NovelToon NovelToon

Dibuang Suami, Dinikahi Duda Tajir

Maafkan aku, menceraikan mu

Udara dingin di dalam ruang VVIP Rumah Sakit terasa menusuk, seolah ikut merasakan kebekuan yang tiba-tiba menyelimuti. Baru empat hari yang lalu, tangis pertama bayi mungil bernama Daffa yang artinya anak yang kuat dan juga teguh. seharusnya membawa kebahagiaan sempurna. Namun, kenyataan pahit itu datang secepat kilat.

Inara yang masih berusia dua puluh dua tahun dengan wajah pucat dan mata yang masih menyiratkan kelelahan hebat pasca melahirkan, meremas secarik kertas yang kini terasa seperti bara api di tangannya. Darah nifasnya yang masih kental seolah mengingatkan betapa rapuhnya dirinya saat ini. Kertas itu adalah Surat Talak dari suaminya, Hamdan Santoso.

Terselip di sisi ranjang, putranya, Daffa, terbaring lemah. Dokter telah mengonfirmasi bahwa Daffa mengalami Down Syndrome. Bagi keluarga Santoso, terutama Pak Santoso dan istrinya yang angkuh, Amara, ini adalah aib yang tak termaafkan. Mereka tak sudi nama besar mereka tercoreng oleh "kecacatan".

Inara memandang suaminya yang berdiri kaku di depannya. Hamdan, pria yang dinikahinya atas dasar cinta, kini tampak asing, matanya dipenuhi konflik, namun bibirnya terkatup rapat oleh kepatuhan pada kedua orang tuanya.

Di dalam ruangan VVIP Rumah Sakit. Inara masih berbaring lemah, di sampingnya ada box bayi. Hamdan berdiri bersama ibunya, Amara, yang menunjukkan ekspresi dingin.

Inara dengan Suaranya yang parau, menahan tangis.

"Mas Hamdan, apa ini benar? Setelah semua yang kita lalui? Kenapa... kenapa kamu tega lakukan ini? Hanya karena... karena Daffa berbeda?"

Hamdan menghela napas berat, menghindari tatapan Inara.

"Inara, aku minta maaf. Aku sudah jelaskan di surat itu. Ini... ini sudah menjadi keputusan keluarga. Ayah dan Ibu tidak bisa menerima ini."

lalu Amara maju selangkah, dengan nada meremehkan dan angkuh.

"Tentu saja kami tidak bisa menerima! Kami ini keluarga Santoso! Kami punya nama baik, Inara! Cacat itu tidak bisa jadi penerus kami! Anakmu itu... hanya akan jadi beban. Lebih baik kau terima talak ini dan pergi dari kehidupan putraku."

Air mata Inara mulai mengalir deras, sembari memegang surat talak.

"Beban? Dia anakmu juga, Hamdan! Darah dagingmu! Inara menoleh ke arah ibu mertuanya dengan pandangan terluka.

" Tante Amara, anak ini baru lahir, dia sedang berjuang. Dia butuh kasih sayang, bukan penolakan!"

"Kasih sayang? Urusanmu! Sekarang, dengar baik-baik ya Inara, semua fasilitas rumah sakit sudah kami cabut. Biaya pengobatan anakmu, kami tidak akan menanggungnya lagi. Kau dan anakmu tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga Santoso. Segera berkemas dari sini!"

Inara terkejut, rasa sakit fisik dan batin kini telah menyatu

" Apa?! Tante, saya baru melahirkan! Saya... darah nifas saya masih mengalir. Kondisi Daffa masih butuh perawatan medis intensif! Kalian tega?"

Hamdan mengangkat tangan, sedikit bergetar.

" Ibu, jangan keterlaluan..."

Amara malah melotot tajam pada Hamdan.

" Diam, Hamdan! Kau sudah putuskan, kan? Ceraikan dia, dan semua selesai. " Ucapnya menatap Inara dengan dingin. " Kami beri kau waktu satu jam. Setelah itu, kami akan meminta pihak rumah sakit mengeluarkan kalian."

Inara tertawa miris di tengah tangisnya.

" Ya Tuhan... Habis jatuh, tertimpa tangga. Kau mencabut nyawaku, Hamdan, saat aku baru saja mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan anakmu. Kamu lebih memilih nama baik keluargamu daripada darah dagingmu sendiri."

Kepala Hamdan kembali tertunduk, hanya mampu bergumam lirih.

" Maafkan aku, Inara."

"Cukup, Hamdan. Tidak perlu ada kata maaf. Aku terima talakmu."

Inara menatap wajah damai Daffa yang terlelap. Rasa sakit itu, seolah dicambuk oleh kenyataan, membuatnya harus menjadi kuat. Bukan malaikat, tapi seorang ibu.

Dengan sisa-sisa tenaga, Inara berusaha duduk. Semua sudah berakhir. Kebahagiaan yang ia impikan hancur berkeping-keping di lantai rumah sakit mewah ini. Ia bukan wanita suci yang bisa langsung menerima takdir pahit ini tanpa rasa sakit, tapi ia harus tegar, untuk Daffa.

Inara merogoh tasnya yang lusuh, satu-satunya barang berharga yang ia miliki. Ia memaksakan diri untuk berdiri, merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia berjalan menuju box bayi, mengangkat Daffa dengan hati-hati. Bayi mungil itu terbungkus selimut tipis, wajahnya pucat.

Inara berbisik lembut pada Daffa, air matanya menetes mengenai selimut putranya.

"Jagoan Mama... maafkan Mama karena harus membawamu keluar dari sini secepat ini. Kita akan pergi. Kita harus kuat, Nak. Keajaiban itu pasti ada. Kita hanya perlu menemukannya."

Dengan langkah gontai, Inara Santoso, dan kini hanya Inara Adiba, berjalan keluar dari ruangan itu. Ia meninggalkan Hamdan dan keluarga Santoso, membawa satu-satunya harta berharganya, seorang bayi yang baru empat hari menghirup udara dunia, seorang bayi yang dicap aib oleh ayahnya sendiri.

Di ambang pintu, Inara menoleh ke belakang, menatap suaminya untuk terakhir kalinya. Hamdan tak bergerak, hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan kosong, dikuasai oleh bayangan besar kedua orang tuanya. Inara membalikkan badan, melangkah menuju dunia luar yang dingin,

 berharap ada setitik keajaiban yang menyambutnya

Hamdan berdiri terpaku di tengah ruangan VVIP yang kini terasa hampa. Tubuhnya tegak, tapi jiwanya hancur. Saat pintu tertutup dan punggung Inara menghilang dari pandangan, pertahanannya runtuh.

Di dalam hatinya, Hamdan dipenuhi penyesalan yang mendalam.

"Inara... aku mencintaimu. Aku mencintai Daffa. Tapi bagaimana aku bisa hidup? Bagaimana aku bisa bertahan tanpa fasilitas, tanpa uang, tanpa pengakuan mereka? Aku lemah, Inara. Aku tidak sekuat dirimu."

Hamdan jatuh terduduk di tepi ranjang. Ia telah mengkhianati cinta dan darah dagingnya demi mempertahankan kenyamanan dan kemewahan yang dijamin oleh nama Santoso. Air matanya tidak mengalir keluar, namun dadanya terasa sesak, dipenuhi rasa bersalah yang akan menghantuinya. Ia memilih emas, bukan berlian hatinya.

Sementara Hamdan tenggelam dalam penyesalan yang sia-sia, Inara kini berhadapan dengan kegelapan dan dinginnya malam. Langkah kakinya terasa berat, setiap hembusan angin seolah membawa kesadaran pahit, Inara kini benar-benar sendirian.

Ia menggendong Daffa erat-erat, melangkah tanpa tujuan. Jalanan ibu kota mulai sepi, lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning yang tak mampu menghangatkan hatinya.

Lalu Inara berbisik pada dirinya sendiri.

"Paman... andai Paman masih ada. Aku bisa kembali ke sana, di kampung. Tapi sekarang..."

Mengingat perlakuan bibi dan sepupunya yang selama ini dingin dan cenderung memanfaatkan, Inara tahu ia tidak bisa kembali ke sana. Ia harus mandiri. Ia harus bertahan. Demi Daffa.

Kaki Inara akhirnya membawanya ke sebuah kawasan pertokoan yang sepi. Matanya menangkap sebuah ruko tua yang tampak kosong dan tak terawat. Di beranda ruko itu, teronggok sebuah kursi kayu panjang yang terlihat cukup kokoh.

Inara segera menuju ke sana. Ia mendudukkan dirinya perlahan di kursi kayu itu, menyandarkan punggungnya ke dinding ruko yang dingin. Ia membuka sedikit selimut Daffa, menatap wajah polos putranya di bawah cahaya lampu jalan.

Inara mengusap pipi Daffa dengan lembut.

"Nak, lihat. Kita sudah keluar. Mama janji, Mama akan kuat. Kamu harus sehat. Kita akan lihat keajaiban itu bersama-sama ya?"

Perasaan lelah yang amat sangat menghampirinya. Rasa sakit pasca melahirkan, kelelahan mental, dan dinginnya malam mulai menuntut haknya. Setelah memastikan Daffa menyusu dengan baik dan tertidur pulas di pelukannya, Inara pun perlahan terlelap, mencari perlindungan singkat dari kenyataan.

Tak lama setelah Inara terlelap, dari balik kegelapan lorong, muncul sesosok wanita. Ia adalah seorang wanita paruh baya, berjalan perlahan sambil memanggul sebuah karung goni yang besar. Pakaiannya kumal, menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemulung atau tunawisma.

Namun, meskipun demikian, ada aura lembut dan kecantikan alami yang masih terpancar jelas dari wajahnya. Sorot matanya menunjukkan kehangatan dan kebijaksanaan.

Wanita paruh baya itu berhenti ketika melihat Inara dan bayinya tertidur di kursi panjang ruko. Ia meletakkan karungnya, menimbulkan bunyi gedebuk pelan. Ia memperhatikan Inara yang tampak sangat kelelahan, dan bayi mungil yang terbungkus selimut tipis.

Wanita itu melangkah mendekat dan perlahan, seolah tak ingin membangunkan dua insan yang tengah beristirahat itu.

Wanita Paruh Baya itu berbisik pelan, kepada dirinya sendiri.

"Kasihan sekali... di malam selarut ini. Seorang ibu dan bayinya..."

Ia berdiri di samping Inara, menatap mereka dengan tatapan penuh iba.

Wanita itu akhirnya memutuskan untuk menyentuh bahu Inara dengan sangat lembut.

"Nduk... Nduk, bangun. Ini sudah malam sekali. Kenapa tidur di sini, Nduk?"

Inara terperanjat kaget, ia langsung memeluk Daffa erat. Matanya yang sembap menatap wanita itu penuh waspada.

"Astaghfirullah... S-siapa Anda?"

Wanita Paruh Baya tersebut tersenyum lembut dan menenangkan

"Jangan takut, Nduk. Saya bukan orang jahat. Saya biasa lewat sini. Nama saya Farida."

Inara sedikit rileks, tapi ia tetap waspada.

"Sa...saya Inara. Maaf, saya tidak bermaksud tidur di sini. Saya... saya hanya sedang bingung mencari tempat berteduh."

Farida duduk di sisi kursi yang lain, mengamati kondisi Inara.

"Berteduh? Dari mana asalnya, Nduk? Wajah Nduk pucat sekali. Dan darah nifasnya... Nduk baru melahirkan, ya?"

Inara terdiam, matanya berkaca-kaca. Pertanyaan tulus itu menusuk tepat ke inti rasa sakitnya.

Farida menggenggam tangan Inara, yang dingin.

"Jangan takut. Ceritalah pelan-pelan. Malam ini dingin sekali, Nduk. Bayi sekecil ini tidak baik berada di luar."

Bersambung...

Kehidupan baru untuk Inara

Inara mulai merasakan kenyamanan pada sosok wanita paruh baya yang saat ini telah duduk di sampingnya, ia mengatur napas mencoba menjelaskan sebisa mungkin apa sebenarnya yang telah terjadi dengannya dan juga bayinya.

Sambil menangis menahan rasa sakit dan perih di dada, ia menceritakan peristiwa yang telah menimpanya tadi sore, bagaimana perlakuan suami dan juga ibu serta ayah mertuanya padanya. Sosok wanita paruh baya tersebut benar-benar syok.

"Astaghfirullah, kok bisa ada manusia laknat seperti itu Nduk? Kamu yang sabar, Allah pasti akan membalas semua perbuatan mereka!"

Bu Farida akhirnya berinisiatif mengajak Inara dan juga bayinya untuk tinggal bersamanya, namun Inara sempat menolaknya dengan alasan tidak mau merepotkan dan menjadikan beban untuk ibu Farida.

"maaf Bu, tapi Saya tidak mau menyusahkan siapapun, saya....!" Inara tak melanjutkan perkataannya, ia masih merasakan sakit di dadanya.

Namun Bu Farida tetap memaksanya demi kebaikan bayi mungil yang tak berdosa, Bu Farida mencoba membujuknya agar Inara mau ikut bersamanya. Dan setelah cukup lama berpikir, akhirnya Inara memutuskan untuk ikut bersama Bu Farida ke rumahnya yang lokasinya tidak begitu jauh dari ruko kosong tersebut.

Dengan langkah yang gontai, dan tubuh gemetar karena menahan rasa lapar, serta darah nifas yang masih terasa di bagian inti, membuat Inara harus bisa menahan semua itu. Bu Farida bisa melihat akan hal itu pada diri Inara, ia meneteskan air matanya.

'kasihan sekali kamu Nduk, wanita muda dan secantik dirimu mengalami nasib yang tragis seperti ini, aku pastikan suami dan mertuamu menyesal karena telah memperlakukan mu dengan cara seperti ini. ' batin Bu Farida.

Sekitar hampir lima belas menit kemudian, langkah mereka terhenti di depan rumah kumuh atau tepatnya gubuk semi permanen yang dimana dinding dan juga atapnya terbuat dari triplek dan juga seng. Namum masih layak untuk di huni, seulas senyum terukir di bibir Inara, ia merasakan kelegaan yang mendalam karena Allah telah menunjukkan keajaibannya, Inara bersyukur masih ada orang baik yang mau menolongnya.

"Ayo Nduk Masuk, maaf kalau rumah Ibu seperti ini, tapi kamu tenang saja, didalam rumah ibu bersih dan rapih, kalau dari luar memang banyak tumpukan rongsokan hasil ibu mulung!" Bu Farida terlihat sungkan.

"Tidak apa-apa Bu, di ijinkan tinggal di rumah ibu saja, itu sudah lebih dari cukup, terimakasih Ibu Farida!" Inara mendekat dan menggenggam kuat tangan Bu Farida yang nampak pucat dan Bu Farida merasakan tubuh Inara yang gemetar.

"Yasudah, ayo masuk Nduk! Kebetulan tadi sore ibu sudah masak, cuma masak alakadarnya!" Bu Farida bergegas mengajak Inara dan Bayinya masuk ke dalam rumah.

Di keheningan malam, Inara dan putranya telah mendapatkan tempat berteduh yang nyaman di tengah remuknya hati serta perasaannya.

.

.

Udara pagi masih membawa sisa dingin embun semalam, namun di kawasan pinggiran rel yang padat ini, aroma kopi pahit dan sampah basah telah berpadu menjadi bau khas yang tak terpisahkan.

Fajar baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon palawija di kejauhan, tapi denyut kehidupan di pemukiman pemulung ini sudah mulai berdetak kencang. Suara-suara pertama adalah derit pintu tripleks yang didorong, disusul oleh gemeretak roda gerobak yang mulai diseret melintasi tanah berbatu dan becek. Di sudut yang lebih teduh, di dalam gubuknya yang berukuran hanya dua kali dua meter, Inara terbangun oleh tangisan halus. Bayinya, yakni Daffa menggeliat di atas kasur tipis beralas seprei yang sudah usang. Cahaya pagi yang masuk melalui lubang ventilasi kecil menampakkan debu-debu halus yang menari di udara.

Inara segera bangkit, menggendong Daffa sambil menyenandungkan lagu pengantar tidur yang sumbang. Ia tahu, setelah menyusui, ia harus segera memulai harinya. Dinding gubuk yang dari triplek bekas kini mulai terasa menghangat oleh sengatan matahari.

Tak lama Bu Farida muncul, ia meletakkan sepeda onthel nya di dekat tumpukan barang rongsokan miliknya yang tertata rapih dan sudah di ikat oleh tali rafia serta sebagian berada di dalam karung.

"Assalamualaikum Nduk!" Bu Farida membuka pintu rumahnya pelan.

"Waalaikumsalam!" Inara menghampiri dimana putranya sudah mulai tertidur pulas.

"Daffa sudah tidur lagi Nduk?" Bu Farida menatap wajah Daffa dalam gendongan ibunya.

"Sepertinya sudah Bu, habis Nen langsung mengantuk!"

"Syukurlah nduk, ini ada sarapan pagi! Kebetulan tadi pas ibu ke warung Cing Nelan di kasih beginian, katanya semalam sempat melihat Ibu pulang bersama kamu dan juga Daffa, Alhamdulillah ya Nduk dapat rezeki di pagi hari, Allah itu maha baik!" ucap Bu Farida merasa bersyukur.

Begitu pun juga dengan Inara, ia sangat beruntung di kelilingi oleh orang-orang baik.

Selesai sarapan bersama, Bu Farida berniat untuk menjual hasil ia mulung selama dua minggu terakhir dan rencananya hasil penjualan barang-barang rongsokan akan ia belikan beras serta kebutuhan pokok lainnya, Inara yang melihat akan hal itu merasa salut dan juga takjub akan usaha dan jerih payah wanita hebat di hadapannya ini.

" Bu, eh....aku ingin mencari pekerjaan! Aku tidak mungkin hanya berdiam diri di sini tanpa melakukan apapun, aku ingin membantu ibu!"

Bu Farida tersenyum tipis, kemudian ia menghela napas pelan.

"Tidak usah Nduk, sebaiknya kamu di rumah saja, jaga Daffa baik-baik!"

"Tapi Bu...!"

"tidak ada tapi-tapian Inara, kamu itu masih nifas, jangan terlalu capek. Kamu tidak usah memikirkan apapun, nanti hasil penjualan barang rongsokan punya ibu, InshaAllah cukup untuk kita makan dua minggu kedepan." Bu Farida berusaha meyakinkan Inara agar dirinya tidak lagi merasa beban untuknya.

Inara tak bisa berbuat banyak, dan memang untuk saat ini kondisinya masih sangat rentan, namum ia teringat akan kondisi putranya yang mengidap Down sindrom dan semestinya masih mendapatkan penanganan medis.

Kini inara duduk di atas kursi kayu yang masih kokoh setelah meletakkan bayi mungilnya di atas tempat tidur.Di sudut ruangan yang remang-remang, Inara melangkah pelan. Udara terasa dingin, membawa serta aroma debu dan kain-kain bekas yang tersimpan. Matanya terpaku pada sebuah benda tua yang tertutup selimut kain usang yaitu mesin jahit kayuhan merek Singer yang sudah lama tak terpakai. Sebenarnya ia sudah melihat benda tersebut sejak tadi malam, namum ia tak berani mendekat apalagi menyentuhnya.

Ia mendekat, jantungnya berdenyut lembut, merespons kehadiran benda itu. Tangannya terangkat, dengan gerakan penuh keraguan, menyentuh permukaan kayu meja mesin yang dingin dan bertekstur kasar. Jari-jarinya menelusuri lekuk roda kayuhan yang berkarat.

Saat itulah, ingatan menyeruak deras, manis bercampur getir.

Sementara itu Bu Farida kini sedang menunggu mobil pengangkut barang rongsokan yang rencananya akan datang sekitar pukul sembilan pagi.

Inara memejamkan mata sejenak, dalam hati, ia berbisik

'Dulu, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam, membuat baju-baju kecil untuk calon anakku kelak, atau sekadar memperbaiki celana ataupun kemeja Mas Hamdan yang robek. Setiap jahitan terasa seperti rajutan kebahagiaan. Mesin jahit itu, di rumah kami dulu adalah saksi bisu kebahagiaanku.'

Ia membuka mata, memandang mesin tua di hadapannya dengan tatapan rindu yang tak terhindarkan.

Bersambung...

Rayyan Witjaksono yang pernah tersakiti

Pletak...!

Dentuman bunyi Bolpoin itu telah memecahkan keheningan ruangan, sebuah bolpoin mahal itu telah melayang, mendarat telak di dahi Frans, sang Assisten yang kini tengah mematung, keberaniannya barusan telah berani menyebut nama wanita yang paling di haramkan oleh Tuannya. Seperti bunuh diri yang di sengaja.

Tuannya yang saat ini diselimuti oleh amarah yang panas membara menegakkan punggung dari kursi kulitnya, sorot matanya tajam dan menghukum.

"kau sedang cari mati, Frans? Atau nyawamu sudah tidak berarti lagi, hah? sudah berapa kali peringatan itu aku jejalkan di telingamu, kau bosan hidup Frans? Haram...haram bagiku mendengar satu kata dari nama wanita iblis itu.Tapi kau...kau malah menyebut namanya dengan sengaja, seolah menantang takdirmu!"

Frans tertunduk tak berani berkutik, keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya, wajahnya berubah menjadi pias

"m...maaf beribu maaf Tuan, saya janji ini adalah yang terakhir!"

"sudahlah, enyah kau dari hadapanku! Kau telah membuat ku menjadi muak dan tidak berselera! Siapkan mobil untukku, aku ingin kembali ke Mansion!" perintahnya dengan sorot matanya yang tajam dan menakutkan.

Frans hanya menelan ludah saat Tuannya sudah bersikap marah seperti itu, ia pun merutuki diri sendiri karena telah menyebut nama Viona di hadapan Tuan Rayyan Witjaksono, sang mantan istri yang telah tega mengkhianati suaminya dengan cara berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, sungguh suatu pengkhianatan yang sangat menyakitkan.

.

.

Malam sudah mulai merayap saat mobil Rolls Royce berwarna hitam metalik milik Rayyan Witjaksono melaju perlahan memasuki gerbang utama Mansion Witjaksono. Dua tahun sudah Rayyan hidup dalam kegelapan emosi yang dipicu oleh pengkhianatan yang tak termaafkan.

Ia keluar dari dalam mobil, sosoknya menjulang tinggi, mengenakan setelan jas mahal yang membungkus tubuh atletis namun memancarkan aura dingin yang menusuk. Wajah tampannya, yang dulu dihiasi senyum hangat, kini hanya menyisakan pahatan ketegasan yang kaku.

Di ruang tamu utama, sosok yang paling ia percayai di dunia ini, Nyonya Martha Witjaksono, telah menunggunya. Namun, ada yang berbeda. Di sisi sang ibu duduk seorang wanita muda, anggun, dengan balutan gaun berwarna merah Maroon duduk di dekatnya. Senyum wanita itu terasa ramah, tetapi di mata Rayyan, semua senyum wanita hanyalah topeng penipu. Semuanya palsu.

"Rayyan, kau akhirnya tiba, Nak," sambut Nyonya Martha, sambil berdiri dan memeluk putranya dengan hangat, satu-satunya kehangatan yang masih bisa dirasakan oleh Rayyan.

Rayyan membalas pelukan ibunya sebentar, tatapannya langsung tertuju pada wanita asing di samping ibunya, tatapannya dingin dan menusuk.

"Ada apa ini, Bu? Aku tidak ingat ada janji temu hari ini." Ucapnya dengan suaranya yang rendah, datar, dan tanpa intonasi. Jelas menunjukkan ketidaksukaan atas kejutan ini.

Nyonya Martha tersenyum penuh harap, gestur yang sangat Rayyan kenali, yakni gestur yang selalu menandakan bahwa sang ibu akan memaksakan kehendaknya.

"Tentu saja ada janji, Sayang. Ibu ingin memperkenalkan mu pada Nona... Amanda ." Nyonya Martha menoleh pada wanita itu.

"Amanda, ini adalah putraku, namanya Rayyan."

Amanda berdiri dengan anggun, ia mengulurkan tangan.

"Selamat malam, Tuan Rayyan. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda."

Rayyan menatap tangan yang terulur itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Ia tidak menyambutnya. Ia membiarkan tangan itu menggantung di udara.

 "Kehormatan, Nona? Ok baiklah mari kita persingkat drama ini, Bu. Apa maksud dari semua ini?" Rayyan langsung duduk di sofa tunggal, dan mengambil jarak.

Wajah Nyonya Martha sedikit keruh karena rasa malu dan juga kesal, akan tetapi ia segera menguasai diri.

"Rayyan, bersikaplah sopan! Amanda ini wanita baik-baik dan dari keluarga terhormat. Ibu membawanya kemari untukmu. Ibu berharap... kalian bisa saling mengenal lebih jauh lagi."

Rayyan terdiam, pandangannya kini mengunci Amanda seolah sedang menganalisis serangga di bawah mikroskop. Amanda, meskipun terlihat terkejut dengan sambutan dingin itu, mempertahankan ketenangannya.

"Mengenal lebih jauh?" Rayyan menyandarkan punggungnya, seringai sinis terukir di bibirnya. "Untuk apa, Bu? Untuk menikahiku?"

Nyonya Martha mengangguk penuh semangat. "Tentu saja putraku! Sudah dua tahun ini kau menyendiri. Ibu ingin kau bahagia, Rayyan, dan sudah waktunya kau punya pendamping lagi!"

Rayyan tertawa, tawa hambar yang lebih terdengar seperti gerutuan. Suara itu begitu dingin, begitu kejam.

 "Sayang sekali ya Bu. Nona Amanda, tidak akan peduli seberapa terhormat keluarganya, ia tidak akan pernah bisa menjadi pendampingku."

Rayyan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap tajam ke arah mata Amanda

"Aku tidak percaya pada wanita. Mereka semua sama. Begitu mereka tahu ada yang kurang dariku... begitu mereka tahu kau tidak bisa memuaskan mereka di atas ranjang... mereka akan pergi, bahkan setelah sumpah sehidup semati. Mereka akan mencari yang lain."

Suaranya Rayyan bergetar dengan kepahitan yang terpendam, mengacu pada tragedi pahit dua tahun yang lalu saat Viona mencampakkannya setelah kecelakaan mobil tiga tahun lalu yang meninggalkan Rayyan dengan luka fisik dan rasa trauma yang mendalam, termasuk impotensi yang tak tersembuhkan.

 "Jadi, Nona Amanda, hematlah waktu Anda. Aku tidak butuh istri. Dan aku tidak butuh pengkhianatan kedua."

Kemudian Rayyan berdiri. "Maaf, Bu, saya lelah. Saya harap Anda bisa mengurus kepulangan Nona Amanda sekarang."

Rayyan berbalik, meninggalkan ibunya yang terkejut dan Amanda yang kini menatap punggungnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, seperti campuran rasa sakit, kejutan, dan mungkin, sedikit rasa iba. Kini hanya Nyonya Martha yang tersisa, satu-satunya wanita yang masih bisa Rayyan percaya di tengah puing-puing kepercayaan yang kini telah hancur.

Setibanya di dalam kamar, Rayyan mulai menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidurnya yang mewah dengan ukuran king Size. Ia menatap langit-langit dan sekilas memori ingatan akan kenangan pahit dua tahun yang lalu kembali terlintas, dimana saat dirinya ingin memberikan kejutan berupa perayaan anniversary ke 2 pernikahan mereka, justru malah Rayyan sendiri yang mendapatkan kejutan tragis dari mantan istrinya.

Bagaimana tidak, ranjang tempat tidur yang biasanya ia gunakan untuk melepaskan rasa rindunya selama ini, serta rasa lelahnya kini telah ternoda oleh pengkhianatan Viona, Apartemen yang iya hadiahkan untuk istri tercintanya sebagai kado ulangtahunnya tiga bulan yang lalu, kini telah menjadi sarang pengkhianatan yang keji dan menjijikkan.

"Sial. Kenapa aku mengingat kembali kejadian menyakitkan ini?!"

Rayyan mengepalkan tangannya kuat-kuat, buku-buku jarinya memutih. Ingatan itu menyerang lagi, seolah proyektor di otaknya memutar ulang adegan yang coba ia kubur dalam-dalam.

"Setiap sudut apartemen itu... setiap bantal yang ku peluk... semuanya jadi saksi. Saksi kebohonganmu, Vio, Saksi kehancuranku."

"Katanya kita berbagi segalanya. Katanya ranjang ini adalah tempat teraman kita. Tempat kita merajut mimpi, tempat kita saling menguatkan. Tapi kau telah merusaknya. Kau kotori kesucian tempat itu dengan khianatmu."

"Dulu, saat kau memanggil namaku dengan lembut di ranjang itu, dan semua itu adalah musik terindah. Sekarang? Setiap kenangan itu seperti serpihan kaca yang menusuk-nusuk paru-paruku. Bagaimana bisa? Setelah semua yang kuberi, semua janji yang ku ucapkan... kau tega menginjak-injak harga diriku, cinta kita."

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!