Malam itu Air hujan turun dengan deras, laksana bendungan yang bobol dari atas langit, membasahi Bumi dan seisinya
" Jlegaaaar"
" Jlegar"
Guntur pun tak mau kalah mereka seakan bersahutan satu sama lain,
Namun di saat hujan badai dan petir itu satu sosok berkelebat di tengah derasnya hujan, seakan bermain dengan kondisi alam yang sedang marah
kecepatan geraknya tak ubahnya seperti hantu.
"jlegaaaaar"
"Ha ha ha"
saat guntur kembali menyalak, ia tertawa seakan meredam kekuatan guntur yang datang, cahaya dari guntur itu menerangi sosok itu yang ternyata seorang kakek tua berusia 70 tahunan, tubuhnya sedikit kurus, namun matanya tajam laksana mata elang, dengan jenggot putih menghiasai dagunya, bentuk kepalanya bulat dengan rambut panjang yang sama dengan jenggotnya, beriap dan tergerai acak acakan sampai punggungnya
Guntur menyalak lagi
" Jlegaaaaar"
" Blaaaaar"
pucuk sebuah pohon tersambar dan tumbang , jatuhnya tepat mengarah ke kakek tua itu.
kakek tua itu malah tertawa melihat pohon yang tumbang ke arahnya, ia mengangkat kepalanya sedikit melihat pohon tumbang itu, dan secara cepat ia mengibaskan tangannya seakan sedang mengusir lalat
" Plaaaash"
" Bruuush"
Satu tenaga keluar deras dari tangannya yang mengibas, pohon yang tumbang ke arah kakek tua itu terpental, lebih dari tiga tombak jatuh ke arah rimbunnya semak.
" ha ha ha" kakek itu tertawa lagi
" Jlegaaaar"
guntur kembali menyambar dengan cepat dan menerangi tempat itu beberapa saat, kini terlihat juga sebuah tebing yang kokoh tak jauh dari sana
Namun ada yang aneh dari sosok kakek itu, karena sejak tadi dia di bawah curahan hujan deras tetapi tubuhnya tak basah sedikit pun, tubuhnya seakan mempunyai perisai yang menahan curahan air hujan mengenai tubuhnya
Tiba tiba kakek itu berhenti tertawa, dan tak lama terdengar kakek itu mengertakkan rahangnya
" Pendekar bunga telah tewas senja tadi , dan ia orang kedua dari tiga orang yang pernah mengalahkan ku dulu, pendekar Tongkat sakti telah kubunuh dengan racun, kini tinggal seorang lagi musuhku, Bandung Gila, kau pun akan segera mampus di tanganku" geram si kakek berkata
" ha ha ha"
Kakek itu kembali tertawa keras hingga kedua bahunya terguncang keras, sementara hujan turun semakin deras, namun tak mempengaruhi si kakek
" Bukit Sawangan sudah tak jauh dari sini, malam ini juga aku akan menuntaskan semua urusan dendam dua belas tahun yang lalu, agar tak ada lagi dendam yang mengganjal di dadaku!" seru si kakek itu sambil berkelebat lebih cepat lagi, tanah yang becek karena hujan, pohon yang bertumbangan tak menghalangi langkahnya sedikitpun, setelah melewati pematang sawah kini ia berdiri di kaki bukit yang menjulang tinggi, dengan dinding yang terjal
" Bukit sawangan" desis kakek itu, wajahnya terlihat angker saat menatap ke puncak bukit, sepasang matanya berkilat penuh ancaman
Kakek itu menarik napas dalam dalam
" Bandung Gila, jika kau masih hidup keluarlah, terima kematianmu!" teriak si kakek lantang karena di sertai tenaga dalam dalam seruannya hingga menggema di sekitar bukit sawangan
dengan perasaan tak sabar si kakek menunggu beberapa saat namun tak ada sahutan sama sekali akan seruannya
" Bandung Celaka! keluarlah kita tuntaskan urusan kita!" teriak kakek itu lagi , namun lagi lagi tak ada sahutan hanya pantulan gema dari teriakannya terdengar keras seakan ingin mengalahkan gemuruh hujan
" Setan Keparat, mengapa tak ada sahutan?! Apa dia tak ada di tempat ini, Terkutuk sia sia perjalanan ku kali ini!" teriak kakek itu mengumpat
Tiba tiba ia mengangkat kepala dan menyipitkan matanya karena ia mendengar suara mencurigakan dari balik batu besar yang berserakan di depannya, lalu dengan gerakan cepat ia mendorong tangan kirinya ke arah asal suara yang mencurigakan
" Wrrrrr"
satu gelombang angin keras meluncur dari tangan kirinya meluncur ke arah batu batu besar itu
" Blaaaar"
Batu itu hancur berkeping keping, dan satu bayangan berkelebat dari balik batu sebelum batu itu terkena serangan jarak jauh si kakek
" Hantu berkabut! kau datang di malam yang dingin dan hujan deras seperti ini apa kau sudah bosan tinggal di lembah tengkorak" Ucap sosok bayangan itu di belakang si kakek. kakek itu segera memutar badannya, saat melihat dengan jelas siapa sosok itu ia mengertakan rahangnya
" Ternyata kau masih punya nyali Bandung Gila! ku pikir kau sudah menjadi tikus got yang hanya bisa bersembuyi!" balas si kakek
Orang yang di sebut Bandung Gila tersenyum, saat petir menyambar terlihat sosok itu tak jauh beda usianya dengan si kakek, sosok itu mengenakan pakaian berwarna hijau yang penuh tambalan, jenggotnya menjuntai dan memutih
" Kau datang malam malam begini saat sedang badai, tenrunya kau datang mempunyai maksud, boleh ku tanya apa maksud kedatanganmu ini?" tanya Bandung Gila santai
Mendengar ucapan bernada datar itu pipi cekung Hantu berkabut menggembung
" aku datang untuk mencabut nyawamu!" bentak Hantu Berkabut
" dua puluh lima tahun tak terasa telah berlalu, ku pikir kau sudah kehilangan nama karena tak pernah ku dengar lagi namamu di rimba persilatan selama ini" sahut Bandung Gila mendesah pelan, seakan membayangkan apa yang ia lalui di masa muda
" malam ini kau sudah melihat diriku! itu tandanya kau akan menyusul pendekar Bunga ke akhirat" seru Hantu berkabut
kepala Bandung Gila menegak saat mendengar itu, sorot matanya yang tadinya lembut menjadi tajam
" Rupanya kau masih menyimpan dendam, apa kau lupa dulu kau pernah ku kalahkan!" tegur Bandung Gila
" ha ha ha, Lain dulu lain sekarang, dulu aku pernah di kalahkan pendekar bunga, tetapi sekarang ia telah berkalang tanah" Hantu berkabut tertawa keras
Bandung Gila masih diam tetapi sorot matanya kian tajam
" Sebelum kau mati aku akan menceritakan satu rahasia" Seru Hantu Berkabut sambil melipat kedua tangannya di depan dada
" tentunya kau telah mendengar berita kematian Pendekar Tongkat sakti bukan?!" ucap Hantu berkabut
" Aku tak sempat menyembayanginya" sahut Bandung gila namun suaranya kini bergetar
" Rasanya bukan hanya kau yang tak mengetahui siapa yang membunuhnya" kata hantu berkabut
" Dia meninggal kerena-"
" aku yang membunuhnya!" seru Hantu berkabut memotong ucapan Bandung Gila
" Tidak Mungkiiin!?" teriak Bandung Gila tak percaya
" Ha ha ha , aku menemukan cara menghadapi Prana Saktinya, kalian mungkin hanya menemukan jejak lidi yang berada di kakinya, tapi emang itu yang membunuhnya" ucap Hantu berkabut bangga
"Ha ha ha kau hanya membual, tak mungkin hanya sebatang lidi bisa membunuh sahabatku yang memiliki ilmu Prana Sakti yang melindungi dirinya" Bandung Gila tertawa mengejek, tak percaya akan perkataan Hantu berkabut, karena Hantu Berkabut adalah pecundang mereka dahulu dan bukan hanya sekali di kalahkan
Wajah Hantu Berkabut Memerah mendengar kata-kata Bandung Gila
"Setan terkutuk! Kau menghinaku!?" Geramnya dalam hati. Lalu ditindih rasa geramnya. Dia kembaii tertawa panjang.
"Ya, Siapa pun orangnya, tentunya akan berpikir kalau aku hanya membual belaka! Tetapi, sebatang lidi yang telah kulumuri racun pada sengatnya, tak akan mungkin bisa terdeteksi oleh ilmu Prana Sakti. miliknya" Ucapnya bangga
Bandung Gila tak menjawab. Tubuhnya terus diguyur hujan deras.
"Rupanya manusia ini sedang melancarkan setiap dendam yang dimilikinya. Dan ucapannya tadi, ah, aku mulai dapat mempercayainya. Pendekar Tongkat tewas dibunuhnya dengan mempergunakan sebatang lidi yang dilumuri racun. Tadi dia juga mengatakan, telah membunuh Pendekar Bunga" Kata Bandung Gila dalam hati. matanya menatap Hantu Berkabut, musuh bebuyutannya dari dulu
"Hantu Menara Berkabut! Kau telah menorehkan lagi sejarah hitam di rimba persilatan! Kalau waktu lalu kau masih kuampuni, tetapi dengan membunuh Pendekar Tongkat secara pengecut dan merenggut nyawa Pendekar Bunga, hanya setanlah yang mau mengampuni seluruh belang dosamu!" Teriak Bandung Gila lalu menerjang ke depan dengan tangan kanan kiri dikibaskan.
Dia tak bisa lagi menahan amarahnya mengetahui dua orang sahabatnya telah tewas. Bahkan dengan sikap angkuh, kakek berjubah jingga di hadapannya mengakui kalau dialah pelaku kedua pembunuhan itu! Terjangan yang dilakukan Bandung Gila sedemikian cepat, hingga memperdengarkan angin berkesiur.
" Wush"
Butiran hujan yang turun deras seperti menyibak, seolah memberi jalan terkena gelombang tenaga dalam yang dilepas-kannya.
Hantu Berkabut menger-takkan rahang. Kepalanya diangkat sedikit.
Kejap berikutnya, dia berkelebat ke depan dengan kedua tangan terangkat dan tiba-tiba disentakkan ke bawah. menangkis serangan dari Bandung Gila
" Wuuuuut"
" Blaaaarrr!!
Benturan yang terjadi mengakibatkan letupan keras, mengalahkan suara derasnya hujan.
Saat benturan tadi terjadi, guntur tidak menyalak. Tetapi letupan itu, justru melebihi ganasnya salakan guntur! Bandung Gila terseret ke belakang.
Celana bagian bawahnya kotor terkena tanah becek.
Hantu Menara Berkabut pun surut tiga langkah.
" Duk"
" Wuuuut"
Dengan kegeraman yang kentara, dijejakkan kaki kanannya, yang serta-merta membuat tubuhnya mencelat ke depan.
Gelombang angin berputar yang menyeret tanah basah menggebrak ke arah Bandung Gila Bandung Gila tak beranjak dari tempatnya.
Sebelum gelombang angin itu menghajarnya, mendadak diputar tangan kanannya.
" Wush"
Dari tangannya melesat gumpalan asap hijau ke arah gelombang angin yang dilancarkan Hantu Berkabut. Kalau biasanya asap akan terkuras sirna bila terkena air, asap-asap hijau yang dilepaskan Bandung Gila justru seperti menelan air-air itu.
Dalam satu kejapan saja, asap-asap itu sudah berubah menjadi kantung air! Menerobos gelombang angin yang dilepaskan Hantu Berkabut! Sudah tentu Hantu Berkabut terkejut melihat serangan lawan.
Gelombang anginnya menjadi tak berguna, bahkan terus diterobos oleh asap-asap yang telah berubah menjadi kantung air.
"Terkutuk!"
Makinya seraya memukul kantung-kantung air itu.
" Wush"
" Wush
"Pyaaarr!! Sebuah asap yang telah berubah menjadi kantung air berhasil dipukulnya.
Begitu pecah, justru dia yang menjadi terkejut dan mendadak sontak membuang tubuh ke samping kanan.
Karena begitu pecah, kantung air itu memuncratkan air warna hijau yang menyebar laksana puluhan jarum rahasia.
Sebagian mengarah pada Hantu Berkabut yang membuatnya segera menghindar.
" Pyar"
" Pyar"
" Pyar"
Tiga buah asap yang telah berubah menjadi kantung air itu pecah berhamburan tatkala menghantam tiga buah pohon.
awalnya Tak terjadi apa-apa.
Tetapi di lain saat, pepohonan itu bergetar.
Dedaunannya berguguran laksana diguncang tangan raksasa.
Menyusul suara letupan tiga kail berturut-turut Bagian atas pohon yang terkena hantaman kantung-kantung air yang pecah, patah berhamburan.
Hantu Berkabut terbelalak.
Sepasang matanya menatap tak percaya pada tiga batang pohon yang telah hancur bagian atasnya.
Lamat-lamat dengan suara erangan pelan diputar kepalanya.
Tatapannya tajam pada Bandung Gila yang telah berdiri tegak.
"Dari ketiga orang yang telah mengalahkanku dan membuatku mendendam setinggi langit, kupikir Bandung Gilalah yang paling lemah di antara mereka. Kuperkirakan akan dengan mudah membunuhnya. Tetapi nyatanya, dia justru telah bertindak mengejutkan. Menghadapi Pendekar Tongkat , aku telah mempergunakan akal licik untuk membunuhnya. Demikian pula dengan Pendekar Bunga" Gumam Hantu Berkabut dalam Hati
"Kau telah membunuh dua sahabatku! Rasanya, aku memang berhak untuk mencabut nyawamu sekarang!" Ucap Bandung Gila
"Jangan berbangga dulu dengan apa yang kau lakukan barusan!" Sahut Hantu Berkabut dingin. Dia masih tetap kering, karena sosoknya seperti terpayungi yang menghalangi derasnya butiran hujan.
"Karena... tak lama lagi kau akan menyusul Pendekar Tongkat dan Pendekar Bunga ke akhirat!"
"Mungkin aku akan menyusulnya! Tetapi... kaulah yang akan lakukan perjalanan ke neraka terlebih dulu!" balas Bandung Gila
Habis ucapannya, Bandung Gila menyerang Hantu Berkabut kembali.
" Wush"
Gelombang angin mendahului lesatan tubuhnya yang cepat.
" Wuuuut"
Saat tangan kanan kirinya digerakkan, kembali menghampar asap-asap hijau yang begitu terkena air langsung berubah menjadi kantung-kantung air.
Hantu Menara Berkabut menatap kantung-kantung air yang melesat cepat ke arahnya itu.
Dia tak mau untuk membentur lagi kantung-kantung air itu, karena dia tahu apa akibatnya.
Mendadak terlihat mulutnya mengembung dan....
" Wuussss!!" Begitu dikempeskan dengan cara menyentak, udara yang keluar dari mulutnya menggebah deras.
Kantung-kantung air yang mengarah padanya, tertahan dan berbalik pada pemiliknya! "Hebat! Tentunya hembusan napasnya itu bukan dialiri tenaga dalam, tetapi hawa murni karena tak memecahkan asap hijauku yang telah berubah menjadi kantung air!" Desis Bandung Gila dalam hati. ia dengan cepat memutar tangan kanan kirinya.
"Wrrrrr!" Kantung-kantung air yang kembali mengarah padanya, berbalik lagi setelah terkena gelombang angin dari kedua tangannya.
Hantu Berkabut segera berbuat yang sama seperti yang dilakukannya barusan, hingga kantung-kantung air itu kembali berbalik.
Demikian pula halnya dengan Bandung Gila
Dia juga berbuat yang sama seperti yang dilakukannya tadi.
Hingga yang terjadi kemudian, lima buah kantung-kantung asap itu akhirnya tertahan di udara.
Menggan-tung agak bergoyang.
Karena tekanan dari Bandung Gila dan tahanan dari Hantu Berkabut.
Masing-masing orang terlihat mulai bergetar.
Berulang kali Bandung Gila memutar tangan kanan kirinya.
Demikian pula dengan Hantu Berkabut yang menghembuskan napasnya berulang-ulang.
Dan mendadak, lima buah kantung-kantung air itu meluncur ke udara setinggi empat tombak.
Lalu meluncur deras ke bawah.
" Blaaar"
" Blaaar"
Begitu menghantam tanah becek, letupan keras yang membongkar tanah terdengar lima kali berturut-turut.
Jlegaaaaar
Di langit guntur menyalak.
Hingga tempat itu benar-benar laksana kiamat! Sementara itu, baik Bandung Gila maupun Hantu Menara Berkabut sama-sama terpental ke belakang.
Bandung Gila terjengkang di tanah becek.
Hantu Berkabut jatuh berlutut.
Kalau sebelumnya dia seperti terpayungi, kali ini sekujur tubuhnya basah tertimpa air hujan "Keparat!!" Makinya sambil mendongakkan kepala.
Tatapannya memancarkan keangkeran dalam, menyambar laksana mata elang murka.
Bandung Gila sendiri sedang berdiri dengan agak sempoyongan.
Dia menarik dan mengeluarkan napas guna mengatasi rasa sesak pada dadanya.
Hantu Berkabut pun melakukan hal yang sama.
" Bluk"
Tetapi baru saja dia berdiri, mendadak dia terjatuh kembali.
Terkutuk!"
Desisnya dingin. Sepasang rahangnya mengeras. Hujan terus mengguyur tubuhnya. Dia merasakan ngilu pada kedua kakinya. Napasnya dirasakan sesak dengan rasa nyeri tak terkira.
"Setan keparat! Aku bisa mampus bila menghadapinya langsung! Kesaktiannya benar-benar tak kubayangkan! Rupanya selama dua puluh lima tahun, dia lelah berlatih keras untuk memperdalam ilmunya! Keparat busuk!!" maki Hantu Berkabut dalam hati
"Dalam hujan yang deras ini, dalam malam yang laksana kiamat, aku akan menuntut balas kematian kedua sahabatku!" Ucap Bandung Gila dengan nada dingin
Mendengar Ucapan Bandung Gila, Hantu berkabut mengumpulkan sisa tenaganya dan perlahan berdiri dengan sedikit goyah, matanya menatap tajam pada lawannya
" Bandung Gila, jangan berharap kau akan mengalahkanku, aku telah bersumpah akan membalaskan demdam ini walau aku harus mati!" seru Hantu Berkabut, tangannya merogoh kantung Bajunya
" Wrrrrr" tangannya keluar dengan cepat dan mengibaskan ke arah Bandung Gila, dan berpuluh benda kecil, berwarna hitam melesat dengan kecepatan tinggi
Mata Bandung Gila terbeliak melihat benda yang menyerangnya
" Kelabang Neraka!?" teriaknya ketakutan saat melihat benda itu dengan seksama, lalu dengan gerakan cepat ia mendorongkan tangannya ke arah kelabang kelabang itu
" wush" angin keras keluar dari tangan Bandung Gila, namun seakan mengetahui kelabang kelabang kecil itu terbang menghindar dan memutari bandung Gila
" Keparat, mereka benar benar Kelabang neraka" desis Bandung Gila dengan cepat ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya dari serangan kelabang Neraka itu
" Ha ha ha, kau akan mampus di tangan Kelabangku bandung Gila. sama seperti nasib yang di alami Pendekar Bunga" Hantu Berkabut tertawa melihat raut muka Bandung Gila yang Cemas
Bandung Gila tak menghiraukan kata kata Hantu Berkabut, ia berkonsemtrasi untuk menghadapi kelabang Neraka itu
" wung" satu dengungan terdengar dari belakang
" Wush" dengan cepat ia menggerakan tangannya
" Plash"
" Trak"
" traak"
"Traaak"
beberapa kelabang bisa di hempaskan dengan pukulan tenaga dalamnya, hingga terdengar seperti ranting patah
namun belum ia meluruskan napas dari sisi kiri suara dengungan pelan terdengar
" Plaaas" Bandung gila mengayunkan tangannya lagi dan beberpa kelabang jatuh, namun Bandung Gila belum merasa tenang, mash tersisa banyak kelabang kelabang itu
" Keparat kelabang ini sangat licik dan berbahaya" maki Bandung gila
" Menyenangkan bukan?" tanya Hantu Berkabut sambil tertawa mengejek
Bandung Gila, diam sesaat lalu tertawa dengan keras, inilah yang membuat ia di juluki Bandung Gila, karena saat ia mengeluarkan ilmu pamungkasnya maka ia akan tertawa seperti orang gila
" Ha ha ha ha, Kelabang kurang ajar majulah jika kalian ingin mampus!" teriaknya sambil berputar seperti gasing, dari putaran tubuhnya angin deras keluar dan menerpa kelabang kelang itu, namun ia tak menyadari ada seekor kelabang yang dekat dengan kakinya dan tak terkena pengaruh angin kencang dari putaran tubuh Bandung Gila
Hantu Berkabut tak menyerang ia hanya berdiri dan menyaksikan pertunjukan yang menurutnya lucu, dengan diam diam ia juga memulihkan tenaganya
" Kelabangku memiliki naluri yang tinggi, kau tak akan mudah membunuhnya!" Ejek Hantu berkabut
" Mereka juga tak bisa mendekatiku" balas Bandung Gila sambil berpikir bagaimana menyerang Hantu Berkabut,
" Aku harus menyerang kakek celaka ini," Gumamnya dalam hati. lalu sambil berputar ia menyiapkan serangan dadakan pada Hantu berkabut
Baru saja ia hendak menyerang
" Eh"
Bandung Gila berteriak kaget karena seekor kelabang menyerang kakinya
" Bangsaaaat!" maki Bandung Gila
" Plaaaak" kelabang itu terpental terkena ttendangan dari Bandung gila, namun ia merasa ada yang mencubitnya saat menendang kelabang itu.
" He he he, kau akan menyusul kedua temanmu" ejek Hantu Berkabut tertawa senang
Bandung Gila tak menjawab ia merasakan darahnya aliran darahnya menjadi lebih cepat dan sekujur tubuhnya menjadi panas
" Ah," jerit bandung Gila sambil memegang dadanya yang tiba tiba terasa sakit
" Kurang ajar, kelabang itu ternyata seluruh tubuhnya beracun" desis Bandung gila, perlahan tubuh Bandung Gila terhuyung lalu ambuk, napas bandung Gila tercekat dan sekujur kulitnya memerah
" Iblis! Kau akan menyesali semua perbuatanmu ini!" rutuk Bandung Gila
" ha ha ha aku tak akan menyesali, aku malah puas " Hantu berkabut tertawa dengan keras
" Nanti akan ada yang membalaskan Dendam kami, kau akan di burunya!" kutuk Bandung Gila di napas terakhirnya
" Ha ha ha, aku tak takut, aku akan menunggu kedatangannya " tantang Hantu Berkabut sambil tertawa
" Sekarang susullah kedua temanmu" desis Hantu Berkabut sambil mengibaskan tangannya
" Wush"
" Desh"
" Aaaaaakhh!" Bandung Gila menjerit untuk terakhir kalinya, lalu diam tak bergerak lagi,
" Hantu Berkabut melesat terus ke atas bukit karena ia mengetahui di atas sana Bandung gila tinggal ia tak mau Ucapan Bandung Gila akan menjadi kenyataan,
Di puncak bukit sawangan sebuah rumah kayu berdiri kokoh,
" Ibu, mengapa ayah keluar rumah hujan hujan begini" tanya seorang anak berusia 12 tahun pada ibunya
" ayah menghadapi musuh yang jahat anakku" sahut sang ibu,
" ha ha ha, di sini ripanya rumah Bandung Gila"
baru saja sang ibu selesai berkata satu tawa yang menyeramkan terdengar di luar pondok mereka
" Anakku, pergilah lewat belakang, jangan pedulikan ibu" teriak sang Ibu sambil mencabut pedangnya
" Tidak ibu, aku akan menemami ibu" tegas sang anak tanpa rasa takut
" pergilah, atau ibu akan bunuh diri!" ancam sang Ibu sambil menempelkan pedang yang di pegangnya ke lehernya sendiri
" Ha ha ha, keluarlah, atau kuratakan pondok ini dengan tanah" di luar suara hantu berkabut terdengar mengancam di sertai tawa yang keras.
" Siapa kau mengapa kau mengganggu kami!" teriak sang ibu sambil mendorong anaknya ke sebuah lorong tersembunyi di dalam rumahnya, lorong itu menuju kaki bukit sawangan
" Aku Hantu berkabut, keluarlah!" teriak hantu berkabut lagi
" Nak ingatlah nama itu, pergilah sejauh mungkin balaskan demdam kami" ucap sang ibu sambil menutup lorong itu lagi dengan kayu dan meja hingga tak tampak ada sebuah lorong di sana Setelah mendorong sang anak ke lorong dan menutupnya wanita tua itu keluar dengan pedang di tangan
" Mampus kau!' teriak wanita itu yang langsung melesat menyerang saat berada di luar rumah
" Sriiing"
" Plaak" dengan enteng Hantu Berkabut menepis pedang itu dengan tangan kosong , karena ia tak khawatir akan serangan itu, serangan yang tak memiliki tenaga dalam yang cukup
" He he he, aku pikir Istri bandung Gila seorang pendekar wanita, tak tahunya hanya manusia biasa" ejeknya pada Istri Bandung Gila
" Ciaaaat"
Istri bandung Gila tak mempedulikan ejekan itu, ia siap berkorban agar anaknya bisa melarikan diri dari tangan Hantu Berkabut.
" Swiiing"
serangan istri Bandung Gila semakin membabi buta, istri bandung Gila memang bukan pendekar, ia seorang wanita desa yang penah di tolong oleh bandung Gila dari perampok, ia hanya belajar ilmuu kanuragan setelah menjadi istri Bandung Gila,
" Cari mati!" desis Hantu berkabut, lalu dengan santai ia menjepit pedang yang menyerangnya dengan jarinya
" Tap"
" lepaskan" seru istri bandung Gila saat ia merasa pedangnya seperti di jepit kekuatan yang besar
" Ha ha ha, mampuslah!"
" Traaak"
" Wush"
Hantu Berkabut mematahkan pedang itu dan melemparkan patahan pedang itu pada istri Bandung Gila
" Clap"
" Aaaaaaahkk" istri Bandung Gila menjerit , dari dadanya mengucur darah segar di mana pedang patahan itu menancap, tubuhnya perlahan roboh dan tewas
Hantu berkabut masuk ke dalam pondok dan memeriksa , ia menghela napas lega saat di lihatnya tak ada siapapun di dalam pondok itu
" ha ha ha, kutukanmu tak berguna bandung Gila!" seru Hantu berkabut sambil tertawa, ia membakar pondok itu dan melesat pergi meninggalkan bukit sawangan
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!