NovelToon NovelToon

Sistem: Melenyapkan Pengkhianat

Protagonis Vs Penjelajah

Permainan biola yang begitu indah, membuai semua orang untuk mendengarkannya. Seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna peach berada di atas panggung.

"I...itu kan lagu yang aku buat." Gumam Violetta tertegun, mencengkeram biola yang dibawanya. Bagaikan tidak mempedulikan tangannya yang tergores senar biola.

Bagaimana bisa lagu yang dibuatnya susah payah di studio pribadi, tiba-tiba dimainkan terlebih dahulu oleh adiknya dalam kompetisi.

Tidak tahu harus bagaimana, dirinya tertegun menatap Chantika yang berada di atas panggung tersenyum mengejek padanya.

Matanya mengamati keadaan sekitar, kala lampu dinyalakan. Suara tepukan tangan terdengar menyambut Chantika yang baru saja turun dari panggung.

"Sayang! Kamu memang anak kebanggaan ibu..." Ucap Dania, sang ibu mendekat.

"Benar! Dengan begini gelar juara pertama sudah pasti ada ditanganmu." Prana, sang ayah menepuk bahu putri bungsunya penuh kebanggaan.

Hingga, seorang pemuda rupawan mendekat membawa buket bunga."Chantika, ini untukmu yang berhasil mengarang lagu hingga membuat semua orang menangis."

"Terimakasih Sebastian (pacar Violetta)." Chantika menerima buket bunga penuh senyuman.

Hal yang membuat Violetta mundur tertegun. Airmata tertahan di pelupuk matanya. Bagaimana bisa lagu yang dibuatnya berminggu-minggu, memiliki kesamaan nada 100% dengan adiknya.

"Peserta selanjutnya Violetta!" Panggil sang pembawa acara agar dirinya maju.

Violetta kembali melangkah mundur. Dirinya yakin, benar-benar yakin lagu berjudul Dark In Silent adalah karangannya sendiri. Jika begitu sudah pasti Chantika adalah plagiat bukan? Dirinya akan dapat membuktikan.

"Laguku diplagiat oleh adikku!" Teriak Violetta menunjuk ke arah Chantika. Jemari tangannya masih mengeluarkan darah akibat luka gores dari senar.

"Plagiat? Apa maksud kakak? Bukankah kakak biasa mengarang lagu di studio?" Tanya sang adik mendekat, menunjukkan senyuman tanpa rasa bersalah.

"A...aku... tidak! Dark In Silent aku membuat sendiri. Bergadang berminggu-minggu, hanya untuk memastikan komposisinya! Tidak mungkin kamu yang menciptakannya!" Teriak Violetta berharap mendapatkan pembelaan.

Tapi.

Plak!

Pipinya ditampar cukup kencang oleh ayahnya sendiri."Violetta! Ayah sendiri yang menyaksikan adikmu mengarang lagu. Chantika bahkan hanya memerlukan waktu setengah hari. Terimalah kenyataan adikmu komposer jenius."

"Tapi itu karyaku..." Pupil mata Violetta bergetar, air matanya mengalir tidak dapat menerima semua ini. Kerja kerasnya bagaikan dicuri.

"Chantika mengumpulkannya lebih dulu. Aku sendiri yang mengantarkannya! Chantika datang saat pengumuman kompetisi baru akan dimulai." Geram Sebastian.

Tidak ini aneh, amat sangat aneh. Jika memiliki kemiripan kurang dari 65% dirinya masih dapat menerima. Tapi ini 100% sama.

"Entah bagaimana Chantika mencontek! Aku bukan plagiat! Dia yang plagiat!" Teriak Violetta menangis terisak.

Namun, tidak ada satu orang pun yang mempercayainya.

"Kita ambil fakta saja. Kenyataannya Chantika yang mengumpulkannya terlebih dahulu."

"Benar! Violetta yang terkenal memiliki bakat sejak dilahirkan ternyata plagiat karya adiknya sendiri."

"Benar-benar memalukan. Pecundang!"

Berbagai cibiran terdengar Violetta menjambak rambutnya sendiri. Dirinya berminggu-minggu mengerjakan lagu itu di studio. Mengapa bisa sama dengan karya ciptaan Chantika.

"Violetta! Kamu membuat ibu kecewa." Dania merangkul bahu putri bungsunya. Menatap sinis pada putri sulungnya. Sudah pasti siapa yang benar dan siapa yang salah.

"Kamu! Membuat malu saja." Prana menunjuk kesal padanya kemudian berlalu pergi.

Violetta hanya dapat menunduk, air matanya mengalir. Tidak hanya kali ini, anehnya sering kali karyanya bagaikan dicuri oleh Chantika.

"Sebastian! Kamu percaya padaku kan?" Tanya Violetta terbata-bata memegang pergelangan tangan Sebastian.

Namun, tangan Violetta ditepis, dirinya didorong hingga terjatuh."Kita putus! Aku tidak ingin memiliki pacar seorang pencuri!"

"Kita sudah bertunangan dari kecil!" Teriak Violetta.

"Benar! Dan itu aib dalam hidupku. Bagaimana aku dapat mengenal wanita memalukan sepertimu. Berbeda dengan Chantika yang bahkan pandai melihat peluang bisnis membuka usaha! Pintar, cantik, dan kamu hanya iri pada adikmu bukan!? Intinya kita putus!" Sebastian tersenyum, menatap sinis padanya. Dirinya terdiam tidak tau harus bagaimana, jemari tangannya gemetar.

"Plagiat! Dasar tidak tahu malu, mencuri karya adik sendiri."

"Sampah!"

"Dia memang sering mencuri karya adiknya!"

Berbagai hujatan didapatkannya. Dirinya berusaha melangkah pergi terhuyung. Matanya melirik ke arah belakang, disana ada ayah, ibu dan kekasihnya. Semuanya begitu mencintai Chantika.

Air matanya mengalir. Mengapa dapat seperti ini. Menatap nama pemenang penghargaan yang diumumkan dari balik pintu keluar.

"Pemenang lomba musisi tahunan dimenangkan oleh Chantika..." Kalimat dari sang pembawa acara terdengar.

Air mata Violetta mengalir. Dirinya belajar sepanjang hidupnya, bahkan banyak luka di jemari tangannya akibat terlalu sering menyentuh senar biola.

Tapi segalanya tidak ada artinya. Entah kenapa hidupnya bagaikan dicuri oleh adiknya sendiri.

Dirinya berusaha keras untuk membuka usaha pakaian. Tapi kemudian Chantika membuka usaha yang sama di seberang jalan, merebut semua konsumen, merekrut para desainer.

Adiknya begitu aneh... bagaikan mengetahui masa depan. Hingga tahap yang lebih serius.

Pernah ada kesempatan, Sebastian mabuk dan Chantika mengantarnya pulang. Mereka tidur bersama. Bodohnya Violetta memaafkan Sebastian dan Chantika.

Tapi, kali ini dirinya benar-benar putus asa dengan hidupnya sendiri. Dipermalukan di depan TV nasional, memiliki predikat sebagai plagiat. Nama baiknya sudah benar-benar hancur.

Melangkah seorang diri berjalan meninggalkan tempat ajang pencarian bakat diadakan. Saat itu tidak banyak mobil, mengingat hari sudah malam.

Matanya menatap ke arah televisi di restauran cepat saji yang dilewatinya, menyiarkan bagaimana Chantika mengangkat trofi kemenangan.

Saat itu dirinya tertegun. Menahan dinginnya malam, tidak ingin pulang jika hanya untuk dimarahi dan dihina sebagai beban keluarga.

Hingga kala dirinya hendak menyeberang di jalanan yang sepi.

Kriit!

Brug!

Tubuhnya ditabrak oleh mobil yang dikenalinya. Terpelanting beberapa meter, kala kesadarannya nasih ada, samar dirinya menatap, adiknya Chantika lah yang mengemudikan mobil.

Wajah adik kandungnya tersenyum. Berucap samar bahasa bibir yang dapat ditatapnya."Adios... pecundang..."

Bagaimana iblis yang melajukan mobilnya pergi. Dirinya tidak tahu mengapa Chantika berusaha membunuhnya. Adik yang dicintai olehnya. Dulu tidak seperti ini."Chantika..." panggilnya lirih berusaha tersenyum.

Apa ini akhir hidupnya? Darah mengalir dimana-mana, jalanan begitu sepi tanpa satupun orang yang menolongnya. Mobil milik Chantika telah melaju pergi.

"Ibu, ayah, Sebastian...sakit..." Lirihnya, dengan suara benar-benar kecil. Merasakan sekujur tulangnya remuk.

Apa dirinya akan mati? Ini sungguh tidak adil, hidupnya yang penuh dengan perjuangan dari kecil, tidak mendapatkan kebahagiaan.

Tiba-tiba saja layar transparan aneh berisikan tulisan terlihat di hadapannya. Dirinya tertegun tidak dapat berucap, memuntahkan darah bersiap menyambut kematiannya.

Hingga seorang pemuda menggunakan pakaian butler (kepala pelayan) terlihat disana. Ekspresinya begitu kaku, kemudian berucap."Protagonis telah ditemukan dalam keadaan hidup, siap melayani."

"Ka...kamu siapa?" Violetta kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Mulai hari ini anda adalah host yang saya layani. Saya adalah sistem perbaikan dimensi." Sang pemuda mendekat, menyentuh bagian keningnya.

Benar-benar aneh, rasa sakit di sekujur tubuhnya bagaikan lenyap.

"Hah...hah...hah..." Dirinya dapat bernapas kali ini. Mungkin tulang rusuknya yang patah telah tersambung.

"Protagonis...saya akan melayani. Misi anda adalah melenyapkan penjelajah dimensi." Penjelasan aneh dari sang pemuda.

"Penjelajah dimensi?" Tanya Violetta tidak mengerti.

"Ini adalah dunia novel, dimana nona adalah protagonis utama. Namun, semuanya berubah akibat penjelajah dimensi yang memasuki tubuh nona Chantika, merebut semua milik protagonis. Misi nona, adalah melenyapkan penjelajah dimensi."

Wanita yang masih tidak mengerti sama sekali, berkedip beberapa kali pada sang pemuda.

Bagaimana pertarungan antara seseorang yang memasuki dunia novel, melawan protagonis wanita yang didukung oleh sistem.

"Apa nona ingin kembali merebut segalanya dari Chantika?" Pertanyaan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Violetta.

"Aku ingin merebut segalanya kembali. Merebut kerja kerasku..."

Pelajaran

Memakai minidress bewarna putih. Dirinya bangkit tanpa luka sama sekali. Benar-benar tidak ada luka, hanya saja pakaiannya yang kotor dan sedikit koyak.

"A...apa maksudnya dengan penjelajah dimensi?" Tanya Violetta tidak mengerti. Mengamati penampilan pemuda ini yang tidak biasa.

Menggunakan pakaian bagaikan butler (kepala pelayan), rambut putih panjang terikat ke belakang, benar-benar rupawan. Sulit dipercaya ada manusia serupawan ini.

"Setiap dunia tidak terhubung satu dengan lainnya. Tapi terkadang ada fenomena yang dapat menarik roh dari dunia lain. Bagi Chantika, ini adalah dunia dari novel yang pernah dibaca olehnya. Dan nona adalah protagonis wanita." Kalimat sang pemuda yang sama sekali tidak dimengerti oleh Violetta.

Tapi tetap saja, orang ini sudah menyembuhkannya dengan cara yang begitu aneh. Menelan ludahnya, kala menatap ke arah layar transparan yang mengapung.

"Ini adalah misi yang harus nona jalankan. Setiap berhasil membongkar kedok Chantika, nona akan mendapatkan poin, setiap berhasil mendekati protagonis pria juga akan mendapatkan poin. Poin dapat ditukarkan dengan kemampuan, pengobatan, kekayaan dan bantuan sistem." Penjelasan yang hanya dapat membuat Violetta mengangkat sebelah alisnya.

"A...apa misi utamanya?" Tanya Violetta antara percaya dan tidak percaya. Bagaimana mungkin hidupnya hanya bagaikan dunia novel?

"Menyingkirkan Chantika, selaku penjelajah yang menghancurkan plot. Hadiah utama untuk keberhasilan misi adalah satu permintaan." Benar-benar jawaban normal dari pria super tampan dengan ekspresi wajah datar.

"Aku tetap tidak dapat percaya. Walaupun kamu dapat menyembuhkanku. Dunia ini akan berubah, jika aku berusaha lebih keras! Tidak terikat dengan sesuatu yang disebut dengan sistem." Teriaknya membentak sang pemuda kemudian berjalan berlalu.

Namun, pemuda ini bagaikan mengikutinya. Walaupun dirinya berjalan dalam keramaian, melangkah dengan cepat. Tapi sejenak, langkahnya dan terhenti, menyadari ada sesuatu yang benar-benar aneh, di luar nalar.

Pria ini ketampanannya mengalahkan selebriti, penampilannya dengan rambut putih panjang mencolok. Tapi tidak ada satu orang pun yang meminta berfoto atau berkenalan.

Melirik ke arah belakang, pemuda itu masih ada dan mengikutinya."Apa ada yang perlu ditanyakan nona?" Ucap sang pemuda.

Mata Violetta menelisik, mengamati kaca etalase yang cukup besar. Mereka memang berdiri di depan sebuah toko pakaian. Anehnya hanya bayangan Violetta yang terlihat di kaca etalase, tapi bayangan sang pemuda tidak.

"Apa kamu setan?" Tanyanya ketakutan.

"Bukan, saya adalah sistem perbaikan dimensi. Hanya nona yang terhubung dengan sistem dapat melihat saya. Mohon kerjasamanya untuk mengalahkan penjelajah." Lagi-lagi pemuda itu berucap dengan raut wajah tanpa ekspresi. Membuat Violetta mengamati sekitar.

Beberapa orang yang melintas melirik ke arahnya. Jika pemuda ini tidak dapat dilihat oleh orang lain. Apa dirinya terlihat bicara sendiri?

"Ikut aku!" Perintah Violetta menelan ludahnya.

***

Rumah yang benar-benar besar terlihat. Itulah kediaman tempatnya tinggal. Kala sampai di depan pintu gerbang, security membukakan pintu, menunduk memberi hormat pada majikannya.

Menghela napas, menatap ke arah pelayan yang mencibirnya, berbisik mungkin bergosip tentang dirinya yang dianggap egois dan gila. Karena melakukan plagiat secara terang-terangan.

Violetta mendekati sang pelayan."Kamu lihat dia?" Tanyanya menunjuk ke arah pemuda berambut putih menggunakan setelan jas resmi, bagaikan butler profesional.

"Siapa?" Tanya sang pelayan, tidak melihat siapapun ke arah yang ditunjuk oleh Violetta.

"Hanya nona yang dapat melihat saya. Mereka akan dapat melihat dan mendengar suara saya, jika poin nona sudah cukup nantinya." Pemuda yang menunduk, benar-benar menghormati majikannya.

Violetta menelan ludah, jemari tangannya gemetar. Kala itulah suara mobil terdengar, apa ayah dan ibunya sudah pulang?

Saat ibu dan ayahnya melangkah maka, Violetta mendekat."I...ibu, ayah... Chantika menabrakku." Ucapnya berusaha mengadu, mencari perlindungan.

Dania mengamati penampilan putrinya dari atas sampai bawah. Hanya minidress nya yang kotor oleh bercak merah seperti darah. Tapi tidak ada luka sama sekali.

"Jangan menuduh adikmu sembarangan!" Bentaknya.

"Ibu...kakak pasti mengalami delusi lagi. Dia mungkin jatuh saat berada di jalanan. Tapi menuduhku karena emosi tidak memenangkan penghargaan." Sebuah kalimat pelan penuh senyuman dari Chantika.

"Bagaimana kamu bisa mem-plagiat karya adikmu! Sebagai kakak kamu harusnya menjaganya!" Teriak Dania murka.

"Tapi, itu memang lagu buatan ku---"

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipinya. Hal yang dilakukan oleh sang ayah."Anak kurang ajar! Bikin malu saja."

Jemari tangan Violetta mengepal, menahan sakit di pipinya yang terasa kebas.

"Nona, sebuah pilihan bijak jika nona saat ini melangkah mundur. Jangan terlalu impulsif, hati manusia lebih cendrung pada kata iba." Pria yang berdiri di sampingnya berucap.

Haruskah Violetta percaya pada entah makhluk apa ini? Tapi tidak ada salahnya mencoba.

"Ayah dan ibu benar...aku berbohong. Aku sadar dan ingin intropeksi diri. Chantika dari dulu selalu baik." Ucapnya pelan tersenyum cerah.

"Anak tidak tahu malu!" Prana menghela napas. Pertanda kemarahan nya sedikit mereda.

Namun, Chantika tersenyum, bagaimana bisa Violetta yang sudah ditabraknya hingga terpelanting masih hidup. Memendam rasa kesal dalam hatinya. Seharusnya protagonis wanita mati saja, agar dirinya dapat menggantikan langkah-langkah yang diambilnya. Hidup makmur, memiliki keluarga yang menyayanginya dan menikah dengan Sebastian.

"Sudahlah ayah, ibu. Kakak pasti tidak bermaksud begitu." Chantika pura-pura bijak, tersenyum pada kakaknya.

"Kamu terlalu baik. Hingga dianiaya oleh kakakmu." Dania memegang jemari tangan putri bungsunya.

"Sistem apa yang harus aku lakukan?" Tanya Violetta dengan suara kecil.

"Penjelajah ini tidak tahu diri. Saya sarankan host untuk menamparnya." Benar-benar jawaban penuh senyuman kaku, dari sang pemuda.

Violetta mengepalkan tangannya. Dirinya harus berani.

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Chantika. Benar-benar satu tamparan kencang.

"Ibu...ayah..." Chantika memegangi pipinya sendiri, menangis terisak.

"Violetta! Apa yang kamu lakukan!?" Teriak sang ibu hendak menamparnya.

Tapi, dengan cepat tangan Violetta mencegah.

"Anak kurang ajar, menampar adik, melawan orang tua!" Teriak Dania.

"Singa-pun tidak akan melukai anaknya, mengapa ibu melukaiku?" Kalimat dari sang pemuda.

"Singa-pun tidak akan melukai anaknya, mengapa ibu melukaiku?" Entah kenapa Violetta yang sudah berada di jalan buntu bersedia mengikuti kata-kata pria aneh.

"Itu karena kamu kurang ajar! Dimana Violetta yang dulu pengertian dan berprestasi." Dania menurunkan tangan yang hendak menampar putri sulungnya.

Violetta terdiam, apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Chantika.

"Host hanya perlu menangis dan berlari ke dalam kamar di situasi seperti ini. Tunjukkan sisi rapuh terkadang menjadi pilihan baik sementara waktu sebelum mengatur strategi." Saran yang diucapkan sang pemuda.

Violetta menitikan air matanya tiba-tiba. Kemudian berlari ke lantai dua tanpa kata.

"Violetta! Anak itu!" Geram Prana, tidak mengerti dengan putri sulungnya beberapa tahun ini. Selalu menyudutkan Chantika tanpa sebab.

"Ayah...ibu tenang ya? Kakak hanya marah sebentar. Bagaimana kalau kita keluar untuk makan steak?" Tanya Chantika.

"Kamu memang anak ibu yang paling manis." Senyuman menyungging di bibir Dania. Melangkah pergi, bahkan tanpa mengajak putri sulungnya untuk makan bersama.

***

Namun, ada beberapa hal yang dilakukan Violetta dalam kamar saat ini.

"Kamu... benar-benar tidak bisa dilihat oleh orang lain?" Tanya Violetta.

"Tentu, hanya nona yang dapat menyentuh dan melihat saya. Saya menyarankan nona untuk menghubungi protagonis pria saat ini. Untuk mendapatkan poin. Ada opsi untuk mendekatinya, lemah lembut dan menggoda secara terang-terangan." Kalimat yang diucapkan oleh sang pemuda tanpa ekspresi sama sekali.

"Benar-benar nyata!" Teriak Violetta, menarik pipi dan memeluk tubuh orang aneh ini. Gila! Gantengnya mengalahkan idol di TV.

"Host dapat mendekati protagonis pria---" Kalimat sang pemuda disela.

"Di hadapan wajahmu, Sebastian seperti cumi-cumi."

"Host harus mendekati protagonis pria."

"Siapa peduli. Pengkhianat harus dihancurkan. Omong-ngomong aku bisa memelukmu sambil tiduran?"

Malas

Chantika terdiam sejenak, bibirnya tersenyum. Tiga tahun lalu nama aslinya Tia gemar membaca sebuah novel online dengan judul, Balada Cinta Sang Presdir.

Bercerita tentang tokoh utama Violetta, yang memiliki tunangan bernama Sebastian. Pertunangan yang tertutup oleh persahabatan sedari kecil. Hingga suatu hari Violetta menghabiskan malam panas dengan Sebastian saat mabuk.

Sebastian merasa Violetta sengaja menjebaknya. Tapi anehnya Sebastian kecanduan dengan tubuh Violetta. Hubungan yang ambigu, berakhir kala Violetta memutuskan untuk menjadi wanita mandiri. Memiliki karier yang bagus dan kekayaan. Saat itulah, Sebastian menyadari kesalahannya, bersama-sama mengalahkan berbagai rintangan untuk kembali dengan Violetta.

Sungguh novel 21+ dengan banyak adegan panas dan pemaksaan. Tia yang hanya seorang wanita penghibur benar-benar menyukai novel online ini. Tapi sayang Tia ditusuk oleh salah satu pelanggannya yang tidak membayar setelah memakai jasanya sebagai wanita penghibur, hingga Tia mati tragis.

Tapi siapa sangka, Tia berpindah dimensi memasuki novel yang pernah dibacanya, berada dalam tubuh Chantika, adik kandung Violetta, sang pemeran utama wanita.

Merebut jalan kesuksesan Violetta adalah tujuannya. Dan...sejauh ini Chantika berhasil. Hanya saja Violetta terlalu banyak bicara dan mengeluh. Protagonis wanita seperti ini tidak pantas, lebih baik mati saja.

"Chantika, ini daging untukmu. Kamu terlihat pucat." Ucap Dania meletakan potongan daging ke atas piring putrinya.

"Benar! Ayah akan menelpon dokter keluarga. Agar meresepkan vitamin untukmu." Prana tersenyum menatap ke arah putri kebanggaannya.

"Terimakasih, ayah...ibu..." Chantika tersenyum pada mereka. Benar-benar semuanya sempurna, sesuai impiannya.

Putri keluarga konglomerat, memiliki karier sukses, dengan pengetahuannya tentang cerita novel, dapat merebut kesuksesan yang seharusnya dimiliki Violetta.

Mengingat tentang cerita novel, bukankah Violetta akan memulai bisnis restauran setelah bisnis butik berhasil. Setidaknya itulah jalan cerita yang diingat olehnya.

Wajahnya tersenyum, tinggal menunggu di lokasi mana Violetta akan membuka bisnis. Maka dirinya akan membuka bisnis di lokasi yang sama, merekrut koki yang seharusnya direkrut Violetta. Menghasilkan lebih banyak uang, serta merebut pemeran utama pria.

Matanya mengamati Violetta yang melangkah turun dari lantai dua. Entah kenapa wajah menyebalkan pemeran utama wanita itu terlihat lebih cerah. Mencengkeram garpu yang dipegang olehnya. Ini menyebalkan, tapi cepat atau lambat semua milik pemeran utama wanita akan menjadi miliknya. Termasuk Sebastian, yang tidur dengannya, bukan Violetta seperti dalam cerita novel.

"Kakak! Ayo duduk di dekatku." Ucap Chantika penuh senyuman. Begitu terlihat manis, cantik dan baik.

Berbeda dengan Violetta yang terlihat lebih anggun.

"Kamu bilang jika aku bisa menyakiti atau membongkar kedok Chantika, maka akan mendapatkan poin?" Tanyanya pada pemuda yang melangkah pelan di belakangnya.

"Benar! Misi nona adalah mengalahkan penjelajah. Orang yang ada di tubuh Chantika, bukan Chantika yang asli. Orang tersebut adalah penjelajah dari dunia pararel yang lain. Baginya ini adalah cerita novel yang pernah dibacanya. Mengetahui masa depan, berniat merebut keberuntungan protagonis wanita. Dalam hal ini anda." Jawaban yang begitu panjang dari pemuda rupawan tanpa ekspresi.

Membuat Violetta menghela napas berkali-kali."Lalu dimana jiwa Chantika yang asli?"

"Chantika yang asli seharusnya sudah meninggal sebelum dimasuki oleh penjelajah dimensi." Kembali sang pemuda menjawab pelan, benar-benar terdengar jelas. Benar-benar menebarkan aura ketampanan yang tenang, membuat Violetta berusaha tidak memeluknya lagi.

"Di dalam tubuhnya bukan jiwa adikku. Jadi aku tidak akan segan-segan menghajarnya. Kemarin aku menamparnya, dapat berapa poin?" Tanya Violetta.

"Dalam layar akan tertulis, berapa poin yang masuk dan digunakan." Jelas sang pemuda.

"Hanya 5 poin?" Gumamnya.

"Jika ingin lebih banyak poin, lukai penjelajah (Chantika) secara fisik atau mental. Kemudian dekati protagonis pria (Sebastian)." Jawab sang pemuda, membuat Violetta mengangkat sebelah alisnya.

Bagaimana bisa memaafkan Sebastian yang meniduri Chantika. Walaupun itu karena mabuk, ditambah memutuskan dirinya terang-terangan di depan umum.

"Sebastian... never (tidak akan pernah)." Ucap Violetta penuh senyuman.

Chantika tersenyum padanya, menatap ke arah Violetta yang mulai duduk."Kakak tadi kenapa terlihat bicara sendiri?" tanyanya.

"Kamu tau bukan, aku dimensia. Jadi sering bicara sendiri." Sarkas Violetta.

"Kamu memang harus dibawa ke psikiater. Kelakuanmu bertambah aneh!" Bentak sang ayah.

"Ayah...jangan marah begitu pada kak Violetta." Ucap Chantika, memegang lengan ayahnya seolah-olah menenangkan.

"Jangan pedulikan aku." Violetta mengangkat sebelah alisnya, menikmati makanan. Mengamati baik-baik sebuah ide muncul dalam benaknya. Mengapa tidak mencoba membuka usaha restauran saja.

Tapi.

"Kakak, usaha butik milik kakak begitu sepi. Kenapa tidak beralih membuka usaha restauran saja." Usul Chantika penuh senyuman pelan. Dirinya tinggal mencari tau, lokasi mana yang akan dipilih Violetta. Kemudian membuka usaha yang sama di dekat lokasi. Tentunya mencuri pekerja milik Violetta.

Violetta terdiam, jemari tangannya mengepal. Baru saja muncul ide, tapi anehnya adiknya bagaikan dapat menebak masa depan.

Matanya sedikit melirik ke arah pemuda yang berdiri di belakangnya. Menelan ludah, apa Chantika juga ingin kembali menjiplak idenya?

"Keputusan yang bijak, untuk tidak melangkah sementara waktu." Itulah yang diucapkan sang pemuda. Bagaikan sebuah nasehat di telinga Violetta.

Wajahnya tersenyum."Aku malas, kenapa tidak kamu saja yang membuka restauran. Itu kan idemu. Aku tidak mau dituduh sebagai plagiator lagi." Sinis Violetta, menusuk tomato cherry kemudian memakannya.

Berhati-hati, itulah yang terpenting untuk menghadapi badak bercula ini.

"A...aku hanya menasehati kakak. Lagipula restauran bisnis yang bagus." Chantika tertunduk pelan. Benar-benar sial! Andai saja dalam novel tertulis alamat dan lokasi restauran milik Violetta.

"Dengarkan apa kata adikmu. Dia itu bintang keberuntungan, membeli tanah untuk investasi. Harga tanah langsung naik dalam waktu sebulan. Tidak seperti kamu, membuka butik gagal, menjadi musisi malah plagiat karya adikmu." Sindir Prana.

Mata Violetta memerah menahan tangis. Lebih dari satu karya yang dibuat Chantika. Dan itu semua menyerupai apa yang ada di otaknya. Percuma bekerja keras, jika akan dihancurkan.

"Apa host akan menyerah? Sistem dapat lebih kuat dari penjelajah dimensi. Jika dapat menggunakannya." Ucap pemuda yang berdiri di belakangnya.

"Tidak, aku tidak akan menyerah." Violetta menghapus air matanya yang mengalir, kemudian bangkit dari kursi tempatnya duduk.

Semakin disakiti, maka semakin banyak poin yang didapatkan olehnya. Siapa yang peduli, lagipula jiwa yang ada didalamnya bukan Chantika yang asli.

Rambut Chantika ditarik, sejenak ada pemberitahuan sistem. Pemuda yang berada di belakangnya berucap."Host menarik rambut penjelajah dimensi, selamat mendapatkan hadiah 2 poin."

Dua poin? Cukup bagus. Wajahnya tersenyum, anggap saja membalas apa yang dilakukan Chantika yang hampir membunuhnya.

"Kakak, sakit!" Teriak Chantika."Ibu... tolong aku."

Tangan Dania terangkat.

Plak!

Violetta ditampar cukup kencang. Tapi anehnya Violetta tersenyum, bahkan tertawa. Bukan hanya Chantika, seluruh keluarganya adalah pengkhianat sejati.

"Dia anak kesayangan ibu kan!?" Bentak Violetta.

"A...apa ini karena kakak iri usaha butik ku lebih maju? Kakak, aku menyayangimu, karena itu aku memberikan nasehat... dengan membuka usaha restauran maka---" Kalimat Chantika terhenti.

Plak!

Violetta menamparnya cukup kencang. Bersamaan dengan itu, suara pemuda itu berikut pemberitahuan sistem terdengar.

"Menampar penjelajah dimensi. Selamat host mendapatkan 3 poin." Ucap sang pemuda, penambahan poin pada jendela sistem terlihat.

"Hidup adalah hidupku. Bukan hidupmu, aku tidak akan mengumpulkan uang. Aku lebih memilih menjadi pengangguran." Violetta tersenyum menyeringai. Membuat Chantika membulatkan matanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!