Didalam perjalanan seorang gadis sedang mengendarai motor besarnya sambil memakan permen karet dan mendengarkan musik. Namun sebuah tiba-tiba ada panggilan dari handphone punyanya
menghentikan musik yang didengar olehnya, lalu dengan malasnya menepikan motor merogoh saku roknya mengambil handphone.
Dia melihat nama orang yang menelepon membuat gadis itu menampilkan raut wajah datarnya. Itu adalah ayahnya Leif Blaze.
Rhaella, yah gadis itu bernama Rhaella Delyth. Seorang gadis yang hidup bersama ayah dan ibu tiri serta adik tirinya. Lahir dari latar belakang keluarga yang dapat dikatakan lumayan terpandang, namun itu tidak membuat kehidupannya seperti anak-anak pada umumnya.
Rhaella menekan tombol berwarna hijau pada layar handphonenya, lalu menjawab panggillan
tersebut.
“anak sialan kamu sengaja yah mengangkat telepon saya lama ? Hahh...” ucapnya yang berada diseberang telepon itu dengan nada yang penuh amarah.
“Rhaella tadi sedang mengandarai motor ayah” jawabnya dengan nada datar.
“Alasan. Saya tidak peduli dengan semua yang kamu katakan itu anak sialan,. Kamu sekarang cepat kembali ke masion.”
Gadis cantik itu hanya bisa menghela nafas lelah, lalu menjawab “Baik, saya akan pulang.”
Rhaella langsung menacap gas motornya ke masion kediaman ayahnya. Setelah perjalanan yang jauh itu, sampailah dia di masion Blaze. Rhaella langsung memasuki gerbang masion dan penjaga pun sudah tahu siapa yang telah datang, maka dari itu meraka langsung saja membukakan gerbang tanpa bertanya lagi.
Setelah Rhaella masuk dia melihat sekitar menccari keberadaan orang-orang yang seharusnya berada di rumah itu.Selang beberapa saat tanpa sadar Rhaella langsung mendapat tamparan keras dan lemparan kertas ke wajahnya oleh seseorang yang tak lain adalah ayahnya.
“apalagi yang kamu lakukan anak sialan di sekolah mu itu?...” tanya ayahnya .
Plak...Plak...
Ayahnya mendekati Rhaella lalu menampar pipi Rhaella sehingga membuat wajahnya tertoleh, karena begitu kerasnya tamparan itu. Tanpa disadari sudut bibinya mengeluarkan darah dan reaksi datar wajahnya tanpa ada ringisan sedikitpun yang terlihat.
Dengan sangat kejam ayahnya lanjut menarik ramnut Rhaella dengan kasarnya dan membuat gadis itu mendongak wajahnya ke atas yang langsung bertatapan dengan ayahnya. Tanpa belas kasihan lagi ayahnya menghantamkan kepala Rhaella ke tembok, sehingga kepalanya mengeluarkan banyak darah
dari keningnya.
Darah yang keluar dari kepala dan sudut bibinya tidak membuat Rhaella meringis apalagi untuk
menangis. Seolah-olah hal itu sudah menjadi makanannya. Bahkan raut wajahnya tetap datar dan tenang.
“Dasar kau anak sialan, kau ku sekolahkan dan biayai malah tidak tahu terimakasih.” Sarkas ayahnya dengan amarah yang begitu membara-bara.
“Saya hanya ingin membela diri ayah.” Jawab Rhaella tenang dengan suara dan wajah yang datar.
“Membela diri kau bilang?” Tanya ayahnya seolah tak percaya dengan jawaban itu.
“Ini yang disebut membela diri sampai membuat anak orang masuk rumah sakit?” dengan suara yang tinggi.
Rhaella hanya diam berdiri mendengar perkataan ayahnya itu, seolah-olah tidak mempercayai apa
yang telah dikatakan olehnya.
“sangat membuat susah kau. Akan saya pindahkan kau ke sekolah yang sama dengan Daena dan perlu kau ingat jangan berbuat hal yang dapat mencoreng nama baikku. Mengerti...”
Rhaella hanya mengangguk pada apa yang disampaikan oleh ayahnya itu tanpa ada sedikitpun penolakan darinya.
Dari dalam ruangan yang sama terdengar suara seseorang dari arah tangga yang tadi sambil menonton penyiksaan yang dilakukan oleh ayahnya itu.
“Ayah aku gak mau satu sekolah sama dia. Nanti yang ada aku malu kalau dia sekolah di sana dan
buat ulah lagi.”
“Kamu tenang, dia tidak akan masuk ke sekolah itu dengan membawa nama keluarga Blaze.” Jawab
pria paruh baya itu sambil tersenyum kepada gadis tersebut.
“apa benar begitu ayah?” tanya gadis itu yang bernama Daena.
“iya sayangnya ayah. Dia tidak akan memakai nama kelurga kita. Jadi, kamu tenang saja yah
sayang dan tak perlu khawatir.” Ucapnya lagi untuk menenangkan putrinya sambil mengelus dengan
penuh kasih sayang.
Ibu dan anak itu tersenyum penuh kemenangan pada Rhealla seolah mereka sedang mengejeknya sambil berkata kami menang. Mereka sangat senang dapat membuat Leif ayah kandung Rhaella Sendiri untuk selalu menyakiti dan menyiksa serta mencaci maki anak kandungnya sendiri. Bahkan hampir setiap saat mereka selalu memberi fitnah-fitnah keji seperti keinginan mereka dan selalu
dipercaya oleh Leif.
Rhaella hanya menatap mereka dengan wajah datarnya tanpa merasa iri akan perlakuan berbeda dari ayahnya pada dirinya dan Daena. Rhaella malah merasa muak hanya dengan melihat wajah Elane dan Daena yang seolah sedang mengejeknya, namun yah kembali lagi pada sifat Rhaella yang yang bodo amat dan tidak mengambil pusing olokannya asal jangan mencampuri urusannya dan sengaja memprovokasi dirinya, maka Rhaella akan membalasnya.
"Apa pembicaraan ini sudah selesai, aku ingin pergi ?" Tanya Rhaella pada ayahnya.
"Pergilah. Jangan datang jika aku tidak menyuruh mu datang, dan ingat besok kau sudah masuk ke
sekolah baru mu itu. Ingat perintah ku jangan membuat ulah apapun di sana hiduplah seolah kau tidak ada. Apa kau mengerti ?" Jawab Leif seolah tidak peduli akan kehadirannya.
Tanpa menjawab ucapan ayahnya Rhealla langsung menunduk mengambil earphonenya yang terjatuh akibat dari tamparan keras serta benturan di kepalanya pada meja kaca tadi. Rhaella berjalan dan menoleh ke kanan dimana dia melihat ada tissue. Dia mengambil beberapa lembar tissue dan menyimpannya di saku jaket kulit miliknya.
Keluar dari kediaman Blaze, Rhaella mengendarai motornya dengan sambil merogoh saku jaket
kulitnya untuk mengambil kembali tissue yang dia ambil tadi guna membersihkan darah yang masih mengalir di pelipis dan dahinya.
Aktivitasnya terhenti akan deringan handphone miliknya. Dia pun memberhentikan motornya lalu
tanpa melihat siapa yang menghubunginya dia hanya berdehem lalu suara seberang sana terdengar.
"Nanti malam bakal ada balapan, Lo mau ikut juga atau engga? Hadiahnya lumayan ini dua ratus juta"
suara seseorang diseberang sana.
"Jam berapa?" Tanya Rhaella sambil melap sedikit sisa darah di bibirnya dan membuat yang
diseberang sana kebingungan.
" Maksud lo jam berapa mulai balapannya kan bukan jam berapa sekarang?" Tanya kembali
penelepon meyakinkan pikirannya.
Rhaella hanya berdehem seakan membenarkan pertanyaan.
"Oh balapannya dimulai jam 11 malam" jawab diseberang sana.
“Oke. Jangan kasih tahu nama asli gue, Lo tahu kan apa konsekuensinya gue nggak mau ada yang tahu " jawab Rhaella dengan nada seolah memberi perintah.
"Siap, tenang aja soal itu mah Lo nggak usah khawatir. Semua aman terkendali asal ada bagiannya
buat gue hehehe " jawabnya disertai dengan candaan.
"Hm. Nanti gue ke sana jam 11" tanpa aba-aba langsung memutuskan panggilan telepon tanpa
menunggu jawaban dari penelepon tersebut.
Rhaella Kembali memasukkan handphone miliknya dan menutup mata sejenak dengan menghela nafas kasar, setelahnya dia pun melanjutkan perjalanannya.
Setelah insiden di mansion tadi, Rhaella kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke apartemennya, setelah sampai di basemen apartemen Rhaella berjalan menuju lift untuk mengantarkannya pada lantai kamar miliknya. Setelah masuk Rhaella langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, setelah rutinitas membersihkan diri selesai Rhaella kembali menghela nafas dan membaringkan badannya karena merasa lelah.
"Udah jam 10 aja, perut gue juga laper" gumamnya karena melihat jam dinding apartemen, lantas dia bangun dan berjalan menuju dapur dan mengecek apa yang bisa dia makan malam ini, dan ternyata hanya ada sebutir telur.
"Cuma sisa 1 telur doang coba ada mie pasti lebih enak " gumamnya memikirkan makanan yang tidak ada "ck, kenapa gue malah sebut makanan yang nggak ada, gue lupa terus belanja buat stok kulkas, besoklah gue belanja kalau nggak lupa lagi " lanjutnya terkekeh kecil sendiri dengan ucapannya.
"Gue makan ini aja dulu deh di bikin ceplok aja kali yah yang enak" katanya sambil mengambil sebutir telur kemudian berjalan menuju dapur dan mengolahnya.
" An"ir... gue kan tadi nggak masak nasi" ucapnya sendiri memukul keningnya.
" Ya udahlah makan telur aja mau gimana lagi laper banget gue" gumamnya lagi kemudian menggoreng telurnya untuk makan malamnya sebelum ke arena balap.
Setelah rutinitas makan selesai, Rhaella Kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi lalu ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan tak lupa masker untuk menutupi wajahnya. Setelah berada di basement apartemen Rhaella langsung menuju arena balapan di adakan dengan kecepatan tinggi.
Sampai di arena balap dia langsung di datangi oleh si penelepon tadi yang bernama Clive.
"Weeeesss baru Dateng queen gue" sapa Clive pada Rhaella namun tidak di gubris.
" Gimana nih udah siap lo?" Tanyanya pada Rhaella.
Rhaella hanya berdehem dan di angguki oleh Clive.
"Lawan Lo kali ini si ketua dari geng motor Desmond, Lo tahu kan tentang geng motor itu?" Tanya Clive pada Rhaella.
"Geng itu geng motor yang paling di takuti dan kejam di kota ini, kalau Lo bisa menang si gue akui Lo emang hebat banget meskipun sekarang Lo udah emang hebat, tapi ketua geng motor Desmond itu belum ada yang ngalahin kalau lo mau tahu " lanjutnya dan hanya di angguki oleh Rhaella.
"Jadi gimana masih mau lanjut ngga?" Tanyanya pada Rhaella dan di jawab dengan deheman saja oleh Rhaella "Hm".
"Okey, gue samperin lagi nanti Lo tunggu sini" Rhaella pun menganggukkan kepalanya.
"Apaan si lo heboh banget kaya si Memey aja?" Tanya salah satu dari mereka
"Bodo amat!! Eh eh ada lawan tuh. Jadi ikut kagak nih?" Tanyanya pada sahabatnya.
"Siapa?" Suara datar cowok yang paling tampan diantara mereka bertanya dengan wajah dan nada datarnya jangan lupakan tatapan mata elangnya.
"Tuh yang di sana yang pake masker duduk di atas motor warna hitam" tunjuknya pada seseorang yang tidak mereka ketahui yaitu Rhaella.
Mereka pun menoleh pada arah tunjuk temannya
" Lo jadi ikut kagak El kalau nggak mau biar gue aja yang maju biar gue kasih tahu mereka nanti?" Tanyanya lagi, cowok tersebut hanya menjawab dengan deheman.
"Hm apa? Hm iya jadi atau hm iya kagak?" Tanyanya pada sahabat temboknya sedangkan temannya yang lain hanya terkekeh melihat itu.
"Gue ikut " jawab cowok itu datar.
Ok kalau gitu gue kasih tahu dulu dia buat siap-siap, Lo juga siap-siap ke tempat " ucapnya dan berlalu dari tempat para sahabatnya.
Saat ini mereka para peserta sudah berada di garis start, dan seorang gadis cantik yang berpakaian cukup seksi tengah memegang sebuah bendera untuk menghitung. Balapan akan di mulai perempuan di tengah mereka itu pun mulai menghitung mundur.
"Tiga"
" Dua "
"Goo"
Teriaknya melempar bendera
tersebut dan di susul dengan dia motor melaju di sampingnya.
Balapan kali ini masih seimbang, namun suara sorakan dari para penonton mengarah pada pengendara cowok yang memang mereka kenali.
"El"
"El"
Ayo bos"
" Bos El pasti menang huuuuu"
" Ayo El "
" Ayo El lo pasti menang "
"Gabriel"
Teriakan sekumpulan teman dari pemuda tampan itu terus menggema, pendukung dari seorang Gabriel terdengar begitu heboh di arena balap. Yah, seorang Gabriel merupakan ketua geng motor yang terkenal akan kekuatan dan kehebatannya yang setara dengan perkumpulan mafia, karena memang dia adalah anak dari ketua mafia hanya saja banyak yang tidak tahu akan hal itu hanya para sahabatnya dan sebagai anggotanya.
Sedangkan di sisi sang lawan yaitu Rhaella tidak ada yang menyoraki namanya sama sekali, bukan karena tidak punya teman atau pendukung, tapi karena dia tidak ingin ada orang lain yang tahu siapa dia, dia hanya sering di sebut queen racing saat berada di arena, tidak banyak yang tahu wajah dan nama aslinya, mungkin hanya beberapa saja.
Di arena balap, kini ke dua pembalap yang di juluki king dan queen racing itu masih berusaha merebut posisi untuk menjadi pemenangnya. Keduanya sama-sama seimbang namun Gabriel masih memimpin dengan jarak sangat tipis dengan Rhaella dan saat akan mencapai garis finis. Gabriel yang menjadi pemenangnya namun mereka semua tetap tercengang karena posisi mereka berdua hanya selisih sedikit saja, jika saja Rhaella sedikit lebih cepat, maka bisa jadi pemenangnya adalah Rhaella atau queen.
"Brumm"
"Brumm"
"Brumm"
Kedua motor itu berhenti melewati di garis finis dengan Gabriel yang sampai lebih dulu, sorakan penonton semakin heboh karena untuk pertama kalinya lawan seorang king hampir berhasil mengalahkannya dengan selisih jarak yang begitu tipis.
"Wah wah gila lawan lo hebat juga ya El, gue aja masih belum bisa kaya posisi tuh orang, baru kali ini ada yang bisa nandingin skill balap lo dia hampir aja jadi pemenangnya El" ucap Hans sahabat Gabriel salah satu inti Desmond.
" Iya hebat juga dia, jarak kalian tadi tipis banget El gue jadi penasaran sama lawan lo itu, soalnya tadi ngga ada suara sorakan pendukung yang nyorakin nama dia " ucap Rufus salah satu inti dari Desmond juga dan diangguki oleh yang lainnya.
Sedangkan Gabriel sendiri hanya diam sambil memperhatikan lawannya tadi. Dia juga tidak menyangka lawannya itu bisa menandingi skill balap yang dia punya. El berniat untuk turun dari motornya untuk menghampiri lawannya dan berjabat tangan, tapi belum sempat dia turun dari motornya dia melihat lawannya sudah pergi melajukan kembali motornya, dia urung turun dan langsung memakai kembali helmnya.
" Balik ke markas" ucapnya
memberi instruksi kepada anggotanya lalu melajukan motornya di ikuti oleh yang lain di belakangnya.
...
Sedangkan saat ini Rhaella baru saja sampai di kamar apartemennya, setelah dari arena balap tadi dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu menuju dapur untuk kembali makan, dia tadi sempat mampir di sebuah warung makan yang masih buka untuk membeli makanan karena merasakan lapar.
Setelah acara makannya dia kembali masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan kemudian berjalan menuju kasur empuknya untuk tidur. Tanpa memperdulikan luka di wajahnya bahkan dia tidak ada niat untuk sekedar melihat apalagi mengobati. Dia sudah terlalu sering mendapatkan luka seperti itu rasanya sudah seperti rutinitas rutin, jadi tidak ada lagi rasa sakit itu, begitu pun untuk mengobatinya tidak pernah dia lakukan. Dia membiarkan saja luka seperti itu sampai sembuh dengan sendirinya.
Dari dulu dia sering membentengi diri untuk menjadi kuat, jangan menjadi lemah.
Seiring berjalannya waktu dia benar-benar menjadi kuat, sampai rasa sakit itu seperti tidak ada hanya ada keterbiasaan untuk hal yang menyakitkan.
Rhaella Delyth, seorang gadis yang lahirnya hanya untuk merasakan sakit, mendapatkan siksaan dan caci maki dari satu-satunya orang yang ia sebut keluarga. Namun hal itu tidak membuat dia membenci akan takdir hidupnya. Di saat orang lain merasakan sakit dan memilih untuk mati dia justru ingin tetap hidup lebih lama. Dia ingin tahu kebahagiaan apa yang akan dia dapatkan nantinya sehingga dia di lahirkan di dunia ini.
Kata orang sebelum kita di lahirkan di dunia bahkan jauh sebelum itu roh kita sebelum menjadi janin sudah di perlihatkan akan perjalanan hidupnya. Entah kebahagiaan seperti apa yang di perlihatkan padanya sehingga membuatnya berkata sanggup untuk tetap di lahirkan.
Kebahagiaan seperti apa yang membuatnya harus merasakan terlebih dahulu berbagai rasa sakit.
Dia benar-benar penasaran akan kebahagiaan yang menantinya.
Apakah itu benar adanya.
Hari ini Rhaella bangun kesiangan karena dia tidur saat akan menjelang subuh, dia kemudian bangun langsung pergi ke kamar mandi tidak butuh waktu lama kurang lebih 10 menit dia sudah menyelesaikan aktivitas mandinya. Rencananya dia akan pergi ke sekolahnya yang baru di daftarkan ayahnya, tapi entah kenapa dia sangat malas untuk pergi, dia bahkan masa bodo jika akan mendapatkan kembali pukulan dari ayahnya.
Setelah keluar dari kamar dengan pakaian andalannya sebuah Hoodie abu-abu dan celana jeans hitam dengan masker untuk menutupi wajahnya. Dia berencana pergi ke rumah seseorang yang berada sedikit jauh dari kota. Kini Rhaella telah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana dia melihat ada seorang nenek yang sedang merapikan tanah dan rumput-rumput yang baru saja dia bersihkan untuk menanam.
"Nek"
"Eh nak Rhaella? Kamu baru
datang lagi nak" ucap nenek Yara pada Rhaella.
" Iya Rhaella sedikit sibuk, apa nenek baik-baik saja?"
"Nenek baik nak, nenek masih kuat lihat ini, nenek habis menanam sayuran " ucap nenek itu tersenyum, dan Rhaella pun tersenyum.
"Apa kamu sudah makan nak "
"Belum, tapi Rhaella belum mau makan, Rhaella ingin berbaring di dalam nek "
" Masuklah nak, nenek akan keluar sebentar memetik sayuran "
"Iya nek"
Rhaella kemudian membaringkan
Tubuhnya dan kembali tertidur di sebuah tempat yang terbuat dari bambu dia tidur dengan sangat nyenyak sampai sore menjelang dan sang nenek pun tidak berani membangunkannya. Dia baru bangun saat mendengar suara dering handphonenya berbunyi.
"Drrttt "
"Drrttt"
"Drrttt"
Ayah is calling...
" Hallo " ucapnya datar.
"PULANG" teriak sang ayah.
"Hmm" ucapnya dingin.
"Sekarang Rhaella. Pulang sekarang juga anak kurang ajar" bentak sang ayah lagi.
"Iya Rhaella pulang sekarang" ucapnya dengan santai kemudian memutuskan sambungan telepon.
"Sudah bangun nak?" Tanya nenek tersebut pada Rhaella
"Iya nek, Rhaella pulang dulu ayah Rhaella barusan telepon "
" Ayo makan dulu sama nenek" ajak nenek itu pada Rhaella, dan Rhaella pun mengangguk mereka makan sambil sesekali nenek itu bercerita dan Rhaella hanya mendengarkan saja tidak ikut berbicara.
Nenek Yara adalah seseorang yang saat itu Rhaella bantu saat nenek itu jatuh tertabrak sepeda motor yang melaju kencang di sampingnya. Setelah saat itulah Rhaella selalu datang untuk mengunjungi nenek Yara sesekali menengokinya, dia bahkan sering membawa sembako untuk nenek Yara yang tinggal sih dari kota.
Setelah menyelesaikan makanannya Rhaella pun berpamitan pada nenek Yara.
"Nek, Rhaella pulang yah"
" Iya nak hati-hati "
"Assalamualaikum "
"Waalaikum salam "
Satu jam perjalanan dari tempat tadi ke rumah ayahnya, Rhaella kini sudah sampai di rumah pada pukul 8 malam, baru saja menginjakkan kaki dan masuk ke dalam rumah
Plakk
"Dari mana saja kamu jam segini baru sampai rumah, dasar perempuan liar, anak sialan. " murka tuan Blaze. Sedangkan Rhaella hanya diam saja, bahkan wajahnya yang belum benar-benar sembuh akibat tamparan keras kemarin kini kembali dia dapatkan kembali dan membekas.
"Kenapa kamu tidak pergi ke sekolah baru mu ha? Mau jadi apa kamu dasar anak tidak berguna. Kenapa kamu hidup kalau untuk menyusahkan ku dan menjadi sampah seperti ini" maki sang ayah, tapi sungguh tidak menyakitkan sama sekali perkataan sang ayah bagi Rhaella dia sudah biasa mendengar makian seperti itu.
" Kamu seperti perempuan tidak punya didikan, seperti anak jalanan saja" makinya lagi.
Jelaskan kenapa kamu tidak pergi ke sekolah baru mu tadi?" Tegasnya. " Kenapa kamu diam anak sialan, cepat jelaskan Rhaella " murka sang ayah.
Rhaella tadi bangun kesiangan "
Plakk
Plakk
Sekali lagi dua tamparan sekaligus dia dapatkan
" aku tidak mau tahu kau besok harus masuk ke sekolah baru mu dengan Daena, biar kamu punya sedikit didikan, bukan seperti di sekolah lama mu yang isinya hanya anak berandalan semua" ucapnya kemudian pergi meninggalkan Rhaella dan di ikuti oleh sang istri.
"Awas aja ya lo ngaku jadi saudara gue" ancam Daena di balas tatapan tajam dan dingin oleh Rhaella.
"Kita emang bukan saudara, dan gue bahkan ngga pernah nganggep Lo saudara" ucap datar Rhaella dengan santai meninggalkan Daena dan berlalu pergi ke kamarnya.
"Sialan. Awas aja Lo Rhaella " kesal Daena akan ucapan Rhaella.
Yah, Rhaella hanya akan diam pada sang ayah tapi tidak dengan Daena dan ibu tirinya. Dia akan melawan meskipun nantinya akan mendapatkan pukulan dari sang ayah karena aduan dari Daena dan ibu tirinya. Rhaella bukanlah gadis lemah yang manja dan pasrah begitu saja, dia bahkan sangat jago dalam segala jenis bela diri, memanah, menembak dan balapan. Dia tidak semudah itu untuk di tindas dia tidak akan mengusik tapi sekali di usik maka hidup orang tersebut tidak akan baik-baik saja.
Jika terdapat bekas pukulan di wajah atau tubuhnya itu semata-mata dia dapatkan dari sang ayah, bahkan di sekolah lamanya pun mereka semua segan mulai dari perempuan ataupun laki-laki, bahkan kakak kelasnya pun segan padanya karena sifat dingin dan datarnya. Itulah perbedaan Rhaella dengan orang lain dia bisa jadi seorang iblis pada orang lain, tapi jika berhadapan dengan sang ayah dia seperti bayi yang tidak bisa apa-apa hanya diam dan pasrah.
Sampai di kamarnya Rhaella langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya lalu menuju kasurnya untuk tidur. Tidak ada istilah untuk susah tidur, bahkan sedih, atau mengingat kenangan bersama sang ayah atau bunda kandungnya karena memang dia tidak memiliki kenangan apapun bersama mereka, karena sang bunda telah meninggal di hari di mana dia di lahirkan, sedangkan sang ayah sebelum dia lahir pun dia sudah di benci dan tidak di inginkan. Dia bahkan tidak tahu seperti apa wajah dari bundanya, makamnya ada di mana, bahkan namanya pun dia tidak tahu, mungkin terdengar seperti anak durhaka atau tidak ingin tahu, tapi dia tidak pernah berbicara dengan sang ayah.
...
Sedangkan di sisi lain masih dilokasi yang sama tepatnya di kamar sang ayah dia bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun akan apa yang dia lakukan. Setelah mencaci maki dan memberikan kekerasan fisik pada Rhaella. Dia bahkan masih terus menyalahkan akan kelahiran Rhaella di dunia ini. Sungguh ayah yang begitu bodoh. Mungkin jika di bandingkan dengan orang bodoh di dunia ini Leif lah orang yang paling bodoh di dunia ini.
Bagaimana bisa dia menyalahkan seorang bayi yang tidak berdosa yang tidak tahu apa-apa tapi memberikan kekerasan fisik dan mentalnya hingga tumbuh dewasa seperti ini.
Sedangkan di sisi lain Daena dan Alane hanya menertawakan kehidupan Rhaella yang di siksa oleh ayah kandungnya sendiri.
"Mah ko Rhaella kalau setiap di pukul sama ayah ngga pernah nangis sih? " tanya Daena karena penasaran setiap kali melihat Rhaella di hajar oleh ayahnya tidak pernah meringis apalagi menangis.
" Hallaaahh paling juga dia nangis kalau udah di kamarnya, Dianya aja yang sok kuat padahal sekarang mungkin lagi nangis karena kesakitan abis di tampar bolak balik sama ayah" ucap Lane seolah tahu bahwa Rhaella sekarang sedang menangis akibat tamparan tadi.
Tidak tahu saja mereka bahwa Rhaella sekarang sedang tidur pulas menyelami alam mimpi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!