NovelToon NovelToon

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Bab 1: Kematian Sang Konsultan dan Kebangkitan yang Membingungkan

​"Mana data audit kuartal tiganya? Kenapa laporannya belum ada di meja?"

​Suara itu keluar serak, kering, dan menyakitkan.

​Elena menyentakkan tangan, mencoba meraih tumpukan kertas yang seharusnya ada di sana. Detik terakhir yang dia ingat adalah ruang rapat PT. Orion, amarah yang meledak karena manajer keuangan menyembunyikan defisit, rasa nyeri hebat di dada, dan kopi dingin yang tumpah di atas keyboard.

​Lalu gelap. Mati.

​Jadi, kenapa sekarang dia basah?

​Elena membuka mata paksa. Cahaya lampu kristal menusuk retina. Terlalu terang. Terlalu mewah. Ini bukan lampu neon kantornya.

​"Sial, rumah sakit?"

​Dia mencoba duduk. Tubuhnya terasa asing—berat dan lamban. Terdengar bunyi kecipak air. Dia menunduk. Dia tidak di kursi kerja. Dia di dalam bathtub emas norak, dikelilingi busa, dengan kaki jenjang mulus tanpa varises terjulur kaku.

​"Apa-apaan ini..."

​Otaknya yang biasa memproses data jutaan dolar mengalami lag. Tangan kanannya terangkat memijat pelipis, dan saat itulah dia melihatnya. Perban tebal di pergelangan tangan kiri. Darah merembes keluar.

​Mata Elena menyipit. Dia menarik tangan itu mendekat, menganalisisnya seperti laporan keuangan yang cacat. Dia membuka perban itu dengan gerakan kaku namun stabil.

​"Luka sayat. Horizontal. Dangkal. Tidak kena nadi utama," analisisnya dingin. Sudut bibirnya terangkat sinis. "Amatir. Ini bukan mau mati. Ini cuma cari perhatian. Masih sempat diperban? Bodoh."

​Siapapun pemilik tubuh ini, dia jelas ratu drama yang tidak efisien. Kalau niat bunuh diri, kenapa pilih metode gagal begini? Ini skenario klasik: luka sedikit, pingsan cantik, tunggu suami pulang histeris.

​Suami?

​Bam. Ingatan asing menghantam kepalanya.

​Nama: Sora Araminta.

Umur: 23 tahun.

Status: Istri pajangan Kairo Diwantara.

Penyebab insiden: Overdosis obat tidur campur alkohol dan goresan tangan karena suami tidak pulang tiga hari.

​"Bodoh," desis Elena. "Investasi rugi."

​Elena—jiwa konsultan manajemen krisis paling ditakuti di ibukota, 'Hiu Betina' yang sanggup melahap CEO korup—kini terjebak di tubuh wanita manja yang tidak becus memegang pisau.

​Dia berdiri kasar. Air tumpah ke lantai marmer. Tubuh Sora gemetar, lemah. Elena membenci kelemahan. Dia mencengkeram pinggiran bathtub emas itu.

​"Bangun. Kau tidak mati. Sayangnya."

​Dia menyeret langkah keluar, mengabaikan pusing akibat sisa obat tidur. Di depan cermin wastafel, dia berhenti. Pantulan wajah itu membuatnya terdiam. Cantik, putih pucat, mata bulat rapuh. Wajah yang diciptakan untuk dimanja, tapi bagi Elena, ini terlihat menyedihkan.

​"Mata bengkak. Kulit pucat kurang nutrisi. Otot nol," komentar Elena datar, menepuk pipi dingin itu. "Pantas Kairo muak. Siapa yang mau mempertahankan aset depresiasi seperti ini?"

​Tarik napas. Hembuskan. Situasi: Dia mati karena kerja, hidup lagi di tubuh Sora. Solusi: Restructuring. Hidup Sora perlu diaudit total.

​Elena menyambar bathrobe tebal, mengikatnya kuat-kuat seolah mengencangkan ikat pinggang anggaran, lalu melangkah keluar kamar mandi. Kamar tidur utama menyambutnya dengan kemewahan berlebihan. Kelambu pastel, karpet tebal, dan foto pernikahan super besar di dinding.

​Elena mendekat. Sora di foto itu tersenyum kosong memeluk lengan seorang pria.

​Kairo Diwantara.

​Elena menyipitkan mata. Dia tahu wajah itu. Kairo adalah "paus besar" di dunia bisnis lamanya. Tipe pemimpin otoriter yang memecat separuh direksi di minggu pertama menjabat. Dominan. Gila kontrol. Dan Sora si bodoh ini mencoba memanipulasi pria sejenis itu dengan ancaman bunuh diri murahan?

​"Strategi marketing sampah," cibir Elena. "Kau tidak bisa menekan negosiator ulung dengan emosi. Tekan dia dengan data. Dengan kerugian."

​BRAK!

​Pintu kamar terbuka kasar. Seorang pelayan berseragam hitam putih masuk dengan wajah horor.

​"Nyonya!" jeritnya melengking. "Ya ampun, Nyonya Sora! Nyonya sudah sadar?!"

​Pelayan itu berlari mendekat, panik. "Tuan Kairo... Tuan Kairo sedang di jalan pulang! Satpam bilang mobil Tuan sudah masuk gerbang! Nyonya harus kembali ke tempat tidur! Pura-pura pingsan lagi atau menangis! Kalau Tuan lihat Nyonya berdiri begini, nanti dia marah karena Nyonya cuma main-main!"

​Elena menatap pelayan itu tanpa ekspresi. Jadi ini SOP rumah ini? Istri sakit, pelayan menyuruh bersandiwara?

​"Siapa namamu?" Suara Elena rendah, berat, tanpa nada rengekan.

​Pelayan itu mengerjap bingung. "M... Mina, Nyonya. Nyonya lupa?"

​"Mina," potong Elena. "Berhenti teriak. Suaramu polusi."

​Rahang Mina jatuh. Sora tidak pernah bicara begitu. Sora biasanya akan memeluknya sambil menangis histeris. Elena mengabaikannya, berjalan melewati Mina menuju sofa tunggal di dekat jendela. Dia duduk, menyilangkan kaki, bersandar dengan aura penguasa mutlak.

​"Tapi Nyonya..." Mina masih gagap, "Tuan Kairo sebentar lagi sampai! Kita harus panggil dokter! Atau Nyonya mau ganti baju dinas malam yang merah itu..."

​"Diam."

​Satu kata. Datar. Mengintimidasi.

​Mina langsung kicep. Bulu kuduknya meremang. Tatapan Nyonya Sora hari ini berbeda. Kosong, tajam, dan memandang Mina seolah dia adalah serangga tak berguna.

​Elena memijat pangkal hidungnya. Dia butuh bahan bakar agar otak encernya bisa bekerja menyusun strategi keluar dari neraca kehidupan yang berantakan ini.

​"Dengar, Mina. Aku tidak butuh dokter. Lukanya cuma goresan kucing, tempel plester selesai. Aku tidak butuh baju seksi. Dan aku tidak peduli suamimu—maksudku suamiku—pulang atau tidak."

​Elena menatap tajam pelayan itu.

​"Turun ke dapur. Buatkan aku kopi hitam. Americano. Double shot. Tanpa gula. Tanpa krimer. Harus panas."

​Mina melongo. "Ko... kopi hitam? Tapi Nyonya benci kopi? Nyonya biasanya minum teh melati..."

​"Manusia berubah. Seleraku kopi pahit sekarang. Sepahit hidup ini," potong Elena sarkas. Dia menunjuk meja nakas. "Dan satu lagi. Ambilkan laptop itu. Lalu cari di laci meja rias, kumpulkan semua buku tabungan, tagihan kartu kredit, surat kepemilikan aset, dan laporan pengeluaran rumah tangga bulan ini."

​Wajah Mina pucat pasi seperti melihat hantu. "Da... data keuangan? Untuk apa, Nyonya?"

​Elena tersenyum tipis. Senyum predator.

​"Untuk audit," jawabnya singkat. "Cepat kerjakan. Kalau dalam lima menit kopiku belum ada, kau kupecat."

​Kata "pecat" bekerja magis. Mina mundur teratur lalu lari terbirit-birit keluar kamar, melupakan fakta bahwa majikannya baru saja mencoba bunuh diri.

​Ruangan kembali sunyi. Elena menghela napas panjang, menyandarkan kepala. Matanya menatap keluar jendela besar, ke arah pelataran rumah mewah di bawah sana.

​Sebuah sedan hitam mengkilap baru saja berhenti.

​Pintu mobil terbuka. Seorang pria keluar.

​Dari lantai atas, Elena bisa melihat postur tegap itu. Jas hitam pas badan, langkah kaki lebar yang terburu-buru. Bukan langkah khawatir, tapi langkah penuh amarah yang siap meledak.

​Kairo Diwantara sudah pulang.

​Elena melirik pergelangan tangannya yang diperban, lalu kembali menatap sosok pria di bawah sana. Tidak ada rasa takut di matanya, hanya kalkulasi dingin.

​"Baiklah, Tuan CEO," bisik Elena pada kaca jendela. "Mari kita lihat, seberapa dominan kau menghadapi wanita yang tidak butuh uangmu."

Bab 2: Audit Kehidupan

​"Ini... ini kopinya, Nyonya."

​Cangkir porselen berdenting di meja kaca. Tangan Mina gemetar, menumpahkan sedikit cairan hitam pekat itu. Dia mundur cepat, seolah takut diterkam.

​Elena mengabaikan ketakutan itu. Dia menyambar cangkir, menyesapnya. Panas. Pahit. Tanpa gula. Sempurna.

​"Lumayan," gumam Elena. Kafein menghajar sistem sarafnya, membakar kabut di otak. Dia menatap Mina tajam. "Mana laptopnya?"

​Mina menyodorkan MacBook rose gold tipis. "Baterainya tinggal sedikit, Nyonya. Charger-nya entah di mana."

​Elena mendengus. Sora pasti menganggap laptop cuma aksesoris meja rias.

​"Keluar."

​"Tapi Tuan Kairo sudah di lobi..."

​"Biarkan. Kalau dia tanya, bilang aku sedang menangis darah. Terserah imajinasimu."

​Mina kabur, menutup pintu rapat-rapat.

​Elena membuka laptop. Layar menyala meminta password.

​"Mari berpikir seperti wanita obsesif," gumamnya.

​Tanggal pernikahan? Akses Ditolak.

Ulang tahun Kairo? Akses Ditolak.

​Elena memutar bola mata, mengetik kombinasi paling narsis yang mungkin dipikirkan otak bucin Sora.

​KairoSayangSelamanya.

​Klik. Terbuka.

​"Ya ampun," desis Elena. "Keamanan siber nol besar. Kalau aku musuh bisnisnya, Kairo sudah hancur. Bodoh."

​Mengabaikan wallpaper wajah close-up Kairo, jari-jari Elena menari lincah di trackpad. Browser terbuka. Internet banking, email, tagihan kartu kredit. Dalam lima menit, "Hiu Betina" itu masuk mode audit penuh.

​"Mari kita lihat neraca keuangannya."

​Dia membuka mutasi rekening. Masuk: 500 juta rupiah per bulan.

​"Cukup royal," komentar Elena. Tapi matanya menyipit melihat kolom pengeluaran.

​Debit: 150 juta (Tas edisi terbatas).

Debit: 50 juta (Klinik kecantikan).

Debit: 200 juta (Pesta ulang tahun anjing).

​Saldo akhir: Rp 354.000,-

​"Gila," umpatnya kasar. "Pemasukan setengah miliar, sisa tiga ratus ribu? Ini kebangkrutan moral! Manajemen arus kas sampah."

​Dia beralih ke kartu kredit. Tiga kartu platinum, semuanya maxed out. Total hutang satu miliar. Elena bersandar, menatap langit-langit kosong. Dia mengerti kenapa Kairo jijik. Sora adalah aset berisiko tinggi dengan ROI negatif. Jika Kairo menceraikannya besok, wanita ini akan mati tercekik hutang.

​"Oke, kesimpulan audit," Elena bicara sendiri dengan nada dingin. "Posisi sebagai Nyonya Diwantara tidak berkelanjutan. Atasan toksik, lingkungan kerja buruk, tidak ada jaminan masa depan."

​Elena menegakkan tubuh. Matanya berkilat.

​"Aku harus resign. Tapi aku butuh pesangon untuk modal membangun ulang kerajaanku."

​Dia membuka aplikasi pengolah kata. Halaman kosong putih menantang. Elena tidak menulis surat cinta cengeng. Dia mengetik dengan format kontrak bisnis.

​PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET

​Pihak Pertama: Kairo Diwantara.

Pihak Kedua: Sora Araminta.

​Pasal 1: Pihak Kedua bersedia melepaskan status istri sah tanpa tuntutan gono-gini rumit, dengan syarat kompensasi Full and Final Settlement:

​Pelunasan seluruh hutang kartu kredit (Pembersihan nama baik di BI Checking adalah prioritas mutlak).

​Satu apartemen studio di pusat kota (Tempat tinggal strategis untuk mobilitas kerja).

​Uang tunai 5 miliar rupiah sebagai modal usaha.

​Bagi Kairo yang asetnya triliunan, 5 miliar adalah uang receh. Harga murah untuk membeli kebebasannya dari istri benalu.

​"Win-win solution," gumam Elena.

​Dug. Dug. Dug.

​Langkah kaki berat terdengar dari koridor. Tegas, berirama, dan penuh otoritas. Jantung fisik Sora berdegup kencang karena memori ketakutan. Elena menekan dadanya paksa.

​"Jangan takut. Dia cuma pria yang butuh terapi emosi."

​Baterai laptop 2%. Berkedip merah.

​Elena menekan Print. Printer nirkabel tua di sudut ruangan menyala, menderu lambat. Ngiiing... sret... sret...

​Suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Hening. Mencekam. Bahkan debu seolah berhenti bergerak. Elena membayangkan Kairo di balik pintu, mengatur napas karena marah harus pulang mengurus istri drama.

​Printer memuntahkan lembar terakhir.

​Elena menyambar kertas yang masih hangat itu. Surat resign dari posisi istri sudah siap.

​Gagang pintu bergerak turun.

​Klik.

​BRAK!

​Pintu terbanting lebar. Angin dingin dan aura gelap menyeruak masuk.

​Kairo Diwantara berdiri menjulang di ambang pintu. Kemeja putih digulung berantakan, dasi longgar, jas tersampir di tangan. Wajahnya tampan bak dewa, tapi ekspresinya sekeras granit. Matanya yang hitam legam menyala dengan api amarah.

​Tatapan tajam itu menyapu ruangan. Dari bathtub, ke meja rias, dan terkunci pada sofa dekat jendela.

​Di sana, Elena duduk menyilang kaki dengan santai. Secangkir kopi di meja, tumpukan dokumen di tangan.

​Tatapan mereka bertemu. Benturan dua dominasi.

​Kairo mengharapkan tangisan. Dia mengharapkan Sora memeluk kakinya memohon ampun. Tapi tidak ada air mata. Tidak ada drama. Wanita itu menatapnya balik dengan sorot mata jernih, tenang, dan dingin—seolah sedang menilai harga setelan jasnya.

​"Kau..."

​Suara Kairo keluar rendah, berbahaya, seperti geraman hewan buas. Dia melangkah masuk, menendang pintu hingga tertutup di belakangnya tanpa memutus kontak mata.

​"Masih punya nyali untuk menatapku seperti itu setelah kekacauan yang kau buat?"

Bab 3: The Confrontation

​"Dengar, Sora. Aku tidak punya waktu seharian meladeni tingkah kekanak-kanakanmu."

​Kairo membanting pintu hingga bergema, mengabaikan fakta istrinya baru saja mencoba bunuh diri. Dia berjalan lurus ke arah sofa, menatap Elena rendah.

​Elena tak bergeming. Tangan kiri yang diperban bertumpu santai di sandaran sofa, tangan kanan memegang dokumen hangat.

​"Siapa yang memintamu meladeni?" balas Elena datar. "Aku tidak memintamu pulang. Kembali saja ke kantor, atau ke mana pun kau biasa pergi saat muak melihat wajahku."

​Langkah Kairo mati seketika. Alisnya menukik tajam. Biasanya, kalimat sekasar itu dibalas tangisan histeris Sora. Tapi wanita di depannya ini... terlihat bosan.

​"Jangan memancingku," geram Kairo. Dia merogoh saku, mengeluarkan buku cek dan pena emas. Sret. Dia merobek selembar cek.

​Kertas itu melayang jatuh di pangkuan Elena.

​"Ambil," perintah Kairo dingin. "Isi sendiri nominalnya. Beli tas, beli perhiasan, atau sewa pulau. Asal kau berhenti mempermalukan nama Diwantara dengan drama bunuh diri kampungan ini."

​Elena menatap cek kosong itu. Bagi Sora, ini tiket surga. Bagi Elena, ini penghinaan profesional. Dia menjepit cek itu dengan dua jari, seolah memegang sampah.

​"Kau pikir semua masalah selesai dengan ini?"

​Kairo melonggarkan dasi. "Bukankah itu bahasamu? Uang? Jangan munafik. Kau menikahiku karena uang. Ambil dan diam."

​"Kau benar. Uang memang bahasa universal," aku Elena, tersenyum miring. "Tapi maaf, Tuan Kairo. Nilai tawar cek ini terlalu rendah untuk harga diriku sekarang."

​Srek!

​Elena meremas cek itu menjadi bola kertas, lalu menjentikkannya tepat ke dada Kairo. Bola kertas itu memantul di kemeja mahal sang CEO, jatuh menggelinding tak berharga.

​Rahang Kairo mengeras. "Kau... apa maumu? Menantangku?"

​"Bernegosiasi," potong Elena. Dia berdiri, menyodorkan dokumen print-an itu ke depan wajah Kairo. "Baca."

​Kairo menepis kasar, tapi matanya menangkap judul besar itu.

​PROPOSAL PENGAKHIRAN KERJASAMA PERNIKAHAN DAN LIKUIDASI ASET

​Kairo tertawa kering. "Kerjasama? Sejak kapan kita bekerjasama? Kau cuma benalu yang menempel di pohon besar."

​"Benalu ini sadar diri dan ingin turun," balas Elena tajam. "Karena posisi kita tidak setara, aku mengajukan resign."

​Kata resign terdengar asing. Kairo merebut dokumen itu, membalik halaman kasar. Matanya menyipit membaca poin tuntutan.

​Hutang lunas. Apartemen studio. 5 Miliar.

​"Lima miliar?" Kairo mendengus sinis. "Jadi ini harga nyawamu? Kau sayat tangan cuma untuk memeras lima miliar?"

​"Aku realistis," jawab Elena tenang. "Itu pesangon wajar untuk kerja keras setahun jadi istrimu. Menahan sikap dinginmu, pura-pura bahagia, mengurus rumah kosong ini. Kau bos yang pelit, Kairo."

​"Kerja keras?!" Kairo membanting dokumen ke meja kaca. Brak! "Kerja kerasmu cuma menghabiskan limit kartu kredit dan mempermalukanku!"

​"Makanya aku berhenti!" sentak Elena, suaranya meninggi satu oktaf.

​Dia menunjuk dokumen itu. "Aku tahu aku istri yang buruk. Kau benci aku. Kau jijik. Makanya kutawarkan jalan keluar! Tanda tangani, transfer uangnya, dan kau tak perlu melihatku lagi seumur hidup. Kita bicara bisnis di pengadilan agama minggu depan."

​Elena menatap lurus mata hitam legam itu.

​"Aku serius. Aku muak dengan pernikahan ini. Aku muak denganmu."

​Kalimat itu menggantung di udara.

​Selama ini Sora selalu mengemis cinta. Sekarang dia bilang muak? Ego Kairo terusik. Dia, Kairo Diwantara, dicampakkan oleh istri benalu?

​"Kau muak?" bisik Kairo pelan, suaranya berubah berbahaya.

​Dia maju perlahan. Tatapannya terkunci pada bibir Elena. Alarm bahaya berdering di kepala Elena. Dia mencoba mundur, tapi pinggangnya membentur meja rias. Terperangkap.

​"Ya, aku muak," Elena mendongak menantang. "Kaget istrimu akhirnya punya otak? Cepat tanda tangan dan keluar."

​"Kamarmu?" Kairo tertawa tanpa humor. "Ini rumahku, Sora. Termasuk kau."

​Tangan Kairo menyambar dokumen di meja.

​Sreeet!

​Kairo merobek proposal itu jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Dia menghancurkannya tanpa kedip.

​"Itu hasil kerjaku!" protes Elena, mencoba merebut serpihan kertas yang kini dihamburkan Kairo ke udara seperti salju.

​"Omong kosong," desis Kairo. "Bisnis? Pengadilan? Kau pikir semudah itu?"

​Kairo menghentakkan kedua tangan ke meja rias, di sisi kiri dan kanan tubuh Elena, mengurungnya. Aroma musk dan amarah maskulin menyergap Elena.

​"Kau pikir pernikahan ini pintu putar hotel? Bisa masuk keluar semaumu?" Kairo menunduk, wajahnya inci dari wajah Elena. Mata hitamnya menyala posesif.

​"Kau tanda tangan kontrak seumur hidup saat memaksa masuk keluargaku setahun lalu, Sora."

​Jantung Elena berdegup kencang karena adrenalin. "Kontrak bisa dibatalkan kalau ada penalti. Aku bayar penaltinya. Lepaskan aku."

​"Tidak ada penalti uang."

​Kairo tersenyum miring, kejam. Tangannya mencengkeram dagu Elena, memaksa wanita itu mendongak.

​"Kau mau main bisnis? Baik. Aturan pertamaku: Aku tidak pernah melepaskan asetku. Sekalipun aset itu sampah."

​Dia mendekatkan wajahnya lagi, berbisik serak.

​"Kau ingin keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sayang. Rapat belum selesai, dan kau masih milikku."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!