Subuh itu, fajar belum sepenuhnya datang ketika Zhea terbangun oleh rengekan kecil. Ia membuka mata perlahan, meraih jam digital di samping tempat tidur, pukul lima lebih lima menit.
"Zheza ..." gumamnya pelan.
Anak perempuannya, bayi mungil berusia tiga bulan itu, menggeliat di boks kecil di sebelah ranjang. Pipinya memerah, bibir kecilnya mencari-cari sesuatu seperti sedang mengisyaratkan bahwa ia lapar.
Zhea tersenyum. Lelah, tapi bahagia.
Ia bangun, duduk, dan menggendong bayinya. "Good morning, sayang ..."
Ia menciumi kepala si kecil, aroma khas bayi membuat dadanya kembali hangat. Ada rasa syukur yang tak pernah bosan ia ulang-ulang dalam hati. Tuhan telah menitipkan Zheza Alfayezha Dinata, dari rahimnya sendiri ... terlalu indah, terlalu sempurna untuk dinilai dengan kata-kata biasa.
Zhea menyusui Zheza.
Kamar masih remang-remang, hanya lampu tidur kecil di sudut ruangan yang menyala.
Sang suami, Zavier masih terlelap di sebelahnya, tidur menyamping, napasnya teratur. Rambutnya sedikit acak-acakan, tapi tetap tampan. Ia selalu tampan bahkan saat pagi hari. Dan hal itu, entah kenapa, selalu membuat Zhea merasa seperti dia yang paling beruntung di dunia.
Ia sangat mencintai laki-laki di sebelahnya. Cintanya masih sama seperti dulu, saat mereka pertama kali bertemu.
Meski sudah lima tahun menikah, dan banyak pasangan lain yang mulai merasa hubungannya hambar, Zhea merasa cinta mereka tidak pernah hilang. Ada lelah, iya. Ada kesal, kadang. Tapi ... Zavier selalu mampu membuat Zhea merasa tidak salah memilih.
Zavier selalu bisa jadi suami yang hangat. Pria yang tidak pelit kasih sayang. Pria yang memuji setiap detail dari dirinya. Bahkan waktu Zhea hamil besar dan merasa tubuhnya tidak cantik, Zavier masih bilang dia perempuan tercantik di dunia.
Zhea percaya. Ia sangat percaya dengan sepenuhnya kepada sang suami yang sembilan tahun lebih tua darinya itu.
Setelah selesai menyusui, Zhea mengembalikan Zheza ke boks.
Ia lalu turun ke dapur, menyiapkan sarapan. Hari ini ia mau membuatkan pancake dengan madu. Favorit Zavier.
Sejak awal menikah, Zhea selalu mencoba menjaga kebiasaan ini: memasak sesuatu setiap pagi untuk suaminya. Tidak ada aturan siapa yang selalu harus memasak, tapi Zhea merasa itu bentuk kecil cintanya.
Jam tujuh lebih sepuluh, Zavier turun. Rambut sudah rapi, kemeja abu muda lengkap dengan jas dan dasinya, wangi parfumnya mengisi ruang makan.
"Pagi, sayang." Ia memeluk Zhea dari belakang. "Kamu bangun duluan lagi."
"Aku biasa bangun sama Zheza," jawab Zhea sambil tersenyum.
Zavier mencium pipinya. "Terima kasih sudah selalu jadi ibu yang hebat."
Zhea tertawa pelan. "Aku baru tiga bulan jadi ibu. Masih belajar, Mas."
"Dan kamu melampaui ekspektasi."
Zavier duduk, mulai menyantap pancake.
Zhea memperhatikan wajah suaminya. Ia masih tidak bisa menghilangkan rasa takjub. Lima tahun menikah, dan dia masih bisa merasakan jantung berdebar kalau melihat Zavier begitu rapi dan tampan.
Ia tahu banyak perempuan di kantor suaminya yang diam-diam mengagumi Zavier. Tapi Zhea tidak pernah merasa cemburu. Karena ia percaya penuh pada laki-laki ini.
Zhea mencintai Zavier tanpa setengah-setengah. Ia memberikan semuanya.
Hari ini adalah ulang tahun suaminya.
Ulang tahun ke tiga puluh lima.
Zhea sempat bertanya, "Mas, ulang tahunmu mau dirayain di mana? Dinner di luar atau di rumah saja?"
Zavier hanya menjawab santai, "Nanti aku kabari ya. Kayaknya hari ini bakal lembur. Banyak laporan closing bulan ini."
Zhea mengangguk. Ia memang tidak mau memaksa. Hubungan mereka selama ini tidak pernah keras atau penuh drama. Semua mengalir bagai air.
Setelah sarapan, Zavier mengambil tas kerja. "Sayang, kayaknya malam ini aku lembur. Barusan Elara mengirim pesan, katanya ada meeting yang untuk besok dimajuin jadi malam ini."
"Lembur, ya?" Zhea mendekat dan membenarkan kerah kemeja suaminya. Ia menatap Zavier dengan lembut. "Tapi aku tetap perempuan pertama yang bilang 'selamat ulang tahun' kan?"
Zavier tersenyum. "Pastinya. Kamu selalu jadi yang pertama."
Mereka saling menatap sebentar. Lalu Zavier mengecup kening istrinya sebelum pergi.
Zhea menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, lalu menutup pintu perlahan.
Itulah pagi sederhana mereka.
_____
Zhea mengurus Zheza, menata rumah, dan sesekali memeriksa notifikasi di grup keluarga.
Sekitar pukul 16.30, Zhea teringat sesuatu. Dia mau membuat kue ulang tahun untuk suaminya.
Di lemari es, ia menyimpan bahan kue yang ia beli kemarin. Zhea tersenyum. Ia punya ide. Zavier memang bilang lembur, tapi Zhea ingin memberikan kejutan.
Ia pergi ke baby box.
"Zheza, Mama mau bikin kejutan buat Papa, ya. Kamu tiduran dulu ya, sayang."
Zheza mengedip-ngedip polos, tanpa tahu apa pun. Zhea menyentuh pipi anaknya. "Biar Papa tahu bahwa kita sayang banget sama dia."
Zhea mulai membuat kue black forest, kue favorit Zavier. Tangannya lincah, ia sudah hafal resepnya sejak lama.
Sambil mengocok adonan, ia memikirkan sesuatu: lima tahun lalu, saat ulang tahun Zavier yang pertama setelah menikah, mereka masih suami-istri baru. Ia membuatkan black forest juga. Kue yang sama. Mereka makan sambil tertawa, saling menyuapi, dan Zavier bilang, "Aku bersyukur menikahi kamu."
Zhea menahan senyum. Kenangan itu masih terekam jelas.
Ia ingin ulang tahun ini juga terasa seperti itu. Hangat dan spesial.
Setelah kue siap dan didekorasi sederhana, Zhea mengemasnya rapi dalam kotak transparan dengan pita kecil warna emas. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan belas lebih tiga puluh menit.
Ia mengganti pakaian, dress merah marun memeluk tubuhnya yang kini lebih berisi karena efek menyusui. Make up natural, tapi manis menghiasi wajahnya yang cantik. Ia merapikan rambut, menatap dirinya di cermin. Ada rasa excited. Jantungnya berdebar.
"Zheza, kamu sama Bi Acih dulu, ya ... Mama mau kasih kejutan buat Papa."
Bi Acih mengangguk.
"Saya nggak akan lama ya, Bi. Palingan cuma satu jam."
Bi Acih tersenyum. "Baik Bu Zhea. Hati-hati."
Zhea keluar rumah sambil membawa kotak kue di tangan. Ia sudah menyiapkan balon kecil yang akan ia sembunyikan di belakang dirinya saat masuk ke ruang kerja Zavier, tapi karena sendirian, ia jadi hanya membawa kue saja.
Perjalanan menuju kantor tidak terlalu jauh. Hanya tiga puluh menit dengan mobil. Sambil mengemudi, Zhea memutar lagu-lagu mellow romantis. Hatinya lembut, berbunga-bunga.
Dia membayangkan ekspresi Zavier nanti.
Pasti kaget.
Pasti senang.
Mungkin mereka bisa makan kue itu bersama di kantor. Atau di mobil. Atau Zavier memutuskan untuk pulang lebih cepat karena tersentuh.
Zhea menghela napas bahagia.
Hubungan mereka mungkin tidak penuh kejutan setiap hari, tapi hari ini, Zhea ingin jadi istri yang membuat kenangan baru. Kenangan manis.
Jam dua puluh lebih satu menit, Zhea sampai di basement parkiran kantor Zavier. Ia turun, mengambil kue, lalu berjalan menuju lift. Tangannya sedikit dingin karena AC basement, tapi hatinya hangat sekali.
Lift tiba di lantai tempat ruang kerja Zavier.
Suasana sudah sepi. Banyak lampu ruangan dimatikan.
Zhea berjalan pelan menuju ruangan Zavier. Ia tidak mau membuat suara. Tidak mau mengganggu kerjaan suaminya.
Kotak kue itu ia pegang erat-erat.
Sesampainya depan pintu ruang kerja Zavier, ia menarik napas panjang. Dada berdebar.
Ia pegang handle pintu pelan, dan membuka sedikit, hanya celah kecil, karena ia ingin masuk diam-diam.
Tapi ...
Tiba-tiba gerakan tubuh di dalam ruangan membuat Zhea spontan berhenti.
Ada suara napas berat.
Ada suara kursi bergeser.
Zhea menahan napas.
Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
Dan dalam satu detik ...
dunia Zhea seolah berhenti bergerak.
Zavier, suaminya ... sedang berdiri membelakangi pintu bertelanjang dada, rambutnya terlihat berantakan, celana panjangnya melorot sampai paha.
Dan di atas meja, seorang perempuan sedang telentang dengan kaki terbuka lebar. "Ahh ... Pak Zavier. Lebih dalam lagi, Pak."
"Tentu, Elera. Aku akan melakukan apa yang kamu minta."
Zhea membatu. Ia tidak bisa merespon apa pun. Tidak ada kata yang muncul.
Zhea hanya berdiri. Menatap pemandangan yang memecah tubuhnya dari dalam. Dadanya seperti ditusuk ribuan panah.
Kedua kakinya mendadak lemas. Napasnya tersendat-sendat. Dan detik itu juga, dunianya runtuh seketika.
"Kamu jahat, Mas." Zhea membatin sambil menaruh kue yang dibawanya ke lantai. Dengan menahan sakit yang amat sangat menyesakkan dan menahan jijik yang membuat perutnya bergejolak ... Zhea merogoh ponselnya. Mengarahkan kamera dengan tangan gemetar. "Kalian berdua pasti akan menyesal." Setelah cukup merekam bukti, Zhea memasukkan kembali ponselnya ke tas selempang miliknya. Dia berjongkok, mengambil kotak kue dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
Di sepanjang lorong kantor yang sepi itu, Zhea berusaha menahan isak tangisnya. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak mau mengeluarkan air mata. Namun di dalam lift, tangis Zhea akhirnya pecah. Tubuhnya merosot ke lantai.
Suara tangisnya membahana di ruang kecil itu.
Bibirnya bergetar, kepalan tangannya memukul-mukul dadanya yang sesak. "Brengsek kau Zavier! Setan! Menjijikan!" Umpatan itu menjadi pengiring tangisan yang menyakitkan.
Lelaki yang ia percaya sepenuh hati dan ia cintai setulus jiwa ... nyatanya tega mengkhianati kepercayaannya dan juga menduakan cintanya.
Dengan mata kepalanya sendiri ... Zhea melihat sang suami menunggangi perempuan lain.
"Sakiit! Sakiit ..." Zhea masih memukul-mukul dadanya. "Zavier ... Elara ... tunggulah pembalasan dariku," pungkasnya sambil menyeka air mata, bangkit dari lantai lift dan keluar dari lift itu seolah tidak terjadi apa-apa.
Kotak kue yang ia bawa tadinya akan Zhea buang, tapi tidak jadi ia lakukan. "Biarlah ini jadi kue ulang tahun terakhirmu ... dariku, Zavier Dinata," desisnya sebelum masuk ke dalam mobil.
Meski hatinya hancur lebur, namun Zhea tetap menjaga konsentrasi dan kewarasannnya. Ada Zheza yang sangat membutuhkan kehadirannya.
"Kuat, Zhea. Kamu harus kuat demi Zheza. Jangan menjadi wanita yang lemah." Zhea menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Ia pun mulai melajukan mobilnya, meninggalkan area parkiran kantor Zavier.
Di lantai empat, tepatnya di ruangan Zavier. Lelaki itu dan sang sekretaris tak menyadari jika Zhea sudah memergoki mereka.
Keduanya masih sibuk memacu tubuh. Malah kini, Elara yang mengambil kendali. Bergerak liar di atas tubuh Zavier yang duduk bersandar di kursi kebesarannya.
Dua tubuh itu sudah benar-benar tanpa penghalang. Suara peraduan kulit menciptakan melodi yang menjijikan.
"Oohh ... Ela ... kamu selalu membuatku terlena," desah Zavier sambil mencengkeram pinggang ramping wanita berambut panjang bergelombang berwarna cokelat itu.
Elara memajukan wajahnya tepat ke depan wajah Zavier yang memerah, sambil tak berhenti menggoyangkan tubuhnya. "Bapak juga selalu membuatku terkapar tak berdaya," desisnya seraya meraup bibir Zavier.
Keduanya bertukar saliva. Liar dan ganas. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
______
Zhea tiba di depan rumah pukul dua puluh satu lebih tiga puluh menit. Ia mematikan mesin mobil, tapi tangannya tetap di setir. Lampu teras menyala temaram. Rumah itu biasanya terasa hangat, aman, dan penuh cinta. Tapi malam ini … rumah itu terasa seperti jagal sunyi yang siap memakan jiwanya.
Zhea tidak langsung turun. Tangannya gemetar, napasnya tersengal. Rasa itu belum hilang, gambar Zavier dan sekretarisnya … masih berputar di kepala, seperti film yang dipaksa replay tanpa henti.
Suara-suara menjijikan itu terngiang-ngiang di telinganya. Menciptakan harmoni yang menyakitkan.
Lagi, air matanya turun pelan. Bukan terisak keras. Namun pecah pelan-pelan, kuat.
Bagaimana mungkin ia bisa kembali ke rumah ini dan berpura-pura baik-baik saja? Sementara diri dan hatinya sudah hancur berkeping-keping.
Tapi ia harus melakukannya demi rencana besar yang sudah tersusun rapi di otaknya. Dan di dalam rumah ini, masih ada Zheza.
Bayinya.
Jiwanya.
Permata hatinya.
Harta paling berharga dalam hidupnya.
Zhea mengusap air mata, mencoba menyusun napas. Dia harus kembali sadar. Kalau dia masuk dengan mata merah parah, Bi Acih bisa curiga. Lalu nanti kalau Zavier sudah pulang, lelaki itu pasti curiga juga.
Zhea harus memainkan perannya dengan rapi dan apik.
Zhea harus jadi istri normal untuk sementara demi keberhasilan rencananya. Demi kado terakhir dan terindah yang akan ia persembahkan untuk suaminya.
Dia mengamati rumah itu sekali lagi, lalu menatap pantulan dirinya di kaca mobil.
Wajahnya pucat. Bibirnya pucat.
Ia mengusapnya pelan, merapikan rambut, menepuk area mata agar tidak terlalu terlihat habis menangis. "Bersikaplah normal, Zhea," bisiknya memperingatkan diri sendiri. Lalu, ia membuka pintu mobil.
Turun. Dan ia mencoba berjalan seperti biasa.
Bi Acih menyambutnya di ruang keluarga. "Syukurlah Ibu sudah pulang ..." Suaranya lembut, alami.
Zhea mengangguk, melempar senyum kevil. "Iya, Bi. Bapak nggak ada di kantor. Pas saya telepon, ternyata dia lagi meeting di luar," dusta Zhea.
Bi Acih mengangguk. "Pantesan kuenya dibawa lagi."
"Bi, nanti kalau Bapak pulang ... jangan beri tahu dia kalau tadi saya pergi ke kantornya," pinta Zhea.
"Siap, Bu." Anggukan Bi Acih nampak mantap.
"Makasih. Oh ya, Zheza udah tidur?" Di tengah hancurnya hati, Zhea harus tetap tersenyum demi sang buah hati.
"Iya Bu. Non Zheza sudah tidur dari setelah isya. Tadi habis minum ASI yang Ibu simpan di kulkas," jelas pembantu berusia empat puluh tahun itu.
"Baik. Terima kasih ya, Bi." Zhea memaksa tersenyum lagi. "Saya mau ke atas dulu, dan Bibi ... silakan istirahat."
"Iya, Bu." Bi Acih berbalik, dan Zhea pun berjalan ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sampai di depan kamarnya, pelan-pelan ia membuka pintu bercat putih itu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah lampu kamar yang nampak menyala lembut. Ada aroma minyak telon, aroma lembut yang biasanya membuat hati Zhea hangat.
Zhea berjalan pelan ke arah boks, melihat bayinya yang tidur sangat tenang. Napas kecil itu. Dada kecil itu naik turun pelan.
Zhea duduk di samping boks. Dan perlahan, air matanya turun lagi.
Tanpa suara.
Ia meraih sweater kecil milik Zheza yang tersampir di pinggiran boks, memeluknya dan meremasnya ke dada.
Seolah memeluk seluruh hidupnya sendiri. "Sayang ..." bisiknya lirih. "Papamu mengkhianati Mama ..."
Itu bukan kalimat benci. Itu kalimat patah hati.
"Mama melihat sendiri, Nak. Dia menggauli perempuan itu. Dia atas meja kerjanya. Di depan foto kita bertiga." Pundak Zhea goyah sedikit, tapi ia cepat menahan suara. Ia tidak mau Bi Acih mendengarnya. Ia juga tidak mau Zheza terbangun.
Zhea menatap bayinya lama sekali.
Dan di saat itu, ia semakin yakin untuk bertindak. Mengumpulkan bukti sebanyak mungkin.
Dia harus membuat Zavier dan selingkuhannya malu dan tidak bisa mengelak barang sedikit pun.
Zhea sudah hancur, dan dia juga ingin Zavier dan Elara hancur lebur melebihi dirinya.
Dia mengusap pipi bayinya. "Mama akan pastikan, Nak … Papamu akan membayar semuanya. Tidak hari ini. Tidak dengan teriak-teriak. Tapi dengan cara yang paling tenang … dan paling mematikan."
Zhea sudah memutuskan.
Dia akan diam dulu sekarang. Dia akan pura-pura baik seperti biasanya. Seolah tidak tahu apa-apa.
Tapi mulai malam ini, Zhea akan mulai mengumpulkan bukti lebih banyak.
Bukti nyata.
Bukti yang sangat kuat.
Bukti yang bisa menghancurkan Zavier tepat di depan keluarga besarnya.
Seringai tipis muncul di bibirnya yang menawan. "Aku akan bermain cantik, Zavier."
Zhea termangu di sebelah boks Zheza. Telunjuknya menyentuh cincin pernikahan yang melingkar di jari tengah tangan kanannya. Ia memejam mata. Ingatannya terlempar ke pertemuan pertamanya dengan Zavier. Semua mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.
Lobby mall sore itu ramai, tapi langkah Zhea pelan. Ia baru selesai membeli toner wajah dan hendak membeli minuman dingin sebelum pulang.
Di tengah arus orang keluar masuk tenant, ia tiba-tiba berpapasan dengan seorang pria bertubuh tinggi, berperawakan tegap, wangi parfum maskulin yang samar memanjakan indra penciumannya.
Begitu melewati lelaki itu, gelang rantai tipis di pergelangan tangan Zhea tersangkut pada jam tangan si pria ... dan membuat lengannya otimatis tertahan. "A-m-maaf!" Zhea buru-buru menarik lengannya, panik.
Pria itu menoleh cepat. Manik cokelatnya nampak tajam, tapi cara menatapnya amat lembut. Dia bahkan tersenyum tipis sebelum melepaskan gantungan gelang dari jam tangannya. "Eh, jangan gerak dulu," katanya rendah dan tenang. "Nanti gelang kamu putus." Dia melepaskan sangkutan itu dengan hati-hati. "Udah. Sorry, ya?" beri tahunya melempar senyum manis pada Zhea.
Zhea hanya mengangguk, pipinya memanas karena malu.
Pria itu mengulurkan tangan ... bukan untuk menyentuh lagi gelang Zhea, tapi ke arah Zhea. "Aku ... Zavier."
Zhea menelan ludah. Menyahut malu-malu. "Zhea."
Sudut bibir Zavier terangkat sedikit. "Nama yang cantik. Sesuai dengan orangnya."
Zhea tersenyum rikuh. Lalu mengembuskan napas pelan. Jantungnya memukul dadanya terasa aneh sekali.
Zavier menatap ke arah lantai atas mall, tempat deretan kafe saling berjejer. "Kamu ke sini sendirian?"
"Iya." Zhea mengangguk.
"Kalau kamu nggak buru-buru, gimana kalau kita duduk sebentar di coffe shop itu?" ujar Zavier sambil menunjuk salah satu kafe yang tidak terlalu ramai.
Ada ragu sepersekian detik di hati Zhea. Tapi enatah kenapa ... ajakan itu seolah mengandung magnet. Menurutnya, cara bicara Zavier terdengar dewasa, calm dan sopan. Bukan tipe orang yang asal ngajak kenalan. "Boleh," jawab Zhea akhirnya.
Zavier memberi gestur mempersilakan.
Mereka berjalan berdampingan menuju eskalator.
Zhea mengakhiri ingatan masa lalunya. Bibirnya menyunggingkan senyum getir. "Pertemuan pertama yang sangat manis. Yang membawaku pada indahnya cinta pertama dan pernikahan yang aku impikan. Tapi ..." Zhea berdecih pelan. "Aku tidak menyangka, lelaki yang kuanggap sempurna tanpa cela. Baik kelakuan, sikap dan rupa ... ternyata menyimpan keburukan yang tak pernah kupikirkan. Kau ... sangat menjijikan Zavier." Ia menggenggam erat sweater Zheza, lalu menunduk sesak.
Zhea tak menangis. Dia kembali mengangkat wajah. Memusatkan pandangan pada kasur tempat dia melahirkan cinta bersama lelaki yang ia kira setia. "Aku benci kamu, pengkhianat!"
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua puluh dua lewat sebelas menit ... dan Zavier belum kunjung pulang. Otomatis bayangan pergulatan itu hadir lagi di kepala Zhea.
"Ternyata ini lembur yang kau maksud? Beradu peluh dengan sekretaris menjijikan itu." Zhea menggelengkan kepala pelan.
Lalu sangkaan-sangkaan lain berdatangan.
"Apakah selama ini, setiap dia mengatakan lembur ... dia selalu berhubungan badan dengan Elara?"
Zhea bangkit dari kursi dekat boks Zheza. Berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Sungguh dia ingin menjerit. "Aku tidak boleh lemah," gumamnya setelah mencuci wajah. "Dimulai dari malam ini ... aku harus cepat-cepat mengumpulkan bukti. Dua pengkhianat itu harus segera dibasmi." Zhea memandangi wajahnya sendiri yang memerah dan penuh amarah. Dia menarik napas perlahan. Menutup mata. Satu rencana sudah tersusun di kepalanya, dan malam ini ... ia akan mulai melaksanakannya.
_____
Tepat pukul dua puluh tiga, pintu kamar berderit pelan. Zhea yang sedang duduk di atas ranjang menoleh cepat ke arah pintu. Dengan menekan rasa sakit dan jijik, ia menyambut kepulangan suaminya. "Mas ... akhirnya kamu pulang juga!" serunya seraya turun dari ranjang untuk menghampiri Zavier.
"Eh, sayang ... kenapa kamu belum tidur?" Zavier masuk sambil tersenyum kecil. Senyum yang biasanya membuat Zhea merasa aman. Malam ini senyum itu terasa seperti pisau.
"Aku nungguin kamu," jawab Zhea, manis ... tapi di dalam hati, ia menangis.
Zavier menuntun Zhea ke ranjang, dan mereka duduk bersisian. "Padahal kamu nggak usah nunggu aku. Tidur aja duluan."
"Aku kan mau ngerayain ulang tahun kamu," kata Zhea sambil mengusap rahang suaminya dengan lembut. Bertolak belakang dengan hatinya yang ingin sekali mencekik leher Zavier dan membenturkan kepala suaminya itu ke tembok sampai pecah.
Zavier tertawa pelan. "Kamu memang istri yang paling romantis. Makasih, ya." Dia mencium kening Zhea dengan lembut. Jari tangannya mengusap pelan tengkuk istri yang selama lima tahun ini setia menemaninya.
Gestur yang selalu dianggap Zhea sebagai bentuk cinta. Sekarang ... terasa seperti sampul untuk menutupi dosa terbesar.
"Aku capek banget, sayang," kata Zavier menyandarkan punggung pada headboard ranjang, "meeting-nya gila-gilaan. Mana laporan tahunannya numpuk banget lagi." Zavier mengembuskan napas kasar.
Zhea mengangguk pelan. "Kasihan. Kamu udah makan? Mau tiup lilin sekarang atau nanti? Aku udah buatin kue black forest kesukaan kamu loh."
Zavier mengusap puncak kepala Zhea sambil menatapnya. "Udah. Tadi pesen makanan bareng anak-anak kantor. Makasih, sayang. Tapi nanti aja tiup lilinnya. Aku masih capek."
'Anak-anak kantor'. Kalimat itu terasa sangat menusuk. Menyentak jantung dan hati Zhea. Karena kini ia tahu, jika suaminya sedang berbohong. Tidak ada ada anak-anak kantor. Yang ada hanyalah wanita binal yang sedang mengangkang di atas meja kerja. Beradu kelamin dengan suaminya. Kenyataan itu sangat menjijikan dan menyakitkan, membuat air mata Zhea hampir menetes.
"Aku mandi dulu ya?" Ucapan Zavier dan itu berhasil membuyarkan lamunan Zhea sekaligus berhasil mencegah jatuhnya air mata.
"Iya, Mas." Zhea mengulas senyum sambil mengusap lengan suaminya dengan lembut. "Aku akan siapkan baju. Setelah itu, kita tiup lilin ya?" ujarnya.
Zavier berdiri. "Iya, sayang. Sekali lagi, lelaki berwajah tampan itu mengecup kening Zhea, sebelum akhirnya melepas jam tangan dan meletakkannya di atas nakas. Lalu merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan meletakkannya di dekat jam tangan tadi.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Zavier melongokkan kepalanya ke boks bayi. Menoel pelan pipi Zheza yang tidur terlelap. "Anak Papa," gumamnya. Zavier pun membalik badan dan berjalan ke arah kamar mandi.
Sementara itu, Zhea menatap benda pipih di atas nakas. Ia harus memeriksa hp Zavier. Pekerjaan yang selama lima tahun ini tak pernah ia lakukan. Saking percayanya ia pada sang suami.
Namun malam ini, ia akan melakukannya. "Semoga polanya masih sama," batin Zhea. Dia sangat mengharapkan itu. Karena Zhea yakin, bukti chat itu pasti ada atau mungkin sangat banyak.
Setelah pintu kamar mandi tertutup dan suara air mulai terdengar ... Zhea menggerakkan tangannya. Ia mengambil ponsel itu dengan gerakan kilat. Membuat pola di layar hp suaminya dengan jantung yang hampir tercekat, karena takut polanya sudah diubah. Dan ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!