. Tangan yang memegang selimut itu naik ke leher Rayyan hingga selimut yang membungkus tubuhnya terjun bebas. Menyisakan tubuhnya yang polos tanpa terhalang selembar benangpun.
Setelah itu Rayyan mengangkat tubuh sang wanita dan melemparnya ke tengah kasur sambil leduanya cekikikkan menjijikkan.
***
Hampir tiga jam kemudian, barulah Rayyan tiba di rumah Ayra. Lelaki itu terlihat tenang. Raut wajahnya datar.
"Ada apa kamu nyuruh aku pulang?" Tanyanya santai dan duduk di sofa yang ada di hadapan Ayra.
Wanita itu sampai menarik napas dalam untuk menahan supaya tidak langsung meledak.
"Mas seakan tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan? Mas sadar tidak sudah menglhianati aku dan mengkhianati janji pernikahan kita di depan Tuhan?"
Rayyan tak segera bereaksi. Dia masih terlihat santai, seolah apa yang dia lakukan bukanlah keaalahan
"Kalau kamu sudah tahu, lalu apa mau kamu sekarang?"Tanyanya.
Ayra menatap tajam wajah suaminya. Ia tak percaya jika orang yang ada di hadapannya ini benar-benar suaminya. Di bibir lelaki itu malah terlihat senyum yang sangat samar. Tapi jelas senyum itu menunjukkan ejekan untuk Ayra.
"Aku minta, putuskan hubungan kamu dengan dia, Mas!" Baru kali ini Ayra berkata tegas dan sedikit keras pada suaminya.
"Apa? Enak saja. Asal kamu tahu, jauh sebelum aku menikah denganmu, dia sudah menjadi kelasihku! Tapi karena ibumu yang memohon pada ibuku untuk menjodohkan kita, aku terpaksa harus mengorbankan cinta kami."
Ayra ternganga. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat.
“Apa…?” suaranya bergetar. “Jadi selama ini… aku cuma jadi penghalang hubungan kalian?”
Rayyan mengangguk kuat seraya menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki dengan santai. Tatapannya dingin, tak ada rasa bersalah sedikit pun.
“Anggap saja begitu. Aku menikah denganmu karena perjodohan, Ayra. Bukan karena cinta.”
Kalimat itu menghantam telinga Ayra lebih keras dari tamparan mana pun. Tubuhnya gemetar, namun ia berusaha tetap berdiri tegak.
“Awalnya aku juga tidak mencintai kamu, Mas. Tapi pernikahan kita adalah perjanjian di hadapan Tuhan, bukan ajang permainan! Itulah kenapa aku berusaha keras untuk mencintaimu dan menyerahkan diriku seutuhnya padamu. Tapi ternyata aku hanya berjuang sendirian." Ucapnya lirih, nyaris seperti berbisik.
Rayyan terkekeh pelan. “Jangan naif. Aku bukan kamu. Tapi selama ini aku juga sudah menjalankan peran sebagai suami yang baik, kan?”
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh kembali. Namun Ayra segera mengusapnya kasar, menolak terlihat lemah di hadapan pria yang telah menghancurkan hatinya.
“Kamu tega, Mas,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Kamu biarkan aku berusaha mencintaimu sendirian, sementara hatimu tetap milik perempuan lain.”
Rayyan bangkit dari duduknya, menatap Ayra dari atas ke bawah.
“Justru kamu yang terlalu berharap. Aku tidak pernah berjanji mencintaimu.”
Ucapan itu langsung menancap dalam ke jantung Ayra dan memberi rasa sakit yang luar biasa. Tapi Ayra masih bisa tersenyum, meski getir.
“Kalau begitu,” katanya tegas, menatap lurus ke mata Rayyan sambil menahan rasa sakit di perutnya yang menegang.
“Mulai malam ini, aku juga tidak akan lagi mempertahankan pernikahan yang dibangun dari kebohongan.”
Rayyan terdiam sesaat. Untuk kali ini, ekspresi santainya sedikit goyah.
“Apa maksudmu?” tanyanya tajam.
Ayra mengangkat dagunya, matanya merah tapi sorotnya kuat.
“Aku tidak akan jadi istri bodoh yang menutup mata. Kalau kamu memilih dia, maka aku juga akan memilih diriku sendiri.”
Keheningan menggantung di antara mereka. Udara terasa berat.
Dan kini Rayyan menyadari, perempuan yang selama ini ia anggap lemah, ternyata berani melangkah diluar perkiraannya.
"Tapi kamu sedang hamil Ayra. Hamil anakku dan aku tak ingin terjadi apa-apa sama dia kelak."
Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan pendengarannya.
"Apa Mas? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah selama ini kamu tidak perduli dengan kehamilanku? Bahkan kamu membiarkan aku menjalaninya sendirian dan memeriksakan kandunganku pun sendirian. Sudahlah, tidak usah sok ingin menjadi ayah yang baik. Itu sangat menggelikan bagiku... argh..." Ucapan lantang Ayra diakhiri ringisan yang ditahan. Tangannya refleks menekan perutnya yang semakin terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang memaksa ingin keluar.
Mendengar ucapan Ayra, Rayyan hanya mengedikkan bahunya sambil mencibir.
"Ya sudah, kalau begitu urus saja dirimu." Lelaki itu berdiri dari duduknya. Ia melangkah melewati Ayra yang mulai terengah. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya. Semakin ditahan, rasa sakit itu semakin menjadi dan tiba-tiba, serrr...
Seperti ada sesuatu yang pecah di dalam rahimnya, lalu ada cairan yang merembes ke sela-sela kaki mulusnya.
"Argh..." Ayra memekik, tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang luar biasa.
Membuat Rayyan menghentikan langkahnya.
Ia berbalik dan seketika wajahnya menegang. Matanya membelalak saat melihat darah menggenang di lantai, mengalir dari kaki Ayra yang gemetar hebat.
“Ayra…?” suaranya tercekat.
Tubuh Ayra limbung. Tangan kirinya refleks mencengkeram perutnya yang terasa seperti diremat dari dalam. Rasa nyeri itu jauh lebih hebat dari sebelumnya, membuat napasnya terengah dan pandangannya mengabur.
“Argh… sakit, Mas…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar sebelum tubuhnya ambruk.
Refleks, Rayyan menangkapnya sebelum jatuh sepenuhnya ke lantai. Tangannya berlumur darah, Rayyan benar-benar panik.
“Ayra! Ayra, sadar Ayra.. lihat aku!” Ia menepuk pipi istrinya pelan, tapi mata Ayra sudah terpejam rapat, wajahnya pucat pasi.
Jantung Rayyan berdegup kencang. Tangannya gemetar saat meraih ponsel.
“Sial… sial!” gumamnya sambil menekan nomor darurat.
Tak ada lagi nada dingin atau sikap acuh. Yang tersisa hanya ketakutan yang menyesakkan dada.
Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans memecah keheningan malam. Ayra segera dilarikan ke rumah sakit. Rayyan duduk di samping brankar, menatap wajah pucat itu dengan perasaan yang sulit diartikan.
Tiba di rumah sakit, Ayra langsung dibawa ke ruang IGD.
Sementara Rayyan terduduk lemas. Baju putihnya sudah berubah warna, berlumur darah Ayra. Matanya kosong menatap lantai. Suara ponselnya yang dari tadi berdering tak dihiraukannya. Dia tahu, itu pasti telepon dari Liztha. Tapi dia tak bisa meninggalkan Ayra dalam keadaan seperti ini. Setidaknya ini untuk menebus rasa bersalahnya. Karena sikap bajingannya membuat Ayra pendarahan.
Di tengah kecemasannya, Rayyan teringat ibunya. Diapun segera menelepon wanita yang sudah melahirkannya itu
***
Matahari pagi telah memancarkan sinarnya, memberi kehangatan di bumi. Senyum cerah seharusnya mengawali semangat pagi untuk menyambut harapan agar hari ini bisa lebih baik lagi dari hari kemarin.
Tapi tidak dengan Ayra. Perasaannya sudah hancur berkeping-keping. Harapannya sudah punah oleh pengkhianatan suami dan kehilangan... Jabang bayinya.
"Selamat jalan, Nak, tunggu Mama di sana..." Bisiknya pilu, sambil menahan isak dan mengusap lembut perutnya yang sudah rata.
Tadi, saat ia tersadar, dokter mengatakan kalau janin di dalam rahimnya tak bisa diselamatkan akibat guncangan batin yang hebat dan kontraksi dini yang memicu pendarahan hebat. Ayra memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit pagi yang biru namun terlihat abu-abu di matanya. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.
Pintu kamar rawat terbuka pelan. Langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Itu Rayyan. Ayra tidak bergerak, bahkan tidak ingin melirik sedikit pun pada pria yang kini berdiri di samping ranjangnya.
"Ayra," panggil Rayyan lirih. Suaranya tidak lagi tajam seperti semalam. Ada nada parau dan sisa kelelahan di sana.
"Pergi, Mas," sahut Ayra datar. Suaranya hampir habis, kering oleh rasa sakit dan tangis yang tertahan.
Rayyan menghela napas berat, mencoba meraih tangan Ayra, namun Ayra segera menariknya menjauh. Penolakan itu membuat Rayyan tertegun. Ia melihat tangan Ayra yang masih terpasang jarum infus, tampak sangat rapuh.
"Aku tahu aku salah. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini," gumam Rayyan. Ia menunduk, menatap lantai yang seolah jauh lebih menarik daripada harus menghadapi tatapan terluka istrinya.
Ayra tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan.
"Tidak menyangka? Kamu yang mendorongku ke jurang ini, Mas. Kamu yang membunuh harapan kecil yang sempat aku punya untuk pernikahan ini." Ayra akhirnya menoleh, menatap Rayyan dengan mata yang bengkak namun penuh dengan kilatan kebencian.
"Sekarang setelah anak itu tidak ada, bukankah jalanmu untuk bersama wanita itu sudah terbuka lebar? Tidak ada lagi penghalang dan tidak ada lagi pengikat diantara kita."
"Bukan begitu, Ayra. Aku tetap merasa kehilangan. Dia juga anakku," potong Rayyan cepat.
"Anakmu?" Ayra mengulang kata itu dengan nada mengejek.
"Anak yang tidak pernah kamu sapa? Anak yang keberadaannya kamu anggap tidak ada? Jangan munafik! Kamu hanya ingin orang tahu kalau kamu adalah lelaki sempurna. Tapi lihat bajumu yang berlumuran darahnya, itu harga yang harus dia bayar akibat kelakuan bajingan Ayahnya!"
Rayyan bungkam. Kalimat Ayra tepat sasaran, menusuk langsung ke titik terlemah dalam nuraninya yang baru saja terbangun.
Tiba-tiba, ponsel di saku Rayyan kembali bergetar. Nama Liztha muncul di layar untuk kesekian kalinya. Rayyan menatap layar itu, lalu menatap Ayra. Ada keraguan yang nyata di matanya.
"Angkatlah," ujar Ayra dingin sambil kembali membuang muka.
"Setelah itu pergilah. Urusan kita sudah selesai sejak kepergian dia. Setelah aku keluar dari sini, sebaiknya Mas cepat urus perpisahan kita."
Rayyan masih terpaku di tempatnya. Getaran ponsel itu seolah menjadi pengingat akan dunia yang ia pilih, sementara di hadapannya, dunianya yang lain baru saja hancur berantakan karenanya.
Rayyan akhirnya melangkah keluar dengan bahu yang merosot. Awalnya dia bimbang. Tapi jika ia tak memenuhi panggilan Liztha, ia yakin wanitanya itu akan ngambek dan sulit untuk membujuknya. Rayyan tidak mau lagi kehilangan wanita itu.
Dan tanpa memperdulikan bagaimana perasaan istrinya yang baru saja mengalami guncangan, Rayyan lebih memilih menemui kekasihnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!