NovelToon NovelToon

Yes ! Pak Suami

Konspirasi Bernama Perjodohan

"Dijodohkan ?"

Alaska Krisan menatap kedua orang tuanya dengan pandangan tidak percaya.

Pernikahan adalah sesuatu yang paling Alaska hindari dan sekarang orang tuanya seenaknya menjodohkannya dan hendak menikahkannya dengan anak sahabatnya ? Hell, kacau, ini sungguh kacau.

"Ma, bukankah dulu kalian sepakat memberiku waktu untuk memilih sendiri wanita pilihanku ?" Alaska memicingkan matanya kearah sang Papa

" Pa , ayolah kau tidak akan membiarkanku terjebak dengan perjodohan konyol inikan ?"

"Astaga Al, apa kau amnesia ? Kau lupa kalau usiamu itu sudah tiga puluh dua ?" Elma memijit keningnya dramatis "dan selama waktu yang kami berikan kau tak pernah membawa satu orangpun wanita dihadapan Mama dan Papa ."

"Masih tiga puluh satu Ma" Alaska memutar bola mata malas, apakah semua wujud yang bernama wanita suka sekali membesar-besarkan masalah ?

"Ma, aku masih muda, dan aku belum ingin menikah." mendengar hal itu, Elma memukul kepala Alaska dengan sendok makan.

"Bisa-bisanya kau mengatakan belum ingin menikah, Mama ingin cucu Al ! Kami ingin kau segera memberikan kami banyak cucu !" pekik Elma dengan suara lantang bahkan sang suami tak berani menyela pembicaraan.

Alaska mendesis kesal " Ma, apa anak-anaknya Arkasa tidak cukup untukmu ? cucu Mama sudah 4 orang dan Mama masih serakah menginginkan cucu juga dariku ?"

"Baru 4 Al, dan itupun baru dari Arkasa. Mama akan tetap menuntut masing-masing hasil darimu dan juga Areksa. Pokoknya Mama ingin cucu darimu "

"Papa !" tegur Elma pada suaminya , walaupun sibuk bicara dengan Alaska, perhatian Elma tak luput juga dari gerak-gerik sang suami.

"Ada apa Mama ?" Ekspresi Aslan terlihat sangat meyakinkan.

"Tidak ada peliharaan dibawah meja makan ! " Elma sengaja menekankan kata dibawah meja makan karena ia tahu apa yang ada dibawah sana.

"Lalu apa boleh Papa menaruhnya didalam kandang puppy milik Mama ?" seketika semua yang ada diruang makan itu tertawa termasuk Aslan , dia dalangnya.

"Papa !" Sontak saja Elma langsung menatap suaminya dengan tajam membuat pria itu berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.

"Hanya bercanda Ma." Aslanpun bangkit menarik rantai yang terhubung dengan kalung Kari, macan putih peliharaannya.

Kembali ketopik pembicaraan, Nyonya Krisan sekarang semakin kesal, ia beralih memandang Alaska dengan tatapan menusuk. Dari ketiga putranya, Alaskalah yang paling susah untuk menikah, bahkan selama ini wanita itu belum pernah melihat bahkan mendengar kabar bahwa putranya sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita, Elma khawatir kalau putranya itu memiliki suatu masalah yang tak ia ketahui. Karena beberapa kali Alaska terlibat rumor kontroversial yang mengatakan bahwa pria itu seorang gay.

"Ma , jangan terlalu khawatir , nanti kalau aku sudah bertemu dengan wanita yang sempurna aku akan menyeretnya langsung kehadapanmu untuk segera dinikahi." ucap Alaska menenangkan.

"Sampai kapan kau akan mencari wanita yang kau anggap sempurna Al ? Mama dan Papa tidak ingin kau melajang seumur hidupmu" Elma menghela napas lalu menggenggam tangan Alaska

"Demi Mama , Mama mohon menikahlah dengan wanita pilihan Mama, ini semua demi masa depanmu dan juga demi masa depan keluarga kita Alaska." Elma memohon dengan wajah memelasnya, biarpun hati dan kepala Alaska sekeras batu tapi ia sangat menyayangi Mamanya.

"Calon istrimu ini luar biasa cantiknya, percayalah Al." Aslan sang Papa sudah mengurung peliharaannya dan sekarang ikut menambah bumbu untuk merayu putranya. Menyukseskan misi mereka.

"Ma , Pa , harga diriku benar-benar terluka ." erang Alaska , tapi ketika melihat mata Elma yang sudah berkaca-kaca, Alaska tak lagi berdaya, ia pasrah.

"Baiklah, kali ini siapa wanita itu ?" Alaska bertanya dengan malas sekaligus pasrah.

Wajah memelas Elma memang sangat menyedihkan dan menyedihkan itu paling ampuh meluluhkan putranya yang paling keras kepala. Seketika wanita itu kegirangan.

"Namanya Dionna Patrania , dia cantik dan sopan. Kamu pasti akan langsung menyukainya." Elma tak bisa menahan senyumnya, membayangkan betapa cocoknya Dionna dengan Alaska.

"Cantik saja tidak cukup dalam tahap penilaianku Ma." Balas Alaska

Tak kalah antusiasnya Aslanpun menambahkan " Tingginya 165, berat badan 55 kg, kulit putih, rambut panjang, lingkar pinggang 48,5 cm untuk lingkar dadanya tanyakan pada Mamamu." terang Aslan tak berani merambah keranah seperti itu didepan sang istri.

Pletak !!!

Giliran Aslan yang dipukul Elma dengan sendok tepat didahi. "Apa itu penting Tuan Krisan ?" Pelototan mata sang istri membuat Aslan cengengesan.

"Mama , itulah bumbu penyedap yang ingin para pria ketahui.." kata Aslan , tatapan mematikan sang istri membungkam celotehan tak jelasnya

"Katakan dengan benar" desak Elma.

"Iya Ma." Aslan berdehem "Calon istrimu ini baik, lemah lembut dan penurut , menurut Papa dia yang terbaik untukmu Al ." Aslan membuat wajah semeyakinkan mungkin membantu Elma membujuk putranya.

Alaska membuang nafas jengah dengan pelan tidak mau menyinggung kedua orangtuanya yang sangat bersemangat dengan wajah berseri-seri.

"Tentu dia yang terbaik kan itu wanita pilihan Mama dan Papa ." Celetuk Alaska sembari ia mengolesi selai pada sepotong roti.

"Mama dan Papa memilih Dionna untuk masa depanmu Alaska . Sempatkan libur untuk bertemu calon istrimu."

Alaska diam tak bergeming, hatinya sedikit demi sedikit mulai tergerak untuk menerima rengekan permintaan orangtuanya namun Alaska tidak bisa menampik keraguan yang bersembunyi didalam lubuk hatinya.

Apakah wanita itu benar-benar yang terbaik untuknya ?

•••

Ditempat lain , seorang gadis hampir gila menangis disudut kamar seperti mayat menyedihkan karena tak berhasil mendapatkan barang-barang limited edition yang sudah lama ia incar.

"Tas Gucciku, perhiasan channelku, sepatu Diorku..." rintihnya penuh keputusasaan

" MEREKA SUDAH TERJUAL HABIS !!! AKU TAK BISA MEMBELINYA !!! " Teriak Dionna histeris sampai urat dilehernya keluar nyaris putus.

Gadis itu benar-benar histeris nyaris gila.

Hari ini adalah grand opening Palais Royal Mall, pusat perbelajaan mewah dan berkelas pusatnya barang-barang high-class berada dan Dionna Patrania sejak tiga bulan yang lalu sudah mempersiapkan keseluruhan tenaga dan jiwanya untuk berburu barang-barang mewah karya designer terkenal. Namun naasnya tepat hari ini, ia mengalami kesialan yang luar biasa--- yang sialnya sepanjang perjalanan hidupnya.

Gadis malang itu kehilangan semua barang-barang incarannya yang sudah berada ditangan karena saat pembayaran Dionna tidak bisa menggunakan lima belas kartu kreditnya karena semuanya telah diblokir oleh yang maha kuasa Ellen , sang ibunda tercinta yang licik.

Tok

Tok

Tok

Dionna menoleh kepintu kamarnya tak berniat membuka pintu yang dikuncinya dari dalam. Ceritanya gadis itu sedang merajuk dan mogok makan karena insiden pemblokiran nyawanya. Yah, kartu kredit adalah nyawa Dionna Patrania. Dia bisa mati tanpa kartu kredit.

"Dionna buka pintunya !" Suara malaikat sang Ibunda melengking dibalik pintu.

"Tidak mau !" sahutnya ketus

Sekeras apapun Dionna menolak tidak akan membuka pintu kamarnya, pintu itu tetap akan terbuka lebar karena setiap ruangan dirumah itu punya kunci cadangan yang dipegang Ellen. Wanita itu adalah pengendali setiap elemen dirumah itu. Apapun yang terjadi, sekecil apapun kejadian, Ellen pasti mengetahuinya.

Dionna melirik kepintu kamarnya yang telah terbuka , Ibunya Ellen Patrania muncul disana seperti hakim yang siap memvonisnya mati.

"Apa lagi ? Apa lagi yang mau Mama ambil dariku ?" suara kesal Dionna hanya dibalas dengan hembusan napas lelah oleh Ellen.

Kartu kredit, Atm, dan mobilnya telah Ellen sita, tidak ada cara lain yang bisa Ellen gunakan untuk mengatur putri semata wayangnya yang manja selain dengan menyita semua fasilitasnya. Ellen sedikit menyesal karena salah langkah dalam mendidik putri satu-satunya ini .

Karena merupakan putri semata wayangnya keluarga Patrania , Dionna tumbuh menjadi gadis manja, tidak bisa diatur, dia melakukan apapun dengan semaunya, apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan. Dionna benar-benar tumbuh menjadi monster yang mengerikan, lama kelamaan jika dibiarkan Dionna pasti akan membuat keluarga Patrania bangkrut.

Dionna Patrania merupakan lulusan universitas bergengsi dikota itu , gadis itu menyandang lulusan predikat Cum Laude namun sayangnya predikat itu ia dapat dengan curang. Dionna membayar seorang kutu buku untuk mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya tak luput juga dengan yang namanya skripsi.

Ellen dan Harri selaku orangtua Dionna , awalnya tidak tahu kelakuan putrinya. Terlalu bangga dengan prestasi yang diraih sang putri mereka mengadakan pesta besar-besaran sebagai bentuk perayaan lulusnya Dionna namun semuanya akhirnya terkuak, bau busuk akhirnya tercium kepermukaan. Kelakuan buruk Dionna dibongkar salah satu teman yang membencinya.

Dan sekarang Ellen dan Harrie memfokuskan Dionna untuk belajar manajemen agar kelak setelah mereka pensiun Dionna bisa meneruskan memimpin perusahaan, akan tetapi apa yang mereka harapkan jauh dari kenyataan. Bayangkan dalam sehari gadis itu bisa menghabiskan hampir 500 juta rupiah hanya untuk pergi belanja. Dionna bahkan membawa dua limosin untuk mengangkut barang-barang belanjaannya kerumah. Betapa gilanya putrinya.

Menghabiskan waktu dua hari--dua malam untuk memikirkan cara bagaimana menyelamatkan masa depan putri mereka, akhirnya Ellen mendapatkan jawaban dari teka-teki yang membuat kepalanya pening. Jawaban itu didapat dari pertemuannya dengan sahabat karibnya beberapa hari yang lalu yaitu Elma Krisan. Mereka masih menjalin hubungan walaupun masing-masing disibukkan dengan kehidupan rumah tangganya masing-masing.

Ide ini bermuara dari Ellen yang awalnya mengeluhkan kelakuan putrinya, lalu digantikan dengan curhatan hati Elma yang juga sama mengeluhkan putranya yang sampai saat ini belum juga menikah.

Tercetuslah ide tentang sebuah perjodohan.

Ellen dan Harrie saling menatap , mereka sedang bicara lewat tatapan. Baiklah Ellen yang akan bicara karena Ellenlah yang paling bisa membuat putrinya tak berkutik.

"Dionna kamu tidak bisa seperti ini terus..."

Dionna mendengus kesal " Memangnya apa yang salah Ma ? lagipula beberapa minggu ini aku sudah rajin masuk kantor, bukankah tidak apa-apa jika aku bolos sekali ?"

Ellen menghela napasnya lalu kembali menatap Dionna "Kau harus belajar memimpin perusahaan bukan berlaku seenaknya . Jika sikapmu terus-terusan seperti ini, tak ada pilihan lain selain menikahkanmu." ucap Ellen tegas.

Dionna membulatkan matanya lebar-lebar "Menikah ?! Omong kosong apa itu ? Aku masih 22 tahun Ma , aku masih sangat-sangat muda belum pantas untuk yang namanya pernikahan."

"Kalau kamu mati sebelum punya anak siapa yang akan mewarisi perusahaan keluarga kita Dionna ?"

"Wow-wow-wow---Tenang Ma, Pa , napasku masih panjang, aku tahu itu . Tenang saja jika aku sudah bosan, aku pasti akan menikah dan memberikanmu cucu-cucu seperti yang kau mau."

"Dionna kau ini satu-satunya putri Mama, Mama ingin banyak cucu darimu. Maka dari itu menikahlah dan buat banyak anak setidaknya minimal 7 anak..." Kata Ellen sudah memperhitungkan.

"Astaga Mom, memangnya anak mudah dibuat , diadon seperti kue dibentuk dengan bentukan imut ditaburi toping dengan berbagai varian rasa, lalu tinggal dipilih. Mau yang mana ?" Jawab Dionna asal

"Dionna, kali ini Mama serius !"

"Aku juga serium Ma !"

"Dionna, kau ingin kehilangan warisanmu ? Kau mau hidup gembel luntang-lantung dijalanan ?" Ya, warisan. Itu senjata ampuh untuk membuat nyali Dionna Serene menciut.

Dionna menghembuskan napas frustasi "Aku tidak mau jadi gembel, tapi aku juga tidak mau menikah Ma "

"Apapun yang terjadi kamu akan tetap menikah---- menikah dengan pria pilihan Mama ." Final Ellen, tak bisa diganggu gugat.

"Ma ----" rengek Dionna sambil menghentak-hentakkan kakinya dilantai. Sangat kekanak-kanakan.

"Menikah !"

"Mama..." Rengekan Dionna makin menjadi

"Dionna memangnya kau tidak penasaran dengan siapa pria yang akan Mama jodohkan denganmu ? Kata Ellen mengalihkan pembicaraan.

"Aku tidak penasaran, tidak peduli dan tidak mau menikah !" Teriak Dionna

"Ya sudah. Besok kau akan bertemu dengan calon suamimu, siapkan dirimu untuk tidak terkejut. " Ucap Ellen sebelum ia melenggang meninggalkan kamar putrinya.

Dionna ingin menangis bukan karena bahagia tapi kesal ! Diumur yang baru menginjak angka dua puluh dua tahun kedua orang tuanya baru saja mencetuskan ide gila tentang konspirasi bernama pernikahan.

Dionna sudah berkomitmen sebelum cita-citanya jelas, dia tidak akan menikah sebelum umur 30. Dionna ingin menghabiskan sisa hidupnya sebagai wanita bebas yang punya banyak uang. Bukannya terikat pada penjara yang bernama pernikahan.

Kenapa mendadak hidupnya jadi tragis seperti ini ?

••••

Jevana Andararesta baru saja kembali dari Singapura setelah satu minggu berlibur disana dan ia langsung bergegas mengunjungi kediaman Dionna setelah mendapatkan berita bahwa sahabatnya Dionna Patrania akan segera menikah karena sudah dijodohkan.

"Dionna sudah berada dikamarnya selama delapan jam , dia tidak mau bertemu dengan siapapun. "Jelas Ellen pada Jenava didepan kamar Dionna.

"Tenang saja Tan, sekalipun Dionna tidak mau membuka pintu kamar ini, aku akan tetap mendobraknya heheh." Jawab wanita itu dengan kekehan ringan.

Jevana Andraresta adalah salah satu sahabat yang paling tahan dengan kelakuan Dionna, katakanlah kelakuan dan sifat mereka sebelas--dua belas mungkin itulah salah satu faktor penguat dan kecocokan yang menjadi langgengnya ikatan persahabatan mereka.

Setelah mengangguk dengan penjelasan Ellen, Jenava tidak langsung mengetuk ataupun mendobrak pintu kamar Dionna seperti yang ia candakan pada Ellen. Wanita itu membuka tas yang ia pegang lalu mengeluarkan secarik kertas kecil berbentuk persegi panjang lalu menyelipkan kertas itu di celah bagian bawah pintu kamar barulah ia mengetuk pintu.

Dan dalam hitungan detik pintu langsung terbuka lebar menampakkan perempuan dengan balutan gaun tidur satin merah .

"Jen, kau mendapatkannya ?"  Dionna berseru girang sambil memegang secarik kertas yang diselipkan Jenava.

Gadis berponi dengan pipi chubby itu mengangguk . "Sudah kukatakan jangan pernah ragukan keahlianku Nona.."

Dionna melompat girang, jingkrak-jingkrak seperti kelinci, Dionna layaknya bocah yang baru mendapatkan hadiah impiannya dari orangtuanya. Namun pada kasus Dionna, dia tidak mendapatkan hadiah dari orangtuanya melainkan dari sahabat tercintanya.

Kemudian Jena mengeluarkan kotak perhiasan lalu memberinya pada Dionna. "Ini oleh-olehmu sekaligus hadiah karena sebentar lagi kau akan menikah."

Dionna tak lagi mendengar apa yang dikatakan Jenava , wanita itu fokus membuka kotak perhiasan mewah pemberian Jenava .

"Kau yang terbaik Jena.. Ahh---akhirnya aku mendapatkan koleksi anting musim gugur channel yang hanya ada lima didunia.." Teriak Dionna kegirangan hampir kehabisan napas karena belum berhenti meloncat.

"Karena aku mendapatkan anting itu dengan susah payah, maka kau harus menggunakannya dihari pernikahanmu..." wajah sumringah Dionna seketika masam.

Jenava memperhatikan Dionna dari atas hingga kebawah, perempuan itu masih cantik. Meski tidak terlihat memprihatinkan , Jenava tahu sahabatnya itu sedang sedih.

Mata perempuan itu tidak sembab karena Dionna bukanlah sosok perempuan yang akan menangis karena dijodohkan, Dionna hanya akan membuang air matanya karena tak bisa membeli barang impiannya.

Dan kini mereka berdua duduk bersila diatas ranjang akan membahas tentang perjodohan Dionna.

"Jadi siapa pria yang akan dijodohkan denganmu ?' Jenava membuka pembicaraan

"Tidak tahu." Jawab Dionna tidak minat, ia lebih tertarik dengan kilau anting yang diberikan Jena .

"Apa ?! Kau tidak tahu seperti apa rupa pria yang akan menjadi suamimu ?" Jena memekik

"Seperti apapun rupanya tidak akan mengubah keputusan kedua orangtuaku untuk menikahkanku.."

"Tapi Dionna, ini menyangkut harga diri. Bagaimana nanti kalau calon suamimu itu seumuran Om Harrie ? kepala plontos, perut buncit, berkumis teb---"

"STOP !" Oh---mendengarnya saja Dionna hampir pingsan. "Aku yakin Mamaku cukup waras dalam memilih calon suami untuk putri satu-satunya." Kata Dionna 100 persen yakin.

"Tapi---aku tidak yakin dengan selera Tante Ellen."

"Menurutku tidak masalah kalau tidak tampan, asalkan dia kaya dan mau membiayai semua kebutuhanku, aku setuju." celetuk Dionna.

Uang adalah segalanya bagi Dionna.

"Matrealistis itu realistis." Kata Jena memaklumi " tapi dengan wajah jelek , bagaimana kau akan menghadapi mulut-mulut beracun mereka saat reuni SMA nanti ? Kau akan jadi bulan-bulanan diacara reuni bulan depan."

"Jawabannya hanya aku tidak perlu membawa suamiku keacara reuni, simplekan ?" Sahut Dionna masa bodoh.

"Dasar bodoh, bagaimana kalau calon suamimu itu seorang kolot dan posesif , dia pasti takkan membiarkanmu kemanapun sendirian dengan wajah cantikmu itu." Dionna menggeleng ngeri , sekarang dia menyesal karena menolak tahu siapa calon yang akan menjadi suaminya kelak.

Jena mendekatkan tubuhnya lalu mendesah pelan dengan kebodohan sahabatnya "Sabar. Terimalah nasibmu.." katanya pelan sambil menepuk pundak Dionna.

"Jen, apa yang harus aku lakukan ? Besok aku akan bertemu dengan calon suamiku.." Dionna hampir menangis meminta saran sahabatnya.

Bagi Jenava yang namanya persahabatan selalu menjadi garda terdepan dalam setiap suka maupun duka, menjadi payung sekaligus kilat saat badai datang menyerang dan sekarang Jenava harus melakukan sesuatu untuk Dionna.

"Dionna, aku punya ide..." Kata Jenava tiba-tiba dengan mata berseri.

Mantan Cinta Monyet

Musim panas adalah musim yang indah, pohon-pohon berubah menjadi warna kuning dan merah disepanjang jalanan, tapi bagi Dionna tidak ada yang lebih indah dan menyenangkan dari deretan pusat perbelanjaan didaerah Kelapa Gading.

Gadis itu tak bisa menahan pandangannya pada sepatu boots hitam yang terpajang elegan didepan toko. Andai saja kartu kreditnya tidak disita oleh Ellen pasti Dionna akan membeli seluruh isi toko sialan itu. Sebelum Dionna kehilangan kewarasannya , Jenava segera menarik lengan gadis itu menjauh dari toko.

Sekarang mereka harus pergi kesalah satu cafe highclass untuk menemui calon suami Dionna Serene yang bahkan ia sendiri tidak tahu nama ataupun wujud dari calon suaminya.

Mamanya sungguh mempermainkannya.

Ellen hanya mengatakan untuk pergi ke cafe dan duduk manis dimeja yang sudah direservasi atas namanya dan bukan nama calon suaminya. Neraka jenis apa kira-kira yang akan ia jumpai hari ini sampai nama calon suaminya saja Dionna tidak tahu. Sebenarnya Dionna sendiri yang menolak ingin tahu.

Jenava menyendok eskrim vanilanya yang masih menggunung, lalu mengalihkan pandangannya pada Dionna dengan penuh minat.

"Kau yakin tidak akan kabur sebelum calon suamimu datang ? masih ada kesempatan untuk kabur." Dionna menggeleng malas.

"Mama akan mengusirku lalu mencoret namaku dari daftar keluarga serta warisan jika aku kabur dari perjodohan ini." Jawab Dionna sambil mengaduk-aduk minumannya.

"Wow !! Tante Ellen memang sangat kejam." Jenava mengakui "Aku jadi tak sabar ingin segera melihat seperti apa rupa calon suamimu itu."

Jenava sengaja ikut dengan Dionna karena sudah merencanakan sesuatu untuk mengagalkan perjodohan sahabatnya tapi dengan sebuah pengecualian, yaitu jika calon suami Dionna memenuhi standart kriteria ketampanan maka rencana itu akan dibatalkan dan keduanya menyetujui hal itu.

Sederhana.

Dionna paling benci menunggu. Bosan, jenuh, dan kesal hanya itu yang ia dapatkan dari menunggu calon suaminya selama dua jam.

"Kita pergi saja, pria itu tidak akan datang !" Dionna sudah mengambil tasnya , tapi Jenava dengan cepat menghentikkan tangan Dionna.

"Jika kau pergi sekarang, hidupmu yang akan menjadi taruhannya. Aku tidak mau punya sahabat gembel." Kata Jenava memperingati.

Dionna mendesah "Hidupku malang sekali."

Sedangkan disisi lain , pria yang sedang Dionna tunggu sedang adu mulut dengan adik bungsunya di parkiran cafe. Alaska sudah sampai sejak sejam yang lalu, namun pria itu sengaja mengulur waktu didalam mobil.

"Al ! pergi dan temui calon istrimu itu sekarang !" desak Areksa Krisan putra bungsu keluarga Krisan.

Sudah beberapa bulan terakhir ini Areksa menyaksikan kakaknya Alaska selalu diteror kedua orangtuanya untuk berkencan dengan seorang gadis. Dan hari ini, saking antusiasnya sang Mama dengan perjodohan, Elma sampai mengutus Areksa untuk mengawasi agar kakaknya tidak kabur dan mengacaukan perjodohan.

"Ini gila---akhhh ! Ksa bagaimana kalau kau menggantikanku diperjodohan ini, sebagai gantinya, aku akan memberimu ini.." Tawar Alaska sambil menyodorkan sebuah kunci mobil dengan logo banteng berwarna emas yang sangat ia kenali.

Lamborgini Aventador.

Areksa menelan ludahnya kuat-kuat, sekali lagi Areksa menyia-nyiakan kesempatan menggiurkan itu, Areksa lebih takut Mamanya.

"Kau memang gila ! Apa kau lupa sebelum kemari nyawaku sudah menjadi taruhan." desis Areksa.

Semua penghuni rumah tahu bahwa Elma , Mama mereka adalah yang paling menakutkan sejagat raya. Areksa tidak mau terlibat dengan urusan Alaska hingga memancing amarah Mamanya gara-gara lalai menjalankan tugas. Kupingnya bisa tuli mendengar omelan Mamanya yang kecepatannya melebihi tiga ratus lima puluh kata permenit.

Alaska menyesal karena terlambat mengingat sesuatu. Salah satu fakta terbaru yang baru diingatnya pagi ini adalah perihal wanita yang akan dijodohkan dengannya.

Dionna Patrania.

Flasback 6 tahun lalu

Hampir lima bulan Dionna Patrania menyukai seorang pria nyaris sempurna yang tak pernah menganggapnya ada yaitu Alaska Krisan , anak sahabat Mamanya.

Selama lima bulan Dionna menyukai Alaska , sampai detik inipun Dionna tidak tahu bagaimana cara Tuhan menciptakan manusia sempurna seperti Alaska meskipun pria itu selalu menganggapnya antara ada dan tiada.

Pagi ini Alaska sudah bersiap kekantor , turun dari lantai atas sambil menenteng tas kantor , pria itu menemukan sosok perempuan tidak waras mengenakan seragam SMA sedang duduk dimeja makan dirumahnya berbincang-bincang sambil tertawa kecil bersama seluruh anggota keluarganya . Wanita berambut pendek dengan potongan khas bob itu tersenyum kearahnya dengan mata berbinar memandangnya.

"Al , kantor kamu sama sekolahnya Dionnakan searah, tolong yah antar Dionna kesekolah." Kata Elma ketika pria itu baru saja meletakkan bokongnya diatas kursi .

"Ma, kenapa perempuan ini selalu berkeliaran dirumah kita? Memangnya dia tidak punya rumah ?" Tanya Alaska sinis.

"Al jaga bicaramu !" Elma memberikan tatapan tajam namun tidak dengan Dionna, wanita itu terus memandangi Alaska dalam diam.

Karena orang tua yang bersahabat sejak kecil membuat Dionna menjadi akrab dengan seluruh keluarga Alaska , apalagi keluarga itu sangat mendambakan seorang anak perempuan , Dionna diperlakukan seperti seorang putri oleh keluarga Krisan . Maka dari itu Dionnapun sering sekali bertengger dirumah itu, entah itu siang atau malam jika Dionna tidak ditemukan dirumahnya berarti gadis itu ada dirumah keluarga Krisan.

Dan akhirnya mobil Alaska meninggalkan halaman rumahnya dengan Dionna yang menumpang untuk kesekolah. Belum ada percakapan hingga menyebabkan suasana hening yang aneh. Alaska dapat merasakan wanita disampingnya itu terus memandang kearahnya .

Oh--Alaska sangat risih ditatap seperti ini.

"Kak Al.." Beo Dionna merdu

"Hmm"

"Kapan ?"

"Apanya ?"

"Suka sama Dionna."

"Bocah tengik"

Hening

"Kak Al..."

"Kak Al ..."

"Kak Al dengar tidak Dionna panggil ?" Alaska memutar bola mata malas.

"Kak Alaska ? "

"Ck---kenapa Dionna ?"

"Kalau dipanggil jawab dong kak"

"Kamu mau bilang apa ?"

"Ayo pacaran " Alaska meremas rambutnya hampir terlepas dari batok kepalanya .

"Dionna, kamu itu baru kelas 1 SMA , kenapa diotak kamu hanya ada pacar-pacaran dan pacaran huh ?" Alaska mulai darah tinggi, heran dengan perempuan disampingnya ini yang terus mengajaknya pacaran, kencan, pacaran, kencan, mungkin sedikit lagi naik status menjadi menikah.

"Kan Kak Al calon suami Dionna." Alaska mendelik "Lagi pula Tante Elma juga setuju Kak Al akan menjadi suami Dionna."

"Diona !!!" Alaska kebablasan, pria itu meremas stir mobil hampir mencabutnya "Kamu--"

"Iya kak, kenapa sih teriak-teriak ?" Tawa Dionna pecah, hanya dengan mendengar pria itu teriak-teriak sudah membuatnya sebahagia ini.

"Dionna----stop !" Alaska ingin menelan bocah ini hidup-hidup sekarang.

Apa Dionna akan berhenti ? Tidak.

Bagi Dionna larangan seperti perintah, semakin dilarang makin ugal-ugalan Dionna menjadi.

"Dengar Kak Al sebut nama Dionna, rasanya sudah sebahagia ini.." Alaska membuang napas panjang, lalu menepikan mobilnya.

"Dionna dengar , kamu itu masih kecil belum pantas yang namanya pacar-pacaran " Kata Alaska menasehati. "Sekolah yang benar! "

"Kalau Dionna sudah lulus sekolah berarti Dionna bolehkan nikah sama Kak Al ?" Alaska melotot.

"Jangan mimpi kamu !"

"Dionnakan calon istrinya Kak Al."

"Jangan mulai." Dionna mendengus.

"Kak Al.."

"Demi apapun Dionna, kenapa ?? apa lagi ??" Sebentar lagi Alaska mungkin stroke.

"Memangnya Kak Al sudah punya pacar ?"

Alaska berdecak "Memangnya urusannya denganmu apa ?"

"Yah--Dionna cuma ingin tahu saja, kenapa kak Al selalu nolak Dionna. Dionna itu cantik, baik , tidak sombong , memangnya Dionna kurang apa lagi sih Kak Al ?"

"Kurang waras ! Kamu bukan seleraku. Sana turun , sudah sampai."

"Yah---Kak Al.." lirih Dionna sambil memanyunkan bibir, tak sadar perdebatan mereka sudah sampai didepan gedung sekolahnya . Dengan langkah malas, Dionna turun dari mobil.

"Kak Al , nanti pulang sekolah jemput Dionna lagi yah ?" Kata Dionna penuh harap, berharap punya kesempatan lagi untuk bertemu pria idamannya itu.

Alaska tidak mengiyakan , tidak juga menolak, pria itu hanya acuh lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Dionna yang terus memandangi mobil Alaska hingga menghilang dari pandangannya.

Setelah itu Dionna tak lagi bertemu dengan Alaska . Karena urusan pekerjaan Alaska pergi keluar negri sore itu juga. Menetap selama beberapa tahun hingga Dionna memilih menyerah dan melupakan cinta monyetnya. Setelah lulus sekolah menengah Dionnapun menempuh pendidikan di universitas luar daerah.

Seperti itulah akhir dari cinta monyet Dionna.

Aku Orang Gila Itu

"Dionna ?"

Dionna yang saat itu didera rasa kesal pun segera mendongak ketika suara serak basah memanggilnya, ternyata seorang pria sedang berdiri disampingnya . Dionna menatap pria itu sebentar.

Hening.

Tak ada respon dari Dionna, tubuhnya seakan mematung. Jangankan merespon Dionna bahkan tak berkedip untuk sekalipun. Begitu juga dengan Alaska , ketika wajah Dionna mendongak Alaska terdiam menatap wajah yang sejujurnya sudah berubah sejak terakhir ia bertemu Dionna .

Sudah lama sekali. Dionna yang sekarang memang sudah berubah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajah chubby Dionna terlihat lebih tirus dan dewasa, penampilan polosnya berubah 180 derajat.

"Sudah lama ?" Alaska Krisan dengan wajah datar tanpa dosa menghampiri Dionna lalu duduk dimeja pesanan mereka.

Astaga !

Alaska Krisan ? Itu Alaska Krisan ?

Cinta monyetnya semakin tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir kali Dionna bertemu .

Alis tebalnya selalu memberikan kesan tegas dan bagus, bulu mata itu tetap lentik, bibir tipisnya semakin seksi, tatapan tajamnya tidak berubah, apalagi kaki panjangnya itu, Dionna hampir serangan jantung dibuatnya.

"Nona Dionna Patrania?" Dionna nyaris seperti orang bodoh yang tidak pernah melihat mahluk tampan.

"Ah--ya itu, baru dua jam." Jawab Dionna kurang fokus.

Tunggu dulu, Dionna perlu menarik kewarasannya kembali untuk mencerna situasi saat ini.

Kenapa pria ini tiba-tiba muncul dihadapannya ?

"M--maaf, tapi aku ada janji dengan orang lain."

"Dan orang itu adalah aku. Aku adalah calon suamimu." sambung Alaska tanpa basa-basi

GLEK.

Bisakah Jenava memukul kepalanya sebentar ? Otaknya mendadak tidak bisa berpikir jernih.

"A-apa maksudmu ?"

"Orang yang dijodohkan denganmu adalah aku." Jelas Alaska dengan enteng "Mau makan dulu atau berbincang-bincang sekedar tanya kabar ? bukankah sudah lama kita tidak bertemu ?"

Alaska merasa sangat kesal yang berlebih, orangtuanya telah menipunya habis-habisan.

Tinggi 165 ? ckk---dia bahkan terlihat tidak tumbuh sejak terakhir kali aku melihatnya

Berat badan 55 kg?--- baiklah sepertinya ucapan Daddynya sedikit benar

Kulit putih ?--kulit wanita itu terlalu putih seperti mayat hidup

Rambut panjang ?---oke

Lingkar pinggang 48,5 cm?----sepertinya begitu.

Lingkar dada .....?---ahh sepertinya sedikit mengalami pertumbuhan.

Bukan lagi terpesona, tapi kini ada perasaan kesal yang mulai menyeruak dihati Dionna. Pria itu saat ini sedang membolak-balik menu makanan dan sama sekali tidak berniat meminta maaf karena membuat Dionna lama menunggu.

Apa yang terjadi ? takdir macam apa ini yang sedang mempermainkannya ?

Baiklah, Dionna perlu merilekskan otak, tubuh, dan wajah cantiknya.

"Kenapa diam saja ?" Alaska akhirnya bicara lagi, pria itu meletakkan buku menu lalu membawa tatapannya fokus pada Dionna.

"Kau banyak berubah---apa kelakuan menyebalkanmu itu juga ikut berubah ?" Alaska menatap Dionna dengan tatapan intens yang terkesan merendahkan.

Berbicara tentang fakta, Alaska tak bisa menampik bahwa Dionna semakin cantik, imut dan juga manis tapi tetap saja Alaska tak ingin menikahinya.

Alaska juga melakukan pengamatan sesaat pada Dionna, barang-barang yang melekat ditubuh perempuan itu merupakan brand-brand kelas dunia yang terkenal. Alaska bisa mentafsir berapa harga barang-barang yang melekat ditubuh Dionna.

Fashionista. Dionna memang tampil memukau hari ini.

"Langsung saja keintinya, sejujurnya aku tidak ingin menikah apalagi setelah aku tahu wanita yang akan ku nikahi adalah kau."

Dionna tersentak.

Sial , ini sebuah penghinaan, secara terang-terangan Alaska baru saja kembali menolaknya setelah 6 tahun berpisah . Cara bicaranyapun tetap sama, datar, selalu terkesan angkuh dan tentunya menyebalkan untuk didengar.

Dionna menghela napas untuk meredakan emosinya. Sebisa mungkin Dionna mengendalikan dirinya untuk tidak meledak-ledak disini. Selain sedang berada ditempat umum, Dionna harus menjaga citranya , ia harus menegaskan bahwa Dionna yang sekarang bukanlah Dionna yang dulu.

"Aku juga tidak mau menikah denganmu. Aku masih muda, belum siap menjadi istri."

"Tidak mau menikah denganku ?" Satu alis Alaska naik keatas "Kalau begitu jelaskan padaku bagaimana perjodohan ini bisa terjadi jika bukan karena ulahmu ? Aku masih ingat, kau pernah memohon-mohon pada orangtuaku untuk menikahkanmu denganku kelak kau dewasa nanti."

Dionna memandang Alaska " Yah itu benar." Alaska berdecih, dugaannya tidak pernah meleset.

"Tapi itu dulu" Dionna melanjutkan "dan sekarang aku tidak tahu apapun dengan perjodohan ini, akupun baru tahu pria yang akan dijodohkan Mommy itu adalah kau." Jelas Dionna santai.

Alska tidak semuda Dionna, dia memang sudah saatnya menikah. Usianya 31 tahun. Pria itu selalu dikelilingi wanita-wanita yang mengincar kekayaannya, begitu kata Ellen pada Dionna sebelum dia datang bertemu calon suaminya yang ternyata adalah cinta monyetnya.

Alaska Krisan .

"Kalau begitu batalkan saja perjodohan ini, toh kau juga tidak mau menikah denganku." pinta Alaska semaunya.

"Aku tidak bisa membatalkan perjodohan ini , aku tak punya kuasa, hidupku sangat bergantung pada perjodohan ini. Bagaimana kalau kau saja yang membatalkan perjodohan ini ?" Saat ini Dionna ingin sekali menampar wajah Alaska sampai pria itu sekarat, tapi Dionna harus menahannya agar tetap terlihat anggun.

"Aku juga tidak bisa." Jawab Alaska, ia akan digoreng hidup-hidup jika ia mengatakan itu pada Mamanya.

"Tidak bisa ? " Dionna berseru tak percaya " apa kau juga diancam ?"

"Menurutmu aku akan langsung setuju dijodohkan denganmu ?" Sialan. Seharusnya Dionna menutup mulutnya rapat-rapat. Jawabannya kurang ajar sekali.

Dionna mencibir "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membatalkan perjodohan ini ? aku tidak mau jadi gembel dan kehilangan warisanku." Dan Alaska hanya diam

"Hey , Alaska ? Alaska Krisan ?" Panggil Dionna sedikit geram. Siapa yang senang jika bicaranya tidak ditanggapi ? hari sial yang tak tercatat dalam kalender Dionna telah terjadi hari ini.

"Alaska apa kau tuli ?" panggil Dionna lagi, kini ia agak kesal.

"Bisakah kau diam ? Aku sedang berpikir." rasanya Dionna ingin merobek wajah menyebalkan itu

"Sampai kapan kau akan berpikir ? Aku masih ingin menikah dengan orang yang aku cintai." Malang sekali nasib Dionna , baru lulus kuliah, belum pernah jatuh cinta , eh tiba-tiba dijodohkan dan akan menikah. Ini semua seperti mimpi tapi mimpi buruk.

"Tidak ada." Alaska berkata tiba-tiba

"Apanya yang tidak ada ?" Karena iq yang dibawah rata-rata Dionna lambat memahami ucapan Alaska, pria itu juga berucap tiba-tiba, terlalu singkat padat dan jelasnya kurang.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membatalkan perjodohan ini." Jelas Alaska lebih spesifik membuat Dionna mangut-mangut namun sedetik kemudian gadis itu tersadar.

"Jadi--maksudmu perjodohan ini akan terus berlanjut ?" tergambar jelas raut ketidaksukaan Dionna pada jawaban Alaska . Berulangkali dia menghela napas mengumpul semua jenis rasa sabar agar tidak hilang kendali.

"sampai menikah---mungkin." ujar pria itu dengan wajah datar tanpa dosa.

"Mana ada seperti itu ? Tidak ! aku tidak mau !" Tolak Dionna tegas.

"Ya diadakan saja."

"Aku tidak mau, orang gila mana yang melakukan pernikahan seperti itu "

"Aku orang gila itu."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!