NovelToon NovelToon

My Sexy Lady

Awal

"¿Por qué me mandan allí? ¡No me gusta! (Kenapa mengirimku kesana? Aku tidak suka!)" Elle membanting berkas di meja kerja ayahnya dengan perasaan kesal luar biasa. Dia menentang keputusan sang ayah.

Ben menghela nafas berat, seraya menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. Usianya sudah tidak muda lagi, namun ia harus menghadapi putri bungsunya yang selalu membangkang dan melanggar aturan.

"Keputusan Daddy sudah bulat! Kau ingin menentang? Silahkan! Mau nangis darah sekalipun keputusan Daddy tidak akan berubah!" tegas Ben, menatap tajam putrinya.

Elle mengepalkan kedua tangan, dan menggertakkan gigi dengan kuat sampai rahangnya berdenyut menandakan emosinya memuncak.

"Ini sudah kesekian kalinya kau pulang dalam keadaan mabuk berat. Sebagai orang tua, Daddy gagal mendidikmu."

Elle memejamkan mata sesaat seraya menghembuskan nafas kasar. Emosinya yang tadinya memuncak kini menguar begitu saja saat mendengar alasan ayahnya memindahkannya ke Italia.

"Dad, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Suaranya merendah, tidak lagi membentak ayahnya. Ya, meskipun dalam hati masih sangat kesal dengan ayahnya yang selalu membatasi ruang geraknya. Padahal dirinya ini sudah berusia 21 tahun, sudah dewasa, tapi ayahnya ini sangat keterlaluan. Ia dilarang minum, keluar malam, dan berpacaran. Karena hal itulah, Elle menjadi gadis pembangkang.

"Kau juga sudah mengatakan hal itu sebelumnya. Daddy sudah bosan mendengarnya. Karena kau selalu tidak menepati janji, dan selalu melanggar aturan!" Ben menegakkan posisi duduknya, menatap putrinya lekat-lekat. "Segera bersiap! Gracia, akan menjemputmu!"

*

"Botak, apa yang sedang kau lakukan?" Nero menatap Botak yang sejak tadi mondar-mandir di dalam salah satu kamar yang sudah lama tidak di tempati.

"Sedang membersihkan kamar ini." Botak tersenyum lebar.

"Untuk?" Kedua alis Nero bertaut.

"Ah! Aku lupa memberi tahu Anda, jika besok Nona Elle akan tinggal di sini," jawaban Botak membuat Nero terkejut, tapi berusaha bersikap biasa.

"Anda pasti terkejut 'kan?" goda Botak sembari menunjuk wajah Nero.

"Tidak!" jawab Nero dingin dan datar, lalu segera berlalu dari sana.

Botak menggaruk kepalanya yang plontos. "Selalu saja sok dingin, padahal di dalam hati berbunga-bunga," gerutunya sembari melanjutkan pekerjaannya. "Ternyata setelah 6 tahun berlalu, dia masih sama, menutupi perasaannya. Ck, tapi Tuan Nero lupa kalau aku adalah cenayang, ha ha ha." Botak menertawakan diri sendiri.

*

"Nick, aku akan pindah ke Italia." Hari itu sebelum berangkat ke Bandara, ia mencuri kesempatan menemui Nickholas.

"Kenapa mendadak? Kau membuat masalah?" Nick yang saat itu sedang masak, segera melepaskan apron yang melekat pada tubuhnya. Sudah 3 tahun dia berpacaran dengan Elle, namun hubungan mereka ditentang keluarga Elle, karena dirinya lelaki miskin, tidak setara dengan keluarga Elle.

"Tidak. Emh ... Aku pasti sangat merindukanmu." Elle segera menghambur memeluk pemuda itu dengan erat.

"Elle..."

CUP!

Ucapan Nick terhenti saat gadis itu menciumnya.

"Dengar, meski kita berjauhan, kita tetap pacaran," ucap Elle dengan nafas terengah saat ciuman terlepas.

Nick mengangguk, "keluargamu ingin menjauhkan kita. Kau tenang saja, aku akan mencari pekerjaan di Italia agar kita selalu bersama." Nick berkata penuh kesungguhan seraya menangkup wajah cantik kekasihnya.

Elle tersenyum dan mengangguk. Ia merasa sangat dicintai dan berati bagi Nick, karena pria ini selalu berusaha dan berjuang membahagiakannya.

"Terima kasih, aku mencintaimu." Elle kembali memeluk Nick dengan perasaan tak karuan.

"Aku juga." Nick mengecup pucuk kepala gadis itu.

*

Jangan lupa subscribe, like dan komentarnya.

Tua bangka!

Elle menatap gumpalan awan putih dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Perasaan kesal, marah, kecewa, dan sedih bercampur menjadi satu di dalam dada karena ia dikirim ke Italia.

'Pria itu adalah pria yang paling aku hindari selama beberapa tahun ini,' batin Elle, dengan perasaan tak karuan. 'Tapi, kenapa takdir malah membawaku ke sana? Andai saja aku tidak nakal, mungkin semua ini tidak akan terjadi.' Perasaan menyesal itu bercekol di dalam dadanya.

"Elle, kau baik-baik saja?"

Suara Gracia membuyarkan lamunan Elle.

Gadis cantik itu menoleh, menatap Gracia yang duduk di seberangnya.

"Estoy bien," jawab Elle, dalam bahasa Spanyol yang artinya baik-baik saja. Ia menyandarkan punggung ke kursinya, lalu kembali memakai sabuk pengaman saat pesawat jet itu akan landing.

Gracia mengkhawatirkan gadis itu yang sejak tadi terlihat murung.

*

Di sisi lain. Nero saat ini sedang sibuk di perusahaan. Pria tampan, dan gagah dengan segala pesonanya itu duduk di balik meja kerja, memeriksa dokumen-dokumen penting. Ia meletakkan pena yang sejak tadi di genggam. Menatap jam tangan sembari bergumam, "sudah saatnya." Ia beranjak berdiri, menyambar jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya. Ia melangkah tergesa sembari mengenakan jasnya.

"Tuan, Anda mau ke mana? Setengah jam lagi Anda harus menjemput Nona Elle di Bandara." Sang sekretaris mengingatkan atasannya.

Nero menghentikan langkah, menoleh ke belakang, "kau saja yang jemput gadis ingusan itu. Aku ada urusan penting!" tegasnya, melanjutkan langkah tanpa mau mendengar jawaban sekretarisnya.

Sekretarisnya hanya bisa pasrah. Ia akan menyempatkan waktu menjemput Nona Elle di sela waktu sibuknya.

*

Elle dan Gracia berdiri di depan loby Bandara menunggu jemputan Nero.

"Grace, tugasmu sudah selesai memastikanku sampai Italia dengan selamat. Sekarang kau bisa pergi," kata Elle mengusir halus wanita itu.

Grace menggeleng, "tidak, aku tidak akan pergi sebelum aku memastikan kau masuk ke mobil Tuan Nero," jawab Gracia menolak keinginan Elle.

Elle memutar kedua matanya dengan malas mendengar jawaban Gracia. Padahal ia sangat berharap kalau wanita itu segera pergi agar dirinya bisa menghubungi Nick.

Tak berselang lama. Mobil SUV hitam mengkilat berhenti di hadapan kedua wanita itu.

Kedua alis Elle mengerut saat melihat wanita cantik dan anggun keluar dari mobil tersebut, dan menghampirinya.

"Kau Nona Elle?" Tebak wanita itu seraya memperlihatkan foto Elle yang terpampang di layar ponselnya.

"Iya, itu aku," jawab Elle.

"Perkenalkan aku adalah..."

"Ya, tidak perlu! Kau pasti kekasih si tua bangka itu 'kan!" potong Elle dengan nada sewot seraya menatap wanita itu dengan pandangan menilai. "Ck! Cocok sih, ternyata selera tua bangka itu lumayan juga," ocehnya setelah puas menatap wanita itu yang memiliki paras cantik, rambut pirang dan body sangat proposional.

"Nona, Anda salah pah..." lagi-lagi ucapannya terhenti saat Elle berteriak padanya.

"Bukakan pintu mobil untukku, cepat!!"

"Iya, baiklah," jawabnya terbata-bata, lantaran sangat syok karena gadis ini jauh dari kata elegant, tidak sesuai dengan namanya.

Gracia melambaikan tangan pada Elle yang sudah duduk di dalam mobil.

"Mood-nya sedang berantakan," kata Gracia, menjelaskan suasana hati Elle pada wanita itu.

"Ouh, pantas saja dia terlihat seperti bayi singa," sahut wanita itu terkekeh, seraya melirik Elle yang tampak cemberut tak berselang lama

Gracia menahan tawa saat mendengar julukan yang diberikan wanita itu pada Elle, bayi singa.'

Pesta

"Wow! Sangat sexy, cantik, indah, dan menggairahkan." Nero memuji sesuatu dihadapannya dengan penuh dambah, salah satu tangannya terulur menyentuh permukaannya kulitnya yang glowing. "Sangat ... sangat sempurna, aku tidak sabar untuk mencobanya." Nero tersenyum devil seraya mencium kulitnya dengan perasaan bahagia.

Beberapa anak buah yang berdiri dibelakang Nero pun saling lirik sambil geleng-geleng kepala saat melihat boss mereka memuji berlebihan senapan laras panjang yang baru selesai di rakit oleh satu anggota mereka. Namun mereka tidak ada yang berani protes. Mereka hanya bisa diam, dan menyaksikan tingkah absurd dan kegilaan Nero. Mereka semua masih sayang nyawa, pasalnya Nero adalah iblis berdarah dingin, dan bisa membunuh kapan saja dengan mudahnya.

Nero lebih mengerikan daripada Damon.

Nero mencoba senjata api itu dengan penuh semangat.

Dor

Dor

Suara tembakan memekakan telinga. Nero menembakkan ke sembarang arah yang membuat semua anak buahnya kalang kabut melarikan diri untuk menyelamatkan diri.

"Sudah aku bilang, dia tidak pernah waras selalu saja bertingkah semaunya," keluh salah satu anak buah Nero yang bersembunyi di balik lemari.

"Ah, menyesal aku datang ke sini," sahut rekannnya.

"Penyesalanmu tidak ada artinya. Jangan lemah begitu, sialan!"

Obrolan mereka yang bisik-bisik itu terhenti saat mendengar Nero tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha. Bagus, dan sempurna. Kau memang selalu hebat dalam merakit segala jenis senjata ilegal. Sekarang, persiapkan semua senjata ini. Kita akan menuju tempat transaksi!" tegasnya seraya menepuk pundak salah satu anak buahnya itu dengan kuat.

"Baik, Tuan."

Nero melepaskan sarung tangan yang digunakan lalu dilemparkan ke tempat sampah. Dia selalu bergerak hati-hati, jejak sekecil apapun akan membahayakan dan menghancurkan dirinya.

"Tuan, Nona Elle sudah sampai di rumah. Anda tidak ingin pulang?"

Nero menatap asistennya itu dengan dingin dan tajam. "Tidak!" jawabnya tegas.

"Baiklah kalau begitu." Ia tidak memaksa, juga tidak bertanya lagi, takut nyawanya melayang.

Nero yang hendak melangkah mengurungkan niat, ia menatap asistennya dengan senyuman sinis. "Pedro, siapkan pesta, seperti biasa."

Glek!

Pedro--pria berdarah Spanyol itu menelan ludahnnya dengan kasar saat mendengar kata 'pesta', karena pesta yang dimaksud Nero bukanlah pesta pada umumnya akan tetapi melihat semua anak buah bertarung di atas ring tinju. Ingin menolak akan tetapi dia takut kalau pria itu murka dan berakhir membantai mereka semua. Pedro melirik semua anak buah yang berada di sana dengan perasaan takut.

Semua anak buah di sana memberikan kode gelengan kepala, akan tetapi Pedro lebih patuh pada boss-nya dan sayang dengan nyawanya.

"Baik, Tuan, akan segera aku siapkan."

Semua anak buah hanya bisa mengumpati Pedro tanpa suara dengan tangan bergerak seperti menebas leher.

*

Elle menghembuskan nafas kasar ketika memasuki rumah mewah dan megah tersebut.

"Nona, kamar Anda sebelah sini."

"Aku sudah tahu jadi berhentilah berbicara!" bentak Elle pada wanita itu dengan nafas memburu karena emosi.

"Baik, Nona." Wanita itu mengangguk patuh.

"Di mana pria tua menyebalkan itu?" tanya Elle melirik wanita tersebut. "Hei! Kenapa diam saja? Aku bertanya padamu!" Elle melotot tajam.

"Nona bilang aku harus diam, dan Anda pasti sudah tahu di mana keberadaan Tuan Nero," jawabnya dengan nada santainya.

"Arghh! Menyebalkan!" umpat Elle, gregetan seraya mengepalkan kedua tangan di udara.

"Anda jauh lebih menyebalkan, Nona," jawabnya tapi hanya berani di dalam hati.

*

Like dan komentarnya, ya!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!