WARNING❗ Terdapat banyak kata-kata kasar dan menyinggung. Mohon untuk bijak dalam membaca.
...~SELAMAT MEMBACA~...
Malam hari adalah waktu yang tepat bagi sebagian orang untuk beristirahat dari kesibukan yang melelahkan. Bulan cerah menggantung di langit malam yang gelap dan sunyi ditemani ribuan bintang yang bersinar terang.
Di sebuah rumah kecil yang berada di ujung desa seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya. Kulitnya yang putih bersih terlihat cerah di bawah cahaya lampu neon, rambut hitam legam terurai panjang.
Wajah cantiknya seperti diukir dengan hati-hati, hidung mancung, mata tajam, dan bibir pink montok.
Tanpa meninggalkan suara gadis itu perlahan berjalan menuju lemari, mengganti pakaiannya menjadi sweater dan celana olahraga panjang.
Sabina melirik jam dinding di kamarnya yang saat ini menunjukkan pukul sebelas malam.
"Mampus tu si beruk pasti lagi misuh-misuh,"gerutu Sabina.
Sebelum meninggalkan kamar Sabina memperbaiki selimut adiknya yang tersingkap.
"Jangan bangun dulu dek tunggu kakak balik."
Sabina buru-buru pergi ke tempat temannya menjemput dirinya.
"Ck lama lo gue udah lumutan nungguin lo," Sembur laki-laki berparas tampan, namanya Bimantara Bumi Laskarmana biasa dipanggil Bima, Bumi, atau Aska terserah enaknya gimana.
Cucunya orang kaya di desa ini. Bumi saat ini sedang berlibur atau singkatnya tuh anak lagi diskors dari sekolahannya.
"Ya maaf lagian lu datangnya gasik amat."
"Yeu upil kuda lu yang minta jemput jam sepuluh ya kocak." Bumi menoyor pelan dahi Sabina lantaran gemas, gemas ingin menendang gadis itu.
"Hehehe udahlah buru keburu malem, nanti adik gue kebangun." Alexa langsung naik ke motor supra yang dibawa Samuel.
"Nih motor punya siapa sih lelet amat kapan mau nyampenya?!" Protes Sabina tidak sabar.
Pasalnya ni motor benar-benar lelet macam siput, mana suka kedat-kedut lagi kayak mau mogok.
"Lo diam deh protes mulu gue turunin nih di sini. Ini motor punya abah gue meski keliatan udah tua nih motor bukan sembarang motor. Asal lo tau dulu abah gue sering balapan pake motor ini dan selalu menang. Jadi, lo harus bersyukur pernah ngerasain naik motor pembalap."
"Bacot Bum! Gue kagak butuh penjelasan lo buruan dah keburu bubar nanti."
"Iye-iye!"
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan sedikit bumbu drama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, pasar malam.
Eits, tapi ini bukan pasar malam seperti yang kalian pikirkan dengan banyak wahana atau jajanan kaki lima.
Pasar malam ini sangat berbeda dan hanya buka setiap tengah malam, jadi disebut pasar malam atau lebih tepatnya pasar gelap.
Setiap bahu jalan diisi oleh para pedagang kaki lima. Meski kelihatannya seperti pedagang biasa yang menjualkan produk dagangan, nyatanya itu hanya kedok untuk menjalankan bisnis ilegal mereka.
Seperti narkoba, prostitusi, judi, dll. Dan di ujung jalan sana adalah tujuan mereka, kedai teh biasa.
Dan bagaimana Sabina bisa tau? Simpel saja karena dia mencari tahu.
"Anjir ini tempat apa? Kok gue baru tau ada tempat kayak gini mana orang-orangnya pada serem lagi,"ucap Bumi saat merasakan berbagai tatapan tak ramah mengarah pada mereka.
"Udah diem aja, lo cukup ikutin gue gak usah banyak bacot dan tingkah."
Tringg!
Lonceng kedai berbunyi nyaring menandakan jika ada seorang tamu masuk ke dalam.
Seorang pelayan berseragam rapih menyambut kedatangan Sabina dan Bumi dengan senyum ramah.
"Selamat datang di kedai teh kami ada yang bisa saya bantu?"
Sabina mengeluarkan sebuah kartu hitam dari saku jaketnya dan berkata, "Tolong?"
Ekspresi pelayan itu berubah serius. "Mari saya antar Nona, tapi…"
Pelayan itu melirik ragu pria di belakang Sabina yang tengah celingukan menatap sekitar.
Seakan mengerti maksudnya Sabina menyikut perut Bumi dengan sedikit kekuatan lalu tersenyum paksa pada pelayan.
"Ahahaha… jangan khawatirkan dia, dia pacar saya."
"Iyakan sayang?!" Ucap Sabina dengan sedikit penekanan.
"Aduh... Sakit bab-" Ringisan Bumi berhenti saat pandangannya tak sengaja beradu tatap dengan mata Sabina yang seperti pedang.
Bumi meneguk kasar salivanya lalu terkekeh canggung. "Baby… ya baby!"
Tunggu! Apa katanya pa-pacar? PACAR!
Bumi melirik Sabina dengan tampang malu-malu sambil mesem-mesem tak jelas. Tapi hanya sesaat karena suasana hatinya berubah saat pelayan itu memandangnya dengan tatapan tak biasa.
Bumi melotot kesal.
"Apa lo liat-liat! Belum pernah liat cowo ganteng kayak gue? Emang sih siapa yang bisa nolak pesona gue yang sangat tampan nan rupawan ini,"dengusnya sombong seraya menyugarkan rambutnya ke belakang.
Ingatkan Sabina untuk memutus tali persahabatan plastik mereka nanti.
"Mari Nona." Pelayan itu memilih tak menghiraukan jenis anomali gak jelas.
°°°°°
Setelah masuk melalui pintu khusus dan berjalan menuruni tangga sambil melewati lorong gelap, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah arena pertarungan bawah tanah.
"Lo tunggu di sini gue masih ada urusan,"perintah Sabina lalu bergegas pergi tanpa menunggu respon sahabatnya.
"Hah.. Woi! Lo mau kemana?!"
"Ck tu bocah maen kabur-kabur aja." Bumi mendudukkan pantatnya di kursi tribun, menonton pertunjukan yang sedang berlangsung, yap pertarungan sengit dua manusia.
"Anjir ini tempat apaan si Sabina tau dari mana ada tempat kayak gini? Ck, pasti tuh bocah bergaul sama orang gak bener."
"Gue serasa nonton sabung ayam cuma bedanya ni objeknya manusia,"cerocos Bumi mencoba mengalihkan perhatiannya dari rasa khawatir.
"Duh kenapa firasat gue jadi gak enak ya?"
Sampai pertandingan akan berakhir Sabina belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai matanya melotot sempurna kala melihat objek yang sedari tadi ia tunggu.
Wajahnya merah padam menahan amarah, urat-urat lehernya menonjol dengan kedua tangan mengepal erat.
"Bangsat!"
Di luar arena Sabina tengah meregangkan otot-ototnya yang kaku. Yah dia akan bertarung dengan petarung terkuat yang konon katanya tidak pernah terkalahkan.
Alasannya? Tidak ada. Dia hanya ingin mencoba melewati batas level maksimal kekuatannya. Selain itu uang yang ditawarkan juga cukup lumayan.
Sorak sorai penonton semakin meriah kala Sabina memasuki arena dan berhadapan langsung dengan lawan. Seorang pria tinggi berbadan besar.
Jika disandingkan, Sabina terlihat seperti semut kecil yang akan diinjak- injak gajah besar.
"Cih ngapain gadis kecil di sini? Cari mati? Mending pulang sana mimi susu ke ibumu hahaha…"
"Lagian apa yang bisa gadis kecil sepertimu lakuin? Orang juga tau siapa yang bakal menang."
Tawa mengejek bergema di seluruh arena seolah menertawakan kemalangan Sabina.
"Bacot lu!" Tanpa basa-basi Sabina langsung melancarkan serangan tajam ke arah lawan setelah lonceng berbunyi.
Mata Bumi memerah melihat pertarungan sengit di arena yang terhalang pagar kawat.
"Anjing! Minggir bangsat!" Bumi mencoba menerobos masuk ke pintu yang dijaga oleh dua pria kekar.
"Sabina!"
"Arghh! Anjing! Bangsat!"
Bugh!
Bugh!
Sabina menunggangi tubuh lawan yang terkunci di bawah kungkungannya, lalu meninju wajahnya dengan brutal.
Bugh!
"Cuih." Sabina meludahkan seteguk darah tua lalu bangkit dengan tubuh sempoyongan setelah lawan mainnya terkapar lemah.
"Jadi, siapa yang menang?" Dengan kekehan sinis Sabina menatap datar lawan di bawahnya yang pingsan.
Teng!
"Pertandingan berakhir!" Suara wasit bergema begitupun dengan teriakan para penonton yang tidak percaya sekaligus takjub.
Namun kegembiraan itu berakhir tenang ketika seorang pemuda berlari masuk menyeret Sabina dengan wajah muram.
"Lo apa-apaan sih! Lepasin gue! Bumi! Anjing! Lo mau bawa gue kemana?! Gue belum bawa duitnya!"
"Persetan sama tuh duit!"
Yang Sabina tau Bumi adalah pria konyol, tengil, humoris, ceroboh dan gak pernah serius tentang apapun.
Kadang kala dia sering merasa pusing dengan tingkah lakunya.
Sejak awal mereka bertemu, Bumi terlalu sokab padanya. mengikuti kemanapun dia pergi, menempel padanya sampai membuat dia risih dan setiap perkataannya mampu membuat dia darah tinggi.
Namun seiring berjalannya waktu Sabina mulai terbiasa dengan tambahan ekor di belakang selain adiknya.
Dan sekarang untuk pertama kalinya Sabina merasakan amarah seorang Bumi yang berhasil membuat dia sedikit takut.
Ingat SE-DI-KIT!
"Lo ngapain sih, hah?! Lo ngapain ikutan kaya gitu?! Mau jadi jagoan lo?! Mau ngebuktiin ke orang-orang kalau lo lebih kuat?! Gitu?! Lo haus validasi, hah?! Atau lo butuh duit? Berapa? Sejuta? Dua juta? Gue kasih!"
Sabina tak percaya perkataan seperti itu akan keluar dari mulut sahabatnya. Hati Sabina sedikit tersentil mendengar ucapan tak menyenangkan itu dan sedikit melukai harga dirinya. Tak tahukah Bumi kalau perkataannya sudah merendahkan dirinya.
Dibandingkan rasa sakit Sabina lebih merasa kecewa.
"Brengsek! Kalau iya kenapa, hah?! Anjing lo! Minggir! Gak usah ketemu gue lagi!"
Sabina mendorong kasar tubuh Bumi lalu pergi meninggalkan pria yang mematung kaku.
"Arrgghh!! Bangsat! Bumi bego!" Bumi mengacak-acak kasar rambutnya frustasi lalu buru-buru menyusul Sabina sebelum kehilangan jejak.
Penampilannya yang kacau membuat orang yang berlalu lalang memperhatikannya, namun Bumi tak memperdulikannya saat ini prioritas utamanya adalah mencari Sabina dan meminta maaf.
Setelah mencari sepanjang jalan Bumi tak kunjung juga menemukan Sabina. Pria itu memilih menyerah mungkin saja Sabina sudah kembali ke rumah.
Dan sialnya motor yang ia tumpangi mogok di tengah jalan. Bumi terpaksa harus mendorong motornya ke bengkel.
"Bangsatlah sial banget gue hari ini. Mana ada bengkel yang buka jam segini harusnya gue bawa si Becky biar gak apes gini."
Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya Bumi menemukan bengkel yang buka 24 jam dan syukurnya bisa pulang dengan selamat.
°°°°
Keesokan paginya Sabina merasa terganggu oleh suara bising dari dapur. Dia dengan kesal bangun dan berjalan keluar.
"Dek ah berisik tau kakak lagi tidur, bisa gak gak usah ribut ini masih pagi,"omel Sabina kesal, matanya setengah terbuka setengah terpejam.
Dia benar-benar lelah, kemarin malam setelah ribut dengan Bumi Sabina tidak langsung pulang melainkan nangkring dulu di supermarket untuk menenangkan pikiran sambil mengobati luka-lukanya.
"Itu udah bangun. Lagian gak baik anak cewe bangun siang kakak harusnya lebih rajin bukan malah malas-malasan. Sekarang bantuin adek bikin sarapan."
Sabina langsung menolak keras usulan adiknya. "Ogah mending kakak lanjut tidur."
"Aku aduin ayah ya kalau kakak malas-malasan, "ancam Bian yang berhasil membuat Sabina merengut kesal.
"Aduan lu! Awas entar malam lo tidur sendiri."
"Ih kok gitu! Gak mau ah kakak udah gak sayang aku lagi, ya?" Wajah manis Bian terkulai lesu dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca siap jatuh kapan saja.
Bian bisa dibilang sangat bergantung kepadanya karena sejak kecil pemuda itu lebih dekat dengannya dibanding orang tua mereka sendiri. Alasannya karena orang tua mereka sibuk, ayah sibuk bekerja dan ibu tidak peduli.
Tapi meski begitu ayah akan sesekali menyempatkan waktu untuk bermain bersama mereka.
Seringkali Sabina yang sering mengurus adiknya sendiri padahal usia mereka terpaut satu tahun. Dan karena keadaan itu Alexa sudah dewasa sebelum waktunya.
Karena dia anak pertama dan kakak bagi adiknya. Sebagai seorang kakak Alexa harus menjaga, memberi contoh yang baik dan membimbing adik kecilnya.
"Iya-iya nggak. Cengeng lu udah gede juga. Makanya kalau malem tuh tidur bukan nonton film horor,"ejek Sabina mengusap surai adiknya yang terasa lembut.
"Gak papa sama kakak ini cengeng nya. Wlee…" Bian memeluk sayang kakak tercintanya. Jika orang lain bertanya siapa yang paling dia sayang Bian akan menjawab dengan lantang nama Kak Sabina.
Bian, atau nama aslinya adalah Sabian dirgantara.
"Kakak kemarin malam pergi ke sana kan?"
"E-enggak!"
Bian memicingkan matanya curiga, "Bohong! Kakak kan udah janji sama aku gak bakal ke sana lagi."
Sabina menghela nafas pasrah, baiklah dia akui tidak bisa berbohong kepada adiknya.
"Iya kakak ke sana, maaf ya Kakak udah ingkar janji."
"Oke aku maafin."
Sabina tersenyum gemas lalu mengacak-acak rambut adiknya. "Terima kasih kakak janji yang kemarin itu terakhir."
"Hmmm...."
°°°
Sedangkan disisi lain ada Bumi yang sedang mencabut rerumputan liar untuk memberi makan domba-domba kesayangan abahnya dengan wajah yang ditekuk kesal.
Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali dia sudah diseret dari kasur empuk hanya untuk mencari rumput, ditambah lagi dengan masalah kemarin yang belum selesai.
Cukup sudah kekesalannya semakin bertambah.
"Kenapa sih dari tadi cemberut mulu gak ikhlas bantuin abah?"tanya Bara mendekat lalu duduk di atas rumput. Sebagai kakek yang baik Bara selalu peduli terhadap cucu-cucunya meski kelakuan cucunya diluar akal sehat manusia.
Contohnya seperti ini Bara peka terhadap mood cucunya yang kurang baik.
"Yap betul sekali 100 buat abah."
"Dasar bocah edan." Bara melempar sejumput rumput liar ke arah Bumi dengan kesal.
"Hah.... sebenarnya Bumi lagi galau." Bumi ikut mendudukkan pantatnya di sebelah Bara, menatap hamparan langit biru yang terlihat sangat cerah. Semilir angin sejuk menerbangkan helaian rambut di dahinya.
"Gegayaan lu galau kayak punya pacar aja. Galau kenapa? Ditolak? Putus cinta?"
"Ini lebih dari ditolak dan putus cinta, abah gak bakal ngerti ini urusan anak muda."
"Lu ngatain gua tua hah?! Ck punya cucu gini amat, lagian gini-gini juga gua pernah muda kali. Buruan kenapa?"
Samuel menghela nafas panjang, terlihat pemuda itu sangat frustasi.
"Bumi sama Sabina lagi berantem. Kemarin Bumi ngeluarin kata-kata yang nyakitin Sabina dan Sabina gak mau ketemu Bumi lagi."
"Terus lu nyerah gitu aja?"
Bumi menggelengkan kepalanya, "Bumi nggak nyerah tapi kata Sabina, Sabina gak mau ketemu Bumi."
"Lu nurut?"
Samuel mengangguk polos.
"Astaga punya cucu kok bego amat!" Bara menepuk jidatnya frustasi, rasanya dia ingin menjual Bumi ke tukang loak.
"Bumi kan gak mau bikin Sabina tambah marah,"ucap Bumi sedikit ngegas karena tak terima dikatain bego.
"Ya gak gitu juga, lu samperin lah Bumi minta maaf yang bener sambil bawa buah tangan buat sogokan."
"Kalau Sabina gak mau maafin Bumi gimana?"
"Ya itu derita lu."
Bumi merengut kesal. "Ih abah yang bener aja lah."
"Ya lu dicoba aja belum udah pesimis."
"Kalau Sabina gak maafin Bumi itu semua salah Abah."
"Lah ngapa jadi nyalahin gua? Masalah-masalah lu kenapa jadi gua yang nanggung?"
"Karena Abah cocok jadi kambing hitam."
"Udah ah Bumi mau nyamperin Sabina dulu abah lanjutin kerjanya bye,"ucap Bumi tanpa dosa.
Pemuda itu langsung melempar parang di tangannya lalu melenggang pergi meninggalkan kakeknya sendirian untuk mencabut rumput.
"Kerjaan lu selesai in dulu bocah!"
"Nanti! Urusan Bumi lebih penting!"
"Dasar bocah gembleng! Awas lu nanti balik gua getok kepala lu ya!" Teriak Bara kesal.
WARNING❗ Terdapat banyak kata kasar dan menyinggung. Mohon bijak dalam membaca, terima kasih.
...~SELAMAT MEMBACA~...
Saat ini Bumi tengah berdiri di depan pintu rumah Sabina dengan penampilan yang sangat rapi dan wangi. Senyum cerah menghiasi wajah tampannya, sambil menenteng kresek berisi donat kesukaan Sabina Bumi mengetuk pintu.
Cklek…
Pintu terbuka dari dalam senyum Bumi seketika luntur saat melihat siapa orang yang membukakan pintu untuknya.
"Kenapa jadi lo?"
"Lah kenapa? Rumah-rumah nenek gue,"jawab Bian tak kalah ketus, setengah tubuhnya ia sandarkan di daun pintu dengan kedua tangan terlipat.
"Mana kakak lo?"
"Mau ngapain lo cari kakak gue?" Bukannya menjawab Bian malah balik tanya.
"Gak sopan lu la lo, gue satu tahun lebih tua dari lo ya. Lagian bukan urusan lo cepet mana kakak lo gue mau ngomong sesuatu,"desak Bumi sambil mencuri-curi pandang ke dalam rumah berharap dia bisa menemukan sosok yang tengah dicarinya.
"Kagak ada, keluar tadi."
Bumi mengernyit bingung, "kemana?"
"Nggak tau." Bian mengedikan bahunya acuh tak acuh.
"Lo adiknya masa kagak tau kakak lo pergi kemana."
"Ya masa gue harus tau urusan kakak gue."
"Yaudahlah mau gimana lagi. Nih kasih donat ini ke kakak lo kalau udah balik, nanti gue ke sini lagi,"ucap Bumi sambil menyerahkan kresek berlogo merek makanan ke Bian.
Bian menaikan sebelah alisnya, " Buat gue mana?"
"Beli aja sendiri,"sahut Bumi malas.
"Gitu lo sama gue kagak gue restuin lo sama kakak gue,"ancam Bian.
"Dih? Yaudah iya-iya buat lo berdua."
Bian seketika tersenyum sumringah. "Hehehe thanks Bang!"
"Dih disogok makanan aja baru lo panggil gue abang,"protes Bumi.
Bian tak terlalu peduli dengan protesan pemuda di depannya ibarat masuk telinga kanan keluar telinga kiri, intinya tidak penting.
"Udah kan? Bye!"
Brak!
Pintu di depannya dibanting tertutup membuat Bumi terperanjat kaget.
"Anjing! Kalau lo bukan adik Sabina udah gue tendang lo ke planet mars,"misuh Bumi sambil mengacungkan jari tengah.
Bian tak tau kalau pemuda di luar sedang memarahinya. Yah mau dia tau atau tidak Bian tak peduli.
"Siapa? Bumi ya?"tanya Sabina sambil menyeruput jus buah buatannya lalu duduk di sofa ruang tengah.
Bian mengangguk lalu ikut duduk di sebelah kakaknya sambil meletakkan donat di meja kopi.
"Dikasih donat sama bang Bumi. Kakak kenapa gak mau ketemu Bang Bumi? Lagi marahan?"
Tadi sebelum membuka pintu Sabina sempat memperingati Bian jika itu Bumi yang sedang mencarinya bilang saja tidak ada.
Jadi Bian terpaksa berbohong.
"Ya gitulah,"jawab Sabina asal, perhatian sepenuhnya terfokus ke layar tv yang sedang menampilkan film favoritnya.
"Terus ini donatnya kakak mau gak?"tanyanya sambil mencomot donat rasa coklat favoritnya.
"Gak, kamu aja yang makan."
"Oke." Bian tak menyia-nyiakan kesempatan untuk makan gratis, kapan lagi kan bisa makan donat mahal gratis lagi.
Kedua kakak beradik itu menghabiskan waktu bersama menonton film di ruang tengah.
Sampai dua jam kemudian terdengar ketukan lagi dipintu. Dan yang membukanya tetap Bian.
"Apa?"
Yang mengetuk pintu tidak lain dan tidak bukan adalah Bumi.
"Kakak lo?"
"Gak ada!"
Brak!
Saat makan siang.
"Belum balik!"
Brak!
Saat tidur siang.
Brak!
Belum sempat bicara pintu di depan sudah dibanting tertutup. Namun meski begitu Bumi tidak menyerah.
Menjelang sore, Bian berteriak frustasi.
"Arghh! Kakak aja yang buka selesain urusan kakak sama bang Bumi sana. Kalau menghindar terus Bian yakin tuh bang Bumi bakal terus ngetuk pintu sampai malam."
Sabina hanya bisa menghela nafas kasar. Apa yang dikatakan adiknya benar, dia tidak bisa terus-terusan menghindar.
Senyum Bumi seketika merekah ketika orang yang dicarinya berdiri di hadapannya. Namun sebelum mengeluarkan suara Sabina sudah menyemprot nya terlebih dahulu.
"Lo gak ada kerjaan apa bolak-balik ke rumah gue terus?! Gue kemarin udah bilang gak usah ketemu gue lagi, budek kuping lo?!" Cecar Sabina.
"Hah?"
"Tu-tunggu jadi selama ini lo ada di rumah? Berarti tuh bocah bohongin gue dong? Wah kurang asem."
"Iya gue yang suruh. Kenapa? Lo mau marahin adik gue sini lawan gue dulu."
Bumi tak berani marah lagi, bibirnya mencebik kesal. Dia gak mau dijauhin Sabina lagi, rasanya seperti separuh hidupnya hilang.
"Iya enggak. Bumi mau ajak Bina ke suatu tempat, Bumi yakin Bina pasti suka, mau ya ya ya?"
"Gak ada waktu,"jawab sabina ketus.
"Pliss...."Mohon Bumi dengan wajah memelas.
"Huft....oke."
"Yes!"
°°°°
Dan saat ini kedua insan itu tengah duduk dibawah pohon rindang, menikmati semilir angin sejuk dengan disuguhi pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Hamparan rumput luas dengan cahaya orange yang membentang di cakrawala. Seperti lukisan tangan seorang seniman.
Sabina baru tahu kalau di desanya ada tempat seindah ini.
Kedua orang itu terdiam dengan pikiran masing-masing sambil menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan.
Bumi tersenyum puas melihat wajah tenang Sabina, tak sia-sia perjuangan dirinya membolang ke pelosokan akhirnya mendapat tempat seindah ini.
"Maaf...."ucap Bumi dengan nada lirih, memecah kesunyian di antara mereka.
Sabina tak bergeming. Dalam kata itu tersirat rasa penyesalan.
"Maaf kemarin aku gak bermaksud ngomong gitu, aku cuma khawatir kamu terluka. Aku gak ada maksud lain, Bina mau maafin Bumi kan?"
Bumi mengubah kosa katanya menjadi halus dengan nada merengek dan wajah memelas.
Sabina tetap diam dengan pandangan fokus ke depan.
"Bin...jangan cuekin Bumi terus. Mau sampai kapan Bina cuekin Bumi, lusa Bumi mau balik ke Jakarta. Skors Bumi udah habis, masa Bumi ninggalin Bina pas lagi marahan, gak mau!"
"Sabina...."
"Kalau gini terus Bumi gak mau pulang mau di sini terus sama Bina."
"Jangan ngaco!" Ahirnya setelah sekian lama Sabina membuka mulut.
Gadis itu menatap tajam pemuda di sampingnya.
"Kalau lo beneran lakuin itu gue bakal marah beneran."
Bumi cemberut, "Makanya jangan cuekin Bumi terus. Maaf ya, kita udah baikan kan?"
Alexa mengedikkan bahunya acuh, "Gak tau."
"Ihh kok gitu!"
"Bina maafin Bumi!"
"Bina!"
"Bumi janji gak bakal gitu lagi."
"Binaa!"
"Bumi bakal nurutin mau Bina asal bina maafin Bumi dulu."
"Bener?"tanya Sabina memicing curiga.
"Bener! Kapan Bumi pernah bohong."
"Oke."
"Yes! Jadi kita udah baikan ya?"tanya Bumi memastikan.
"Iya,"balas Sabina tak berdaya.
"Hore!" Bumi menabrakkan tubuh kekarnya kepada Sabina memeluk erat sahabat tercintanya itu.
Setelah saling memaafkan kedua orang itu saling bercerita lelucon lucu dengan Bumi yang tiduran di paha Sabina dan Sabina mengelus rambut halus pemuda itu.
Siluet mesra dua orang itu membuat mereka menyatu dengan keindahan alam, seperti coretan tinta di kanvas putih, sangat sempurna.
"Gimana kalau kita pacaran,"celetuk Bumi asal.
"Ngaco kita cuma sahabatan. Mana ada sahabat jadi pacar."
"Ada."
"Siapa?"
"Kita."
"Tolol!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!