NovelToon NovelToon

Married To Mr. Killer

Prolog : Ikrar Di Bawah Bayang-Bayang Rahasia

Cermin besar dengan bingkai ukiran emas itu memantulkan sosok perempuan asing.

Intan menyentuh pipinya yang terasa tebal oleh lapisan bedak. Kelopak matanya terasa berat oleh bulu mata palsu, dan kepalanya pening menahan beban siger Sunda yang mahkotanya berkilauan ditimpa lampu rias. Di dalam cermin itu, ada seorang pengantin wanita yang cantik kata orang-orang. Namun, bagi Intan, pantulan itu tak ubahnya seperti boneka porselen yang retak di bagian dalam.

Namanya Intan Puspita Dewi. Hari ini, usianya genap tujuh belas tahun lebih tiga bulan.

Seharusnya, di Sabtu pagi yang cerah ini, gadis itu sedang berada di coffee shop favorit bersama teman-teman geng SMA-nya, membahas rencana orientasi kampus minggu depan, atau berdebat tentang warna outfit apa yang paling cocok untuk memikat hati kakak tingkat. Seharusnya, ia sedang menikmati masa mudanya yang meledak-ledak, bebas, dan penuh tawa.

Bukan duduk mematung di dalam kamar rias pengantin, menunggu dipanggil keluar untuk menyerahkan sisa hidupnya pada laki-laki yang bahkan tak pernah tersenyum padanya.

"Intan, ayo, Nak. Penghulunya sudah siap."

Suara ibunya di ambang pintu terdengar lembut, namun di telinga Intan, itu terdengar seperti sipir penjara yang memanggil narapidana menuju tiang gantung. Gadis itu menarik napas panjang, menahan oksigen di dada yang sesak oleh kebaya putih super ketat yang membalut tubuhnya.

"Iya, Ma," jawabnya lirih.

Dengan langkah terseok karena kain batik yang melilit kaki, Intan berjalan keluar. Menuju ruang tengah rumahnya yang telah disulap menjadi tempat eksekusi paling sakral. Aroma bunga melati yang pekat langsung menusuk hidung, bercampur dengan wangi dupa pengantin yang membuat perutnya mual.

Di sana, di tengah ruangan, duduklah dia.

Argantara Ramadhan.

Laki-laki itu mengenakan beskap putih senada, lengkap dengan blangkon yang menutupi rambut hitam legamnya. Punggungnya tegap sempurna, tak ada sedikit pun kesan membungkuk atau gugup. Dari belakang saja, dia memancarkan aura intimidasi yang kuat. Aura yang sama yang didengar Intan dari cerita kakak-kakak tingkat di grup chat mahasiswa baru.

Dia adalah dosen di fakultas tempat Intan diterima. Dosen Manajemen yang konon katanya pelit nilai, berhati dingin, dan antitesis dari kata "ramah". Dan hari ini, karena sebuah janji konyol antara almarhum kakek Intan dan kakek dosen itu, laki-laki itu akan menjadi suaminya.

Intan didudukkan di sampingnya. Jantung gadis itu berdetak begitu kencang hingga rasanya sakit. Ia tidak berani menoleh. Ia hanya menatap tangan kanan Arga yang kini menjabat tangan Papanya. Tangan itu besar, berkulit bersih, dan terlihat kokoh.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Ananda Argantara Ramadhan bin Surya Ramadhan, dengan putri kandung saya, Intan Puspita Dewi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan logam mulia 50 gram dibayar tunai."

Suara Papa bergetar. Ada rasa haru di sana, rasa lega karena telah menunaikan tugas. Tapi tidak bagi Intan. Baginya, itu adalah suara pintu kebebasan yang dikunci rapat-rapat.

Satu detik hening yang mencekam.

"Saya terima nikah dan kawinnya Intan Puspita Dewi binti Haryanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Lugas. Tegas. Tanpa jeda. Tanpa pengulangan.

Suara bariton itu menggema, membelah udara, menghancurkan sisa-sisa harapan Intan bahwa ini hanyalah mimpi buruk.

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

Kata "sah" itu berdengung di telinga Intan, diikuti riuh rendah ucapan Alhamdulillah dan doa-doa yang dipanjatkan para tamu. Air matanya luruh. Satu tetes, lalu disusul tetes lainnya yang merusak riasan mahal di pipinya. Ia menunduk dalam, menyembunyikan tangis yang dikira orang sebagai tangis haru bahagia.

Mereka tidak tahu. Ini tangis ketakutan. Ketakutan menghadapi masa depan bersama pria asing yang usianya terpaut sepuluh tahun darinya.

"Cium tangan suaminya, Intan," bisik sang Mama di belakangnya, menyodorkan tangan putrinya ke arah Arga.

Dengan gemetar hebat, Intan mengulurkan tangan. Arga menyambutnya.

Dingin.

Itu kesan pertama yang Intan rasakan. Telapak tangan pria itu terasa dingin, kontras dengan udara ruangan yang panas. Kulit mereka bersentuhan, dan ada sengatan aneh yang membuat bulu kuduk Intan meremang. Perlahan, gadis itu menunduk, mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda bakti pertama. Hidungnya menyentuh kulit tangan Arga, menghirup aroma woody dan musk yang maskulin, aroma yang sangat dewasa, sangat jauh dari dunia remajanya.

Saat ia mengangkat wajah, pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya hari ini.

Di balik kacamata berbingkai tipis itu, sepasang mata elang menatap Intan datar. Tidak ada binar cinta, tidak ada senyum manis layaknya pengantin baru. Wajahnya datar seperti tembok beton. Namun, perlahan, Arga mendekatkan wajahnya ke telinga Intan. Orang-orang bersorak, mengira dia akan membisikkan kata-kata romantis atau mencium kening istrinya.

Jantung Intan seakan berhenti berdetak saat bibir pria itu bergerak tepat di samping telinganya.

"Hapus air matamu, Intan," bisiknya. Suaranya rendah, tajam, dan penuh peringatan. "Jangan mempermalukan saya dan orang tua kita dengan menangis seperti anak kecil."

Intan tersentak, menatapnya dengan mata membelalak.

"Dan dengarkan ini baik-baik," lanjut Arga lagi, masih dengan posisi seolah-olah sedang bermesraan agar tidak didengar tamu undangan. "Di ruangan ini, di rumah ini, kamu adalah istri saya karena kertas sialan itu. Tapi ingat, begitu kamu menginjakkan kaki di kampus minggu depan, saya tidak mengenalmu."

Napas hangat pria itu menerpa leher Intan, namun kata-katanya membekukan darah gadis itu.

"Kita adalah dua orang asing. Jangan pernah berharap ada perlakuan istimewa. Jangan pernah menyapa saya kecuali untuk urusan akademik. Dan yang paling penting..."

Arga menarik wajahnya sedikit, menatap manik mata Intan dalam-dalam, mengunci keberadaan gadis itu dalam dominasinya.

"...jangan sampai ada satu nyawa pun di kampus yang tahu bahwa mahasiswi ingusan sepertimu adalah istri saya. Mengerti?"

Intan terpaku. Lidahnya kelu. Rasa takut yang tadi mendominasi kini perlahan berganti menjadi rasa benci. Dia pikir dia siapa? Dia pikir Intan mau menikah dengannya?

Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Intan menatap balik mata itu. Ia mengangguk kaku, bukan sebagai tanda patuh, tapi sebagai tanda dimulainya perang dingin di antara mereka.

"Mengerti, Pak," jawab Intan tak kalah dingin, menekan kata 'Pak' dengan penuh sindiran.

Arga menyunggingkan senyum tipis senyum palsu yang ditujukan untuk kamera fotografer yang kini membidik mereka. Dia kemudian mendaratkan kecupan singkat, kering, dan tanpa rasa di kening Intan, menyegel kesepakatan rahasia mereka.

Kilatan blitz kamera menyilaukan mata, mengabadikan momen kemunafikan ini. Di foto itu nanti, mereka akan terlihat seperti pasangan pengantin yang serasi. Tapi kenyataannya, di detik ini, di bawah atap masjid yang suci ini, dimulailah sandiwara terbesar dalam hidup Intan.

Intan Puspita Dewi resmi menyerahkan masa mudanya pada monster bernama Argantara Ramadhan. Dan dalam hati ia bersumpah, ia tidak akan membiarkan pria itu menang begitu saja.

Selamat datang di novel ku ini ❤🤭

Malam Pengantin Yang Sunyi

Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika pintu unit apartemen mewah di lantai 20 itu terbuka. Bunyi beep digital dari kunci otomatis terdengar nyaring, memecah keheningan koridor yang sunyi.

Argantara melangkah masuk lebih dulu, menendang sepatu pantofel mahalnya begitu saja di dekat rak sepatu. Ia melonggarkan dasi yang sejak pagi mencekik lehernya, lalu menghembuskan napas panjang seolah baru saja melepaskan beban ratusan kilogram dari pundaknya.

Di belakangnya, Intan berdiri ragu di ambang pintu. Gadis itu menyeret koper besar berwarna pink pastel satu-satunya benda yang terasa familiar baginya di tempat asing ini. Matanya menyapu sekeliling ruangan.

Apartemen itu luas, modern, dan... dingin.

Segalanya bernuansa monokrom. Sofa abu-abu tua, dinding putih bersih tanpa hiasan foto, dan perabotan hitam minimalis. Tidak ada vas bunga, tidak ada bantal sofa berwarna cerah, tidak ada kehangatan. Tempat ini lebih mirip lobi kantor daripada rumah tinggal. Sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya.

"Masuk. Jangan berdiri di situ seperti patung," tegur Arga tanpa menoleh. Pria itu berjalan menuju dapur bersih, membuka kulkas, dan mengambil sebotol air mineral dingin.

Intan tersentak kaget, lalu buru-buru menarik kopernya masuk dan menutup pintu. Suara pintu yang terkunci otomatis membuat nyalinya sedikit menciut. Kini, ia benar-benar terperangkap berdua saja dengan dosen killer itu.

"Kamar kamu di sebelah kiri, pintu kedua," ucap Arga setelah meneguk airnya hingga setengah botol. Ia menunjuk lorong pendek dengan dagunya. "Barang-barang saya ada di kamar utama, pintu paling ujung. Jangan pernah masuk ke kamar saya tanpa izin, kecuali ada keadaan darurat seperti kebakaran atau gempa bumi."

Intan mengangguk pelan, masih merasa canggung luar biasa. "Iya... Mas."

Arga menatapnya sekilas, alisnya berkerut mendengar panggilan itu, namun ia tidak berkomentar. Ia meletakkan botol air di meja island, lalu berjalan melewati Intan menuju kamarnya sendiri.

"Saya mau mandi dan ganti baju. Kamu juga, bersihkan make-up itu. Menakutkan lihatnya malam-malam begini," komentar Arga pedas sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.

Intan mengelus dadanya, menahan dongkol. "Sabar, Intan. Sabar. Orang sabar disayang Tuhan, kalau nggak sabar nanti stroke muda," gumamnya pada diri sendiri.

Gadis itu menyeret kopernya menuju kamar yang ditunjuk Arga. Saat membuka pintu, ia sedikit lega. Kamar itu cukup luas, meski sama kaku-nya dengan ruangan lain. Setidaknya ada kasur queen size yang terlihat empuk. Intan meletakkan kopernya, lalu duduk di tepi ranjang. Kakinya terasa mau patah karena seharian memakai heels tinggi.

Tiga puluh menit kemudian, Intan sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia mengenakan piyama lengan panjang bermotif beruang jauh sekali dari gambaran lingerie seksi yang mungkin dibayangkan orang-orang untuk malam pertama. Wajahnya kini bersih dan segar, rambut panjangnya ia ikat asal.

Rasa lapar mulai menyerang perutnya. Sejak resepsi tadi siang, ia hampir tidak makan apa-apa karena terlalu gugup dan sibuk menyalami tamu.

Intan memberanikan diri keluar kamar, berniat mencari dapur untuk membuat mie instan atau setidaknya mencari roti. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

Arga sudah ada di sana.

Tapi pria itu tidak mengenakan piyama atau baju santai rumahan. Arga mengenakan celana jeans gelap, kaos hitam polos yang dibalut jaket denim, dan sepatu sneakers. Rambutnya yang tadi kaku oleh gel kini terlihat sedikit berantakan namun tetap stylish. Aroma parfumnya juga sudah berganti, lebih segar dari yang tadi siang.

Dia terlihat rapi. Sangat rapi.

Intan mengerjap bingung. "Mas Arga... mau ke mana?" tanyanya spontan.

Arga yang sedang membetulkan jam tangan di pergelangan kirinya menoleh. Ia menatap Intan dari ujung kaki ke ujung kepala dari sandal rumah berbulu hingga piyama beruangnya. Tatapannya datar, tak terbaca.

"Keluar," jawabnya singkat. Pria itu meraih kunci mobil di atas meja kopi.

"Keluar?" ulang Intan, otaknya sedikit lambat memproses. "Malam-malam begini?"

"Ini baru jam sepuluh, Intan. Bagi saya ini masih sore," jawab Arga santai sambil memasukkan dompet ke saku celana belakang.

"Tapi..." Intan menggigit bibir bawahnya, ragu untuk melanjutkan kalimatnya namun rasa penasarannya terlalu besar. "Ini kan... malam pertama kita. Maksudku, kita baru saja menikah tadi pagi."

Arga menghentikan gerakannya. Ia menatap Intan dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara rasa geli dan sinis.

"Lalu?" tanyanya retoris. "Kamu berharap apa? Kita duduk berdua nonton TV? Atau melakukan hal-hal yang dilakukan pengantin normal?"

Pipi Intan memanas seketika. "Bukan! Bukan itu maksudku! Maksudnya, masa Mas Arga tega ninggalin aku sendirian di apartemen baru ini? Aku kan belum hafal tempat ini, gimana kalau ada apa-apa?"

Arga mendengus pelan, seolah alasan Intan adalah lelucon yang tidak lucu.

"Gedung ini punya keamanan 24 jam. Ada intercom di dekat pintu kalau kamu butuh bantuan sekuriti. Kulkas penuh makanan. Wi-Fi password-nya ada di bawah router," jelas Arga cepat, tak ingin membuang waktu.

"Saya ada janji dengan teman-teman saya di lounge biasa. Mereka sudah menunggu," lanjutnya sambil berjalan menuju pintu keluar.

Mata Intan membelalak tak percaya. "Teman-teman? Mas Arga lebih milih nongkrong sama teman daripada nemenin istri sendiri?"

Langkah Arga terhenti tepat di depan pintu. Ia berbalik badan, wajahnya kembali serius. Aura dosennya kembali muncul.

"Koreksi, Intan. Saya memilih berkumpul dengan teman-teman saya daripada terjebak dalam kecanggungan yang tidak perlu dengan mahasiswi saya sendiri," ucapnya tajam, menohok tepat di ulu hati Intan.

"Lagipula, pernikahan ini tidak mengubah jadwal sosial saya. Tidurlah. Besok pagi saya mungkin pulang telat."

Tanpa menunggu jawaban Intan, Arga membuka pintu dan melangkah keluar.

Brak.

Pintu tertutup kembali. Bunyi beep pengunci otomatis terdengar lagi, kali ini terdengar seperti ejekan bagi Intan.

Keheningan kembali menyergap apartemen luas itu. Intan berdiri mematung di tengah ruangan, menatap pintu kayu yang kini memisahkan dirinya dan suami "sah"-nya.

Rasanya sesak, tapi bukan karena sedih. Rasanya panas, tapi bukan karena marah. Itu adalah perasaan terhina. Di malam di mana seharusnya seorang wanita merasa paling istimewa, Intan justru ditinggalkan demi segelas kopi dan obrolan tongkrongan bapak-bapak dosen.

"Dasar dosen gila!" teriak Intan pada pintu yang tertutup rapat, melampiaskan kekesalannya. "Awas aja, besok aku habisin stok makanannya!"

Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan menuju dapur dengan perasaan dongkol yang meluap-luap. Malam pertamanya resmi hancur. Bukan dengan air mata, tapi dengan sebungkus mie instan rasa ayam bawang yang ia masak sendirian di dapur apartemen mewah yang terasa seperti penjara sepi ini.

Sementara itu, di basement, Argantara menyalakan mesin mobil sport-nya. Ia menyandarkan punggung sejenak di jok kemudi, menatap ke arah lift. Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap di hatinya meninggalkan gadis remaja itu sendirian di tempat asing.

Namun, bayangan harus menghabiskan malam berdua dengan gadis 17 tahun dalam situasi canggung membuatnya merinding. Ia butuh udara segar. Ia butuh melupakan fakta bahwa status KTP-nya kini telah berubah menjadi 'Kawin'.

Arga menginjak pedal gas, membawa mobilnya melaju membelah jalanan Jakarta, meninggalkan istrinya dan tanggung jawab barunya di belakang punggungnya.

Sarapan Yang Terasa Pahit

Matahari pagi Jakarta yang biasanya menyengat, kali ini terasa redup bagi Intan. Sejak bangun tidur dua jam lalu, gadis itu hanya mondar-mandir di dapur apartemen yang serba stainless steel itu seperti anak kucing yang tersesat.

Matanya bengkak. Bukan karena menangis semalaman, tapi karena ia tidak bisa tidur sama sekali. Suara dengung kulkas dan bunyi detak jam dinding di ruang tengah yang sunyi terasa menerornya sepanjang malam.

Intan menghela napas kasar. Di hadapannya, sepiring nasi goreng kampung dengan telur mata sapi setengah matang sudah tersaji di meja makan. Asapnya mengepul, menyebarkan aroma bawang dan terasi yang menggugah selera—setidaknya bagi Intan. Ia memasak untuk mengusir rasa sepi, berharap suara sreng-sreng spatula yang beradu dengan wajan bisa menutupi kesunyian apartemen ini.

Tepat saat ia hendak menyuapkan sendok pertama, bunyi beep digital dari pintu depan terdengar.

Jantung Intan mencelos.

Pintu terbuka. Sosok tinggi itu masuk.

Argantara pulang.

Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam, hanya saja kini jaket denimnya tersampir di lengan, dan kemeja hitamnya terlihat kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya tampak lelah dan sedikit berminyak. Aroma rokok samar-samar tercium saat ia melangkah masuk, bercampur dengan parfum mahalnya yang mulai memudar.

Intan meletakkan sendoknya kembali ke piring, menimbulkan bunyi denting yang cukup keras. Ia tidak berdiri untuk menyambut, tidak juga tersenyum. Ia hanya menatap suaminya dengan tatapan tajam.

Arga tidak menatapnya. Pria itu berjalan lurus menuju kulkas, seolah Intan hanyalah perabot tambahan di ruangan itu—sebuah vas bunga yang tidak penting. Ia mengambil botol air mineral dingin dan meneguknya langsung dari botol, jakunnya bergerak naik turun dengan cepat.

Setelah botol itu kosong setengah, barulah Arga menghembuskan napas panjang dan menoleh ke arah meja makan. Matanya menyipit sedikit saat hidungnya menangkap aroma masakan Intan.

"Kamu masak apa?" tanyanya datar. Suaranya serak, khas bangun tidur atau kurang tidur.

"Nasi goreng," jawab Intan singkat, tanpa embel-embel 'Mas' atau 'Kak'.

Arga mengernyitkan hidung, ekspresinya seperti baru saja mencium bau sampah. "Baunya menyengat sekali. Kamu pakai terasi?"

Darah Intan mendesir naik ke kepala. Ini kalimat pertama yang diucapkan suaminya setelah meninggalkannya sendirian di malam pengantin? Komplain soal bau terasi?

"Iya. Kenapa? Masalah?" tantang Intan.

"Masalah," jawab Arga ketus. Ia berjalan mendekat, menarik kursi di ujung meja—kursi terjauh dari Intan—dan duduk dengan malas. "Saya tidak suka bau terasi di pagi hari. Exhaust fan dinyalakan tidak?"

Intan mengepalkan tangannya di bawah meja. "Dinyalakan. Kalau nggak suka baunya, Mas bisa keluar lagi. Toh, semalam juga Mas lebih suka di luar kan daripada di sini?"

Hening.

Kalimat itu meluncur begitu saja, tajam dan penuh sindiran. Arga menatap Intan. Kali ini tatapannya bukan tatapan kosong, tapi tatapan tajam yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi mahasiswa yang berani membantah di kelas.

"Jadi ini masalahnya?" Arga menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangan di dada. "Kamu marah karena saya tinggal semalam?"

"Siapa yang nggak marah?" Intan berdiri, rasa laparnya hilang seketika digantikan amarah. "Kita baru nikah kemarin siang, Mas! Aku sendirian di tempat asing ini. Aku nggak tahu cara nyalain kompor listriknya, aku nggak tahu di mana saklar lampunya. Dan suamiku malah asyik nongkrong sama teman-temannya!"

Arga mendengarkan ledakan emosi itu tanpa berkedip. Wajahnya tetap tenang, menyebalkan.

"Kamu bukan anak kecil, Intan. Kamu tujuh belas tahun, bukan tujuh tahun," balas Arga dingin. "Ada Google untuk cari cara nyalain kompor. Ada saklar di dinding yang bisa kamu coba satu-satu. Jangan manja."

"Manja?!" suara Intan meninggi satu oktaf. "Ini bukan soal manja! Ini soal menghargai pasangan!"

Arga tertawa kecil. Tawa yang kering dan meremehkan.

"Pasangan?" ulangnya. Ia berdiri, berjalan mendekati Intan. Aura dominasinya membuat Intan ingin mundur, tapi ia menahan kakinya agar tetap terpaku di lantai.

Arga berhenti tepat dua langkah di depan Intan.

"Dengar, Intan," ucapnya pelan namun menekan. "Pernikahan ini terjadi karena saya menghormati almarhum Kakek saya. Bukan karena saya menginginkan kamu. Bagi saya, kamu adalah tanggung jawab tambahan yang merepotkan. Jadi, berhenti bersikap seolah-olah ini adalah drama rumah tangga di TV di mana suami harus menemanimu 24 jam."

Hati Intan rasanya seperti diremas tangan tak kasat mata. Sakit. Perih. Ucapan itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan. Arga secara terang-terangan mengatakan bahwa keberadaannya adalah beban.

"Kamu... jahat banget," bisik Intan, matanya mulai memanas.

"Saya realistis," koreksi Arga. Ia melirik jam tangannya. "Saya mau tidur. Jangan berisik. Dan tolong, buang sisa nasi goreng itu atau makan di balkon. Baunya bikin saya pusing."

Tanpa menunggu jawaban, Arga berbalik badan dan berjalan menuju kamar utamanya.

Brak.

Pintu kamar itu tertutup lagi. Mengunci pria arogan itu di dalam dunianya sendiri.

Intan berdiri gemetar di ruang makan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Tapi kali ini, ia tidak mengusapnya dengan sedih. Ia mengusapnya dengan kasar, dengan punggung tangannya, penuh kemarahan.

Ia menatap piring nasi goreng buatannya yang kini sudah dingin. Nasi goreng yang sebenarnya ia masak porsi besar, diam-diam berharap Arga akan pulang lapar dan mereka bisa sarapan bersama meski dalam diam.

Betapa bodohnya ia.

Intan meraih piring itu, berjalan cepat ke arah tempat sampah, dan membuang seluruh isinya.

"Oke, kalau itu maunya," gumam Intan, suaranya bergetar menahan amarah. Ia menatap pintu kamar Arga dengan tatapan nyalang.

Rasa takut dan canggung yang ia rasakan kemarin telah lenyap. Rasa hormat pada sosok dosen itu pun menguap. Yang tersisa kini hanyalah rasa antipati yang mendalam.

"Lihat saja, Argantara Ramadhan," desis Intan, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Kamu bilang aku beban? Kamu bilang aku merepotkan? Oke. Aku akan jadi mahasiswi paling merepotkan yang pernah kamu temui seumur hidupmu. Aku akan bikin hidupmu nggak tenang, baik di rumah ini maupun di kampus."

Pagi itu, di apartemen mewah yang dingin itu, sebuah bendera perang resmi dikibarkan. Bukan lagi perang dingin, tapi perang terbuka. Dan Intan bersumpah, ia tidak akan menjadi pihak yang kalah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!