NovelToon NovelToon

Istri Yang Ku Nodai

Kecelakaan

Selamat Membaca

🌿🌿🌿🌿🌿

Angin sore yang bergerak secara perlahan-lahan dapat menggerakkan setiap dedaunan yang menggantung dengan indah pada tangkainya.

Anginnya serasa mengantarkan rasa sejuk pada setiap balutan kulit yang disapanya. Seperti waktu sore di sekolah menengah atas ini, sudah saatnya bagi semua siswa untuk kembali pulang ke rumah mereka.

Setelah semenjak tadi pagi mengikuti berbagai kegiatan di sekolah, akhirnya semua siswa dan siswi sudah bisa pulang, mereka semua berjalan seolah seperti bertebaran ke hampir setiap halaman sekolah mereka.

Dan kini nampak dua orang gadis yang memang sudah bersahabat baik, keduanya melangkah bersama dengan hati yang senang.

Banyak pasang mata yang mengarah pada mereka, namun sebenarnya dari kedua gadis itu salah satunya lah yang paling menjadi sorot perhatian. Ia begitu terlihat anggun di mata hampir semua orang apalagi di mata para siswa.

Hara Ayunda Nugraha, seorang siswi SMA yang berparas sangat cantik. Hara memiliki wajah yang sangat cantik, jika ia tersenyum terlihat sangat manis. Hara adalah anak yang memiliki sikap sopan santun, ia sangat menghormati para gurunya, sosoknya terkenal pendiam, namun Hara sangatlah aktif dalam kegiatan pembelajaran di sekolahnya.

Hara melangkah bersama dengan sang sahabat April, dua gadis SMA yang tak lama lagi akan segera lulus itu akan menuju ke tempat parkir untuk mengambil sepeda motor.

Hara tak memiliki sepeda motor, April lah yang memiliki sepeda motor, dan hampir setiap hari pula Hara ikut bonceng pada April dari berangkat sekolah hingga pulang dari sekolah.

Dan kini kedua gadis SMA itu sudah akan pulang, dan dalam setiap langkah mereka selalu diiringi dengan perasaan senang, Hara dan sang sahabat April merasa senang dan bersyukur karena prestasi yang sudah keduanya dapatkan.

" Aku benar-benar kagum padamu Hara, kamu selalu mendapatkan nilai terbaik, pasti orang tua kamu selalu bangga sama kamu. " dalam langkahnya April memang sangat memuji prestasi Hara.

" Kamu bisa saja Pril, kamu kan juga seperti itu, nilai akademikmu selalu bagus, dan nilai kamu juga tidak pernah turun dari tiga besar. " sahut Hara karena sahabatnya ini adalah siswi yang berprestasi.

Hara dan April memang siswi yang rajin dan patut dijadikan teladan, semua guru di sekolah ini sudah tahu bagaimana kebiasaan mereka.

Sebenarnya hari ini bukanlah hari pembagian raport sekolah, namun wali kelas Hara telah memberikan sedikit bocoran akan nilai-nilai dari murid-muridnya, termasuk wali kelas Hara mengatakan jika Hara adalah siswi dengan nilai terbaik.

" Aku mau ambil motorku dulu, kamu tunggu di sini saja Hara tidak perlu ikut ke tempat parkir. " ujar April pada Hara agar sahabatnya ini tak perlu ikut mengambil motor.

" Jangan begitu April, aku tetap mau ikut. " sahut Hara yang langsung menolak.

Begitulah Hara, karena tak memiliki motor pribadi Hara memang selalu numpang bonceng pada April, dan karena hal itu membuat Hara sadar meski dalam hal sederhana membuat Hara ingin mendampingi April sebagai bentuk rasa terima kasihnya.

Hara terus saja jadi ikut melangkah bersama April, dua gadis SMA itu mengarah pada area parkir sekolah.

Namun dari jarak yang memang tak begitu jauh dari tempat parkir, nampak seorang siswa yang berdiri dengan tersenyum. Siswa itu berdiri tak terlalu jauh dari motor April, ia tersenyum dengan memperhatikan Hara.

" Kamu lihat itu kan Hara?, pasti sudah dari tadi dia menunggumu. " ujar April dengan wajah lesunya.

Hara hanya terdiam, gadis muda itu jadi sedikit menunduk malu, mengapa dia sudah berdiri di sana, cepat sekali. Hara berbicara di dalam hatinya karena tak ingin jika laki-laki itu sampai menegurnya, bukan karena Hara membencinya, hanya saja Hara merasa kurang nyaman jika ada lawan jenis yang mendekatinya.

" Tuh kan, lebih baik kamu tidak ikut ke tempat parkir, pasti dia ada di sini karena menunggu kamu Hara. " April berbicara dengan masih menatap lesu ke arah depan.

Dan benar saja, siswa yang berdiri tak terlalu jauh dari mereka mulai melangkah, ia melangkah dan akan mendekati Hara.

Melihat siswa itu yang sudah berjalan mendekat, membuat April memilih melangkah menjauhi Hara, akibatnya Hara jadi berdiri sendiri seperti orang yang tak bisa berkutik.

" Sore Hara, kamu masih terlihat cantik saja meski sudah se sore ini. " sapa Erwin ramah dengan tersenyum pada Hara.

Hara yang disapa seperti ini masih dengan sikapnya yang sama, diam dengan sedikit menunduk. Hara tak mengerti kali ini Erwin datang menghampirinya dengan maksud apa.

Dialah Erwin Handoko, seorang siswa tampan yang merupakan salah satu anak dari seorang konglomerat ternama di kota ini.

" Oh iya, aku dengar kamu kembali menjadi siswi dengan nilai terbaik, wah keren sekali kamu Hara, selamat ya atas prestasi kamu. " Erwin memberikan ucapan selamatnya dengan langsung menyalami tangan Hara bahkan tanpa menunggu reaksi dari Hara.

Sentak hati Hara sebenarnya tersentak kaget, bagaimana tak kaget jika Erwin main langsung menyentuh tangannya meski itu hanya sebagai perantara pemberian selamat.

" Teruslah seperti ini Hara pertahankan prestasimu, sudah cantik kamu juga sangat pintar. " lanjut Erwin dengan kalimatnya yang sudah-sudah tanpa melepas genggamannya dari Hara.

" Iya terima kasih. " sahut Hara dengan segera mungkin menarik tangannya yang tak kunjung dilepas oleh Erwin.

Erwin masih dengan senyuman manisnya pada Hara, dan hal ini membuat Hara jadi semakin tak nyaman. Hara menyadari jika Erwin naksir padanya, tetapi tidakkah Erwin merasa jika Hara masih tak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis.

" Ayo Hara kita pulang sekarang. " ajak April yang ternyata sudah berada di atas motornya.

" Iya. " sahut Hara singkat dan gadis itu pun langsung bergegas mendekati sang sahabat.

Tak butuh waktu lama bagi Hara untuk menaiki motor April, gadis SMA itu mulai memasang helmnya dan siap pergi.

" Hara, jangan lupa balas pesan WAku ya. " ujar Erwin dengan nadanya yang sedikit meninggi.

Dan tanpa lama April yang memang selalu menyetir langsung menancap gas motornya. Dua gadis SMA itu telah melenggang pergi dari area tempat parkir dengan meninggalkan Erwin yang masih tersenyum.

Erwin sang siswa yang menyukai Hara memperhatikan gadis yang menjadi pujaan hatinya itu. Sejauh ini Erwin memang masih belum menyatakan rasa sukanya pada Hara, tetapi Erwin sudah yakin jika Hara pasti merasakan jika dirinya ini menyukainya.

" Setelah ini aku akan memperjuangkanmu Hara, dan aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan hatimu. " seraya mengikuti keyakinannya, hal itu juga merupakan doa Erwin.

*****

Sejuknya angin sore serasa menyapa dan mengiringi perjalanan menuju rumahnya, helm pengamannya pun terpasang dengan sangat rapi di kepalanya.

Kendaraan roda dua yang diboncenginya melaju dengan kecepatan sedang namun pasti. Dengan memperhatikan sang sahabat yang menyetir di depan membuat Hara jadi bertanya, mengapa sahabatnya ini lewat di jalan ini, jalan ini adalah jalan yang sangat jarang ia lewati.

Hingga selang tak begitu lama, sang sahabat April mulai mengurangi kecepatan motornya, dan April pun mulai menepikan motornya itu.

Dan kala motor itu berhenti membuat Hara mulai turun dari sang motor, dibukanya helm di kepalanya itu.

" Kenapa berhenti di sini Pril?. " Hara bertanya dengan mengarahkan pandangannya pada sebuah toko kecil yang ada di seberang jalan.

" Mamaku menyuruhku untuk membeli minyak goreng sepulang dari sekolah, kamu tunggu di sini dulu Hara, aku mau beli minyak goreng dulu. " ujar April dengan meletakkan helmnya di atas motornya.

" Kamu hanya mau beli minyak goreng saja Pril?. " tanya Hara.

" Kurang tahu, tapi kalau ada makanan yang aku suka mungkin akan aku beli juga. " jelas April dengan memperhatikan jalan yang ada di depannya.

Hara tak lagi bertanya, gadis itu mengiyakan saja sahabatnya yang ingin membeli apa, jika diperhatikan toko yang akan dikunjungi sahabatnya ini tak terlalu besar.

Hara terus memperhatikan area di sekitarnya dengan melihat sahabatnya yang sudah akan masuk ke toko.

Area toko ini begitu dekat dengan pertigaan jalan, tapi mengapa area ini begitu sepi, bahkan tak ada satu kendaraan pun yang melewati jalanan di area ini. Hanya ada seorang bapak tukang becak dan becaknya yang berada di seberang jalan sana dengan posisinya yang tak terlalu jauh dari area jalan pertigaan ini.

" Jalanan ini begitu sepi, kasihan sekali bapak tukang becak itu. " batin Hara yang berbicara dengan melihat sang bapak tukang becak yang hanya duduk di becaknya.

Dalam keadaan santai Hara tetap memperhatikan jalanan yang nampak jelas di depan matanya. Hara memperhatikan jalan pertigaan itu hingga pandangannya mengikuti jalan yang terhubung ke arah selatan. Dan disaat pandangan Hara tertuju ke jalan itu, disaat itulah Hara melihat sebuah kendaraan yang melaju dari arah sana.

Hara melihat adanya sepasang suami dan juga istri yang sedang menaiki motor mereka. Terlihat seorang bapak yang mengendarai motornya dengan membawa sang istri yang sedang bonceng padanya. Motor itu melaju dengan kecepatan sedang sehingga membuat Hara masih belum bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah mereka.

Karena melihat kendaraan motor itu membuat pandangan Hara jadi terus tertuju ke arah selatan, dan ternyata benar, ada sebuah mobil yang melaju dari arah sana. Tapi tunggu dulu, mengapa mobil itu seperti melaju tak terkendali.

" Ya Tuhan, kenapa dengan mobil itu?, kenapa mobilnya melaju tidak terarah seperti itu?. " hati Hara berbicara dan mulai cemas.

Hingga pandangan Hara kembali tertuju pada kendaraan motor sebelumnya. Hara jadi khawatir bagaimana jika mobil itu sampai menabrak sepasang suami dan istri yang sedang berkendara itu.

Namun tunggu dulu, dalam seketika pandangan Hara menjadi sangat terfokus. Sepasang suami dan juga istri yang sedang menaiki motornya itu mengapa seperti Hara kenal. Hara merasa jika mereka berdua seperti bapak dan juga ibunya.

Hingga setelah sepersekian detik kemudian barulah Hara bisa melihat sepasang suami dan istri itu dengan sangat jelas. Iya benar, mereka berdua adalah bapak dan juga ibunya yang sedang naik motor bersama.

Deg...

Dan seketika itu pula dada Hara jadi berdentum sangat hebat. Rasa khawatir, takut akan hal yang tak diinginkan pun langsung mendera hati Hara. Yang menaiki motor itu adalah bapak dan ibunya, lalu bagaimana jika mobil itu sampai...

Dengan hati yang penuh ketakutan Hara kembali melihat sang mobil, dan mobil itu terus melaju tak seimbang.

" Tidak, jangan. " takut Hara dengan hal yang sebentar lagi akan terjadi.

Mobil itu semakin melaju tak terkendali, entah apa yang terjadi pada mobil itu.

" Hati-hati Rahmat, lihat itu di depan. " teriak sang tuan pada supirnya.

" Ya Tuhan, ya Tuhan... "

Brakk... brakk... cekittt... brukk... brukk...

" Ibuuu... " teriak Hara.

" Ibuuu... " Hara berteriak histeris kala melihat kedua orang tuanya dihantam dari arah belakang oleh sang mobil.

Sebuah kecelakaan hebat pun benar terjadi. Mobil itu benar menabrak kedua orang tua Hara hingga membuat tubuh keduanya terpental hebat sebelum akhirnya jatuh menggelundung dengan sangat keras di atas aspal.

" Ibu... bapak... " Hara berteriak histeris.

Hara menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana kedua orang tuanya ditabrak dengan sangat mengenaskan, suatu kejadian buruk yang sama sekali tak pernah Hara inginkan.

" Ibu... " Hara langsung berlari, gadis muda itu sangat histeris melihat kecelakaan yang dialami oleh kedua orang tuanya.

Sungguh hal yang mengerikan itu telah benar terjadi. Sepasang suami dan istri telah menjadi korban kecelakaan. Keduanya ditabrak oleh sebuah mobil yang tak bertanggung jawab. Mobil itu melaju dengan sangat kencang dan meninggalkan kedua korban begitu saja. Dan parahnya kecelakaan ini telah disaksikan oleh putri kedua korban.

" Bapak hiks hiks... bapak hiks hiks... " Hara menangis histeris bersimpuh dengan memegang tubuh bapaknya yang sudah tergeletak.

" Bapak hiks hiks... hiks... hiks... " sangatlah hancur hati Hara, gadis itu sangat tak kuasa mengetahui orang tuanya yang mengalami kecelakaan seperti ini.

" Ya Tuhan, ya Tuhan. " sang bapak tukang becak menghampiri Hara. Pria itu segera berlari setelah terkejut karena kecelakaan yang terjadi.

Bapak tukang becak itu sangat terkejut dan kebingungan, ia melihat dengan jelas bagaimana kecelakaan ini sampai terjadi.

" Hiks... hiks... hiks... hiks... " Hara terus menangis.

" Nak kamu menangis?. " seru bapak tukang becak itu.

" Ibu... " dan kini Hara melihat pada ibunya yang tergeletak sekitar jarak beberapa meter dari posisi bapaknya.

Melihat sang ibu membuat Hara langsung bangkit dan ingin menghampiri ibunya.

" Hiks... hiks... hiks... ibuuu... " semakin pecahlah tangis Hara.

" Ibuuu... hiks... hiks... hiks... " sungguh Hara tak kuasa melihat semua ini, ibu yang sangat dicintainya tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.

" Ibuuu... hiks... hiks... hiks... "

Tangisan dan teriakan rasa tak terima atas musibah yang menimpa kedua orang tuanya sudah tak bisa Hara tahan. Mengapa kedua orang tuanya harus mengalami kecelakaan seperti ini, dan itu semua terjadi tepat di depan matanya.

Melihat adanya seorang gadis SMA yang menangisi kedua korban membuat sang bapak tukang becak menyadari jika gadis ini adalah anak dari kedua korban.

" Nak mereka kedua orang tuamu?. " seru sang bapak tukang becak.

" Iya hiks... mereka ibu dan bapak saya hiks hiks... " hati Hara sangat hancur, kedua orang tuanya tak sadarkan diri, apakah kedua orang tuanya ini sudah tiada.

" Hara... " panggil April yang berlari ingin mendekati Hara.

Bukan hanya itu, sepasang suami dan istri yang merupakan pemilik toko pun juga berlari keluar dari dalam toko, mereka mendengar suara yang sangat keras seperti adanya suara kecelakaan, dan ternyata benar memang ada yang kecelakaan.

" Ya Tuhan, apa yang terjadi?, om Hakim tante Dila, apa yang terjadi?, siapa yang menabrak mereka Hara?. " April sangat terkejut bukan main, gadis itu tak menyangka jika kedua orang tua sahabatnya telah menjadi korban kecelakaan.

" Ya Tuhan, apa yang terjadi ini pak?, lihat mereka terluka parah. " ibu pemilik toko merasa sangat ketakutan setelah melihat kedua korban kecelakaan ini.

" Ya Tuhan, apa yang terjadi, apa mereka ditabrak orang pak?. " tanya sang bapak pemilik toko pada bapak tukang becak karena ia yakin pasti sang bapak tukang becak mengetahui kronologi dari kedua korban kecelakaan ini.

" Korban tabrak lari pak bu, mereka berdua ditabrak sangat kencang dari arah belakang oleh sebuah mobil, dan mobilnya terus melaju ke jalan sana, cepat sekali mobil itu melaju. " jelas sang bapak tukang becak dengan mengarahkan tangan kanannya menuju ke jalan utara di mana mobil pelaku melaju dan menghilang.

" Mereka terluka sangat parah, harus segera dibawa ke rumah sakit, pa segera hubungi pihak rumah sakit dan polisi. " seru wanita pemilik toko itu pada suaminya.

Dengan tanpa berpikir panjang lagi sang bapak pemilik toko langsung merogoh saku celananya dan mengambil handphonenya. Keadaan sudah sangat genting, kedua korban harus segera diselamatkan.

Kecelakaan ini tak pernah disangka-sangka sebelumnya, bukan tanpa alasan, mengingat area jalan ini sangatlah sepi pengendara, sehingga kemungkinan adanya kecelakaan sangatlah kecil. Namun pada faktanya tak selamanya seperti itu, hari ini, di sore hari yang sejuk ini telah terjadi sebuah kecelakaan yang memakan dua korban.

Bersambung..........

❤❤❤❤❤

Kepergian Bapak Dan Ibu

Selamat Membaca

🌿🌿🌿🌿🌿

Ketakutan yang luar biasa sangat mendera hati tulusnya. Rasa takut akan kehilangan orang yang sangat dicintai bagaikan sebuah momok yang tak diinginkan.

Tetesan air matanya seolah tiada surut, musibah yang dialaminya sangatlah tak kuasa untuk dirinya hadapi. Jika berada di situasi seperti ini rasanya ingin sekali menggantikan posisi kedua orang tuanya, lebih baik dirinya saja yang celaka daripada kedua orang tuanya.

Kini, di depan ruangan UGD di sebuah rumah sakit, Hara duduk dengan rasa penuh kesedihan. Akibat dari kecelakaan itu membuat kedua orang tuanya harus dilarikan ke rumah sakit ini. Hara hanya berharap semoga nyawa kedua orang tuanya masih bisa tertolong, dan semoga dokter dapat memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuanya itu.

" Hara. " seru April dengan sangat lembut pada sahabatnya ini.

Hara terus meneteskan air matanya, kejadian kecelakaan itu masih sangat jelas terekam di dalam kepalanya, dan semua itu semakin membuat hati Hara terluka. Sebenarnya siapa orang yang sudah dengan tega menabrak kedua orang tuanya. Kejadiannya sungguh sangat cepat, bahkan Hara masih belum sempat melihat plat nomor mobil milik orang yang telah menabrak kedua orang tuanya itu. Sebenarnya siapa pelakunya, mengapa ia begitu tega mencelakai kedua orang tuanya lalu membiarkan keduanya begitu saja.

Di luar ruangan UGD ini yang turut andil menunggu kabar dari kedua korban hanyalah Hara dengan sang sahabat April serta ibu dari pemilik toko yang tak lain adalah ibu Yuni. Tak ada sang bapak tukang becak maupun suami dari ibu Yuni. Kedua pria itu pergi entah ke mana setelah mengetahui ada panggilan telepon yang masuk.

April yang mulai menyadari jika kedua pria itu tak kunjung kembali jadi mulai bertanya-tanya, apa lagi untuk keberadaan sang bapak tukang becak, mengingat jika ia adalah saksi utama atas kejadian kecelakaan yang terjadi selain Hara.

" Bu, suami ibu dan bapak tukang becak pergi ke mana?, mereka masih di rumah sakit ini kan?. " tanya April pada ibu Yuni pemilik toko.

" Kurang tahu ya nak, tenanglah mereka hanya pergi sebentar, masih belum ada lima menit mereka pergi. " sahut ibu Yuni.

Sebenarnya bu Yuni sedikit merasa tersinggung dengan pertanyaan April, pasalnya suaminya itu pergi masih belum sampai lima menit berlalu, dan hal itu membuat bu Yuni merasa jika suaminya dilarang untuk pergi.

April pun menyadari akan adanya ekspresi yang kurang mengenakkan dari bu Yuni. Sebenarnya bukan bapak pemilik toko yang April khawatirkan, April khawatir karena suami dari bu Yuni telah mengajak pergi sang bapak tukang becak yang merupakan salah satu saksi utama atas kejadian kecelakaan yang terjadi.

Namun baru saja obrolan tentang dua pria itu, datanglah sosoknya yang sangat diharapkan. Dialah sang bapak tukang becak pak Yudi.

Dengan langkahnya yang nampak kurang bersemangat, pak Yudi terus berjalan menuju ke area di mana Hara sedang duduk.

Dan ketika langkah pak Yudi hampir mendekati tiga wanita yang berbeda generasi itu, muncullah suami dari bu Yuni yang tak lain adalah pak Jaka.

Keadaan pak Jaka pun tak berbeda jauh dengan pak Yudi, pak Jaka terlihat kurang bersemangat dalam melangkah. Dan yang nampak dari kedua pria yang cukup berumur itu tentu saja tak lepas dari pandangan April.

" Ada apa dengan mereka?, apa mereka ada masalah?. " dalam hatinya April jadi bertanya-tanya.

Sebelum pak Yudi dan pak Jaka pergi bersama, mereka nampak seperti orang yang tak kehilangan semangat, tapi sekarang mereka terlihat sangat berbeda terutama pak Yudi. Sangat terlihat jelas dari sorot mata pak Yudi yang seperti orang ketakutan.

" Pak Yudi, bapak dari mana?. " tanya April langsung bahkan saat pak Yudi masih belum mendaratkan tubuhnya pada kursi.

" Tidak. " sahut pak Yudi reflek.

" Tidak?, maksudnya tidak pak?. " tanya April.

" Ya tidak, maksudnya baru saja saya dari toilet, iya toilet. " sahut pak Yudi bahkan dengan sikapnya yang nampak gugup.

Entah apa yang terjadi pada pak Yudi, pria yang sudah cukup berumur itu terlihat seperti orang yang tak ingin diketahui rahasianya.

Dan lagi, sikap pak Yudi ini sangat menarik perhatian April, bahkan saat ini April malah merasa curiga.

" Tidak, pasti sudah terjadi sesuatu pada pak Yudi. " dalam hal ini April sangat yakin jika pak Yudi sedang tak baik-baik saja, namun ia berusaha untuk menutupinya.

Berbeda dengan April dan pak Yudi, maka berbeda pula dengan Hara, gadis SMA yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu terus duduk diam dengan meneteskan air matanya. Tentu saja Hara masih terus menangis, kedua orang tuanya masih terus berjuang di dalam sana agar bisa bertahan hidup. Hara benar-benar berharap semoga dokter dapat memberikan kabar yang baik mengenai bapak dan juga ibunya itu.

Hingga setelah dirasa cukup menunggu pintu ruangan UGD pun mulai terbuka, nampak seorang suster mulai keluar dari ruangan tersebut. Menyadari akan hal itu sontak membuat Hara dan yang lainnya langsung bangkit. Dan bersamaan dengan itu pula sang dokter mulai keluar dari ruangan UGD itu.

Rasa cemas serta adanya kabar baik sangat menggelayuti hati Hara, sang dokter yang menangani kedua orang tuanya sudah keluar, semoga dokter bisa memberikan kabar baiknya.

" Dokter, bagaimana keadaan bapak dan ibu saya?. " dengan menyeka lelehan air matanya Hara mulai bertanya pada sang dokter.

Sang dokter pria itu tak langsung menyahut, ia menatap Hara dengan tatapan penuh iba.

" Bagaimana dokter?, orang tua saya baik-baik saja kan dokter?. " tanya Hara lagi karena sang dokter tak langsung menyahut pertanyaannya.

Sang dokter pria itu jadi menarik napasnya cukup dalam. Dokter pria yang berusia empat puluh tahun yang bernama dokter Cahyono itu merasa sangat tak tega untuk menyampaikan kabar dari kedua pasiennya, namun dokter Cahyono harus menyampaikan kabar yang sangat pahit ini.

" Kamu harus bersabar ya nak, kamu harus bisa ikhlas menerima kenyataan ini. " sahut dokter Cahyono pada akhirnya yang membuat hati Hara seolah berdentum.

" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan kedua orang tuamu, tetapi takdir berkata lain. "

" Kedua orang tuamu sudah berpulang nak, kamu harus bisa mengikhlaskannya ya. " akui dokter Cahyono dengan segala kebenarannya.

Dalam seketika pernyataan itu seolah membuat jantung Hara berhenti berdetak, bahkan napas Hara pun seolah berhenti. Hingga setelah merasakan keterkejutan itu barulah Hara menyadari jika yang dikatakan oleh sang dokter adalah jawaban yang ditunggunya.

" Tidak... " terdengar suara Hara yang begitu lirih.

Semua orang yang menunggu di luar ruangan UGD ini pun begitu sangat tersentak kaget, bahkan April sang sahabat baik dari Hara sangat tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

" Tidak, tidak hiks... "

" Bapak ibu... " teriak Hara dan gadis itu pun langsung berlari memasuki ruangan UGD itu.

" Hara... " panggil April sebelum akhirnya April juga berlari mengikuti Hara.

Hara sangat terluka, gadis itu sangat terkejut dengan kabar yang baru saja didengarnya. Tak kuasa dengan semua ini membuat Hara ingin melihat keadaan orang tuanya secara langsung.

Dan kini Hara benar berada di dalam ruangan Unit Gawat Darurat ini. Hara terdiam, gadis SMA yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu terdiam membeku seperti patung setelah melihat dua sosok yang terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi kedua tubuh mereka.

Masih ada beberapa suster dan juga seorang dokter di dalam ruangan UGD ini, namun mereka hanya terdiam melihat kedatangan Hara.

Hara masih terdiam dalam keadaan berdiri, gadis SMA itu merasakan dentuman hebat yang teramat sangat di dadanya, bahkan saat ini rasanya napasnya seolah terhenti setelah melihat dua sosok terbujur kaku yang ditutupi oleh kain putih.

Sebenarnya apa yang ada di depan matanya ini, apakah ini nyata, benarkah dua sosok yang tertutupi oleh kain putih itu adalah kedua orang tuanya. Rasa takut begitu mencekam, Hara merasa sangat takut jika Harus membuka kain putih yang tertutup itu.

Dengan tubuhnya yang masih terdiam, membuat jantung Hara jadi berdetak tak karuan, entah mengapa Hara tak memiliki keberanian untuk membuka kain putih itu.

" Hara... " dengan nadanya yang lirih, seruan April telah memecah keheningan.

Hara pun jadi tersentak karena seruan sahabatnya itu, dan hal itu membuat Hara semakin sadar jika dirinya memang harus membuka kain putih yang menutupi dua sosok itu.

Dan setelah sadar dari keterdiamannya membuat Hara benar lanjut melangkah hingga selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan langkah kaki kecilnya pun benar terhenti. Hara berdiri sangat dekat dengan sosok dibalik kain putih itu.

Hara ingin membuka sang kain putih, namun tangan mungilnya begitu berat untuk terangkat bahkan sampai gemeteran.

Sang dokter beserta beberapa pasien yang masih berada di dalam ruangan ini hanya bisa menatap iba. Segala cara sudah mereka lakukan untuk menyelamatkan kedua orang tua Hara, akan tetapi Tuhan berkehendak lain.

" Nak, apa kamu tidak siap membuka kain putih itu?. " seru sang dokter Handry karena ia sudah sangat tak tega pada Hara.

" Tidak dok, biarkan Hara yang membukanya. " ujar April yang malah menyahuti seruan dokter Handry.

Hingga akhirnya Hara sadar bahwa siap ataupun tidak dirinya memang harus membuka kain putih yang menurutnya sangat mengerikan itu.

Dan dengan perlahan Hara kembali menggerakkan tangan mungilnya itu. Dengan sangat berat bahkan sepasang bola mata indahnya sampai ia pejamkan.

" Kamu harus membukanya Hara. " seru batin Hara sebelum akhirnya ia pun berhasil menyentuh sang kain putih.

Hara menyentuh kain putih itu dan dengan perlahan pula ia membukanya. Dengan perlahan Hara membuka sang kain putih hingga benar nampaklah sebuah wajah yang memang seharusnya Hara lihat, dan...

Deg...

Deg deg... deg deg...

" Ibuu... " Hara langsung tersentak.

" Ibuu... " dengan rasa keterkejutan dan kesedihan yang begitu luar biasa Hara langsung memeluk tubuh ibunya.

" Ibu... hiks hiks... " Hara kembali menangis.

" Ibuu... hiks... hiks... " Harus langsung menangis dengan sejadi-jadinya.

Melihat sosok yang sangat berharga dalam hidupnya sudah terbujur kaku dan tak bernyawa seperti ini membuat hati Hara sangat hancur.

" Ibuu... hiks hiks... ibuu... hiks hiks... "

Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Hara, gadis itu menangis dengan tangisan yang mungkin siapapun tak akan sanggup untuk mendengarnya.

Dalam sekejap ruangan ini benar-benar berubah menjadi ruangan duka. Semua orang yang berada di ruangan ini merasakan kesedihan, namun tetap Hara lah yang paling merasakan kesedihan yang begitu luar biasa.

Sementara April sang sahabat baik dari Hara hanya bisa menutup sepasang bibirnya karena kenyataan yang ada di depan kedua bola matanya. April benar-benar sangat tak menyangka jika tante Dila nya benar telah tiada. Tanpa terasa April juga turut menjatuhkan air matanya, tante Dila sudah April anggap sebagai ibunya sendiri, dan sekarang tante Dila nya itu telah terbujur kaku tanpa nyawa.

" Ibuu... hiks... hiks... ibuu... hiks... " Hara terus menangis dan menangis, gadis remaja itu sungguh sangat terpukul karena ibunya telah tak bernyawa.

Hara memeluk sangat erat tubuh wanita yang telah memberinya cinta dan kasihnya itu. Rasanya ini begitu terlalu cepat. Kejadian ini seperti sebuah mimpi buruk yang Hara tolak, padahal sebelum dirinya berangkat sekolah ibunya masih terlihat baik-baik saja, dan sekarang ibunya ini telah memejamkan matanya.

" Hiks hiks... hiks hiks... ibuu... " begitulah isak tangis Hara sebelum akhirnya gadis itu seperti melihat sosok yang lain lagi yang sepertinya bernasib sama seperti ibunya.

Dengan menangis Hara berpindah mendekati sosok yang tertutup oleh kain putih itu dan ia pun langsung membuka kainnya. Dan setelah membuka kainnya, nampaklah wajah bapaknya yang ternyata juga sudah tak bernyawa.

" Bapak... "

" Bapak hiks... hiks... " dengan isakan pilunya, dipeluknya tubuh bapaknya itu.

Hara memeluk sangat erat tubuh bapaknya yang juga sudah tak bernyawa.

" Hiks... hiks... hiks... "

Tetesan demi tetesan air mata Hara seolah menjadi banjir air mata. Hara sangat hancur, sangat terpukul dan sangat kehilangan. Kedua orang tuanya benar-benar telah meninggal, tak sanggup rasanya dirinya hidup jika bapak dan juga ibunya sampai tak ada lagi.

" Hiks... hiks... bapak... "

Sungguh nasib malang telah menimpa Hara. Ini adalah batu ujian yang sangat sulit untuk seorang gadis seperti Hara hadapi. Kehilangan kedua orang tua yang sangat dicintai adalah hal yang sama sekali tidak Hara harapkan.

" Hiks... hiks... hiks... "

Tangisan Hara terdengar sangat memilukan sampai-sampai membuat dokter Handry dengan beberapa susternya jadi ikut meneteskan air mata.

" Ya Tuhan hiks... hiks... hiks... " Hara sudah tak sanggup, benar-benar sudah tak sanggup.

Jika ini semua yang terjadi adalah sebuah mimpi, ingin sekali rasanya Hara tersadar dari mimpi yang sangat buruk ini. Semua ini terlalu sangat cepat, Hara masih merasa sangat tak siap jika harus benar-benar kehilangan kedua orang tuanya.

" Hara... " dengan tetesan air matanya yang telah membasahi wajahnya, dengan lembut April menyentuh pundak Hara.

Sebagai seorang sahabat yang telah menganggap Hara sebagai saudaranya sendiri juga membuat April sangat terpukul. April tak sanggup membendung air matanya setelah mengetahui tante Dila bersama om Hakim telah benar tiada.

" Hiks... hiks... hiks... bapak... " Hara terus menangis dan menangis.

Tak ada satu pun orang yang dapat menghilangkan kesedihan Hara. Nyawa yang telah hilang sudah tak akan pernah kembali, begitu pun dengan orang tua Hara yang telah kehilangan nyawanya dan meninggalkan Hara untuk selamanya.

Dan dalam keadaan yang berduka ini, dokter Cahyono kembali masuk ke ruangan UGD, bukan dengan seorang diri melainkan juga ditemani oleh orang-orang dari pihak yang berwajib yang sudah dipastikan akan melakukan pemeriksaan atas kecelakaan yang sudah terjadi.

Menyadari akan adanya orang-orang yang masuk membuat Hara pun bangkit dengan melepaskan pelukannya dari jenazah sang bapak.

Hara melihat adanya orang-orang dari pihak berwajib, dan bisa dipastikan kedatangan mereka ke tempat ini adalah untuk melakukan pemeriksaan. Ini adalah kesempatan, Hara merasa saatnyalah dirinya menceritakan semuanya pada para polisi ini.

" Pak, orang tua saya korban tabrak lari, saya mohon tolong segera temukan pelakunya. " dengan tetesan air matanya yang terus mengalir Hara mengadukan atas kecelakaan yang dialami oleh kedua orang tuanya.

" Hara tenang, jelaskan semuanya dengan tenang. " menyadari jika sang sahabat sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja membuat April mencoba menenangkan Hara.

" Iya, tenanglah nak, tenang, kami ke sini untuk melakukan pemeriksaan, keterangan dari para saksi akan menjadi salah satu bukti dari kasus yang terjadi. " ujar salah seorang pihak yang berwajib itu agar Hara bisa dengan tenang dalam memberikan keterangannya.

" Pak, bapak dan ibu saya sudah ditabrak lari hiks... dan yang menabrak sudah pergi hiks... hiks... tolong segera temukan pelakunya pak hiks... hiks... hiks... " dalam kesedihannya yang teramat sangat Hara sangat berharap jika orang yang sudah menabrak kedua orang tuanya bisa segera ditemukan.

Mendengar aduan dari Hara membuat orang-orang dari pihak yang berwajib ini jadi mengangguk paham, kasus ini adalah kasus berat karena telah menghilangkan dua nyawa. Namun putri dari kedua korban masih dalam keadaan emosinya yang tak stabil sehingga mungkin saja keterangan yang disampaikan tidak sesuai, apalagi keterangan yang disampaikan ini sangat bertolak belakang dengan keterangan dari saksi utama yang bernama Yudi.

Bersambung..........

❤❤❤❤❤

Kekuatan Seorang Tuan William

Selamat Membaca

🌿🌿🌿🌿🌿

Hamparan tanah yang begitu luas nampak indah dikala memasuki waktu malam seperti ini. Adanya titik-titik cahaya lampu serta tanaman-tanaman yang tumbuh membuat halaman ini bak taman istana.

Menjadi sebuah taman istana mungkin mendekati kebenaran. Hamparan taman yang begitu luas ini ada karena adanya rumah megah nan mewah bak istana yang telah berdiri kokoh dan menjadi pusat hunian sang tuan pemegang kekuasaan.

Rumah besar bak istana ini bisa dipastikan dapat menjaga pemiliknya dari gangguan luar, bahkan suara dari luar pun bisa dipastikan tak akan dapat menembus setiap satuan dindingnya.

Sosoknya memang begitu sangat tua, setiap ke mana pun ia melangkah hampir selalu menggunakan alat bantu tongkat miliknya, namun meski begitu pengaruhnya begitu sangat luar biasa, sesuatu yang tak mungkin bisa dilakukan oleh orang lain terasa akan sangat mudah dilakukan olehnya karena kekuasaan yang ia miliki.

Di sebuah ruangan terjaga di rumah besar ini pria tua itu sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia duduk tenang dengan tangan kanannya yang memegang dengan kokoh tongkatnya.

Tuan William Hito Radjasa, seorang pria tua yang saat ini sedang berusaha membersihkan kesalahannya. Apa yang dilakukan oleh tuan William bukanlah hal yang main-main, risiko yang luar biasa besar telah diambilnya untuk membuat nama besarnya tetap baik-baik saja.

" Bagaimana?, semuanya sudah beres?. " seru tuan William dengan sorot matanya yang menatap dalam pada orang kepercayaannya.

" Sudah tuan, semuanya sudah beres. " sahut Hasto yang memang sudah dari dulu menjadi orang kepercayaan tuan William.

" Kamu mengatakan sudah beres, aku tidak mau jika di kemudian hari ada masalah Hasto. " ujar sang tuan William karena ia ingin namanya tetap bersih.

" Tuan, saya pastikan semuanya sudah aman terkendali, orang-orang kepercayaan kita sudah membereskan semuanya, bahkan pihak yang berwajib sekali pun sudah berhasil kita kendalikan. "

" Keadaan sudah berbalik tuan, tidak akan ada satu pun orang yang dapat menemukan kebenaran dari kasus ini. " dengan sangat yakin Hasto mengatakannya karena ia memang sudah membereskan kasus ini dengan sangat bersih.

Kasus yang terjadi memanglah sebuah kecelakaan, namun demi terjaganya sebuah citra yang baik sebuah kebohongan besar pun telah dilakukan sehingga melahirkan kejahatan ini.

Dengan sangat rapi orang-orang kepercayaan tuan William telah berhasil membalikkan keadaan. Karena kecelakaan yang terjadi kedua orang tua Hara telah menjadi korban, namun setelah ini kedua orang tua Hara yang akan menjadi tersangkanya.

Dengan sangat rapi Hasto bersama orang-orang kepercayaan tuan William yang lainnya telah berhasil melakukan perbuatan licik mereka untuk menutupi kejadian kecelakaan yang sebenarnya, bahkan pihak yang berwajib sekali pun telah berhasil dibuat bungkam.

Terdengar kejam dan sangat tak manusiawi. Kecelakaan yang terjadi telah memakan dua korban, tetapi mereka dengan begitu tega membalikkan keadaan dengan membuat kedua korban sebagai tersangkanya, dan tak lama lagi Hara akan mendengar jika kedua orang tuanya akan menjadi tersangka atas kecelakaan yang terjadi dan itu pasti.

Melihat adanya raut meyakinkan dari Hasto membuat sang tuan William sudah merasa yakin. William sudah yakin jika Hasto pasti akan membereskan masalah ini dengan sangat rapi.

Namun bagaimana dengan yang terjadi pada mobil cucunya. Kecelakaan ini bisa terjadi karena mobil Albert mengalami masalah. Ada orang yang sudah berusaha mencelakai cucu kesayangan sang tuan William, bagi William siapa pun orang yang berusaha melukai penerus dari keluarga Radjasa harus mendapatkan ganjaran yang setimpal.

" Lalu bagaimana dengan orang yang sudah mencoba mencelakai cucuku?. " suara tuan William yang terdengar sangat tua itu masih bisa dirasakan jika menyimpan api amarahnya.

Kali ini William tak akan main-main, siapa pun orang yang sudah berusaha untuk mencelakai cucunya harus mendapatkan hukuman yang setimpal.

" Seseorang telah menyuruh orang bayaran untuk mencelakai tuan Albert, mereka melakukan sabutase pada mobil tuan Albert, tapi sepertinya tuan Albert mengetahui, dan itulah sebabnya tuan Al tidak menggunakan mobil yang itu tuan. " jelas Hasto karena itulah hasil sementara dari penyelidikannya.

" Berani sekali dia yang mencelakai cucuku. " rasa geram sangat mendera hati William.

" Sebenarnya bukan hanya sekali ini saja dia ingin mencelakai tuan Al, ini sudah yang ketiga kalinya tuan. " lanjut Hasto.

" Apa?, sudah yang ketiga kalinya?. " William sangat terkejut mendengarnya, bagaimana bisa dirinya tak mengetahui jika cucunya sedang berusaha dicelakai untuk kesekian kalinya.

" Tunggu apa lagi kamu Hasto?, cepat bereskan orang yang sudah ingin mencelakai cucuku. " perintah tuan William dengan sangat tegas.

" Tapi sepertinya tidak seperti itu tuan, sepertinya tuan Albert memiliki rencana sendiri untuk membuat lawannya bungkam, itulah mengapa tuan Al masih tetap baik-baik saja meski ada yang ingin mencelakainya. " ungkap Hasto cepat karena ia sangat yakin dengan hal itu.

Mendengar hal itu membuat William langsung terdiam. Jika dipikir memang benar, cucunya Albert adalah orang yang tak mudah ditipu, pasti Albert sudah mengetahui dari awal jika dirinya ingin dicelakai, dan itulah sebabnya Albert diam karena pasti memiliki rencana sendiri untuk menghadapi masalahnya.

" Tuan William, tuan tidak perlu merasa terlalu khawatir, tuan Albert adalah orang yang sangat pintar, pasti cucu tuan akan bisa membereskan masalahnya. "

" Tuan jangan lupa jika tuan Albert juga memiliki orang-orang kepercayaannya, mereka akan selalu ada untuk melindungi tuan Albert. " lanjut seru Hasto pada akhirnya agar tuan William nya ini tak perlu merasa khawatir.

Mendengar kalimat Hasto kali ini membuat William merasa sedikit lega. Masih banyak perlindungan untuk cucu kesayangannya itu.

William akan selalu dan selalu mengkhawatirkan Albert, karena Albert adalah satu-satunya penerus dari keluarga Radjasa.

Sementara Hasto sangat mengerti akan hal yang selalu dikhawatirkan oleh tuannya ini. Tuan William sudah sangat tua, dalam keadaannya yang seperti ini seringkali membuat keadaan sang tuan jadi sering sakit sakitan, dan Hasto tak ingin membuat tuannya ini harus sakit lagi karena masalah yang ada.

*****

Huru hara pun tak bisa dielakkan, isak tangis tak terima karena pernyataan sang saksi Yudi membuat Hara marah. Kini di kantor pihak yang berwajib keributan ini seolah tak bisa dibendung.

" Kenapa bapak berbohong hiks... jelas-jelas kedua orang tuaku ditabrak hiks... orang tuaku korbannya hiks... hiks... mereka tidak menabrakkan diri hiks... hiks... " Hara sangat sedih, sangat marah, dalam keadaan emosinya yang memuncak gadis itu berusaha mencengkram kerah baju milik pak Yudi.

" Hara tenang Hara... " April berusaha menarik tubuh Hara agar tak lagi berusaha mengejar pak Yudi.

Sebenarnya April juga sangat kesal, jelas-jelas saat di tempat kejadian tadi pak Yudi mengatakan jika kedua orang tua Hara telah ditabrak dari arah belakang, tetapi mengapa sekarang pernyataan pak Yudi malah bertolak belakang.

" Tenang, tenang nak. " beberapa orang dari pihak yang berwajib ini pun akhirnya berhasil menarik tubuh Hara.

Semenjak mendengar pernyataan tak benar dari pak Yudi membuat Hara jadi tak terima. Hara adalah anak yang tenang dan tak mudah marah, namun kali ini sikap memberontak dari Hara telah membuat kacau isi kantor ini.

" Kenapa bapak berbohong hiks... hiks... bapak melihat semuanya kan hiks... hiks... " dalam keadaannya yang masih menangis Hara sudah berhasil diamankan.

" Tidak, saya melihatnya sendiri, sebelum mereka menabrakkan diri, mereka sempat bertengkar, si suami ini marah, dan dia mempercepat laju motornya dan menabrakkan diri mereka pada mobil itu. " pak Yudi memperjelas kesaksiannya seolah itu memang benar adanya.

" Kamu jangan berbohong pak, tadi di tempat kejadian kamu mengatakan jika kedua orang tua Hara sudah ditabrak dari belakang, kamu jangan memberikan kesaksian palsu, ingat hukum karma berlaku. " ujar April kali ini yang sudah tak tahan lagi dengan kebohongan yang dilakukan oleh pak Yudi.

Dan benar saja, seketika itu pak Yudi menjadi terdiam, pria yang sudah cukup berumur itu menjadi sangat gugup dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh April.

" Sudah-sudah kita bicarakan masalah ini dengan tenang, jangan ada lagi keributan. " ujar salah seorang dari pihak yang berwajib itu seolah tak ingin masalah ini bertambah panjang.

Mungkin yang lainnya tak mengerti maksud dari ucapan sang anggota penegak hukum itu, namun Hara merasakan hal yang berbeda, dan itu membuat Hara semakin menjatuhkan air matanya.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi, mungkinkah jika pak Yudi beserta pihak yang berwajib telah bersekongkol untuk mengubah fakta yang sebenarnya dari kasus ini, jika itu memang benar mengapa sampai seperti itu. Hara merasakan hal seperti itu bukanlah tanpa alasan, dari semenjak awal dirinya memberikan keterangan kesaksiannya di kantor ini terkesan diabaikan oleh pihak yang berwajib, dan mereka pun cenderung lebih percaya dengan kesaksian yang diberikan oleh pak Yudi.

Hara merasa jika sepertinya dirinya tak akan memenangkan kasus ini, seolah seperti ada yang sedang ditutupi, seolah di belakang mereka seperti ada yang mengendalikan.

" Ya Tuhan tolonglah hambamu ini. " seraya menjerit Hara hanya bisa berdoa di dalam hatinya.

Hampir bisa dipastikan jika kasus ini akan sangat buram. Adanya dalang utama yang sudah mengendalikan kasus ini akan membuat korban dan keluarganya tak mendapatkan keadilan.

Berjuang untuk mendapatkan keadilan dengan melawan seorang Tuan William rasanya sangat mustahil, sebab kekuatan seorang tuan William bisa membuat sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Dan Hara tak akan mungkin bisa menang jika harus melawan tuan William.

Bersambung..........

❤❤❤❤❤

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!