NovelToon NovelToon

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Bab 01 Melepas Benalu

Suasana kamar apartemen mewah malam itu, tampak lebih hidup dari biasanya.

Cahaya lampu langit-langit kamar, menyorot dua sosok yang berbaur dalam keintiman hangat.

"Ahhh... Beb... "

Suara desahan perempuan bercampur bunyi kasur berdecit, seperti irama latar yang menggema berulang kali memecah kesunyian.

Di luar kamar, Tamara baru masuk dari arah pintu utama. Setelan kerja masih melekat di tubuh rampingnya, riasan tipis masih menempel di wajah meski matanya menyimpan sedikit lelah.

Tumit sepatunya menghantam lantai marmer, tenang dan tidak terburu-buru.

Sampai sudut matanya menangkap sesuatu yang terasa ganjil, alisnya terangkat.

Di ujung sofa, gaun tipis wanita berwarna lembut—yang tidak ia kenali—tergeletak menjuntai, nyaris jatuh ke lantai.

Matanya membulat, meski wajahnya masih tenang. Di sudut lain—kaus pria, jaket jeans, hingga pakaian dalam wanita berserakan di lantai.

Pola letaknya seakan membentuk barisan petunjuk jalan, dan mengarah ke kamar utama.

Tamara menahan napas sebentar, tangannya meremas ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman.

Langkahnya berpindah ke koridor menuju pintu kamar. Dari celah kecil pintu yang terbuka, pelan tapi terdengar jelas—suara napas memburu, desahan tertahan, diiringi suara gesekan ranjang.

"Andra... ssttt... Aahhh... " Suara manja itu terdengar menggelikan.

Tamara mengambil napas panjang, rahangnya mengeras saat mendorong pelan pintu hingga terbuka.

Matanya melebar. Ia tetap berdiri tegak dan tanpa suara, meski jantungnya terjun bebas saat melihat semuanya tepat di depan mata.

Andra, sang pacar—berada di atas ranjang, tubuhnya bergerak maju mundur menutupi seorang perempuan muda dengan rambut terurai berantakan.

Selimut yang terlihat kusut, menutupi sebagian tubuh keduanya. Bukti yang terlalu jelas untuk disangkal.

Tamara maju beberapa langkah, mengangkat ponsel, mengarahkan lensa kamera pada dua orang yang sedang asyik pada dunia kecil mereka.

Cukup untuk merekam momen singkat, sebelum sang perempuan menyadari kehadirannya.

Wajah perempuan itu panik, lantas mendorong tubuh Andra yang sedang di puncak gairah.

Tangannya buru-buru menarik selimut, hingga menutupi tubuhnya sampai leher.

Andra yang memutar kepala mengikuti arah pandangannya, tersentak kaget sebelum ikut menutupi diri.

Wajahnya pucat pasi melihat sosok Tamara—datar, ekspresi yang justru membuatnya menahan napas.

Tamara menurunkan ponsel. "Pertunjukkan yang luar biasa, Andra," ucapnya sinis.

"Sayang... Ini bukan—" Andra gelagapan.

Tangannya menggaruk kepala, gelisah mencari alasan yang bahkan tidak bisa menolong.

Tamara menyeringai singkat. "Jadi ini? Bilangnya kecapean habis seharian photoshoot sama syuting iklan, sampai nggak bisa nemenin aku... "

"Sayang, aku bisa—" kata Andra.

"Kita putus!" potong Tamara cepat.

Ia menyilangkan tangan, tatapannya menekan.

"Mulai sekarang, aku tarik semua fasilitas yang sudah kuberikan. Aku beri waktu satu jam, kemasi barang-barang kamu!"

Tamara memutar badan ke arah pintu, lalu melangkah keluar. Saat di ambang, ia menoleh sejenak.

Tatapannya menyorot perempuan muda itu, yang dirasa percuma menyembunyikan muka.

Sudut bibir Tamara terangkat miring. "Saya kenal baik wajah kamu... " Nada suaranya dingin, membuat perempuan itu membeku di tempat.

Tamara kembali melangkah, hingga sosoknya semakin menjauh di balik pintu yang terbuka lebar.

Andra mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. "Nggak bisa gini, nih! Gue nggak bisa kehilangan Tamara gitu aja." Rasa sesalnya bercampur frustasi.

Perempuan di sampingnya masih terdiam, mengumpulkan sisa napas. Aroma parfum Andra masih menempel di kulitnya, tapi pikirannya kacau.

Ia meraih bahu Andra, mengarahkan padanya. "Kamu kenapa nggak bilang punya hubungan sama Tamara Hadinata?!" pekiknya.

Andra menatapnya kesal. "Apa pentingnya buat kamu? Sekarang, justru nasibku yang terancam. Tamara itu sumber segalanya buat hidupku!"

Kilatan mata perempuan itu langsung menajam. "Jelas penting buat aku! Kamu udah bohongin aku!" teriaknya, tak kalah frustasi.

Jarinya menunjuk-nunjuk ke arah pintu keluar. "Terus dia... dia itu CEO Lunara, Ndra! Bukan hanya nasib kamu yang terancam. Aku juga!" suaranya bergetar.

Wajahnya panas, malu bercampur kekhawatiran yang terlalu nyata.

Andra langsung berdiri. "Mau aku kasih tahu ataupun enggak, nyatanya sekarang dia udah melihat kita, kan?"

Perempuan itu terdiam, hingga Andra mengambil pakaian dan langsung meninggalkannya.

Tujuan Andra saat ini cuma satu, ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir dengan keputusan Tamara yang mengakhiri hubungan mereka.

Saat itu Tamara baru keluar dari lift. Langkah sepatunya tegas dan cepat menyusuri lorong menuju jalan keluar.

Tangan kiri menggenggam kunci mobil yang sempat ia ambil, sebelum meninggalkan apartemen.

Sementara tangan kanan sibuk memegangi ponsel di daun telinga, mendengarkan suara lawan bicara di seberang telepon.

"Iya. Tolong bantu kosongkan unit yang ditempati Andra, malam ini juga! Pastikan dia tidak memiliki akses lagi, sekalian blokir semua kartu saya yang digunakan Andra," titah Tamara.

Langkahnya tetap stabil, tapi jari jempolnya menekan tombol panggilan merah pada layar dengan tenaga berlebihan.

Niatnya malam ini mau sedikit memberi perhatian manis, malah berujung mendapat pertunjukan eksklusif.

Setiap suara desahan itu terngiang di kepalanya, darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Bukan karena cemburu, tapi benci merasa telah dibodohi.

Tamara baru sampai di area parkir basement yang cukup sepi, saat suara Andra terdengar dari arah belakang.

"Tamara!" serunya, mencoba menahan.

Tamara mempercepat langkah tanpa menghiraukan, namun laki-laki itu terus mengejarnya hingga berhasil menyusul.

"Sayang... Jangan gini dong," kata Andra saat meraih tangannya, mencoba kembali merayu.

Tamara berhenti, tatapannya tajam—tatapan yang bagi Andra terasa menelanjangi harga dirinya.

Tamara menepis pegangan Andra, tapi laki-laki itu belum menyerah.

Ia mendekat. "Sayang, aku bisa jelasin. Kamu dengerin dulu," katanya.

Suaranya dramatis ala aktor sinetron yang kebanyakan latihan.

Tamara menyilangkan tangan. "Jelasin apa? Mau jelasin kalau kamu udah tidur sama perempuan lain di apartemenku?" Suaranya meninggi, naik satu oktaf.

Andra memejamkan mata sejenak. "Aku khilaf... aku cuma butuh sesuatu yang nggak pernah kamu kasih ke aku," ujarnya polos.

Tamara mengangkat alis, sorot matanya penuh tanda tanya.

Andra menarik napas panjang. "Sayang, aku ini cowok. Aku juga punya kebutuhan lain."

Lalu buru-buru menambahkan, "Apa yang kamu lihat tadi... It's just a sex, no love! Cuma pelampiasan, bukan apa-apa! Dan itu... normal."

Tamara menatapnya tak percaya. Normal?

Tapi ekspresi Andra semakin dramatis. "Kamu tahu sendiri, kamu nggak pernah mau tidur sama aku. Padahal kamu tahu aku cinta banget sama kamu, tapi kamu dingin terus sama aku," katanya.

Begitu mahir memainkan gaya korban andalannya, di beberapa scene sinetron atau FTV yang biasa dibintanginya.

Tamara masih mendengarkan. Wajahnya berubah datar, tapi tangannya mengepal kuat.

Andra menatapnya sok dewasa, kedua tangan bertolak santai di pinggang. Mencoba berdiri tegak dengan harga diri yang tersisa.

"Sayang, come on! Kamu pikir, semua orang bisa tahan pacaran tanpa sentuhan? Kamu pikir, aku kuat terus-terusan hanya liatin kamu tanpa bisa—"

"Jadi kamu selingkuh, karena aku nggak bisa menuhin hasrat kamu?" potong Tamara, nada bicaranya setengah geli, setengah jijik.

Padahal semua yang sudah ia berikan, membuka pintu kemewahan yang bahkan belum saatnya dinikmati aktor muda pendatang baru itu.

Andra mengangguk pelan dengan wajahnya yang polos—wajah tampan menggemaskan, yang biasanya dengan mudah membuat para remaja perempuan histeris memujanya.

Tamara memutar bola mata, ingin sekali melempar sepatu ke wajah itu.

"Bocah tengik... " umpatnya pelan, nyaris tak terdengar.

Tamara mendekat, sedikit menengadah ke arah pemuda bertubuh jangkung itu. Wajahnya tetap santai, tapi tatapannya tak goyah sedikit pun.

"Kamu selingkuh karena kamu nggak bisa ngendaliin nafsu. Itu bukan salahku, Andra. Itu... karakter kamu," suara Tamara rendah, tenang namun mengandung racun.

Andra meraih tangannya, lalu mengecup singkat punggung tangan itu.

Tindakan halus yang biasanya ampuh membuat Tamara sedikit melunak, ketika mereka sedang bertengkar.

"Sayang, maafin aku. Aku cinta banget sama kamu... Kamu nggak tahu betapa sulitnya bersaing sama cowok lain buat dapetin perempuan cantik dan hebat kayak kamu."

Andra kembali dramatis, menirukan gaya aktor profesional dengan jam terbang tinggi.

"Aku cuma khilaf. Kasih aku kesempatan... kamu yang paling tahu, kalau aku nggak bisa tanpa kamu."

Tamara tertawa sinis, menarik kembali tangannya.

"Kamu nggak bisa tanpa aku? Atau nggak bisa tanpa semua fasilitas dari aku? Hm?" Sorot matanya menantang.

Andra terdiam, sadar kata-kata itu terlalu keras menamparnya.

"Jangan lupa berkemas!" Tamara mengingatkan. Ia melirik jam mewah di pergelangan tangannya.

"Waktu kamu nggak banyak. Bawa semua barang kamu, sekalian angkut harga diri kamu!" tambahnya ketus.

Ia kembali melanjutkan langkah, Akan tetapi Andra masih berusaha. "Sayang, tapi ya nggak harus putus juga dong!"

Tatapannya beralih ke arah mobil sport yang dituju Tamara. "Hadiah yang pernah kamu kasih kok diambil juga sih?"

Ia memandang protes ke arah punggung Tamara, perempuan itu melenggang santai dan tetap acuh.

Namun belum sempat tangannya membuka pintu mobil, Andra dengan langkah cepat mendekat.

Tanpa aba-aba langsung memeluknya dari belakang, bentuk usaha terakhir yang mengharap 'masa depan cerahnya' masih bisa diperjuangkan.

"Jangan tinggalin aku, Tamara," lirihnya, setengah putus asa.

Tamara kaget, tubuhnya menegang. Tangannya melepas dengan kasar, seolah pelukan itu benalu.

Lantas berbalik menghadap Andra. "Dengerin aku! Sekali lagi kamu berani menyentuh aku kayak tadi... " Ia menatap tajam, penuh dominasi.

Lalu meletakkan telunjuk di dada Andra. "Aku nggak akan ragu buat hancurin karir kamu ya, Andra," suaranya rendah, namun mengandung belati.

Kemudian menambahkan, seolah peringatan akhir. "Kamu tahu, kalau aku mengambil keputusan saat sedang marah, aku nggak akan punya rasa iba."

"Sayang... " Andra masih mencoba menahannya, akan tetapi percuma.

Tamara membuka pintu mobil, duduk dengan tenang hingga mobil sport mewah itu segera melaju.

Raungan mesin dan suara decitan ban terdengar memilukan bagi Andra, seolah itu salam perpisahan terpahit yang ditinggalkan Tamara.

Ia mengusap wajah dengan kasar, lalu mengacak-acak rambut, gelisah seperti orang yang benar-benar kehilangan tempat ternyaman.

Tanpa ia tahu. Tak jauh dari sana, seseorang dari dalam mobil baru saja menurunkan kamera ponsel yang sejak tadi mengarah ke posisinya.

Tak menunggu lama, mobil hitam itu bergerak maju, melewati Andra tanpa kesan mencurigakan menyusul jejak kepergian Tamara.

BERSAMBUNG....

Hay.. hay.. selamat datang di karyaku ya~

Kalau suka boleh dilanjut, jangan lupa tinggalkan jejak, karena apapun bentuk dukunganmu sangat berarti untuk author.

Enjoyyyy💃💃🕺🕺🤸‍♂️🤸‍♂️

Bab 02 Keputusan Mengejutkan

Malam itu, jalanan kota masih berkilau oleh lampu-lampu kendaraan. Tamara melaju di atas mobil yang baru saja ia rebut dari Andra.

Atap mobil ia biarkan terbuka. Angin malam menghantam wajahnya, membuat sebagian rambut panjangnya berkibar seperti amarah yang belum padam.

Jemarinya menggenggam kuat setir, tiap kali mengingat wajah tak berdosa Andra yang telah menipunya.

Napasnya memburu, amarahnya mencapai titik puncak. Bukan lagi amarah yang lahir dari rasa cemburu ala remaja labil, melainkan harga diri seorang perempuan yang sudah memberi terlalu banyak.

Ia tahu Andra bukan laki-laki yang matang dan dewasa, laki-laki itu jauh dibawah usianya.

Namun, itulah celah sempurna untuknya bisa merasakan cinta sebagai pengisi kekosongan. Tanpa komitmen, tanpa takut kehilangan kendali hidupnya.

Ia menyayangi laki-laki itu dengan caranya—dingin, penuh kontrol, dan tetap memberi.

Tapi kelakuan Andra malam ini sudah cukup membuatnya marah dan tidak percaya, bahwa ia bisa diperdaya dengan begitu mudahnya.

"Sialan... " Rahangnya mengeras, menyadari dirinya selama ini dibuat terlihat bodoh.

Lampu merah di depannya terlihat menyala, Tamara menurunkan kecepatan.

Suara mesin mobil dan deru angin melembut, tapi tatapannya masih penuh kilat amarah membara.

"Baiklah, Andra," katanya lirih, seolah laki-laki itu berada di sebelahnya.

"Bukan aku yang kehilangan kamu, tapi kamu yang akhirnya kehilangan aku." Ia menyandarkan kepala pada jok.

Hingga sudut matanya menangkap sesuatu, sebuah tatapan yang cukup untuk membuatnya menoleh ke arah samping.

Dari jalur sisi kiri mobilnya, seorang laki-laki berjaket kulit dengan motor sport mengangguk singkat ke arahnya.

Sepasang mata di balik helm full face setengah terbuka itu, memandang Tamara dengan penuh minat—sedikit kagum, seolah ingin memastikan sosok perempuan dengan mobil mahal itu benar-benar nyata.

Alis Tamara terangkat saat tangan laki-laki itu melambai singkat, sedikit nakal dan percaya diri.

Laki-laki tak dikenal itu memang tidak terlalu menarik perhatian Tamara, tapi keberadaannya seperti pengingat kecil, bahwa Andra bukanlah satu-satunya laki-laki di dunia ini.

Tamara memilih tak menghiraukan orang itu. "Simpan tatapanmu itu untuk perempuan lain," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Matanya menatap lurus ke depan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Tak bisa memungkiri gestur singkat dari laki-laki itu, meski ia acuhkan, tapi cukup mengembalikan kepercayaan diri yang selalu menjadi ciri khasnya.

Ia melirik pantulan diri di kaca spion—mata tajam, bibir tegas, aura pusat perhatian dengan pesona yang tak pernah padam, sekalipun hatinya sedang berantakan.

Aku nggak takut kehilangan laki-laki, tapi mereka lah yang datang dan mencariku, batinnya.

Dan Andra, hanyalah kepingan kecil yang tak lagi berarti apapun dalam hidupnya.

Lampu hijau menyala, Tamara menginjak pedal gas, membawa mobilnya melesat meninggalkan kendaraan lain jauh di belakang.

Mobil melaju mulus, dengan ritme kecepatan yang lebih terkontrol.

Tamara duduk tegak dengan senyum percaya diri, pose yang muncul secara alami ketika ia berhasil memulihkan kendalinya atas keadaan.

...

Tiba di rumah, Tamara melangkah ringan seolah baru saja berhasil menyingkirkan satu kerikil dalam hidupnya.

Lampu ruangan menyala hangat, saat ia memasuki area tengah yang luas.

"Non Tata baru pulang?" suara asisten rumah tangga, terdengar menyapa nama panggilan kecilnya.

Tamara menoleh, seorang wanita paruh baya datang dari arah dapur dan berjalan menghampirinya.

"Bapak tadi berpesan. Katanya kalau Non sudah pulang, disuruh menemui Bapak di ruang kerja beliau," ujarnya lembut, sedikit hati-hati menyampaikan.

Tamara mengangguk paham. "Makasih ya, Bi," ucapnya.

Wanita itu mengangguk singkat sebelum kembali menuju arah dapur, sementara Tamara masih di tempatnya.

Perasaanku kok jadi nggak enak ya, ujarnya dalam hati.

Papanya tidak mungkin memanggilnya ke ruang pribadi itu, kalau bukan untuk membahas sesuatu yang penting.

Tamara menarik napas singkat, ini mungkin bukan pembicaraan yang ringan, dan itu cukup membuatnya waspada.

Tanpa pikir panjang, ia langsung berjalan menuju ruang kerja papanya—ruangan yang jarang tersentuh oleh Tamara, tapi lebih banyak menyita waktu papanya.

Begitu pintu besar itu dibuka, aroma kayu tua dan buku-buku khas ruangan langsung menyergap—dalam dan sedikit memberi kesan menegangkan.

Tamara melangkah masuk, pelan, seakan takut jejak kakinya menimbulkan suara yang mengganggu ketenangan di dalamnya.

Ruangan itu besar, sunyi, dan dipenuhi susunan rak-rak buku tinggi hampir di setiap sudut dinding.

Pandangannya langsung tertuju pada sosok pria paruh baya— duduk di balik meja kokoh, kacamata di pangkal hidung, serta buku tebal terbuka di tangannya.

Cahaya hangat jatuh lembut di wajah pria itu, membuat sosoknya terlihat lebih tegas dan lebih berwibawa dari biasanya.

Papa mau ngomongin apa ya, malam begini? Nggak biasanya.

Tamara menerka dalam hati, tapi terlalu segan untuk langsung menanyakan.

Ia merasakan sensasi aneh, campuran gugup, hormat, dan ada sedikit rasa takut—ini adalah zona sisi paling serius papanya.

Di kantor, ia boleh dikenal sebagai sosok pemimpin yang tak tergoyahkan. Hanya dengan mendengar langkah sepatunya saja, karyawan langsung menunduk.

Tapi di rumah, semuanya runtuh ketika berhadapan dengan Rudi Hadinata—sang Papa, orang tua tunggal yang sudah seperti pilar bagi hidup Tamara.

"Pa... " Tamara menyapa, segan, jauh dari kesan tegas seperti ketika menegur karyawan di kantor.

Tatapan pria itu beralih ke arah putrinya, hening sejenak saat Rudi menutup dan meletakkan buku tebalnya di sisi meja.

"Duduk," titahnya, dalam, tenang—suara khas profesor yang sudah terlalu sering menguji hasil penelitian mahasiswa.

Tamara menarik kursi pelan, dan duduk dengan perasaan sedikit gugup.

Entah kenapa, perasaannya semakin tidak enak.

Dan benar saja... Rudi menyodorkan tablet ke atas meja, layar menyala, memutar video yang membuat Tamara menegakkan punggung.

Matanya terbelalak, menyaksikan rekaman pertengkarannya dengan Andra beberapa saat yang lalu—semuanya terekam jelas.

Rudi melepas kacamata, meletakkan di samping buku. Lalu menatap putrinya, datar dan penuh wibawa lama.

"Setelah minggu lalu drama salah paham, dua minggu sebelumnya drama gagal kencan..." suaranya berat, antara marah dan lelah.

Tatapannya berubah lebih menginterogasi, meski nada bicaranya tenang. "Sekarang drama apa lagi? Laki-laki itu selingkuh?"

Tamara tidak menjawab, ia menahan napas sebentar. Syok.

Bagaimana bisa papanya tahu beberapa hal tentang hubungannya, yang selama ini ia simpan rapat—bahkan dari orang-orang.

Tapi ketika ia memperhatikan arah sudut pengambilan video itu direkam, ia yakin seseorang memang sengaja mengawasi.

Ia menatap papanya, antara penasaran dan tak percaya. "Papa nyuruh orang buat ngikutin aku?" tanyanya. "Sejak kapan?"

Rudi menautkan jemari di atas meja, sorot matanya tegas.

"Tata... Kalau selama ini Papa memang nggak pernah mengatur hidup kamu, itu bukan berarti Papa nggak ngawasin kamu."

Napasnya terdengar berat. "Sampai kapan kamu terus terjebak dalam hubungan sementara, yang hanya buang-buang waktu? Kapan kamu bisa serius memikirkan masa depan kamu?"

Pertanyaan itu menekan dada Tamara lebih berat, ia mulai menebak arah pembicaraan.

Tamara mencoba tetap tenang, meski jari telunjuknya sudah mengetuk-ngetuk lutut.

"Aku serius kok, Pa," jawabnya, matanya bergerak gugup mencari-cari arah. "Aku tetap bisa fokus mengembangkan perusahaan."

Lalu menatap papanya penuh hormat, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Buktinya, Lunara sekarang udah jadi salah satu brand kecantikan ternama. Bulan depan, udah mau peresmian warehouse tambahan," paparnya.

Tamara bersikap sok profesional, padahal hanya berkelit.

"Aku bahkan ngerencanain tahun depan udah punya pusat riset formulasi dan bahan baku sendiri," tambahnya.

Tapi Rudi tak mudah terbawa arus pembicaraan putrinya. "Papa tahu, tapi bukan itu inti pertanyaan Papa."

Ia melanjutkan, "Tata... Papa bangga kamu bisa sukses karena usaha dan kegigihan kamu. Tapi kamu juga harus pikirin tentang diri kamu sendiri. Masa depan kamu bukan hanya urusan perusahaan."

Tamara mendengarkan, meski kakinya mulai bergerak-gerak gelisah.

"Kamu bukan lagi remaja labil, kamu udah mau kepala tiga, dan Papa sudah semakin tua." Rudi menekankan.

Tamara tetap terdiam, ia tahu arah nasihat ini—serius, dan menjebaknya ke dalam pembahasan yang selama ini paling ia hindari.

Rudi kembali menambahkan, "Kamu juga perlu seseorang untuk hidup kamu, yang bisa jagain kamu. Bukan laki-laki yang hanya memanfaatkan kamu."

Tamara tertunduk, gerakan kakinya berhenti. "Aku bisa jaga diri aku sendiri, Pa."

Suaranya pelan. Lebih terdengar seperti penyangkalan, bukan keyakinan.

Rudi sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. "Mau sampai kapan? Mau sampai Papa udah nggak ada lagi?"

Alis Tamara terangkat sedikit. "Papa kok ngomongnya gitu sih?"

"Papa hanya ingin ada yang jagain kamu saat Papa udah nggak ada nanti," jawab Rudi cepat.

Tamara terdiam lagi, hening mengisi ruangan sesaat.

Hingga sorot mata Rudi kini lebih tegas. "Papa sudah cukup bersabar dengan kamu, Tata. Kalau kamu belum juga bisa serius memikirkan diri kamu sendiri, biar kali ini Papa yang bertindak."

Tamara tercengang. "Maksud Papa?"

Rudi menarik napas pendek, sorot matanya penuh keputusan bulat. "Papa akan menikahkan kamu."

Tamara merasakan jantungnya hampir terpeleset ke perut, ia melotot tak percaya.

"Apa?! Ni—nikah?" katanya tergagap, nada bicaranya sedikit meninggi.

"Ya. Dengan laki-laki yang Papa pilihkan untuk kamu." Suara Rudi lebih mantap.

Bahu Tamara merosot. "Pa, aku baru aja putus," keluhnya, dengan suara lemah.

Rudi berdiri dari kursinya, menatap sebentar—tatapan yang tidak menerima penolakan.

"Justru karena kamu sudah lepas dari laki-laki itu. Kamu harus menikah secepatnya."

Tamara tercekat, tubuhnya membeku di tempat.

Rudi mengambil kacamatanya, lalu berjalan ke arah pintu seraya berkata, "Papa akan atur pertemuan untuk kalian secepatnya."

Tamara ingin berteriak rasanya, namun pernyataan itu sudah cukup membuat lututnya lemas.

Ia tahu setiap papanya memutuskan, itu bukanlah hasil dari spontanitas—melainkan selalu hasil dari pemikiran yang matang, terencana dan terukur.

Dan ia, tidak akan pernah bisa membantahnya.

Pintu ruangan kembali tertutup, setelah sosok pria itu menghilang di baliknya.

Tamara menggigit jari, punggungnya bersandar malas di kursi. Ruangan itu mendadak lebih sunyi, tapi pikirannya justru semakin gaduh.

Tamara memukul jidatnya pelan. "Kok jadi gini, sih?"

Ia menatap langit-langit. Nikah? Hal yang bahkan tak pernah masuk dalam prioritas hidupnya.

Ia masih ingin bebas, tetap memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri, tanpa harus terikat dengan hubungan yang penuh aturan.

Tapi kini, satu keputusan terencana itu, terdengar seperti ancaman yang siap memporak-porandakan hidupnya.

"Aku... bakal nikah? Sama siapa?" suaranya pecah, setengah putus asa.

Tamara tak sanggup membayangkan, apalagi belum ada bayangan sama sekali tentang laki-laki pilihan papanya itu.

Pandangannya berpindah ke arah pintu. Entah seorang yang seperti apa laki-laki itu.

Apakah bisa mengimbanginya, atau justru hanya akan membuat hidupnya lebih berantakan.

BERSAMBUNG...

Bab 03 CEO Mode On

Pagi itu matahari mulai meninggi, sinarnya memantul pada dinding-dinding kaca gedung.

Di puncak bangunan menjulang itu, logo Lunara berdiri elegan seperti manifestasi kejayaan.

Tamara duduk di ruangannya—setelan hitam profesional, rambut disanggul rendah ala sleek bun, mempertegas wibawanya.

Punggungnya bersandar santai, sementara tangan menggenggam ujung dokumen yang diangkat setinggi dada.

Matanya mencoba fokus menelaah tiap baris data-data, meski pikirannya masih berkecamuk soal keputusan papanya semalam.

Beberapa saat, ruangannya tampak hening. Sebelum akhirnya dokumen itu dihempas ke atas meja, agak kasar.

Rahangnya mengeras, terlihat jelas di garis matanya jika hari ini suasana hatinya sedang berantakan.

Tamara memijat pelipis, matanya tajam menatap dokumen itu.

"Apa lagi ini... " desisnya, geram.

Tangannya lantas menekan panggilan interkom.

"Jen... minta semua manajer berkumpul di ruang rapat. Sekarang!" titahnya pada sang sekretaris.

Tak berselang lama...

Suasana ruang rapat yang semula tenang, mendadak tegang begitu pintu terbuka.

Tamara berjalan masuk, blazernya berkibar ringan, sepatu haknya menghantam lantai marmer—tegas, dan cukup untuk membuat semua orang menegakkan punggung.

Ia berdiri di ujung meja, auranya memancarkan kontrol mutlak.

Tanpa peringatan, Tamara melempar dokumen yang ia bawa, hingga mendarat ke tengah meja panjang.

Tatapannya tajam penuh otoritas, memberi bayangan bahwa hari ini bukanlah hari yang baik untuk berbuat salah.

"Ada yang bisa jelaskan," katanya pelan, terkontrol. "Kenapa kesalahan seperti ini masih saja terulang?"

Tidak ada yang jawaban.

Tamara memukul meja dengan satu telapak tangan. Tidak keras, tapi bunyinya cukup membuat semua orang tersentak.

"Ini laporan final! Akan dijadikan acuan dasar bagi dewan direksi mengambil keputusan. Kenapa masih ada data yang bertabrakan antar departemen?" lanjutnya, tajam dan menekan.

Sunyi kembali. Tamara menatap wajah para manajer itu satu per satu.

Beberapa saling lirik tanpa mengangkat kepala, berharap ada yang cukup berani untuk mewakili memberikan jawaban dari bos mereka.

Hingga seorang perempuan muda yang duduk di tengah, mencoba angkat bicara.

Wajahnya tegang, setengah gugup, setengah yakin.

"Mohon maaf, Bu. Mungkin ada miskomunikasi antar tim, yang berakibat pada kesalahan input data," jelasnya dengan suara pelan, agak bergetar.

Alis Tamara berkerut. "Miskomunikasi? Salah input?" tanyanya, lalu meneruskan, "Saya tahu hal itu memang selalu bisa terjadi."

Jari-jarinya menekan ujung meja. "Tapi kenapa harus menunggu saya yang menemukan?" Nada bicaranya naik satu oktaf.

Semua kepala menunduk.

Tamara sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Kalian itu level manajer, loh. Bukan mahasiswa magang!"

Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lain, cukup untuk membuat mereka sadar bahwa standar seorang Tamara Hadinata tidak bisa ditawar.

"Kalau terjadi kesalahan komunikasi ataupun data, selesaikan sebelum sampai ke meja saya!" Suaranya tajam.

"Berapa kali sudah saya tekankan. Koordinasi itu penting. Dan teliti... harga mati. Kita ini brand besar. Satu kesalahan seperti ini, akibatnya bisa fatal!"

Udara di ruang rapat kini terasa kian menyempit.

Seorang pria berkacamata yang duduk paling ujung, mencoba bersuara, "Kami akan lebih teliti lagi, Bu."

Tamara menegakkan tubuh, menarik napas panjang, mencoba menahan kesal.

"Saya beri waktu sampai jam tiga, revisi laporan keseluruhan dengan akurat!" perintahnya.

Ia merapikan blazernya. "Sebelum laporan diserahkan, tolong dicek dengan teliti."

Lalu menambahkan, "Jika saya menemukan kesalahan seperti ini lagi... bukan hanya laporan yang direvisi, posisi kalian juga perlu dievaluasi!"

Nada suaranya tidak meninggi, namun tegas, cukup menjadi teguran yang lebih keras daripada teriakan.

"Baik, Bu." Semuanya serempak menjawab dengan anggukan singkat.

Tamara berbalik, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh.

Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, ruangan itu mendadak riuh rendah dipenuhi hembusan napas lega dan gumaman pelan—seperti sudah menjadi kebiasaan.

Pemimpin mereka memang masih muda, keindahan paras serta kemewahan penampilannya juga selalu menyenangkan dipandang mata.

Tetapi amarahnya? Tidak ada satu pun dari mereka yang mau melihatnya lagi.

...

Tamara kembali ke ruangan, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.

Ia berjalan mendekat ke arah jendela besar, mencoba sejenak menenangkan pikirannya yang sedang kalut.

Di balik kaca, pemandangan kota diluar sana terlihat seperti potongan kecil kehidupan yang terus bergerak.

Jemarinya lalu membuka layar ponsel yang sejak pagi baru ia periksa.

Matanya sedikit membulat, banyak panggilan tak terjawab, rentetan pesan yang masuk hampir setiap menit—semuanya dari Andra.

Dahinya berkerut membaca beberapa pesan, polanya sama dan berulang: mengaku salah, minta maaf, dan mengharap kembali.

Tamara menghela napas. "Kesalahan kamu nggak termaafkan, Andra," gumamnya.

Pandangannya teralihkan, begitu pintu ruangannya diketuk. Jenna—sekretarisnya, muncul di balik pintu yang sedikit terbuka.

"Bu, Kiara ingin bertemu dengan Ibu," ujar perempuan muda itu, dengan suara enerjik khasnya.

"Kiara?" Alis Tamara terangkat sedikit. "Suruh masuk!"

Tak lama, seorang perempuan muda melangkah masuk—setelan modis, rambut diikat ala ponytail, tapi otot wajahnya tampak tegang.

Tamara berjalan ke tengah ruangan, menghampiri perempuan yang saat ini berdiri kaku di hadapannya.

Ia menyilangkan tangan, sorot matanya menatap penuh penilaian.

Sekilas, potongan memori kecil berputar dalam ingatannya—suara desahan manja penuh gairah di ranjang apartemennya—tadi malam.

Perempuan bernama Kiara itu menatap segan . "Bu... Saya minta maaf," ucapnya.

Tamara tersenyum, bukan senyum yang ramah. "Akhirnya kamu berinisiatif sendiri menemui saya, Kiara."

Perempuan itu mengangguk. "Saya masih mau karir saya aman, Bu."

Lalu berbisik dengan ragu. "Ibu nggak akan melakukan sesuatu kan? Soal... video itu."

Tamara memandangnya lama, ia ingat semalam sempat merekam singkat momen Andra bersama Kiara. "Video itu?"

Sudut bibirnya terangkat nakal, seperti menemukan kesenangan baru. "Tergantung... " katanya seraya berbalik.

Langkahnya tenang menuju sofa kulit berwarna gelap, kemudian duduk dengan santai sambil meletakkan ponselnya di atas meja.

Kiara mengikuti, meski tanpa disuruh, ia langsung ikut duduk di dekat Tamara.

Tubuhnya mencondong. "Bu, saya mohon. Karir saya bisa hancur dalam sekejap kalau sampai video itu..."

Kiara menahan kalimatnya, wajahnya terburu panik.

Tamara menyadarkan lengan di sofa. "Kalau sampai video itu dilihat orang?" ujarnya meneruskan.

"Terus publik gempar... Video syur seorang beauty influencer muda dengan aktor pendatang baru yang sedang naik daun—beredar di media sosial," lanjutnya.

Perkataannya nyaris terdengar seperti pembawa berita profesional, namun mengandung ejekan halus.

Kiara meraih tangan Tamara, tatapannya memelas. "Bu... Saya tahu Ibu marah. Tapi Ibu nggak mungkin tega lakuin hal itu kan?"

Ia menarik napas pendek, lalu melanjutkan, "Saya brand ambassador produk-produk Lunara, loh Bu. Saya juga sudah bersusah payah membangun karir saya sampai di titik ini."

Tamara menarik kembali tangannya, menyilangkan di dada.

Sementara Kiara tertunduk sejenak, lalu kembali bersuara sebelum Tamara sempat memberi tanggapan.

"Bu, kita kan baru tanda tangan kontrak, video perdana promosi juga baru tayang minggu lalu. Dan saya berhasil memenuhi target jumlah views. Secara profesional, kita harusnya nggak ada masalah kan?" papar Kiara.

Suaranya rendah, tapi rasa percaya dirinya sedikit bangkit.

Tamara menatapnya, datar. "Memang," katanya. "Tapi masalah kita, jauh lebih pribadi."

Tubuhnya sedikit mencondong, lalu berbisik, "Dan itu lebih bahaya dari sekadar urusan kerjaan."

Kiara menahan napas sebentar. "Bu, sumpah! Saya nggak tahu kalau Andra punya hubungan sama Ibu. Dia—dia yang godain saya duluan," ujarnya membela diri.

"Oke." Tamara mengangguk-angguk pelan, seperti menimbang sesuatu. "Sekarang saya tanya. Sudah berapa lama hubungan kalian?"

Kiara tak langsung menjawab, ia tampak berpikir.

"Du—dua bulan," jawabnya akhirnya.

Tamara langsung memukul meja. "Dua bulan?!" ulangnya, suaranya meninggi.

Matanya melotot, tak percaya bahwa selama itu Andra telah membodohinya.

Tamara menarik napas panjang, menahan kesal karena merasa harga dirinya terkoyak.

Rahangnya menegang. Aku menyimpan rapat hubungan dengannya, agar reputasiku dan karirnya tetap terjaga.Tapi dia malah mengambil kesempatan, batinnya.

Kiara kembali memelas. "Saya kan sudah minta maaf, karena saya bener-bener nggak tahu."

Tamara kembali menatapnya. "Kamu... suka sama Andra?"

Kiara sempat terdiam berpikir, lalu mengangguk ragu.

Tamara tersenyum—senyum yang justru membuat Kiara waspada. "Bagus... Ini akan jauh lebih dramatis."

Kiara menatap penuh tanya, sebelum Tamara menyuruhnya. "Putuskan hubungan kalian!"

Perempuan muda itu terdiam, belum ada niat menanggapi.

Hingga Tamara menyuruhnya lagi. "Telpon dia sekarang... " suaranya rendah, tapi penuh penekanan.

Kiara menegakkan punggung, wajahnya sedikit menunjukkan keraguan.

"Tunggu apalagi? Kamu mau dapat maaf dari saya kan?" desak Tamara.

Kiara mengangguk, meski setengah ragu-ragu.

"Saya nggak akan ganggu karir kamu. Tapi, urusan pribadi kita nggak bisa selesai hanya dengan kata maaf," ujar Tamara santai.

Lalu menatap Kiara penuh dominasi. "Tinggalkan Andra!" tegasnya, terdengar seperti seruan perintah yang sulit dibantah.

Tamara menimpali, senyumnya sinis. "Kamu pikir, setelah saya melepaskan Andra, kamu bisa jadi satu-satunya buat dia? Andra cuma menjadikan kamu pelampiasan, Kiara."

Kiara menoleh cepat, meski tanpa kata, matanya melebar penuh rasa tak percaya. Apa? Pelampiasan?

Jemarinya menggenggam kuat, menahan kesal. Sial!

"Baik," katanya dengan mantap.

Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, segera menekan panggilan.

Setelah terhubung, terdengar suara Andra dari panggilan yang di loudspeaker—serak, dan sedikit lembut.

Suara Kiara langsung menyambar, "Andra, aku mau kita putus! Mulai sekarang, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!"

Kiara menekan tombol merah pada layar ponsel, dadanya naik turun, pipinya panas karena emosi.

Tamara menatapnya, tanpa iba. "Good. Itu baru sepadan."

Senyumnya puas. Bukan karena mengharapkan Andra kembali, tapi karena bisa sedikit membalasnya.

Ponsel Tamara tiba-tiba bergetar lama di atas meja. Tamara menoleh, panggilan masuk dari seseorang yang membuat jantungnya berdenyut waspada.

Matanya melebar, panggilan telepon itu dari manusia yang paling ia hormati di muka bumi—papanya.

Entah kenapa, setelah keputusan papanya semalam. Panggilan telepon yang seringkali terasa biasa saja, kali ini justru membuatnya lebih was-was.

Tamara menegakkan tubuh, menatap Kiara penuh wibawa. "Kamu boleh keluar," titahnya.

Kiara berdiri, menunduk hormat sebentar, lalu segera berjalan menuju pintu keluar.

Tamara meraih ponselnya. Ia menarik napas panjang, sebelum menjawab, "Halo, iya Pa?" suaranya mendadak sopan.

"Tata, nanti kamu pulang cepat ya. Malam ini kita akan bertemu Arvin dan keluarganya, membahas perjodohan kalian," kata Rudi di seberang sana.

Tamara tercengang. "Hah? Malam ini, Pa?"

"Ya. Papa tunggu," tegas Rudi. Sambungan telepon terputus begitu saja.

Tamara menurunkan ponsel dari telinga, menggigit jari.

Harus banget malam ini? Kenapa secepat itu? batinnya.

Ia menyandarkan punggung dengan malas. Hening menyelimuti ruangan.

Tak ada yang tahu, sosoknya yang biasa membuat banyak kepala tunduk di ruang rapat itu, justru kini takluk dengan satu keputusan papanya.

Dalam keheningan, satu nama yang sempat papanya ucapkan, tiba-tiba menyelusup dalam pikirannya.

"Jadi, namanya Arvin?" Pandangannya beralih ke arah jendela. Orang seperti apa dia?

Tamara tak bisa menerka, hanya merasa sedikit aneh. "Kok perasaanku tambah nggak enak ya?"

BERSAMBUNG...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!