Hujan baru saja reda saat lonceng sekolah berdentang tiga kali, menandakan waktu pulang. Udara sore di SMA Negeri 23 Garut terasa dingin dan lembap. Aroma tanah basah bercampur semilir angin gunung yang membawa kabut tipis menyelimuti perbukitan kecil di kejauhan.
Ziyanada Umaira siswa kelas XII yang baru usai mengikuti pelajaran tambahan berjalan pelan di koridor sekolah, mengapit buku Biologi di dada.
Seragam putih abu-abu masih rapi, kerudungnya sedikit basah di ujung. Ia baru saja menolak pengakuan cinta dari teman seangkatannya yang kesekian kalinya minggu ini.
“Nada, kamu kok tega sih? Padahal dia tuh baik banget,” ujar Rosa, sahabatnya sejak kelas sepuluh, yang kini menyusul dari belakang.
Nada menoleh sambil tersenyum tipis. “Aku bukannya tega, Ros. Tapi aku memang nggak bisa kasih harapan ke siapa pun. Aku belum pernah jatuh cinta, itu aja.”
Rosa melenguh. “Tapi masa sih dari dulu nggak pernah kepikiran buat pacaran, Nad?”
Nada menatap jauh ke arah bukit yang sebagian tertutup kabut.
"Pernah mikir sih, tapi belum pernah ngerasa klik. Semua yang datang baik, sopan, perhatian... tapi rasanya biasa aja.”
“Berarti kamu nunggu yang luar biasa dong?” Rosa tertawa pelan.
Nada ikut tersenyum.
“Bukan. Aku cuma nunggu yang bisa bikin aku ngerasa ‘iya, ini dia’... tanpa harus mikir panjang.” Rosa mengangguk-angguk.
“Semoga kamu nemu orang itu sebelum lulus.”
Nada tak menjawab. Dalam hatinya, ia juga bertanya-tanya, apakah cinta memang seharusnya datang seperti itu? Tanpa alasan? Tanpa rencana?
Ia belum tahu. Sampai hari itu datang.
Satu minggu kemudian, aula kecamatan ramai oleh barisan mahasiswa dari Jakarta yang datang untuk program KKN. Mereka akan tinggal selama enam bulan di desa Bayongbong tempat tinggal Nada dan Rosa, salah satu desa binaan yang juga menjadi lokasi SMA Nada.
Nada berdiri di barisan depan bersama guru-guru dan kepala sekolah. Ia, sebagai ketua OSIS, mendapat tugas untuk memberi sambutan mewakili siswa.
“Selamat datang kepada kakak-kakak mahasiswa KKN dari Universitas Negeri Jakarta,” suara Nada terdengar lembut di balik mikrofon.
“Kami senang dan bangga bisa belajar bersama kakak-kakak di sini.”
Tepuk tangan mengiringi akhir pidatonya.
Lalu satu per satu mahasiswa diperkenalkan. Mereka berdiri bergiliran sesuai kelompok. Semuanya tampak antusias dan penuh semangat. Namun di tengah keramaian itu, mata Nada terpaku pada satu sosok.
Pemuda itu mengenakan kemeja biru tua dan celana jeans rapi. Wajahnya teduh, dengan sorot mata tajam namun tenang. Dia berdiri tak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum kecil.
“Abyan Elfathan,” ucap camat saat memperkenalkannya,
"Ketua kelompok KKN dari Jakarta.”
Nama itu seperti menancap di kepala Nada.
Abyan.
Nada tak tahu mengapa matanya terus ingin memandang sosok itu. Bukan karena dia paling tampan. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang... berbeda.
Cara ia berdiri, cara ia tersenyum, bahkan ketika dia tidak bicara pun, kehadirannya terasa kuat.
Dan sejak saat itu, perasaan dalam diri Nada mulai berubah.
Hari-hari berikutnya, Abyan dan timnya mulai aktif di sekolah. Mereka membuat program pelatihan komputer, perpustakaan digital, dan penyuluhan kesehatan remaja. Nada sebagai ketua OSIS tentu saja sering terlibat, membuat interaksinya dengan Abyan semakin intens.
Nada selalu berusaha tampak biasa, tapi diam-diam ia memperhatikan segala hal kecil tentang Abyan: cara ia menatap saat mendengarkan orang bicara, cara ia menulis catatan dengan rapi, atau kebiasaannya duduk menyendiri membaca buku di taman belakang sekolah.
Suatu hari, mereka berdua diminta mengecek kondisi gudang sekolah yang akan digunakan sebagai ruang baca. Nada membawa kunci, Abyan membawa catatan dan senter.
“Gudangnya gelap banget ya,” ujar Abyan sambil menyorot senter ke langit-langit.
“Emang belum ada listrik di ruang ini, Kak,” jawab Nada.
“Tapi kalau Kakak mau, kita bisa bantu urus kabelnya biar nyambung dari ruang UKS.”Abyan tersenyum.
"Kamu selalu tahu solusi ya, Nad.” Nada menunduk malu.
“Biasa aja, Kak.”
Hening beberapa saat. Hanya suara tikus kecil yang lari di antara kardus-kardus tua.
"Boleh nanya nggak?” tanya Abyan tiba-tiba. Nada mengangguk.
“Kenapa kamu bisa jadi ketua OSIS? Maksudku, kamu kelihatan kalem banget.” Nada tersenyum.
"Karena waktu pemilihan dulu, aku diminta sama guru. Katanya aku bisa jadi penengah kalau ada masalah.”
“Pantas. Kamu memang punya aura tenang,” kata Abyan sambil menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Nada merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Hari-hari berlalu. Interaksi mereka semakin akrab. Terkadang, Abyan mengirimkan pesan-pesan ringan ke ponsel Nada. Menanyakan kabar. Mengirimkan puisi singkat. Atau sekadar menyelipkan kalimat seperti:
“Hari ini langitnya mendung, kayaknya kamu harus lebih sering senyum biar cerah.”
Nada menyimpan pesan-pesan itu dengan hati-hati. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dan ia tahu, perasaannya sedang berkembang... dengan sangat cepat.
Suatu sore, mereka berdua kembali ditugaskan untuk membantu mengecat ulang posyandu desa. Nada memegang kuas, sementara Abyan mencampurkan cat.
“Warna ini bagus ya,” kata Nada sambil mengoleskan kuas ke dinding.
“Seperti warna pipimu kalau malu,” celetuk Abyan tiba-tiba. Nada terkejut, lalu tertawa pelan.
“Bang By bisa juga gombalnya.”
Abyan ikut tertawa.
"Aku suka panggilan itu, jangan diubah ya." Pinta Abyan, padahal awalnya Nada hanya bercanda membalas Abyan yang menggombal.
Beberapa detik kemudian, tawa itu menghilang. Digantikan tatapan serius.
“Nada...” ucapnya pelan.
Nada menoleh.
“Aku tahu ini cepat. Tapi... aku suka kamu.”
Dunia seakan berhenti berputar. Nada membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak keras. Pipinya panas.
“Aku serius,” lanjut Abyan.
"Aku nggak tahu ini cinta atau bukan. Tapi aku pengin kenal kamu lebih dalam. Aku pengin ada di hidup kamu.”
Nada menarik napas panjang. Ia tak tahu harus menjawab apa. Tapi saat ia menatap mata Abyan, ia tahu hatinya juga sudah bicara.
“Aku juga suka, Kakak,” jawabnya jujur.
"Bisa diulang?"
"Hah?"
"Yang tadi."
"Aku juga suka Kakak," ulang Nada dengan malu-malu.
"Bukan itu, panggilannya."
"Aku juga suka Abang By." Abyan tersenyum puas, panggilan Nada membuat hatinya menghangat.
Dan itulah awal semuanya. Awal dari cinta pertama yang membuat hari-hari Nada berubah warna. Ia menyimpan semua kebahagiaan itu dalam diam, hanya dibagi pada Rosa.
“Jadi kalian... pacaran?” tanya Rosa saat mereka duduk di kantin sekolah.
Nada tersenyum malu.
“Nggak pacaran. Tapi ya... kita saling suka. Dan saling jaga.”
Rosa menggoda, “Akhirnya cewek batu ini lumer juga.”
Nada tertawa, bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasakan debar yang tidak bisa dijelaskan. Semua yang ia tolak dulu, semua yang ia pikir bukan cinta, ternyata bukan karena ia tak bisa jatuh cinta, tapi karena ia belum bertemu orang yang tepat.
Dan Abyan... terasa seperti orang itu.
Malam itu, Nada menulis di buku hariannya:
“Aku tidak pernah tahu bahwa cinta bisa sesederhana ini. Tidak dengan bunga. Tidak dengan hadiah. Hanya dengan hadir... dan membuat segalanya terasa benar.”
“Namanya Abyan El-Fathan”
"Mungkin... dia adalah awal dari segalanya.”
Langit sore di Bayongbong menggantung warna jingga yang lembut. Suara burung-burung kecil bersahutan dari balik pohon, mengiringi langkah pelan dua insan yang berjalan berdampingan menyusuri pematang sawah.
Nada melangkah di samping Abyan. Keduanya diam, namun bukan karena canggung. Justru sebaliknya, dalam diam itu mereka saling memahami, seolah kata-kata hanya akan merusak keindahan momen yang mereka rasakan.
“Aku suka tempat ini,” ujar Abyan akhirnya, memecah keheningan.
Nada menoleh.
"Kenapa?”
“Karena di sini... segalanya terasa jujur,” jawab Reyhan lirih.
“Langit jujur menunjukkan warna aslinya. Orang-orang jujur dalam hidupnya. Dan kamu... jujur dengan perasaanmu.”
Nada tersenyum, pipinya sedikit memerah.
“Aku belum pernah merasa sedamai ini.”
Abyan menatap ke kejauhan.
“Aku juga.”
Hubungan mereka memang belum diberi label. Tidak ada janji, tidak ada status. Hanya ada rasa yang tumbuh dari kejujuran, kesederhanaan, dan kebersamaan yang tulus. Setiap pertemuan menjadi ruang belajar. Tentang cinta, tentang hidup, dan tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih utuh.
Di sekolah, Abyan semakin dekat dengan siswa-siswi. Ia mengajar komputer dasar dan membuat klub literasi kecil di perpustakaan yang baru direnovasi. Nada selalu hadir membantu, menyusun buku, membuat jadwal, atau sekadar duduk mendengarkan.
Suatu sore, mereka duduk di depan rak buku, menyortir buku-buku sumbangan dari kota.
“Pernah kepikiran mau kuliah?” tanya Abyan, sambil menyodorkan buku ke Nada. Nada mengangguk.
"Dulu sempat. Tapi Bapak bilang... biaya sekolah adik-adikku lebih penting. Jadi aku ikhlas. Lagipula, aku masih bisa belajar dari buku.”
Abyan terdiam sesaat. Ditatapnya gadis yang tengah anteng membaca buku itu.
“Kamu perempuan paling tangguh yang pernah aku temui.” Nada tersenyum kecil.
“Aku bukan tangguh, Abang. Aku cuma belajar menerima takdir tanpa berhenti berharap.”
Kalimat itu menghantam Abyan dalam-dalam. Ia belajar bahwa tidak semua orang bisa menikmati kemewahan pilihan. Dan perempuan di hadapannya ini—yang dia sadari daei hatinya yang paling dalam bahwa gadis ini adalah yang ia cintai—adalah seseorang yang memilih untuk kuat, bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena tahu apa yang paling layak diperjuangkan.
Hari-hari berlalu seperti aliran sungai di musim hujan penuh, deras, tapi tetap menyegarkan.
Nada dan Abyan semakin sering menghabiskan waktu bersama, tidak selalu dengan bicara. Kadang cukup membaca di bawah pohon jati, berbagi makanan dari rumah, atau menatap bintang di halaman masjid desa.
Di bawah langit malam, Abyan pernah bertanya,
“Kalau suatu hari aku pergi... kamu akan tetap ingat aku, kan?”
Nada menatap langit. Mereka baru usai kegiatan kajian malam itu, sebelum Nada pergi Abyan mengajaknya bicara di teras masjid sambil menunggu teman-teman Abyan yang bertugas membantu merapikan masjid.
“Aku tidak akan lupa orang yang membuatku pertama kali percaya bahwa cinta bisa hadir tanpa janji.”
Abyan mengangguk, lalu membisikkan, “Kalau kamu rindu, lihat bintang paling terang. Aku akan menitipkan rinduku di sana.”
Pipi Nada seketika memerah, Abyan berbisik terlalu dekat di telinganya, hingga hembusan nafasnya terasa hangat di pipi Nada.
Tiga bulan berlalu. Separuh masa KKN sudah berjalan. Kedekatan mereka menjadi rahasia yang disimpan rapi oleh waktu. Rosa, sahabat Nada, sesekali menggoda tapi tahu batas. Ia melihat sahabatnya bahagia, dan itu cukup.
Namun kebahagiaan, seperti musim, selalu punya waktu berganti.
Pada suatu sore yang mendung, Abyan memanggil Nada ke balai desa. Mereka duduk di bangku panjang, menghadap sawah yang mulai menguning.
“Aku akan wisuda dua bulan lagi,” ucap Abyan tiba-tiba. KKN mereka tinggal menghitung hari, secepatnya Abyan dan rombongan akan kembali ke Jakarta.
Nada menoleh cepat, namun berusaha tetap tenang.
“Oh... selamat ya, Bang.” Reyhan memaksakan senyum melihat respon Nada.
"Setelah ini, aku mungkin harus kembali ke Jakarta. Atau... mungkin lebih jauh dari itu.” Nada diam. Mendengarkan kalimat lanjutan Abyan yang terdengar masih menggantung.
"Kakekku ku ingin aku lanjut S2 di luar negeri. Ada target yang sedang aku kejar,” lanjut Abyan.
Keheningan menggantung. Angin bertiup pelan, menyapu ujung kerudung Nada.
“Kenapa baru bilang sekarang?” tanyanya pelan. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya dan membuatnya hampa.
"Aku takut... kehilangan rasa ini. Aku egois, Nad. Aku ingin menikmati rasa ini tanpa dihantui jarak. Tapi semakin hari, aku sadar... kita harus bersiap.”
Nada menunduk, mencoba menenangkan hatinya yang mulai gemetar.
“Kalau Bang By pergi, aku akan mendoakan. Karena cinta sejati, harusnya bukan mengekang, tapi menguatkan.”
Abyan menatap gadis itu dalam-dalam.
“Kamu terlalu bijak untuk usiamu.”
Nada menatap balik.
“Atau mungkin karena aku mencintaimu dalam diam yang paling jujur.” lirih Nada, membuat Abyan seketika membeku.
Sisa waktu terasa semakin sempit. Mereka berusaha memanfaatkan setiap detik. Kadang dengan tawa, kadang dengan tangis kecil yang ditahan. Tapi mereka tahu, perpisahan bukan akhir dari cinta. Justru, di sanalah cinta diuji.
Satu minggu menjelang kepulangan tim KKN, mereka mengadakan perpisahan di aula kecamatan. Acara berlangsung meriah. Tarian, drama, dan sambutan. Nada duduk di bangku paling depan, matanya sesekali mencari Abyan yang sedang sibuk di belakang panggung.
Saat acara usai, Abyan menghampiri Nada, menyerahkan sebuah buku bersampul cokelat tua.
“Ini buku catatan KKN. Tapi aku selipkan sesuatu di halaman terakhir,” katanya.
Nada menerimanya dengan dua tangan.
“Terima kasih.”
“Dan ini...” Abyan merogoh saku, menyerahkan selembar foto kecil. Foto mereka berdua, di depan pohon jati.
“Simpan ya.”
Nada mengangguk, berusaha menahan air mata.
“Maaf, aku nggak bisa janji banyak,” ucap Abyan, suaranya sedikit bergetar.
“Tapi kalau semesta mengizinkan... aku akan kembali.”
Nada tersenyum, kali ini dengan air mata yang jatuh perlahan.
“Dan kalaupun tidak... semoga kita tetap saling menemukan, di dalam doa.”
Malam itu, setelah Abyan dan timnya pergi, Nada menangis diam-diam di kamarnya. Bukan karena kehilangan, tapi karena cinta pertamanya telah mengajarkannya banyak hal.
Bahwa cinta tidak harus dimiliki untuk menjadi berarti.
Bahwa cinta yang paling indah adalah yang hadir dengan keikhlasan.
Dan bahwa perempuan sepertinya, meski tak punya gelar atau kekayaan, tetap pantas dicintai dengan utuh.
Ia membuka buku catatan Abyan. Di halaman terakhir, Abyan menulis:
“Untuk Nada,
Aku tak bisa janji akan kembali secepat yang kamu mau.
Tapi aku janji, kenangan kita akan jadi bagian dari perjalanan hidupku.
Kalau suatu hari takdir mempertemukan kita lagi,
semoga kamu tetap menjadi perempuan kuat seperti hari ini.
Dan jika aku kembali dalam wujud yang berbeda, jangan pernah ragu untuk bilang: ‘Aku mengenalmu lewat cahaya mata itu."
– Abyan Elfathan.
Nada menutup buku itu sambil memeluknya erat. Dalam hati, ia berbisik,
"Terima kasih, cinta pertamaku. Karena kamu, aku tahu cinta tak pernah butuh kasta untuk tumbuh."
Hari-hari setelah kepergian Abyan terasa seperti angin sore yang kehilangan arah. Tidak bising, tidak pula hening—hanya sepi yang menggantung di antara detik-detik waktu.
Nada kembali menjalani rutinitas sebagai siswi kelas dua belas SMA di pelosok Garut itu. Senyum masih ia tunjukkan, tawa masih ia bagi, tapi di dalam dirinya ada ruang yang sunyi.
Dia menyimpan buku catatan Abyan di dalam kotak kecil yang dikunci rapi, bersama foto, selembar syal biru tua yang pernah dipinjamkannya saat mereka kehujanan, dan surat yang belum sempat ia tulis balasannya.
Setiap malam, ia menatap bintang yang paling terang, seperti pesan Abyan sebelum berpisah. Kadang ia tersenyum, kadang menangis. Tapi lebih sering ia diam, menyusun doa-doa panjang dalam hati.
“Tuhan, jika dia memang bukan untukku, jangan cabut rasa ini. Biarkan ia tinggal sebentar lagi. Karena dari rindu ini aku belajar sabar. Dari kehilangan ini aku belajar ikhlas.”
Tiga bulan berlalu. Nada lulus dari sekolah dengan nilai yang cukup baik. Tapi mimpi kuliah tak pernah benar-benar punya tempat dalam realitasnya. Ayahnya hanya seorang petani penggarap. Ibunya membantu jualan gorengan di sekolah dasar. Dua adik kecilnya masih butuh biaya sekolah.
Nada memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Keputusan itu tidak mudah, tapi ia tahu hidup harus terus berjalan. Ia tak bisa terus menunggu surat atau kabar dari Abyan. Ia harus mulai menulis babak baru dalam hidupnya sendiri.
Sebelum pergi, ia berdiri lama di depan pohon jati tempat ia dan Abyan pernah duduk bersama.
“Aku pamit ya, Bang By,” bisiknya lirih, seolah pohon itu bisa mengirim pesan ke langit.
“Doakan aku tetap kuat, walau tak lagi kau dampingi.”
Jakarta menyambutnya dengan hiruk pikuk. Bangunan menjulang, suara klakson bersahutan, dan langkah-langkah orang-orang yang tampak selalu tergesa.
Nada tinggal di rumah kontrakan kecil bersama dua teman sekampungnya. Ia bekerja sebagai cleaning service di sebuah hotel mewah di pusat kota bersama Rosa, sahabat SMA nya.
Sementara Eli teman sekampungnya yang satu lagi bekerja sebagai penjaga toko di salah satu mall besar di Jakarta.
Pekerjaan yang tidak bergengsi, tapi ia syukuri sepenuh hati.
Setiap pagi ia bangun sebelum adzan Subuh, menyiapkan air, menyapu kamar, lalu berangkat naik metromini. Seragam abu-abu, sepatu hitam, dan lencana nama kecil di dada kiri: Ziya.
Pekerjaannya rutin, membersihkan lobi, menyapu koridor, mengganti seprai, dan mengelap jendela. Tapi dalam rutinitas itu, ia menemukan ketenangan.
Tangannya sibuk, pikirannya tenang. Tidak ada waktu untuk larut dalam rindu yang tak berbalas.
Ia tidak pernah lagi mendengar kabar dari Abyan. Setelah mengabari bahwa ia akan wisuda, ponselnya tak bisa dihubungi lagi.
Awalnya Nada berpikir Abyan hanya sibuk. Tapi minggu berganti bulan, dan tak ada lagi tanda.
Di satu malam, setelah menyelesaikan shalat tahajud, Nada menulis di buku hariannya:
“Aku tidak marah, Bang By. Jika pun kamu memilih pergi tanpa pamit, mungkin itu caramu menyelamatkan hatiku dari harapan kosong. Tapi ketahuilah, aku baik-baik saja. Aku memilih sembuh. Bukan karena lupa, tapi karena sudah belajar menerima.”
Di hotel tempatnya bekerja, Nada dikenal sebagai pegawai yang rajin dan sopan. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu ramah.
Suatu hari, saat sedang membersihkan ruang rapat di lantai delapan, seorang manajer mendekatinya. Tidak terasa tiga tahun sudah Nada bekerja di hotel itu.
“Ziya, besok kamu bantu bersihkan ruang direktur utama yang baru ya. Pemilik hotel akan datang dari luar negeri. Orangnya muda, katanya cerdas dan disiplin.”
Nada mengangguk. Ia tidak berpikir macam-macam. Pemilik hotel? Ah, itu dunia yang terlalu jauh dari jangkauan hidupnya.
Keesokan harinya, saat ia membuka pintu ruang direktur utama di lantai paling atas, langkahnya sempat terhenti.
Ruangan itu besar dan elegan. Di sisi kanan ada rak buku berisi literatur berbahasa Inggris. Di sisi kiri, pigura-pigura penghargaan berbaris rapi. Nada buru-buru melakukan tugasnya dengan benar.
Saat membersihkan meja sang direktur utama, di atas meja utama, ada bingkai kecil berisi foto seorang pria muda berjubah toga.
Nada mematung. Darahnya seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdetak tak karuan.
Pria dalam foto itu... Abyan.
Hanya butuh lima detik untuk mengenali mata teduh itu. Senyum ringan yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta.
Meski kini pria itu tampak lebih dewasa, lebih elegan, tapi bagi Nada, Abyan tetap lelaki yang pernah mengajarinya arti cinta pertama.
Tangannya gemetar. Ia mundur pelan, keluar dari ruangan. Napasnya berat. Untunglah pekerjaannya sudah selesai.
“Kenapa baru sekarang, Bank Byan...” bisiknya dalam hati.
Nada tidak tahu apakah ia harus bahagia atau kecewa. Di satu sisi, ia bersyukur Abyan berhasil, tumbuh menjadi seseorang yang ia doakan. Tapi di sisi lain, luka yang hampir sembuh kini kembali menganga.
Di ruang makan karyawan malam itu, Nada duduk lama sambil menatap secangkir teh yang sudah dingin. Rosa, sahabat SMA yang sama-sama mengadu nasib ke Jakarta, menghampiri, keduanya bekerja satu shift malam ini.
“Nad, kamu kenapa?” Nada menggeleng.
"Nggak apa-apa.”
Dela, rekan kerja yang lain pun datang menghampiri Nada dan Rosa.
“Kamu habis dari ruang direktur ya, Zi?”
Nada mengangguk pelan. Di hotel itu hanya Rosa yang memanggilnya Nada, karena yang lainnya memanggil Ziya nama awalnya.
“Katanya beliau akan mulai kerja pekan depan. Masih di luar kota. Tapi katanya pernah KKN di Garut, kamu orang Garut juga kan?”
Nada menatap Rosa, lalu tersenyum samar. Yang ditatap bingung, tidak faham maksud tatapan itu, dia memilih kembali menikmati teh hangatnya.
"Iya... tapi kami tidak tahu, Garut kan luas Mbak.” Elak nada yang tak ingin fakta yang baru diketahuinya itu diketahui orang lain, termasuk sahabatnya Rosa.
Malam itu, Nada membuka kembali buku Abyan yang dulu ia simpan rapi. Tangannya menyentuh lembaran terakhir. Kata-kata Abyan seolah kembali bernyanyi di kepalanya:
“Kalau suatu hari takdir mempertemukan kita lagi,
semoga kamu tetap menjadi perempuan kuat seperti hari ini.”
Dan kini, takdir benar-benar mempertemukan mereka kembali. Tapi dalam situasi yang jauh berbeda. Abyan adalah direktur muda pemilik hotel.
Nada hanyalah cleaning service di tempat yang sama.
Cinta yang dulu menguatkan, kini kembali dalam bentuk ujian.
Tapi Nada sudah belajar banyak dalam tiga tahun ini. Ia bukan gadis SMA yang mudah berharap. Ia adalah perempuan yang bisa menatap cinta tanpa harus memilikinya.
Esok pagi, Nada mengenakan seragamnya seperti biasa. Ia berdiri di depan cermin kecil kontrakannya, merapikan kerudung sambil berbisik lirih pada bayangannya sendiri:
“Aku akan tetap kuat. Karena yang paling indah dari cinta adalah ketika ia tumbuh bersamaan dengan harga diri.”
Ia tersenyum.Bukan karena Abyan akan kembali ke hidupnya, tapi karena ia tahu, setidaknya dirinya sudah mampu berdiri, meski tanpa siapa pun di sampingnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!