NovelToon NovelToon

Balas Dendam Meyleen

mati cuy

selamat membaca ^_^

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

"Uhukk..uhukkkk."

AAARRRRRGGGHHHHHHHHH

Di sebuah tebing curam dengan ketinggian lebih dari puluhan ribu kaki, seorang wanita tergantung diantara tanaman menjalar. Di sekitarnya ada kereta kuda yang sudah hancur, ada bangkai manusia yang sepertinya seorang kusir.

Angin berhembus kencang bahkan nyaris membuat sang wanita terperosok jatuh semakin dalam, wanita itu menegang dengan darah yang sudah menutupi wajahnya. Dengan tangan gemetar, dia mulai berusaha naik dengan perhitungan yang matang dan hati-hati.

Srakkkk

"Aaaaaaaa jancok mati gue." Batinnya.

Nyaris saja sang wanita jatuh ke bawah tebing, untung saja tangannya buru-buru menggapai sebuah batu dan menahan tubuhnya sekuat tenaga. Dengan sisa kekuatan yang ada, wanita itu mengayunkan kakinya agar mendorong tubuhnya ke atas.

"Aargghhhhhh... ayo bisa-bisa." Ucapnya menyemangati diri sendiri.

Setelah usaha yang keras dan rasa sabar yang luar biasa, akhirnya si wanita berhasil naik ke atas tebing dan buru-buru merangkak menjauhi tebing curam itu.

Dia terduduk di samping pohon rindang, badannya gemetar hebat merasa adrenalin sempat terpacu dengan gila-gilaan. Setelah mengatur nafasnya perlahan, wanita itu mulai mengamati dirinya sendiri.

Baju yang berat dan mewah dengan sulaman yang rumit berwarna merah menyala. Rambut hitam panjang yang di sanggul rumit dan aneka macam tusuk rambut, kentara sekali jika itu pakaian pengantin China zaman dulu.

"Jadi gue Transmigrasi apa gimana nih?." Gumam wanita itu.

Wanita itu adalah Tinavy Wismell, seorang wanita cantik dari dunia modern yang terkenal sulit di tebak dan tidak bisa di benci. Dia memiliki bakat bawaan sebagai seorang penipu ulung, dimana dia akan menipu dengan cara cerdas tanpa celah, dia memiliki banyak wajah dan tidak ada satupun topengnya yang terungkap.

Tivany adalah putri dari keluarga konglomerat dengan kehidupan mewah bak putri kerajaan, saat sedang bersiap untuk berlibur sendirian dia justru mengalami hal na'as yang merenggut nyawanya. Setelah kematiannya itu lah dirinya terbangun di tubuh wanita asing, yang sepertinya mengalami kecelakaan kereta kuda dan terjatuh ke tebing curam.

"Fyuhhhh.... untung aja masih selamat, kan ngga lucu kalo gue baru hidup langsung mati lagi." Gumam Tivany bersyukur.

Tivany merasa pusing karena kepalanya bocor, dia buru-buru menyobek kain dan mengikat kepalanya untuk menghentikan pendarahan.

Tivany berusaha berdiri dengan berpegangan pada pohon, berjalan dengan perlahan mengintari sekitar untuk mencaritau situasi. Karena darah terus merembes dari kain perban, Tivany mengambil daun petai cina dan mengunyahnya lalu menempelkan daun yang sudah di kunyah ke atas lukanya. Rasanya perih tapi cukup efektif untuk menghentikan pendarahan.

"Kemana ya? ini juga tubuh siapa, dia mau nikah tapi gajadi gara-gara kecelakaan gitu? masa iya ngga ada yang nyariin sih." Gumam Tivany heran.

Tivany celingukan di tengah jalan, tidak ada siapapun yang lewat jadi dia duduk di batu tepi jalan dengan lesu. Tidak ada ingatan apapun yang muncul, dia benar-benar merasa tersesat dan tak tau arah jalan pulang.

"NONAAAAAAAA."

Teriakan melengking membuat telinga Tivany berdenging, dia buru-buru menoleh melihat ada seorang pelayan yang berlari sambil membawa keranjang bambu. Dia terlihat acak-acakan sekali.

"Astaga Nona, syukurlah anda baik-baik saja. Apa anda terluka parah? dimana kereta kuda yang mengantar anda? kenapa anda malah disini?." Ucapnya membrondong pertanyaan.

"Kenapa kau sendirian?." Tivany berucap dingin.

Deg.

"N-nona? anda sudah tidak gagap lagi?." Kaget pelayan itu.

"Aku sudah muak berperan sebagai orang bodoh, cepat jawab pertanyaan ku kenapa kau datang sendirian?." Tivany cepat memahami situasi.

"M-maafkan saya Nona, hari ini adalah hari pernikahan anda jadi saya bersama pelayan lainnya menunggu di kediaman Tuan muda Ming. Saat kereta kuda pengantin wanita datang, saya sempat mendekat untuk membantu tapi saya benar-benar terkejut saat tau yang turun bukanlah anda." Ucap pelayan itu bicara.

"Lalu?." Tivany masih berusaha terlihat tenang.

"Lalu saya bertanya pada Bibi Lou, kenapa bukan anda yang datang. Beliau bilang jika anda kabur dan terpaksa di gantikan oleh putri kedua, keluarga Tuan muda Ming juga terlibat tidak keberatan. Saya tidak percaya jika anda kabur, karena sejak semalam saya sudah mengajak anda kabur tapi anda menolaknya dengan alasan harus jadi anak berbakti. Saya akhirnya diam-diam menyelinap pergi, mengikuti jalan yang seharusnya anda lalui dengan berlari syukurlah saya menemukan anda disini." Ucap pelayan itu terlihat menyedihkan.

Tivany mengamati, sebagai senior penipu ulung tingkat grandmaster. Dia tentu tau seperti apa gerak-gerik penipu dan orang jujur, pelayan kecil di depannya ini jujur karena telapak kakinya sampai berdarah dengan rambut acak-acakan dan keringat yang bahkan membuat pakaian yang dia kenakan basah.

"Kau anak yang baik." Ucap Tivany tersenyum.

"Nona?." Pelayan itu nampak terharu.

"Duduklah sebentar, kakimu sampai terluka karena berlari sampai sini. Apa yang kau bawa?." Tivany tersenyum anggun.

"S-saya membawa beberapa obat dan penekuk, saya berpikir anda dalam bahaya atau terluka." Ujarnya.

"Siapa nama mu?." Tanya Tivany.

Deg.

"Apa maksud anda?." Pelayan itu terkejut.

Belum sempat pelayan itu membrondong pertanyaan, segerombolan pasukan berkuda datang, di pimpin oleh seorang pemuda yang cukup tampan dan berkharisma. Tatapan matanya tajam dan dingin, terlihat membenci tubuh yang di tempati Tivany.

"Apa kau sudah puas mempermalukan nama baik keluargan Jiang? jika saja Zuzu tidak berbaik hati menggantikan mu, akan jadi seperti apa keluarga kita nantinya?." Ucap pemuda itu dingin.

"Kau lihat saja sendiri, aku tidak kabur melainkan jatuh ke dalam tebing. Kusir dan bangkai kereta kuda masih ada di sana, aku juga terluka dan beruntung masih bisa naik dan selamat. Jika kau datang hanya untuk memaki dan menuduhku, kenapa tidak kau bunuh saja aku disini." Tivany menatap dengan dingin, menunjuk ke arah dirinya jatuh.

Deg.

"Kau." Pemuda itu terkejut, sepertinya karena Tivany bicara dengan tegas dan anggun.

"Sejak kapan dia jadi seperti ini? kenapa dia bisa bicara dengan lancar?." Batin pemuda itu.

"Kenapa diam, utus pasukanmu untuk memeriksa. Sebagai pria sejati jadilah saksi atas kejujuran ku, aku tidak ingin di bela aku hanya ingin terlepas dari tuduhan tidak berdasar." Ucap Tivany.

"Apa yang kau rencanakan kali ini Meyleen? apa kau ingin membuat Zuzu dalam masalah lagi? berhentilah bersikap kekanakan." Ujar pemuda itu tidak senang.

"AKU BILANG UTUS PASUKANMU UNTUK MELIHAT DENGAN MATA MEREKA, APA KAU BUTA SAMPAI TIDAK MELIHAT ADA BERAPA BANYAK DARAH YANG KELUAR DARI KEPALAKU!!!! AKU TAU KAU MEMBENCIKU, TAPI TIDAK KAH KAU MEMILIKI HATI NURANI SEBAGI SEORANG MANUSIA?!!!." Teriak Tivany kesal, dia merasa lemas dan ingin cepat pulang.

"BERANI SEKALI KAU MEMBENTAKKU." Pemuda itu berteriak balik.

"KENAPA?!! TURUN KEMARI KAU, BIAR KU HAJAR WAJAHMU YANG TIDAK SEBERAPA ITU. SIALAN, KAU PIKIR AKU TIDAK KETAKUTAN SAAT NYARIS MATI?!!! KAU PIKIR AKU INI APA? AKU JUGA MANUSIA BIASA, BAJINGAN SIALAN." Tivany menantang dengan marah, dia bahkan berkacak pinggang dengan garang.

Pemuda itu semakin terkejut saat tidak menemukan ketakutan dari tatapan Tivany, terlihat sangat ganas dan menyeramkan. Apa benar wanita menyedihkan di depannya ini adalah adiknya? atau siluman yang sedang menyamar?.

.....................

JANGAN LUPA BACA PESAN AUTHOR

↓↓

marah

Beberapa pasukan memeriksa daerah sekitar tebing, Tivany diobati oleh pelayan kecil di pinggir jalan. Meskipun merasa pusing dan nyaris pingsan, Tivany ingin tetap sadar sampai Pemuda di depannya tau jika dirinya tidak bersalah.

"TUAN MUDA, KUSIR DAN BANGKAI KERETA KUDA MASIH TERSANGKUT DAHAN POHON." Teriak pasukan dari arah tebing.

Pemuda itu langsung melompat dari kuda, ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Setelah melihat jika Tivany tidak berbohong, apalagi adanya jejak darah yang begitu banyak dari tebing sampai atas milik Tivany.

"Tarik ke atas." Perintah Pemuda itu dingin.

Pemuda itu berbalik, menatap Tivany yang sudah pucat pasi bahkan bibirnya membiru. Pelayan kecil di sampingnya juga terlihat panik, Pemuda itu jadi merasa bingung kenapa Tivany tidak bersalah seperti yang diucapkan adik keduanya.

"Katakan yang sejujurnya Meyleen, bagaimana kau bisa jatuh ke dalam jurang?." Tanya Pemuda itu.

"Aku tidak ingat, apa menurutmu setelah kepalaku bocor aku masih memiliki ingatan yang jelas? aku bahkan tidak tau siapa namaku." Jujur Tivany.

"Jangan berbohong." Desak Pemuda itu.

"Aku tidak bohong dasar pria jelek." Kesal Tivany.

"A-apa, beraninya kau." Pemuda itu terlihat marah.

Tivany sudah tidak bisa lagi menahan kesadaran nya, dia merasa kegelapan tiba-tiba saja menelannya dan___

Bruk

Tivany jatuh tidak sadarkan diri dengan luka parah di kepalanya. Pemuda itu nampak terkejut dan langsung meriksa denyut nadi Tivany, merasakan denyut yang sangat pelan dan tidak beraturan membuat Pemuda itu mengerutkan keningnya.

"Siapkan kereta kuda, kita kembali ke kediaman secepatnya." Ucap Pemuda itu keras.

Pemuda itu mengangkat Tivany ke dalam kereta kuda, pelayan kecil tadi juga ikut dia sudah menangis khawatir. Apalagi keadaan Tivany yang sudah pucat seperti mayat dengan darah yang terus merembes dari kepalanya.

Pasukan pemuda itu kembali membawa bangkai kereta kuda dan mayat kusir. Kedatangan mereka sudah di tunggu oleh tetua keluarga, siap menghukum Tivany atas tuduhan yang sudah menyebar dimana-mana.

Pasukan masuk ke dalam kediaman dengan plakat "Kepala Mentri." Yang sepertinya merupakan keluarga dari pemilik tubuh yang ditempati Tivany, begitu gerbang di buka sudah ada banyak orang termasuk tetua yang menunggu. Bahkan dua pengantin yang baru saja menikah juga ada disana, bergandengan dengan mesra.

"Dimana anak pembangkang itu?." Tanya seorang wanita tua, sepertia tetua di keluarga ini.

"Bawa Meyleen ke paviliun nya, panggilkan tabib dan kembalikan mayat kusir pada keluarganya dengan pesangon." Ucap Pemuda itu memerintahkan pasukannya.

"Jiang Feng, apa yang terjadi?." Seorang wanita bohay, dengan riasan tebal bertanya dengan lemah lembut.

"Saya izin melapor Ayahanda." Ucap Pemuda tadi, yang ternyata bernama Jiang Feng.

"Katakan." Ucap seorang pria paruh baya dengan aura dominan patriarki.

"Dengan berat hati saya bersaksi jika tuduhan yang mengarah pada Meyleen tidak benar. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, jika Meyleen nyaris mati jatuh ke dalam jurang bersama kereta kuda yang di tumpanginya. Setelah pengamatan lebih lanjut dan pengamatan bangkai kereta kuda, kecelakaan terjadi karena kuda hilang kendali atau kelalaian kusir yang tidak memeriksa kereta kuda dengan benar. Kusir di temukan meninggal dunia sedangkan Meyleen terluka parah di kepalanya." Ucap Jiang Feng jujur.

"Apa kau berkata dengan sungguh-sungguh Feng? kau tau sendiri bagaimana Meyleen membenci Zuzu, jika memang terjadi kecelakaan kereta kuda mustahil dia bisa selamat. Dia pasti sengaja pura-pura kecelakaan agar terbebas dari tuduhan dengan mengorbankan nyawa kusir, tolong berikan keadilan pada Zuzu ku yang malang." Ucap Wanita bohay tadi.

"Saya tidak mengapa Ibu, menikah dengan Kak Ming Jun juga merupakan keberkahan dalam hidup saya. Kakak Jun sangat menghormati dan menyayangi saya, ini merupakan keberuntungan yang sangat saya syukuri." Ucap wanita muda dengan pakaian pengantin.

"Benar-benar anak yang berbakti dan tau cara menjaga martabat keluarga. Berikan ketegasanmu pada Putri pembangkang itu Nan." Ucap wanita tertua.

"Jiang Feng, apa kau sudah memeriksa semuanya dengan benar? apa kali ini kau berada di pihak Meyleen?." Tanya Jiang Nan (Kepala keluarga sekaligus Kepala Mentri Kerajaan dan Ayah dari Meyleen).

"Pada saat pernikahan di gelar, Zuzu mengatakan jika Meyleen kabur dan memintanya untuk menggantikan posisinya sebagai mempelai wanita. Saat itu aku bertanya apa benar Meyleen mengatakan itu padahal tandu pengantin sudah berangkat. Zuzu menjawab jika dia melihat sendiri bagaimana Meyleen pergi membawa banyak pengawal paviliun lotus, ke arah berlawanan dari kediaman Jendral Ming. Sementara bangkai kereta kuda di temukan di jalanan sepi paling dekat dengan kediaman Jendral Ming, dan Meyleen sudah siap dengan pakaian pengantin tanpa membawa pengawal satu pun. Di lihat dari jejak kecelakaan juga tidak ada unsur kesengajaan, karena semuanya benar-benar hancur lebur." Ucap Jiang Feng menunjuk bangkai kereta kuda.

"Apa sekarang Kak Feng sedang menuduh Zuzu berbohong?." Zuzu mulai menangis di dekapan suami nya.

"Saya hanya bicara fakta tanpa memberatkan pihak mana pun, sebagai seorang Pria dan pewaris keluarga ini tentu saja saya harus bersikap jujur dan netral. Dalam kejadian kali ini Meyleen memang tidak bersalah, Ayahanda bisa memeriksa sendiri seberapa parah luka yang dialami Meyleen. Jika memang kecelakaan ini di sengaja, pasti luka yang dialami Meyleen tidak akan parah." Ucap Jiang Feng, tidak mau menatap Zuzu yang menangis.

"Panggil tabib yang memeriksa Meyleen." Ucap Jiang Nan tegas.

Pelayan berlari memanggil Tabib yang baru saja selesai membalut luka Meyleen, Meyleen masih belum sadarkan diri dan wajahnya masih pucat pasi. Pelayan kecil masih setia menemaninya sambil menangis khawatir.

Tabib datang memenuhi panggilan kepala keluarga, semuanya menunggu hasil pemeriksaan dari tabib mengenai luka yang dialami Meyleen.

"Kebocoran di kepalanya sangat parah dan dalam, saya bahkan harus menjahit lukanya agar pendarahan berhenti. Ada parah tulang lengan kiri dan lebam akibat benturan keras di pelipis. Benturan ini sangat keras dan sepertinya diakibatkan sesuatu yang keras seperti batu atau tembok. Saat ini kondisi Nona pertama masih dalam masa kritis, dan kemungkinan besar akan mengalami efek samping yang cukup besar." Ucap Tabib menjelaskan dengan tenang dan rinci.

"Efek samping apa?." Jiang Nan sangat perfectionis.

"Karena benturan paling banyak di bagian kepala, tentu bisa terjadi hilang ingatan sementara maupun permanen. Saya sendiri cukup terkejut melihat Nona pertama masih bisa hidup dengan luka separah ini." Ucap Tabib jujur.

"Saat aku datang, Meyleen masih sadar dan sempat berteriak padaku dengan marah. Dia terlihat seperti orang lain yang tidak mengenalku, bahkan sampai berani mengumpat padaku. Apa itu termasuk efek samping nya?." Ujar Jiang Feng.

"Mungkin benar Tuan muda." Tabib itu mengangguk.

"Apa dia tidak sedang pura-pura agar terbebas dari hukuman?." Wanita bohay dempul itu bicara, sambil menutup mulutnya dengan lengan Hanfu.

"Jika sandiwara tidak mungkin dia sampai berani menatap nyalang padaku, dia itu penakut." Celetuk Jiang Feng.

"Baiklah untuk masalah kali ini kita akhiri saja sampai disini, pernikahan tetap di jalankan dan nama baik keluarga di selamatkan oleh Zuzu. Tidak baik memperpanjang masalah di hari pernikahan yang baik ini." Ucap Jiang Nan pilih kasih.

"Benar, pergilah bersenang-senang dengan suamimu Zuzu. Kau anak yang berbakti dan berbudi luhur, pasti bisa menjadi istri yang baik dan terpuji." Ucap wanita tertua menyanjung.

"Ayah dan Nenek terlalu memuji." Zuzu tersipu malu-malu.

"Kalau begitu saya memohon izin membawa Zuzu pergi, saya sudah tidak sabar menghabiskan waktu dengannya yang sangat manis dan polos." Ucap Ming Jun.

Rapat itu di tutup dan semuanya kembali ke kediaman masing-masing. Sampai saat ini Feng masih bingung kenapa dia terkesan membela Meyleen? padahal dia membenci adiknya itu. Entah kenapa hari ini Zuzu terlihat aneh, dia terlihat begitu bahagia bisa menikahi seorang Pria yang tadinya pengantin Kakak perempuannya sendiri.

Sebagai seorang Pria, Feng tau beberapa watak wanita. Seharusnya wanita yang terpaksa menjadi pengganti akan menangis dan bersedih, meskipun Ming Jun memang tampan dan dari keluarga terpandang, tapi tetap saja responnya yang terlihat sangat bahagia itu tidak pantas.

ingatan

Malam hari nya saat semua orang sudah terlelap dalam mimpi indah mereka. Tivany baru terbangun dan merasa kepalanya sangat sakit, dia bahkan sampai kesulitan bangun karena seluruh tubuhnya sakit.

Fyuhh

"Sialan, jadi selama ini begini lo menjalani hidup?." Batin Tivany marah.

Benar, Tivany sudah mendapatkan ingatan dari pemilik tubuh. Ingatan yang membuat Tivany memiliki tujuan yaitu Balas Dendam, dia harus membalas semua penghinaan dan rasa sakit yang di terima pemilik tubuh malang ini.

"Sebagai tanda terimakasih karena sudah memberikan tubuhmu untuk kehidupan keduaku. Aku akan membalas segala penderitaan dan rasa sakit yang selama ini kau terima, beristirahat lah dengan tenang Jiang Meyleen." Batin Tivany.

Jiang Meyleen Nama dari tubuh yang di tempati oleh Tivany saat ini. Seorang gadis malang berusia 16 tahun, seorang Putri sah yang posisinya tergeser oleh Putri Selir. Bahkan Kakak kandungnya sendiri membencinya, selama ini hidup Meyleen selalu menjadi yang bersalah dan tidak pernah mendapatkan keadilan apapun.

Meyleen lahir sebagai anak kedua dari Istri Sah Mentri Jiang. Sayangnya kelahiran Meyleen menjadi hari kematian sang Ibu, karena itu pula Meyleen di benci oleh semua orang di dalam keluarga ini.

Penderitaanya semakin bertambah saat sang Ayah mengangkat Selirnya sebagai nyonya rumah, Putri Selir yang usianya lebih muda satu tahun dari Meyleen, mulai menggeser posisi Meyleen dengan kepolosan dan keahliannya dalam menjilat.

Meyleen yang memiliki trauma mendalam akan kebencian orang-orang kepadanya, label pembunuh yang dituduhkan tanpa dasar. Membuat Meyleen gagap dan tidak bisa membela diri dengan benar, dia selalu mendapatkan hukuman karena perbuatan yang bukan ulahnya.

Dia hidup dengan menyedihkan di rumahnya sendiri, memiliki paviliun paling kecil dan paling miskin. Bahkan Paviliun milik Zuzu yang selalu anak selir sangat mewah dengan puluhan pelayan dan penjaga, sedangakan dirinya yang merupakan keturunan sah justru lebih buruk dari seorang pelayan.

"Maaf Meyleen, mungkin selama ini alasanmu bertahan adalah ingin menjadi anak yang berbakti dan ingin Ayahmu melihatmu. Tapi aku tidak bisa menjadi sepertimu, aku sangat membenci semua yang ada di rumah ini. Aku akan menghancurkan mereka semua sampai ke akarnya, dengan tubuh ini akan ku permalukan mereka semuanya." Gumam Meyleen penuh dendam.

(Dari sini Tivany akan di panggil Meyleen).

Tiga hari kemudian Meyleen menjalani masa pemulihan dengan sangat menyedihkan. Hanya meminum obat pahit dan minum bubur sayur liar yang hambar, tidak ada daging ataupun buah. Benar-benar menyedihkan sekali dan ini membuat Meyleen ingin semakin cepat pergi dari rumah terkutuk ini.

Bahkan tidak ada satupun anggota keluarga yang datang menjenguk, tidak ada yang basa basi melihat dan memberi buah. Bahkan kepala keluarga tidak memberikan perhatian dengan mengirimkan makanan layak, Meyleen benar-benar tidak dianggap di kediaman mewah dan makmur ini.

"Lihat saja nanti, saat tiba waktunya dimana aku terlepas dari kalian semua. Aku pasti akan membalas semuanya sampai tetes darah penghabisan. Berbahagialah kalian saat ini, tunggu sampai kebahagiaan fana itu hilang dan berganti menjadi tangisan rasa sakit yang tak terperi." Batin Meyleen.

Drap

Drap

Drap

"Nona!! Nona!! Cepat bersiap, Tuan besar datang berkunjung." Ucap Pelayan kecil yang bernama Soso dengan senang.

"Soso, maaf karena selama ini sudah menyusahkanmu. Aku berjanji akan membawamu hidup bahagia bersamaku, aku akan membalas semua ketulusan mu. Aku tidak perlu bersiap untuk menyambut orang gila." Ucap Meyleen merasa trenyuh.

"Nona..." Soso merasa sedih, berpikir Nona nya sudah menyerah.

Suara berisik datang dari arah pintu masuk, Meyleen tetap diam duduk di kursi halaman Paviliun bobrok miliknya. Seorang pria paruh baya masuk yang sepertinya adalah Ayah kandung dari Meyleen, di sampingnya ada seorang wanita licik yang menyebalkan.

"Kepala keluarga datang pun tidak tau cara menyambut dan memberi salam, benar-benar tidak berguna." Ucap Jiang Nan.

"Maaf ya, Tuan Besar. Karena tidak pernah di kunjungi jadi saya tidak tau bagiamana caranya menyambut, sambutlah diri anda sendiri jika mau." Ucap Meyleen santai.

"LANCANG." Teriak Jiang Nan marah.

"Apa manusia terhormat seperti anda datang hanya untuk membentak? jika sudah selesai anda bisa pergi." Usir Meyleen.

"Benar-benar anak pembawa sial dan nasib buruk keluarga Jiang." Geram Jiang Nan.

"Benar, mirip seperti bibit nya." Meyleen tidak terprovokasi sama sekali.

"Sayang tenangkan dirimu, mungkin Meyleen sedang merasa kesal karena gagal menikah." Ucap Wanita ular itu.

"Dengar ini baik-baik, minggu depan kau akan menikah dengan Pangeran ke-3 Kekaisaran Mo. Jangan bermimpi untuk kabur atau berulah, kau tidak akan membawa mahar dan seserahan Istana menjadi milik kediaman ini. Pergilah sebagai anak berbakti dan jangan berpikir untuk pulang seandainya kau dicampakan." Ucap Jiang Nan kejam.

"Syukurlah." Meyleen tersenyum cerah.

"Apa?." Jiang Nan terkejut dengan respon Meyleen.

"Apa karena luka di kepalamu membuatmu gila? syukurlah jika kau jadi anak penurut." Ucap Jiang Nan tidak ambil pusing.

"Tapi, saya memiliki permintaan terakhir sebelum pergi dari sini. Sebagai keturunan sah saya tentu memiliki hak untuk meminta bukan?." Ujar Meyleen tenang.

"Katakan dan jangan buang waktuku." Desak Jiang Nan.

"Saya ingin makan makanan yang layak, saya ingin makan daging, buah-buahan, sayur, penekuk dan puding yang lezat. Sampai satu minggu ke depan aku tidak akan membuat masalah, tapi tolong beri aku makanan enak sebelum pergi." Ucap Meyleen serius.

"Dasar serakah." Jiang Nan pergi dari sana begitu saja, Meyleen hanya menatap kepergian Ayah bejad itu dengan sinis.

Setelah huru hara pergi suasana langsung sepi dan hening, tapi Soso terus saja menangis tanpa henti membaut Meyleen bingung. Apa yang membuat anak ini menangis?.

"Soso, kanapa kau menangis?." Heran Meyleen.

"hiks... huhuhu.. nona, kali ini saya mohon kabur lah. Saya yang akan menggantikan anda mendapatkan hukuman pancung." Ucap Soso terisak.

"Hey tenangkan dirimu, kenapa kau menangis sampai seperti ini?." Heran Meyleen.

"Nona mungkin anda lupa, tapi Pangeran ke-3 adalah tunangan dari Nona kedua. Sepertinya sengaja di tukar agar anda yang menikah dengan Pangeran -3, Nona kedua benar-benar jahat." Ujar Soso.

"Zuzu tidak mau menikah dengan seorang Pangeran?." Heran Meyleen.

"Hanya sebutannya saja yang pangeran, saat ini Pangeran ke-3 sedang di penjara di bawah tanah Istana karena membunuh Ayahnya sendiri. Setelah Kaisar terdahulu tewas di tangan Pangeran ke-3, Pangeran ke-7 naik tahta dan menjebloskan Pangeran ke-3 ke penjara bawah tanah. Sudah sekitar 8 tahun dia terkurung di penjara gelap dan lembab itu, banyak yang mengatakan jika dia menjadi sangat ganas dan menyerang siapapun yang mendekat padanya." Ucap Soso.

"Apa perbedaan Kekaisaran dan Kerajaan? Bukankah orang gila tadi jabatannya Mentri Kerajaan?." Meyleen masih bingung.

"Kekaisaran memiliki wilayah yang jauh lebih luas dan kuat dari Kerajaan. Biasanya Kerajaan tunduk pada Kaisar, Mentri Kerajaan bisanya menjadi utusan yang menghadap Kaisar untuk urusan pemerintahan. Mungkin karena jasa Tuan Besar, terbentuk lah pernikahan politik." Ucap Soso.

"Ternyata kau pintar ya." Meyleen tersenyum senang.

"Astaga apa yang nona bicarakan." Soso tersipu malu.

"Jangan khawatir Soso, justru lebih bagus jika aku menikah dengan orang gila. Karena saat ini pun aku sudah jadi gila, kehidupan ku yang menyedihkan akan segera berakhir. Jadi Soso apa kau ingin ikut denganku atau kembali saja pada keluargamu?." Tanya Meyleen.

"Saya tidak punya keluarga, saya sudah bersumpah akan mengikuti kemana pun Anda pergi." Ucap Soso tegas.

"Terimakasih atas kesetiaan mu ini, aku pasti akan membalas semuanya." Meyleen berjanji.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!