NovelToon NovelToon

Ibu Untuk Anak-anakku

Bab 1

Di sebuah ruangan VVIP rumah sakit swasta, seorang laki-laki Rupawan bernama Barata Ken Osmaro, yang biasa di panggil tuan muda Bara, tengah duduk di samping ranjang istrinya yang baru saja melahirkan kedua buah hatinya.

Laki-laki tersebut adalah Seorang CEO yang terkenal angkuh dan dingin. Ia menggantikan posisi sang ayah yang meninggal dunia dalam kecelakaan mobil bersama sang ibu, ketika usianya menginjak 22 tahun tepatnya 5 tahun yang lalu.

Pada awalnya, Bara yang dinilai belum berpengalaman, membuat para dewan direksi dan para pemegang saham meragukan kemampuannya dalam mengelola perusahaan yang waktu itu hampir collaps.

Namun, Bara membuktikan kemampuannya dalam mengelola perusahaan. Buktinya, perusahaan bernama Osmaro Corp tersebut tidak jadi collaps, bahkan satu tahun setelah Bara mengambil alih kepemimpinan, ia sudah berhasil membawa perusahaan tersebut ke posisi nomor satu di kancah Internasional dan terus bertahan hingga sekarang. Bahkan, perusahaannya semakin tak tertandingi.

Ya, Bara memang terkenal sebagai seorang yang angkuh dan dingin, namun sifatnya akan berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan Olivia, wanita satu-satunya yang berhasil meluluskan hatinya pada pandangan pertama. Kecantikan, Kelembutan dan cinta yang tulus Olivia membuat bara bertekuk lutut, bahkan menyerahkan seluruh hidupnya untuk wanita yang baru saja melahirkan kedua anaknya tersebut. Bara juga sangat menyayangi ibu dan adik Olivia seperti ibu dan adik kandungnya sendiri, karena Bara tak memiliki siapapun kecuali keluarga pamannya yang selalu berusaha merebut Osmaro Corp dari tangannya.

"Sayang, terima kasih telah melahirkan anak-anak yang tampan dan cantik untukku, terima kasih sudah berjuang demi bisa melahirkan mereka," Ucap Bara sambil menggenggam tangan Olivia lalu menciumnya. Ia tahu bahwa tak mudah bagi Olivia untuk bisa sampai melahirkan anak-anaknya, mengingat Olivia menderita penyakit jantung Kardiomiopati.

Olivia tersenyum, cairan bening menetes dari kedua matanya.

"Jaga dan rawat baik-baik anak kita mas," ucap Olivia lirih.

"Pasti sayang, kita akan merawat dan menjaga mereka bersama-sama," sahut Bara dengan senangnya.

"Tidak mas, aku tidak bisa merawat mereka bersamamu, waktuku sudah tidak lama lagi,"

Mendengar ucapan istrinya, Bara langsung naik dan duduk di ranjang pasien, disandarkannya kepala Olivia di dada bidangnya.

"Tidak sayang, kau jangan bicara seperti itu, kita akan melihat mereka tumbuh bersama. Kamu pasti bisa, kamu sudah berhasil melahirkan mereka, bukankah kamu ingin merawat mereka dengan tanganmu sendiri?"

"Maafkan aku mas, aku hanya bisa menemani mas sampai di sini, aku sudah tidak kuat lagi. Jaga dan rawat mereka baik-baik, Ikhlaskan kepergianku dan setelah aku tiada, segeralah mencari penggantiku. Aku titip mama dan adikku Varel," suara Olivia semakin melemah.

" Tidak sayang, kamu bicara omong kosong apa, kita akan terus bersama, kita akan menua bersama menyaksikan anak kita dewasa dan menikah, seperti janji kita selama ini, kamu satu-satunya dan tak akan terganti. Aku tidak rela jika kamu meninggalkan aku, aku akan ikut bersamamu jika kamu pergi," ucap Bara dengan nada bergetar, sekuat mungkin ia menahan air matanya yang sudah menggunung di sudut matanya.

" Mas jangan egois, bagaimana dengan Nathan dan Nala? Mas harus menjaga dan membesarkan mereka, berjanjilah kepadaku, mas akan hidup dengan baik dan bahagia bersama mereka,"

Ya, sejak dalam kandungan, mereka berdua sudah memberi nama kedua bayinya Nathan dan Nala yang artinya hadiah dari Tuhan.

"Tidak sayang, kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita, kamu jangan bicara lagi," Bara semakin mengeratkan pelukannya.

"Berjanjilah mas, demi anak kita, kamu harus hidup dengan baik. Aku mencintaimu mas Bara," Kalimat terakhir yang terucap dari bibir indah Olivia, sebelum akhirnya di memejamkan matanya. Tangannya yang semula menggenggam lengan Bara erat, mulai mengendur.

"Sayang, Olivia bangunlah!" Bara menepuk-nepuk pipi Olivia, detik kemudian ia langsung memeluk erat tubuh sang istri, cairan bening yang sedari tadi ia tahan, kini lolos begitu saja membasahi wajah tampannya, ketika Bara menyadari kalau istrinya telah tiada.

" Tidaaak! Jangan tinggalkan aku Olivia, aku mohon bangunlah sayang, buka matamu, arrrggghhhh ha ha ha, arrrggghhh!!" Bara semakin mengeratkan pelukannya, ia terus mengguncang tubuh sang istri yang sudah tiada tersebut, ia terus menangis dan berteriak.

" Aku tahu kau hanya bercanda sayang, bangunlah, kenapa kamu tega meninggalkan aku Olivia, bagaimana aku harus hidup tanpa kamu sayang, aarggh!"

Bara terus menghujani wajah Olivia dengan ciuamannya.

"Aku mencintaimu Olivia sayang, aku janji akan merawat anak kita dengan baik, tunggulah aku di sana, bila waktunya sudah tiba aku akan menyusulmu," satu kecupan lembut Bara daratkan di kening Olivia. Sekuat apapun seorang Bara, ia tetap tidak bisa menyembunyikan air matanya yang lolos begitu saja, mewakilkan rasa sakit di hatinya tatkala melihat wanita yang paling ia cintai telah tertidur untuk selamanya.

Di peluknya lagi jasad sang istri dengan sangat erat, ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia tak pernah menyangka, wanita yang baru satu tahun menyandang status nyonya muda Osmaro tersebut, akan secepat ini meninggalkannya dan kedua buah hati mereka yang baru saja lahir.

" Oek... Oek.. Oek.. "Tak hanya Bara yang menangis, kedua bayi kembarnya juga menangis, seakan tahu jika mereka tidak akan pernah melihat wajah sang ibu untuk selamanya.

Mendengar tangis kedua anaknya, hati Bara semakin hancur, bagaimana dia akan membesarkan mereka tanpa istrinya. Bagaimana anak-anaknya akan tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu.

"Daddy akan merawat dan membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang, daddy janji akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk kalian, Nathan dan Nala, Anak-anakku sayang," lirih Bara.

🌼 🌼 🌼

Lima tahun kemudian...

"Tidak Olivia, jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi.. Olivia!" Teriak Bara yang langsung membuka kedua matanya. Ia mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan.

"Kau menemui ku lagi sayang, apa kamu merindukan aku, seperti aku merindukan kamu, tapi kenapa kamu tak menjemput ku jika kamu merindukan aku Olivia sayang," gumam Bara dalam hatinya.

Meskipun sudah lima tahun Olivia meninggal, Bara masih selalu memimpikan mendiang istrinya tersebut. Di depan orang lain, ia selalu bersikap biasa, terutama di depan kedua buah hatinya. Akan tetapi, dalam hatinya, ia selalu merindukan sosok istrinya tersebut.

Bara melihat ke arah jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Ia langsung menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.

Saat keluar dari kamar mandi, Nala sudah berdiri di depan pintu dengan wajah cemberutnya. Di tangan kanannya ia memegang sisir, sedang di tangan kirinya ia memegang pita berwarna pink. Gadis kecil tersebut sudah mengenakan seragam sekolah rapi, namun rambutnya masih berantakan.

"Princess, kenapa kau cemberut hem?" Bara mendekati Nala sambil mengacak-acak rambutnya yang setengah basah menggunakan handuk. Ia berjongkok di depan putri kecilnya, diusapnya dengan lembut pipi Nala.

"Daddy lupa lagi kan?" ucap Nala dengan nada kecewa. Mulutnya mencebik.

"Tidak sayang, daddy tidak lupa," balas Bara yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

"Kalau begitu, ini!" Nala menyodorkan sisir dan juga pita yang ia pegang kepada Bara.

"Apa ini?" tanya Bara.

Nala membuang napasnya kasar, tangannya ia silangkan di depan dadanya, bibirnya mengerucut, tampak sekali kekesalan di wajah cantik dan imutnya.

"Katakan!" Bara menyadari ada yang tidak beres.

"Tuh kan, Daddy pasti lupa! Daddy kan sudah janji mau menguncir rambut Nala, daddy juga janji daddy akan mengantar Nala dan Nathan ke sekolah hari ini," ucap Nala, air matanya hampir tumpah karena kecewa. Anak perempuannya tersebut memang lebih cengeng dan lembut hatinya di banding anak laki-lakinya yang lebih mirip dengannya.

"Astaga! Aku lupa! Mana sekarang aku harus buru-buru ke kantor, ada meeting penting pagi ini," batin Bara.

"Oh tentu saja daddy enggak lupa princess sayang, sini daddy kuncir rambutnya," ucap Bara berbohong, supaya Nala tidak bertambah merajuk.

"Pembohong!" Cebik Nala.

Bara menarik tangan Nala dan menuntunnya untuk duduk di atas tempat tidurnya. Ia mulai menyisir rambut Nala dan menguncirnya. Bara tidak pandai melakukan hal itu, tapi ia selalu melakukannya, meskipun pada akhirnya Nala selalu kecewa dengan hasil kuncirannya yang menurut Nala jelek dan begitu-begitu saja modelnya. Tapi, Bara selalu bilang kalau dia akan belajar model lainnya, dan sekarang Nala sedang menagih janjinya tersebut.

"Udah selesai princess," ucap Bara, yang telah selesai memasangkan pita di rambut sang anak.

Nala masih memegang satu pita, yang berati baru satu pita yang ayahnya pasangkan. Ia meraba kepalanya, kemudian ia menunduk dan mendengus.

"Ada apa? Kenapa? Daddy sudah menguncir rambutmu," ucap Bara.

"Daddy, katanya mau menguncir kepang dua rambut Nala, kenapa cuma satu? Kuda poni lagi, kuda poni lagi, selalu model kuncir kuda poni, Nala mau model yang lain daddy," kesal Nala dengan nada khas anak-anak.

"Oh, maafkan daddy sayang, akhir-akhir ini daddy sibuk, jadi belum sempat belajar kuncir-kunciran sayang, hari ini kuda poni dulu ya, nanti daddy akan belajar kuncir kuda-kuda yang lain sayang, jangan marah princess," Bara mengusap kepala Nala lembut.

Nala turun dari tempat tidur.

" Huh, daddy selalu saja sibuk. Lihatlah, udah kuda poni, nggak rapi lagi. Coba Nala punya mommy, kayak teman-teman, pasti Nala bisa datang ke sekolah dengan rambut yang cantik," ucap Nala sedih.

Mendengar ucapan sang anak, membuat hati bara sakit. Seandainya istrinya masih ada, pasti semua akan baik-baik saja.

"Ya sudah, Nala turun dulu daddy, Nala tunggu di bawah untuk sarapan, Nala akan memanggil Athan," ucap Nala, kemudian berjalan kearah pintu untuk keluar.

"Princess, maafkan daddy," Ucap Bara dengan nada menyesal. Nala berhenti dan menoleh ke arah Bara.

"It's okay daddy, cepat ganti baju dan turun," sahut Nala. Ia tahu, daddynya sedih mendengar ucapannya tadi.

"Hem," balas Bara singkat dengan senyum di bibirnya.

"Sayang, apa kau lihat, anak gadismu sangat mirip denganmu, bahkan dia sekarang sudah bisa protes ini itu sama daddynya, seandainya saja..." Batin Bara. Ia menatap photo Olivia yang ada di atas nakas samping ranjang tidurnya.

💠Hai,, ini adalah novel kedua author, semoga kalian menyukainya. Jangan lupa juga buat membaca novel author yang satunya, yang berjudul" My Husband is My Presdir: jodoh wasiat kakek". Klik saja profil author nanti akan muncul.

Jangan lupa juga like komen dan votenya, serta pencet ❤️nya, terima kasih 🙏🙏 salam hangat author❤️❤️💠

Bab 2

"Athan! Ayo cepatlah kita turun, Nala sudah lapar!" Teriak Nala memanggil saudara kembarnya dengan suara cadel dan centilnya. Athan adalah panggilan Nala kepada Nathan.

Nathan yang mendengar teriakan Nala langsung keluar dari kamarnya dengan wajah kesal.

"Kau berisik sekali Nala, gendang telingaku hampir pecah karena suara cemprengmu itu. Kalau lapar mana ada tenaga buat teriak-teriak begitu," ucap Nathan mengusap-usap telinganya dan langsung jalan mendahului Nala.

"Kalau Nala enggak teriak, mana Athan dengar, huh!" cebik Nala lalu menyusul kembarannya tersebut.

Nathan dan Nala duduk di kursi sambil menunggu ayah mereka datang. Nathan memepehatikan Nala sekilas lalu tertawa.

"Rambutmu berantakan sekali, siapa yang menguncirnya? Jelek!" ledek Nathan.

"Diamlah! Ini hasil karya daddy, dan aku menghargainya," timpal Nala dengan nada sedih, sebenarnya ia bisa meminta bantuan bibi pengasuhnya untuk membenarkannya, tapi ia tidak mau.

"Hai boy! Selamat pagi!" sapa Bara mencium puncak kepala Nathan.

"Daddy stop mencium Nathan, Nathan bukan anak kecil lagi, huh untung hanya Nala yang melihat," protes Nathan sambil mengusap kepalanya sendiri.

Bara hanya menanggapinya dengan senyuman, ciumannya beralih ke putrinya, Nala.

"Princess daddy, kenapa masih cemberut?" tanya Bara, ia menarik kursi dan mendudukinya.

"Athan meledekku daddy," menatap tajam Nathan tak lupa jari telunjuknya ia arahkan ke saudara kembarnya tersebut.

"Apa? kenapa menatapku seperti itu Nala? Emang benarkan kuncir kuda ponimu sangat jelek dan berantakan," cibir Nathan.

"Daddy, hua hua hua, Nathan jahat, Nala benci Nathan, hua hua hua,"

Bara menghela napasnya panjang, drama seperti ini terjadi hampir setiap pagi di kediamannya. Namun, hal itulah yang membuat rumahnya yang sangat besar tersebut menjadi berwarna.

"Princess sayang, dengar daddy, kamu selalu cantik, jangan dengarkan kakakmu, dia hanya bergurau, oke?" ucap Bara sambil menyodorkan sandwich kepada Putri kecilnya.

"Benarkah daddy? Seperti mommy?" Nala ingin menegaskan, Bara memang selalu bilang kepada anak perempuannya jika ia sangat cantik seperti ibunya.

"Yups, seperti mommy," sahut Bara.

"Dan kamu boy, jangan suka mengganggu adikmu, tidak baik bertengkar dengan saudara sendiri, bantu daddy menjaganya, oke?" Bara tahu, walaupun suka meledek adik kembarnya, namun Nathan sangat peduli dan menyayangi Nala.

"Tuh dengar kata daddy, kamu adikku, jadi panggil aku kakak," melirik Nala.

"Kita kembar Athan," Nala tak mau kalah.

"Tetap saja aku kakakmu, kamu kecil dan pendek. Cepat panggil aku kakak, atau nanti jika ada yang mengganggumu di sekolah, aku tidak mau membantu," Ucap nathan, kedua tangannya ia silangkan di depan dadanya, wajahnya melengos ke samping.

"Tidak mau, Athan nakal!!"

"Sudah, sudah, cepat kalian selesaikan makannya, daddy harus berangkat sekarang," Bara berdiri dan mencium kedua buah hatinya bergantian dan tentu saja Nathan keberatan dengan ciuman itu.

"Ciuman itu hanya untuk anak perempuan daddy, aku laki-laki! Lain kali jangan lakukan lagi!" ucap Nathan dengan wajah arogannya.

"Astaga, kenapa anak laki-lakiku begitu arogan dan dingin? Seperti dejavu," batin Bara. Bara mengacak rambut Nathan dan tersenyum lalu berbalik badan untuk meninggalkan mereka.

"Daddy pembohong, ingkar janji!" teriak Nala menangis.

Bara menghentikan langkahnya, ia memejamkan matanya sekejap lalu menoleh.

"Maaf sayang, hari ini daddy benar-benar tidak bisa mengantar kalian ke sekolah, kalian pergi sama nanny dan pak sopir ya?" ucap Bara.

"Baiklah," sahut Nala lirih, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya. Ia tahu, ayahnya paling tidak suka di bantah.

Bara tersenyum getir, ia bisa melihat Nala begitu sedih, tidak seperti Nathan yang pintar menyembunyikan perasaannya, persis seperti dirinya. Bara melanjutkan langkahnya.

"Daddy tunggu!" teriakan Nala kembali menghentikan langkah Bara.

"Dasi daddy tidak benar, berantakan!" Nala menunjuk ke arah dasi yang Bara kenakan.

"Apakah princess mau membantu membenarkannya?" tanya Bara.

Nala menggeleng.

"Nala tidak bisa daddy, itu tugas mommy, maaf, kalau Nala udah besar pasti bisa," Nala menundukkan kepalanya.

Bara kembali mendekati putri kecilnya tersebut, dan tersenyum. Di ciumnya kening sang putri.

"Kalau begitu, nanti daddy benarkan sendiri, kalian lanjutkan makan, daddy berangkat dulu. Boy, jaga adikmu!" Bara menoleh ke arah Nathan yang sedang asyik makan dan cuek dengan keadaan sekitar.

"Huh, sepertinya aku harus mencarikan dady seorang istri, biar ada yang mengurus, memasang dasi saja tidak bisa," gumam Nathan. Bara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, anak laki-lakinya tersebut, terkadang memang dewasa sebelum waktunya.

"Kamu benar Athan, Nala setuju, biar nala ada temannya, yang syantik," sahut Nala dengan polosnya.

Saat bara melewati pintu, ibu mertuanya yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri datang.

" Mama, kenapa ke sini pagi-pagi?" tanya Bara.

"Tentu saja untuk mengantar cucu kesayanganku ke sekolah, karena kamu pasti tidak bisa mengantar mereka dengan alasan sibuk," sahut bu Lidya.

Bara mengernyitkan keningnya.

"Mereka ada nanny dan sopir, cepat katakan kenapa kemari?" Bara tahu, pasti mertuanya ada maksud lain, hingga pagi-pagi sudah menyambangi kediamannya.

"Katakan apa? Mama hanya mau menjenguk cucu-cucu mama, mama akan tinggal beberapa hari di sini karena satu minggu lagi mereka akan berulang tahun, mama akan menyiapkan pesta untuk mereka, kamu tidak lupa kan?"

Tentu saja Bara ingat, karena di hari kelahiran anaknya, Bara juga kehilangan istri tercintanya. Di seperti mendapat kebahagiaan dan kesedihan di waktu yang bersamaan.

" Hem, aku berangkat dulu," Bara mencium tangan ibu mertuanya.

" Tunggu, em bagaimana dengan perempuan yang mama kirimkan photonya kemarin? Cocok kan untuk menjadi mommy si kembar? Kapan kalian akan bertemu?"

"Sudah ku duga, pasti ada udang di balik bakwan. Ujung-ujungnya pasti ngomongin jodoh, calon istri, ibu untuk si kembar bla bla bla," Batin Bara yang sudah hafal dengan tabiat mertua tersayangnya tersebut. Ini sudah kesekian kalinya bu Lidya memintanya untuk melakukan kencan buta dengan seorang wanita, dari yang seorang dokter, artis papan atas, hingga pengusaha kaya, semuanya Bara tolak sebelum ia bertemu mereka. Ia tak berniat sama sekali untuk menikah lagi.

"Em, besok Bara akan mencari sopir lagi buat mama, biar mama nggak menyusahkan Varel lagi, tapi jangan di pecat lagi kalau sudah ada sopir baru," Bara mengalihkan pembicaraan, ia paling tidak suka membahas wanita lain, apalagi membahas tentang pernikahan.

"Mama tidak akan memecatnya kalau dia tidak kurang ajar, meminta mama menjadi istrinya. Emang mama perempuan apaan, eh kok malah bahas mama sih, kan sedang ngomongin anak teman mama,"

"Bara sibuk, tidak ada waktu untuk membahas hal tidak penting seperti itu, Bara berangkat dulu, Varel sudah menunggu," ucap Bara beralasan, ia melambaikan tangan ke arah adik iparnya yang sedang menunggunya di samping mobil, mereka akan berangkat ke kantor bersama.

Sejurus kemudian, Bara sudah masuk mobil dan Varel langsung menjalankan mobilnya sesuai perintah Bara.

" Dasar menantu tengil! , apa kamu lihat-lihat?" bu Lidya mengepalkan tangannya ke arah dua laki-laki yang berdiri tegap di depan rumah Bara. Kedua kedua laki-laki tersebut hanya menunduk sambil menahan tawanya.

"Halo every body! Si kembar kesayangan Oma, i'am coming yuhuuu!" seru bu Lidya menghampiri kedua cucunya yang sedang asyik sarapan.

"Tuh Nala, kembaran kamu datang," bisik Nathan saat mendengar suara omanya yang heboh.

"Kembaranku kamu Athan," cebik Nala, sambil mengunyah sandwich yang baru saja ia gigit.

"Tapi kamu lebih mirip dengan oma," ledek Nathan.

"Tidak, aku syantik seperti mommy, kata daddy," Timpal Nala santai sambil mengayun-ayunkan kakinya yang menjuntai dan belum sampai di lantai tersebut.

🌼 🌼 🌼

💠Jangan lupa like, komen dan votenya, serta masukkan ke dalam list ❤️ kalian.

Baca juga novel author yang lainnya yang berjudul My Husband is My Presdir : jodoh wasiat kakek

terima kasih 🙏🙏

salam hangat author ❤️❤️💠

Bab 3

"Ada apa kak? Apa mama menyuruh kakak untuk menikah lagi?" tanya Varel seolah tahu penyebab kekesalan di wajah Bara.

"Sudahlah, aku tak ingin membahasnya, seperti apapun mama memaksa, aku tidak akan menikah lagi, aku hanya menunggu waktu sampai Olivia menjemputku," desah bara.

Varel tak melanjutkan bicaranya lagi, ia tak ingin membuat kakak iparnya tersebut semakin kesal. Karena jika seorang Bara sudah mengeluarkan taringnya, raja hutan pun akan takut kepadanya.

Varel malah asyik makan kue macaron yang seharusnya ibunya berikan kepada si kembar sambil mengemudikan mobilnya.

Bara hanya melirik sekilas ke arah Varel yang begitu menikmati kue macaron yang dari warna dan aromanya sangat menggoda tersebut.

"Kakak mau?" tawar Varel.

"Tidak,"

"Ini enak banget tahu kak, aku aja kemarin habis banyak, dan ini sebenarnya jatah si kembar, tapi tadi mama lupa membawanya, yasudah aku makan aja. Nih coba!" menyodorkan kepada Bara.

"Tidak, pagi-pagi sudah makan kue seperti itu,"

"Ayolah aaaaak!" Varel memaksa memasukkan kue macaron tersebut kepada Bara.

Raut wajah Bara seketika berubah menyeramkan, Varel yang menyadari kekurang ajarannya langsung menciut nyalinya.

"Sorry kak, habisnya ini macaron lain dari yang lain, aku cuma kakak mencobanya hehehe peace," ucap bara nyengir.

Bara yang awalnya ingin marah, mendadak luluh ketika merasakan enaknya macaron yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya tersebut.

"Rasanya lumayan," batin bara.

"Gimana? Enak kan? Ini tokonya padahal kecil, tapi kue-kuenya uenak-uenak, aku baru nemu kemarin, si kembar pasti senang kalau di ajak ke sana. Mereka kan penggila macaron," oceh Varel. Bara tak menanggapinya, dia hanya duduk seperti patung sambil bersedekap di dalam mobil yang sedang menuju ke kantornya tersebut.

Tiba-tiba, Varel mengerem mobil yang ia kemudikan.

"Kenapa mengerem mendadak? Mau membunuhku? " tanya Bara sambil memegangi keningnya karena kejedot.

"Kita hampir menabrak seorang gadis kak," sahut Varel sambil mengelus dadanya lega karena dia mengerem mobilnya tepat waktu.

Seorang gadis cantik yang hampir saja tertabrak tersebut, mendekat ke arah mobil Varel lalu mengetuk-ngetuknya.

Varel membuka kaca mobilnya, ia terdiam karena terpana melihat sosok gadis yang kini sedang merutukinya.

"Kalau tidak bisa menyetir, nggak usah bawa mobil dong! bahaya tau! ini jalan bukan punya nenek moyang Anda, jadi jangan seenaknya saja, bagaimana kalau orang lain celaka karena Anda?" umpat gadis tersebut.

Bara yang melihat adik iparnya hanya bengong saja langsung mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan menyerahkan kepada gadis tersebut.

"Ini sebagai ganti rugi!" ucapnya dengan angkuh dan dingin sambil menyodorkan uangnya.

Gadis tersebut terpesona melihat ketampanan Bara. Seakan terhipnotis oleh ketampanan Bara, gadis tersebut melongo, ia mengulurkan tangannya untuk menerima uang tersebut tanpa sadar.

"Cepat jalankan mobilnya Rel," Bara menepuk pundak Varel untuk menyadarkan Varel dari lamunannya.

Gadis tersebut juga tersadar dari lamunannya,

"Tunggu tuan, ini! Saya tidak butuh uang Anda, saya hanya mau Anda lebih hati-hati dalam mengemudi kedepannya, jangan sampai membahayakan nyawa orang lain," ucap gadis tersebut tegas sambil mengembalikan uang yang di berikan oleh Bara dengan cara melemparnya.

Varel ingin menjelaskan dan meminta maaf kepada gadis tersebut, namun Bara menyuruh Varel untuk segera melajukan mobilnya dan Varel tidak bisa membantah, karena memang mereka ada rapat penting dan harus segera sampai ke kantor secepatnya.

" Dasar cewek bar-bar!" gumam Bara.

"Tahu gini, tadi aku nggak berangkat sama kamu Rel, sekalinya bareng, sial!" umpat Bara.

"Sorry kak, sorry. Lagian tuh muka biasa aja dong, jangan terlalu kaku dan menyeramkan kalau di depan para wanita, apalagi gadis secantik tadi," ucap Varel.

Bara tak menanggapinya. Ya, begitulah Bara, terlalu sulit untuk di sentuh, kaku dan irit bicara terhadap orang lain, apalagi dengan makhluk yang bernama perempuan, berbeda ketika ia berhadapan dengan kedua buah hatinya.

" Kalau begini terus, kapan si kembar bisa punya mommy," gumam Bara.

"Jalankan saja mobilnya, jangan banyak bicara!" ucap Bara tegas.

" Dasar orang kaya sombong! di pikir dengan uang semuanya beres apa, untung ganteng woi dasar!" teriak gadis tersebut, sambil memperhatikan mobil yang ditumpangi Bara dan Varel berlalu meninggalkannya.

Tiba-tiba, ponsel ponsel gadis tersebut berdering. Ia meraba-raba ke dalam tasnya dan mengambil ponselnya.

"Dokter Rendra?" gumamnya, gadis tersebut langsung mengangkat panggilannya, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada adiknya yang sedang di rawat di rumah sakit dan dalam keadaan koma.

"Halo dokter Rendra, apa terjadi sesuatu terhadap adik saya?" tanyanya cemas.

" Tidak Syafira, adik kamu masih dalam keadaan sama, belum ada perubahan,"Jawab dokter bernama Rendra tersebut.

" Terus, kenapa Anda menelepon saya? Apakah untuk menagih biaya rumah sakit adik saya? Tolong beri saya sedikit waktu dok, saya akan membayarnya, saya usahakan secepatnya," ucap gadis yang ternyata bernama Syafira tersebut.

" Oh tidak Fira, bukan begitu, kalau maslah biaya kamu tidak usah khawatir, saya akan membantu kamu. Maksud saya menelepon kamu adalah saya ingin mengajak kamu makan siang, apakah nanti siang kamu ada waktu?"

" Maaf dok, siang nanti, sehabis kuliah saya harus ke toko, ada pesanan yang harus saya selesaikan siang ini, dan Rani tidak bisa menyelesaikannya sendiri," balas Fira. Rani Adalah tetangganya yang bekerja membantunya di toko.

" Baiklah kalau begitu lain kali saja, " ucap dokter Rendra kecewa, karena untuk kesekian kalinya gadis pujaan hatinya tersebut menolak untuk di ajak jalan atau sekedar makan siang.

Syafira segera menutup teleponnya, dan langsung ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas, tangannya melambai-lambai menghentikan angkot yang lewat untuk menuju ke kampusnya.

"Maafkan saya dokter Rendra, saya tidak bisa membalas perasaan Anda kepada saya, untuk uang perawatan Adel, akan saya ganti cepat atau lambat," batin Syafira yang baru saja mendaratkan pantatnya di dalam angkot tersebut.

Syafira menghela napasnya kasar, satu bulan terkahir ini, beban hidup yang harus ia jalani terasa sangat berat. Sekitar satu bulan yang lalu, ayah dan juga adik perempuan satu-satunya mengalami kecelakaan saat sang ayah hendak mengantar adiknya yang bernama Adelia ke sekolah. Nyawa ayahnya tidak tertolong sementara sang adik koma hingga sekarang belum juga tersadar dari komanya.

Ayahnya meninggalkan hutang yang cukup besar, ia meminjam uang kepada seorang rentenir dengan jaminan rumah dan juga toko kue kecil yang menjadi penopang hidup mereka.

Jika rumah dan toko kuenya disita, ia tak tahu lagi harus tinggal dan membiayai hidupnya dari mana. Sebenarnya ada cara lain supaya rumah dan toko kuenya tetap menjadi miliknya, dan hutangnya lunas, yaitu dengan menjadi istri ke empat sang rentenir, tentu saja Syafira tidak mau.

Toko kue yang baru ia buka kembali sekitar dua minggu yang lalu setelah kematian sang ayah tersebut hanya mampu untuk membiayai makannya, dan membayar satu-satunya karyawan yang bekerja padanya. Lalu bagaimana ia harus mengumpulkan uang untuk biaya perawatan sang adik di rumah sakit? Beruntung, ada dokter Rendra yang mau menolongnya dengan menanggung biaya rumah sakit sang adik yang tidak sedikit jumlahnya tersebut. Namun, Syafira menganggapnya sebagai hutang yang harus ia bayar. Meskipun dokter Rendra tidak mengharapakan uangnya di bayar kembali, karena dia menyukai Syafira sejak lama. Namun, Syafira tidak bisa membalas perasaan dokter tampan tersebut karena kedua orang tua dokter Rendra tidak menyukai Syafira yang hanya anak dari orang biasa. Jika mereka tahu Dokter Rendra membantunya, pasti mereka akan semakin tidak menyukai Syafira.

Syafira sendiri mengenal Rendra sudah cukup lama, karena dokter Rendra adalah kakak dari Mia, sahabat Syafira sejak SMA.

Syafira bingung, darimana ia bisa mendapatkan uang untuk menyelesaikan semua masalahnya tersebut.

"Non, sudah sampai non!" Suara sopir angkot membuyarkan lamunan Syafira. Ia segera membayar angkotnya dan turun.

Syafira memasuki kampus yang sudah dua tahun ini menjadi tempatnya menimba ilmu tersebut. Ia mendapat beasiswa penuh sampai lulus nanti karena kecerdasannya. Sehingga ia tidak perlu pusing memikirkan biaya kuliahnya lagi.

"Fira!" teriak Shinta, salah satu sahabat Syafira.

"Aduh Shin, pelankan sedikit suaramu, kayak di hutan aja," ucap Syafira sambil memegangi telinganya.

"Hehe, eh aku lihat tadi kamu turun dari angkot? Si william kemana?" tanya Shinta.

"William lagi ngambek, nggak mau nganterin ke kampus, jadi ya ngangkot deh," sahut Syafira.

Shinta hanya ber-oh-ria mendengarnya.

"Mia belum datang Shin?" tanya Syafira.

"Belum, tadi sih katanya lagi di jalan, ke kantin dulu yuk, belum sarapan nih aku," ajak Shinta.

"Belum dua kali kan?"

"Hehe tahu aja, ayuk ah cus!" menarik tangan Syafira, Syafira hanya pasrah mengikutinya.

🌼🌼🌼

Visual

Bara (Barata Ken Osmaro)

Syafira (Syafira Maharani)

💠Jangan lupa like, komen dan votenya. Serta pencet ❤️.

Jangan lua juga baca novel author yang satunya, yang berjudul "my husband is My presdir : jodoh wasiat kakek"

Terima kasih🙏🙏🙏, salam hangat author❤️❤️💠

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!