Melanjutkan kisah hidup Ayi Mahogra yang sudah membangun Akademi Kharisma Jagat atau AKJ untuk melatih suku Kharisma Jagat, Kharisma Jagat adalah suku tanah Pasundan yang memiliki Karuhun turun temurun dari nenek moyang atau jin pelindung ghaib untuk menjaga keseimbangan dua dunia, selama masa melatih para manusia istimewa dari suku ini, ternyata Ayi sadar, bahwa, musuhnya hanya satu orang, yaitu Bagaskara, dia adalah manusia setengah iblis yang hidup panjang karena telah menyembah dan mengabdi pada iblis, iblis itu adalah kakak Ratu Laut, mereka tidak akur, maka tak heran kalau Ratu Laut diam-diam menjadi pendukung Ayi Mahogra agar dapat mengalahkan Bagaskara.
Bagaskara memiliki misi, mengendalikan umat manusia untuk menyembah iblis yang dia sembah dan menjadikan manusia itu sebagai pasukannya, jika ada manusia yang menolak, maka Bagaskara akan menggunakan makhluk ghaib untuk mencelakainya.
Maka Bagaskara dan pasukannya, pertama-tama akan membuat kerusakan pada keyakinan manusia tentang Tuhan, dia menebar ilmu hitam seperti santet, pelet dan pesugihan, cara cepat mendapatkan keinginan dengan bantuan ghaib, sebagai gantinya, Bagaskara meminta pengorbanan, bisa berupa keimanan terhadap Tuhan atau korban nyawa sebagai tumbal. Itu semua dia minta sebagai bukti bahwa, manusia telah keluar dari ajaran agama dan tidak lagi percaya Tuhan, di titik inilah Bagaskara akan meminta manusia menyembah iblis yang dia sembah.
Para pasukan Bagaskara terdiri dari dukun ilmu hitam, ahli sihir hitam dan yang paling tinggi ilmu serta kekuasannya adalah para tetua Kharisma Jagat yang sebelumnya mencari Ayi Mahogra untuk menjadikannya ratu boneka, mengikuti peraturan para tetua yang tidak masuk akal untuk mengeruk keuntungan dan memperkaya diri mereka sendiri.
Salah satu aturan yang para tetua Kharisma Jagat buat adalah, setiap Kharisma Jagat, harus menikah dengan jodoh adat, jika melanggar maka akan diburu dan dibuat hidupnya tidak tenang sampai anak cucu, mereka bilang kalau pernikahan di luar jodoh adat adalah pernikah nista yang dikutuk Tuhan.
Padahal, itu bukanlah aturan yang benar dari Tuhan, itu adalah pemaksaan agar para tetua tetap bisa mengatur semua Kharisma Jagat untuk mengikuti kemauan mereka, mengendalikan mereka sesuai kebutuhan, termasuk pernikahan, itu semua hanya untuk mengendalikan dan memuluskan jalan mereka mendapatkan keuntungan dari pernikahan adat yang dipaksakan itu.
Seperti itu juga para tetua Kharisma Jagat mengambil keuntungan pada manusia yang meminta bantuan soal perkara ghaib, para tetua menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan. Mereka memang membantu tapi dengan imbalan yang besar.
Seira Adam Hanida yang saat itu baru dibuka segelnya dan akhirnya menerima kalau dialah Ayi Mahogra atau ratunya Kharisma Jagat, menentang keras perjodohan adat yang telah menelan banyak korban, pasangan yang tidak menikah dengan jodoh adatnya diburu dan dicelakai tidak pandang bulu dan umur, Ayi juga akhirnya tahu kalau para tetua bekerja sesuai uang dan keuntungan yang mereka dapatkan. Suku yang dipercaya mampu menolong sesama manusia karena perkara ghaib, menjadi suku yang mata duitan dan gila kekuasaan.
Bahkan Seira dan Jodoh Adatnya yang seorang Kharisma Jagat Agung bernama Pramudya Aksara, membongkar kebusukan para Tetua, berbohong soal kutukan jodoh adat agar mereka mau menikah dengan sesama Kharisma Jagat hanya agar bisa dikendalikan, para tetua murka karena Ayi, Ratu Baru yang tidak punya pengalaman, berani menentang mereka, maka akhirnya para tetua memburu Ayi untuk dimusnahkan.
Karena itu akhirnya Ayi menyatakan perang dengan para Tetua untuk mengubah banyak aturan dan membuat Kharisma Jagat mampu memakai ilmunya untuk membantu manusia, bukan memanfaatkannya untuk kekayaan dan kekuasaan.
Ayi mampu memenangkan perang berkat bantuan banyak pihak, ada dari kalangan jin yang baik, kalangan kharisma jagat yang lurus dan Malik, orang yang paling dia cintai, juga Pram jodoh adatnya yang mencintainya tapi menerima kalau mereka tak mungkin bersama karena Ayi mencintai Malik dan akhirnya Pram gugur dalam peperangan itu, Ayi menjadikan nama Pramudya Aksara sebagai nama anak pertamanya untuk mengenang kebaikan Pram dalam pemberontakan melawan para tetua kharisma jagat yang telah sesat it.
Saat Ayi hamil anak kedua, yang sudah diketahui berjenis kelamin perempuan dan merupakan Kharisma Jagat Agung, yaitu Kharisma Jagat dengan tingkat kekuatan yang paling tinggi, dia juga yang akan diturunkan karuhun milik Ayi Mahogra, karuhun yang istimewa juga dengan kekuatan yang sangat tinggi dan telah berumur ratusan tahun, meski Ayi sudah memiliki anak pertama bernama Pramudya Aksara, tapi anak keduanyalah yang menjadi Kharisma Jagat Agung karena itu seleksi alam dan takdir Tuhan.
Seiring berjalannya waktu, perlawanan demi perlawanan, akhirnya Ayi tahu bahwa musuh nyatanya hanyalah Bagaskara, dialah dalang dan pemimpin semua keburukan di negeri ini, dia yang mengendalikan kekuasaan dengan cara ghaib, bahkan memerintah para tetua menggunakan ilmu yang dimiliki untuk mengambil keuntungan, dia juga yang menjadikan banyak manusia lain menjadi penyembah iblis dan lupa pada Tuhan.
Ayi menyatakan perang pada Bagaskara ketika dia menang dari para tetua karena tetua adalah bagian dari sekutu dan juga pasukannya, tentu kekuatan Bagaskara jauh lebih besar karena dia dilindungi oleh iblis yang sangat jahat, berumur ribuan tahun, tapi Ayi tak gentar, karena itu, ketika Ayi hamil anak kedua, anaknya diincar dengan mengusung kutukan kuno yang berbunyi bahwa, Ayi Mahogra kekuasaannya akan digulingkan oleh anaknya sendiri.
Bagaskara sudah menyiapkan rencana jahat untuk menculik anak kadua Ayi Mahogra, dia akan mendidik anak itu untuk memberontak pada ibunya sendiri dan menjadikannya tentara yang menggulingkan kekuasaan Ayi Mahogra, tapi rencana itu gagal karena Ayi punya pasukan Kharisma Jagat yang hebat dan juga kuat, setelah anak kedua Ayi lahir, dia diberinama Atyasa Samantaka Rainan atau dipanggil Yasa, dia dibawa kabur oleh Malik dan kawanan senior yang terdiri dari 1 kharisma Jagat dengan tingkat ilmu yang sangat tinggi bernama Aditia, 1 manusia istimewa setengah jin bernama Alka, 3 orang pemegang khodam yang dilatih oleh seorang Kharisma Jagat bijak dengan tingkat yang tinggi bernama Ganding, Jarni dan Hartino, serta satu orang lagi yang menekuni ilmu ghaib dari berbagai negara yang memiliki khodam berilmu tinggi juga bernama Alisha, mereka disebut kawanan senior yang adalah pasukan Kharisma Jagat senior yang paling disegani di istana AKJ.
Mereka lari dari AKJ dan meninggalkan Ayi karena perintah Ayi, Ayi tak ingin anaknya dijadikan pasukan Bagaskara untuk melawannya kelak, bukan karena dia takut digulingkan, tapi karena dia ingin anaknya hidup dengan bahagia, dengan orang-orang yang dia sayang, meski mereka harus berpisah.
Selama mereka kabur, banyak petualangan dan tantangan yang dihadapi karena mereka dikejar oleh pasukan Bagaskara dan berlindung pada banyak suku lain yang ternyata punya ilmu yang hebat, dari sana mereka belajar banyak ilmu, mendapatkan banyak sekutu dan mampu membesarkan Yasa dengan kebaikan alam dan orang-orang yang beradab tinggi dalam menggunakan ilmu ghaib mereka, mendidik Yasa untuk menjadi Kharisma Jagat Agung yang baik kelak, karena kekuatan yang besar akan merusak jika tak memiliki ilmu adab yang tinggi juga.
Selain kawanan senior, Ayi juga memiliki kawanan junior yang dulunya adalah pasukan Bagaskara, anak-anak kecil Kharisma Jagat yag sedari kecil dicuci otaknya untuk membenci manusia lain selain suku mereka, yang juga dicuci otaknya saat mereka beranjak dewasa untuk membenci ratunya sendiri, ratu yang dibilang adalah iblis wanita yang harus mereka hancurkan, hingga Ayi akhirnya menyadarkan mereka kalau Bagaskaralah yang seorang pelayan iblis, membuat mereka jauh dari Tuhan, Atami, Asti, Masti, Merati dan Timo akhirnya setelah sadar bergabung bersama Ayi Mahogra untuk menjaga istana AKJ melawan Bagaskara, membantu Ayi mengembalikan jati diri suku mereka jati diri Kharisma Jagat yang menjadi pelindung umat manusia dari kejahatan ghaib, kejahatan Bagaskara, tuan yang dulunya mereka agungkan, tuan yang akhirnya mereka tahu, adalah pelayan iblis yang jahanam.
Untuk membaca kisah ini, kalian bisa lengkapi dengan 3 buku sebelumnya, yaitu :
1. Karuhun (Tamat)
2. Angkot Jemputan (Tamat)
3. Pasukan Kharisma Jagat (Season 1 Tamat)
Lalu apakah Ayi berhasil mengalahkan Bagaskara dan membuat anaknya terlepas dari kutukan kuno itu? atau Ayi akan kalah dan Bagaskara berhasil mengendalikan umat manusia melalu ratu baru mereka Atyasa Samantaka Rainan, anak Ayi Mahogra yang katanya satu-satunya orang yang mampu menggulingkan kekuasaan ibunya?
Lanjut ke bagian 1 novel ini ya …..
Selamat membaca.
Sebelumnya (Baca kembali Bab Abadi pada Novel AJP)
“Seharusnya bawa mereka berdua, karena, justru aku takut kalau ... masalah utamanya ada pada tubuh suaminya, Fani bukan kharisma jagat dan benar anaknya Kharisma Jagat Agung, aku merasakan energi yang sama seperti energi Pram.” Ayi memegang perut Fani.
“Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bisa kharisma jagat agung lahir dari seorang wanita biasa yang menikah dengan kharisma jagat biasa?” Hanif bertanya, Aam hanya memperhatikan saja.
“Pramudya Aksara, lahir dari seorang ibu dan ayah yang bukan kharisma jagat agung, Kakek dan neneknya keturunan langsung Ayi Mahogra sebelum aku, mereka masih kerabat jauh dengan Pak Mulyana. Maka mungkin bayi ini adalah keturunan dari Ayi Mahogra sebelumku, kau sudah selidiki asal usulnya?” Ayi bertanya.
“Belum, kami langsung membawanya ke sini dan bertemu dengan Ayi.” Aam menjawab, karena dia adalah bank datanya jika di tim Ayi.
“Carikan dulu, aku akan berbicara dengan para karuhunku untuk masuk ke dunia gendam, malam ini persiapkan semuanya, kumpulkan para senior cantrik untuk menjadi mata pelajaran dunia gendam akan menjadi hal baru bagi kita bukan?” Ayi lalu masuk ke kamar dan berbicara pada Raden serta tak lupa Panglima.
“Bagaimana menurut kalian? Apakah aku bisa masuk ke dunia itu? Seberapa besar bahayanya?” Ayi bertanya.
“Sangat besar, tapi aku tetap tak bisa mencegahmu masuk kan?” Panglima dengan kalimat sarkasnya.
“Tidak bisa, tapi aku butuh tahu, seberapa besar resikonya.”
“Mungkin sekitar 60 persen Bagaskara akan menemukanmu.” Raden yang menjawab, karena dia tahu, rekan karuhunnya tak setuju Ayi Masuk, makin tua makhluk, memang makin banyak takutnya, sama seperti karuhun tua itu.
“Apakah sudah pasti dia pelakunya?” Ayi bertanya lagi.
“Siapa lagi yang berusaha mengumpulkan kharisma jagat agung untuk mewujudkan kutukan Ayi Mahogra itu? Setelah berhasil menciptakan budaya pernikahan adat dengan para tetua dan membuat nasib pernikahan para kharisma jagat ada di tangannya, maka tak heran sekarang dia sangat ingin menjadikan kutukan itu terwujud, kau tahu, dia itu adalah budak iblis paling setia sedang kau, berusaha menjaga tatanan dunia tetap terkendali, bahwa iblis tetap berada di dunianya, belum saatnya mereka keluar. Maka apa lagi yang perlu kau ragukan? Sudah pasti dialah yang paling mungkin menjadi dalang dari semua ini.” Panglima memberikan alasan yang masuk akal bagi tuannya.
“Aku akan masuk ke sana.”
“Sudah kubilang, dia ini keras kepala, heran sekali, sudah berumur masih saja keras kepala!” Panglima kesal, karena baginya menjadi ratu di kerajaan AKJ jauh lebih baik, bukan memulai kasus lagi, dua anak membuat ibu satu ini tidak juga terhalang langkahnya untuk melaksanakan tugas dengan sebaiknya.
Maka Ayi Mahogra merencanakan untuk masuk ke alam gendam yang entah diciptakan oleh siapa, dia akan mendobrak pintu masuknya seperti biasa, dia akan melihat dulu keadaan, karena tidak akan mudah bagi Ayi Mahogra menyembunyikan energinya, dia harus benar-benar hati-hati.
Semua cantrik senior berkumpul, mereka duduk mengitari Fani yang ditidurkan di tengah aula, Ayi keluar bersama 2 karuhunnya yang terlihat jelas, karena ini di AKJ semua Karuhun dapat terlihat, yang bersembunyi di dalam tubuh tuannya juga terlihat secara transparan oleh para penduduk AKJ yang memang pengetahuan dasarnya adalah melihat makhluk ghaib.
“Baiklah, terima kasih karena meski sudah malam, kalian tetap mau datang ke aula, aku hanya ingin kalian semua bersiap, jika kelak mendapatkan kasus di luar sana, karena begitu lulus, semua akan langsung menangani kasus di luar, semakin banyak lulusan AKJ, akan semakin baik, karena kita bisa melawan antek-antek Bagaskara dimulai dari yang paling bawah seperti dukun-dukun ilmu hitam dan bengis itu.
Tapi, sebelum kalian keluar, kalian harus banyak belajar, karena AKJ selalu memberikan pendampingan, tapi di luar sana, kalian benar-benar akan menghadapi kasus sendiri.
Kalau begitu, kalian semua siapkan mata dan pikiran kalian, selama aku masuk ke dunia gendam mungkin aku akan putus koneksi dengan kalian, tapi aku akan tetap bisa dipantau oleh Guru Hanif karena aku akan membawa karuhunnya, dengan begitu, guru Hanif akan bisa melihatku melalui mata Karuhunnya, maka yang harus kalian lakukan hanyalah perhatikan dan jika dari kalian ada yang mampu membantuku, kalian harus berani memberitahu guru Aam atau guru Hanif, ingat, siapa pun kalian di luar sana, di sini kalian adala cantrik, orang-orang istimewa yang punya pengetahuan dalam soal dunia ghaib, maka dari itu, fokus dan bantu jika memang bisa.”
Ayi memberikan wejangan sebelum dia masuk ke dunia gendam.
“Ayi, hati-hati ya.” Hanif mengeluarkan karuhun yang sesosok macan dengan tinggi dan besar yang sama seperti macan mirip Ayi, dulu karuhun itu milik Malik, tapi berpinda pada Aam karena siasat ayahnya.
“Tenang saja kakak ipar, aku akan menjaga diri, anak dan suamiku ada di luar sana, aku masih sangat ingin menemui mereka lagi kelak.” Ayi tersenyum lalu mendekati tubuh Fani, dia memegang kepala Fani untuk menentukan titik koordinat dari dunia gendam, setelah sudah yakin, Ayi membuka portalnya dan masuk. Dia masuk dengan tubuh manusianya, dia tak perlu lepas raga karena dia memang manusia istimewa yang berdiri di dua alam.
Gelap, Ayi berjalan maju, dia tidak lagi mengenakan jubah hijau, dia telah berganti pakaian menjadi pakaian lebih kasual, karena dia tak ingin menarik perhatian.
Saat Ayi semakin maju, dia melihat sekitar karena keadaan sudah berubah, bukan ruang gelap dan kosong lagi, menjadi sebuah komplek perumahan yang Ayi melihat banyak orang terkunci di dalam ruma yang terus berputar.
“Mereka mengurungnya di sini, tapi kenapa ada beberapa, bukan hanya Fani dan Sandi saja, lihat itu.” Ayi menunjuk pada setiap rumah yang satu orang di dalamnya terlihat dari jendela sedang begitu ketakutan mencari jalan keluar.
“Rumah yang mana dulu?” Panglima bertanya, Raden hanya memperhatikan.
“Akan kurasakan energi yang mirip energi anak Fani, karena itu pasti Sandi.” Ayi memang belum pernah melihat wajah Sandi, tapi dia bisa memperkirakannya.
Ayi berjalan perlahan ke satu rumah, dia mencoba masuk ke rumah itu, tapi saat berjalan dia berhenti dan meminta karuhun berhenti juga.
“Ada medan energi yang jika kita lewati bisa kita lewati, biarkan aku memeriksanya dulu.” Ayi lalu berjalan berkeliling rumah yang ada di dunia gendam ciptaan para kharisma jagat milik Bagaskara itu, pasukan para tetua tentunya.
Setelah memeriksa cukup intens selama beberapa menit, Ayi akhirnya yakin, “Aku akan masuk, tapi mungkin energiku akan segera terdeteksi, aku mungkin tidak punya waktu banyak, Panglima berjagalah, Raden dan maung karuhun milik Hanif berjaga di luar, tidak ada satu pun dunia ghaib yang tidak bisa dimasuki oleh Ayi Mahogra, tapi sebagai gantinya, energi Ayi akan langsung terdeteksi, tapi langkah berat ini harus dia ambil, karena ruh Fani harus dikeluarkan dari dunia itu, ruh dan sukmanya mungkin menyatu terjebak di alam ini.
Ayi masuk ke dalam, terasa medan magnet yang berat sekali di sekitaran sana, Panglima melihat langit dia alam itu, Panglima bersiap, Maung Janif juga karena setelah ini pasti akan banyak serangan.
Ayi masuk ke dalam, gelap, sepi pengap dan terasa dingin.
“Fani! Sandi! Ayi berteriak.” Dia terus berjalan karena energi yang mirip bayi di dalam perut Fani ada di dalam rumah ini, gelap, hanya terlihat bangunan rumah yang terbengkalai, Ayi tetap berjalan ke depan mencari sumber energi.
“Kau siapa?” Sesosok Jin dengan seluruh tubuh bersisik hingga tak ada satu pun kulit atau pun bulu yang terlihat keluar dari bertanya pada Ayi Mahogra, mulutnya mendesis.
“Apa kau karuhunnya Sandi? Di mana dia?” Ayi tahu karena energi Gagra sungguh mirip dengan energi anak yang dikandung Fani.
“Ya, namaku Gagra, kau siapa?” Gagra tidak dapat memprediksi siapa wanita ini karena energi besar yang tidak bisa diindentifikasi.
“Mana Sandi dan istrinya?” Ayi berjalan mendekati dia.
“Kau siapa?” Gagra bertanya lagi setelah Ayi mendekat, energi semakin kuat, nyali Gagra ciut, meski Ayi tak menjawab, Gagra memberinya jalan, saat melewati Gagra, Ayi melihar rumah itu sudah lebih terang meski temaram, Sandi sedang duduk di lantai memegangi istrinya yang sudah bangun tapi hanya terdiam karena lemah sambil memegang perutnya.
“Sandi, aku Ayi Mahogra, sekarang kau ikut ya.” Ayi meminta Sandi berdiri untuk keluar dari rumah itu.
Sandi menatap Ayi lalu patuh, dia berdiri dan memapah istrinya untuk ikut bersama, Gagra ada di belakang mereka, saat menghampiri pintu, tiba-tiba rumah berguncang, Ayi mundur memegang Fani di sisi kiri karena di sisi kanan ada Sandi yang memapahnya.
Rumah itu kembali terkunci dengan tembok yang berputar, pintu sudah tertutup dinding.
“Kita takkan bisa keluar, sebelumnya bahkan tiga orang pemuda menjemput kami harus melubangi temboknya dengan susah payah.” Sandi terlihat lemas.
“Pegangi istrimu.” Ayi memerintah dan maju membuka pintu yang daun pintunya terbuka ke arah dalam rumah, dia melihat tembok tebal yang terbuat dari batu bata padat, tidak seperti Timo yang memukul tembok, Ayi memegang tembok itu dengan telapak tangannya, ada cahaya keluar dari telapak tangan itu, seketika tembok hancur, tidak hanya pada bagian yang Ayi pegang, tapi seluruh tembok yang menghuni rumah.
“Cepat keluar dari sini!” Ayi meminta Sandi yang memapah istrinya untuk keluar duluan, setelahnya baru Gagra dan terakhir Ayi. Dia melihar sekitar, Panglima, Raden dan Maung Hanif berlarian mengiringi Ayi Mahogra, mereka terlihat kelelahan, rupanya selama Ayi di dalam para maung itu bertarung dengan banyak pasukan bayangan, mereka menghilang begitu tembok putar yang memenjarakan rumah hancur oleh Ayi, ketakutan karena ratunya kharisma jagat telah keluar dari rumah itu.
“Lewat sini Ayi!” Gagra meminta Ayi mengikutinya, Ayi ikur memapa Fani yang sudah sangat lemah agar beralan lebih cepat, begitu juga maung yang mengitari Ayi agar ia terlindungi dari serangan mendadak.
Mereka berlarian terus mencari pintu keluar, Fani sangat lemah, hingga Ayi meminta Panglima untuk menggendongnya.
“Tidak jangan, akan bahaya untuk janinnya jika dia naik ke punggung Panglima.” Sandi berkata dengan khawatir.
“Bayimu akan selamat, karena kalian hanyalah berwujud ruh.” Ayi berkata dengan cepat karena dia tak mau membuang waktu, semakin lama di dunia gendam buatan kharisma jagat pasukan Bagaskara, maka akan semakin buruk untuknya, bisa saja Bagaskara mendatangkan pasukan ke sana, meski Ayi mampu melawan, tapi semakin lama semakin banyak bala tentara maka Ayi mungkin akan kelelahan melawan tanpa pasukan.
“Tapi Ayi, biarkan aku saja yang menggendongnya.” Sandi menolak, entah apa yang mengeraskannya.
“Kau ingin bayi dan anakmu selamat atau tidak?” Ayi bertanya.
“Ayi biarkan ….” Gagra tidak mampu menyelesaikan perkatannya karena Ayi mencekik lehernya, Ayi sudah muak dengan kelakukan karuhun pembelot ini.
Kawanan junior sudah memberitahu kalau karuhun Sandi kemungkinan pembelot pada Aam, Aam sudah memberitahu Ayi dan juga Hanif, tapi kemungkinan itu belum bisa dibuktikan karena tidak terlihat secara jelas, Atami dan yang lain saat terjebak di dunida gendam dan harus kembali menghancurkan tembok yang memenjarakan rumah itu tidak lagi melihat keberadaan Gagra dan Sandi, jadi semua itu hanya baru kesimpulan semata.
Karena Ayi adalah ratunya kharisma jagat, dia juga tak boleh asal menyimpulkan mengenai Gagra, maka dia sejak pertama bertemu mencoba mengamati dan memakai instingnya. Saat Gagra meminta Ayi mengikutinya, di titik itulah Ayi tahu faktanya.
“Kau menjauhkan kami dari pintu keluar, kau jelas tahu pintu gendam kurobek ke arah sana karena kau bisa merasakan energiku bukan, tapi kau memaksaku mengikutimu, kau pikir bisa dengan mudah menipuku, kau mencoba mengulur waktu kan?!” Ayi berkata dengan marah, Gagra menyatukan tangan seperti meminta ampun.
Dari kejauhan Ayi merasakan energi yang sangat besar, Ayi tahu kalau Bagaskara sudah tahu kalau Ayi sudah masuk dunia gendam itu, maka Ayi melepaskan Gagra yang lemas dan dia menarik Fani untuk naik ke punggung Panglima, sementara Sandi yang takut Fani kenapa-kenapa, dia akhirnya ikut naik ke punggung Panglima, Panglima memang mampu membawa mereka, tapi beban seharusnya dibagi.
“Kau pindah ke punggung maung Hanif , jangan di sana.” Ayi meminta Sandi pindah, Ayi sedang naik ke punggung raden, maung putih imut kesayangannya.
“Tidak, aku takut Fani akan jatuh, dia sangat lemas!” Sandi menolak.
“Ayi! Sudah tak ada waktu, kita harus cepat keluar sebelum mereka menyerang kita, akan sulit bagi kita melawan Bagaskara sementara ada 2 orang yang juga harus dijaga!” Panglima meminta Ayi untuk berhenti berdebat, Ayi melihat ke arah Sandi dan akhirnya setuju, Ayi mengikatkan karembo hejo pada pinggangnya, dia mengeluarkan kujang, hanya untuk berjaga.
Ayi lalu menunggangi Raden untuk merobek pintu keluar baru di dunia gendam ini, karena kalau kembali ke pintu dia masuk tadi untuk keluar, mereka harus menghadapi pasukan Bagaskara, mereka harus keluar tanpa pertarungan yang memakan waktu lagi, waktu yang bsia membuat Bagaskara mendatangkan lebih banyak pasukan.
Ayi turun dari punggung Raden saat Raden masih berlarian, Ayi melihat celah gendam yang menipis pada satu sisi, Ayi memasang kuda-kuda dan merobek dinding dunia gendam yang terlihat seperti cahaya yang terobek hingga perbedaan terang dan gelap terlihat dengan jelas pada robekan.
Ayi sudah menggunakan energinya untuk merobek pintu masuk ke dunia gendam ini lalu sekarang Ayi harus kembali merobek pintu keluar yang seharusnya tidak perlu dilakukan jika tadi tidak ditipu Gagra karena bisa keluar dan masuk pada robekan pintu yang sama, hal itu membuat energinya jadi terkuras tapi informasi mengenai Gagra harus didapatkan meski harus mengorbankan energi dan waktunya, sekarang Ayi bahkan harus beberapa kali berhenti karena tidak mudah merobek di bagian ulang pintu dunia gendam buatan pasukan kharisma jagat milik Bagaskara, Ayi tahu, Bagaskara langsung menambah pemagaran pada dunia gendam ini agar Ayi tak mudah keluar.
“Cepat!” Panglima memperingatkan Ayi karena pasukan Bagaskara semakin dekat.
“Aku sedang mencobanya!” Ayi berteriak.
Saat terbuka dengan cukup luas, Ayi meminta Raden keluar duluan karena dia paling dekat, sembari memastikan tempat mendarat mereka di dunia nyata tidak berbahaya, setelah Raden memberi tanda aman, maka Ayi meminta Panglima untuk segera keluar, Sandi turun dari punggung Panglima agar memudahkan Panglima masuk ke dalam robekan itu karena kalau penunggangnya dua, maka akan sulit.
Fani dan Panglima keluar dari dunia gendam dengan selamat, Panglima menjaga Fani dengan baik.
“Ayo, sekarang kau yang keluar, cepat!” Ayi meminta Sandi keluar, Sandi menatap Ayi dengan sedih, lalu menggeleng.
“Apa maksudmu! Cepat!” Ayi berteriak karena kesal, Sandi menolak ke luar dari sana.
“Gagra bilang, kalau aku tinggal bersama Bagaskara, mereka akan melepaskanku, bawalah istri dan anakku, jaga mereka, biarkan aku bersama mereka, aku tidak ingin anak dan istriku celaka, maaf Ayi, tolong jaga istriku.” Sandi lalu berlari ke arah pasukan Bagaskara yang sudah semakin dekat dan terlihat.
“Sandi!!!” Ayi berteriak dan hendak mengejarnya, tapi maung Hanif segera menubruk tubuh Ayi agar keluar dari dunia gendam melalui pintu yang dia robek dengan kujangnya.
Mereka berhasil keluar, pintu tertutup dengan sempurna, ternyata mereka keluar di hutan sebrang AKJ. Gelap, yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan dingin angin malam.
Ayi melihat ke arah Fani, ruhnya terlihat sangat lemah.
“Bawa kita kembali ke AKJ.” Ayi memerintah semua karuhun untuk memindahkan mereka melalui kemampuan teleportasi yang dimiliki jin asal titik koordinat telah dihapal, tentu saja para karuhun hapal betul di mana koordinat AKJ yang tersembunyi itu.
Ayi sampai di sana membawa ruh Fani yang segera dibantu Hanif kembali ke tubuhnya, Aam segera mendekati Ayi yang terlihat murung.
“Mereka menipunya, dia percaya kalau dia bertahan di sana Bagaskara akan melepaskan istri dan anaknya, pasti mereka mengincar sesuatu pada Sandi, makanya mereka meminta Sandi untuk bertahan di sana.”
“Ini bukan salahmu, itu pilihan dia.” Aam menenangkan kakaknya.
“Ayi melihat ke arah Fani yang sudah mulai sadar setelah ruhnya masuk ke dalam raga.
“Semua orang punya pilihan, tapi berpisah dengan orang yang kau cintai, itu tidak mudah!” Ayi lalu meninggalkan aula tanpa penjelasan, Panglima dan Raden masuk ke tubuh Ayi, mereka perlu istirahat, meski bukan peperangan, tapi ini hal yang menyesakkan bagi Ayi.
Ayi duduk berdua dengan Fani di aula AKJ, Ayi memakai gaun semata kaki serba hitam yang menutup seluruh tubunya serta kerudung yang menutup rambut indahnya, sehari-hari setelah berpisah dengan anaknya, Ayi memang membenci banyak warna, karena itu mengingatkannya pada ketidakmampuannya menggendong anaknya sendiri, karena warna yang cerah dan meriah, khas bayi yang baru lahir, itu menyakitinya.
Ayi harus mendengar kisahnya, siapa Sandi dan keluarganya, walau Ayi tak berharap banyak, karena kebanyakan Kharisma Jagat menyembunyikan identitasnya jika menikah dengan orang biasa, seperti Mulyana ketika menikahi ibunya Adit.
“Saya di mana?” Fani menangis, karena yang dia ingat hanya kabur, sudah! Setelahnya dia tak ingat.
“Kamu sedang di rumahku, tenanglah, aku berasal dari suku pasundan, nama suku kami adalah Kharisma Jagat, kau takkan menemukan kami di buku sejarah mana pun karena kami bukan suku biasa, tapi aku tak bisa ceritakan sampai aku tahu sejauh mana yang kau ketahui, karena ini soal keselamatanmu dan anakmu.” Ayi menunjuk anaknya Fani.
“Apa keluarga Sandi berhutang pada suku kalian sampai kalian memburuku?” Fani bertanya dengan sedih.
“Hutang?”
“Oh, jadi kau bukan penagih hutang? Hutang ayanya Sandi sebesar sebelas milyar, kakak laki-laki dan adik perempuannya juga sudah kabur, kakak laki-lakinya kabur bersama istri dan anaknya, sedang adik perempuannya kabur sendirian, kami berpisah di jalan itu dan berjanji takkan memberit kabar satu sama lain agar jejak tak diketahui.
Lalu saat kami kabur, ada beberapa orang yang mengejar, kami bersembunyi di sebuah lorong, saat itulah kami bertemu dengan seorang nenek yang mau membantu, kami masuk ke rumah nenek itu dan … dan … aku … aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya.
Ayi melihat ke arah Fani, rupanya dia benar tak tahu apapun soal Sandi, Ayi telah meminta Hanif mencaritahu latar belakang keluarga Sandi.
“Baiklah, kau bisa tenang karena kami bukanlah penagih hutan, kami ini satu suku dengan keluarga suamimu, bisa kamu ceritakan, awal mula bertemu dengan Sandi?” Ayi kembali menggali infomasi yang mungkin saja dia bisa dapatkan dengan mendengar ceritanya dari Fani secara detail, dari sudut pandang Fani.
“Kami bertemu saat bekerja, dia itu dulu sudah jadi supervisor di perusahaan keluarganya sendiri, dia dari keluarga yang berada.
Sementara saya, saya adalah admin finance, oh ya maaf, nama kakak siapa?” Fani baru bertanya.
“Namaku Ayi, kau bisa panggil aku Ayi saja.”
“Baiklah Ayi, saat itu aku hanya ingin mengumpulkan uang buat kuliah, tapi ternyata kami jatuh cinta, Sandi pria yang sangat baik, dia seorang yang perhatian, lembut dan bertanggung jawab, meski ketika kami pacaran dan aku berkunjung ke rumahnya, karena lokasi kantor cukup jauh dari ruma, aku jadi tahu kalau keluarga Sandi berbeda.”
“Berbeda?”
“Ya, aku melihat begitu banyak patung dan lukisan yang cukup mengerikan di rumah itu, keris-keris bahkan dipajang dengan cara seperti ini.” Fani menegakkan tangannya, bermaksud memberitahu kalau keris-keris yang dipajang di atas meja itu berdiri tegak, Fani berpikir pasti keris itu ditancap ke meja, padahal jika diperhatikan dengan baik, keris itu melayang tapi tak terlihat dengan jelas jika kau melihat sekilas.
“Kenapa kau pikir mereka berbeda hanya dengan pajangan yang ada di ruma mereka? Bisa saja mereka memang suka sesuatu yang tradisional berasal dari budaya dan adat kita, itu tidak berbeda, itu hanya masalah hobi kan.”
“Tidak Ayi, itu berbeda karena beberapa malam aku diharuskan ikut ritual, katanya itu ritual pembersihkan.” Fani membela asumsinya.
“Baiklah kalau begitu, maukah kau membawaku pada ingatan itu?” Ayi mengulukan tangannya, jika kalian lupa, bahwa Ayi bisa mengintip masa lalu, dia ingin melihat ritual apa yang mereka lakukan.
Fani mengulurkan tangannya, Ayi menggenggam tangan Fani dan dia masuk ke ingatan Fani pada masa lalu, Ayi melihat semua orang memakai pakaian adat, yang perempuan memakai kebaya dan kain jarik, mereka duduk di suatu ruangan yang ada di dalam rumah, ruangan itu terbuka tanpa atap, itu adalah bagian belakang rumah, taman kecil dengan rumput buatan yang nyaman saat duduk di atasnya.
Mereka duduk bersisian, paling tengah Ada orang tua Sandi, kakak Sandi beserta anak dan istrinya, lalu ada Sandi dan Fani, terakhir adik bungsu Sandi yang ada di samping Sandi.
Di hadapan mereka ada meja altar, Ayi melihat di depan meja itu ada dupa dan keris, di sekeliling rumah Fani melihat banyak jin dengan berbagai rupa dan jenis serta energi yang tak seragam, ada yang cukup tinggi ada juga yang sangat rendah.
Fani terlihat khawatir, dia terlihat lebih muda, mungkin ini sekitar 4 tahun sebelumnya.
Ayi berjalan mengelilingi mereka, melihat apa yang digumamkan oleh bapaknya Sandi.
Ayi semakin mendekat agar terdengar, ketika Ayi dengar, rupanya mantra pemagaran.
Ayi jadi sadar, kalau bapaknya Sandi sedang memagari rumah.
“Pemagaran, mereka pasti bersembunyi dari para tetua.” Ayi menyimpulkan.
“Kalian harus selalu melakukan ritual ini tak peduli apapun yang terjadi ya, hapalkan mantranya agar kita semua selamat.” Bapaknya Sandi berkata dengan wajah serius, kakaknya Sandi hanya mengangguk.
Ritual butuh waktu sekitar satu setengah jam, setelah selesai, mereka semua duduk di bagian belakang rumah yang ada atapnya, sepertinya tempat itu sering digunakan untuk tempat menikmati sore karena menghadap taman yang indah tanpa atap, Fani terlihat membantu ibunya Sandi di belakang, dia terlihat kikuk, sepertinya dia ingin mengambil hati ibunya Sandi.
Fani memotong tomat untuk hiasan lalapan yang dibuat.
“Kau pasti kaget ya? Tenang saja, ini bukan mengikuti aliran sesat ya, ini hanya ritual adat saja, ritual turun temurun keluarga, kamu kan sebentar lagi menikah dengan Sandi, jadi harus tahu lebih jauh soal keluarga ini.”
“I-iya bu, kaget tapi tidak apa-apa.”
“Ya, karena ritual ini harus terus berjalan, tidak peduli apapun.” Ibunya Sandi melihat ke keluarganya.
Fani bingung, tapi dia tak berani bertanya, dia fokus pada pekerjaan yang dia sedang lakukan.
Masakan selesai, semua orang allu berkumpul di meja makan, Ayi masih di sana memperhatikan satu persatu anggota keluarga.
Makan selesai, Fani lalu pamit pulang diantar Sandi.
Ayi ikut masuk ke dalam mobil, dia masi ingin tahu lebih jauh.
“Kamu takut nggak?” Sandi bertanya di dalam mobil.
“Sedikit.” Fani jujur sambil menunjukan telunjuk dan jempol yang menandakan ukuran rasa takut yang kecil itu.
“Tenang aja, itu ritual sederhana saja, nggak ada tumbal-tumbalan, hanya adat turun temurun buat keluarga, perusahaan dan kesejahteraan.” Sandi tidak bisa memberitahu hal yang sebenarnya.
“Iya, tadi ibu juga udah bilang gitu kok, tenang aja, aku nggak bakal mundur.” Fani tersenyum dengan bahagia.
Mobil berjalan menyusuri jalan, Fani sampai di rumah, Sandi langsung pulang dan ketika sampai rumah, Sandi melihat ayahnya masih ada di ruang tamu, padahal sudah cukup malam, Sandi duduk lalu bertanya.
“Kenapa Yah?” Sandi hanya menebak kalau bapaknya sedang ingin bicara.
“Kau yakin tidak ingin memberitahunya soal keluarga kita?”
“Yakin! Karena aku takut Fani tidak setegar ibu, aku sangat mencintainya, Yah.” Sandi memohon.
“Gagra masih tertidur di dalam tubuhmu bukan? maafkan ayah karena menolak karuhun itu dan langsung menurunkannya padamu begitu kau lahir, dia mau ditidurkan selama ini karena tahu kalau ayah tidak sekuat itu, mungkin dia mengincar keturunanmu kelak, karena Gagra bisa mengintip masa depan tuannya.”
“Aku kira masih, karena aku tidak pernah melihatnya.”
“Mungkin sesekali dia akan datang atau memperlihatkan wujudnya, kau harus bersiap, kau akan menikah dan kelak akan punya anak, hati-hatilah, karuhun tidak bisa ditolak jika kau tak menurunkan pada tuan baru, maaf ayah dulu membebani karena ingin membangun keluarga ini dengan sejahtera, usaha keluarga yang bebas, tidak diatur adat para tetua, mereka menjijikan, kami para kharisma jagat bahkan harus menyetor uang pada mereka agar tidak diteror.”
“Yah, apakah ritual itu akan mampu melindungi kita?”
“Tidak tahu Sandi, tapi kata Mulyana, dengan menaruh banyak jin dengan berbagai energi di sini, itu akan mengaburkan energi kita satu keluarga yang berstatus kharisma jagat, tapi Mulyana telah tiada, jadi aku tak tahu lagi, apakah perlindungan kita juga akan tetap mampu melindungi.” Bapaknya Sandi terlihat khawatir.
“Tenang saja Yah, kita semua akan baik-baik saja, Fani tidak perlu tahu.” Sandi menenangkan ayahnya.
Ayi lalu terdiam, dia memasang kuda-kuda, dia perlu untuk pergi ke ingatan masa lalu Fani lebih dekat dengan tahun nyata mereka.
Ayi lalu berpindah pada masa di mana Bapaknya Sandi meninggal dunia, Fani dan Sandi sudah menikah selama 2 tahun.
“Jangan lupa selalu lakukan ritual pemagaran itu ya Nak, jangan lupa selalu saling menjaga, jaga istri anak dan adikmu, jangan sampai mereka menangkap kalian.” Bapaknya Sandi sudah sangat lemah, tapi masih memberi wejangan, di ruang ICU itu hanya ada Sandi dan kakaknya.
Tak lama kemudian bapaknya Sandi meninggal dunia.
Ayi kembali berpindah lagi pada masa di mana ritual itu akhirnya dilakukan tanpa bapaknya Sandi, Fani telah hamil seperti sekaran, berarti ini waktunya cukup dekat, ritual itu hanya dilakukan Sandi dan kakaknya, mereka terus membaca mantra tapi saat membaca, ada suara ledakan yang cukup besar, Ayi melihat sekitar, para jin yang tadinya ada di sana kabur semuanya.
Rupanya keberadaan keluarga Sandi sudah diketahui pasukan Bagaskara. Ayi melihat ritual mereka tak lagi mampu menahan pagarnya karena keburu sudah ketahuan.
“Tidak bisa! Kita harus pergi sekarang.” Kakaknya Sandi berkata dengan putus asa.
“Kita coba terus!” Sandi tak mau menyerah.
“Kau tak lihat, mereka yang melindungi rumah sudah kabur semua, kita sudah ketahuan!” Kakaknya Sandi lalu menarik anak dan istrinya lalu meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa.
Sedang adiknya Sandi juga lari dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Sandi melihat istrinya dan berkata, “Ayahku hutang 11 milyar untuk usaha kami, mungkin rumah ini akan didatangi penagih hutang, kita harus kabur, karena kami tak bisa membayar.”
Fani mendengar itu terlihat sedih, tapi menurut, mereka juga akhirnya lari dari rumah itu dan mengendarai mobil.
Saat mengendari mobil, mereka dicegat oleh beberapa orang yang tinggi besar, Fani mengira itu pasti preman penagih hutang, Sandi menabrak mereka dan mengedarai mobil lebih cepat lagi, setelahnya, dia menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu mengajak Fani keluar dari mobil.
Mereka bersembunyi dan kejadian selanjutnya kalian sudah tahu, saat bersembunyi Fani dan Sandi bertemu dengan nenek-nenek yang membawa masuk mereka ke dunia gendam.
Ayi keluar dari masa lalu Fani dan akhirnya melepas tangan Fani.
Ayi menyeka keringat dari keningnya karena energi yang dia gunakan cukup banyak karena masa mengintipnya juga cukup jauh.
“Fani dengar, Sandi tak ingin kau tahu soal asal-usulnya, tapi aku harus memberitahumu agar kau bisa kami lindungi, ini soal anakmu juga. Tapi itu semua terserah kau, jika kau tidak ingin tahu, aku takkan memaksa.”
“Aku sangat khawatir Ayi, aku ingin bisa bertemu suamiku, aku butuh tahu soal asal-usulnya dan aku juga ingin anakku selamat.” Fani memutuskan untuk tahu.
Saat Ayi akan menjelaskan semuanya, Aam masuk ke ruangan itu dan membisiki Ayi sesuatu, ekspresi Ayi jadi sangat marah.
“Mereka memang brengsek!” Ayi sampai memukul bangku karena geram.
Apa yang sebenarnya Aam bisiki? Ada yang bisa menebak?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!