Sosok lain di Nursery Room
Real story
Sabtu 15 Februari 2020
Pagi ini semua tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipakai untuk tampil di acara Gebyar PAUD yang akan dilangsungkan di satu mall yang cukup terkenal di kotaku. Semua wali murid sibuk mempersiapkan segala keperluan tampil anak-anaknya tak terkecuali aku yang tak kalah ribetnya, dari rumah jam 07.00 wib sudah berangkat kesekolah,karena para murid akan di glady bersih sekali lagi. Semua wali murid sibuk merias anaknya masing-masing, untung saja anakku laki-laki jadi aku tidak harus merias,hanya harus memakai baju profesi dan pakaian adat daerah saja. Tapi ya namanya punya anak bayi yang masih berumur 1 tahun, rasanya begitu ribet karena harus mengurus si kakak dan si adik, jangan tanya kemana ayahnya ya, karena saat itu ayahnya lagi naik piket jadi gak bisa mendampingi.
Pukul 08.00 seluruh murid beserta orangtua dan guru mulai begerak menuju mall, ada yang naik motor ada yang pesen taksi online, tapi aku dan kedua anakku lebih memilih naik motor karena kalau ikut bunda-bunda yang lain naik taksi online,bakalan bolak balik, dari mall harus kesekolah lagi ambil motor.
Sampai di mall murid TK dan PAUD dari lembaga lain mulai berdatangan, sambil menggendong si adik aku kembali merapikan baju kakak yang sedikit berantakan. Pukul 09.00 seluruh murid TK dan PAUD dari lembaga lain sudah kumpul, mulailah acara demi acara berlangsung, dimulai dari pawai keliling mall yang diikuti oleh seluruh murid TK dan PAUD serta wali murid mengikuti dari belakang.
Selesai pawai seluruh murid TK dan PAUD masuk kedalam mall, sudah tersedia panggung besar. Mulai lah acara selanjutnya semua murid menunjukkan bakatnya masing-masing, saat itu kakak membaca puisi dan menari tarian daerah. Begitu lama acara itu berlangsung, si adik yang tadi antusias mengikuti acara sekarang mulai gelisah, menangis dan jika seperti itu tandanya dia mulai tidak nyaman atau haus ingin nyusu.
Jika ada acara seperti ini sebenarnya aku yang ribet, soalnya si adik dari bayi sampai umur 1 tahun masih Full asi tanpa dibantu sufor. Jadi aku benar-benar harus mencari ruang untuk menyusui.
Kuberi pengertian pada si kakak kalau aku akan menyusui adik jadi dia jangan kemana mana tetap berada didekat bu guru dan teman teman.
Saat mau beranjak temenku menanyakan aku mau kemana, kujawab kalau aku mau cari ruang menyusui, dia juga ikut karena punya ank bayi yang berusia 18 bulan. Kami berdua berjalan menuju ke arah toilet, karena biasanya Nursery Room ada di sekitaran situ.
Lama kami mencari cari Nursery Room tapi tidak ketemu, sampai akhirnya aku bertanya dengan security yang ada di deket situ, kemudian pak security membawa kami ke arah toilet itu lagi, dia mengantarkan kami kesebuah ruangan yang ternyata sejak tadi kami lalui, pak security membuka ruangan itu, sangat dingin dan gelap, aku tidak mengerti kenapa ruangan itu sangat gelap, security itu juga bingung mencari saklar lampu ada di mana, setelah menghidupkan flash yang ada di ponselnya akhirnya hidup lah lampu di ruangan itu.
Ruangan menyusui itu luasnya kira-kira hanya 2x3 meter, di dalam situ hanya ada 1 sofa berukuran sedang, tapi hanya bisa digunakan untuk satu orang saja,dan satu bunga hias yang berbentuk daun. Aku dan temenku masuk keruangan itu, karena sofa hanya 1 jadi aku mengalah dan memilih duduk di lantai, karena kurasa lantainya cukup bersih, jadi aku berani duduk di lantai. Saat itu kami diam hening karena masih menyusui ank kami masing-masing, 10 menit kemudian si adik tertidur nyenyak dipangkuanku, dan anak temenku juga tertidur karena kondisi ruangan memang sangat-sangat dingin.
Kami berdua ngobrol santai masalah ini dan itu sambil menunggu para bayi kami bangun.
Tiba-tiba mataku tertuju pada satu pojok ruangan, dimana dipojokan itu ada daun pisang yang sudah dibentuk seperti mangkuk yang diletakkan di belakang pot bunga. Terdapat pot bunga yang cukup besar yang menutupi daun pisang itu, kuperhatikan lebih seksama dalam daun pisang itu ada beberapa kembamg warna warni dan irisan daun pandan aku yang saat itu mulai gelisah menanyakan pada temanku untuk apa daun berisi bunga-bunga itu disitu. Temenku yang notabenya penakut langsung bangun dan menggendong anaknya yang masih tidur berlari meninggalkanku sendiri diruangan itu.
Aku gak mungkin ikutan lari karena si adik masih tidur pulas sekali, aku gak tega kalau harus membangunkannya. Kutunggu beberapa saat sampai si adik bangun. Saat sedang main handphone tiba tiba pintu ruangan terbuka, masuk lah dua orang bunda-bunda sepertinya mereka wali murid dari sekolah lain, masing masing dari mereka membawa anak, bunda yang pertama masuk anaknya masih bayi kira kira 5 bulan dan yang kedua sepertinya sudah 3 tahun karena bicaranya sudah jelas.
Saat mereka masuk anak balita itu langsung menangis,sambil menangis balita itu bilang mama akut ma, akut. ibunya coba menangkan balita itu tapi sang anak tidak juga diam, tiba-tiba balita nunjuk ke arah plafon , aku gak tau apa yang dia liat di atas sana, dia terus saja menunjuk ke arah atas dan menangis. Bulu kuduk ku mulai merinding, tapi si adik tidak juga bangun padahal suara balita itu sangatlah keras, berbarengan dengan itu tiba-tiba mataku langsung menuju ke arah pohon yang ada di ruangan itu, tiba-tiba bunda yang punya bayi 5 bulan mencolek ku dan berkata.
"Bun liat gak daunya gerak 2 tangkai,"
Kami berdua saling memandang, karena aku juga melihat daun bunga itu gerak padahal yang lain tidak bergerak sama sekali, gak mungkin karena angin soalnya ruangan itu kedap udara.
Tanpa nunggu aba-aba kami berdua lari keluar dari ruangan itu sambil menggendong anak kami masing-masing.
Sampai saat ini aku trauma masuk ke Nursery Room yang ada di mall, mungkin tidak semua mall, tapi itulah pengalamanku. Kira-kira itu sajen buat apa ya. Sampai sekarang aku masih penasaran.