Shanna Viarsa Darmawan, mahasiswa manajemen bisnis semester tiga, dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berprestasi. Reputasinya di kampus cukup baik. Ia aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun organisasi, dan menjadi panutan bagi banyak teman-temannya. Di balik kesibukannya, ada satu hal yang selalu membuatnya merasa nyaman—kehadiran Rivan Andrean Wiratama.
Shanna dan Rivan telah menjalin hubungan selama tiga tahun semenjak mereka masih sama sama berada di jenjang sekolah menengah. Hubungan mereka bisa dikatakan cukup sehat. Tidak ada drama berlebihan, tidak ada sikap posesif yang mencekik, dan tidak ada campur tangan orang lain yang merusak. Rivan, yang mengambil jurusan Teknik Informatika di kampus yang sama, awalnya adalah sosok pria yang baik. Dia selalu sabar, penuh perhatian, dan menghormati batasan yang telah mereka sepakati sejak awal.
Namun, tiga bulan terakhir, sesuatu dalam diri Rivan berubah. Ada hal-hal yang membuat Shanna merasa tidak nyaman, meskipun ia berusaha mengabaikannya.
Awalnya, perubahan itu terasa kecil dan nyaris tidak kentara. Sentuhan Rivan yang sebelumnya terasa hangat dan melindungi, kini mulai terasa lebih mendominasi. Cara Rivan menggenggam tangannya, cara jari-jari pria itu menyusuri lengan atau punggungnya, semua terasa berbeda. Mungkin orang lain tidak akan menyadarinya, tetapi bagi Shanna yang sudah mengenal Rivan selama bertahun-tahun, perubahan itu sangat jelas.
Rivan menjadi lebih sering menuntut waktu bersamanya. Jika dulu mereka sering menghabiskan waktu dengan sekadar berbincang di kafe kampus atau mengerjakan tugas bersama, kini Rivan lebih sering mengajak Shanna ke tempat-tempat yang lebih sepi. Apartemen Rivan yang dulu bukan tempat yang sering mereka kunjungi berdua, kini seolah menjadi tempat favorit pria itu untuk bertemu.
“Cuma sebentar, Shan. Aku capek banget hari ini, pengen ngobrol sama kamu di tempat yang tenang.”
Shanna awalnya tidak terlalu curiga. Ia berpikir bahwa mungkin Rivan hanya lelah dan ingin sedikit ketenangan. Namun, semakin sering mereka menghabiskan waktu berdua di dalam kamar Rivan, semakin ia merasa ada yang janggal.
“Van, aku enggak nyaman kalau berduaan terus di sini.”
Rivan tertawa kecil, mencoba meredakan kegelisahannya. “Kenapa? Aku enggak akan ngapa-ngapain, kok. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kamu ke sini.”
Shanna menghela napas. Itu benar. Ia memang pernah beberapa kali mampir ke apartemen Rivan, tetapi tidak sesering ini. Dan ada sesuatu dalam cara Rivan menatapnya akhir-akhir ini yang membuatnya gelisah.
Seiring waktu, perlakuan Rivan semakin berubah. Sentuhannya tidak lagi sekadar menggenggam tangan atau merangkul bahunya. Ia mulai menyentuh wajah Shanna lebih lama, menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut gadis itu, dan sesekali mendekatkan wajah mereka begitu dekat hingga Shanna bisa merasakan napasnya.
Perubahan itu tidak hanya terjadi dalam interaksi fisik mereka, tetapi juga dalam sikap Rivan secara keseluruhan. Ia menjadi lebih mudah tersinggung ketika Shanna menolak ajakannya untuk datang ke kos. Jika dulu Rivan selalu bisa mengerti ketika Shanna sibuk, kini pria itu mulai mengeluh.
“Kamu selalu punya alasan buat nolak aku, Shan,” ujar Rivan suatu hari ketika mereka berjalan menuju parkiran kampus.
“Aku enggak nolak kamu, Van. Aku cuma sibuk. Tugas kuliah makin banyak, terus aku juga ada rapat di organisasi. Kamu tahu sendiri kan, aku enggak bisa sembarangan ninggalin tanggung jawab?”
Rivan mendecak kesal. “Aku juga sibuk, tapi aku selalu nyempetin waktu buat kamu. Aku enggak ngerti kenapa kamu makin menjauh dari aku.”
Shanna mengerutkan kening. “Aku enggak menjauh, Van. Kamu yang berubah.”
Rivan terdiam. Sejak kapan hubungan mereka menjadi serumit ini?
Perubahan ini terus berlangsung selama beberapa minggu, hingga akhirnya Shanna merasa perlu membicarakannya secara langsung. Ia tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Malam itu, setelah perkuliahan selesai, mereka duduk di salah satu taman kampus. Udara malam cukup dingin, tetapi suasana sekitar cukup tenang. Shanna menatap Rivan dengan serius.
“Rivan, aku mau ngomong sesuatu.”
Rivan menoleh, menatap gadis di sampingnya. “Kenapa?”
“Aku ngerasa ada yang berubah dari kamu,” Shanna mengatakannya dengan hati-hati.
Rivan mengernyit. “Maksudnya?”
“Kamu enggak seperti dulu. Cara kamu memperlakukan aku... aku ngerasa ada yang berbeda. Aku ngerasa kamu mulai mendorong batasan yang selama ini kita sepakati.”
Rivan terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum miring. “Shan, kita udah pacaran tiga tahun. Apa salah kalau aku pengen kita lebih dekat?”
Shanna menggeleng. “Bukan itu masalahnya, Van. Aku enggak bilang kalau kita enggak boleh lebih dekat. Tapi aku enggak suka kalau kamu mulai melakukan hal-hal yang membuat aku enggak nyaman.”
Wajah Rivan berubah serius. “Aku cuma pengen lebih dekat sama kamu, Shan. Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang sama kamu, Van. Tapi kalau kamu bener-bener sayang, kamu harus bisa ngerti perasaanku.”
Ada jeda di antara mereka. Mata Rivan menatap lurus ke depan, bibirnya menekan dalam garis tipis.
“Shan...” Rivan menarik napas panjang. “Aku enggak ngerti kenapa kamu begitu menutup diri dari aku.”
Shanna mendesah pelan. “Aku enggak menutup diri, Van. Aku cuma... aku butuh kamu buat menghormati batasanku. Selama ini kita bisa menjaga itu, kenapa sekarang jadi beda?”
Rivan tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir, sebelum akhirnya menghela napas. “Aku ngerti, Shan. Maaf kalau aku bikin kamu enggak nyaman.”
Shanna tersenyum lega. “Makasih karena udah dengerin aku.”
Namun, meskipun malam itu Rivan mengucapkan permintaan maafnya, Shanna masih bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang masih mengganjal. Tatapan Rivan malam itu—ada sesuatu di dalamnya yang belum bisa ia pahami.
Dan ternyata, firasat Shanna tidak salah.
Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah percakapan itu, Rivan semakin menjadi. Perubahan Rivan menarik Shanna untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang terjadi pada kekasihnya itu. Sampai satu hari, sahabatnya memberikan informasi mengenai Rivan.
“Kamu tahu nggak, Shan? Rivan sekarang sering nongkrong sama Gema dan gengnya,” kata Ayu, salah satu teman sekelas Shanna, saat mereka duduk bersama di kantin kampus.
Shanna mengernyit. “Terus kenapa?”
Ayu menghela napas. “Aku cuma khawatir. Mereka itu tipe cowok-cowok yang... ya, kamu tahulah. Minum-minum, pesta, gonta-ganti cewek.”
Shanna tersentak. “Enggak mungkin. Rivan bukan tipe orang seperti itu.”
Ayu mengangkat bahu. “Aku juga enggak tahu pasti. Tapi beberapa kali aku lihat mereka bareng di tempat-tempat yang... ya, bukan tempat yang biasa Rivan datengin.”
Shanna mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang mulai merayapi dadanya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Rivan memang berubah. Ia mulai sering keluar malam, pulang dalam keadaan lelah, dan sesekali ada bau alkohol yang samar tercium dari tubuhnya.
Rivan tengah menyesap rokoknya di sebuah bar mewah ibu kota. Tak banyak yang bisa berada di lingkungan itu kalau bukan dari kalangan keluarga kaya. Ya memang benar Rivan merupakan anak konglomerat. Kakeknya Rendra Wiratama merupakan pemilik perusahan Wiratama Grup yang menaungi beberapa anak perusahaan dan termasuk salah satu penyumbang terbesar kampus Rivan. Perusahaan Wiratama memberikan beasiswa pendidikan, dan salah satu pemegang beasiswa itu adalah Shanna.
Maka dari itu, siapa yang tidak tahu dengan Rivan dan Shanna ? Mereka semua tau bahwa kisah mereka bak dongeng, wanita dari kalangan biasa yang mendapatkan hati seorang pangeran.
Tapi lebih dari itu, Shanna tak pernah memanfaatkan nama besar Rivan. Segala yang diraihnya saat ini murni atas kemampuannya sendiri.
Kembali ke Heaven bar and cafe
Rivan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, matanya sesekali menatap gelas berisi minuman beralkohol yang ada di depannya. Suasana di bar mewah itu penuh dengan gelak tawa dan canda, namun hatinya terasa sepi. Seiring dengan percakapan yang menggema di telinganya, pikiran Rivan seakan terpecah antara suara teman-temannya yang terus menggoda dan kenyataan yang semakin menekan dirinya.
Semenjak beberapa bulan terakhir, Rivan merasa ada yang berubah dalam dirinya, dan bukan hanya soal hubungannya dengan Shanna. Ia merasa semakin terjebak dalam permainan yang tak pernah ia mainkan sebelumnya. Selama ini, ia selalu dipandang sebagai sosok yang bisa mendapatkan apa pun yang diinginkan—termasuk cinta Shanna. Namun, kenyataannya, hal itu tak lagi semudah yang ia bayangkan.
Ia mengingat kembali hubungan yang sudah dijalaninya bersama Shanna selama tiga tahun ini. Sebuah hubungan yang ia banggakan, yang dipenuhi dengan kedalaman perasaan dan kepercayaan. Shanna adalah wanita yang berbeda dari semua wanita yang pernah ditemuinya. Dia tidak datang dengan embel-embel nama besar atau gelar yang menguntungkan. Semua yang didapat Shanna adalah hasil jerih payahnya sendiri, dan itu yang membuat Rivan semakin terkesan. Shanna bukan wanita yang mudah terpedaya dengan kekayaan atau status sosial.
Tapi kini, di hadapan teman-temannya, Rivan mulai meragukan segala yang selama ini dia yakini. Gema dan teman-temannya di bar itu membicarakan hal-hal yang seharusnya tidak ada dalam pikirannya. Mereka menggoda Rivan dengan cara yang membuatnya merasa terperangkap dalam dunia yang sama sekali asing baginya. Mereka merayunya untuk mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan—sesuatu yang berisiko merusak apa yang telah dibangunnya dengan Shanna.
Gema, dengan gaya bicara khasnya yang kasar, memprovokasi Rivan. "Jaman sekarang masih aja ngandelin hubungan tanpa se*ks? Come on, bro, Lo rugi banget," katanya dengan tawa menggema di sekitar mereka.
Rivan mencoba menahan diri, meski ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh dalam dirinya. "Shanna bukan tipe cewek yang gampang diperdaya cuma karena cinta," jawabnya, berusaha tegas.
"Tapi kalo lo masih setia sama cewek yang lo anggap sebagai cinta sejati, mending lo nyari cewek lain deh. Dengan reputasi lo, cewek mana sih yang nggak mau sama lo?" Gema melanjutkan, menatap Rivan dengan tatapan penuh sindiran.
Rivan tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ia memiliki daya tarik yang besar, baik secara fisik maupun status sosial. Tapi dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak bisa semudah itu beralih ke wanita lain. Shanna adalah wanita yang dia pilih, dan tak ada yang bisa mengubah perasaannya.
"Gue cuman suka sama Shanna," ujar Rivan, suaranya lebih lembut, penuh keyakinan. Namun, ada ketegangan yang bisa dirasakan dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Tapi lo harus nyoba hal lain, Van," ujar Gema, senyumnya lebar. "Masa lo gak penasaran?"
Rivan mencoba menanggapi kata-kata itu dengan sikap dingin, namun dalam hatinya, keraguan mulai merayap masuk. Dia sudah tahu Gema tidak akan berhenti. Teman-temannya terus memancingnya untuk masuk ke dunia yang lebih gelap, dunia yang Rivan rasa bukan dirinya.
"Lo belum pernah coba kan? Mungkin lo cuma takut aja," ujar Gema, semakin menggoda. "Coba deh, kita bisa bantuin lo."
Gema kemudian berdiri dan berjalan ke lorong yang lebih sepi, meninggalkan Rivan dan beberapa temannya yang lain. Rivan hanya diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia merasa tidak nyaman, namun di sisi lain, ada rasa penasaran yang membangkitkan nalurinya.
Tidak lama kemudian, Gema kembali dengan senyum lebar di wajahnya. "Gue udah dapet. Terserah lo mau coba atau nggak. Tapi coba aja dulu, siapa tau lo suka," ujarnya sambil mengisyaratkan sesuatu pada Rivan.
Rivan menatap Gema dengan pandangan bingung. "Gue gak ngerti maksud lo."
Gema mengangkat bahu. "Gue udah atur semuanya. Lo tinggal pilih aja, cuma buat coba-coba."
Rivan tak bisa berkata apa-apa. Ia merasa terhimpit antara rasa ingin tahu dan rasa bersalah. "Gue gak yakin ini yang gue butuhkan," jawabnya, berusaha tetap tenang meskipun hatinya bergejolak.
"Lo harus coba, bro," ujar Billy, teman Rivan yang lain. "Belum coba, mana tau lo suka."
Rivan hanya tersenyum tipis, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Baginya, perasaan terhadap Shanna adalah hal yang paling penting. Namun, godaan dari teman-temannya terasa begitu kuat.
Di tengah kebingungan itu, sebuah suara dalam dirinya berkata untuk berhenti. Ia tak ingin melukai Shanna. Namun, semakin lama ia berada dalam lingkaran pergaulan yang salah, semakin besar godaan untuk menuruti teman-temannya.
Gema melanjutkan, "Lo cuma takut sama perubahan, Van. Percaya deh, lo pasti bakal merasa lebih bebas. Lo jangan terlalu keras sama diri lo sendiri."
Rivan menundukkan kepala, meresapi setiap kata-kata Gema. Ada rasa penasaran yang tak bisa diabaikan, namun ada juga suara hati yang mengingatkan akan konsekuensi besar yang harus dihadapi. Pada akhirnya, Rivan tahu bahwa keputusan ini bukan hanya soal dirinya. Ini tentang Shanna, dan dia tidak ingin mengkhianati kepercayaannya.
"Jangan kebanyakan mikir bro, diusia kita sekarang ini emang masa nya banyak mencoba. Kalo Lo gak ngabisin masa nakal Lo sekarang, mau kapan lagi? Lo mau nanti udah married baru ngerasa pengen ngelakuin hal hal nakal?" Ucap Gema santai.
"Bener kata Gema Van, just relax and have fun."
Rivan tak merespon hanya diam mencerna, gejolak jiwa mudanya memang tak dapat lagi terbendung. Sampai akhirnya seorang perempuan menghampiri meja mereka. Perawakannya bagus, kulit putih bersih, suara yang lembut dan satu hal pasti sangat menggoda dan terbuka.
"Hi kak, aku Vanesa. Ini kak Gema kan ?"
"Iya gue Gema. Jangan panggil kakak. Oya, bukan gue yang harus Lo temenin. Tapi temen gue." Ucap Gema sambil mematikan rokoknya.
"Dengan senang hati." Gadis muda itu tersenyum menggoda, lalu mulai duduk mendekati Rivan.
Gadis bernama Vanesa itu mulai menuangkan minuman di gelas Rivan sambil terus mendekatinya perlahan. Mengobrol ringan sampai memulai sentuhan sentuhan fisik yang membuat Rivan tergoda.
Gema memberikan kode anggukan, untuk membuat Vanesa melanjutkan merayu Rivan sampai dirinya bisa jatuh.
Diusia Rivan yang menginjak hampir 20 tahun, Rivan sudah bisa di bilang dewasa. Sebagai lelaki dewasa tentu Rivan sulit menolak godaan semacam ini. Sampai setelah dua jam bersama mulai dari mengobrol, minum sampai mengajak Rivan untuk turun ke area dance. Rivan mulai merasa nyaman.
"Kak disini bising, gimana kalo kita pindah." Bujuk Vanesa sambil berbisik.
"Kemana ?" Tanya Rivan bingung.
"Terserah, ke tempat yang lebih sepi aja biar enak ngobrolnya."
"Gue ada apartemen gak jauh dari sini." Seketika Rivan menawarkan tempat yang tak seharusnya mereka datangi berdua dalam keadaan seperti ini.
"Boleh aku kesana?" Tanya Vanesa dengan tatapan menggoda.
Rivan mengangguk yakin, dibawah pengaruh alkohol, tak ada yang dapat dipikirkannya lebih jauh. Yang Rivan tau dirinya hanya ingin bersenang senang kali ini.
Gema, Billy dan yang lainnya tetap berada di bar sedang Rivan membawa Vanesa ke apartemen nya.
Mereka berjalan keluar dari bar, dan suara riuh yang sebelumnya menyelimuti mereka mulai menghilang. Langkah mereka semakin menjauh dari keramaian, menuju apartemen Rivan. Di belakang, teman-temannya—Gema, Billy, dan yang lainnya—terus tertawa dan bersenang-senang, tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Rivan mulai merasa sedikit cemas, namun dia menepisnya dengan cepat. "Ini cuma malam yang menyenankan," pikirnya dalam hati. Ia berusaha menenangkan diri, mengalihkan perhatiannya dari keraguan yang mulai muncul.
Begitu mereka tiba di apartemen, Vanesa menggodanya lebih lanjut dengan sentuhan lembut di lengannya. Rivan membuka pintu apartemennya, masuk, dan membiarkan Vanesa mengikuti langkahnya. Begitu mereka berada di dalam, suasana berubah lebih intim. Rivan bisa merasakan ketegangan yang semakin meningkat di antara mereka, namun dia tak bisa lagi berpikir dengan jernih.
Vanesa mendekat dan mulai merayunya dengan gerakan halus. Di bawah pengaruh alkohol, Rivan semakin terbawa oleh suasana. Namun, di balik kegembiraan yang sementara itu, ada suara kecil yang mulai memanggilnya—suara yang mengingatkannya pada Shanna.
Tapi Rivan mengabaikannya. Malam ini adalah miliknya, dan ia tidak ingin ada yang menghalangi kesenangan sesaat ini. Namun, meski begitu, di kedalaman hatinya, ia tahu bahwa keputusan ini bisa mengubah segalanya. Apa yang ia lakukan malam ini bisa mengkhianati semua yang telah dibangunnya bersama Shanna.
Rivan merasa terjebak dalam perasaan yang bercampur aduk. Dia tahu bahwa di satu sisi, dia sedang melukai seseorang yang telah menjadi bagian besar dalam hidupnya, namun di sisi lain, ada dorongan yang kuat untuk menikmati kebebasan dan kenikmatan yang ditawarkan oleh Vanesa.
"Jangan khawatir Kak, kalau takut Kakak boleh pake pengaman. Aku bawa." Bisik Vanesa dengan suara berat di telinga Rivan membuatnya meremang.
"Hmm .." Rivan sedikit melenguh kala Vanesa mulai mengecup lehernya pelan.
"Jangan ditahan Kak. Aku dibayar buat nyenengin Kakak malam ini." Vanesa memainkan jarinya di dada Rivan.
Membuat hasrat itu semakin tak terbendung. Rivan menarik tubuh Vanesa jauh kedalam pelukannya, memberikan lumatan dalam yang tak pernah dilakukan sebelumnya dengan gadis manapun sekalipun pada Shenna.
Meski dalam pengaruh alkohol, Rivan masih cukup kuat untuk sekedar mengangkat tubuh Vanesa masuk ke kamarnya lalu melemparkannya disana.
Dengan nafas yang memburu Rivan melepaskan segala sesuatu yang melekat ditubuhnya hingga kini dirinya polos.
"Udah tegang Kak." Vanesa menatap Rivan berani.
"I want you." Rivan menindih Vanesa dibawah kekuasaannya.
Bergerilya menyentuh apapun yang di inginkannya atas tubuh Vanesa.
"Ah u so hot baby" Bisik Rivan yang ditangannya sedang meremas gundukan kenyal padat.
Vanesa meringis memohon untuk Rivan segera melakukannya. Setelah pemanasan yang cukup panjang, Rivan pun melakukan puncak permainannya.
AC di kamarnya sudah di setting di suhu terendah namun mereka berdua masih berkeringat saling menikmati pergulatan. Terlebih Rivan yang merupakan pengalaman pertamanya. Hingga ledakan itu pun terasa mengalir pada miliknya.
Rivan menjatuhkan diri di samping Vanesa, lelah dan pusing membuat Rivan seketika terlelap.
Pagi menjelang, cahaya yang masuk dari celah gorden membuat Rivan perlahan sadar. Ia membuka matanya lalu ditatapnya Vanesa yang masih terlelap disampingnya.
Ternyata apa yang dilakukannya semalam sangatlah nikmat dan memuaskan. Jujur saja Rivan merasa menyesal baru melakukannya sekarang. Ia merasa sudah terlalu lama menahan diri demi menjaga batasan dalam hubungannya dengan Shenna.
Suara ponsel Rivan membuyarkan lamunannya akan Shenna.
"Gimana bro? Sukses?" Tanya Gema dari sebrang suara.
"Gue harus akuin Lo yang terbaik." Jawab Rivan yang puas akan apa yang telah temannya berikan.
"Anggap hadiah dari gue haha. So apa yang gue omongin gak pernah salah kan. Nikmatin selagi Lo bisa."
"Haha sialan Lo, anyway thanks. Gue ngerasa lebih ringan. Nanti gue hubungin lagi. Kayanya gue butuh part dua." Kekeh Rivan ketika menyadari Vanesa kini mulai membuka mata.
Rivan menyimpan kembali ponselnya di nakas samping ranjang, ia serius dengan perkataannya tadi pada Gema.
"Gue bakal bayar Lo lebih dari yang Gema kasih buat bayaran Lo pagi ini." Ucap Rivan menyiratkan maksud tertentu.
"Kalau gitu, aku bisa lakuin lebih daripada semalam sebagai gantinya."
Merekapun melakukannya lagi, sebagai perempuan penghibur tentu Vanesa akan senang hati melakukannya.
Tanpa disadari, apa yang dilakukan Rivan hari ini telah mendobrak batas yang dia terapkan pada dirinya sendiri. Rivan jadi menganggap bahwa hal ini adalah sesuatu yang biasa dan wajar dilakukan apalagi jika itu dengan pasangan atau kekasihnya.
Semenjak saat itu juga Rivan jadi makin terobsesi untuk memiliki Shanna. Jika dengan Vanesa yang pemain saja rasanya sangat nikmat, apalagi dengan Shanna yang Rivan yakini masih terjaga.
"Van stop it." Ucap Shanna risih ketika Rivan mulai mengendus belakang lehernya.
"Kenapa sih Shan ? Udah kamu fokus aja sama tugas di laptop kamu."
"Aku mau pulang aja Van. Aku gak nyaman." Tolak Shanna tegas dan langsung bangkit.
"Ah Shanna tunggu tunggu sorry Shan, oke aku gak akan lakuin ini lagi ya. Sekarang kamu duduk terus beresin tugasnya."
Shanna menarik nafas panjang lalu mengikuti keinginan Rivan, Rivan berjalan ke dapur untuk mengambil minum lalu mengirimkan pesan pada Gema.
Gimana caranya biar cewek naik? -Rivan
Haha, lo lagi sama Shanna? Lo mau coba sama dia? -Gema
Hmm, you know what i want. -Rivan
Kasih dia obat. -Gema
Obat apa? -Rivan
Nanti gue kirim. -Gema
Ok thanks bro. -Rivan
Rivan tersenyum devil sambil memperhatikan Shanna yang dimatanya semakin menarik dari waktu ke waktu
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!