NovelToon NovelToon

Warisan Mutiara Hitam 3

Fajar di Hutan Batu

Hutan Batu di Makam Kuno tidak memberikan perlindungan dari angin dimensi yang menderu, melainkan mengubahnya menjadi siulan tajam yang bisa menyayat jiwa. Pilar-pilar batu raksasa menjulang seperti jari-jari raksasa yang mencoba mencengkeram langit terbalik. Di sini, cahaya tiga matahari buatan menciptakan bayangan panjang yang tidak wajar, bergerak secara independen seolah memiliki nyawa sendiri.

Chen Kai duduk bersila di puncak sebuah pilar setinggi lima puluh meter. Di sekelilingnya, udara bergetar hebat. Tiga lingkaran energi yang berbeda—berputar mengelilingi tubuhnya, mencoba menemukan harmoni di bawah tekanan Mutiara Hitam di Dantiannya.

Setiap kali ia menghela napas, retakan kecil muncul di udara di depannya, lalu menutup kembali dalam sekejap. Ini adalah efek samping dari asimilasi Fragmen Ketiga yang belum sempurna.

"Hukum Ruang jauh lebih liar dari yang kubayangkan," batin Chen Kai. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Fragmen ini tidak hanya ingin dikendalikan, ia ingin merobek realitas di sekitarnya.

"Sabar, Nak," suara Kaisar Yao bergema di dalam ruang kesadarannya. "Kau baru saja menyentuh kulit luar dari Hukum Alam. Tekan energinya dengan gravitasi, paksa ruang itu untuk melengkung mengikuti kehendakmu, bukan sebaliknya."

Chen Kai menarik napas dalam-dalam, mengunci fokusnya. Perlahan, retakan udara di sekelilingnya mulai stabil. Aura hitam pekat dari Fragmen Kedua menyelimuti energi ungu, menekan keliarannya hingga membentuk lapisan pelindung yang solid.

"Tuan Muda..."

Suara lembut Luo Sha (Bai) memecah kesunyian. Wanita itu mendarat ringan di puncak pilar yang sama, topeng putihnya berkilat di bawah cahaya matahari buatan.

"Laporannya?" tanya Chen Kai tanpa membuka mata.

"Situasi di depan semakin memanas," kata Luo Sha dengan nada waspada. "Sekte Hiu Besi telah bergabung dengan beberapa faksi bajak laut kecil di 'Lembah Cermin'. Mereka mencoba menjebol formasi pelindung menuju Zona Inti. Sementara itu, Aliansi Dagang tampaknya telah menemukan jalur alternatif melalui tebing utara."

Chen Kai membuka matanya. Pupilnya kini memiliki corak nebula hitam yang berputar perlahan. "Lembah Cermin... Apa yang mereka cari di sana?"

"Konon, di sana terdapat Prasasti Penyeimbang Gravitasi," jawab Luo Sha. "Tanpa prasasti itu, siapa pun yang mencoba terbang menuju Istana Terbalik akan ditarik jatuh oleh gravitasi ekstrem di langit tengah dan hancur berkeping-keping."

Chen Kai menyeringai tipis. "Mereka berebut kunci yang salah. Biarkan mereka membuang energi di sana."

Ia bangkit berdiri, merapikan jubah biru lautnya. "Luo Sha, kita akan pergi ke sana, tapi bukan untuk prasasti itu. Aku merasakan resonansi yang lebih murni di sisi barat lembah. Ada distorsi ruang yang tidak stabil, tipe tempat yang biasanya dihindari orang, tapi sangat cocok untukku."

"Langkah Hampa."

WUSH!

Chen Kai menghilang dari puncak pilar. Detik berikutnya, ia muncul lima puluh meter di udara, seolah-olah ia baru saja melangkah di atas tangga tak terlihat. Luo Sha segera mengikuti, meskipun ia harus mengerahkan seluruh Qi-nya untuk mengimbangi kecepatan spasial Chen Kai.

Mereka melintasi labirin pilar batu dengan kecepatan tinggi. Sepanjang jalan, pemandangan kematian terlihat di mana-mana. Mayat-mayat kultivator yang gagal menembus badai dimensi berserakan, beberapa di antaranya membeku dalam pose ketakutan yang abadi.

Saat mereka mendekati perbatasan Lembah Cermin, udara mulai berubah menjadi dingin yang menggigit. Di depan mereka, pilar-pilar batu digantikan oleh kristal-kristal raksasa yang permukaannya sangat halus, memantulkan segala sesuatu dengan kejernihan yang mengerikan.

"Berhenti," perintah Chen Kai.

Di depan mereka, jalan masuk menuju lembah itu tampak seperti koridor kaca yang tak berujung. Namun, ada yang aneh. Pantulan mereka di permukaan kristal itu tidak mengikuti gerakan mereka dengan sempurna.

Pantulan Luo Sha di kristal sebelah kanan tampak sedang memegang lehernya sendiri, sementara pantulan Chen Kai di sebelah kiri menatap ke arah Chen Kai asli dengan seringai yang sangat jahat.

"Ilusi Jiwa Spasial," peringat Kaisar Yao. "Makam ini menggunakan pantulanmu untuk menciptakan manifestasi ketakutan terdalam atau sisi gelapmu. Jika jiwamu goyah, pantulan itu akan menyeretmu masuk ke dalam kristal."

Luo Sha menegang, tangannya refleks menggenggam hulu pedangnya. "Tuan Muda, bayanganku... dia mencoba keluar."

Benar saja, dari dalam permukaan kristal, "Luo Sha" versi cermin mulai merangkak keluar, tangannya yang pucat menembus permukaan kaca seolah itu adalah air.

"Jangan gunakan pedangmu, Bai. Itu hanya akan memberi mereka energi," kata Chen Kai tenang.

Ia melangkah maju, tepat di depan pantulannya sendiri yang kini sedang mengangkat Pedang Meteor Hitam versi ilusi.

"Kau ingin keluar?" tanya Chen Kai pada bayangannya.

Tangan Chen Kai diselimuti aura ungu gelap. Ia tidak memukul kristal itu, melainkan mencengkeram koordinat ruang di depannya.

"Gravitasi: Kompresi. Ruang: Runtuh."

KRAAAAK!

Ruang di depan kristal itu tiba-tiba mengerut. Tekanan gravitasi yang luar biasa menghancurkan struktur dimensi di area tersebut. Kristal-kristal raksasa itu pecah menjadi debu halus, dan pantulan-pantulan jahat itu menjerit tanpa suara sebelum lenyap tertelan lubang hitam kecil yang diciptakan Chen Kai.

Dalam satu serangan, jalur menuju pusat lembah bersih.

Luo Sha menghela napas lega, namun ia juga merasa ngeri. Kekuatan Chen Kai semakin sulit dipahami. Ia tidak lagi hanya menghancurkan benda, ia menghancurkan tempat benda itu berada.

"Ayo," ajak Chen Kai. "Aku merasakan aura yang kuat di depan. Sepertinya 'Nona Peramal' dari Aliansi Dagang sudah sampai di sana. Mari kita lihat seberapa akurat ramalannya hari ini."

Chen Kai melesat maju, meninggalkan debu kristal yang berkilauan. Di ufuk langit, Istana Terbalik tampak semakin dekat, memancarkan cahaya keemasan yang seolah memanggilnya untuk segera datang dan menaklukkan segala rahasia di dalamnya.

Pertemuan di Lembah Cermin

Lembah Cermin bagian dalam terasa jauh lebih tenang dibandingkan kekacauan di luar, namun ketenangan itu adalah jenis yang menyesakkan. Di tengah lembah, terdapat sebuah danau kristal yang permukaannya tidak beriak sedikit pun, memantulkan langit terbalik dengan kejernihan yang menyakitkan mata. Di pusat danau itu, sebuah prasasti batu setinggi tiga meter berdiri tegak, memancarkan cahaya perak yang stabil.

Itulah Prasasti Penyeimbang Gravitasi.

Di sekitar danau, puluhan kultivator dari Aliansi Dagang berdiri dalam formasi pertahanan yang ketat. Mereka mengenakan zirah sutra biru yang seragam, masing-masing memegang senjata tingkat tinggi. Namun, perhatian Chen Kai tertuju pada sosok yang berdiri paling dekat dengan prasasti tersebut.

Seorang wanita dengan gaun putih yang mengalir seperti kabut, matanya ditutupi oleh kain sutra transparan bersulam bintang. Ia adalah Nona Peramal. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan aura Inti Emas Tahap Akhir yang tajam, bertindak sebagai pengawal pribadinya.

"Nona, koordinatnya hampir stabil," bisik pria itu.

Nona Peramal tidak menjawab. Jari-jarinya yang lentik menari di udara, seolah sedang memetik benang-benang tak kasat mata di dalam ruang. Setiap gerakannya memicu denyutan cahaya pada prasasti tersebut.

TAP.

Chen Kai mendarat di pinggir danau dengan suara yang sangat pelan, namun di tempat sesunyi ini, itu terdengar seperti ledakan.

Seketika, puluhan ujung senjata mengarah ke arahnya.

"Siapa?!" teriak pria pengawal itu, auranya meledak seketika, menciptakan riak di udara.

Chen Kai berjalan maju dengan santai, tangannya di belakang punggung, mengabaikan ancaman senjata di sekelilingnya. Luo Sha mengikuti di belakang, matanya waspada di balik topeng putih.

"Tuan Muda Ye dari Benua Timur," gumam Nona Peramal, suaranya lembut namun mengandung otoritas yang aneh. Ia berhenti menggerakkan tangannya dan 'menoleh' ke arah Chen Kai meskipun matanya tertutup. "Orang yang memenangkan token dengan harga yang sangat... tidak masuk akal."

"Hanya beberapa batu roh untuk kenyamanan, Nona Peramal," jawab Chen Kai dengan nada meremehkan yang sempurna sebagai Tuan Muda kaya. "Aku tidak menyangka Aliansi Dagang yang besar harus bersusah payah memecahkan kode batu tua ini di tempat yang sesak seperti ini."

"Batu tua ini adalah satu-satunya jalan menuju Istana Terbalik tanpa hancur menjadi debu," sahut pria pengawal itu dengan geram. "Tuan Muda Ye, jika Anda tidak ingin mencari masalah, sebaiknya Anda berdiri di sana dan tidak mengganggu ritual Nona kami."

Chen Kai tertawa kecil. "Mengganggu? Aku justru datang untuk membantu. Dari pengamatanku, kalian telah salah menghitung frekuensi ruangnya sejak awal. Kau mencoba menyeimbangkan gravitasi, padahal yang perlu kau lakukan adalah menghilangkan konsep gravitasi itu sendiri di titik ini."

Mendengar itu, Nona Peramal sedikit tersentak. Kain penutup matanya sedikit bergetar. "Menghilangkan konsepnya? Itu adalah pemahaman yang hanya dimiliki oleh mereka yang menyentuh hukum tingkat tinggi. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa," jawab Chen Kai misterius.

Nona Peramal diam sejenak, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat seluruh pengawalnya tegang. Ia melepaskan sedikit kekuatan jiwanya—Seni Ramalan Surgawi—untuk mencoba mengintip takdir dan identitas asli pria di depannya.

Bagi kultivator biasa, ini adalah pemeriksaan indra yang tidak terasa. Namun bagi Chen Kai, ini adalah serangan mental yang halus.

WUNG!

Di dalam Dantian Chen Kai, Mutiara Hitam tiba-tiba berputar sekali. Aura Stasis meledak secara internal, menciptakan dinding hampa yang menelan semua persepsi Nona Peramal.

Di dunia nyata, Nona Peramal terhuyung mundur satu langkah. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya yang pucat.

"Nona!" Para pengawal panik.

"Jangan bergerak!" perintah Nona Peramal dengan suara bergetar. Ia menempelkan tangannya ke dadanya, mencoba menenangkan jiwanya yang terguncang. 'Mata'-nya yang tertutup kini menatap Chen Kai dengan horor yang tidak bisa disembunyikan.

"Kosong..." bisiknya. "Takdirmu... tidak ada. Kau tidak memiliki benang di dunia ini. Siapa... siapa kau sebenarnya?"

Chen Kai menyipitkan mata. Ia sedikit terkejut bahwa teknik wanita ini cukup kuat untuk memicu reaksi otomatis Mutiara Hitam.

"Aku adalah variabel yang tidak bisa kau ramalkan, Nona," kata Chen Kai, auranya tiba-tiba menjadi sangat berat, menekan seluruh area danau. "Sekarang, karena kau sudah mencoba mengintip rahasia pribadiku, aku rasa aku berhak mendapatkan bagian dari informasi pada prasasti itu."

Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah suara tawa serak yang sangat familiar terdengar dari arah hutan batu di belakang mereka.

"Hahaha! Sangat menarik! Nona Peramal yang agung terluka oleh seorang pemuda kaya? Sepertinya perjalanan ini tidak akan membosankan!"

Dari balik kabut, muncul sosok pelayan tua bungkuk dari Ruang Nomor 1. Ia berjalan perlahan, namun setiap langkahnya membuat kristal di danau itu retak. Di belakangnya, melayang sebuah tandu tertutup yang memancarkan aura dingin yang membekukan darah.

"Si Tua dari Ruang 1..." Luo Sha berbisik, tangannya kini benar-benar memegang gagang pedangnya.

Chen Kai tetap tenang. Ia melirik ke arah tandu itu, lalu kembali ke Nona Peramal.

"Sepertinya pesta ini kedatangan tamu tak diundang yang lebih kasar," kata Chen Kai. "Bagaimana kalau kita bekerja sama sebentar, Nona? Aku berikan koordinat yang benar untuk prasasti ini, dan kau pastikan Aliansi Dagang tidak menghalangi langkahku saat gerbang utama terbuka."

Nona Peramal menyeka darah di bibirnya. Ia tahu bahwa pria di depan tandu itu adalah monster Ranah Jiwa Baru Lahir. Di tempat seperti Makam Kuno, memiliki satu sekutu misterius seperti Tuan Muda Ye mungkin lebih baik daripada menghadapinya sebagai musuh.

"Baik," kata Nona Peramal. "Buktikan kata-katamu tentang koordinat itu, Tuan Muda Ye."

Chen Kai tersenyum. Ia mengangkat tangannya, dan cahaya ungu dari Fragmen Ruang berkilat tipis di ujung jarinya. Ia siap menunjukkan sedikit "sihir" spasialnya, sekaligus menyiapkan perangkap bagi siapa pun yang berani mencoba mengambil keuntungan darinya.

Reruntuhan yang Bernapas

"Buktikan kata-katamu, Tuan Muda Ye."

Nona Peramal berbicara dengan nada yang tenang namun tajam, seolah sedang menantang takdir itu sendiri. Di sekelilingnya, para pengawal Aliansi Dagang masih mengarahkan senjata mereka ke arah Chen Kai, siap menyerang jika pemuda itu membuat satu gerakan mencurigakan.

Chen Kai tersenyum tipis. Ia melirik ke arah tandu tertutup di belakang pelayan tua bungkuk dari Ruang Nomor 1. Aura dingin yang memancar dari tandu itu semakin pekat, seolah monster di dalamnya sedang menahan napas, menunggu pertunjukan dimulai.

"Baik," kata Chen Kai. "Perhatikan baik-baik."

Ia berjalan mendekati Prasasti Penyeimbang Gravitasi. Namun, alih-alih menyentuh prasasti itu secara langsung, Chen Kai mengarahkan jarinya ke permukaan air danau yang tenang di sekitar prasasti.

"Kalian semua berpikir bahwa kunci untuk menstabilkan gravitasi ada pada batu ini," kata Chen Kai, suaranya bergema di lembah yang sunyi. "Tapi kalian lupa satu hal. Ini adalah Makam Transformasi Dewa. Di sini, yang terlihat padat bisa jadi cair, dan yang cair bisa jadi kunci."

Chen Kai menghentakkan kakinya.

DUM!

Gelombang gravitasi tak kasat mata menyebar dari kakinya, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menggetarkan.

Permukaan danau kristal itu bergetar hebat. Airnya tidak memercik, melainkan mulai terangkat ke udara, membentuk butiran-butiran air yang melayang melawan gravitasi. Jutaan butiran air itu perlahan menyatu di udara, membentuk sebuah pola rumit—sebuah peta bintang tiga dimensi.

"Peta Bintang Terbalik..." bisik Nona Peramal, 'mata'-nya yang tertutup melebar di balik kain sutra. "Jadi prasasti itu hanya umpan? Kuncinya ada pada refleksi air?"

"Tepat," jawab Chen Kai. "Prasasti itu hanyalah jangkar. Air ini... air ini adalah memori spasial dari pemilik makam. Ia merekam posisi bintang saat makam ini dibuat."

Chen Kai menggerakkan tangannya, memanipulasi butiran air itu dengan Fragmen Ruang dan Gravitasi-nya. Ia memutar susunan bintang itu hingga sejajar dengan posisi tiga matahari buatan di langit.

KLIK.

Suara mekanis yang sangat berat terdengar dari bawah danau.

Tanah bergemuruh. Air danau tiba-tiba surut dengan cepat, tersedot ke dalam lubang pusaran di dasar danau. Dari dalam lubang itu, sebuah tangga spiral raksasa yang terbuat dari Giok Bintang perlahan naik ke permukaan, menghubungkan tanah tempat mereka berpijak dengan jembatan cahaya yang mengarah langsung ke gerbang Istana Terbalik di langit.

"Jalan pintas..." Pelayan tua bungkuk itu bergumam, matanya yang keruh berkilat tamak. "Tuan Muda Ye memang luar biasa. Tuan kami sangat terkesan."

Dari dalam tandu, sebuah suara serak dan berat akhirnya terdengar.

"Kerja bagus, anak muda. Sekarang... minggir."

WUSH!

Sebuah tekanan spiritual yang mengerikan meledak dari dalam tandu. Itu bukan sekadar tekanan Inti Emas. Itu adalah tekanan yang membawa Domain—tanda dari seseorang yang telah menyentuh Ranah Jiwa Baru Lahir.

Kain penutup tandu itu robek. Sesosok pria tua kurus kering dengan kulit yang tampak seperti kulit pohon mati melayang keluar. Matanya tidak memiliki putih, hanya hitam pekat dengan titik merah di tengahnya. Di punggungnya, tumbuh tiga pasang sayap tulang yang patah.

"Tetua Iblis Sayap Patah?!" seru pengawal Nona Peramal dengan wajah pucat pasi. "Dia seharusnya sudah mati seratus tahun yang lalu!"

Tetua Iblis itu tertawa, suara tawanya seperti gesekan logam berkarat. "Mati? Aku hanya tidur, menunggu saat yang tepat untuk mengambil Jantung Makam ini."

Dia menatap Chen Kai dengan tatapan meremehkan. "Kau membuka pintunya, jadi aku akan membiarkanmu hidup... sebagai budakku. Ikutlah, dan bawa pelayan cantikmu itu."

Chen Kai tidak bergeming. Ia menatap Tetua Iblis itu dengan tatapan bosan.

"Kau tahu," kata Chen Kai santai, "aku paling benci dua hal. Pertama, orang yang menyuruhku minggir. Kedua, orang yang menginginkan orang-orangku."

"Lancang!" Tetua Iblis mengibaskan tangannya. Angin hitam berbau busuk melesat ke arah Chen Kai, membentuk cakar raksasa yang hendak meremukkannya.

Nona Peramal hendak berteriak peringatan, tapi Chen Kai lebih cepat.

Ia tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya.

"Gravitasi: Lubang Hitam Mini."

Sebuah titik hitam seukuran kelereng muncul di telapak tangannya.

Cakar angin hitam itu tersedot masuk ke dalam titik itu dalam sekejap mata, lenyap tanpa sisa.

Mata Tetua Iblis membelalak. "Apa?!"

"Kau bilang kau sudah tidur seratus tahun?" Chen Kai menyeringai di balik topengnya. "Kalau begitu, kembalilah tidur."

Chen Kai menjentikkan jarinya.

Langkah Hampa.

Ia menghilang. Bukan bergerak cepat, tapi benar-benar lenyap dari persepsi ruang.

Detik berikutnya, Chen Kai muncul tepat di atas Tetua Iblis, kakinya diselimuti aura gravitasi yang sangat padat.

"Teknik Gabungan: Palu Dewa Jatuh."

Chen Kai menendang ke bawah.

Berat kakinya saat ini setara dengan sebuah gunung kecil yang dijatuhkan dari orbit.

Tetua Iblis meraung, mencoba memanggil perisai tulang untuk melindungi dirinya.

KRAAAAK!

Perisai tulang itu hancur berkeping-keping seperti kerupuk. Kaki Chen Kai menghantam bahu Tetua Iblis.

BOOOOM!

Tetua Iblis itu terlempar ke bawah dengan kecepatan supersonik, menghantam tangga Giok Bintang dengan dampak yang menciptakan kawah sedalam lima meter. Debu dan pecahan giok berhamburan ke mana-mana.

Hening.

Semua orang—Nona Peramal, pengawalnya, pelayan tua bungkuk—ternganga.

Seorang Inti Emas Tahap Menengah... baru saja mempecundangi seorang monster Jiwa Baru Lahir (meskipun mungkin kondisinya tidak prima) dalam satu serangan?

Chen Kai mendarat perlahan di pinggir kawah, menatap tubuh Tetua Iblis yang tertanam di batu.

"Jiwa Baru Lahir, ya?" gumam Chen Kai, menyeka debu dari jubahnya. "Ternyata tulangmu tidak sekeras mulutmu."

Luo Sha di belakangnya menghela napas panjang, tangannya yang memegang pedang gemetar bukan karena takut, tapi karena kegembiraan. Tuannya... benar-benar monster.

Chen Kai menoleh ke arah Nona Peramal yang masih terpaku.

"Jadi, Nona," kata Chen Kai ramah. "Apakah kita akan lanjut naik, atau kau mau menunggu teman lamamu ini bangun dari tidurnya?"

Nona Peramal menelan ludah. Ia menatap Chen Kai dengan pandangan yang sama sekali baru. Bukan lagi sebagai mitra, tapi sebagai ancaman setara—atau bahkan lebih besar—dari Tetua Iblis itu.

"Kita... kita naik," jawabnya pelan.

"Bagus," Chen Kai melangkah ke tangga Giok Bintang. "Setelah Anda."

Di dalam kawah, jari Tetua Iblis berkedut sedikit, tapi Chen Kai tidak peduli. Ia tahu serangan itu tidak membunuhnya, tapi cukup untuk membuatnya berpikir dua kali sebelum mengganggunya lagi.

Perjalanan menuju Istana Terbalik dimulai. Dan kali ini, Chen Kai memimpin barisan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!