NovelToon NovelToon

JANGAN SALAHKAN AKU SELINGKUH

Bab 1

"Tega kamu, Mas," ucap Anna.

Anna terlonjak kaget saat mendengar kalau Dimas telah menikah siri dengan teman kerjanya.

Dimas baru saja menikahi Lisa teman sekantornya. Dimas dan Lisa saling menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka menjalin hubungan secara diam-diam.

Sampai akhirnya Dimas menikahi Lisa secara siri. Dimas juga menginginkan seorang anak dari rahim Lisa. Istrinya Anna belum bisa memberikan dia keturunan.

Orang tua Dimas juga sudah sangat menginginkan seorang cucu. Dimas tidak ingin menceraikan Anna. Sosok wanita yang sangat dia cintai.

Dimas dan Anna menjalin hubungan sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Hubungan itu berlanjut ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.

Namun sayangnya, orang tua Anna sangat tidak menyukai Dimas. Anna memilih Dimas dari pada orang tuanya. Anna pun di usir dari keluarganya sendiri.

Anna sosok wanita yang cantik, pintar dan seorang designer pakaian. Saat ini dia sudah mempunyai sebuah butik yang cukup di kenal oleh kalangan menengah ke atas.

Sejak menikah, Anna sudah tidak lagi memperhatikan penampilanya. Dia sibuk bekerja lalu mengurus rumah tangga. Anna memang menyewa asisten rumah tangga. Tetapi hanya untuk membersihkan rumah saja.

Sedang urusan perut maka Anna yang mengatur semuanya. Suaminya Dimas hanya mau makan masakan istrinya. Anna bangun setiap pagi-pagi sekali menyiapkan segala kebutuhan sang suami.

Dimas Narendra adalah sosok pria tampan dan juga cerdas. Dia bekeja di perusahaan terbesar di kotanya. Dulunya Dimas dan Anna satu kantor. Karena Anna lebih menyukai mendesign maka dia berhenti dari pekerjaannya.

Selama itu muncul sosok wanita cantik bernama Lisa. Dia adalah bawahan dari Dimas. Saat pertama bertemu keduanya saling suka. Lalu mereka menjalin cinta terlarang hingga menikah.

Anna menatap sepasang pengantin baru yang baru saja menikah itu. Rasanya ingin dia cabik-cabik wajah dari Dimas dan Lisa. Selama ini Dimas telah menghianati dirinya.

"Apa karena aku tidak bisa memberimu anak, hingga kamu menikahi ja**ng itu," kata Anna.

Lisa geram akan mulut berbisa Anna. "Tutup mulutmu. Aku bukan wanita seperti itu. Aku mencintai mas Dimas."

Anna berdecih. "Cih ... wanita mana yang tega merebut suami wanita lain. Kalau bukan seorang ja**ng."

"Cukup Anna!" bentak Dimas.

"Aku mencintai Lisa. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku juga menikahinya karena ingin memiliki keturunan," ungkap Dimas.

"Ingat Dimas, aku rela meninggalkan keluargaku hanya untuk menikah dengan pria bre***k seperti dirimu. Sekarang tega sekali kamu mencampakan diriku," hardik Anna.

Dimas meraih tangan Anna. "Ann ... aku mencintaimu. Sampai kapan pun aku tetap mencintai dirimu. Kamu adalah cinta pertamaku. Sekarang aku juga mencintai Lisa. Dia akan memberi kita anak. Kamu juga bisa menjadi seorang ibu."

Anna melepas tanganya. "Cukup ... kamu kira aku bodoh. Wanita mana yang mau berbagi suami. Lama kelamaan kamu akan di kuasai oleh ja**ng ini. Kamu akan melupakan diriku pada saat itu."

Dimas mengeleng. "Ann ... aku akan berusaha untuk adil pada kalian berdua. Kamu istriku dan dia juga istriku. Kenapa kalian tidak bisa akur. Aku mohon ... terima Lisa sebagai madumu."

Anna sangat geram akan penuturan Dimas. Mana ada yang namaya adil dalam berbagi suami. Meski mulut berbicara menerima tetapi hati tetap merasakan kecemburuan, iri hati terhadap wanita lain.

Anna sudah tidak tahan lagi. Dia mengepal tanganya kuat. Dimas sudah benar-benar keterlaluan. Mudah sekali dia bicara seperti itu.

Plaakk ... plaakk ... !

Anna menampar pipi Dimas dan juga Lisa. Dia sudah geram akan sepasang suami istri itu. Lisa merasa tidak terima di tampar. Dia lalu ingin membalas kembali tamparan Anna.

Namun sayang Dimas menghalanginya. Lisa melotot pada Dimas yang sengaja membela Anna di depannya.

"Mas ... dia menampar pipiku. Aku harus membalasnya," kata Lisa.

Dimas mengeleng. " Jangan Lis ... kamu belum tahu siapa Anna."

Lisa tidak peduli akan ucapan Dimas. Dia lalu melayangkan tanganya di pipi Anna. Namun belum sempat tangan itu mengenai pipi Anna, tangan Lisa sudah di tangkap dan di pelintir.

"Awww ... sakit. Lepaskan tanganku wanita gila," ucap Lisa.

Anna semakin memperkuat melintir tangan Lisa. Tangan Lisa sudah seperti baju yang akan di peras saja.

"Mas ... ini sakit. Suruh dia lepaskan," lirih Lisa.

"Anna ... lepaskan tangan Lisa. Tanganya bisa patah nanti," ucap Dimas.

Anna lalu melepas tangan Lisa lalu mendorongnya hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai. Dimas segera membantu istrinya untuk bangkit berdiri.

Lisa meringis sakit karena ulah Anna. Tangan, pipi dan jidatnya sudah menderita Kerena Anna. Tangannya di pelintir, pipinya di tampar lalu jidatnya terkena lantai marmer.

"Mas ... kenapa kamu tidak kasih pelajaran pada Anna. Dia sudah menyiksa diriku," ucap Lisa.

Lisa bicara dengan nada manja. Dimas jadi bingung sendiri. Apakah dia harus memarahi Anna dan membela Lisa. Kalau memarahi Anna maka akan semakin membuat kacau. Istri pertamanya itu sudah pasti akan marah.

Kalau tidak membela Lisa. Sudah pasti Lisa juga akan marah. Dimas tidak tahu harus berbuat apa. Anna bersedekap dada menikmati raut wajah bingung Dimas.

"Kamu lihat ... apa ini yang kamu sebut adil. Kedua istrimu sedang bertengkar. Kamu sendiri bingung ingin membela yang mana. Dimas ... kamu sendiri yang membawa neraka dalam hubungan ini," hardik Anna.

"Anna ... setuju atau tidak Lisa sudah menjadi istriku. Kamu harus menerimanya sebagai madu. Aku akan membagi waktu untuk kalian berdua. Malam ini aku akan bersama Lisa. Besok pagi aku akan menemanimu," tutur Dimas.

Dimas dan Lisa lalu keluar dari rumah Anna. Dimas sudah membeli rumah baru untuk dia dan juga Lisa. Dimas tidak mau ada pertengkaran antara dua istrinya.

Dimas juga tidak mau menyakiti hati Anna saat dia sedang berduaan bersama Lisa. Maka dari itu, Dimas memisahkan keduanya. Dimas akan membagi waktunya untuk Lisa dan Anna.

Wanita yang saat ini sama-sama di cintainya. Dimas dan Lisa masuk ke dalam mobil dan segera keluar dari gerbang rumah Anna.

Anna terduduk lemas saat semuanya sudah pergi. Dia hanya berusaha untuk kuat saja. Anna menumpahkan semua air matanya. Tega sekali suami yang sangat dia cintai menduakan dirinya.

"Tega kamu, Dimas. Hanya demi anak kamu menikah lagi," lirih Anna.

Anna sungguh tidak percaya. Dia serasa mimpi saat Dimas membawa Lisa masuk ke dalam rumahnya. Dimas memperkenalkan Lisa sebagai istri barunya.

Lebih mengejutkan lagi ternyata Dimas dan Lisa sudah menjalin hubungan terlarang selama hampir satu tahun. Anna hanya bisa menangis meratapi nasibnya.

Mungkinkah ini karma untuknya. Karma karena telah meninggalkan serta tidak mendengar nasihat orang tuanya. Anna tidak di beri keturunan. Lalu dia di poligami oleh suami yang dia cintai. Anna hanya bisa menerimanya saja. Menyesal pun tiada guna. Semua sudah terjadi.

Tbc

Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

Bab 2

Dimas pulang ke rumah Anna setelah semalam melewati malam panjang bersama Lisa. Dia keluar dari dalam mobil dan langsung saja masuk ke dalam rumah.

Dimas memang pagi-pagi sekali pulang ke rumah Anna. Dia ingin sarapan bersama istri pertamanya. Dimas langsung saja menuju dapur. Perutnya sudah sangat lapar.

Lisa istri keduanya tidak sempat untuk membuat sarapan. Lisa masih tertidur karena aktifitas panas yang mereka lakukan. Dimas tidak melihat Anna maupun hidangan di meja makan.

Biasanya di jam segini Anna sudah menyiapkan sarapan untuknya. Dimas lalu beranjak menuju kamar tidur. Dia memutar knop pintu. Dimas mengeleng sebab istrinya masih tertidur pulas.

Dimas duduk di tepi ranjang. Dia elus puncak kepala istrinya. Dimas juga mengecup kening Anna. Dimas membelai wajah Anna yang masih terlihat sembab.

Sudah di pastikan istrinya itu menangis sampai semalaman. Sungguh tega Dimas telah menduakan cinta Anna. Cinta wanita yang telah memberi segalanya hanya untuk Dimas.

Anna mengeliat dari tidurnya. Dia mengerjap dan membuka matanya perlahan. Anna melihat wajah suaminya berada persis di hadapanya. Anna memperhatikan seksama wajah dan tubuh Dimas.

Hati Anna teriris melihat bekas ciuman Lisa di leher Dimas. Suaminya itu sudah melewati malam panjang bersama istri barunya. Di saat istri pertama terluka, suaminya menikmati surga dunia bersama istri kedua.

"Kapan kau pulang?" tanya Anna.

"Baru saja," jawab Dimas.

Anna langsung saja turun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Kebiasaan mencium Dimas di pagi hari tidak di lakukan Anna. Dimas mengerti mungkin Anna masih marah padanya.

Anna keluar dari kamar mandi. Dia lalu keluar kamar dan beranjak menuruni anak tangga. Anna pergi ke dapur untuk membuatkan Dimas sarapan.

Anna berkutat dengan bahan-bahan masakan. Dia tampak fokus dengan setiap pekerjaan yang dia lakukan. Anna juga membuatkan secangkir kopi untuk Dimas.

Dimas turun dengan pakaian kantor yang sudah rapi. Dia menarik kursi dan duduk. Anna lalu melayani Dimas dengan mengambilkan sarapan untuknya.

Anna langsung saja kembali ke atas. Dia pergi mengambil tas kantor dan juga dasi Dimas. Suaminya itu memang tidak bisa memasang dasi sendirian.

Dimas makan dengan lahap masakan yang di buat istrinya. Inilah mengapa Dimas jatuh cinta pada Anna. Selain cantik, Anna juga bisa memuaskan perutnya. Dimas sebisa mungkin hanya makan masakan yang di buat Anna.

Anna turun dari tangga dengan membawa dasi dan tas kantor Dimas. Dia meletakan itu semua di atas kursi sofa. Anna kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal makan siang untuk Dimas.

"Ann ... siapkan juga bekal untuk Lisa. Aku ingin dia bisa memasak seperti dirimu," kata Dimas.

Anna hanya diam mendengar titah dari suaminya. Anna tetap melaksanakan perintah Dimas dengan membawakan bekal untuk Lisa juga.

Anna meletakan dua rantang di hadapan Dimas. "Warna biru untukmu dan yang warna pink untuk ja**ngmu."

"Cukup Ann ... dia istriku juga," bentak Dimas.

Anna memutar mata malas. "Selesai sarapan pergilah. Kamu minta pakaikan saja dasi dengan istri barumu."

Anna melangkah pergi, dia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. "Oh ... tutupi bekas ciuman istrimu itu."

Anna lalu melangkah menaiki anak tangga. Dimas kaget akan hal itu. Dia lupa akan tanda yang ada di lehernya. Dimas menatap nanar kamar atas. Dia telah menyakiti hati istrinya.

Dimas lalu membawa dua rantang makanan itu ke dalam mobil. Dia juga membawa dasi dan tas kantornya. Dimas menyalakan mesin dan berlalu dari sana.

Anna melihat seluruh wajah dan tubuhnya. Dia lalu membuka ikatan rambut yang selalu dia cepol ke atas. "Apa aku tidak menarik lagi. Sampai suamiku berpaling dariku."

Air mata mengenang di pelupuk matanya. Sungguh sakit rasanya di duakan. Apa lagi melihat tanda bekas percintaan suaminya sendiri. Hatinya begitu perih, begitu sesak.

Anna memukul-mukul dada untuk menghilangkan rasa sakit hatinya. Dimas bahkan meminta Anna untuk menyiapkan bekal untuk Lisa. Apa Dimas tidak mengerti perasaanya. Hanya dengan menyebut nama Lisa saja sudah membuat hati Anna teriris.

Anna mengambil pakaian ganti. Dia ingin pergi ke suatu tempat. Sudah lama Anna tidak pergi ke sana. Anna mengambil kunci mobil dan tas. Dia segera turun menuju mobilnya.

Anna melajukan mobilnya ke salon sahabatnya. Dia ingin memotong rambut panjang yang menghiasi kepalanya. Dia juga bertekad akan mewarnai rambut hitamnya.

Selama ini Anna memanjangkan rambutnya hanya untuk Dimas. Suaminya itu sangat menyukai rambut hitam dan panjang Anna. Sekarang Anna akan menjadi dirinya yang sebenarnya. Dia akan melakukan apa pun sesuai keinginan hatinya.

Mobil Anna sampai di tujuan. Dia keluar lalu segera masuk ke dalam salon. Anna di sambut hangat oleh sahabatnya.

"Anna ... sudah lama kita tidak bertemu," ucap Tere.

Anna memeluk sahabat baiknya itu. "Tere ... aku sangat merindukan kamu."

"Aku juga," ucap Tere.

Tere menatap selidik Anna. "Ada apa Ann?"

"Tere ... aku ingin mengubah rambutku. Aku bosan dengan potongan rambut panjang dan hitam," ucap Anna.

Tere melepas ikatan rambut Anna. Rambut sahabatnya itu memang indah. Hanya saja potongannya terlalu kuno.

"Rambutmu sangat indah. Kamu yakin akan memotongnya?" tanya Tere.

"Potong saja sedikit, ini terlalu panjang," kata Anna.

Tere mengerti apa yang di inginkan sahabatnya itu. Tere lalu menyuruh Anna untuk duduk di kursi. Dia mulai melakukan pekerjaannya. Tere juga mewarnai rambut Anna dengan warna kecoklatan.

"Anna ... bagaimana, kamu suka hasilnya?" tanya Tere.

Anna tersenyum puas melihat hasil karya dari Tere. Rambutnya sudah terurai dengan cantik. Tere memberi sentuhan curly di bagian bawah rambutnya. Anna sudah bisa menguraikan rambutnya. Dia tidak harus seharian mengikat rambut panjangnya.

"Tere ... makasih banyak. Aku sangat puas dengan hasilnya."

"Kamu itu sangat cantik. Dimas pasti makin cinta sama kamu," kata Tere.

Anna memaksakan tersenyum akan ucapan Tere. "Tentu saja ... aku pamit pulangnya. Makasih sekali lagi."

Anna dan Tere saling berpelukan. Tere melambaikan tanganya saat Anna sudah masuk ke dalam mobil dan melaju membelah jalan raya.

"Andai ... kamu tahu yang sebenarnya, Tere," lirih Anna.

Anna lalu melajukan mobilnya menuju butik tempat dia bekerja.

Jam istirahat kantor sudah tiba. Pasangan suami istri itu tengah duduk di kantin untuk makan bersama. Dimas memberi rantang makanan berwarna pink pada Lisa.

"Lisa ... ini, makanlah bekal yang di bawakan Anna," ujar Dimas.

Dimas sudah membuka rantang makanya dan makan dengan lahap. Lisa memperhatikan Dimas yang makan dengan sangat lahap dan nikmat.

Lisa membuka rantang makan berwarna pink. Dari penampilanya, makanan itu sangat mengiurkan dan terasa lezat. Lisa lalu menyendokan nasi berserta lauk ke dalam mulutnya.

Lisa membelalak lalu memuntahkan makanan yang berada di mulutnya. Dia segera meminum air putih. Dimas kaget melihat hal itu.

"Lisa ... ada apa?"

"Mas ... coba kamu rasa sendiri masakan yang di buat istrimu. Ini itu asin rasanya," tutur Lisa.

"Asin ... makanan kita sama. Masakan Anna sangat enak. Coba kamu makan punyaku," kata Dimas.

Dimas menyuapkan nasi di rantangnya pada Lisa. Rasanya berbeda sekali dengan nasi yang tadi di makanya. Nasi Dimas terasa sangat enak.

"Enak rasanya?" tanya Dimas.

Lisa mengangguk. "Enak ... lalu kenapa punyaku rasanya asin?" Lisa mengepal geram. Sudah pasti Anna mengerjai dirinya. "Anna pasti sengaja mengerjai diriku."

"Jangan menuduh Anna," kata Dimas.

Lisa mendelik kesal. "Coba sendiri saja nasi punyaku."

Dimas lalu mencoba nasi dan lauk di rantang Lisa. Dimas langsung memuntahkan makanan itu. Rasanya memang sangat asin. Pantas saja, tadi pagi Anna tidak protes saat dia meminta istrinya itu untuk menyiapkan bekal mereka berdua. Ternyata Anna punya rencana jahat.

Tbc

Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

Bab 3

Dimas pulang dari kantor langsung menuju rumah Anna. Dia sangat kesal akan sikap Anna yang kekanakan. Seharusnya Anna tidak bersikap demikian. Lisa juga istri dari Dimas.

Dimas menikahi Lisa karena ingin mempunyai keturunan. Anna seharusnya memperlakukan Lisa dengan baik. Kalau pun Lisa mengandung, Anna akan menjadi seorang ibu juga.

Dimas langsung saja masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju dapur. Karena biasanya Anna akan memasak makan malam untuknya. Dimas menatap Anna tidak percaya.

Rambut yang hitam dan panjang itu sudah tidak ada lagi. Rambut yang biasa di cepol kini terurai indah.

"Ann ... kamu apakan rambutmu," pekik Dimas.

Anna terlonjak kaget. Dia tidak mengetahui kalau Dimas sudah pulang ke rumah. Anna menoleh ke arah suaminya.

"Kamu sudah pulang ... maaf aku tadi tidak menyambutmu. Aku kira kamu akan ke rumah Lisa," ujar Anna.

Dimas mendekat pada Anna dan mencengkram kedua lengan istrinya. "Ann ... jangan mengalihkan omongan. Aku tanya, kenapa rambutmu berubah?"

Anna melepas cekalan tangan Dimas. "Kamu sudah lihat sendiri rambutku berubah. Jelas aku yang mengubahnya."

Dimas terlihat kesal. "Mengapa kamu mengubahnya. Kembalikan rambut panjang dan hitam itu. Aku tidak menyukai rambut coklat."

Anna berkacak pinggang. "Aku akan mengembalikanya. Tapi kamu juga harus mengembalikan suamiku. Aku ingin Dimas yang dulu."

"Cukup Ann ... aku sudah lelah bertengkar denganmu. Kenapa kamu tidak bisa menerima Lisa. Aku melakukan ini juga untukmu," ujar Dimas.

Anna meninggalkan Dimas yang duduk di kursi meja makan. Dia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Anna juga lelah bertengkar terus. Namun sikap Dimas lah yang membuat mereka selalu bertengkar.

Mana ada wanita manapun yang bisa menerima wanita lain di kehidupan suaminya. Lebih baik Dimas menceraikan dia dari pada harus di poligami.

Dimas lalu menyusul Anna ke dalam kamarnya. Dia melihat Anna tengah menatap pemandangan luar dari jendela kamar. Dimas mendekat lalu mengelus rambut baru Anna.

Dimas melingkarkan tanganya di perut Anna. Dia memeluk istrinya itu dengan erat. Anna meneteskan air mata. Dia tidak bisa untuk menerima Lisa dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Dimas memutar tubuh Anna agar menghadap padanya. Dia hapus air mata yang menetes di pipi istrinya. Dimas lalu mengecup kedua mata itu.

"Anna ... aku minta maaf padamu. Aku hanya ingin membuatmu menjadi seorang ibu. Orang tua kita juga sudah menginginkan seorang cucu," tutur Dimas dengan lemah lembut.

"Apa kamu tidak bisa bersabar. Kita hanya menunggu saja. Aku baik-baik saja, aku bisa mengandung. Hanya belum saja di beri kepercayaan," lirih Anna.

"Ann ... aku juga mencintai Lisa. Aku mencintai kalian berdua. Aku mohon terima Lisa sebagai madumu," ucap Dimas.

Anna mengalihkan pandangan wajahnya dari Dimas. "Cinta ... kamu tidak mencintaiku. Kalau kamu cinta padaku, kamu tidak akan menikah lagi. Kamu akan menerima segala kekurangan diriku."

Dimas terdiam mendengar penuturan Anna. Dia juga merasa bersalah karena telah menyakiti Anna. Apa cinta di hatinya untuk Lisa salah. Saat bertemu Lisa dia sudah jatuh cinta padanya.

Lisa wanita yang cantik. Dimas sangat nyaman saat bersama dengannya. Permainan ranjang Lisa juga sangat memuaskan. Berbeda dari Anna yang monoton.

"Aku pulang dulu, besok pagi aku akan ke sini," ucap Dimas.

"Apa itu yang kamu anggap adil?" tanya Anna.

"Ann ... aku pagi-pagi sudah di sini. Kalau malam aku akan bersama Lisa," kata Dimas.

Anna mengeleng tidak percaya pada ucapan Dimas. "Saat pagi kamu hanya sarapan di sini lalu makan malam . Sedangkan dari kamu masuk kantor sampai pulang, kamu bertemu denganya. Lalu malamnya kamu lagi-lagi bersama Lisa."

Anna menatap intens wajah Dimas. "Dimas ... kalau kamu sudah bosan denganku, lebih baik kita cerai saja."

Dimas terlonjak kaget akan kata-kata dari mulut Anna. Bercerai, tidak ada niat sedikit pun Dimas untuk menceraikan Anna. Dia sangat mencintai istrinya. Selamanya Anna akan selalu menjadi istrinya.

"Ann ... jangan ucapkan lagi kata-kata perceraian. Aku sungguh mencintai kamu. Ann ... bukalah hatimu, kalau kamu bisa ikhlas maka rumah tangga kita akan harmonis," tutur Dimas.

"Pulanglah, aku akan mencoba untuk ikhlas menerima Lisa," ucap Anna.

Dimas tersenyum mendengarnya. Sebelum pulang Dimas mengecup kening dan juga bibir Anna. Dia memeluk sekali lagi tubuh istrinya itu.

Anna hanya menatap nanar kepergian Dimas. Mungkin dengan ikhlas akan membuat sakit hatinya berkurang.

...****************...

Tak terasa sudah enam bulan usia pernikahan baru Dimas. Suaminya itu hanya datang untuk sarapan pagi dan makan malam saja. Sisanya Dimas bersama dengan Lisa. Bahkan waktu libur, Dimas juga tidak menginap di rumah Anna.

Dimas hanya memberi nafkah lahir untuk Anna. Selama enam bulan, Anna tidak pernah di sentuh oleh Dimas. Anna juga tidak memperdulikan soal itu.

Anna meluangkan waktunya untuk ke salon, butik dan berolahraga membentuk tubuhnya. Hari-hari dia jalani seorang diri. Tiada lagi malam panjang yang menghiasi kamarnya.

Tiada lagi obrolan panjang dan kemesraan antara Anna dan Dimas. Suaminya lebih menyukai Lisa istri barunya. Setiap malam dingin Anna hanya meringkuk di bawah selimut.

Anna wanita muda yang juga butuh untuk menyalurkan hasratnya. Kadang Anna hanya menoton video panas di kamarnya. Dari video itu Anna belajar cara-cara bercinta. Anna mulai mengkhayal dia melakukanya bersama Dimas.

Anna hanya bisa memuaskan dirinya sendiri. Dia bahkan membeli alat hanya untuk memuaskan gelora napsunya. Anna berstatus sebagai istri. Tetapi dia seperti seorang janda.

Dimas dan Anna tengah makan malam bersama. Dimas makan dengan lahap masakan Anna. Dimas menyukai masakan Anna yang enak. Lisa tidak pandai memasak, maka dari itu Dimas tidak pernah mau makan di rumah Lisa.

"Mas ... malam ini, kamu tidur di sini yah!"

Dimas terdiam. "Ann ... aku ingin bersama Lisa. Kamu tidur sendiri saja. "

"Dimas ... aku ini juga istrimu. Kamu seperti membuatku menjadi pembantu saja. Kamu makan di sini, lalu kamu tidur di sana," tutur Anna.

"Aku tidak mau bertengkar denganmu. Aku pulang dulu," ucap Dimas.

Dimas mengecup kening Anna lalu keluar dari rumah. Dimas tega membiarkan istrinya tidur sendirian setiap hari. Bagi Dimas perlakuan ini cukup adil.

Dimas ingin bersama Lisa setiap malam karena ingin membuat Lisa hamil. Orang tuanya sudah memintanya untuk memberi seorang cucu.

Dimas juga ingin bersama Anna. Dia hanya tidak punya cukup waktu untuk menghabiskan waktu bersama istri pertamanya itu.

Setiap pagi dia harus ke kantor. Lalu pulang kantor dia sudah sangat lelah. Dimas hanya punya waktu malam hari saja. Dan itu hanya akan Dimas habiskan bersama Lisa saja.

Tbc

Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!