"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu. Lakukan apapun yang kamu suka sambil menunggu Violet pula sekolah"
Cup
Kata-kata manis dan sebuah kecupan yang begitu hangat dan lembut selalu diberikan Andre pada Rosa istri yang sudah dinikahinya selama lima tahun lebih itu. Sebelum dia berangkat ke kantor.
Andre adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Dia bersama dengan Rosa dulu berjuang dari belum jadi apa-apa bersama. Dia mahasiswa lulusan design dari sebuah universitas yang sama-sama berjuang demi membangun usaha dan keluarga kecil mereka benar-benar dari nol.
Rosa tahu, Andre sangat mencintainya. Begitu pula sebaliknya, Andre juga tahu, kalau istrinya sangat mencintainya.
Setelah usaha mereka berkembang dan maju, Andre meminta Rosa hanya menjadi ibu rumah tangga. Andre ingin memanjakan istrinya itu setelah Rosa juga sama-sama berjuang bersamanya. Setidaknya itu yang dia katakan pada Rosa.
Sementara Rosa, dia sebenarnya punya nama belakang yang cukup besar. Rosa Casario, sebuah nama keluarga yang terkenal di kota S. Pemilik banyak sekali rumah produksi dan perusahaan otomotif Casario.
Hanya saja, cinta membuatnya menjadi tidak realistis. Bahkan meninggalkan nama besar keluarganya dan memilih hidup bersama Andre. Karena keluarganya saat itu menentang hubungannya dengan Andre, yang hanya pemuda miskin dan latar belakangnya tidak jelas.
Namun, semua pengorbanan Rosa itu rasanya setimpal. Dia punya suami yang benar-benar mencintainya. Dimata semua orang, kedua pasangan ini juga sangat romantis dan harmonis.
Hanya saja, kesibukan Andre yang perusahaannya semakin maju akhir-akhir ini. Membuatnya tak punya banyak waktu untuk Rosa dan Violet. Namun sang ibu dan ayah mertua yang juga tinggal di rumah besar itu. Membuat Rosa tidak terlalu kesepian.
"Menantuku, sarapan dulu. Ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu!" kata Aliyah, ibu mertua Rosa.
Kebahagiaan apalagi yang kurang bagi Rosa. Suaminya begitu mencintainya, anaknya tumbuh dengan sehat dan cantik, ibu dan ayah mertuanya juga begitu sayang padanya.
Bahkan ketika dia belum bangun, ibu mertuanya membuatkan sarapan untuknya yang memang kurang pandai memasak.
"Terimakasih ibu"
"Kenapa berterimakasih? kamu menantu ibu, sama saja seperti putri ibu. Ibu sudah suapi Violet, dia sedang bermain dengan kakeknya. Jika kamu bosan, maka kamu bisa ajak Violet jalan-jalan!"
Rosa mengangguk sambil tersenyum. Dia benar-benar beruntung memiliki ibu mertua yang sangat baik.
**
Rosa mengajak Violet berjalan-jalan di taman dekat dengan perumahan tempatnya tinggal.
"Ibu, aku mau ambil bunga itu!" kata gadis kecil berkuncir dua yang bahkan sudah berlari ke arah bunga yang ingin dia petik itu.
"Pelan-pelan Violet!" kata Rosa yang mengikuti langkah anaknya itu dari belakang.
Rosa tetap mengawasi putrinya yang berdiri berjarak hanya setengah meter darinya. Tiba-tiba notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Deg
Mata Roda melebar, dan wajahnya terlihat sendu. Pesan itu adalah pesan gambar. Yang menunjukkan seorang pria dengan jas dan kemeja yang sama persis seperti Andre. Sedang memeluk seseorang, dengan begitu erat.
Bahu Rosa terangkat sedikit, dia memperhatikan gaun yang di pakai wanita itu. Dia merasa sangat familiar dengan gaun itu.
Nomor pengirim pesan itu sama sekali Rosa tidak kenal. Namun selama ini suaminya sangat bersih. Tidak mungkin rasanya suaminya main api.
Rosa mencoba menghela nafas panjang. Dia mencoba berpikir positif. Dia mencoba untuk berpikir, kalau mungkin saja suaminya tidak sengaja menabrak seorang wanita, dan takut wanita itu jatuh. Makanya dia memeluknya.
Rosa terus menghela nafasnya. Dia benar-benar tidak mau punya pikiran macam-macam.
"Huhh, tidak mungkin. Mungkin ini editan, ya pasti editan!" ujarnya yang terus berusaha menjaga kepercayaannya pada suaminya yang selama lima tahun ini sudah bersama dengannya dan sangat setia.
"Ibu, ini untuk ibu!"
Violet datang dan menyerahkan bunga yang dia petik.
"Terimakasih, sayang"
Perhatian Violet sedikit membantu rasa resah di dalam hati Rosa hilang.
Hingga keduanya lanjut berjalan menuju ke arah sebuah toko eskrim. Notifikasi ponsel Rosa kembali berbunyi.
Sebuah gambar kembali terlihat, kali ini sebuah cincin berlian dipamerkan wanita itu. Dan ada chat di bawahnya.
'Suamimu, baru saja memberikan cincin mahal ini untukku. Karena dia sangat puas denganku. Oh ya, aku tinggalkan tanda di tubuh suamimu, jangan lupa periksa. Di dada sebelah kiri'
Deg
Tangan Rosa bergetar. Dia nyaris menjatuhkan ponselnya. Nafasnya juga terasa tercekat.
"Ibu, mau?" tanya Violet yang langsung membuat Rosa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Violet, apa setelah ini kita bisa pulang? ibu merasa tidak enak badan!" kata Rosa pada putri kecilnya.
Dan gadis kecil berkuncir dua itu langsung mengangguk. Dia membawa eskrimnya dan berjalan di gandeng oleh Rosa.
Sepanjang jalan menuju ke rumah, Rosa terus memikirkan apa yang dikatakan wanita yang rasanya familiar itu gaun dan bentuk tangannya.
Rosa berhenti, ketika dia merasa putrinya juga berhenti berjalan.
Rosa menoleh ke arah putrinya yang berhenti berjalan, sambil melihat ke arah sebuah keluarga yang tampak begitu harmonis. Dengan ayah, ibu dan anak sebaya Violet yang sedang bermain bola bersama di taman itu.
"Ibu, apa ayah sangat sibuk? kenapa tidak pernah mengajakku bermain seperti itu lagi?" tanya Violet menoleh ke arah Rosa.
Tatapan mata anaknya itu membaut hati Rosa merasa sedih. Dia sendiri tidak tahu apa dia harus percaya pada gambar itu, atau pada suaminya sekarang. Hatinya mulai goyah, masalahnya jas itu benar-benar jas suaminya. Dan kartu kredit yang di tunjukkan wanita itu di gambar bersama cincin berlian itu juga adalah kartu kredit dengan nomor id milik suaminya.
Rosa berjongkok. Meski saat ini hatinya pun sedang resah. Namun dia sama sekali tidak ingin membuat anaknya sedih dan berpikir macam-macam.
"Violet, ayah sedang sangat sibuk bekerja. Untuk Violet, untuk ibu, dan untuk kakek juga nenek. Ibu bisa bermain dengan Violet, ayo kita cari bola!" ajak Rosa.
Namun gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak usah ibu, ibu sedang tidak enak badan. Nanti saja kalau ibu sudah sembuh!" kata Violet yang membaut Rosa langsung tersenyum.
Rosa memeluk anaknya. Anaknya adalah anak yang cerdas dan pengertian. Dia benar-benar merasa takut. Jika suaminya memang selingkuh, maka bagaimana dia menghadapinya nanti? dia bahkan tidak pernah berpikir hal itu bisa terjadi. Dia terlalu percaya pada suaminya. Dia terlalu takut, keluarganya yang sangat harmonis ini tiba-tiba retak dan hancur.
'Ya Tuhan, aku mohon. Semoga itu hanya kerjaan orang iseng' batin Rosa yang meski sudah sangat terganggu pikiran dan hatinya dengan beberapa pesan dari wanita yang dia belum tahu siapa itu, tapi masih berharap kalau itu hanya candaan dari seseorang yang iseng saja.
Dia sungguh tidak ingin keluarganya yang sangat bahagia ini rusak.
***
Bersambung...
"Sayang, kamu sedang apa?"
Rosa menoleh ke arah pintu masuk kamarnya, lalu ke arah jam di dinding kamar mereka itu. Sudah jam 11 malam, dan suaminya baru pulang.
"Aku, tidak bisa tidur. Jadi, aku membaca buku!" kata Rosa yang meletakkan buku itu dah menghampiri suaminya.
Rosa meraih jas yang di lepaskan oleh suaminya.
"Aku akan mandi"
Rosa baru mau memeluk Andre, tapi pria itu segera berjalan ke arah kamar mandi.
Rosa mematung di tempatnya, melihat suaminya pergi begitu saja. Saat dia mengarahkan tangannya ingin memeluk suaminya. Bahkan saat ini, posisi tangan Rosa masih seperti tadi.
Beberapa detik kemudian, Rosa menurunkan tangannya dan menghela nafas panjang.
"Pasti mas Andre sangat lelah! dia pasti ingin langsung membersihkan dirinya dan tidur" gumamnya yang bahkan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Sejak tadi, dia memang sangat gelisah. Pesan itu, membuatnya benar-benar terganggu. Sebenarnya Andre belakangan ini memang sangat sibuk. Bahkan sering keluar kota. Tapi pikiran Rosa selalu positif. Dia tidak pernah berpikir macam-macam. Dia yakin suaminya sangat mencintainya, karena dia juga sangat mencintai suaminya.
Rosa meletakkan jas suaminya di keranjang. Dimana besok pelayan akan membawanya ke laundry. Namun saat dia berjongkok, dia mencium aroma parfum berbeda dari yang biasa di pakai suaminya.
Rosa yang tadinya mau meletakkan jas itu di keranjang. Meraihnya lagi, dan mencium aroma yang rasanya juga sangat familiar baginya.
Deg
"Seperti parfum Sandra" gumamnya pelan.
Tapi Rosa segera meletakkan jas itu di keranjang dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak! aku pasti terlalu berpikir sembarangan gara-gara pesan-pesan dari orang iseng itu. Mana mungkin Sandra, dia teman baikku. Aku yang mengenalkannya pada mas Andre. Tidak mungkin" gumamnya yang merasa pikirannya malah semakin kemana-mana saja saat ini.
Rosa mendekati lemari. Dia memang biasa menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Setelah meletakkannya di atas tempat tidur, Rosa keluar dari kamar. Membuatkan susu hangat untuk suaminya. Itu yang selalu dia lakukan, dia selalu membuatkan susu hangat untuk suaminya sebelum tidur.
Saat Rosa kembali ke dalam kamarnya, dia melihat suaminya sudah mengeringkan rambutnya.
"Mas, aku buatkan susu hangat!"
"Sayang, aku lelah sekali. Aku tidur duluan ya sayang, susu hangat itu untukmu saja. Selamat malam sayang"
Dan Andre, pria itu juga langsung berjalan ke arah tempat tidur, dan masuk ke dalam selimutnya.
Bahkan sudah mematikan lampu tidur yang ada di sebelahnya. Rosa menghela nafas dan membawa susu hangat itu diluar dari dalam kamar.
Tiba-tiba saja, ponselnya berbunyi. Itu nada notifikasi pesan.
Gelas susu hangat itu nyaris terjatuh dari tangannya. Ketika, dia menerima pesan gambar, sebuah gelas susu yang sudah di minum hingga hanya tersisa sangat sedikit. Dengan chat di bawah pesan gambar itu.
'Jangan buatkan susu hangat lagi untuk suamimu. Dia sudah minum susu yang aku buat, katanya susu hangat buatanku lebih manis'
Deg
Rosa menggenggam gelas itu dengan satu tangannya. Kenapa rasanya semakin menjadi-jadi saja orang iseng itu. Kalau iseng, apa iya semuanya serba kebetulan seperti itu.
Rosa meletakkan gelas susu itu, dan kembali ke kamarnya. Dia ingat pesan yang dia terima tadi. Wanita itu bilang, kalau dia meninggalkan tanda pada Andre. Di dada sebelah kirinya.
Rosa mendekati suaminya yang sepertinya sudah tertidur. Wajah polos itu, wajah lelah itu membuat tangannya yang sudah terulur untuk membuka selimut yang di pakai oleh Andre terhenti.
'Apa yang aku pikirkan? kenapa aku lebih percaya pada orang asing yang tidak aku kenal. Daripada suamiku sendiri yang sudah aku kenal sejak kuliah. Tidak! aku tidak boleh mencurigai mas Andre. Dia tidak mungkin mengkhianati pernikahan kami. Dia sangat mencintaiku' batin Rosa.
Dan malam itu, Rosa kembali ke sisi tempat tidurnya. Dan memutuskan untuk melupakan semua kecurigaannya hari ini. Dia merasa, terlalu konyol, kalau dia sampai lebih percaya pada orang iseng. Yang memang ingin dia dan suaminya bertengkar, mungkin. Daripada percaya pada pria yang sudah memberikannya kehidupan yang begitu bahagia selama lima tahun ini.
**
Pagi menjelang, Rosa terbangun dengan tangan meraba ke sebelah kanannya. Biasanya suaminya masih disana, dan dia akan memeluknya selama beberapa menit sebelum keduanya akhirnya akan bangun dan memulai aktifitas mereka.
Tapi, kali ini suaminya tidak ada. Rosa bangkit duduk, dan melihat ke sekeliling. Pintu balkon kamar mereka terbuka.
Dia tidak turun dari tempat tidur. Tapi dia memperhatikan dengan seksama. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, sampai dia melihat suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
'Sepagi ini? siapa yang menghubungi mas Andre sepagi ini?' batin Rosa.
Mereka terlalu hafal kebiasaan satu sama lain. Biasanya suaminya tidak akan menerima panggilan telepon sepagi ini. Andre pasti akan memeluk Rosa dulu sampai waktunya mereka harus mandi dan bersiap.
Dan ekspresi suaminya, seperti tengah kesal.
'Mungkin itu urusan perusahaan, mungkin itu urusan perusahaan yang sangat penting' batinnya lagi.
Rosa terus berusaha untuk membuat dirinya sendiri yakin, kalau suaminya baik. Suaminya setia, dan tidak ada hal yang perlu dia khawatirkan.
Rosa turun dari tempat tidur, di saat yang sama suaminya masuk.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Andre yang segera menghampiri Rosa dan mencium kening wanita itu.
"Sudah mas, aku akan siapkan air mandi untuk mas" ujarnya yang langsung di angguki oleh Andre.
Setelah suaminya mandi, Rosa memasangkan dasi untuk Andre. Seperti biasanya. Namun ponsel Andre kembali berdering.
Satu kali, dua kali, Andre terlihat mengabaikannya. Namun ketiga kalinya, Andre sepertinya kesal.
Dan melirik ke arah ponselnya yang ada di atas tempat tidur.
"Sudah mas, kalau itu penting terima saja dulu!" kata Rosa pada Andre.
Andre pun tersenyum dan mengusap lembut kepala Rosa.
"Sebentar ya sayang" kata Andre pergi menjauh ke arah balkon.
Rosa terdiam, selama ini bahkan jika itu telepon dari perusahaan. Atau klien pentingnya sekalipun. Andre tidak pernah menjauh darinya. Dia akan bicara di depan Rosa. Kenapa beberapa hari ini, Andre selalu pergi kalau menerima panggilan telepon. Rosa mulai berpikir, apa yang sedang Andre tidak ingin Rosa ketahui. Kalau untuk kejutan, bulan-bulan ini tidak ada hari istimewa yang akan mereka rayakan. Anniversary sudah 3 bulan lalu, ulang tahun Rosa juga sudah 6 bulan yang lalu. Ulang tahun Violet juga sudah 4 bulan yang lalu. Sebenarnya apa yang sedang Andre coba tutupi darinya. Rosa sungguh mulai gelisah.
Apalagi belakangan ini, dia sering dapat pesan yang membuatnya benar-benar tidak tenang.
'Mas, sebenarnya apa yang kamu tutupi dariku?' batin Rosa.
***
Bersambung...
Beberapa hari berlalu, Rosa sungguh tidak membiarkan dirinya terpengaruh oleh pesan-pesan yang setiap hari masuk ke ponselnya. Mengatakan kalau suaminya telah berselingkuh, dengan wanita yang dengan begitu bangga itu mengatakan telah merebut hati suami Rosa dari Rosa.
Rosa bersama ibu mertuanya sedang berbelanja di sebuah minimarket. Bersama dengan putrinya juga.
Namun seseorang dengan hoodie hitam dan kacamata, seorang pria. Tampak menghampiri Rosa dan memberikan sebuah kartu kamar juga secarik kertas.
"Hei..."
Rosa yang berada cukup jauh dari ibu mertuanya dan anaknya membuka kertas itu. Sebuah kartu kamar membuat wajah Rosa terlihat kesal.
'Ingin tahu kebenaran tentang suamimu? datanglah ke hotel Horizon, kamar 177. Ini kartu kamar cadangan kamar itu'
Rosa meremass kertas itu. Kenapa semakin menjadi-jadi orang iseng itu. Sampai memberikan kartu kamar.
Ting
Notifikasi pesan terdengar di ponsel Rosa. Sebuah foto tempat tidur di hiasi kelopak bunga mawar. Dikirimkan lagi oleh wanita yang mengaku telah merebut hati suaminya itu.
'Suamimu sedang bersamaku, sepertinya malam ini dia tidak akan pulang'
Tangan Rosa menggenggam erat ponsel yang dia pegang itu. Pikirannya saat ini benar-benar kacau.
Wanita itu mengirimkan pesan lagi. Dan jas serta kemeja itu, dan dasi yang dipamerkan wanita itu memang adalah pakaian yang tadi pagi di pakai oleh suaminya. Rosa sendiri yang pilihkan dasi itu dan memakaikannya pada suaminya.
Rosa berpikir, setidaknya dia harus mengecek kebenarannya. Bukan tidak percaya pada suaminya, tapi semua bukti itu terlalu membuatnya gelisah.
Rosa menghampiri ibu mertuanya.
"Bu, Nesia... Nesia dia ada di rumah sakit. Apa aku boleh kesana, dia lupa bawa kartu kredit" kata Rosa menggunakan sahabatnya Nesia sebagai alasan dirinya bisa menyelidiki suaminya.
"Dia sakit apa? apa ibu perlu ikut kesana?" tanya ibu mertua Rosa.
"Tidak Bu, aku saja. Apa boleh aku titip Violet...."
"Nak, Violet itu cucu ibu. Kenapa bicara seperti itu. Pergilah, hati-hati ya!" kata Aliyah.
Rosa pun mengangguk dan tersenyum pada ibu mertuanya. Dia juga mencium pipi putri kecilnya itu.
Langkahnya terlihat begitu cepat. Dia memesan sebuah taksi, menuju hotel Horizon. Rosa tidak berani memikirkan apapun. Dia benar-benar hanya melangkah, sambil sesekali meremas tapi tas tangannya itu.
Hingga dia tiba di hotel Horizon, dia mulai masuk ke dalam lift. Menekan angka 17, yang membuat jantungnya semakin berdebar kencang. Entahlah, dia sama sekali tidak berani menduga-duga. Tapi, untuk percaya sepenuhnya kepada suaminya, rasanya juga tidak bisa.
Ting
Pintu lift terbuka, langkah Rosa sungguh semakin berat. Perlahan dia menyusuri koridor, mencoba mencari kamar 177 seperti yang tertulis di kertas itu.
Deg
Nomor kamar itu benar-benar ada. Saat ini, bahkan Rosa sudah berdiri tepat di depan pintu kamar dengan nomor 177 itu.
Telapak tangan Rosa terasa semakin dingin. Kakinya juga rasanya lemas. Padahal, dia belum tahu apa yang ada di dalam. Hanya saja, saat ini nalurinya sebagai seorang istri merasa kalau akan ada sesuatu yang akan sangat mengejutkannya dan membuat hatinya hancur ketika dia membuka pintu itu.
Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Tapi kali ini, dia merasa akan sangat terluka.
Bip
Benar-benar terbuka. Tangan Rosa gemetar, bahkan rasanya begitu berat sekali untuk bisa mengangkat tangannya menuju ke gagang pintu yang ada di hadapannya itu.
Rosa membuka pintu itu perlahan. Itu hotel mahal, di mana tidak akan ada suara deritan pintu jika pintu terbuka.
"Mas, pelan-pelan!"
"Siapa suruh kamu menggodaku"
Deg
Air mata Rosa tiba-tiba lolos begitu saja. Padahal, tadi sama sekali dia tidak ingin menangis. Namun, begitu mendengar suara suaminya membalas suara seorang wanita yang cukup familiar di telinganya. Air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
'Mas...' lirihnya dalam hati.
"Agkhhh, mas... Agkhhh!"
Rosa semakin terisak, tapi dia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa tidak bisa lembut, agkhh sakit mas"
"Bukannya kamu bilang, kamu suka yang seperti ini!"
Rasanya kedua kaki Rosa sungguh tidak mampu menahan bobot tubuhnya yang hanya 58 kilogram itu. Rasanya dia sungguh tidak sanggup berdiri.
Rosa benar-benar tidak bisa berdiri lagi, itu suara suaminya. Dan jelas itu suara hentakan yang membuat hatinya begitu hancur.
Rosa tak sanggup lagi, dia berbalik dan segera meninggalkan kamar itu. Dia tidak melihatnya, tapi dia mendengarnya. Dan itu sangat jelas. Itu suara suaminya, dan benar-benar suara Sandra. Teman baiknya, yang bahkan dia sendiri yang mengenalkan teman baiknya itu kepada suaminya untuk meminta pekerjaan karena Sandra sedang kesulitan mencari pekerjaan, satu tahun yang lalu.
Hatinya sungguh hancur. Rumah tangganya baik-baik saja. Suaminya begitu mencintainya, suaminya selalu bersikap dan berkata lembut padanya. Ternyata, meski suaminya sangat mencintainya, bukan jaminan suaminya tidak selingkuh.
Hati Rosa luluh lantah, rasanya sudah tak berbentuk lagi. Dunia seolah berhenti bagi Rosa. Rasanya dia bahkan tidak mampu lagi untuk bernafas.
Langkahnya limbung, dia berusaha pergi dengan cepat dari tempat itu. Tidak ingin berada di tempat itu, tapi langkahnya sangat berat. Bahkan sangat sangat berat.
Rosa pergi dari hotel itu. Dia pergi ke sebuah taman yang sepi, di sebuah gang yang begitu sepi. Dia berjongkok dan menangis sejadi-jadinya di tempat itu.
Dia mencoba untuk tidak mengingat apa yang dia dengar tadi. Tapi entah kenapa suara suaminya dan Sandra terus terngiang di telinganya. Terus berputar di pikirannya. Membuatnya sesak. Membuat kepalanya terasa begitu berat, rasanya dia tidak bisa menahan semua ini.
"Hiks... Hiks...." Isak tangis Rosa begitu memilukan.
Dia bahkan mulai kesulitan bernafas. Bajunya juga sudah basah dengan air mata. Kedua tangannya bahkan tidak mampu menyeka air matanya. Kedua tangan itu sudah penuh dengan air mata.
Kenapa? hanya itu yang ada di kepala dan hatinya. Kenapa? kenapa rumah tangganya yang baik-baik saja, bisa hancur seperti ini. Dan orang itu adalah orang yang seharusnya berpikir ratusan kali, karena Rosa sudah sering sekali membantunya dan menyelamatkannya. Kenapa wanita itu malah merayu suaminya. Dan kenapa, suaminya juga bisa jatuh ke pelukan wanita itu, kenapa?
Pedih rasanya, sakit sekali, begitu pilu dan perih. Rosa bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya. Semua ini terlalu menyakitkan baginya.
Rosa hanya menangis, dan terus menangis. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia benar-benar hanya bisa menangis.
Ponsel Rosa berdering.
Rosa melihatnya, itu Nesia.
[Halo Rosa, ibu mertuamu menghubungiku. Dia bertanya apa kamu masih bersamaku, aku bilang iya. Sebenarnya kamu kemana?]
"Nesia... hiks... Hiks..."
[Rosa, kamu dimana? Rosa?]
***
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!