NovelToon NovelToon

KAMAR KOSONG

Bab Cuaca Mendung

Cuaca pagi hari itu mendung suara petir menggelegar di angkasa . Hujan turun dengan deras disertai angin kencang .

Seorang perempuan berjalan sendirian pulang dari tempat kerja , karena ia tidak mempunyai kendaraan . Tidak lama kemudian ia sampai di rumahnya yang terbilang sederhana .

Hidup di kampung membuatnya harus bekerja keras demi keluarganya . Suaminya bekerja serabutan yang gajinya tidak dipastikan kapan waktunya . Sedangkan ketiga anaknya masih sekolah di bangku sekolah menengah pertama . Jarak antara anak pertama selisih satu tahun begitu juga anak kedua dan anak ketiga .

"Kenapa hari ini hujan ya , padahal semalam cuaca terang banget ," kata Samsuri melihat suasana di depan rumah . "Namanya juga cuaca tidak bisa diprediksi , Pak ," sahut Alif anak pertama yang duduk di kelas tiga .

"Hari ini libur saja sekolahnya kan hujan ," kata Manaf anak ketiga sambil sarapan padahal ia sudah memakai seragam sekolah . "Terus kenapa kamu pakai seragam kalau libur ?" tanya Abdul anak kedua .

“Kalian mau libur nanti tidak dapat nilai kalau libur?" tanya Murni mendengar perkataan kedua anaknya , ia baru saja pulang kerja karena hari ini ia masuk malam .

Murni bekerja di pabrik dengan pergantian tiga shift pulang pergi diantar jemput oleh mobil dari pabrik hanya sampai jalan utama sedangkan ia berjalan kaki dari rumah kurang lebih sepuluh menit .

Murni langsung membuat sarapan begitu sampai rumah lalu membersihkan diri dan bergabung bersama suami dan anaknya di ruang makan .

Hujan berhenti ketika waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi . Anak-anaknya langsung bersemangat berangkat ke sekolah .

"Ayah , ibu , kami berangkat sekolah dulu ya ," ketiga anaknya berpamitan kepada Samsuri dan Murni mencium tangan mereka lalu berjalan kaki menuju jalan utama .

"Bapak tidak bekerja ?" tanya Murni merapikan meja makan . Samsuri melihat wajah istrinya merasa bersalah , ia tidak bekerja karena tidak ada yang menyuruh atau mengajaknya bekerja sedangkan kebutuhan rumah tangga kian bertambah .

“Tidak ada panggilan kerja ,' jawab Samsuri dengan wajah santai duduk di ruang tamu sambil memandang keluar jendela . Murni menatap suaminya jengah pergi ke dapur mencuci peralatan bekas makan .

Siang harinya Murni menyambung pekerjaan di rumah yaitu membuat kue untuk di titipkan di warung untuk menambah pemasukan . Ia sudah tidak peduli dengan suaminya yang hanya duduk saja di rumah .

Seseorang datang dengan wajah serius melihat Samsuri sedang duduk di teras sendirian . “Sam , kenapa wajahmu sedih begitu ?" tanya Iwan duduk di sampingnya . "Aku sedih karena tidak ada kerjaan ," jawab Samsuri .

Iwan mengangguk paham dengan keadaan Samsuri . "Aku tahu apa yang ada dipikiranmu , ada tawaran pekerjaan itu sih kalau kamu berminat ," kata Iwan dengan yakin .

Samsuri menatap tajam Iwan ."Serius , Wan ... Apa pekerjaannya ?" tanya Samsuri penasaran . "Kerja menjaga rumah orang ,lumayan gajinya besar ," jawab Iwan .

Samsuri merasa ada angin segar ia bersemangat ingin kerja tapi seketika membuatnya ragu . "Apa kamu bilang aku harus tinggal di sana , terus bagaimana dengan istri dan anakku ?" tanya Samsuri .

"Kamu kerja demi istri dan anakmu tidak usah khawatir tinggal kamu kirim uang beres kan !' Iwan memberi saran . “Aku pikir-pikir dulu ,“ kata Samsuri perasannya tidak enak akhir-akhir ini .

"Kalau begitu aku pulang dulu , nanti kalau kamu berubah pikiran ngomong sama aku ," kata Iwan pergi meninggalkan rumah Samsuri .

             ______________

Menjelang petang rumah penduduk tertutup rapat tidak ada seorangpun terlihat di jalanan atau hanya di teras , semua masuk ke dalam rumah . Samsuri dan keluarga berkumpul di ruang tengah seperti biasa .

“Bu , Iwan menawarkan pekerjaan yaitu menjaga rumah orang tapi harus tinggal di sana ," kata Samsuri sambil merokok . Murni melihat suaminya lalu beralih pada ketiga anaknya .

"Maksudnya bapak jadi satpam begitu ?' Murni balik bertanya . "Mungkin tapi Iwan tidak bilang begitu cuma bilang jaga rumah gitu doang ," jawab Samsuri ,ia menyadari sesuatu .

"Besok aku tanyakan lagi sama Iwan lagi pula kasih kerjaan tidak jelas begitu ,“ Samsuri merasa heran . "Kalau pekerjaannya baik dan halal terima saja yang penting majikannya baik ," sahut Murni .

"Ibu , besok ambil raport kelulusan ," kata Alif . Murni terkejut setahu dia masih satu semester lagi ternyata anak pertamanya akan lulus ia menghembuskan napas pelan . "Iya biar bapakmu yang ambil raport , besok ibu masih masuk pagi ," balas Murni .

"Ternyata kamu sudah besar ya , bapak pikir masih anak-anak, yang pinter sekolahnya agar kelak bisa mencari pekerjaan yang layak ," sahut Samsuri . " Siap bos ," jawab Alif mengangkat tangannya memberi hormat kepada bapaknya .

Begitu juga dengan Abdul dan Manaf , mereka mengambil raport kenaikan kelas . “Bapak ambil raport kami juga loh ,“ kata Abdul menunjuk dirinya dan adiknya Manaf . Manaf mengangguk mengiyakan kata kakaknya .

"Iya besok bapak ambil raport kalian semua ," sahut Samsuri melihat ketiga anak laki-lakinya . Murni terharu melihat ketiga anaknya sudah beranjak remaja sebentar lagi yang satu lulus dan melanjutkan sekolah SMA sedangkan yang dua kenaikan kelas .

"Kalian saling menjaga ya kalau di sekolah jangan sampai adik kalian di buly sama temannya ,“ pesan Murni kepada ketiga anaknya ."Iya ,Bu ," jawab ketiganya serempak .

"Kalian kompak sekali seperti paduan suara ," kata Samsuri tertawa melihat ketiga anaknya .

Malam semakin larut suasana semakin sepi , Murni mematikan lampu di semua ruangan kecuali kamar mandi sementara kamarnya dan kamar ketiga anaknya di ganti dengan lampu yang sedikit cahaya .

Semua masuk ke dalam kamar masing-masing dan mengunci . "Apa ibu merasakan sesuatu hal aneh di rumah ini ?' tanya Samsuri merebahkan tubuhnya di tempat tidur . Murni terkejut mendengar perkataan suaminya . "Aneh bagaimana maksudnya ?" tanya Murni heran .

"Setiap malam aku mendengar orang berjalan dan menggedor sebuah pintu tapi aku tidak tahu dimana ," jawab Samsuri . "Aku tidak mendengar apa-apa selama tinggal di rumah ini , kamu ada-ada saja ,sudah malam tidur , besok katanya mau berangkat kerja ," Murni mengingatkan .

“Iya nanti juga tidur tapi ini mata belum mau tidur ," sahut Samsuri berpindah posisi menghadap istrinya sambil memegangi dagu istrinya yang lancip . Murni memeluk suaminya sampai terdengar suara halus dari mulutnya , Samsuri tersenyum senang tapi hatinya kasihan pada istrinya , ia ikut memejamkan matanya .

Di ruang bawah tanah sesosok makhluk keluar melalui celah di antara papan dengan pelan menuju luar untuk berburu . ia melihat seorang anak kecil tidur dengan nyenyak mengamati wajah m begitu dalam dan memberi sentuhan melalui hembusan angin menerpa wajah anak itu

Sosok makhluk itu merasa heran dengan tempat itu karena dulu tempat itu bukan sebuah rumah besar tapi sebuah rumah kecil yang ia huni namun sekarang berubah di huni oleh seorang manusia .

Bab Kamar Alif

Waktu tengah malam Alif terbangun karena mendengar suara desis , ia mengerjapkan mata turun dari tempat tidur dan mencari asal suara tersebut . Alif menyusuri seluruh kamarnya namun suara itu hilang , setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit tidak ditemukan suara itu , ia kembali berbaring dan memejamkan mata .

Suara desis itu kembali mengusik pendengaran Alif yang baru saja terlelap , ia merasa jengkel seperti ada yang ngerjain dirinya . "Siapa sih berisik banget ganggu orang tidur saja ," bentak Alif tanpa ada rasa takut sedikitpun .

Suara desis menghilang dan Alif kembali berbaring tapi matanya tidak terpejam sengaja ingin tahu suara desis itu dari mana dan siapa pemilik suara tersebut .

Saat mata mulai terpejam sosok hitam berkabut masuk ke dalam kamarnya dan mengitari kamarnya , seperti mencari sesuatu yang hilang , ketika melihat ada cermin makhluk itu berteriak histeris .

Alif melihat makhluk itu tidak bisa berkata-kata, ia melihat sosok makhluk menyeramkan marah karena tidak menemukan sesuatu entah Alif tidak tahu apa yang terjadi dengan makhluk tersebut .

Tubuh Alif bergetar di balik selimutnya tebal sehingga tidak terlihat oleh makhluk tersebut . Awalnya Alif ingin melihat secara langsung wujud makhluk itu ia hanya melihat dengan membuka sedikit selimutnya . Matanya melebar sedangkan mulutnya membentuk huruf o ,setelah sepersekian detik Alif menutup selimutnya .

Makhluk tersebut geram dengan tempat itu , karena sesuatu telah hilang ia berteriak sampai memekakkan telinga Alif padahal sudah ia tutupi menggunakan selimutnya, suara menggema di dalam kamar Alif hanya Alif yang mendengar sedangkan orang lain tidak .

Alif merasa ketakutan sambil membaca doa untuk menenangkan dirinya dan mengusir makhluk tersebut . Makhluk tersebut menyadari kalau ada sesuatu yang membuat tubuhnya merasa panas yang amat sangat segera pergi masuk ke dalam lemari Alif .

Setelah merasa cukup aman Alif membuka selimutnya mencari sosok makhluk itu matanya menyapu seluruh ruangan dan ternyata memang sudah tidak ada ia bernapas lega suasana kembali tenang .

Suara adzan subuh menyadarkannya dalam pencarian makhluk tersebut kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menjalankan kewajiban .

Samsuri sudah berkutat di dapur ia memasak untuk dirinya dan juga ketiga anaknya sedangkan istrinya bekum pulang karna shift malam pulang pagi . “Bapak masak apa ?" Manaf mendekati bapaknya sambil mencium aroma masakan .

"Masak daun singkong sama ikan asin ," jawab Samsuri sambil mengangkat sayuran ke dalam mangkuk saji . “Tolong bawa ke meja makan ,“ perintah Samsuri kepada Manaf . "Siap komandan ," sahut Manaf dengan senang hati .

Selesai memasak Samsuri membersihkan peralatan masak yang kotor dan meletakkan di rak khusus panci dan beberapa peralatan masak lainnya. Alif , Manaf dan Abdul sudah duduk di kursi ruang makan menunggu bapaknya makan bersama .

Semua menikmati sarapan tanpa ada yang berbicara . "Bapak jadi kan ambil raportnya ?' tanya Manaf setelah selesai makan . "Jadi , jam berapa undangannya ?" jawab Samsuri lalu balik bertanya .

"Jam delapan ," jawab Manaf . "Setelah ambil punya Manaf langsung ke ruang kelas ku ya ,Pak ," sahut Alif dan Abdul bersamaan . Samsuri mengangguk sebagai jawabannya .

Anak-anaknya berangkat lebih dulu ke sekolah , sedangkan Samsuri membereskan peralatan makan yang kotor dan mencuci di dapur tidak di wastafel seperti di rumah mewah .

Hal itu dilakukan ketika istrinya bekerja , mereka saling bekerja sama soal pekerjaan di rumah agar rumah terlihat rapih dan bersih .

         ____________

Samsuri sedang berada di ruang kelas Manaf menunggu antrian mengambil raport milik Manaf . Nama Manaf disebut oleh wali kelas Samsuri beranjak dari tempat duduk menuju meja guru dan duduk di seberang .

Guru bernama Martono tersenyum ramah kepada Samsuri . "Anak bapak sangat pintar di kelas ia mendapat rangking pertama , semoga di kelas selanjutnya bisa mempertahankan nilainya , selamat buat bapak dan anak bapak ," kata Martono merasa bangga mempunyai siswa cerdas seperti Manaf .

Samsuri terkejut sekaligus terharu mendengar perkataan Martono selaku wali kelas , ia tidak menyangka kalau Manaf sangat pintar di kelas padahal kalau di rumah jarang ia melihat Manaf belajar batin Samsuri .

“Sama-sama , Pak , terimakasih banyak kalau begitu saya permisi ," Samsuri menjabat tangan Martono kemudian keluar dari ruangan dengan perasaan bahagia .

Manaf melihat wajah senang bapaknya ia sudah menduga kalau ia mendapat nilai bagus menghampiri ." Bagaiamana ,Pak ?' tanya Manaf meyakinkan dugaannya tidak salah .

Ekspresi Samsuri berubah sedih membuat Manaf kecewa , “Kamu lihat sendiri hasilnya ," kata Samsuri tersenyum tanpa diketahui Manaf .

Manaf terkejut melihat hasilnya ia berteriak tanpa sadar lalu memeluk bapaknya . " Terimakasih Bapak ,"ucap Manaf dengan perasaan gembira . "Sama-sama, bapak ke kelas kakak kamu ayo tunjukkan dimana kelasnya ," ajak Samsuri , Manaf berjalan mendahului bapaknya menunjukan kelas kakanya .

“Ini kelas Kak Alif kalau kelas kak Abdul di seberang sana ," Manaf menunjukkan kelas Abdul yang di seberang . "Bapak masuk dulu ya ," Samsuri berjalan masuk , Manaf mengangguk sebagai jawaban .

Tidak butuh waktu lama nama Alif di panggil oleh wali kelas , Samsuri beranjak dari tempat duduk maju ke depan meja guru dan duduk di seberang .

"Selamat ya Pak , anak bapak mendapat peringkat ke dua anak bapak memang berbakat , usahakan nanti di sekolah lanjutan anak bapak bisa mengejar nilai lebih bagus lagi ," kata wali kelas bernama Haris . "Terimakasih banyak Pak Haris , nanti saya sampaikan kepada anak saya , Alif ," jawab Samsuri ia merasa bangga punya anak pintar semua .

Samsuri keluar setelah menjabat tangan Haris lalu keluar dari ruangan . Alif melihat bapaknya keluar tersenyum senang sambil memeluknya . “ Apakah nilaiku baik ?‘ tanya Alif jantungnya berdegup kencang ."Lihat sendiri hasilnya ," Samsuri menyerahkan buku raport kepada Alif .

Alif membuka buku raport miliknya merasa terharu , kemudian memeluk bapaknya dengan berderai airmata . "Terimakasih bapak , Alif dapat nilai bagus ," kata Alif dengan hati bahagia lalu melepaskan pelukannya .

Samsuri tersenyum bahagia melihat anaknya senang dengan hasil nila akhir tahun ."Ayo tunjukkan kelas Abdul ," ajak Samsuri kepada ke dua anaknya . Mereka berjalan ke kelas seberang .

"Itu Abdul ," Alif menunjuk seorang anak sedang berbincang dengan temannya dia Abdul saudara mereka . "Abdul ," panggil Samsuri .

Abdul menoleh lalu mencium tangan bapaknya . "Bapak , di sini kelasku masuk saja ," jawab Abdul dengan antusias . Samsuri langsung masuk ke dalam kelas Abdul .

Tidak berselang lama nama Abdul di panggil oleh wali kelas , Samsuri maju di hadapan meja guru lalu duduk . "Anak bapak namanya Abdul mendapat nilai diatas lima besar , semoga di kelas selanjutnya lebih ditingkatkan lagi belajarnya agar bisa mengejar ketertinggalan ," kata Wali kelas bernama Hadi .

"Terimakasih ,Pak Hadi nanti saya sampaikan kepada anak saya , saya permisi ," sahut Samsuri menjabat tangan Hadi dan keluar kelas

Bab Penemuan Mayat

Dua anak pasangan Murni dan Samsuri naik kelas dan satu lulus sekolah . Alif melanjutkan sekolah tingkat atas di sebuah sekolah negeri . Hari ini masih libur sekolah ke tiga anak remaja itu sedang membersihkan kamarnya masing-masing, dari mulai tempat tidur sampai mengepel .

Murni juga libur bertepatan dengan hari Minggu ia gunakan membersihkan dapur yang sudah acak-acakan tidak rapih . Samsuri membersihkan halaman belakang sambil menanam beberapa bibit sayuran .

"Ibu ... Ibu tahu tidak buku yang kemaren aku beli aku taruh di meja tv ?' tanya Manaf menghampiri Murni di dapur . Murni menghentikan aktifitasnya mengingat saat ia membereskan ruang tv . "Oh ibu kira itu buku kakakmu ibu simpan di kamar kakakmu Alif , coba kamu tanyakan sama kak Alif ," Murni kembali melanjutkan aktifitasnya .

Manaf pergi ke kamar Alif melihat pintu kamar kakaknya yang terbuka ia masuk tanpa permisi . Alif terkejut melihat adiknya masuk tanpa memberi salam .

"Cari apa kamu ?" tanya Alif melihat Manaf mengacak buku milik Alif . "Aku mencari buku , kata ibu , ibu menyimpan di kamar kak Alif ," jawab Manaf masih terus mencari buku miliknya .

"Seperti apa bukunya ?" tanya Alif sambil merapikan tempat tidur . "Ada gambar seremnya juga , judulnya aku lupa karena aku baru beli ," jawab Manaf kesal , ia tidak menemukan buku tersebut .

"Nanti kalau kakak melihat buku itu kakak kasih ke kamu ," sahut Alif melihat Manaf keluar kamarnya dengan wajah kesal .

Manaf melihat buku miliknya ada di pinggir pintu Alif langsung mengambil lalu berjalan ke kamarnya . "Kok bisa di bawah pintu kamar kak Alif ya ," gumamnya membuka buku tersebut dan membacanya .

Manaf begitu serius membaca cerita seram tidak ada rasa takut sama sekali , saking seriusnya ia tidak menyadari ada sosok misterius di sudut kamarnya sedang melihat Manaf dengan mata menyala seolah ingin menerkam Manaf .

Tiba-tiba tengkuk Manaf merinding , ia menoleh ke segala arah dikamarnya lalu melanjutkan membacanya sampai selesai satu bab rasa kantuk tidak bisa di tahan ia pun tertidur di meja belajar .

Makhluk tersebut mendekati Manaf sambil membelai wajahnya , kemudian tertawa seperti senang mendapatkan apa yang ia inginkan . Makhluk tersebut masuk ke dalam mimpi Manaf di siang hari .

Manaf terbangun melihat ke sekeliling merasa aneh , ia belum pernah ke tempat seperti itu . Manaf berjalan perlahan mengitari tempat tersebut matanya menangkap sosok pria misterius berdiri di bawah pohon beringin dengan pakaian compang- camping memandang ke sebuah rumah mewah .

Dengan berjalan perlahan-lahan Manaf mendekati pria tersebut dan memberanikan diri menyapa ."Permisi ," sapa Manaf .Pria tersebut menoleh menatap Manaf tanpa ekspresi.

Manaf terkejut melihat wajah pria tersebut sangat jauh dari kata sempurna , mulutnya sobek hidungnya patah , di mata sebelah tertancap sebuah jarum , dada pria tersebut banyak bekas cambukan . Manaf merasa ingin mual melihat kondisi pria tersebut mundur lalu berlari sekuat tenaga .

Murni sedang membersihkan ruang tamu mendengar suara dari dalam kamar Manaf berlari masuk , begitu membuka pintu Murni melihat Manaf mengigau sambil menjejakkan kakinya terdengar sampai di luar .

"Manaf ,,, Manaf ,,, Manaf , " Murni mengguncang tubuh Manaf dengan kuat , setelah lama membangunkan Manaf membuka mata sambil ngos-ngosan . “ Ibu ," Manaf terkejut melihat Ibunya berdiri disampingnya .

"Kamu mimpi buruk ya ? " tanya Murni melihat wajah Manaf sangat pucat dan berkeringat . "Iya ,Bu ... Aku melihat seorang pria dengan wajah hancur dan tubuhnya seperti ada bekas cambukan ," jawab Manaf menceritakan mimpinya .

"Makanya kalau tidur itu berdoa , lagian kamu ini tidur kok di meja itu tempat tidurmu menganggur ,"Murni melirik ke tempat tidur Manaf .

Jantung Manaf berdegup sangat kencang mengingat pria dalam mimpinya menatapnya dingin seperti menyimpan dendam .

           _________________

Sore hari Abdul pergi mancing bersama dua teman Joko dan Toni di sebuah sungai letaknya berada di tepi kampung . Sungai dengan lebar sepuluh meter banyak ikan mulai yang kecil sampai yang besar , jarang orang memancing di sungai tersebut .

"Jok ,umpanmu apa?" tanya Abdul kepada Joko yang sedang memasang umpan ke kail alat pancing . " Cacing , Dul ," jawab Abdul yang sudah siap memancing . Ia duduk di batu besar agak ke tengah sungai .

Joko duduk di belakang Abdul tapi di batu lain ,Toni sedangkan Tony berseberangan di depan Abdul . "Ini ikannya ngumpet dimana ya ,kok tidak nongol ," Toni menggerutu . “Sabar , memancing itu tidak seperti arisan kocok langsung dapat ," canda Joko tertawa senang .

"Memangnya umpanmu apa ,Ton ?" tanya Abdul ."Ulat ," jawab Toni dengan wajah kesal . biasanya langsung dapat ikan ini sudah setengah jam belum dapat satu pun Abdul sudah dapat lima sedangkan Joko dapat tiga .

Tiba-tiba pancing Toni terasa ketarik , Tony terkejut langsung di tarik dengan kuat . Melihat Toni kewalahan Abdul langsung membantu menarik . "Ayo lebih kuat lagi ," kata Abdul .

Mendengar dia temannya heboh Joko menoleh betapa terkejut pancing Toni menyangkut pada sebuah plastik hitam . Ia pun tertarik ingin tahu ketika plastik hitam di angkat dan diletakkan di atas batu .

Ketiganya membuka plastik dengan rasa penasaran . Setelah terbuka sempurna mata ketiganya melebar sempurna , sebuah potongan tubuh manusia dalam keadaan membusuk .

Ketiganya merasa mual hendak muntah . "Mayat , " teriak Joko . "Jangan teriak , kita lapor ke Pak RT atau Pak Kadus ," kata Abdul memberi ide . "Oke , ayo kita ke sana , mayat ini biar di sini dulu ," kata Toni .

Ketiganya berjalan meninggalkan sungai menuju rumah Pak RT . "Permisi ," sapa ketiga anak remaja di depan rumah Pak RT bernama Hasan . Pintu di buka dari dalam oleh istri Pak RT bernama Sari .

"Masuk dulu duduk dulu , bapak sedang makan tunggu sebentar ," sapa Sari . Hasan keluar dari ruang makan lalu duduk menemui ketiga remaja .

"Ada keperluan apa kalian datang kemari ?" tanya Hasan menatap heran pada ketiga remaja tersebut . "Begini pak , kami menemukan mayat di dalam kantong plastik di sungai ," jawab Abdul .

Hasan terkejut mendengar penjelasan Abdul . "Mayat laki-laki atau perempuan ?" tanya Hasan perasaannya merasa tidak nyaman . "Kami kurang tahu , Pak , soalnya kami belum sepenuhnya tahu ," sahut Toni .

"Baiklah kalau begitu ayo ke sana kita selidiki ," ajak Hasan beranjak dari tempat duduk melangkah keluar rumah diikuti ketiga remaja tersebut . Begitu sampai di tepi sungai mereka melihat kantong plastik .

Hasan penasaran dengan plastik tersebut langsung membukanya . Begitu terlihat sebuah mayat Hasan merasa hendak muntah perutnya jadi mual . Ia sama dengan ketiga remaja segera melakukan panggilan telepon dengan pihak tim forensik untuk menyelidiki mayat yang ditemukan pemuda remaja tersebut .

Beberapa menit kemudian tim forensik datang ke tempat kejadian membawa ke rumah sakit untuk diotopsi .

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!